
Setelah meletakkan semua barang belanjaan di dapur, Aisyah cepat cepat berjalan ke kamar ustadzah Rina hendak bertemu dengan bi irah. "Assalamualaikum" Ujar Aisyah dengan memasuki kamar.
"Waalaikum salam" Jawab bi irah.
Aisyah berjalan mendekat bi irah. Dengan menatap seorang lelaki memakai jas putih sedang memeriksa keadaan ustadzah Rina. "Bi.." Panggil pelan Aisyah.
Bi irah menoleh. "Ini sisa uangnya" Bisik aisyah dengan menyodorkan beberapa lembar uang.
Bi irah mengangguk. "Makasih ya neng"
"Sama sama bi"
Aisyah kembali terdiam dengan menatap dokter tersebut. Ingin sekali dirinya menjadi seperti para dokter sukses di luar sana. Menggunakan jas putih dengan pelengkap stetoskop yang digantungkan di leher. Menolong banyak orang yang membutuhkan. Namun, semua impian itu masih menjadi andai.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Dia sakit apa?" Tanya ustadz Rizwan.
Dokter tersebut tersenyum. "Istri anda tidak sakit apapun pak. Itu sudah biasa di alami oleh wanita hamil."
Seketika semua yang ada di sana membelalak kaget. "Maksutnya istri saya hamil dok?" Tanya ustadz Rizwan memastikan.
"Iya pak. Selamat ya, tidak lama lagi bapak akan menjadi seorang ayah"
Seketika mata ustadz Rizwan langsung berkaca kaca. Sudah 3 tahun lebih mereka menanti kehadiran anugerah terindah ini. Dan hari ini, hari ini semua doanya di kabulkan oleh Sang Maha Kuasa. "Alhamdulillahirabbil alamiin" Gumamnya lalu sujud syukur.
Setelah beberapa detik, ustadz Rizwan bangun dari sujudnya. "Terima kasih dokter" Ujarnya.
Dokter tersebut mengangguk. "Kalau begitu saya pamit dulu. Permisi"
"Oh iya, silahkan"
"Saya antar ke depan pak dokter" Ujar bi irah yang di angguki dokter tersebut. Dokter langsung keluar dari kamar yang di susul bi irah.
Ustadz Rizwan langsung duduk di samping ustadzah Rina. "Umi..." Gumamnya pelan dengan menatap istrinya.
Tak lama seulas senyum juga air mata haru terukir di kedua wajah mereka. Ustadz Rizwan mengecup lembut kening istrinya. "Alhamdulillah bi..." Gumam ustadzah Rina.
Sedangkan Aisyah tersenyum lebar melihat pemandangan yang langka itu. Bagaimana tidak? Ustadzah Rina dan ustadz rizwan tidak pernah mengumbar kemesraan di depan para santrinya. Mereka selalu bersikap biasa, malah kalau santri baru bisa jadi tidak akan menyangka kalau mereka ternyata pasangan suami istri. Saat di luar mereka juga saling memanggil dengan panggilan ustadz dan ustadzah. Berbeda saat mereka berada situasi seperti ini atau saat hanya berdua yang memanggil menggunakan panggilan Abi umi.
"Alhamdulillah..." Gumam Aisyah menatap keduanya.
•••••
"Ini kenapa isinya pada ghibahin si Sasa Mulu sih. Heran gue, kayak ga ada topik lain aja" Gumam Syifa dengan menatap serius ponselnya.
"Ya lagi jadi berita viral di sekolah. Maklum lah" Sahut Lina.
Syifa menghela pelan. "Tapi gue kasihan juga ya sama tu anak. Nggak di medsos nggak di sekolah di hina Mulu. Nggak tahu juga di lingkungannya yang sekarang. Udah ga punya temen yang bela, punya sahabat juga ga setia"
"Namanya juga hidup. Kadang di atas kadang dibawah. Nah nasibnya si Sasa sekarang ini lagi di bawah"
"Tapi semoga dengan semua itu bisa buat Sasa sadar atas perbuatannya selama ini" Timpal dinda membuat keduanya mengangguk.
"Eh Aisyah kemana sih, kok dari tadi gue ga lihat dia?" Tanya syifa.
Tok tok tok
Syifa berdiri, lalu berjalan membukakan pintu. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Syifa."Ya Allah, dari mana aja lo syah. Dari tadi ga kelihatan"
"Nah tu apa bocah nya muncul. Panjang umur" Sahut Lina.
Aisyah tersenyum. "Tadi habis belanja dari pasar"
"Kok Lo yang belanja?"
"Iya, soalnya bi irah lagi jagain ustadzah Rina"
"Kenapa ustadzah Rina?"
"Jangan di tanya Mulu. Itu Aisyah nya biarin masuk dulu. Mau sampe kapan di luar" Ucap Lina.
"Oi ya. Masuk dulu Syah"
Aisyah mengangguk.
Aisyah berjalan menuju kasurnya, lalu duduk di atasnya. Di susul Syifa yang langsung nyelonong duduk di samping Aisyah. "Jadi jadi, ustadzah Rina kenapa?" Tanya Syifa lagi yang sudah terlanjur kepo.
Aisyah tersenyum lebar menatap satu persatu mereka. "Ustadzah kenapa Aisyah?" Tanya Dinda.
"Ustadzah ga kenapa Napa"
"Terus kenapa di jagain?" Tanya Syifa.
Senyum aisyah semakin lebar. "Tau ga?"
"Nggak tau" Jawab ketiganya kompak.
"Kan Lo belum kasih tahu" Ujar Lina.
"Iya makannya dengerin dulu. Ustadzah Rina, ternyata sekarang lagi hamil"
"HAH?!"
Aisyah mengangguk.
"Hamil?" Tanya Dinda kaget.
"Iya hamil"
"Ya Allah,, Alhamdulillah..." Gumam Dinda tersenyum senang.
"Kok bisa hamil?" Tanya Syifa.
"Ya bisa lah. Orang udah nikah" Balas Lina.
"Iya juga ya. Oon banget ya gue." Jawab Syifa dengan merutuki dirinya sendiri. Syifa membaringkan tubuhnya di kasur dengan menatap layar ponselnya. Menunggu jawaban dari cowok itu. Sejak kemarin dirinya sama sekali tidak melihat Reyhan, mungkin karena saking sibuknya laki laki itu.
"Huufftt,,,, baca chat aja lama!" Gumam Syifa. "Ih, kak Reyhan kemana sih?"
08.45
Hujan yang asalnya turun deras semakin lama semakin reda. Matahari yang dari tadi tidak nampak batang hidungnya pun kini mulai memancarkan sinarnya. Membelah gumpalan awan mendung yang ada di luasnya langit biru pagi ini. Sekumpulan burung pun mulai berterbangan kesana kemari.
Dengan cepat Lina langsung mencuci semua bajunya yang menumpuk. Lina adalah tipe orang yang cepat dalam melakukan sesuatu, oleh karena itu, mencuci bajunya pun dirinya tidak membutuhkan banyak waktu. Setelah selesai, Lina menjemur bajunya di atas rooftop pesantren. "Semoga aja ga hujan lagi" Gumamnya dengan menjemur satu persatu bajunya.
Sedangkan Syifa yang berada di kamar sendirian. Aisyah dan Dinda juga sibuk mencuci bajunya masing-masing. Kini otak jahilnya mulai muncul. Dia mengambil ponsel Lina lalu membukanya. Beruntungnya ponsel tersebut tidak di kunci dengan sandi apapun. Dengan cepat Syifa langsung membuka Instagram lalu mencari ig Iqbal. Setelah itu dia memencet tulisan ikuti sekaligus kirim pesan.
Dengan menahan tawanya Syifa mulai mengetikkan sesuatu. Lalu mengirimnya pada Iqbal.
Di sisi lain Iqbal memicingkan matanya saat mendapatkan notifikasi.
Lina_putri01 mulai mengikuti anda
Cepat cepat Iqbal membuka Instagram nya, dan benar saja gadis itu memfollow nya. Lalu Iqbal juga membuka pesan yang masuk melalui instagramnya. Matanya membelalak sempurna.
I love you singa lebay...
Itulah pesan yang dikirim oleh gadis itu. "Gila ini si macan lagi kesambet malaikat apa ya?"
"Gila, ini beneran yang nulis Lina?" Tanya Iqbal tak percaya dengan menatap ponselnya bingung.
Syifa? dia terus tertawa dengan memegangi perutnya, membayangkan bagaimana reaksi Iqbal saat mendapatkan pesan darinya atas nama Lina. "Lo ngapain ketawa gitu?" Tanya Lina yang baru saja datang.
•••••
__ADS_1
Hari ini juga, Syifa sama sekali tidak melihat Reyhan. Sudah dua hari ini, tapi cowok itu seperti hilang entah kemana. Setelah pembelajaran hari ini selesai, Syifa tidak langsung pulang. Hari ini ada latihan sedikit untuknya dari kakak kelas. Latihan untuk mengibarkan bendera. Karena saat ini kelas 12 fokus untuk menyambut UN dan kelulusan kelas jadi pengibar bendera dan tugas lainnya saat upacara di ambil alih oleh kelas 11 dan kelas 10 di persiapkan sebagai cadangan agar saat ada kelas 11 lainnya yang tidak dapat melaksanakan tugasnya saat upacara dapat di gantikan oleh kelas 10.
Dirinya tidak sendirian, beberapa murid kelas 10 lainnya yang terpilih juga ikut latihan. Hari ini dilatih dalam hal kekompakan, khususnya kekompakan dalam berjalan. Setelah selesai, Syifa berjalan ke kelasnya untuk mengambil tas, setelah itu dirinya kembali berjalan keluar kelas. Menatap Fariz yang sibuk melatih silat di lapangan sekolah. Lelaki yang bisa silat memang damage nya bukan main.
Syifa berjalan mendekati Fariz yang sedang mengamati adik kelasnya yang melakukan gerakan silat yang baru saja di ajarkan. Sekaligus mengoreksinya. "Assalamualaikum"
Fariz menoleh. "Waalaikum salam, Syifa? Ada apa?"
"Maaf ganggu kak"
"Ga papa. Gimana? Ada masalah apa?"
Syifa menggeleng. "Syifa cuma mau tanya. Kak Reyhan kemana ya?!"
"Oh reyhan, dari jam 12 tadi dia pembinaan di lab. Mungkin, sekarang masih di lab. Tapi, pembinaannya udah selesai kok, tadi gue lihat kelas 11 lainnya udah keluar dari lab. Coba Lo cari aja"
Syifa mengangguk dengan tersenyum. "Makasih ya kak. Syifa duluan kalau gitu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Syifa langsung melangkah cepat menuju lab. Meski dirinya tidak ada urusan penting apapun dengan Reyhan, tapi rasanya pengen sekali dirinya bertemu Reyhan. Benar saja, Reyhan masih ada di dalam lab. Bersama Naira.
Syifa mengintip mereka dari ambang pintu. Terlihat Naira yang berjalan mendekati Reyhan. "Han..." Panggilnya.
"Hm?"
"Gue mau bilang sama Lo" Ujarnya dengan menatap serius Reyhan. "Sebenarnya udah lama gue suka sama Lo. Semenjak awal gue ketemu sama Lo, gue udah kagum banget waktu itu. Kita juga sering jadi partner lomba, hal yang membuat gue tambah Deket dan suka sama Lo." Ujar Naira jujur menyatakan perasaan yang di pendamnya selama ini.
Sedangkan Reyhan hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Cowok itu memang susah untuk di tebak. Entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.
"Sekarang gue tanya sama Lo" Naira menatap tepat di manik mata Reyhan. Membuat gadis itu terlena akan keindahan mata cowok di hadapannya.
"Tanya apa?"
Suara Reyhan membuat Naira kembali tersadar. "Oh gue...gue mau tanya." Naira terdiam. "Apa selama ini Lo juga ngerasain hal yang sama? Suka sama gue?!"
Reyhan terdiam mendengar pertanyaan Naira. Tak lama cowok itu mengangguk. "Ya" Jawabnya singkat membuat mata Naira membelalak kaget sekaligus berbinar-binar tak percaya. Benarkah Reyhan juga menyukainya?
"Beneran?"
Reyhan kembali mengangguk. "Iya. Gue juga suka sama Lo" Ujarnya lagi.
Syifa yang mendengar semuanya menatap cemburu mereka. Tanpa sadar tangannya terkepal erat. Niatnya yang ingin menemui Reyhan ia kurungkan. Syifa membalikkan badan, lalu berjalan cepat. Lebih baik dirinya tadi langsung pulang ke pesantren dari pada harus melihat dan mendengar semuanya.
Sedangkan Fariz dirinya tanpa sengaja melihat Syifa berjalan dengan wajah kesal dan sedih melewati lapangan sekolah. "Kenapa tu anak. Mukanya kesel banget!"
"Kalian di terusin latihannya ya.." Ujar Fariz pada juniornya.
"Ya kak.."Jawab semuanya.
Dengan cepat Fariz langsung melangkah menuju lab, mendapatkan pemandangan yang sama seperti apa yang di dapatkan Syifa. "Hem pantesan, ternyata di sini berduaan sama Naira"
Fariz mengetuk pintu lab beberapa kali, membuat mereka langsung menoleh. "Han, sini bentar!"
Reyhan mengangguk. Dia berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Fariz.
"Ada apa?" Tanya Reyhan.
"Lo ngapain sih berduaan Mulu sama Naira. Noh si Syifa, ga Lo pikirin dia?" Tanya Fariz pelan dengan nada nyolot. "Tadi dia kesini, tapi balik lagi. Cemburu kali"
Reyhan hanya terdiam. Apakah Syifa mendengar semua obrolannya dengan Naira? Fariz memukul lengan Reyhan.
"Ngapain bengong? Sana kejar. Nanti dia marah, baru tau rasa Lo"
Tanpa membuang waktu Reyhan melangkah cepat mencari gadis itu. Sedangkan syifa, berjalan pelan dengan pikirannya yang terpecah kemana mana. Dia meremas jemarinya sendiri.
Jadi selama ini kak Reyhan juga suka sama kak Naira? Terus yang tentang coretan warna itu? Itu apa? Batin Syifa. Apa emang gue yang terlalu berharap...
"Syifa"
"Lo tadi mau ketemu gue?" Tanya Reyhan.
Syifa terdiam dengan pandangan ke bawah. Entah kenapa dirinya enggan menatap Reyhan. "Syifa mau pulang kak" Ujar Syifa.
"Tunggu dulu..." Reyhan menatap Syifa. "Apa Lo denger semuanya?"
Syifa menundukkan kepalanya. "Kakak suka sama kak Naira?" Tanya Syifa.
"Iya, gue suka. Tapi suka sebagai teman bukan suka karena perasaan" Jawab Reyhan.
Syifa mendongakkan kepalanya, menatap Reyhan yang lebih tinggi darinya. "Maksutnya?"
"Gue cuma nganggap Naira sebagai teman. Nggak lebih"
"Karena gue udah mulai suka sama yang lain." Lanjutnya lagi.
"Siapa?" Tanya Syifa.
"Mungkin yang sekarang ada di depan gue" Jawab Reyhan.
•••••
Lina, Aisyah, Syifa dan Dinda. Mereka berempat berkumpul di kamar dengan menunggu adzan Maghrib tiba untuk berbuka puasa. Hari ini, kebetulan Lina dan Syifa juga ikut melaksanakan puasa Sunnah Senin Kamis.
"Aduh..." Ringis Lina dengan memegangi perutnya.
"Kenapa lin?" Tanya Dinda.
"Hhss,, perut gue sakit. Aduuh..."
"Laper ya?!" Ujar Syifa.
"Nggak!" Ketus Lina. "Aduh,, gue ke toilet dulu ya. Assalamualaikum" Tanpa menunggu jawaban dari ketiga temannya Lina langsung berlari pergi ke toilet.
"Waalaikum salam" Jawab ketiganya.
Aisyah dan Dinda menatap Syifa yang sedari tadi senyam senyum sendiri. "Syifa, kenapa senyam senyum gitu?" Tanya Aisyah.
"Hem?!"
"Kenapa senyam senyum gitu?" Tanya Aisyah lagi. "Bahagia banget kayaknya"
Syifa menggeleng. "Nggak, ga ada apa apa kok" Jawab Syifa. Dirinya kembali terpikir omongan Reyhan. Kalimat itu, selalu terngiang-ngiang di kepalanya. "Mungkin ga ya?!" Gumam Syifa.
"Mungkin apa?" Tanya Dinda.
Mungkin ga ya kalau kak Reyhan emang suka sama gue. Batin Syifa.
"Bukan apa apa kok" Jawab Syifa.
"Jangan sampe mikirin yang bukan mahram lhoh. Zina" Ujar Dinda bagaikan mengerti apa yang ada di pikiran Syifa.
Selang beberapa menit Lina kembali dengan wajah kesalnya. "Ada yang punya pembalut ga?!" Tanya Lina dengan nada kesal.
"Lo menstruasi Lin?" Tanya Syifa.
Lina mengangguk kesal. "Iya. Gimana ga kesel coba? Udah puasa seharian, tinggal 10 menit juga mau buka puasa malah tiba tiba menstruasi. Kesel ga sih?!"
"Sabar Lin..." Ujar Dinda.
"Ya sabar ya sabar. Tapi ini masalahnya tinggal 10 menit. 10 menit lagi buka, tapi puasa gue malah Batal. Kesel banget ah!!" Lina mengerucutkan bibirnya. "Jadi gimana? Ada yang punya pembalut?"
"Gue punya" Ucap Syifa.
"Minta"
__ADS_1
"Tapi udah habis satu bulan lalu"
Lina menghela panjang, lalu menghembuskan nya secara perlahan. Berusaha meredam kekesalan yang semakin menumpuk karena Syifa. "Kenapa bilang punya kalau udah habis Syifaaa?" Kata Lina gemas. "Yang lainnya punya ga?"
Secara bersamaan Aisyah dan Dinda menggeleng, membuat Lina menghela pelan. Dia langsung berjalan, membuka lemarinya, mengambil uang dan langsung pergi begitu saja. "Mau kemana lagi ya tu anak. Baru datang langsung pergi" Gumam Syifa.
Iqbal berjalan dengan sajadah yang ia bawa di tangannya. Hendak pergi ke mushola untuk sholat Maghrib. Ilham, dia sudah sejak dari tadi ke mushola. Kalau soal ibadah, Ilham memang lebih rajin dari yang lainnya. Sedangkan Fariz dan Reyhan mereka masih di kamar untuk bersiap siap.
Iqbal memicingkan matanya saat melihat Lina yang berjalan cepat di halaman pesantren ke arah gerbang. Mau kemana gadis itu petang petang seperti ini? Seketika pesan kemarin yang ia terima kembali melintas di otaknya. Baiklah, dirinya akan menanyakan langsung pada Lina.
"Eh eh eh, mau kemana Lo?" Tanya iqbal membuat Lina menghentikan langkahnya.
Lina memutar bola matanya. "Mau beli pembalut!"
"Pembalut?"
"Iya. Mau beliin?" Tanya Lina.
"Lo itu kalau mau beli inget waktu. Mau Maghrib kayak gini mau keluar beli pembalut. Mana di bolehin?"
Lina terdiam. Benar juga, mana mungkin dirinya di izinkan keluar pada jam segini. "Ya terus kalau gue ga beli gimana dong nanti? Bisa bocor. Mana kalau malam juga ga dibolehin keluar. "
"Lo pikir tangki air bocor"
Lina berdecih. "Nanti pas gue tidur, ini bisa tembus di kasur. Laki mana paham begituan?!"
"Ya gimana mau paham, orang cewek aja susah di tebak." Ujarnya dengan melirik Lina. "Luarnya kayak gimana, taunya dalemnya gitu"
Lina menatap Iqbal. Sepertinya lelaki ini sedang menyindirnya. "Maksut Lo apa ngomong gitu?" Tanya Lina.
"Tuh kan. Jangan pura pura ga tahu Lo"
Lina mengerutkan alisnya. "Pura pura apa sih? Ngomong yang jelas dong!"
Iqbal mencondongkan kepalanya. "Lo suka kan sama gue?"
Mata Lina membelalak dengan mulut yang terbuka setengah. "Kepedean Lo! Mana ada gue suka sama Lo!"
"Ngaku deh..."
Lina menggeleng dengan memutar bola matanya. "Tunggu tunggu, Lo dapet pemikiran kalau gue suka sama Lo itu dari mana?"
"Lo sendiri yang DM gue. I love you singa lebay..."
Lina melotot. "Gue? Ngirim pesan itu ke Lo?"
Iqbal mengangguk mantap.
"Dengerin ya, gue gak pernah kirim pesan apapun ke Lo!" Tegas Lina.
"Udah ngaku aja deh. Lo juga follow gue. Halah kelihatannya aja ga suka sama gue, ternyata suka?"
Kini mulut Lina terbuka dengan membentuk huruf O penuh. "Gue follow Lo?" Tanya Lina nyolot.
"Iya"
"Kapan?"
"Kemarin. Lo muda muda udah pikun ya"
"Kemarin?" Gumam Lina. "Kemarin aja gue ga buka ig"
"Udah lah. Emang kebanyakan gitu kok, sulit buat ngungkapin kalau suka" Ujar Iqbal yang membuat Lina semakin kebingungan.
"Gue cuma ga nyangka aja, ternyata Lo suka sama gue" Iqbal tersenyum miring dengan menaikkan kedua alisnya. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Iqbal berjalan menuju mushola. "I love you singa lebay....i love you singa lebay hahaha..." Ejek Iqbal membuat Lina menjadi triple kesal.
Lina menghembuskan kasar. "Kapan gue kirim pesan gitu ke Iqbal? Dan bilang i love you...?" Lina menggeleng. "Hiek,, mana ada gue bilang gitu..."
Pikiran Lina kini bertraveling ke hari Ahad kemarin. Kemarin, dirinya melihat Syifa tertawa puas di kamar sendirian. Apa itu ada hubungannya dengan Iqbal?
"Bener bener cari gara gara tu bocah!" Gumam Lina lalu kembali berjalan menuju kamar.
Allahuakbar Allahuakbar...
"Yee buka buka..." Ujar Syifa yang langsung mengambil sebotol air. "Bismillah..." Syifa meneguk airnya hingga rasa hausnya hilang.
"SYIFAAAAA" Syifa menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan yang memanggilnya. Dirinya melihat Lina yang baru saja datang dan langsung menatapnya dengan tatapan seram. Membuat Syifa langsung bergidik ngeri.
Lina berjalan mengambil bantalnya lalu melemparnya tepat di wajah Syifa. "Lina...ngapain sih Lo?" Tanya Syifa bingung.
"Lo kan yang kirim pesan itu ke Iqbal!!"
"Kirim pesan apa sih?" Tanya Syifa yang belum tersadar akan kelakuannya. Beberapa detik dirinya kembali ingat. "Oh pesan itu..."
"Jadi beneran Lo yang kirim pesan itu?"
Syifa mengangguk dengan memasang tampang tak berdosanya. "Hehehe..."
"Hiih dasar Syifa!!!" Lina mengambil bantal ketiga temannya. Lalu melempar satu persatu ke arah Syifa. Sedangkan Syifa mencari perlindungan di balik badan Aisyah dan Dinda.
"Eh tolongin gue tolongin gue.." Gumam Syifa.
"Eh Lina, udah dong. Maghrib Maghrib ga boleh berantem!" Ucap Dinda.
"Itu temen lo,, bener bener cari masalah sama gue!" Merasa belum puas, Lina mengambil gulingnya. "iiihh..." Geramnya dengan melempar guling miliknya.
Sedangkan Syifa, dia malah tertawa melihat kekesalan sahabatnya yang memuncak. Mungkin Lina benar benar emosi, apalagi saat ini dirinya sedang menstruasi.
•••••
Ya Allah Ya Rabb, diriku memang tidak seberani Khadijah untuk mengungkapkan cinta pada orang yang di suka.
Layaknya Sayyidah Fatimah yang mencintai Ali dalam diam, juga layaknya Zulaikha yang mendekatkan diri pada Mu demi mendapatkan cinta Yusuf. Kini, hanya itu yang bisa ku lakukan.
Ya Allah Ya Rabb, namanya selalu ku sebut dalam setiap doaku...Berharap dia lah yang menjadi wanita terpilih yang nantinya aku bimbing untuk bersama sama masuk ke dalam Syurga Mu.
•••••
Pukul 03.00 pagi.
Seperti biasa, mereka berdua saling membangunkan untuk sholat tahajud. Kalau Lina dan Syifa, mereka susah untuk dibangunkan. Di kesunyian seperti ini, membuat mereka semakin khusyu' dalam membaca dan melakukan gerakan indah tiada duanya itu. Karena sholat adalah tempat terbaik bagi mereka yang benar benar memahami apa itu makna sholat. Yang tidak hanya sebuah gerakan yang di lengkapi oleh bacaan semata.
Ya, tempat terbaik untuk mengadukan segala keluh kesahnya pada Sang Maha Kuasa. Tempat terbaik untuk memohon ampunan Nya, tempat terbaik untuk menceritakan segala suka duka yang di rasa, tempat terbaik untuk meneteskan air mata. Dan di sini lah, tempat mereka sering mendoakan yang terbaik untuk kedepannya. Sepertiga malam.
Dinda memejamkan matanya dengan tangannya yang terus mengulur butiran tasbih, bibir cantiknya yang sibuk berkomat Kamit memuji dan menyebut nama Sang Pencipta. Sedangkan Aisyah, dirinya sibuk memurojaah hafalannya dengan suara lirih agar tidak lupa nantinya. Hafalan yang rencananya akan ia tukar dengan sebuah mahkota indah di akhirat untuk kedua orang tuanya.
Sayup sayup Dinda mendengar seseorang yang melantunkan ayat suci Al-Quran dengan merdunya. Dinda menyingkap kain hijau yang menjadi pembatas shaf laki laki dan perempuan di depannya. Seorang laki laki yang duduk menyila dengan posisi membelakangi nya itu, terus melantunkan setiap ayat per ayat Alquran. Tanpa sadar, seulum seyum terukir di wajah Dinda.
"Dinda..." Panggil Aisyah dengan menepuk bahu sahabatnya. Dengan cepat Dinda kembali menutup pembatas shaf tersebut.
"Iya?!"
"Lagi lihatin apa?"
Dinda menggeleng pelan. "Bukan apa apa"
Aisyah terdiam, berusaha mendengarkan suara ayat suci Al-Quran yang terus melantun di tengah kesunyian pagi buta hari ini. "Masyaa Allah, siapa yang baca Alquran ya Din? Bagus banget" Ujar Aisyah yang diberi anggukan oleh Dinda.
Dinda kembali melanjutkan dzikirnya dengan kembali memejamkan matanya. Dengan telinga dan juga hatinya yang terus menerima aliran sejuk dari lantunan ayat Al Qur'an yang merdu nan indah tersebut. Mulai hari itu, ku mulai mengagumimu. Meski ku tidak tahu siapa kau sebenarnya.
"Masyaa Allah..."
__ADS_1
...********...