
"Hai kakak" Sapa Syifa pada Reyhan yang tengah sibuk makan dikantin.
"Kak minta nomer wa nya dong" Pinta Syifa namun tak ditanggapi oleh Reyhan.
"Lo siapa?"
"Kak Reyhan ga kenal aku? Kemarin kan udah kenalan" Ujar Syifa wajahnya menjadi cemberut. Namun tak lama ia kembali tersenyum.
"Oke ga papa kalau gitu, kita kenalan lagi ya kak, kali ini lebih lengkap biar kak Reyhan ga lupa sama Syifa" Ujarnya dengan senyum mengembang. Syifa berdehem. Mencoba mengatur suaranya.
"Oke perkenalkan nama saya Syifa anggreani panggil aja Syifa. Umur 15 tahun tapi sebentar lagi mau 16 tahun. Jenis kelamin perempuan, dari kelas 10 MIPA 1. Golongan darah A, alamat desa babadan RT 03 RW 07, bantul, Yogyakarta. Berat badan 47 kg kalau ga salah, tinggi badan 168 cm, ga tau kalau udah naik lagi. Hobi nyemil and rebahan. Cita cita mau jadi...."
"Stop!!!" Reyhan memijat pelipisnya, entah kenapa mendadak kepalanya menjadi pusing.
"Kakak ga mau tau cita cita aku mau jadi apa"
"Nggak!" Jawab Reyhan dingin yang membuat Syifa langsung manggut manggut mengerti.
"Kakak kenapa?Pusing" Tanya Syifa polos melihat Reyhan yang memijat mijat pelipisnya. Reyhan berdehem.
"Minum obat pusing aja kalau gitu kak, biar sembuh" Jawab Syifa menyarankan, membuat Reyhan menjadi badmood.
"Kak boleh minta nomer wa nya nggak? boleh ya?ya?ya? boleh dong..." Ujar Syifa memaksa.
"Diam!!" Ujar Reyhan sedikit membentak, kepalanya kini semakin pusing. Membuat Syifa menutup mulutnya rapat rapat. Namun tak lama kemudian Syifa melangkah maju, mendekatkan kepalanya dengan telinga Reyhan.
"Kak,,, aku suka sama kakak" Bisiknya, lalu kembali keposisi awalnya. Reyhan terkejut bukan main lalu menoleh ke arah Syifa, membuat Syifa cengengesan ditempatnya. Reyhan yang semakin tidak tahan dengan keadaan langsung membayar makanan nya dan pergi keluar kantin.
"WOYY, HAN LO MAU KEMANA? MAEN PERGI AJA" Tariak Iqbal, namun tak ditanggapi oleh Reyhan. Sekarang mata tertuju kepada Syifa. Dengan tenang Syifa duduk ditempat yang tadi diduduki Reyhan.
"Kakak kakak semua tau? Tadi aku ngomong apa sama kak Reyhan?" Tanya Syifa dengan kepolosannya. Sedang, semua teman reyhan menggeleng. Syifa tersenyum.
"Tadi aku ngomong ke kak Reyhan kalau aku suka sama dia" Ucapnya tanpa beban. Membuat teman teman reyhan melongo tak percaya, baru kali ini ada perempuan yang berani mengungkapkan perasaannya secara langsung. Biasanya para cewek hanya berani mengungkapkannya lewat surat.
"Ya udah Syifa kekelas dulu ya kak, bay" Ujar Syifa sambil melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
"Fa,, jangan lupa bawain jajan lagi ya. Jajan yang kemarin udah abis" Ujar Iqbal sedikit berteriak. Syifa tersenyum lalu mengacungkan jempol kanannya.
••••••
"Baik anak anak, sesuai hasil keputusan rapat Minggu kemarin. Kami memutuskan untuk meliburkan seluruh siswa siswi selama 3 hari." Ujar Bu Lia. Seketika keadaan kelas yang tenang menjadi begitu riuh seperti pasar malam. Mereka berteriak kegirangan.
"Dan hari ini kita pulang awal, jadi silahkan berkemas, berdoa lalu kita pulang" Ucapnya lagi membuat siswa siswi kelas 10 MIPA 1 dua kali lipat lebih ramai.
Dan malamnya juga ada pengumuman dari Pesantren, bahwa pesantren akan libur selama satu hari,, jadi selama hari libur ponsel akan dibagikan dan santriwan maupun santriwati diperbolehkan keluar pesantren dengan izin dari ustadz atau ustadzah.
••••••
Aisyah memencet beberapa angka ditelepon, berharap ada yang mengangkat panggilan darinya. Namun sudah tiga kali Aisyah melakukannnya tetap tidak ada jawaban.
"Terima kasih pak" Ujarnya. Aisyah tadi meminta izin menggunakan telepon pesantren untuk menghubungi keluarganya. Aisyah menghela pelan. Ia berjalan menuju kamarnya. Sesampainya dikamar Aisyah langsung menjatuhkan tubuhnya dikasur.
"Kayaknya besok Aisyah harus pulang deh" Ujarnya, membuat sahabatnya terkejut.
"Pulang? Kemana?"
"Ke desa. Tadi Aisyah udah minta izin ke Abah yai buat pulang ke desa mau lihat keadaan umi Aisyah disana"
"Terus diizinin?" Tanya Lina. Aisyah mengangguk.
"Aisyah didesa lima hari" Tambahnya lagi.
"Lima hari? Kan pesantren cuma libur satu hari terus sekolah juga cuma 3 hari" Ujar Syifa nyolot.
"Tadi dibolehin kok sama Abah yai, untuk sekolah, Syifa izinin Aisyah ya selama dua hari, bilang Aisyah lagi pulang ke desa lihat keadaan umi." Pintanya pada Syifa. Syifa terdiam, lalu ia mengangguk pelan.
"Aisyah mau siap siap sekarang, biar besok tinggal berangkat" Ujarnya lalu berdiri dan mengambil tas dari atas lemarinya. Memasukkan beberapa baju yang akan ia bawa. Tak lupa juga Aisyah menyiapkan uang ongkos buat besok, berharap uangnya saat ini cukup untuk perjalanan pulang.
•••••
Mereka bertiga memeluk Aisyah bergantian.
"Aisyah,, cepet pulang ya" Ujar Lina.
"Jaga diri disana ya Syah" Tambah Syifa.
"Aisyah ini ada sedikit bekal buat kamu, nanti jangan lupa dimakan ya." Ujar Dinda dengan menyodorkan bekal makanan.
"Makasih ya Din, jadi ngrepotin" Jawab Aisyah sambil memasukkan bekal ke dalam tasnya.
"Iya ga papa, hati hati ya Syah di jalan"
Aisyah mengangguk.
"Lina Syifa Dinda, Aisyah pulang dulu. Assalamualaikum" Ujar aisyah sambil melambaikan tangannya. Sahabatnya pun melakukan hal yang sama.
"Hati hati Aisyah" Teriak mereka bersamaan.
Aisyah lalu berjalan menuju gerbang pesantren, tak lupa ia berpamitan kepada satpam pesantren. Setelah itu Aisyah menaiki angkot dan berhenti diterminal. Dari terminal Aisyah langsung menaiki bus yang menuju ke kota kelahirannya. Setelah sampai Aisyah langsung memesan ojek online untuk mengantar sampai kerumahnya.
"Assalamualaikum, Abi...Abi..." Panggil Aisyah namun tak ada yang menjawab.
"Apa Abi di rumah sakit ya"
Lantas Aisyah langsung mencari keberadaan kunci rumahnya di ventilasi yang ada di atas pintu rumahnya. Biasanya kunci rumah memang di taruh di situ. Setelah beberapa detik merogohi satu persatu lubang ventilasi, akhirnya Aisyah menemukan kunci rumahnya, dan langsung membuka pintunya. Aisyah duduk di kursi ruang tamunya.
"Gimana ya keadaan umi" Gumamnya.
Aisyah merogoh saku gamisnya, jarinya bergerak mungil memencet layar ponsel. Lalu ponsel tersebut, didekatkan ditelinganya.
Namun dari kamar uminya terdengar suara ponsel berdering, Aisyah langsung menghampirinya. Wajahnya seketika berubah menjadi kecewa.
__ADS_1
"Yah, ponselnya ga dibawa. Aisyah kan jadi ga tau umi ada di rumah sakit mana" Ujarnya, lalu meletakkan ponsel tersebut ke posisi awal. Lalu ia berjalan menuju kamarnya. Merasa gerah, Aisyah langsung mengambil handuk dan mandi. Bukan sulap bukan sihir, setelah mandi segala lelah yang Aisyah rasakan saat perjalanan hilang seketika.
Merasa risih dengan keadaan rumahnya yang sedikit berantakan, Aisyah langsung mengambil sapu, membersihkannya mulai dari dapur, ruang makan, kamar tidur dan ruang tamu. Dalam sekejap rumah menjadi bersih kembali membuat kedua sudut bibir Aisyah terangkat. Aisyah lalu kembali ke kamarnya, memsukkan bajunya kedalam lemari. Hari sudah siang perutnya pun sudah mulai rewel karena lapar. Aisyah memakan bekal yang diberikan Dinda tadi pagi. Setelah dirasa kenyang Aisyah membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk.
DindaPangestuti : Aisyah udah sampai?
AisyahAnisa : Udah Din.
DindaPangestuti : Gimana keadaan umi kamu
AisyahAnisa : Belum tau Din, umi masih di
rumah sakit. Aku lagi dirumah.
DindaPangestuti : Titip salam buat umi kamu
ya.
AisyahAnisa : Iya, nanti aku sampaikan.
••••••
Sampai jam 7 malam, abinya belum juga pulang. Membuat Aisyah mondar mandir tak jelas di depan ruang tamu. Berharap mereka akan pulang malam ini. Aisyah duduk di kursi kayu ruang tamunya, mengambil remote dan menyalakan tv nya. Tak lama dari itu, tiba tiba pintu terbuka begitu saja, membuat Aisyah terkejut karenanya. Namun rasa itu terganti menjadi senyuman yang mengembang.
"Umiii...." Panggil Aisyah sedikit berteriak, lalu berlari menuju uminya. Aisyah memeluknya. Sedangkan mereka masih bingung dengan kedatangan putrinya. Puas memeluk uminya, Aisyah menyalami tangan umi lalu abinya.
"Aisyah kok kamu ada disini? Sejak kapan?"
Aisyah tersenyum.
"Umi duduk dulu ya, " Ujar Aisyah sambil membantu uminya berjalan dan duduk dikursi. Aisyah menghela pelan, lalu menceritakan semuanya.
"Aisyah sempet telpon umi Abi, mau beritahu kalau Aisyah mau pulang. Tapi umi Abi ga bisa dihubungi. Umi sama Abi jangan marah ya" Ujar Aisyah membujuk.
"Kamu udah izin sama kyai kamu" Tanya Bu Vita. Aisyah mengangguk.
"Ya udah ga papa"
Aisyah tersenyum lega.
"Umi udah dibolehin pulang? Gimana keadaan umi"
"Umi ga papa, kamu ga usah khawatir. Ini rumah bersih amat siapa yang bersihin?"
"Aisyah" Jawab Aisyah singkat. Uminya mengangguk dan tersenyum.
"Abi mau bawa umi kamu ke kamar dulu, umi butuh istirahat" Ujar pak Agus.
"Iya bi"
••••••
"Aisyah nya ada?"
"Aisyah Dimana?"
"Dia tadi pagi pulang ke desa, soalnya uminya sakit. Kenapa kak?"
Fariz terdiam.
"Rumah dia ada dimana"
"Demak kalau ga salah kak"
Fariz manggut manggut mengerti.
"Mau ngomong apa kak, nanti biar Dinda yang sampaikan ke Aisyah"
"Titip salam buat dia. Gue balik dulu. Assalamualaikum"
"Iya, waalaikum salam"
Fariz langsung beranjak pergi.
"Siapa?" Tanya Syifa secara tiba-tiba, membuat Dinda terperanjat kaget.
"Kak Fariz?" Dinda mengangguk.
"Kok kak Fariz jadi pengen ketemu Aisyah terus gitu ya. Ih beruntung banget si Aisyah gak usah ngejar langsung dikejar. Lha kak reyhan? Kapan nyari nyari gue kayak gitu"
Dinda mengangkat kedua bahunya, dan pergi menuju tempat tidurnya. Melanjutkan hobi membacanya. Syifa membanting tubuhnya dikasur.
"Pokoknya gue harus buat kak Reyhan suka sama gue dan kak reyhan harus suka harus dan harus" Ujar Syifa penuh pemaksaan.
"Kok Lo maksa?" Tanya Lina.
"Namanya cinta itu ga bisa dipaksa, cinta itu datang dengan sendirinya. Dari hati." Jelas Lina. Syifa terdiam.
"Tenang aja, gue bakal sebut nama kak Fariz di sujud sepertiga malam gue" Ujar Syifa penuh semangat.
"Orang dibangunin aja Lo susah. Apalagi bangun tengah malam"
"Demi cinta, apa yang ga?"
"Ya ya ya, demi cinta. Demiiii cinta... cinta monyet" Ujar Lina manggut manggut malas.
"Walaupun diluar sana banyak yang ngejar kak Reyhan. Lebih cantik, pinter dan baik daripada gue. Tapi gue harus berjuang, layaknya pejuang cinta sejati" Seketika Lina ingin muntah disana mendengar pengakuan sahabatnya.
"Sejak kapan ya Lo jadi SGM?"
"Gue manusia bukan susu" Ujar Syifa tak terima.
__ADS_1
"SGM itu singkatannya Sinting Gila Miring"
"Tega ya Lo jadi sahabat, ngatain gue gila, bukannya nge dukung malah ngomong gitu"
"Udah udah, jangan berantem. Apalagi malam malam kayak gini." Ujar Dinda mencoba menengahi mereka.
"Lina yang mulai"
"Kok gue"
"Ya emang Lo"
"Lo tau yang bikin gue eneg"
"Ngapain malah balik gue yang salah"
"Ya emang Lo"
"Lo"
"Lo yang salah"
"Lo, Lo dan Lo yang salah"
"Lo tau yang mulai"
"Lo yang mulai duluan"
DUUARRR...
Tiba tiba suara petir terdengar begitu keras membuat mereka terperanjat kaget. Lina langsung diam ditempat, ia menggigit bibir dan meneguk ludahnya. Kaget. Sedangkan Syifa menutupi kedua telinga dengan tangannya, matanya terpejam erat.
"Tuh kan, makannya jangan berantem, dibilangin juga" Ujar dinda. Sedang Syifa dan Lina masih terdiam dalam keterkejutan nya.
••••••
"Aisyah mau anterin ini ke Abi dulu ya mi" Ujar aisyah.
Aisyah hendak mengantarkan makanan kepada abinya yang kini disawah. Sudah sejak tadi pak Agus berangkat ke sawah, pagi pagi sekali. Bahkan sebelum Aisyah membuat sarapan pagi untuk mereka. Saat belum mondok, aisyah memang sudah sering melakukan ini.
"Iya , hati hati ya"
"Mbak, Okta boleh ikut?" Aisyah mengangguk. Lalu gadis kecil 8 tahun itu berjingkrak-jingkrak senang. Aisyah mencium tangan uminya, begitu pula Okta. Mereka langsung pergi dan menuju ke sawah.
Sesampainya disawah Aisyah tersenyum. Ada sorot rindu di matanya. Udara yang segar nan sejuk. Hamparan permadani hijau nan luas. Burung burung yang berterbangan bebas. Pegunungan yang membentang terlihat berwarna biru muda dari kejauhan. Orang orangan sawah. Apalagi tadi malam hujan, suara kodok yang bersahutan sahutan juga menjadi salah satu khasnya. Ah, mungkin semua itu tidak bisa Aisyah dapatkan saat dikota. Entahlah, apakah Aisyah bisa merasakannya suatu hari nanti atau hanya akan menjadi kenangan. Aisyah terus berjalan menghampiri abinya, sambil menikmati suasana yang sudah lama ia nanti, melihat padi hijau yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. Dulu disinilah tempat Aisyah membantu sambil bermain, ada kenikmatan tersendiri bila ia bermain disawah.
"Abi.." Panggil Aisyah.
"Ini Aisyah bawain makanan buat Abi" Ujarnya dengan mengangkat rantang yang ada ditangannya.
"Iya taruh disitu aja"
"Mau Aisyah bantuin bi?"
"Ga usah, jaga umi kamu aja dirumah"
Aisyah mengangguk.
"Yaudah Aisyah pulang dulu ya bi, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Okta menarik narik ujung baju Aisyah. Membuat Aisyah menoleh padanya.
"Mbak ga main dulu disini?" Tanya okta polos. Okta juga sering ke sawah, tapi bukan untuk membantu melainkan bermain dengan anak anak lain yang juga ikut membantu para orang tuanya. Mereka sering bermain kejar kejaran, kadang jatuh dan terkena lumpur. Baginya, Bahagia itu sederhana.
"Disuruh Abi langsung pulang"
"Tapi Okta pengen main dulu disini, Okta kangen. Udah lama ga kesini, semenjak mbak mondok"
Aisyah tersenyum.
"Iya, mbak juga kangen. Tapi umi kasihan di rumah sendirian. umi kan baru keluar dari rumah sakit" Okta terdiam sejenak. Lalu tersenyum.
"Okta mau pulang kalau mbak Aisyah beliin Okta ice cream rasa strowbery" Katanya polos, membuat Aisyah tertawa pelan. Lalu mengangguk.
"Janji?" Okta mengangkat jari kelingking nya.
"Iya, janji" Ujar Aisyah sambil mengaitkan jari nya ke jari kelingking Okta. Okta tersenyum bahagia. Lalu ia berjalan mendahului Aisyah.
*Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai taulanku
Tak pernah kulupakan
Tak pernah bercerai
Selalu ku rindukan
Desaku yang permai*.
Aisyah bernyanyi, Sambil menikmati indahnya alam. Menyanyi karena terbawa susana lebih tepatnya. Lalu Okta, juga menyanyi lagu yang sama. Menirukan kakaknya.
Desaku yang permai
Aisyah menghela pelan, lalu tersenyum. Tak peduli apa sebagian kata orang yang menganggap desa itu kumuh dan kotor. Tapi bagi Aisyah desa itu menyenangkan. Kebersamaan dan kekeluargaan itu masih ada dan terjaga.
__ADS_1
...******...