Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Terungkap!!


__ADS_3

Syifa dan Aisyah memasuki gerbang pesantren. Tidak di sekolah, tidak di pesantren, semua membicarakannya.


"Assalamualaikum" Ujar Aisyah dan Syifa dengan memasuki kamar.


"Waalaikum salam" Jawab Lina dan Dinda.


"Kok baru datang? Ada masalah?" Tanya Lina.


"Nggak, kita tadi cuma bersihin kelas doang" Jawab Syifa.


Lina manggut manggut. "Kirain kalian tadi ada masalah, atau diapain sama orang orang"


"Nggak. Tenang aja" Jawab Syifa. "Hhssss,, aduh pegel banget badan gue" Gumam Syifa yang memijat bahu kanannya.


"Habis nagapain?"


"Bersihin kelas. Bener bener rese si sheren"


"Pantes tadi lama"


••••••


"Aisyah,,Lo ga istirahat?" Tanya Syifa.


Aisyah menggeleng.


"Kenapa?"


"Kamu aja, aku lagi pengen disini" Jawab Aisyah.


"Tapi nanti kalau ada yang macem macem sama Lo gimana?"


"Aku ga papa kok. Lagi pula ga ada yang akan berani macem macem disekolah."


Syifa menghela pelan. Sebenarnya ia berat kalau harus meninggalkan Aisyah sendirian di dalam kelas. "Oke deh, gue nanti cuma ke kantin sebentar. Habis itu kesini lagi. Lo jangan kemana mana ya"


Aisyah mengangguk. Syifa menghela lega. "Beneran ya jangan kemana mana. Gue ke kantin dulu"


"Iya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah.


Syifa berdiri. "Beneran ya jangan kemana mana. Janji" Ujar Syifa dengan menyodorkan jari kelingkingnya.


Aisyah tersenyum. "Iya,, janji" Kata Aisyah dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Syifa.


Syifa mengangguk. Lalu berjalan keluar kelas. "Beneran ya Syah jangan kemana mana. Awas kalau sampe pergi. Kalau mau pergi sama gue aja. Gue cuma sebentar, ga lama. Nanti gue kesini lagi" Kata Syifa panjang lebar saat hampir keluar dari pintu kelas.


"Iya tenang aja"


Syifa tersenyum lalu melanjutkan langkahnya keluar kelas. Saat ini, hanya dirinya yang ada dikelas. Aisyah mengeluarkan bukunya, lalu membacanya. Saking asiknya membaca, Aisyah tidak menyadari ada segerombolan wanita yang masuk kelas.


Dirinya tersadar saat buku yang ia baca, di tarik paksa dan di banting begitu saja di lantai. "Astaghfirullah.." Gumam Aisyah kaget. Aisyah menatap delapan perempuan yang kini ada di hadapannya. Entahlah, Aisyah pun tak kenal dengan mereka. Tapi yang pasti mereka adalah kakak kelas. Aisyah juga melirik pintu kelas yang tertutup. Mungkin sengaja. Secara mendadak perasaannya menjadi tidak enak.


"Kenapa? Kaget tiba tiba kita ada disini?" Ketus perempuan yang berada paling depan.


"Ada apa ya?" Tanya Aisyah yang masih belum mengerti dengan kedatangan mereka.


"Heh,, jangan pura pura polos deh. Kita ga akan ketipu lagi sama wajah polos Lo"


"Kak langsung aja, kakak mau ngapain di sini?" Tanya Aisyah memberanikan diri.


Gadis itu tersenyum sinis. "Berani Lo sama gue!!" Bentaknya.


"Kita kesini,, itu mau ngusir Lo!!" Tegas gadis yang di sebelahnya.


Aisyah terdiam membisu mendengar ucapannya. "Lo itu ga pantes ada di sini. Ngerti!!"


"Lo itu hanya buat nama sekolah kita jadi jelek" Kata yang lain.


"Dan kita semua juga ga mau,, kalau barang barang kita habis Lo curi!" Timpal yang lainnya.


"Udah deh Lo mendingan pindah,, kaki Lo itu ga pantes berpijak di sekolah ini"


"Lo itu cuma bisa malu maluin tau ga sih Syah"


"Gue dari awal juga yakin kalau cewek ini itu ga bener. Udah mana godain Fariz lagi!!"


"Kita semua itu jijik tau ga sama Lo. Gue yakin,, Lo pasti kasih aneh aneh sama Fariz. Dasar cewek murahan. Lo apain Fariz sampe segitunya sama Lo. Lo pasti godain dia kan?"


"Udah deh, pergi aja Lo dari sini. Atau kalau ga..."


"Apapun yang terjadi aku ga mau pindah dari sekolah ini" Tegas Aisyah meskipun dirinya saat ini pun cukup takut dengan mereka. Apalagi saat ini dirinya sedang sendirian di dalam kelas.


"Oo udah berani Lo sama kita!!" Tegas cewek paling depan dengan mendorong kasar Aisyah.


"Bener bener cewek najis Lo!!"


"Berengsek banget Lo jadi cewek!!"


"Gue kasih Lo pilihan Lo pergi, pindah dari sini...atau Lo.."


Braaakk


Pintu kelas di dobrak keras dari arah luar, membuat kedelapan gadis juga Aisyah terkejut bukan main. Empat cewek juga empat cowok terlihat memasuki kelas. Di sertai banyaknya para murid yang mengintip di pintu juga di jendela. Ingin tau dengan apa yang akan terjadi.


Lina, Dinda, Syifa dan Kania berjalan mendekati mereka. Sedangkan Fariz dan ketiga temannya berdiam di dekat pintu. Ingin melihat pembelaan dari tiga sahabat itu untuk Aisyah.


Lina yang memasang tampang paling menyeramkan diantara ketiganya. "KALAU AISYAH GA PINDAH KALIAN SEMUA MAU APA HA?" Bentaknya tak tanggung-tanggung membuat semuanya terkejut. Kali ini Lina seperti orang yang sedang kesurupan, marahnya bukan main.


"Heh Lo jangan sok jadi pahlawan ya!!"


"Emang kenapa? Mentang mentang Lo senior,, Lo bisa berbuat apa aja gitu? Lo pikir,, gue bakal takut sama Lo?" Tegas Lina. "Kalau emang berani ayo sama gue,, jangan main keroyok kayak gini. Pengecut Lo semua!!" Ujar Lina pedas.


"Apa Lo bilang?" Tanya gadis itu yang sepertinya mulai tersulut emosi.


"Pengecut!! Kalian semua pengecut. Yang beraninya main keroyokan doang" Ketus Lina.


"Gila si Lina berani bener sama mereka" Gumam Iqbal.


Lina menyilangkan tangannya di depan dada. "Kenapa? Gak terima gue bilang pengecut. Mau marah?"


Gadis itu mengepalkan tangannya."Kurang ajar Lo!" Bentaknya dengan mendorong Lina.


Lina tertawa remeh. "Beneran mau ngajak gelud Lo. Lo ga tau gue pinter karate?!" Ujar Lina angkuh.


"Lin Lo emang bisa karate?" Bisik Syifa.


"Gue juga ga bisa sih. Itu cuma biar mereka takut aja" Jawab Lina pelan.


Syifa menghembuskan nafas kasar. "Sombong banget Lo" Ujar gadis itu menatap tidak suka Lina.


"Ga percaya,, nih gue buktiin" Ucap Lina. "Khaah,, khaah" dia meniup kedua tangannya terlebih dahulu.


Tanpa aba aba Lina langsung menarik tangan gadis tersebut, lalu memutarnya hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Ah ah,, sakiit..Lepasin gue ga!!"


Lina melepaskan tangan gadis itu. "Halah,, gitu aja sakit. Lebay Lo!!" Timpal Syifa.

__ADS_1


"Untung gue baik,, kalau gue jahat udah gue patahin sekalian tangan Lo" Kata Lina.


"Sekalian mulutnya dijahit Lin,, biar ga bisa ngomong sekalian" Timpal Syifa.


Ojit dan Gilang berjalan dengan berusaha mencari celah untuk mereka agar bisa sampai ke dalam kelas. "Wih ada apa ini?!" Tanya Ojit pada Iqbal saat mereka sudah berhasil memasuki kelas. Dan kini berdiri di samping Iqbal.


"Udah,, Lo berdua diem aja!!" Jawab Iqbal.


Gilang menatap serius kedelapan cewek tersebut. Lalu tak lama ia tersenyum, dengan mengeluarkan ponselnya.


"Bener bener kurang ajar Lo!!" Ujar gadis itu kesal.


"Nggak dia nggak Lo sama aja. Dia sok polos, tapi ternyata maling. Dan Lo? Lo sok mau jadi pahlawan nanti terus apa? Terus Lo ternyata perampok,, penculik atau sama sama pencuri" Timpal yang lainnya.


"Heh kalian itu..." Kalimat Lina terpotong saat melihat aksi Gilang yang naik di atas meja dengan menyorotkan kameranya ke seluruh arah. Membuat semua orang melongo, dengan menatap tingkah aneh Gilang.


"Hallo gaes,, kali ini kita ada konser dadakan. Ini,, kita sapa dulu penontonnya...Hallo semuanya gimana rasanya mau nonton konser blackpink secara live. Seneng ya? Seneng dong,,, seneng lah..." Ujar Gilang tak tau malu.


"Tu orang,, otaknya lagi dimana ya Allah.." Gumam Ojit.


Gilang turun dari meja. Ia menatap kedelapan gadis. Lalu menarik empat yang menurutnya paling cantik. "Oke kita kenalan dulu sama blackpink KW nya...Yang ini namanya Lisa. Halo Lisa."


"Ya Allah,, saya selaku temannya sangat malu melihat ini. Maka hilangkanlah hamba sekarang ya Allah,, bawa saya pergi dari sini. Cepat!!" Geram Ojit dengan menutupi wajahnya.


"Dan samping Lisa ini namanya rose. Yang ada di samping saya ini namanya jisoo. Dan yang terakhir adalah jen..."


Braaakk


"Ngapain Lo? Gila lo. Kalau mau buat konten bukan disini!! Mau gue tonjok kepala Lo sampe babak belur?!" Bentak lina membuat nyali Gilang untuk membuat konten menciut. "Pergi nggak! Pergi atau gue tonjok hidung Lo biar tambah pesek!!" Tegas Lina dengan melotot pada Gilang.


"HHUUUUUU" Sorak semuanya yang menonton.


Gilang menghembuskan nafas kasar. Lalu kembali berjalan ke arah Ojit. "Pintar sekali kau nak, membuat mamak mu malu!!" Bisik Ojit. "Ayo ikut gue"


"Mau kemana?" Tanya ojit.


"Gue mandiin otak Lo biar bersih. Biar ga sinting" Jawab Ojit lalu menarik keluar Gilang dari kelas. Dan lagi lagi semua murid yang ada disana bersorak ramai. Bertepatan dengan itu sheren masuk ke kelas dan berdiri di dekat Kania.


"Heh kalian itu kakak kelas, bukannya kasih contoh yang baik buat adik kelas lainnya malah ngajak ribut!!" Ketus Lina.


"Tau tu. Heh mendingan kalian itu belajar biar pinter. Biar kalau UN hasil nya bisa bagus. Kalau ga lulus baru gue sukurin kalian!!" Ujar syifa.


"Makannya itu,, biar UN kita bagus dia harus disingkirkan dulu dari sini. Kalau di sini ga ada penjahat, pasti kita belajarnya aman aman aja. Karena ga ada pencuri. Sedangkan kalau dia masih di sini, otomatis kita bakal resah, kalau resah mau belajar juga Susah. Kalau susah otomotis kita dapat nilai jelek, kalau nilai kita jelek yang pantes disalahin siapa? Dia!!.." Ujar gadis lain panjang lebar dengan menunjuk Aisyah.


"Nah bener tu!!" Ucap yang lainnya.


"IYA BENER,, BENER!!" Ujar semua murid yang ada di sana.


"JADI SETUJU GA KALIAN KALAU AISYAH PINDAH DARI SINI?!" Ujarnya dengan suara lantang seperti menyerukan kemerdekaan.


"SETUJU!!" Jawab semuanya.


"Udah deh Syah Lo mendingan pindah aja. Pindah pindah" Ujar salah seorang yang sedari tadi hanya menonton. Membuat orang lain yang mendengarnya langsung berseru agar Aisyah pindah.


"PINDAH! PINDAH! PINDAH"


"STOP KALIAN!!" Teriak Kania membuat suasana ketika hening. "Kalian ga punya hak ya buat suruh Aisyah pindah dari sini!!" Tegas Kania.


"Kania Lo kok malah belain Aisyah sih!!" Kata sheren tak terima.


"Karena Aisyah ga salah!!" Jawab Kania. "Denger ya,, Aisyah itu ga salah apa apa. Dia,, sama sekali ga mencuri" Ucap Kania lagi yang membuat semuanya langsung terdiam juga kaget.


Kania mengeluarkan ponselnya, lalu membuka video yang diperlihatkan kepada semuanya. "Kalian lihat video ini!!" Tegasnya.


Video yang berdurasi kurang dari satu menit itu seketika membuat semuanya terdiam. Sedangkan Aisyah, dia benafas lega karena sudah ada bukti bahwa dirinya tidak bersalah. Lina, Dinda, dan Syifa tersenyum riang melihat hal itu.


"NAH KAN!! AISYAH TERBUKTI GA BERSALAH!!" Teriak Lina dengan lantangnya. "DAN SEKARANG GUE MINTA, SIAPAPUN KALIAN YANG UDAH NGEBULLY AISYAH, NGOMONGIN YANG GA BAIK TENTANG DIA. NGEHINA DAN NGEHUJAT DIA. APALAGI SAMPE NYURUH AISYAH PINDAH..." Lina menggantungkan kalimatnya dengan menatap tajam kedelapan gadis dihadapannya. "GUE MINTA SEKARANG LO SEMUA MINTA MAAF SAMA AISYAH!!" Lanjut Lina.


"KOK KALIAN PADA DIEM AJA SIH!! AYO MINTA MAAF SAMA AISYAH,, CIUM TANGAN DIA. BIAR DOSA KALIAN BISA RONTOK,, INGET!! DOSA KALIAN ITU UDAH NUMPUK!!" Lanjut Syifa.


"Ehm ehm,, siapa yang kemarin bilang Ih najis. Hellow,, emang kalian suci?" Tambah Lina. "Jadi manusia kok sok sok an suci, Udah tau kalau manusia itu tempatnya dosa!" Lanjut Lina yang terus terusan menyindir mereka.


"Bagus!! Teruskan bakat mu nak! Papa bangga padamu!!" Timpal Iqbal dengan mengacungkan kedua jempolnya.


"Dih,, popa papa..." Gumam Lina melirik tajam Iqbal.


Sudah cukup panas mendengar sindiran dari mereka berdua, kedelapan gadis tersebut keluar kelas satu persatu. Di susul dengan orang orang yang menonton. Yang secara perlahan bubar. "Apa Lo sipit?!" Ketus Syifa pada seorang gadis yang berkulit putih, pipi tembem dan mata sipit.


"EH EH,, KALIAN GA MAU APA MINTA MAAF SAMA AISYAH!! DOSA KALIAN ITU UDAH BANYAK!! JANGAN NAMBAHIN BEBAN MALAIKAT BUAT NYATETIN DOSA KALIAN TERUS!" Teriak Lina.


"Dasar ya orang orang ga punya akhlak" Gumam Syifa. Ia melirik tajam sheren yang masih berdiri di samping Kania. "Ehm ehm,, sheren...Lo ga mau minta maaf sama Aisyah?" Tanya Syifa dengan nada yang dilembutkan.


"Dan sampai kapan pun gue gak bakal minta maaf sama dia" Jawab sheren.


"Sheren!!" Ujar Kania. "Minta maaf,," Perintahnya.


Sheren menghembuskan nafas kasar. "Oke,, ini karena Lo yang minta"


Sheren berjalan maju mendekat Aisyah. "Gue minta maaf" Ujarnya malas. Lalu keluar kelas begitu saja.


"Ya Allah,, minta maaf nya gitu amat!!" Geram Syifa.


Kania menghela pelan. Lalu mendekat ke arah aisyah. "Maafin sheren ya" Ujarnya.


Aisyah tersenyum, lalu mengangguk. "Iya"


"Eh Kania,, Lo dapet video itu dari mana?" Tanya Syifa.


Kania mendongakkan kepalanya ke arah pojok kelas. "Itu,, dari kamera cctv" Jawabnya membuat Lina dan Syifa menepuk jidatnya.


"Oi ya,, kenapa gue gak kepikiran sama cctv?!" Gumam Lina.


"Haduh,, bego banget jadi orang!! Kan ada cctv kenapa ga sampe kepikiran! Aduh otak,, otak" Kata Syifa merutuki dirinya.


"Oi ya Kania Lo bawa uang tiga juta buat apa. Banyak banget!!"


"Itu buat beli obat ibu gue"


"Oh,, lain kali jangan bawa uang terlalu banyak. Nanti kalau kemalingan lagi. Ya,, kalau duit Lo balik, kalau ga?!" Ujar Syifa.


Kania mengangguk. "Iya,, gue minta maaf ya"


Fariz yang sedari tadi hanya terdiam dengan ketiga temannya berjalan ke arah mereka. "Lihat!!" Ucapnya dingin pada Kania.


Kania langsung membuka layar ponselnya, lalu menyodorkannya pada Fariz. Dengan seksama Fariz mengamati seorang perempuan dengan rambut sepunggung sedang membuka tas Kania yang pada waktu itu, suasana kelas sedang sepi. Wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang tergerai panjang. Walaupun begitu Fariz tetap mengenalnya, bagaimana tidak? Gadis itu, adalah gadis yang sudah lama ia kenal.


"Ehm ehm fa,, boleh ambilin minum ga?" Bisik Lina. "Suara gue serak nih,,, dari tadi teriak teriak Mulu" Lanjutnya.


"Aduh duh,, kasian temen gue. Ya udah gue ambilin minum dulu" Kata Syifa dengan berjalan ke arah mejanya, lalu mengambil air mineral.


"Ini.."


"Makasih cipa ku sayang.." Ujar Lina lembut.


"Ih,, kesamber apa Lo Lin. Jadi lembut kayak gitu"


"Gue hari ini kan lagi seneng,,," Jawab Lina.


•••••


"Ghea!!" Panggil Fariz. Membuat gadis cantik yang sedang tertawa dengan Naira tersebut menoleh. Ghea berdiri, lalu tersenyum lebar.

__ADS_1


"Eh hai Riz..."


"Gue mau ngomong sama Lo!"


"Iya,, mau ngomong apa?"


"Nggak disini.."


Fariz berjalan pergi keluar dari kelas Ghea. "Eh bentar ya ra, gue keluar dulu" Ujar Ghea.


Naira mengangguk.


Ghea mulai melangkah mengikuti Fariz.


"Ada apa Riz"


"Bisa bisanya ya Lo,, bahagia di atas penderitaan orang lain" Ketus Fariz.


Ghea mengerutkan keningnya. "Maksutnya?"


"Udah deh ya, Lo ga usah pura pura ga ngerti. Lo kan yang udah fitnah Aisyah. Dengan naruh ponsel dan uang Kania di loker Aisyah"


Ghea terkejut. Namun dengan sebisa mungkin ia mengkondisikan ekspresinya. "Ma-Maksut kamua apa sih Riz. Aku ga ngerti"


"Udah deh. Stop sandiwara kayak gitu. Kita udah punya buktinya" Kata Fariz. "Kenapa Lo ngelakuin itu Ghea?"


Ghea menghembuskan nafas kasar. "Iya,, gue yang lakuin. Semua itu gue lakuin karena gue cemburu lihat Lo yang lebih Deket sama Aisyah, Lo perhatian sama Aisyah, Lo selalu belain dia. Sedangkan Lo,, Lo ga pernah lakuin itu ke gue" Jawab Ghea.


Fariz mengusap wajah kasar. "Ya terus Lo maunya gimana?!"


"Gue minta sama Lo buat jauhin Aisyah."


"Gue gak bisa!!" Tegas Fariz.


"Kenapa? Kenapa ga bisa?!"


"Gue udah terlanjur nyaman sama dia. Gue juga udah pernah ngejauhin dia. Tapi gue ga bisa!!" Jawab Fariz. "Kalau Lo mau marah, marah sama gue. Gue yang selalu deketin Aisyah, bukan Aisyah yang selalu deketin gue. Dan kalau Lo cemburu, gue yang harus Lo salahin!"


Ghea menghela pasrah. "Riz,, apa sih spesialnya Aisyah, Sampe Lo suka sama dia? Lo diapain sama dia?!"


"Dia spesial, karena dia cewek pertama yang udah buat gue nyaman!!" Jawab Fariz jujur.


Mulut Ghea terbuka setengah mendengar jawaban Fariz. "Jadi selama ini Lo kalau ada dideket gue, ga ngerasa nyaman gitu?"


"Dengerin gue ya,, gue ga ada rasa apa apa sama Lo. Gue kalau ada di Deket Lo, itu ga senyaman saat ada di Deket Aisyah!!"


"Bertahun tahun kita temenan. Lo beneran ga ada rasa sedikit pun sama gue riz?"


Fariz menggeleng.


"Gue minta sama Lo, buat jangan lakuin hal ini lagi. Untuk kali ini Lo gue maafin" Kata Fariz. "Assalamualaikum"


"Riz,,, Riz... Gue bakal lakuin apa yang Lo minta. Tapi tolong jauhin Aisyah!!" Teriak Ghea pada Fariz yang berjalan membelakanginya.


"AAHHH!!" Geram Ghea.


•••••


"Kak reyhaan!!"


"Assalamualaikum kak Reyhan" Ujar Syifa.


"Waalaikum salam"


"Kak ini,,, buat kakak aja" Kata Syifa dengan menyodorkan coklat pada Reyhan.


Reyhan menatap cokelat, lalu beralih menatap Syifa yang tersenyum padanya. "Ini,, ambil aja" Kata Syifa lagi.


"Ga usah"


"ih,, ga papa. Ga usah malu malu. Ga baik nolak rezeki"


Siapa juga yang malu. Batin Reyhan.


"Lagi pula aku udah sering makan cokelat" Kata Syifa.


"Ini cokelat dari siapa?"


"Aku"


"Lo dapat dari mana?" Tanya Reyhan.


"Adit" Jawab Syifa. "Jadi aku itu setiap hari dikasih cokelat sama Adit, atau kadang dikasih bunga. Makannya ini aku kasih ke kak Reyhan aja"


"Kenapa ga ke orang lain aja?" Tanya Reyhan dingin.


"Kan aku sukanya sama kak Reyhan" Jawab Syifa enteng. "Ini..."


"Ambil kak,, ini aku kasih ke kak Reyhan karena hari ini aku lagi seneng banget!!" Ujar Syifa. Beberapa detik berlalu namun Reyhan tetap terdiam membuat Syifa menjadi cemberut. "Kak Reyhan,, ambiiilll,, Aku capek tau dari tadi gini terus!!"


Bukannya mengambil, Reyhan malah berjalan pergi membuat Syifa menjadi kesal. Memang harus butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi cowok seperti Reyhan.


"Kak Reyhan,, beneran nih ga mau cokelatnya?" Tanya Syifa memastikan dengan berjalan di samping Reyhan.


Reyhan tetap diam. "Ya udah kalau ga mau. Aku aja yang makan." Ujar Syifa. "Kakak tahu ga,, Adit itu kayak nya bucin banget sama aku. Hem,, kalau aku makan cokelatnya sendirian kayak nya ga seru deh."


Syifa melirik Reyhan yang masih berjalan menatap depan. "Oke deh kalau gitu,, nanti aku bakal makan cokelatnya sama Adit. Kan enak tuh,, makan cokelat satu buat berdua. So sweet pastinya" Ucap Syifa. Berusaha membuat Reyhan cemburu. " Ya udah aku cari Adit dulu ya kak. Assalamualaikum"


Syifa hendak membalikkan badannya. Namun rok nya ditarik oleh Reyhan. Membuat kekesalan Syifa bertambah. "Jangan ditarik dong kak roknya,, kalau robek gimana?!" Kata Syifa cemberut.


"Jangan cemberut" Ujar Reyhan datar.


"Emang kenapa? Lagian kakak, dimana mana yang ditarik itu tangan. Bukan rok"


"Bukan mahram" Jawab Reyhan enteng.


Syifa terdiam. "Iya juga ya... Terus ada apa?"


"Sini cokelatnya!"


Syifa menatap cokelat ditangannya. Lalu tak lama ia kembali tersenyum. "Emmm, tadi ditawarin ga mau. Kalau mau bilang aja kali kak. Gengsi kok digedein" Kata Syifa tersenyum lebar.


"Sini..."


Syifa memberikan cokelatnya. "Kak,, kakak sebenarnya ga mau kan aku makan cokelat ini sama Adit? Iya kan?"


"Artinya kakak cemburu,, kalau cemburu berarti kakak udah suka dong sama aku" Ucap Syifa dengan percaya diri.


"Jangan ge-er"


"Terus ap..." Kalimat Syifa terhenti saat melihat Reyhan yang memberikan cokelatnya pada cowok yang kebetulan lewat.


"Buat Lo" Kata Reyhan.


Cowok itu terdiam. "Ambil..." Kata Reyhan sedikit memaksa. Mau tak mau,, cowok itu mengambil cokelat tersebut lalu pergi.


"ih kak Reyhan!! Kok malah di kasih sama dia" Ujar Syifa kesal. "Aneh tau ga kak Reyhan,, dimana mana cowok itu kasih cokelat ke cewek, bukan cowok kasih cokelat ke cowok. Aneh kan jadinya"


"Ih kak Reyhan, kebiasaan deh...kalau lagi ngomong malah ditinggal pergi!!" Kata Syifa setengah berteriak melihat Reyhan yang pergi begitu saja. "Kak Reyhan!! Cakep tapi ga berani ngomong banyak. Apaan?!"


Syifa menghentakkan kakinya. Hah,, Ya Allah,, harus berapa lama ia bersabar menghadapi cowok dingin itu.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2