Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Pembelaan


__ADS_3

Hari ini iqbal sengaja berangkat pagi pagi, bahkan lebih pagi dari ketiga temannya. Ya, untuk menyelidiki siapa dalang dibalik kasus coklat yang hilang. Dibalik pintu ia melihat seorang gadis yang tengah sibuk mengambil cokelat dan memasukkannya kedalam plastik.


"Kan bener dugaan gue, ada udang dibalik bakwan nih" Gumamnya lalu melangkah menghampiri gadis itu.


"Ekhem, ekhem ngapain Lo ngambil cokelat punya Reyhan" Tanya Iqbal membuat gadis itu langsung menoleh cepat. Lalu ia tersenyum.


"Eh, kak Iqbal" Ujar Syifa setengah kaget.


"Ternyata Lo yang ngambil cokelat nya Reyhan"


"Iya kak emang kenapa"


"Lo emang udah bilang sama Reyhan"


"Emm,, belum sih"


"Lha terus kenapa Lo ambil, nyolong itu namanya hukumnya dosa."


"Assalamualaikum" Suara dari ambang pintu membuat mereka menoleh ke arah sumber suara. Reyhan, Fariz dan ilham sedang melangkah kearah mereka. "Waalaikum salam" Jawab Syifa dan Iqbal bersamaan.


"Nah mumpung ada kak Reyhan, aku mau bilang kalau kemarin yang ngambil cokelat nya kak Reyhan itu aku. Maaf ya kak aku ga bilang bilang" Ujar Syifa jujur.


"Hm"


"Jadi kakak udah maafin aku"


"Hm"


"Berarti cokelatnya udah halal ya kak, udah ga haram lagi ya kak."


"Iya"


"Alhamdulillah" Gumam Syifa lega. "Lah kok langsung dimaafin gitu aja sih Han" Ujar Iqbal.


"Lah emangnya kenapa? Lo juga biasanya suka ngambil cokelat gue sama reyhan tanpa izin"


"Wah jadi kak Iqbal juga gitu ya" Ujar Syifa.


"Iya, setiap hari cokelat punya gue sama Reyhan diambil sama dia"


"Ya bukannya gue gak izin, tapi kan Lo berdua udah tau kalau yang ngambil gue. Lagi pula Lo berdua juga udah ikhlas kan?"


"Hm" Ujar fariz. malas.


"Cokelat punya kak Reyhan aja udah hampir satu plastik gini, gimana digabungin punya kak Fariz. Buat apa aja kak cokelatnya? Dimakan? Kakak ga takut ompong tu gigi kalau makan cokelat terus" Ujar Syifa polos.


"Buat gue jual lagi. Lumayan" Ujar Iqbal.


"Lah kok dijual, nih ya kak cokelatnya mendingan dikasih ke anak anak jalanan gitu soalnya kemarin anak anak yang ada dijalanan aku kasih cokelat sama bunga mereka seneng banget. Nih cokelat juga rencananya bakalan aku bagiin sama mereka. Kan lumayan dapet pahala"


"Noh bal tiru Syifa jangan yang dipikirin uang mulu. Nabung gitu kek buat ke akhirat" Ujar Ilham.


"Iya udah kalau gitu, gue relain cokelat punya Reyhan disedekahin, dikasih ke anak anak jalanan. Nah yang punya Fariz gue jual" Ujar Iqbal.


"Dasar mata duitan Lo" Ucap Fariz.


"Oh ya kak ini aku bawain brownis lagi yang kayak kemarin" Ujar Syifa dengan menaruh kotak coklat di meja Reyhan. "Yang kemarin brownis nya abis?" Tanya Syifa lagi.


"Oh udah ludes fa, enak banget" Ujar Iqbal membuat Syifa tersenyum.


"Kak Reyhan makan brownisnya kan?"


"Dihabisin Iqbal" Ujar Reyhan, membuat Syifa mengarahkan pandangannya ke arah iqbal.


"Enak aja Lo bilang, gue cuma ambil dua potong Han,, dua potong" Ujarnya penuh penekanan dengan mengangkat kedua jarinya membentuk peace. "Dia bohong fa, Reyhan yang paling banyak makan. Lo kenapa sih tinggal bilang iya gitu aja gengsi, malah pakai gue yang dituduh lagi" Ujarnya kepada Reyhan yang sibuk dengan rumus rumus yang ada di bukunya.


"Halah gengsi kok digedein" Sindir Fariz.


"Emm, ya udah deh kalau gitu aku ke kelas dulu ya kak. Kak Reyhan jangan lupa brownisnya dihabisin biar ga mubazir. Assalamualaikum" Ujar Syifa lalu melangkah pergi dengan sekantong plastik digenggamnya.


"Waalaikum salam" Ujar mereka bersamaan.


•••••


"KAK REYHAAANNN!!!" Teriak seorang gadis yang suaranya melengking itu membuat Reyhan dengan refleks menoleh kearah belakang. Nampak seorang gadis Dengan setengah berlari menghampirinya. Reyhan berdecak sebal. Dia lagi dia lagi. Reyhan terus melangkah, dengan tangan kiri yang ada disaku dan tangan kanan membawa buku tebal.


"Ih kak Reyhan, kok aku ga ditungguin. Apa aku teriaknya kurang keras. Kak brownisnya udah abis?" Tanya Syifa yang berusaha menyejajarkan langkah kaki Reyhan. "Duh kak Reyhan ini jalannya cepet amat sih" Ujar Syifa yang terus memperhatikan langkah lebar kaki Reyhan.


"Kak Reyhan mau kemana? Kok bawa buku. Mau ke perpustakaan? Aku boleh ikut ga kak?" Kata Syifa, namun Reyhan memilih untuk diam.


"Kak Reyhan itu cita citanya apa sih, demen banget diem kayak gitu"


"Apa jangan kak Reyhan mau jadi juru bahasa isyarat!" Ujar Syifa membuat Reyhan menghentikan langkahnya. Lalu menatap Syifa tajam. "Yang biasanya aku lihat di tv, yang gini kak" Ujar Syifa dengan menggerak gerakkan jarinya, menirukan seperti apa yang biasa dilakukan oleh juru bahasa isyarat. Membuat Reyhan menatap aneh syifa. Lalu ia kembali melangkah.


"Iya kak? Kakak cita cita nya mau jadi juru bahasa isyarat?" Ujarnya dengan menatap Reyhan. Tak lama Syifa menepukkan kedua tangannya. "Atau jangan jangan kakak mau jadi patung jalanan" Ujarnya lagi membuat Reyhan kembali menghentikan langkahnya.


"Yang tubuhnya dicat silver itu lho kak, apa ya sebutannya...emm,, manusia perak. Kakak pantes jadi manusia perak"


"Pantes?" Tanya Reyhan memastikan.


"Iya pantes, ya habisnya kakak kalau ditanya ga dijawab, kalau dichat ga dibales, kalau di ajak ngobrol diem, kalaupun jawab cuma hm, iya, gak gitu doang. Persis banget kayak patung. Kakak itu kenapa sih, ngomong itu gratis tenang aja ga bayar kok. Takut suara kakak habis, tenang aja nanti aku kasih donor suara buat kakak" Ujar Syifa.


"Ga jelas" Ucap Reyhan, menatap Syifa aneh.


"Wah, apa jangan jangan kak Reyhan itu siluman patung!!" Kata Syifa makin ngawur.


"Bisa diem gak!" Ujar Reyhan, memandang Syifa tajam. Membuat Syifa langsung mengunci mulutnya rapat rapat. Lalu Reyhan melanjutkan langkahnya, ia melewati lorong. Seketika bisik bisik pun mulai terdengar ditelinga mereka.


Ih, tu cewek ngapain dah Deket Deket kak Reyhan


Cari perhatian gini amat


Modus Lo modus huuu!!


Ga pantes Deket Deket kak Reyhan gitu


Woy,, Lo jangan Deket Deket gebetan gue


Itulah mereka, yang merasa iri dan tidak suka bila idolanya dekat dengan perempuan lain. Reyhan dan Syifa memilih untuk tidak menggubris perkataan mereka.


"SYIFAA!!" Teriak seseorang bersuara berat membuat Syifa menoleh kebelakang. Sedangkan Reyhan, ia tetap melanjutkan langkahnya dan masuk ke perpustakaan.


"Hai fa"


"Dibiasaiin kalau ketemu orang ucap salam dulu"


"Eh iya, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


"Ke kantin yok, gue yang traktir"


"Lo siapa?"


"Oh ya gue Adit, kelas 10 IPS 3" Ujarnya dengan menyodorkan tangan kanannya.


"Syifa" Kata Syifa dengan menangkupkan kedua tangannya didepan dada. "Bukan muhrim" Tambahnya lagi.


"Eh iya, jadi gimana mau kekantin sama gue?"


"Gak laper"

__ADS_1


"Oh, gimana kalau kita ngobrol-ngobrol sebentar"


"Aku mau sama kak Reyhan aja"


"Oh gitu ya, em yaudah. Oh ya ini buat Lo semoga Lo suka" Ujarnya dengan menyodorkan kotak berbentuk persegi panjang.


"Makasih" Jawab Syifa dengan mengambil alih kotak itu. Membuat Adit tersenyum.


"Ya udah gue balik dulu ya" Ujarnya lagi. Syifa mengangguk. Lalu Adit beranjak pergi. "Adit" Ucap Syifa sedikit berteriak.


"Iya" Jawab Adit pelan.


"Kamu belum ngucap salam" Ujar Syifa membuat Adit menggaruk tengkuknya. "Oh eh iya. Assalamualaikum" Ujar Adit yang langsung dijawab oleh Syifa. " Waalaikum salam"


Syifa memandangi kotak dengan balutan kertas kado berwarna pink dan pita biru muda diatasnya. Isinya apa ya? Batin Syifa.


•••••


Bel istirahat kedua telah berbunyi, membuat para murid berhamburan pergi menuju kantin.


"Hai Syah, sendirian aja" Ujar Sasa yang tiba tiba datang dan langsung duduk disamping Aisyah. Ya, kalian pasti tau kan tujuan kedatangannya hanya untuk menghina.


"Eh, temen temen Lo mana?"


"Dinda sama Lina dikantin sebelah kalau syifa ada dikelas." Jawab Aisyah yang masih asik menyantap cilok nya.


"Mereka bener bener udah sadar ya kalau Lo ga pantes jadi temen mereka"


"Lo suka sama makanan ini" Tanya Sasa dengan menunjuk ke arah cilok yang sedang disantap Aisyah.


"Iya"


"Heh, emang beda ya selera orang kaya sama orang kayak Lo. Gue makan kayak gini udah sakit perut. Gue aja jarang jajan di sini, yang ada gue malah sakit. Eh btw, Lo emang suka makanan ini apa Lo sengaja beli ini karena harganya murah. Karena Lo ga punya uang. Cih, Kasian banget ya Lo" Ujarnya lagi. Sabar, itulah Aisyah.


"Aisyah udah berapa hari Lo ga cuci muka, kusem amat muka lo. Nih deh kalau Lo butuh skincare, bilang gue aja biar skincare gue bisa gue sisain buat Lo. Maaf ya gue kasih yang sisa, ya soalnya Lo emang pantes dapet yang sisa sisa gitu"


"Orang kayak Lo, cita citanya mau jadi apa sih?"


"Dokter"


"Dokter?" Tanya Sasa dengan tertawa meremehkan. "Dokter biayanya mahal Aisyah, Emang Lo mampu? Mimpi ya boleh, tapi jangan ketinggian. Kalau jatuh nanti sakit deh"


Aisyah menghela pelan. "Kamu ga usah khawatir, kalaupun aku jatuh aku akan jatuh diantara para bintang" Ujar Aisyah enteng membuat Sasa tertawa miris.


"Gini amat ya hidup Lo. Oh ya ada kemajuan ga?"


"Kemajuan apa"


"Ya kemajuan siapa tau Lo udah ga cadel lagi"


"Doain aja Ya"


"Ngarep banget Lo minta doa gue" Belum lagi Aisyah membuka mulut untuk berbicara, suara dari arah samping membuat pembicaraan mereka berhenti.


"Ngapain Lo kesini" Tanya Lina. Tidak suka.


"Emang kenapa? Ga boleh"


"Boleh boleh aja, tapi kalau Lo kesini buat ngehina Aisyah, buat cari masalah mendingan Lo pergi aja"


"Dih, punya hak apa Lo ngusir ngusir gue" Jawab Sasa tak terima.


"Lo ngerasa diusir sama gue? Oh ya bagus kalau gitu Lo emang pantes buat diusir"


"Lo gak tau siapa gue, gue Natasya angelita, anak dari bapak Ferdi Hendrawan. Kalau Lo macem macem sama gue, gue bisa aja ngeluarin Lo dari sekolah."


Lina melangkah kearah Sasa, menatapnya tajam. "Yang tanya siapa Hm? Gue gak tau dan gak mau tau Lo itu siapa, dari mana, siapa keluarga Lo, gue gak mau tahu. Dan apa Lo bilang? Lo bisa ngeluarin gue dari sekolah ini? Gue gak takut Natasya Angelita" Ujar Lina penuh penekanan.


"Yang pertama. Kami temenan itu bukan memandang fisik dan ekomoni. Kami berteman atas dasar kekeluargaan dan kebersamaan. Gak ada perbedaan antara kita. Yang kedua aku akan terus berteman dengan kebaikan dan orang orang yang baik" Ujar Dinda. "Aku mau bilang sama kamu, sebelum kamu menghina orang lain lebih baik kamu intropeksi diri terlebih dahulu. Perlu aku ingatkan ke kamu, bahwa manusia ga ada yang sempurna. Ga ada yang bisa dibanggakan bahkan disombongkan dari manusia. Karena manusia dihadapan Allah tidak lebih dari sebutir debu. Kamu punya kelebihan kamu juga punya kekurangan, Aisyah punya kekurangan, Aisyah juga punya kelebihan. Ingat, suatu hari nanti apa yang kita perbuat juga akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti"


"Dih, jangan sok alim deh Lo. Kalau mau ceramah jangan disini. Pengeng nih kuping gue" Ucap Sasa. Tak lama kemudian adzan Dzuhur terdengar dari mushola.


"Tuh udah adzan, lebih baik Lo sholat sekarang. Taubat, sebelum terlambat" Ucap Lina. "Aisyah, dinda yuk ke mushola, sholat Dzuhur" Kata Lina, yang langsung mendapat anggukan dari Aisyah dan dinda. Lalu mereka bertiga mulai pergi. Namun baru tiga langkah, Lina kembali mundur. Menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Sasa.


"Sholat ya cantik, modal glow up doang ga bisa baperin malaikat Ridwan" Ucap Lina tersenyum miring. Lalu menepuk bahu Sasa, dan kembali melangkah pergi keluar kantin.


•••••


"Fa, Lin kalian ga mandi?" Tanya Aisyah yang baru saja masuk kamar. Ia baru saja selesai mandi.


"Gak, kita udah sepakat ga mandi bareng. Iya ga" Ujar Lina yang diberi anggukan mantap oleh Syifa.


"Kenapa Ga mandi?"


"Males kalau harus ngantri dulu. Lama" Ujar Syifa, membuat Aisyah manggut-manggut paham. "Mau kemana Syah?" Tanya Syifa yang melihat Aisyah hendak keluar kamar.


"Mau ambil minum didapur"


"Oh kalau gitu sekalian ambilin buat gue ya" Kata Syifa. Aisyah mengangguk. Lalu berjalan keluar kamar. Sedangkan Syifa melanjutkan mengerjakan tugasnya. Ia menepuk jidatnya saat teringat sesuatu.


"Oh iya, tadi kan gue dikasih kado sama Adit"


"Adit siapa?" Tanya Dinda.


"Adit kelas 10 IPS" Ucap Syifa. Ia mengambil tas diatas tempat tidur nya, lalu membukanya. Mengambil sebuah kotak, lalu dibawa ke arah teman temannya.


"Kenapa dia kasih Lo kado?" Tanya Lina.


"Mungkin dia suka sama gue"


"Ih,, pede banget Lo jadi orang" Ujar Lina yang tak digubris oleh Syifa yang sibuk membuka kado nya.


"Wah, cantik banget kalungnya" Ucap Syifa menatap kalung emas berinisial huruf S dengan love kecil disampingnya. Ia menatap kalung itu dengan mata


20 menit kemudian....


"Aisyah mana ya kok ga Dateng Dateng" Gumam Syifa. "Masa cuma ngambilin air putih gitu doang sampe lama banget sih, apa gue samperin aja ya" Tambahnya lagi lalu beranjak pergi. Syifa menghirup udara pelan saat ia hampir sampai didapur.


"Hemmm,, harum banget. Siapa yang masak ya" Kata Syifa terus melangkah menuju dapur.


"Assalamualaikum, Aisyaaahh" Ujar Syifa sedikit berteriak. Lalu ia menghampiri Aisyah yang berdiri di samping bi irah.


"Aisyah, Lo ngapain aja sih. Lama banget ngambilin air putih gitu aja"


"Oh iya, Ya Allah fa aku lupa. Maaf ya"


"Iya ya udah" Ucap Syifa dengan menuangkan air putih kedalam gelas plastik, lalu meneguknya. "Alhamdulillah" Lirihnya setelah minum air.


"Lagi ngapain Syah"


"Masak"


"Ngapain masak"


"Bantuin Bi irah"


"Bi irah kan biasanya udah dibantuin bi Yati"


"Bi Yati lagi pulang kampung anaknya sakit. Terus bi Yati juga ambil cuti selama 3 bulan, jadi selama 3 bulan yang masak cuma bi irah. Kasian kan bi irah masak sendirian, mana santri disini banyak. Makannya aku bantuin Bi irah" Ujar Aisyah panjang lebar.


"Oh gitu,, mau masak apa?"

__ADS_1


"Tumis kangkung"


"Wih, gue jadi ga sabar pengen makan masakan Lo."


"Ga mau bantuin?"


"Gue gak bisa masak. Ngupas bawang merah aja gue gak bisa" Ujar Syifa jujur, membuat Aisyah membelalak.


"Masa sih, kan cuma ngupas"


"Iya itu, gue aja ngupas bawang merah belum selesai udah nyerah duluan. Pedes mata gue"


Ucap Syifa. Membuat Aisyah manggut manggut. Lalu kembali memasak.


"Aisyah kalau gitu gue mau balik ke kamar dulu ya"


"Iya"


"Bi irah,, Syifa balik dulu ya. Maaf ga bisa bantuin"


"Iya neng ga papa" Kata Bu irah. Setelah itu Syifa melangkah keluar dari dapur. Menyisakan bi irah dan Aisyah. Aisyah mengambil sendok, mengambil sedikit air tumisan kangkung. Lalu menaruhnya ditelapak tangan. Dan langsung mencicipi nya. Pas. Batinnya.


"Bi irah, ini tumis kangkungnya udah selesai. Ada yang bisa Aisyah bantu lagi?"


"Eh ga usah neng, makasih ya neng udah mau bantuin bibi"


"Iya bi sama sama, emm,, kalau gitu Aisyah balik ke kamar dulu ya bi. Kayanya sebentar lagi mau adzan Maghrib" Ujar aisyah. Bi irah mengangguk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab bi irah. Lalu Aisyah melangkah pergi menuju kamar. Untuk bersiap siap sholat Maghrib di mushola.


•••••


Bel istirahat berbunyi, Aisyah melangkah menuju ruang guru. Karena tadi Bu Lia sudah menyuruh Aisyah untuk bertemu dengannya. Ada urusan katanya. Setelah beberapa menit berbicara dengan bu Lia, Aisyah pamit. Ia keluar ruang guru dengan selembar kertas. Aisyah mengamati kertasa itu baik baik, sambil melangkah pelan.


Bruukk


Aisyah terjatuh. Ia meringis kesakitan, memar nya belum benar benar sembuh. Seketika semua mata tertuju pada Aisyah. Karena posisi Aisyah saat ini ada di tengah tengah lapangan. Samar samar, ia mendengar suara orang tertawa meremehkan. Aisyah mendongakkan kepalanya, ada tiga orang yang berdiri angkuh disampingnya.


"Gitu aja jatuh"


"Makannya jalan pake mata"


"Kalau jalan itu lihatnya kedepan"


Mereka bertiga berbicara secara bergantian. Aisyah berusaha untuk berdiri, lalu ia membersihkan roknya. Melipat kertas yang ada dalam genggamannya, dan memasukkan kedalam saku roknya. Setelah itu Aisyah menatap tajam Sasa.


"Kamu sengaja kan buat aku jadi jatuh"


"Iya, kenapa? Lo gak terima?" Ujar Sasa menaikkan satu alisnya. Aisyah menggeleng heran. Kapan gadis ini akan berubah. Karena tak mau mencari masalah Aisyah melangkah pergi. Lihat saja, sekarang banyak teman temannya yang mulai mengerubungi mereka. Penasaran. Atau bahkan ada yang menjadikan ini bahan tontonan.


"Mau kemana Lo?" Kata Sasa, yang memegang erat pergelangan tangan aisyah. Menahannya agar tidak pergi.


"Sa, lepasin" Ujar Aisyah. Ia meringis karena genggaman Sasa sangat erat.


"Oh kenapa? Sakit?" Ucap Sasa yang menambah erat genggaman tangannya, membuat Aisyah semakin meringis kesakitan. Setelah puas, barulah Sasa melepas genggamannya, sedangkan Aisyah memegangi pergelangan tangannya yang memerah.


"Dasar cewek lemah" Ucap salah satu gadis, disamping kiri Sasa.


"Maaf ya, aku ga mau cari masalah sama kalian. Udah ada banyak yang lihatin kita" Ujar Aisyah, membuat Sasa mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Kenapa? Emang itu yang gue mau" Ucapnya tanpa dosa.


"Sa, aku mohon jangan mulai" Kata Aisyah. Lembut. Namun tanpa diduga, Sasa malah mendorong bahu kanan Aisyah. Membuat Aisyah setengah kaget. Bukan tanpa alasan, melainkan hanya untuk memancing orang orang agar mengerubungi mereka. Hari ini, ia akan memalukan Aisyah dihadapan orang lain.


"Aisyah Lo itu cadel, kusam, kusut, kampungan dan dekil. Apa sih yang Lo banggain dari itu semua? Ya nggak temen temen?" Tanya Sasa sedikit berteriak, dengan menatap teman temennya.


"BENEERRR!!!" Sahut mereka kompak, membuat Sasa tersenyum licik.


"Lo itu jadi anak jangan suka malu maluin orang tua Lo. Kasian ibu Lo pasti malu ngelahirin anak kayak Lo. Jangan suka jadi beban di keluarga lo"


"Nih lihat badan Lo, kasian. Udah berapa lama ga dikasih makan. Hemm,, kan keluarga Lo emang ga punya duit" Ujar Sasa.


Sebenarnya tubuh Aisyah bukan kecil dan kurus namun hanya saja bila dibandingkan dengan Sasa lebih besar tubuh Sasa.


"Ngapain orang tua Aisyah malu, Kata orang orang buah itu gak jauh jatuh dari pohonnya" Ucap Carin, gadis yang berada di samping kanan Sasa.


"Jadi itu artinya, Lo juga gak jauh dong dari orang tua Lo. Maksut gue kalau Lo dekil kayak gini artinya orang tua Lo juga dekil" Sekarang giliran Rara, yang berada di samping kiri Sasa.


"Jadi Syah, apa orang tua Lo juga cadel. Kusut, kusam, dekil kayak Lo? Atau malah lebih parah lagi ya dari Lo" Ucap Sasa, mengundang tawa orang orang. Aisyah mengepalkan kedua tangannya erat erat.


"Kok diem aja Syah? Hmm,, gue jadi ngebayangin deh gimana ya orang tua Lo itu"


"Dekil,,, terus suka ke sawah panas panasan, pasti jadi item gitu ya, Terus juga..."


Plaakk


Belum lagi Sasa menyelesaikan kata katanya, sebuah tamparan keras jatuh dipipi kiri Sasa. Membuat kedua sahabatnya terkejut bukan main. Begitu juga dengan orang-orang yang mengerubungi mereka. Mungkin, hari ini sudah habis kesabaran Aisyah untuk mengahadapi Sasa. Tak terima ditampar oleh Aisyah, Sasa pun ingin membalas hal yang sama. Namun, belum lagi Sasa mendaratkan tamparannya dipipi Aisyah, tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Aisyah.


"Kurang ajar Lo. LEPASIN TANGAN GUE" Ujar Sasa dengan berteriak dan membentak. Namun Aisyah masih tetap diam, dengan mencengkram erat tangan Sasa.


"Lo budeg ha? Lo tuli? Lepasin tangan gue" Lanjutnya. Lalu Aisyah melepas tangan Sasa.


"Berani Lo nampar gue ha? Lo pikir gue ini siapa? Bisa Lo tampar seenaknya" Kata Sasa dengan nada masih membentak.


"Udah selesai ngomongnya ha? UDAH SELESAI?" Ujar Aisyah juga tak kalah membentak. Membuat orang orang yang mengelilinginya kembali terkejut. Tak mengira mereka bahwa Aisyah bisa semarah ini.


"Kamu tadi tanya, aku ini siapa bisa nampar kamu seenaknya! Tapi sekarang aku tanya sama kamu, kamu siapa bisa ngehina aku seenaknya ha?" Ujar Aisyah membuat Sasa terdiam.


"Ingat Sasa, aku selama ini diam bukan berarti aku ga mampu buat hadapi kamu. Aku cuma mau sabar menghadapi kamu, tapi nyatanya semakin aku biarin, semakin kamu ga tau diri" Tambah Aisyah penuh penekanan.


"Lo kenapa marah ha? Gue cuma ngomong apa adanya tent..."


"KENAPA NGGAK!!" Ucap Aisyah memotong kalimat Sasa, membuat sasa tersentak. "Kamu boleh ngehina aku, kamu boleh cari cari kesalahan aku. Tapi aku ga akan diem kalau kamu juga ngehina orang tua aku." Lanjut Aisyah dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Sasa.


"Punya salah apa orang tua aku sama kamu? Apa aku pernah ngehina orang tua kamu, ga pernah kan? Terus kenapa kamu ngehina orang tua aku. Kalau emang orang tua aku punya salah. Bilang. Aku akan minta maaf atas nama orang tua aku" Ucap Aisyah nada suaranya menjadi lemah. "Ayo bilang!!! Apa salah orang tua aku, ha?"


Lalu Aisyah menatap Carin dan Rara secara bergantian. Setelah itu, mengedarkan pandangan ke arah orang orang yang mengelilingi dirinya saat ini.


"DAN INI JUGA BUAT KALIAN!! KALIAN BOLEH NGEHINA AKU, TAPI JANGAN PERNAH NGEHINA ORANG TUA AKU. AKU GA BAKAL TINGGAL DIEM. NGERTI KALIAN!!" Gertak Aisyah membuat semua orang mematung. Mereka meneguk ludahnya kuat kuat. Hari ini, Aisyah benar benar marah. Ia kembali menatap sasa.


"Satu hal yang kamu harus tahu" Tiba tiba suaranya menjadi lemah. "Aku..." Tambahnya lagi dengan menunjuk dirinya sendiri. Aisyah meneguk ludahnya. " Aku ga akan pernah tau, ga akan pernah mau juga ga ingin buat dilahirin seperti ini. Aku juga mau kayak kamu. Kayak kalian,,, sempurna." Ucapnya dengan gemetar. Kesedihan itu kembali menyelundup dari hatinya.


"Apa sejelek itu orang cadel di mata kamu. Walaupun cadel, aku juga mau dihargai. Kalau kamu ga bisa menghargai aku, lalu gimana kau bisa menghargai orang orang yang ga bisa jalan, ga punya tangan dan lain sebagainya. Yang juga punya kekurangan fisik kayak aku."


"Mungkin luka di tubuh bisa diobati, tapi luka dihati susah buat diobati. Apalagi untuk sembuh. Suatu hari nanti kamu akan ngerasain apa yang aku rasain" Ujarnya lagi. Aisyah membendung sekuat mungkin air mata yang memaksa untuk tumpah saat ini.


"Ngapain kalian ada disini ha? Bubar kalian" Ujar Fariz yang tiba tiba datang diantara kerumunan. Membuat Aisyah dan yang lainnya juga ikut terkejut.


"Untung apa Lo ngehina Aisyah kayak gitu?" Tanya Fariz menatap sasa tajam.


"Mulai sekarang ga ada yang boleh ngehina Aisyah. Siapapun itu yang berani menghina Aisyah dia bakal berhadapan sama gue" Ucap Fariz serius membuat Aisyah terkejut. Apa yang dia bilang?


"Gue bukan main main, Aisyah,, sekarang gue yang bakal jadi pelindung dia" Tambahnya lagi. Mata Aisyah membulat sempurna, atas dasar apa Fariz ngomong kayak gitu? Kapan ia mulai peduli kepada Aisyah.


"Sekarang kalian bubar!" Lanjut Fariz. "Ayo ngapain masih disini. Gue bilang bubar kalian" Ujar Fariz.


"Kak Fariz" Lirih Aisyah menatap Fariz dengan bingung. Ya, sangat bingung dengan sikap,, apalagi perkataan Fariz.


...******...

__ADS_1


__ADS_2