Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Anugerah


__ADS_3

Pagi harinya, Syifa terbangun. Saat cek-in di hotel kemarin malam, rasa capek yang semakin menjadi-jadi di tubuhnya itu membuatnya langsung berbaring untuk tidur. Pagi, dengan sambutan matahari yang terbit dari arah timur. Bangunan bangunan gedung kota yang menjulang tinggi, dan jalanan kota yang tampaknya masih lumayan sepi. Syifa membersihkan tempat tidurnya, dia akan bergegas untuk membeli makanan di luar sana. Sekalian olahraga pagi.


Untungnya di sana, ada bapak bapak penjual bubur ayam, dirinya langsung berjalan menghampiri dan memesan satu porsi. Syifa duduk di kursi plastik yang memang di sediakan oleh bapak penjualnya. Ia terdiam. Sedang apa ya Reyhan saat ini? Sudah makan belum?


"Syifa..."


"Lo Syifa ya??"


Syifa terdiam menatap lelaki itu. Memperhatikannya baik baik. "Adit?!"


"Iya gue..." Balas Adit dengan duduk di kursi samping gadis itu. "Wah ga nyangka gue ternyata kita bisa ketemu di sini. Gimana keadaan Lo?"


Syifa mengangguk. "Alhamdulillah baik. Kalau Lo?"


"Iya gue juga baik. Oi ya sendirian?"


"Iya. Lo juga beli bubur?"


"Iya. Istri gue ngidam pengen makan bubur."


"Oh, istrinya hamil?"


"Iya. Alhamdulillah..."


"Waah,, seneng banget ya pasti mau punya anak. Udah berapa bulan?"


"Ini udah tujuh bulan."


"Wah selamat ya, nggak lama lagi bakal jadi seorang ayah."


Adit tersenyum. "Oi ya, Mana suaminya?"


Syifa terdiam. "Oh,, suami lagi sibuk. Makannya ga ikut."


"Ooh gituu...Udah punya anak belum fa?"


Syifa menggeleng pelan. "Belum di kasih."


"Sabar, pasti ga lama lagi kok. Gue yakin."


"Aamiin. Oi ya, rumah Lo itu Deket ya dari sini?"


"Lumayan, sekitar 80 meter dari sini. Kenapa? Mau mampir?!" Tawarnya.


"Eh nggak usah nggak usah, makasih. Kapan kapan aja ya..."


"Emmm,,, ya udah kalau gitu."


"Mbak, bubur ayamnya..." Ujar pak pedagang dengan menyerahkan bubur ayam yang sudah di siapkan dan di bungkus plastik.


Syifa berdiri. Dia menyerahkan uang lalu mengambil bubur ayamnya. Menunggu kembalian. "Ini mbak kembaliannya."


"Makasih pak."


Bapak itu mengangguk.


"Dit, gue duluan ya..."


"Iya."


Syifa tersenyum, dia mulai berjalan pergi. Beberapa detik ia berhenti. Memegang perutnya yang mendadak terasa sakit. "Aduuh...hhsss,,"


Tangannya semakin erat memegang perut, merasakan sakit yang semakin menjadi jadi. Kenapa mendadak begini?


"Fa..." Panggil Adit menghampiri. "Lo kenapa?"


"Eeehhh,,,, perut gue sakit dit tolong ahhhh...."


"Ke rumah sakit ya fa, gue anter..." Ujarnya saat melihat Syifa yang benar benar merasa kesakitan.


"Gue ga bisa jalan sampe rumah sakit ini sakiiit bangeet!! aaah!..."


"Ya udah ya udah, di sini ada puskesmas. Ayo gue bantuin..." Adit menoleh ke belakang. "Pak! Bubur ayamnya saya ambil nanti ya..."


"Oh iya mas." Jawab bapak itu tak keberatan.


"Ayo fa..." Ajak Adit membantu Syifa berjalan.


Di sini ada puskesmas yang hanya berjarak 30 meter lebih dari sana.


•••••


"Mbak hanya mengalami kram perut. Dan saya cek keadaannya baik baik saja. Tapi, saya sarankan untuk saat ini mbak periksa ke dokter kandungan."


Syifa mengangkat kedua alisnya. "Ngapain saya ke dokter kandungan? Saya kan ga hamil dok."


"Entah itu hamil atau tidak, tapi lebih baik mbak pergi ke sana. Untuk mengetahui lebih jelas kepastiannya."


"Emm,,, ya udah kalau gitu. Nanti saya akan ke sana. Kalau gitu saya pamit dulu ya dok, makasih ya. Perut saya udah mendingan."


"Iya sama sama mbak."


"Oi ya dok satu lagi, saya boleh ga numpang makan di sini sebentar. Perut saya udah laper banget."


"Iya mbak. Di depan ada kursi, silahkan makan di sana."


"Oh iya dok, makasih ya. Kalau gitu saya pamit. Assalamualaikum..."


Dokter itu terdiam. "Em maaf, saya non muslim."


"Oh,,, iya maaf ya dok. Eee kalau gitu selamat pagi, permisi..."


"Iya, silahkan..."


Syifa tersenyum lalu berjalan keluar. "Lhoh dit, ternyata Lo masih di sini? Kirain tadi udah pulang." Ujar Syifa dengan duduk di kursi.


"Iya, gue khawatir sama Lo. Gimana? Ga papa kan Lo?"


"Ga usah khawatir. Cuma kram perut doang." Jawabnya. "Dit, mendingan Lo pulang aja deh. Kasian istrinya tadi kan katanya ngidam, masa harus nunggu lama."


Adit mengangguk. "Iya. Kalau gitu gue langsung pulang. Ga papa kan gue tinggal?"


"Iya ga papa lah...!"


"Ya udah kalau gitu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Oi ya, salam buat istrinya. Semoga di lancarkan sampai proses kelahiran."


"Aamiin makasih ya doanya." Balas Adit lalu segera berlari kembali mengambil bubur ayam yang masih ada di penjualnya. Sedangkan Syifa langsung memakan bubur itu di sana, sudah tidak tahan sekali rasanya. Sangat lapar.


Setelah rasa laparnya mulai terobati, dia langsung berjalan pulang untuk mandi, baru setelah itu dia akan pergi ke dokter kandungan. Memastikan benar atau tidaknya hal itu.


•••••


"Jadi gimana dok? Saya hamil?"


"Iya Bu, selamat ya..."


Syifa terdiam lama. "Masa sih dok? Tapi saya ga mengalami tanda tandanya. Nggak mual muntah kayak di tv tv."


"Saya jelaskan dulu ya Bu, sebagian ibu hamil itu mengalami penurunan selera makan yang menyebabkan morning sickness. Nah morning sickness ini yang menimbulkan gejala mual dan muntah. Namun sebagian lainnya tidak mengalami morning sickness, malah mengalami peningkatan ***** makan. Ini adalah kondisi yang wajar, karena bayi bertumbuh dalam kandungan. Pertumbuhan janin memberikan tanda mudah lapar dan peningkatan ***** makan pada sang ibu. Selain mual muntah, ibu hamil juga sering merasa lelah, capek dan mudah emosi."


"Ooh gitu ya dok. Pantesan saya akhir akhir ini capek terus."


Dokter itu tersenyum. "Tadi saya sudah periksa, dan baiknya kondisi janin ibu sehat. Namun, kalau bisa jangan terlalu banyak pikiran dan emosi ya Bu, karena itu juga berpengaruh pada kandungan."

__ADS_1


Syifa manggut manggut. Sungguh sebenarnya senang sekali mendengar itu, tapi rasanya kok masih tidak percaya ya?


"Lalu, usia kandungan saya sudah berapa bulan dok?"


"Ini memasuki Minggu ke empat."


"Dokter yakin ini empat Minggu? Tapi kok udah kayak usia tiga sampai empat bulanan. Lihat ini perut saya udah gede."


"Sebenarnya, besar kecilnya kandungan itu dapat di pengaruhi dari kondisi tubuh sang ibu. Namun bila di lihat dari besarnya kandungan ibu di usia yang memasuki Minggu ke empat ini, ibu hamil anak kembar."


Syifa langsung menganga tak percaya. "Hah? Kembar??"


"Iya Bu..." Jawab dokternya. "Sebenarnya ibu hamil anak kembar itu biasanya mengalami mual dan muntah yang lebih parah. Salah satu penyebabnya yaitu lebih tingginya tingkat Human chorionic gonadotropin pada kehamilan kembar. Walau memang ada yang tidak mengalami mual muntah seperti ibu. Tapi kalau ibu tiba tiba mual muntah padahal sebelumnya tidak, ibu tidak perlu khawatir ya. Karena morning sickness dapat mereda saat usia kandungan memasuki 12 hingga 14 Minggu kehamilan. Namun untuk ibu hamil kembar hal itu dapat terjadi hingga jelang persalinan."


"Ini saya berikan vitamin untuk ibu, tolong di minum sesuai resep agar bayi dan ibu sehat sehat ya. Vitamin ini juga bisa di beli di apotek." Ujar dokter.


"Iya dok..."


•••••


11.07


Syifa terduduk dengan menunggu hasil dari testpack nya. Dia tadi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan itu, sekedar memastikan agar dirinya benar benar yakin. Syifa berdiri. Dirinya tidak bisa menahan kebahagiaan nya saat dua garis itu muncul. "Wah positif!! Yes huhu....Demi apa senang banget Ya Allah!!" Pekiknya dengan meloncat loncat. "Aduh aduh..."


Syifa memegang perutnya. "Hsss,, lupa kalau gue hamil." Gumamnya dengan tertawa kecil menertawai dirinya sendiri.


Dia mengambil tas, mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Reyhan. "Yah, kok mati sih??!" Syifa menarik nafas kesal. Dia langsung mengambil charger dan mengisi baterainya. Sepertinya besok ia harus pulang.


"Andai mas Reyhan tahu secara langsung..."


•••••


Setelah sholat Maghrib dan selesai membaca Al Qur'an, Syifa menyalakan ponselnya. Saat sudah terbuka, beberapa pesan langsung terkirim. Terbanyak dari Reyhan.


07.41 Fa, Lo di mana? Kenapa ga ada di apartemennya papa?


07.41 Fa, papa tadi marah karena ngira yang nggak nggak tentang rumah tangga kita. Plis jangan bikin papa khawatir!


07.42 Lo kenapa bohong?


...Tiga panggilan suara tak terjawab...


07.56 Gue harus cari Lo kemana fa?


...Satu panggilan tak terjawab...


10.46 Syifa, lo ada di mana?


12.31 Gue minta maaf kalau nyakitin hati Lo, tapi tolong jangan ngambek kayak gini,,,


12.39 Kenapa ga aktif dari tadi malem? Lo lagi apa sekarang?


12.58 Ya Allah Syifa,,, tolong bales...


13.01 Syifa, gue khawatir sama Lo. Tolong jangan salah paham,


13.27 Nanti gue beliin permen lolipop. Beli banyak juga ga papa, tapi cepet pulang ya...


13.27 Atau mau cokelat? Mau apa? Tapi jangan pergi pergi kayak gini. Kalau ada


apa apa gimana?


15.08 Gue harus bilang apa sama papa kalau sampe terjadi apa apa sama lo?!


15.09 Syifa jangan marah marah ya...


Syifa menghela pelan. "Maaf ya mas udah bikin khawatir. Tapi Syifa ga bisa kalau ga marah."


"Enaknya di kasih tahu ga ya kalau gue ada di sini? Atau ga usah. Biarin aja khawatir. Kan salah sendiri!" Gumamnya. "Kan, gitu di tinggal sehari sama istri aja udah susah banget. Makannya jangan macem macem. Beda lagi kasusnya kalau gue yang di tinggal mas Reyhan kerja. Sampe seminggu pun ga susah susah amat!"


Tok tok tok...


Tok tok tok...


"Mungkin kali ya petugas pembersih hotel."


Tok tok tok...


"Iya iya sebentar!!" Pekiknya dengan cepat cepat melepas mukena dan kembali mengenakan jilbab.


Tok tok tok...


Syifa berjalan cepat membuka pintu. Matanya membulat setelah melihat siapa yang datang. "Mas...!"


"Fa..." Reyhan langsung menghambur memeluk istrinya dengan dekapan erat. Syifa hanya terdiam tanpa membalas. Pelukan itu membuat hatinya berangsur menghangat.


"Lo ga papa kan?" Tanya Reyhan setelah melepaskan pelukannya. Syifa menggeleng.


"Masuk dulu mas." Ujar Syifa mempersilahkan. Ia menutup pintu setelah keduanya sudah benar benar masuk.


"Kenapa Lo pergi?"


Syifa terdiam.


"Fa, tolong jangan ngelakuin ini lagi. Papa mama khawatir sama keadaan Lo!"


"Syifa cuma pengen tenang, itu aja." Balas Syifa.


"Maaf ya, gue tahu Lo ga akan pergi kalau hati Lo baik baik aja..." Ujarnya.


"Mas udah tahu kenapa Syifa kayak gini?"


Reyhan menggeleng, hal yang membuatnya mendengus kesal. Ga peka banget!! Batinnya menggerutu.


"Tapi gue tahu, Lo ga akan pergi kalau semuanya baik baik aja." Balas Reyhan. Lelaki itu lalu menggenggam tangan istrinya. Sesaat, Syifa langsung melepaskan tangannya. Dia memegang kening Reyhan. "Kok tubuh mas panas?" Tanya nya.


"Mas, duduk dulu. Syifa ambilin minum..."


"Ga usah."


"Atau istirahat aja, Syifa beliin obat demam ya.."


"Ga usah. Gue demam karena Lo. Cukup ketemu sama Lo, itu udah ngobatin semuanya. Gue ga perlu obat fa, gue cuma perlu Lo..." Balas Reyhan.


Syifa terdiam menatap lelaki di depannya. "Mas tadi udah makan?"


Reyhan menggeleng.


"Pas pagi makan nggak?"


Suaminya kembali menggeleng.


"Kok gitu sih? Kalau siang, makan?"


"Iya..."


"Ya udah kalau gitu, Syifa keluar dulu beli makanan sama beliin obat biar ga panas lagi badannya."


"Lo di sini aja." Pinta Reyhan.


"Terus yang beli obat siapa?"


"Ya udah gue ikut."


"Mas di sini aja!" Balas Syifa ngotot. "Di luar udaranya dingin."

__ADS_1


"Gue ga peduli, asal bisa sama Lo!"


Syifa menghela panjang. "Ya udah kalau gitu...ayok."


Reyhan tersenyum. Dia langsung berjalan menyusul Syifa yang nyelonong pergi terlebih dahulu. Mereka berdua, berjalan berdua di jalanan pinggir kota. Bahkan rasa demam dan pusing di badannya saat ini tidak berasa apa apa. Asalkan ada Syifa di sampingnya, rasa sakit itu mendadak hilang. Tangannya sedari tadi menggandeng tangan yang ukurannya lebih kecil dari tangannya, kulitnya yang lembut, membuat genggamannya semakin erat. Namun perempuan itu tidak membalas genggamannya.


Aduuuh tahan,,, jangan di genggam balik. Pura pura marah aja biar di perhatiin terus. Batin Syifa.


"Mau makan apa?" Tanya Reyhan.


"Terserah! Kan yang mau makan mas, bukan Syifa." Jawab Syifa dengan nada jutek. Ya, sengaja memang. Padahal, hatinya sudah luluh sedari tadi saat Reyhan memeluknya. Lelaki itu memang mudah sekali membuat segala kemarahan dan kekesalan di hatinya hilang. Huuuftt,, tapi apa iya dia harus marah dulu agar Reyhan bersikap hangat seperti ini?!


"Tadi udah makan?"


"Udah."


"Makan apa?"


"Makan makanan lah"


"Makanannya apa?" Tanya Reyhan


"Nasi."


"Lauk nya apa?"


"Kepo!" Balas Syifa.


Mendengar itu Reyhan langsung menatap istrinya lama. "Mau makan pecel lele?."


"Ya terserah!"


"Ya udah ayok." Dengan lembut Reyhan menarik tangan Syifa untuk berjalan menuju pedagang pecel lele yang ada di pinggir jalan. Reyhan langsung memesan dua porsi untuk mereka berdua. Lumayan ramai sih, dan mereka mencoba untuk mencari tempat duduk yang kosong. Duduk bersebelahan.


Syifa melirik Reyhan yang sedari tadi masih menatapnya. "Kenapa lihat lihat? Senyum lagi."


"Kenapa? Lo cantik."


"Lhah kan emang dari dulu." Balas Syifa mengakuinya.


"Fa, gue lega ketemu sama Lo, malam ini. Kalau nggak,,,,,"


"Kalau nggak kenapa?"


"Jangan pergi lagi kayak gitu ya fa. Kalau kamu ngerasa ga nyaman, bilang aja."


Syifa terdiam. "Hm" Gumamnya membuat Reyhan mengusap puncak kepalanya.


"Ini makanannya..." Penjual itu datang dengan membawakan dua porsi pecel lele, dua gelas teh hangat yang di pesan dan dua piring yang berisi nasi.


"Makasih Bu...." Ujar Syifa.


"Iya sama sama."


Syifa menatap makanan di hadapannya, dengan cepat dia mencelupkan tangannya di air kobokan yang sudah di sediakan. Lalu menyantapnya dengan nikmat. Uuh Ma Syaa Allah, nikmat sekali. Apalagi pas di makan hangat hangat seperti ini. Rasanya satu porsi pecel lele ini tidak cukup untuk dirinya. Benar saja, ***** makannya memang naik semenjak hamil. Ah anak ini, pintar sekali tidak menyusahkannya. Coba kalau dia membuat ***** makannya turun, pasti dirinya tidak mau makan. Kalau begitu, bisa sakit. Kalau sakit, itu akan berpengaruh pada kandungan nya. Ya begitulah kira-kira.


Setelah selesai, Syifa kembali mencuci tangannya di air kobokan tadi. Dia melirik pecel lele punya Reyhan. "Pengen lagi..."


"Hey mas! Tolong geser dong!" Ujar seorang ibu-ibu yang baru datang. Reyhan langsung menggeser tubuhnya, sekaligus makanannya.


"Lagi,,, ini masih sempit."


"Itu udah lega Bu!" Timpal Syifa


"Belum, ini sempit!"


Syifa berdecih, dia menggeser tubuhnya yang di ikuti dengan Reyhan. "Nah gini dong, kan lega..."


"Ibu lega saya sempit." Sahut syifa lagi namun tak di gubris oleh ibu itu. Apalagi di samping kirinya ada orang lain, tidak enak juga kalau terlalu mepet dengan orang yang tak di kenal. Reyhan menoleh melihat Syifa. Tangan kirinya menyelip kebelakang, memegang lengan istrinya. Lalu dia kembali melahap makanannya.


•••••


Sepulangnya dari makan malam bersama, mereka langsung menunaikan sholat isya' berjamaah. Yang di lanjut membaca dzikir, melantunkan sholawat dan berdoa bersama. Reyhan membalikkan badan kebelakang. Tangannya kanannya di ambil oleh Syifa, lalu di cium oleh gadis itu.


"Lo masih marah?" Tanyanya.


Syifa terdiam.


"Fa tolong jangan salah paham ya. Gue ga ada apa apa sama Henny."


"Terus kenapa urusan yang bersangkutan sama henny mas lebih cepat tanggap. Itu artinya Henny lebih penting kan?!" Balas Syifa.


"Justru Henny yang bantuin gue."


"Bantu apa? Kenapa ga minta bantuan sama Syifa?"


"Gue minta bantuan Henny buat cari dokter yang sekiranya bisa bantu Lo untuk hamil." Jawab Reyhan. Dulu, Syifa pernah mencoba program bayi tabung, tapi gagal. Kali ini Reyhan hanya ingin dia mencoba lagi, namun dengan mencari dokter yang benar benar profesional dan berkualitas tinggi.


"Terus kenapa minta tolongnya harus sama Henny?"


"Gue minta tolong sama Dimas, tapi dimas bilang katanya Henny yang lebih tahu itu." Di malam pertama, mereka hanya bisa mengunjungi dua dokter saja karena hujan yang mengharuskan mereka pulang. Lalu di malam selanjutnya, itu memang lumayan lama. Karena banyak yang harus di bahas dan di pertanyakan. Setelah benar benar yakin, barulah Reyhan bisa pulang walaupun sangat telat untuk sampai di rumah.


Mereka sudah menentukan jadwal pada jam 4 sore. Pada sore itu, sebenarnya reyhan ingin mengajak Syifa kesana. Dia yakin betul akan berhasil. Namun Henny mengabari jadwal berubah karena dokter itu mendadak ada urusan penting yang entah apa itu. Jadwalnya di ubah menjadi jam 8 pagi. Tapi malah malam itu Syifa pergi begitu saja. Keesokan harinya saat Reyhan ke apartemen papa, ternyata Syifa tidak ada di sana. Yang pada akhirnya mereka juga tidak jadi untuk ke dokter itu.


Dia sama sekali tidak menyadari, ternyata sikapnya cukup membuat hati Syifa sakit dan cemburu. Tapi apalagi, dia melakukan ini juga karena peduli. Dulu saat program bayi tabung gagal, perempuan itu begitu sedih hingga tak ***** makan hingga beberapa hari. Maka dari itu dia tidak mau program kali ini juga gagal, atau akan menambah kesedihan istrinya.


Setelah mendengarkan semua penjelasan Reyhan, Syifa terdiam. Rasa bersalah tentu saja langsung datang di hatinya karena salah paham. Dia memajukan tubuhnya untuk lebih dekat kepada Reyhan. "Maaf ya mas, Syifa udah mikir ya nggak nggak."


"Tapi mas kalau ada apa apa ngomong dong biar ga salah paham. Coba kalau terus terang dari awal, Syifa ga bakalan cemburu cemburu kayak gitu." Ujarnya dengan sedikit kesal karena Reyhan tidak mau menjelaskan apapun. Kalau di tanya juga hanya menjawab ham hem saja.


"Oi ya, tunggu sebentar. Syifa punya sesuatu." Dia langsung berdiri, berjalan ke arah tas. Mengambil testpack yang di belinya, menyembunyikan di balik mukenanya.


Syifa kembali duduk di depan Reyhan. "Mas pasti kaget kalau tahu."


"Tahu apa??"


Syifa menunjukkan testpack nya tepat di depan mata Reyhan, membuat lelaki itu terdiam lama menatap benda di depannya. "Tadaaaa....."


Reyhan melihat Syifa. "Lo hamil?"


"Iya. Jadi kita ga usah pake program bayi tabung."


Rasa bahagia langsung tersirat di wajah Reyhan. Dia lebih mendekatkan tubuhnya, mencium kening Syifa hingga dua kali lalu memeluk gadis itu. "Alhamdulillah..."


"Seneng ga?"


Reyhan mengangguk.


Dia melepaskan pelukannya, mengambil testpack itu lalu kembali melihatnya. "Ya Allah fa...Kok baru bilang?"


"Ya soalnya baru tadi pagi Syifa ke dokter. Makannya aku juga baru tahu kalau ternyata aku hamil mas..." Jawab Syifa. "Anak kembar?"


Mata Reyhan membulat, ada pancaran kebahagiaan besar di matanya.


"Ya Allah... Alhamdulillah..." Sekali lagi Reyhan memeluk Syifa. Entah dengan bagaimana dia menggambarkan kebahagiaan nya saat ini. Suatu anugerah yang di nanti nanti selama ini. Suatu doa yang selalu di panjatkan nya selama ini, akhirnya di kabulkan. Terima kasih Ya Allah..


•••••


وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا


"Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”


(Q.S Al Furqon : 74)


...*******...

__ADS_1


__ADS_2