
Aisyah dan Fariz berjalan beriringan, dengan aisyah yang tetap menjaga jarak dengan orang yang bukan mahram nya. Tanpa sengaja mereka melihat keributan yang entah terjadi karena apa. Membuat Aisyah langsung berlari ke kerumunan para murid itu, di susul Fariz.
Mata Aisyah membelalak kaget melihat Sasa yang di serang banyak orang. Ada beberapa yang menjambak rambutnya, ada juga yang mendorongnya hingga hampir terjatuh. Sedangkan Sasa juga berusaha membela dirinya, walaupun harus berlawanan dengan banyak orang.
"Ya Allah Sasa..." Aisyah berlari ke arah Sasa, lalu berusaha untuk membantu melepaskan tangan beberapa orang yang menjambak keras rambutnya.
"Ih lepasin rambut gue.." Berontak Sasa. Sedangkan mereka malah semakin menjadi jadi, melontarkan berbagai hinaan dan juga menyuruh Sasa agar pindah sekolah karena di anggap mempermalukan sekolah dengan mempunyai orang tua seorang koruptor.
"Ya Allah tolong lepasin... jangan main kasar" Ujar Aisyah namun tak di gubris oleh semuanya.
Fariz pun tak mau tinggal diam, melihat Aisyah juga malah ikut ikutan di dorong. Fariz memasuki kerumunan itu dengan menarik kasar beberapa orang. "STOP KALIAN!" Teriak Fariz. Seketika semuanya menjadi terdiam, kalau Fariz sudah angkat bicara seperti ini. Sungguh, tidak ada yang berani melawan.
Aisyah memegangi kedua bahu sasa dengan melihat keadaan gadis itu. Lalu ia menatap Fariz yang berdiri di depannya. "Kalian ga malu, ngelawan gadis secara gerombolan kayak gini?"
"Dia perempuan. Jangan main kasar!!" Ujar Fariz dengan menatap mereka tajam.
"Dan satu lagi ya. Sasa itu ga punya salah apapun sama kalian. Yang berbuat itu bapaknya, jadi kalian semua jangan menyalahkan Sasa Atas kesalahan yang ga pernah dia lakukan. Jangan membuat anak menjadi penanggung dosa orang tua." Sahut Aisyah.
"Udah apa lagi? Bubar sana!" Ucap Fariz.
"HHUUU..." Sorak kompak mereka dengan bubar satu persatu.
Sasa merapikan rambutnya yang berantakan. Dengan mengelap keringat yang ada di wajahnya. Dia menundukkan kepalanya dalam dalam. "Sa..." Panggil Aisyah lembut dengan memegang jemari gadis itu. Namun dengan cepat Sasa langsung melepaskan nya. Dan berjalan pergi.
"Sasa..." Aisyah menatap Fariz yang masih ada di sampingnya. "Kak, Aisyah pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Fariz.
Aisyah langsung berjalan cepat menyusul Sasa. Namun dirinya berhenti saat Sasa pun menghentikan langkahnya. Gadis itu, sedang terdiam membisu melihat kedua sahabatnya, Carin dan Rara yang berjalan bersama perempuan lain. Mereka berjalan dengan tertawa satu sama lain. Membuat Sasa mengenang saat saat indah antara dirinya dan kedua sahabatnya itu. Namun sekarang? Tidak akan lagi ia dapatkan suasana seperti itu.
Sepertinya Rara dan Carin sudah mendapatkan sahabat baru bagi mereka. Dengan santainya mereka bertiga berjalan melewati Sasa seakan akan tidak menganggap dirinya ada di sana. Sasa mendongakkan kepalanya dengan memejamkan matanya. Air matanya luruh seketika, semuanya sudah hancur. Tidak ada harapan lagi di hidupnya. Semua orang menjauhinya, dimana dia berada di situ juga segala hinaan dan cacian di lontarkan.
Perlahan Sasa merasakan sebuah tangan menggenggam nya dengan lembut. Menggenggamnya seolah seperti ingin memberikan kekuatan pada gadis itu. Sasa membuka matanya, lalu menatap tangannya yang di genggam oleh seseorang. Dari tangan ia alihkan pandangan nya secara perlahan ke seseorang yang ada di sampingnya.
Sasa menatap pilu Aisyah. Kenapa gadis itu selalu baik padanya. Aisyah tersenyum lembut pada Sasa. "Kamu kuat..." Ujar Aisya
Kenapa di saat situasi kayak gini, justru orang yang selalu gue jahatin yang selalu baik sama gue. Batin Sasa.
"Kenapa Lo baik sama gue?" Tanya Sasa.
Terdapat perbedaan dari nada bicara Sasa. Darinya yang selalu kasar, dan tidak suka kini Nada bicaranya terdengar lemah. "Mungkin musuh bisa menjadi teman, tapi teman tidak akan pernah bisa menjadi musuh. Teman, akan selamanya menjadi teman."
Air mata Sasa kembali mengalir. "Sa, jangan nangis ya..." Ujar Aisyah dengan menghapus air mata gadis di depannya sekaligus merapikan rambutnya yang masih terlihat berantakan.
"Sa, muka kamu pucet. Kamu sakit?"
"Gue kayaknya mag"
"Tadi kamu udah makan?"
Sasa menggeleng. "Gue ga punya uang..."
Aisyah menatap sasa, sesama perempuan dia juga bisa merasakan apa yang gadis itu rasakan. "Ya udah makan di kantin ya."
Sasa menggeleng. "Aku yang bayar, yang penting kamu makan ya" Lanjut Aisyah.
Sasa kembali menggeleng. "Gue gak mau orang orang lihat gue sama Lo!"
"Kenapa?"
"Gue ga mau Lo jadi ikut ikutan di bully gara gara gue" Aisyah cukup kaget mendengar jawaban Sasa. Benarkah yang dihadapannya adalah Sasa? Namun saat ini sikapnya sangat berbeda dari Sasa sebelumnya yang pernah ia temui. Dulu, pernahkan gadis itu peduli dengan Aisyah?
"Ga papa. Kamu ga usah mikirin itu. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu" Jawab Aisyah.
•••••
"Eh ada tikus tuh" Ujar Gilang.
Iqbal melotot kaget, sontak ia langsung naik ke atas meja. Melihat tingkah konyol Iqbal, Gilang langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lo kenapa naik meja?"
"Mana tikus mana?" Ujar Iqbal dengan nada geli.
"Itu tikus..." Gilang menunjuk Lina yang berjalan memasuki kelas.
Lina memelankan langkahnya. "Wah, Lo jadi murid ga punya sopan santun banget ya. Mana sopan naik ke atas meja gitu?!" Ucap Lina yang melihat tingkah Iqbal.
Iqbal melihat dirinya sendiri yang seperti orang merangkak di atas meja. Dengan cepat ia langsung turun dari meja sebelum yang lainnya melihat. Mau di bilang apa nanti dirinya. "Orang main nyelonong masuk aja sih!" Kata Iqbal.
"Assalamualaikum" Ujar Lina.
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal dan Gilang.
"Lo kenapa naik ke atas meja sih? Ga ada adab banget jadi murid!"
"Tadi si Iqbal gue bilangin ada tikus, eh dianya langsung naik meja"
Lina terdiam, lalu tertawa. "Ya iyalah langsung naik meja. Dianya aja takut sama tikus"
Iqbal membelalakkan matanya. Ah, kenapa si macan itu membocorkan semuanya. Sedangkan Gilang melotot tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Seorang laki laki, takut dengan tikus? Tak lama Gilang langsung tertawa keras dengan memegangi perutnya. Sedangkan Iqbal kesal setengah mati menatap Lina yang tengah tersenyum jahil padanya. "Lo laki laki lebay benget sih bal... Nggak nyangka lhoh gue, Lo ternyata takut sama tikus. Hahaha!" Tawa Gilang kembali pecah.
"Dia ga cuma takut tikus. Kecoa juga takut!" Tambah Lina lagi dengan tersenyum lebar. Lihatlah wajah Iqbal yang berubah antara kesal dan malu.
"Kecoa?! Hahaha..." Gilang memegangi perutnya. "Haduh,, capek gue ketawa mulu."
"Heh bal, kecoa sama tikus itu gedenya ga seberapa. Apa yang Lo takutin sih....ha? Hahaha" Ujar Gilang yang kembali di sertai tawanya.
Bener bener temen ga ada akhlak. Main ngetawain gue aja dia. Ini cewek juga, kenapa pake di bocorin segala sih. Kalau semua orang tahu, khususnya para cewek cewek di sekolahan ini. Mau di taruh kemana muka gue? Batin Iqbal menatap tajam Lina.
"Diem Lo! Ketawa kayak Mak lampir aja di banggain..." Ujar Iqbal. Namun bukannya diam Gilang malah kembali tertawa keras.
"Tadi katanya ada tikus, sekarang tikusnya mana?" Tanya Lina dengan mengedarkan pandangannya ke lantai.
"Tikusnya ya Lo" Jawab Gilang enteng.
Lina melotot dengan menunjuk dirinya. "Gue?" Tanya nya nyolot. Gilang mengangguk.
"Kok gue sih! Ga terima ya gue di samain tikus!" Kata Lina antara kesal dan marah.
__ADS_1
"Maksutnya kalian itu kayak tikus sama kucing. Berantem Mulu. Lo tikusnya, Iqbal kucingnya" Jelas Gilang. "Kayak Tom and Jerry. Tom and Jerry calon gebetan hahahaha" Ujar Gilang lagi membuat Lina dan Iqbal menatap aneh Gilang. Sepertinya otak Gilang sedang error.
Sedangkan Gilang dia terus tertawa membayangkan jika kisah pertengkaran mereka di jadikan kartun. Dengan tom si kucing nakal itu wajahnya di ganti dengan wajah Iqbal sedangkan Jerry diganti dengan wajah Lina.
"Hahahah...up..." Mulut Gilang di sumpal dengan kertas oleh Iqbal.
"Kayaknya mulut Lo emang harus di sumpel dulu biar bisa diem" Kata iqbal. "Tadi malam Lo habis kursus ketawa sama mbak Kunti ha?"
"Enak aja"
Iqbal menatap Lina. "Mau ngapain Lo ke sini?"
Lina menyodorkan jaket Iqbal. "Balikin jaket!"
Iqbal mengambilnya. "Ga usah pake di cium cium gitu, gue nyucinya bersih!" Ujar Lina.
"Siapa yang nyium. Gue Cuma ngecek, ini wangi apa nggak!"
"Tenang aja, udah gue kasih Molto 5 bungkus tu jaket!"
"Ya udah kalau gitu gue balik. Assalamualaikum" Ujar Lina.
"Waalaikum salam" Jawab keduanya.
Lina membalikkan badannya, lalu mulai melangkah pergi. Bertepatan itu Ojit memasuki kelas dengan berlari. "Bal, ini buat Lo.." Ojit menyodorkan lipatan kertas.
"Dari siapa?"
"Baca aja sendiri"
Iqbal membuka lipatan kertasnya, lalu mulai membaca. Entah kenapa Lina merasa ada yang ganjal, ia menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke belakang, mendapati wajah Iqbal yang berubah drastis. Iqbal mengepalkan tangannya erat, lalu menaruh jaketnya di atas meja. Dan melangkah pergi dengan langkah cepat. "Mau kemana bal?" Tanya Lina saat Iqbal berjalan melewatinya. Namun pertanyaan Lina tak di gubris oleh Iqbal.
Merasa ada yang tidak beres, Lina mengikuti Iqbal secara diam diam dari arah belakang. Dengan setengah berlari Iqbal menaiki setiap anak tangga menuju rooftop. Sesampainya di sana, dirinya langsung mendapati verel yang berdiri membelakangi nya.
"Ada apa Lo nyuruh gue ke sini?" Tanya iqbal.
Verel membalikkan badannya. Tatapan mereka saling bertemu. Tanpa aba aba ia langsung berlari dan memukul telak Iqbal. Membuat Iqbal mundur beberapa langkah karena pukulannya.
"Puas Lo?!" Bentak verel dengan melihat benci laki laki di hadapannya. "Puas lihat keluarga gue hancur!!"
Iqbal memegangi sudut bibirnya yang terluka dengan menatap tajam verel. Membiarkan cowok itu untuk berbicara apa yang kini ada di pikirannya. "Gara gara nyokap Lo, keluarga gue hancur! Seneng Lo ha? Nyokap Lo,, dia emang perusak rumah tangga orang! PELACUR!"
Tak mau buang waktu, Iqbal langsung memukul balas wajah verel tanpa memberinya ampun. "Lo harus nya juga mikir kalau bokap Lo juga salah!" Ujar Iqbal tak kalah marah.
"Udah udah Iqbal...." Teriak Lina yang baru saja datang, ia menarik paksa tubuh Iqbal agar tidak lagi memukuli verel.
"Iqbal udah...!!" Teriaknya lagi dengan berusaha memisahkan mereka. Namun tanpa sengaja verel yang ingin membalas Iqbal malah mendorong keras Lina. Membuat gadis itu tersungkur jatuh.
"Lin.." Iqbal menghentikan pukulannya, lalu berjalan ke arah Lina. "Lo ga papa?" Tanya Iqbal.
"Kurang ajar Lo!!" Gertak Iqbal dengan menatap tajam verel yang sudah babak belur di beberapa bagian wajahnya. "Semua ini gara gar Lo ngerti!" Lanjutnya lagi.
"UDAH YA BAL. LO JUGA SALAH!" Bentak Lina.
Iqbal mengatur nafasnya yang memburu. "Pergi Lo dari sini" Usir Iqbal pada verel. "PERGI!"
"Urusan kita belum selesai" Gumam verel lalu ia berjalan pergi keluar rooftop.
Lina hanya menatap Iqbal sekilas, lalu berjalan pergi tanpa mengatakan apapun.
•••••
06.25
Pagi dini hari...
"Bi irah..." Sapa aisyah. "Assalamualaikum" Aisyah mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
"Waalaikum salam" Jawab Bi irah.
"Mau kemana Bi?"
"Mau ke pasar neng"
"Oh kalau gitu biar Aisyah aja yang belanja. Kebetulan kan ini hari Ahad. Jadi sekolah libur."
"Eh jangan neng, nanti kalau ketahuan ustadzah kalau ternyata neng Aisyah yang belanja bibi bisa kena marah..."
"Bi irah bi irah..." Terlihat tiga orang perempuan yang sedang berlari ke arah mereka. "Assalamualaikum bi.." Ujar ketiganya.
"Waalaikum salam" Jawab Bi irah dan Aisyah.
"Bi tolong bi..." Ujar salah satunya dengan meneguk ludahnya.
"Tolong apa neng?"
"Ustadzah bi.." Sahut yang lainnya.
"Kenapa ustadzah?" Tanya bi irah yang mulai terlihat khawatir.
"Ayo bi, ikut kami...ayo bi.."
"Iya neng!"
Bi irah, Aisyah dan ketiga santriwati langsung berjalan menuju kamar ustadzah Rina. "Assalamualaikum" Ujar semuanya.
"Waalaikum salam" Jawab ustadzah Rina juga ustadz rizwan yang ada di sana.
"Ustadzah, ustadzah kenapa? Sakit apa?" Tanya bi irah.
"Ga tau bi. Saya mendadak pusing, terus mual" Jawab ustadzah Rina.
"Bi irah. Bisa tolong temani ustadzah Rina sebentar, soalnya saya masih ada urusan. Nanti saya balik lagi ke sini." Ujar ustadz rizwan.
Bi irah mengangguk. "Iya ustadz"
"Ya sudah saya duluan. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikum salam" Jawab semuanya.
"Em bi, bisa tolong buatkan saya teh jahe?" Tanya ustadzah.
"Iya ustadzah bisa. Ustadzah tunggu di sini ya. Saya buatkan sebentar"
"Bi irah..." Panggil lirih Aisyah.
"Iya neng?"
"Biar saya aja yang belanja. Bi irah kan harus nemenin ustadzah" Ujar Aisyah.
Bi irah nampak berpikir. "Izin dulu sama ustadzah"
Aisyah mengangguk, lalu menatap ustadzah rina. "Maaf ustadzah, tadi bi irah ingin belanja ke pasar. Tapi ustadz Rizwan memberi amanah untuk menemani ustadzah di sini. Jadi saya minta izin agar saya yang belanja di pasar. Boleh?"
Ustadzah Rina mengangguk. "Iya"
Bi irah memberikan tas belanja, uang, sekaligus daftar belanjanya. "Ustadzah, bi irah, Aisyah pergi dulu ya.." Ujar gadis itu dengan mencium tangan bi irah lalu beralih ke ustadzah.
"Iya. Hati hati ya.." Ucap ustadzah.
Aisyah mengangguk. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab semuanya yang ada di sana.
"Ustadzah saya juga mau ke dapur dulu. Buatkan ustadzah teh"
"Iya Bi.."
"Kalian bertiga" Ketiga santriwati yang masih setia berdiri di sana langsung menoleh.
"Iya Bi?"
"Temani ustadzah sebentar ya. Bibi mau ke dapur dulu"
"Na'am bi" Jawab semuanya.
"Assalamualaikum" Ujar bi irah.
"Waalaikum salam"
Bi irah langsung berjalan cepat keluar kamar menuju dapur. Sedangkan aisyah, dia berjalan menuju pasar. Kali ini dia memilih berjalan, karena pasar tidak cukup jauh dari pesantren. Mungkin berjalan sekitar 5 menit sampai.
Setelah menghabiskan waktu berpuluh puluh menit di pasar, akhirnya Aisyah sudah membeli semua barang yang di butuhkan. Namun, dirinya cukup kesulitan untuk membawa semua belanjaannya. Lihatlah, minyak saja harus membeli sebanyak 3 botol, satu botolnya berisi 2 liter minyak. Belum lagi cabai dan gula yang beli sekaligus 2 kg dan masih ada beberapa lainnya. Mungkin bi irah ingin menstok semua bahan dapur.
Aisyah menghela pelan dengan menatap barang barang belanjaannya. "Maaf neng, mau saya bantu angkat?"
Aisyah menoleh ke arah bapak bapak yang berdiri di depan barang belanjaannya. "Boleh pak boleh"
"Mau di angkat kemana neng?"
"Ke depan pak"
Bapak tersebut mengangguk.
Lalu membawa semua barang belanjaan yang berat, dengan Aisyah yang menybawa tas belanjaan yang penuh dengan sayuran. "Itu biar saya yang bawa neng"
"Oh ga usah pak. Saya aja pak"
"Ga papa neng. Saya aja..."
Aisyah memberikan tas belanjannya yang langsung di bawa oleh bapak. Dengan langkah cepat mereka berjalan keluar pasar. Aisyah menatap suasana di depannya. Hujan.
"Neng!" Panggil bapak tersebut.
"Oh iya pak." Aisyah menyodorkan selembar uang ungu. "Ini buat bapak"
"Terima kasih neng."
"Iya pak"
Bapak itu lalu berjalan pergi. Lagi lagi Aisyah kembali merasa bingung. Apa dirinya harus menunggu sampe hujan ini reda? Lalu apakah dirinya juga harus membawa semua belanjaan berat ini sampai pesantren?
Aisyah menatap hujan yang semakin deras mengguyur permukaan bumi di hadapannya. Perlahan, mulutnya terbuka melantunkan sholawat nabi.
"Ojek payung neng?" Tawar seseorang.
"Ojek payung?" Lirih Aisyah. "Oh iya mas..." Aisyah menoleh ke samping.
Matanya membelalak sempurna mendapati Fariz yang berdiri di sampingnya. "Kak Fariz?" Ujar Aisyah kaget.
"Mau ojek payung?!" Tanya Fariz. "Tenang neng, kalau ojek payungnya sama mas Fariz, gratis!"
"Kak...aku serius. Kenapa kakak bisa ada di sini?"
"Ya karena Lo ada di sini"
"Ya terus kenapa kalau aku ada di sini?"
"Ibarat gula dan semut. Kata pepatah, di mana ada gula di situ ada semut. Sama, dimana ada kamu di situ ada aku.."
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Fariz terbengong dengan dirinya sendiri. Sejak kapan gue bisa gombalin cewek kayak gini?! Batinnya yang merasa bingung dengan dirinya sendiri. Jujur, selama hidupnya belum pernah dirinya mengatakan hal seperti ini kepada orang lain. Ya karena memang dirinya tidak bisa gombal. Dan apa katanya tadi? aku dan kamu? Bukannya dirinya selalu menggunakan gue-lo. Dan hari ini? Ada apa dengan dirinya hari ini? Dengan cepat Fariz langsung membaca sederet istighfar dalam hati.
Aisyah menggeleng pelan. "Kak aku serius! Kenapa kakak bisa ada di sini? Kakak ke sini udah izin apa belum?" Tanya Aisyah gemas.
"Sorry Syah sorry..." Gumam Fariz. Fariz menggelengkan kepalanya. Jangan ngomong gitu lagi Riz jangan. Jangan gombalin orang lagi Riz, apalagi cewek. Jangan pernah. Batinnya lagi.
"Jadi gue ga sengaja ketemu bi irah. Dia minta tolong ke gue biar jemput Lo. Soalnya bi irah tau Lo ga bawa payung, sekalian gue disuruh bantuin buat bawa belanjaan. Karena kata bi irah belanjaan hari ini banyak, jadi berat!" Jelas Fariz.
Aisyah manggut manggut paham. "Ini payungnya.."
__ADS_1
Aisyah mengambil payung yang di sodorkan Fariz, lalu membukanya. Sedangkan Fariz mulai membawa belanjaan yang berat, sisanya dibawa Aisyah. Mereka berdua langsung berjalan pulang. Berjalan beriringan, membelah rintikan derasnya hujan yang turun pagi ini.
...******...