Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Makasih Ya


__ADS_3

Reyhan menatap tajam Syifa. Sedangkan Syifa, bergidik ngeri karena tatapan dari Reyhan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Em, ma-maksutnya ya, aku cemburu sih" Ujar Syifa masih gugup. Ia menghembuskan nafas pelan. Lalu ia kembali cemberut. "Ya iyalah aku cemburu, aku kan suka sama kak reyhan. Nih ya namanya orang suka pasti cemburu kalau lihat seseorang yang kita suka Deket sama orang lain" Ucap Syifa. Lancar.


Reyhan memasukkan ponselnya kedalam saku celana hitam panjangnya. Lalu ia berdiri, dan berjalan. Dengan tangan kanan yang dimasukkan kedalam saku celananya.


"Kak Reyhan tungguin syifaa. Kak Reyhan hobi banget sih ninggalin aku" Teriak Syifa yang langsung berlari mengejar Reyhan.


"Kak Reyhan mau kemana? kak Reyhan hobi banget sih ninggalin aku. Kak Reyhan juga hobi banget sih nyuekin aku. Aku kan jadi sebel sama kakak. Dasar cowok pendiam. Nyebelin!!" Kata Syifa dengan menghentakkan kaki nya. Namun hal itu tak digubris oleh Reyhan yang masih fokus menatap depan.


"Assalamualaikum kak Reyhan" Ujar tiga orang gadis secara bersamaan.


"Masya Allah, ganteng banget kak Reyhan hari ini" Ucap salah seorang gadis, membuat Syifa berdecak sebal.


"Oi ya kak, ini pemberian dari kita. Mohon diterima ya kak" Kata gadis yang berada ditengah dengan menyodorkan kotak berwarna biru.


"Makasih" Ujar Reyhan dengan menerima kotak itu. Namun Reyhan sama sekali tak menatap ketiga gadis itu, ia melihat sekilas kotak yang diberikan oleh ketiganya, lalu kembali menatap depan.


Mereka bertiga tersenyum. "Kak Reyhan jangan Deket Deket sama cewek lain ya" Ucapnya lagi dengan melirik Syifa. Membuat Syifa menatap gadis itu dengan tatapan sinis.


Emang siapa dia berani ngatur ngatur kak Reyhan.


"Ya udah kalau gitu kita mau ke mushola kak, mau sholat Dhuha"


Sholat Dhuha ya sholat Dhuha aja kali, ngapain pakai bilang segala. Batin Syifa dengan memutar bola matanya. Malas.


"Semoga kakak suka ya sama hadiahnya. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Reyhan dan Syifa bersamaan. Lalu mereka melanjutkan melangkah pergi.


Syifa menyilangkan tangannya didepan dada. Dengan bibir yang mengerucut.


Kenapa sih pada suka sama kak reyhan. Kan laki laki diluar sana banyak. Terus kenapa juga kak Reyhan harus ganteng. Kan malah jadi sasaran para buaya betina. Kalau aja kak reyhan mukanya biasa biasa aja, pasti mereka ga mau deketin kak Reyhan. Andai gue punya kekuatan super, udah dari dulu gue ubah wajah kak Reyhan biar biasa aja. Biar ga dideketin sama cewek cewek. Batinnya.


"Ngomong apa Lo" Tanya Reyhan. Sontak membuat Syifa kaget.


"Ha? Siapa? Aku? Aku emang ngomong apa kak"


"Kalau ngomong itu jangan yang aneh aneh" Ujarnya membuat Syifa melotot.


Kak Reyhan emang denger ya apa yang gue omongin. Tapi gue ngomongnya kan dalam hati. Ah, masak suara hati gue keras sampe kedengeran sama kak Reyhan. Batinnya masih dilanda dengan berbagai Pertanyaan.


•••••


Fariz dan ilham menatap aneh iqbal yang tengah mengibas-ngibaskan tangan kanan didepan hidungnya.


"Lagi ngapain sih bal?" Tanya Ilham.


"Gue, mencium aroma aroma.."


"Lah Lo ngapa jadi kayak Roy Kiyoshi" Potong Fariz.


"Diem Riz, gue lagi fokus menerawang. Sebenarnya ini itu bau apa?" Ujar iqbal dengan menghirup udara dalam toilet. Membuat Ilham dan fariz menatapnya aneh. Bagaimana bisa Iqbal begitu santai menghirup udara dalam toilet yang mana udara tersebut telah tercemar entah oleh apa. Bahkan bisa dikatakan Iqbal seperti sedang menghirup udara segar. Fariz dan ilham saja dari tadi sibuk menutupi kedua hidungnya, dan bernafas menggunakan mulut.


"Lo mau gue ubah nama Lo jadi Roy iqbali?" Ujar Fariz kesal.


"Gue mencium aroma aroma.."


"Lo kelamaan ah bal, dari tadi cuma bilang mencium aroma aroma, tapi Lo ga tau ini bau apa" Kata Ilham.


Iqbal membuka matanya yang tadinya terpejam "Emang Lo tau ini bau apa?"


"Ini itu bau jengkol" Ujar Ilham.


"Jengkol? Apaan itu?" Tanya Iqbal.


Fariz berdecak sebal. "Lo tinggal dimana sih, sampe sampe jengkol aja ga tau"


"Jengkol itu makanan" Jawab Ilham.


"Ooo makanan. Tapi kok bau ya"


Belum lagi Fariz membuka mulut, mereka dikejutkan oleh kedatangan Reyhan dan Syifa.


"Ehem ehem, udah jalan berdua aja nih" Sindir Iqbal.


"Lo mau ke kamar mandi?" Tanya Fariz. Reyhan mengangguk.


"Jangan disini Han, disini bau banget. Di kamar mandi nomor 3 aja, gue takutnya kalau yang nomor 2 juga ikutan bau, gara gara bersebelahan sama yang ini" Ujar Ilham dengan menunjuk kamar mandi yang ada disampingnya. Reyhan hanya mengangguk, lalu melangkah santai menuju kamar mandi nomor 3. Syifa? Dia masih setia mengekori Reyhan dari belakang.


"Lo kenapa ngikutin gue terus?" Tanya Reyhan.


"Kan aku maunya sama kak Reyhan. Jadi aku bakal ikut kemanapun kak Reyhan pergi" Jawab Syifa.


"Gue mau ke kamar mandi. Buang air kecil. Lo juga mau ikut?" Tanya Reyhan membuat Syifa melotot. Lalu menggeleng kuat.


"Nggak mau!!" Tegas Syifa. Membuat Iqbal, Fariz, dan Ilham menahan tawanya.


•••••


Malam ini mereka berempat sedang ada di taman pesantren. Ya, karena semua tugas sudah mereka kerjakan saat malam Ahad. Jadi hari ini mereka akan bersantai. Aisyah dan Dinda mereka membawa buku untuk dibaca, sedangkan Lina dan Syifa asik bercerita satu sama lain.


"Assalamualaikum" Suara lelaki, membuat mereka langsung menoleh. Terlihat seorang lelaki separuh baya dengan menggunakan baju Koko putih, sarung cokelat, peci hitam dengan sorban yang melingkar dilehernya. Disertai dengan tasbih kecil yang selalu berada ditangannya. Rasanya memandang wajahnya saja sudah memberikan ketenangan. Pak kyai Mansur datang menghampiri mereka, dengan senyuman yang tak pernah luput dari wajahnya.


"Waalaikum salam Abah kyai" Jawab mereka secara serempak.


"Malam malam kok kalian ada disini?" Tanya nya lembut. Sedangkan mereka berempat hanya tersenyum.


"Bi, eh maksutnya Abah Dinda mau tanya"


"Mau tanya apa Dinda?"


Dinda terdiam sejenak. "Bagaimana gambaran jembatan shiratal Mustaqim?" Tanya Dinda. Ya karena tadi tak sengaja Dinda membaca buku agama yang menerangkan tentang kehidupan akhirat. Kalau sudah menyangkut kehidupan akhirat, pastinya tak luput dari yang namanya shiratal Mustaqim.


Abah kyai tersenyum. "Ya sudah kalian duduk dulu, Abah akan cerita"


Mereka berempat duduk diatas rumput hijau taman pesantren, sedangkan Abah duduk dikursi panjang besi berawarna hitam. Ya, tak mengapa bagi mereka yang duduk hanya beralaskan rumput, apalagi rumputnya dingin karena sudah malam, karena yang utama bagi mereka adalah adab terhadap gurunya. Dengan semangat mereka berempat siap mendengarkan penjelasan dari guru sekaligus orang tuanya dipesantren tersebut.


"Yang pertama sirath itu amatlah licin. Sehingga sangat menghawatirkan siapa saja yang melewatinya. Dimana ia bisa terpeleset dan terperosok jatuh"


"Yang kedua sirath tersebut menggelincirkan. Para ulama telah menerangkan maksut dari 'menggelincirkan' yaitu ia bergerak ke kanan dan kekiri sehingga membuat orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh"


"Yang ketiga shirath itu memiliki besi pengait yang besar, penuh dengan duri dan ujungnya bengkok. Ini menunjukan siapa yang terkena dari dampak besi pengait ini tidak akan lepas dari cengkeraman nya"


Mereka meneguk ludahnya kuat kuat, mendengarnya saja sudah membuat mereka merinding. Membayangkan, membuat mereka bergidik ngeri. Apalagi kenyataan? Sudahlah mereka tidak akan tau seberapa menyeramkan dan menegangkannya saat melewati as-shirath.


"Amal didunia itu menjadi penentu, terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak dan tersambar oleh pengait besi atau tidak, semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing masing orang. Shirath itu terbentang membujur di atas neraka jahannam. Jadi siapa saja yang akan terpeleset atau tergelincir maka ia pasti akan terjatuh di neraka jahannam"


"Sirath itu susah untuk di lihat karena halus. Karena kehalusannya atau terluka karena ketajamannya, semua itu tergantung pada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya. Shirath itu tajam yang dapat membelah telapak kaki yang melewatinya, karena sesuatu yang begitu halus namun tidak bisa putus maka akan menjadi tajam."


"Sekalipun sirath itu halus dan tajam namun manusia dapat melewati nya. Karena Allah maha kuasa, untuk menjadikan manusia mampu berjalan di atas apapun." Jelas Abah kyai. Saat ini mereka benar benar merinding hanya dengan mendengarkan, rasanya tidak kalah ngeri saat seseorang sedang uji nyali.


"Ada yang mau ditanyakan lagi?" Tanya Abah.


Aisyah mengangkat tangannya ke udara.

__ADS_1


"Abah kyai, Aisyah mau tanya apa amalan yang ringan namun mendapatkan banyak pahala" Tanya Aisyah.


Abah kyai tersenyum. "Rasulullah bersabda, siapa saja yang membaca dzikir/sholawat ini, maka 70 malaikat akan lelah untuk mencatat pahalanya sampai 1000 hari. Apa dzikir itu? Jazallahu 'anna sayyidana Muhammadan sallAllahu 'alaihi wa sallam ma huwa ahluh. Siapa yang membaca dzikir itu 3 kali, maka 70 malaikat akan lelah untuk mencatat pahalanya"


"Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, kita lanjut besok, ini sudah malam, lebih baik kalian kembali ke kamar"


"Iya Abah kyai"


Akhirnya mereka berjalan pergi menuju kamar. Kecuali Dinda. Yang masih berada di hadapan pak kyai. Dinda berdiri dan duduk disamping Abah kyai yang tak lain adalah abinya.


Dinda memegang lembut tangan ayah tercintanya itu. Lalu tersenyum. "Jika Abi adalah kesatria tak berkuda, umi adalah malaikat tak bersayap, semoga Dinda bisa menjadi kuda bersayap yang akan membawa umi dan Abi menuju syurga Nya Allah" Ucap Dinda lembut. Membuat Abah kyai tersenyum tulus, ia mengelus lembut kepala putrinya lalu mencium keningnya.


"Dinda jangan lupa untuk selalu belajar ilmu agama ya, jangan lupa untuk diamalkan dan disebarkan. Jangan takut untuk menyebarkan kebaikan, jangan takut dibilang sok alim, sok ngerti. Memang syurga atau neraka mereka bukan tanggung jawab kita. Tapi, untuk saling mengingatkan itu sudah menjadi kewajiban kita" Dinda mengangguk paham.


"Ya sudah, kamu ke kamar ya. Ini sudah malam"


Dinda kembali mengangguk. Lalu memeluk Abah kyai. Beberapa detik berlalu, Dinda mencium punggung tangan abinya dengan penuh kasih sayang.


"Assalamualaikum bi" Ujar Dinda.


"Waalaikum salam" Jawab Abah kyai.


•••••


"Assalamualaikum" Ujar dinda saat memasuki kamar.


"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga secara bersamaan.


"Kenapa harus ada rahasia?" Tanya Lina judes. Membuat Dinda mengerutkan keningnya.


"Rahasia apa?" Tanya Dinda yang masih belum mengerti.


"Lo ga asik ah Din, main rahasia rahasiaan segala" Ketus Syifa. Sedangkan Aisyah, tidak ingin ikut campur.


"Rahasia apa sih yang kalian maksut?"


Lina menghela pelan "Kenapa Lo ga bilang kalau Lo ternyata anaknya pak kyai"


"Iya Din, kan kalau kita tahu Lo anaknya pak kyai kita kan jadi bisa lebih menghormati Lo" Jawab Syifa.


"Tadi mereka ngintipin kamu Din, waktu kamu peluk pelukan sama Abah kyai" Jawab Aisyah jujur membuat kedua sahabatnya melotot.


"Kok Lo malah bilang sih Syah" Kata Syifa dengan cemberut.


Dinda tersenyum. "Ooo gara gara itu kalian jadi cemberut. Emang wajib ya aku harus bilang ke kalian kalau aku putrinya pak kyai"


"Ya Wajib lah" Jawab Syifa dan Lina bersamaan.


Dinda tertawa kecil. "Aku ga pernah bilang atau cerita ini ke siapapun. Tapi kalian itu kan sahabat aku, mungkin malam ini aku kan cerita sama kalian."


"Ya udah cerita aja Din, gue siap dengerin kok" Ujar Lina dengan mengambil posisi siap.


Dinda menghela pelan. "Iya,, aku emang putri nya pak kyai. Tapi bukan putri kandung" Ujar Dinda sukses membuat ketiga sahabatnya kaget.


"Maksutnya?" Tanya Aisyah.


"Aku dibuang" Lirih Dinda membuat ketiga sahabatnya kembali terkejut.


"Apa? Dibuang?" Tanya Lina kaget. "Tega banget sih orang tua Lo"


Dinda menggeleng kuat. "Bukan, bukan orang tua aku yang buang, tapi om sama Tante aku"


"Gimana ceritanya?" Tanya Syifa.


Dinda menunduk. Berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Aku itu terlahir dari keluarga yang tidak mampu, begitu pula dengan om dan Tante aku. Mereka memutuskan buat ngebuang aku, karena mereka juga ga punya biaya buat ngerawat aku. Om sama Tante itu punya dua anak yang pada waktu itu juga masih kecil, dan pastinya membutuhkan banyak biaya untuk pendidikan mereka. Aku juga tau mereka itu bukan jahat, tapi hanya saja tidak mampu. Untuk makan saja mereka pas pasan, sampai akhirnya umi nemuin aku. Dan dibawa pulang kepesantren ini untuk dirawat dan dibesarkan. Selang beberapa hari, om sama Tante aku datang kesini. Mereka meminta maaf, mereka juga menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir. Mereka menitipkan aku sama abi dan umi. Dengan penuh kasih sayang umi sama abi membesarkan aku. Mulai dari berjalan, berhitung, membaca, berbicara, mengaji, sholat, mereka juga mengajarkan aku tentang ilmu agama, tentang kebaikan. Sering banget mereka cerita tentang Allah, tentang para Nabi, tentang syurga dan neraka dan masih banyak lagi. Mereka mendidik aku layaknya seorang putri kandung" Jelas Dinda.


"Lo pas bayi dikasih susu kalengan atau.."


"Disusuin sama umi" Jawab Dinda.


"Berarti Lo,,, belum pernah lihat wajah kedua orang tua Lo" Tanya Syifa, membuat Dinda menggeleng lemah.


"Ikut gue yuk Din" Ajak Lina dengan menarik pergelangan Dinda.


"Tu lihat!" Ujar Lina dengan menunjuk langit dengan hiasan bintang ditambah dengan penerang bulan. Membuat Dinda langsung mendongakkan kepalanya ke arah langit malam.


"Gue yakin kedua orang tua Lo lagi lihatin Lo disana, mereka lagi tersenyum lihat Lo yang udah tumbuh dewasa, lihat Lo yang menjadi anak baik dan cantik. Gue yakin mereka bangga sama Lo" Ucap Lina.


"Bayangin aja mereka lagi ada disana, lagi tersenyum" Tambahnya lagi.


Dinda menatap langit dengan tatapan sendu. "Gimana aku bisa ngebayangin mereka lagi tersenyum sama aku, sedangkan aku aja ga tau gimana wajah mereka. Aku ga pernah ketemu sama mereka" Lirih Dinda. Seketika air matanya luruh begitu saja. Tentu saja dia rindu dengan kedua orang tua kandungnya.


Syifa mencubit lengan Lina.


"Apa sih" Tanya Lina pelan.


"Gimana sih Lo, kok malah bikin Dinda sedih" Syifa melotot ke arah Lina.


"Ya gimana gue tahu, niat gue kan mau ngehibur" Elak Lina.


Aisyah mengusap pelan air mata Dinda. Lalu memeluknya dari samping.


"Kamu yang sabar Din" Bisik Aisyah.


•••••


Hari ini Aisyah berangkat lebih awal dari sebelumnya, karena hari ini ia harus piket. Tepat setelah Aisyah selesai melaksanakan piket, bel berbunyi menandakan semua orang harus berkumpul ke halaman sekolah karena upacara bendera akan segera dilaksanakan, yang mana itu rutin dilakukan setiap hari Senin. Aisyah berjalan ke arah meja nya, ia membuka tas untuk mengambil topi. Namun wajahnya berubah menjadi panik saat topi yang ia cari tidak ada di tas.


"Haduh, topinya mana...Jangan sampe aku ga bawa, bisa dihukum sama Bu Desi aku" Gumamnya dengan menggeledah tas nya. Aisyah mengigit bibirnya. Ia baru ingat bahwa tadi ia berangkat dengan terburu buru, alhasil Aisyah lupa bahwa hari ini upacara bendera.


"Lo ga bawa topi Syah?" Tanya Syifa.


Aisyah menggeleng lemas. "Coba Lo cari disetiap kolong meja yang ada disini. Siapa tahu ada topi nganggur" Usul Syifa membuat Aisyah langsung melakukan apa yang dikatakan Syifa. Saat semua kolong meja sudah ia cek, Aisyah menatap Syifa dengan wajah lemasnya.


"Fa ga ada" Lirih Aisyah. Wajahnya mendadak menjadi pucat. Aisyah berjalan lemas menuju Syifa yang sudah menunggunya di daun pintu.


"Ya udah Syah, hari ini kayaknya Lo harus ikhlas buat dihukum sama Bu Desi" Ucap Syifa membuat Aisyah semakin lemas.


"Ya udah yuk, ke halaman. Udah mau di mulai"


Aisyah mengangguk, lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju halaman sekolah. Aisyah memilih barisan paling belakang, yang pasti untuk menghindari Bu Desi.


"Ehem,,, ehem" Deheman seseorang dari belakang membuat Aisyah memejamkan matanya erat erat.


Haduh,, gimana nih. Batinnya.


"Kenapa ga bawa topi?" Saat ini Aisyah benar benar merasa khawatir, tubuhnya pun gemetar. Bagaimana kalau dia dihukum panas panas an selama 2 jam? Bagaimana kalau dia pingsan? Siapa yang mau menolongnya? Ya, bagi Aisyah hukuman adalah sesuatu yang sangat asing baginya.


Jleb


Aisyah membuka matanya. Kaget saat merasakan ada seseorang yang memasangkan topi dikepalanya.


"Nanti jangan lupa dikembali in ya" Bisik seseorang dari arah samping. Membuat Aisyah langsung menoleh, namun orang itu sudah tidak ada. Aisyah menoleh kebelakang, nampak seorang lelaki dengan santainya berjalan tanpa menggunakan topi. Aisyah memegang topi yang kini ada dikepalanya. Kenapa topinya malah diberikan kepada Aisyah? Kenapa ga dipakai sendiri? Apa dia punya 2 topi? Entahlah, namun saat ini Aisyah dapat bernafas lega, setidaknya hari ini ia tidak akan berhadapan dengan hukuman menyeramkan dari Bu Desi.

__ADS_1


Setelah kurang lebih setengah jam semua murid di jemur diatas teriknya matahari, akhirnya mereka bersorak ria saat upacara bendera sudah selesai. Dan barisan dibubarkan, membuat mereka langsung berhamburan menuju kelas masing masing. Kipas angin, AC, menjadi incaran mereka saat ini. Sama dengan yang terjadi pada kelas Aisyah, semua orang langsung menyalakan kipas angin dan AC, saling berkeroyok untuk mendapatkan udara segar. Ada juga yang memilih untuk mengipasi diri sendiri dengan bukunya, ada juga yang menggunakan kipas mini genggam yang dibawanya dari rumah.


Beberapa menit berlalu, Bu Mila datang dengan beberapa buku ditangan kanannya.


"Assalamualaikum, selamat pagi anak anak"


"Waalaikum salam, pagi Bu"


"Hari ini kita ulangan bab 3" Kata Bu Mila yang membuat kelas seketika menjadi ricuh.


Lho Bu, katanya ulangannya Minggu depan.


Gimana sih bu, saya belum belajar nih.


Lho Bu, kok mendadak.


Bu ulangan tapi boleh nyontek ya.


Bu kalau nilai saya jelek, ibu tanggung jawab.


Begitulah mereka, tak terima bila ada ulangan dadakan seperti itu.


"Kalau memang kalian ga mau ulangan, silahkan saja. Tapi jangan salahkan ibu, kalah nilai bahasa Indonesia dirapot kalian itu 0" Ancam Bu Mila membuat semua murid menjadi diam.


"Hari ini kita ulangan bab 3, Minggu depan kita ulangan bab 1,2 dan 3"


Loh, loh ga bisa gitu dong Bu.


Bu, ibu mikirin pikiran saya ga sih. Sumpah otak saya rasanya pengen meledak disuruh belajar terus.


Demo, demo yuk demo.


Bu, kenapa ulangan terus gitu sih Bu.


"Sebentar lagi kalian itu akan ulangan tengah semester, jadi ibu membutuhkan nilai tambahan. Sudah jangan banyak bicara, ibu kasih waktu 10 menit untuk belajar"


Kali ini mereka memilih untuk langsung membuka bukunya. Rasanya untuk mengadakan demo sekalipun, tidak akan mengubah pikiran Bu Mila untuk tidak mengadakan ulangan.


Beberapa menit kemudian...


"Ayo, bukunya ditutup. Taruh didepan. Ambil satu lembar kertas. Kita mulai ulangan" Kata Bu Mila, membuat semua murid kembali melakukan aksi protes nya.


Bu, perasaan baru 2 menit deh saya baca buku, udah disuruh ngumpulin aja.


Bu, saya baca buku belum satu halaman lho Bu...


Wah, Bu Mila tidak berkeadilan,,


Bu Mila, lama lama nyebelin kayak Bu Desi deh.


"Ini sudah 10 menit, kalian kira ibu ga bisa bedain apa 2 menit sama 10 menit. Ayo cepetan bukunya ditaruh di depan." Ujar Bu Mila namun tak digubris oleh murid, kecuali Aisyah dan Syifa. Yang langsung menaruh bukunya ke atas meja guru. Sedangkan mereka, ada yang melanjutkan membaca buku, ada yang malah sok sok an ngambek.


"Dava, cepat kumpulkan buku teman kalian. Taruh didepan!!" Perintah Bu Mila pada Dava yang tak lain adalah ketua kelas. Ya sebagai ketua kelas, ia harus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh guru. Dan saat semua buku sudah terkumpul didepan, Bu Mila mulai menulis soal di papan tulis.


"Ayo saya kasih waktu 30 menit untuk mengerjakan" Ujar Bu Mila membuat semua murid menjadi menganga.


Loh Bu kok cuma 30 menit, biasanya sampai jam pelajaran habis.


Bu, ga adil dong Bu


Wah ibu ini cantik seperti peri, tapi sayang ibu tidak punya perikemanusiaan


Oke deh oke, kalau nilai saya 0 ibu tanggung jawab.


Ibu ma ga asik


Mereka memukul mukul meja tidak jelas. Tidak terima atas keputusan Bu Mila.


"Sudah kalian jangan ribut, ini hanya 10 soal. Dan yang belajar dirumah pasti bisa, soal yang ibu berikan ini mudah" Jelas Bu Mila.


Beda lagi dengan Aisyah, yang tidak ingin membuang waktunya untuk mengkomplein Bu Mila. Ia lebih memilih untuk langsung mengerjakan soal yang telah diberikan.


Beberapa menit berlalu, Bu Mila melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.


Sudah 30 menit. Batinnya.


"Ayo anak anak, segera dikumpulkan waktunya sudah habis"


Dan lagi lagi membuat semua murid kembali mengoceh tidak jelas.


"Ayo Dava segera kumpulkan hasil ulangannya" Perintah Bu Mila.


"Ayo, ini bukunya silahkan di ambil" Kata Bu Mila yang sudah menerima hasil ulangan dari semua murid. Menyuruh semua murid untuk mengambil buku nya masing masing yang tadi dikumpulkan didepan.


"Baik anak anak, karena ibu ada urusan jadi jam kedua pada pelajaran bahasa indonesia itu jam kosong ya. Baik pertemuan hari ini pada mata pelajaran bahasa Indonesia ibu akhiri, mari kita baca hamdalah bersama sama"


"Alhamdulillahi robbil 'alamiin" Jawab semua murid.


"Baik jangan lupa untuk belajar karena Minggu depan kita kembali ulangan ya, bab 1,2 dan 3. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"


"Waalaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh" Jawab murid serempak. Bu Mila keluar kelas, membuat seisi kelas kembali seperti suasana saat ada dipasar. Mereka bersorak ria, rasa kesal yang tadinya membuncah di hati mereka menjadi lenyap seketika.


"Aisyah" Panggil Syifa.


"Iya"


"Temenin gue ke toilet yuk" Aisyah mengangguk. Lalu mereka berjalan keluar kelas. Langkah Aisyah terhenti saat pandangannya mengarah ke arah bawah. Ada 4 orang lelaki yang sedang dihukum untuk hormat bendera ditengah lapangan. Ya, salah satunya Fariz. Sesekali ia mengusap keringat yang mengucur di tubuhnya, membuat rasa tidak tega terselip dihati aisyah. Bagaimana pun yang harus dihukum harusnya dirinya, bukan Fariz. Karena yang tidak membawa topi adalah Aisyah.


"Emm,, fa kamu ga papa kan ke toilet sendirian?"


"Emang kenapa?"


Aisyah melirik ke arah bawah, membuat Syifa mengikuti arah pandang Aisyah. Ia tersenyum miring.


"Ya udah ya udah ga papa, urusin dulu noh jodoh Lo" Kata Syifa ngasal membuat Aisyah secara refleks memukul lengannya.


Syifa tertawa kecil "Assalamualaikum" Ujar Syifa.


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah. Lalu ia berjalan cepat menuju kantin, untuk membelikan air minum. Setelah itu, Aisyah berlari ke arah lapangan.


"Nih.." Katanya dengan menyodorkan minumannya, membuat pandangan Fariz teralihkan.


"Lo ngapain disini"


"Kasih ini buat kak Fariz, aku tahu kak Fariz haus"


Fariz mengambil botolnya. "Udah, Lo mendingan ke kelas aja, kalau Bu Desi liat Lo bisa dihukum"


Aisyah menghela pelan. "Yang harusnya dihukum kan emang aku bukan kakak."


Fariz menatap Aisyah, membuat Aisyah menundukkan kepalanya. Ia membuka botolnya, lalu meneguknya hingga tersisa setengah.


"Udah, cepetan Lo ke kelas. Gue gak mau Bu Desi liat lo."


Aisyah terdiam sejenak. "Makasih ya" Ujarnya dengan lembut dan tulus. Membuat Fariz langsung kembali menatap Aisyah. Kata kata yang diucapkan Aisyah, memang terdengar sangat tulus, hingga tak sadar membuat kedua sudut bibir Fariz terangkat. Membentuk sebuah senyuman indah, yang mungkin kalau senyuman itu diberikan kepada gadis lain, akan membuat gadis itu seketika panas dingin. Namun tidak dengan Aisyah.

__ADS_1


...******...


__ADS_2