Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Kejutan?


__ADS_3

Pagi yang di sambut oleh senja dari langit ufuk timur. Melukiskan semburat orange ke unguan, dengan kicauan burung-burung yang mengiringi juga suara deresan Al Quran dari para santri.


Jam menunjukkan pukul 06.18


Ceklek...


Dinda yang tengah duduk bersandar menoleh ke arah pintu. Kedua sudut bibir tertarik saat melihat Ilham, suaminya melangkah mendekat. "Gimana dek? Masih pusing?"


"Alhamdulillah, udah mendingan ini mas."


"Alhamdulillah..." Gumam Ilham. "Nanti mas izin pergi sekitar jam setengah sepuluh."


"Kemana mas?"


Ilham tersenyum. "Ada pokoknya, nanti sama Fariz, Reyhan dan Iqbal. Sekarang sarapan ya? Mau mas bawain makanan di kamar, atau makan di meja makan aja."


"Makan di meja makan aja."


"Ya udah yuk."


•••••


09.51


Dua pintu kamar terbuka secara bersamaan, dalam masing-masing kamar keluar sepasang suami istri. "Eh, mau pergi juga ya kak?" Tanya Syifa. Fariz yang merasa di tanya hanya mengangguk.


"Eh Aisyah gimana? Masih mual mual?" Kini pertanyaan itu di tujukan kepada Aisyah.


"Iya, masih fa."


"Doain ya, semoga baby FA bisa sehat dan selamat sampai lahiran. Iya kan sayang?" Celetuk Fariz, Aisyah hanya membalasnya dengan senyuman kikuk.


"Udah di kasih nama?"


"Belum, FA itu...singkatan dari Fariz dan Aisyah." Jawab Fariz nyengir senang.


"Oh, kalau gitu doain baby RS juga ya biar selamat sampai lahiran. Iya kan ayang?" Kini Syifa berbicara tak mau kalah. Reyhan yang di tanya pun hanya tersenyum tipis, sangat tipis.


Singkatannya kok jadi RS ya? Nanti kalau kak Fariz sama Aisyah ngiranya baby Rumah Sakit gimana? Batin Syifa.


"Maksutnya baby RS itu singkatan Reyhan Syifa, bukan Rumah Sakit." Syifa tersenyum garing memberi pengertian.


"Iya. Amiin, semoga sehat sehat semuanya." Balas Aisyah.


"Eh, pada ada di sini?"


Mereka menoleh saat Lina dan Iqbal keluar dari kamar.


"Ya udah kita pergi dulu. Assalamualaikum." Pamit Fariz, di ikuti kedua teman laki lakinya.


"Waalaikumsalam."


Ketiga perempuan itu menatap heran para suaminya.

__ADS_1


"Itu suami kita mau kemana dah? Kok cuma laki doang yang pergi, istrinya ga di ajak." Cercah Syifa. "Gue kan juga pengen jalan jalan."


"Iya, mau kemana mereka? Janjian apa sampe pergi bareng gitu?!" Kini Lina yang bersuara.


Mata Syifa menyipit. "Mencurigakan."


"Udah udah, jangan suudzon sama suami sendiri." Aisyah menengahi pembicaraan keduanya. Perempuan itu memang lebih memilih diam dari pada mikir yang tidak tidak.


•••••


Satu jam sebelum waktu dzuhur tiba....


"Dek..." Panggil Ilham yang baru datang memasuki kamar. Dinda yang kala itu tengah memahami dan membaca kitab kuning langsung menghentikan kegiatannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Dinda dengan menyalami tangan suaminya. Ilham mengambil posisi duduk di depan Dinda, tangannya merogoh saku celana. Mengeluarkan suatu benda yang belum bisa di tebak pasti isi di dalamnya.


"Apa itu mas?"


"Anting." Ilham memperlihatkan sepasang anting berwarna emas dengan satu permata yang menggantung di bawahnya. Model yang di pilihnya memang cukup simple, sangat malah. Namun ia yakin, ini pasti akan sangat cocok bila di pakai istrinya.


"Coba di buka dulu jilbabnya dek."


Dinda mengangguk nurut. Dia melepas jilbab, dan tanpa di minta pun anting perak miliknya ia lepas satu persatu.


"Sini, mas pasangin." Ilham mendekat.


"Bismillah..."


Setelah keduanya benar benar terpasang, Ilham menarik tangan Dinda. Membawanya untuk berkaca di depan cermin meja rias sang istri. Posisi badannya ada di belakang Dinda.


"Coba lihat, pas banget di pake sama kamu dek." Ujar Ilham di sertai senyuman puas dan senang.


Dinda mengangguk. "Iya mas, cantik banget."


"Apanya yang cantik?"


"Antingnya." Jawab Dinda.


"Asal kamu tahu, cantiknya anting itu ga sebanding sama cantiknya kamu. Dia hanya sebagai pelengkap, agar kamu terlihat lebih sempurna di mata mas."


Dinda hanya bisa menahan senyum, andai dia bisa...pasti sudah refleks mencubit Ilham. Dia terlalu memujinya. Namun ya, pengantin baru. Maklumlah masih malu malu.


•••••


Sorenya setelah menunaikan sholat ashar, mereka pergi bersama. Ilham yang mengajak dan merencanakan, pesantren juga sudah ia titipkan kepada para ustadzah dan ustadz yang ada.


Jam menunjukkan pukul empat kurang lima belas menit, dua mobil yang mereka tumpangi terparkir rapi di area Masjid sebuah desa, tak jauh dari jalan raya besar. Mobil yang mereka tumpangi adalah milik Iqbal dan Fariz.


Ke empat keluarga itu turun. Syifa memicingkan mata. "Lhoh, kok malah ke sini? Bukannya tadi katanya mau ke pantai?" Gumamnya mempertanyakan.


"Iya, ini nanti masuk dulu fa...baru sampai ke pantai." Jelas Dinda. "Yuk!"

__ADS_1


Mereka mengikuti kemana langkah Ilham membawa mereka pergi, karena hanya Ilham dan Dinda yang tahu. Berjalan kurang lebih sepuluh meter lalu masuk ke sebuah gang, tak terlalu sempit.


Sesekali mereka menyapa orang orang yang bersantai di depan rumah. Setelah berjalan sekitar 200 m, dan melewati jalan yang berbelok belok. Mungkin bagi yang tidak hafal bisa saja tersesat. Kini dari titik mereka berdiri sudah terlihat jelas pantai membentang luas. Deburan ombak pun sudah terdengar, angin sepoi sepoi mulai menyapa mereka.


"Wooaah,,, kok sepi?" Tanya Syifa. "Ini kok ga ada pengunjungnya sama sekali sih? pantai privat ya??"


"Bukan, tapi emang ga banyak yang tahu letak pantai ini. Karena harus masuk. Dan jalannya ga bisa di lewatin roda empat, jadi jarang ada yang ke sini." Jelas Dinda.


"Oh, padahal bagus lhoh pantainya. Seger banget. Yah bagus lah kalau cuma kita aja yang ke sini."


"Warga sini ga ada yang mau buka ini pantai buat wisata? Seenggaknya bisa di jadikan penambah ekonomi buat mereka." Sahut Aisyah.


"Ga tau juga kalau soal itu." Jawab Dinda. Mereka terus menyisir jarak yang hanya tersisa 50m, hingga sampailah mereka. Di sambut oleh beberapa pohon cemara udang yang tertanam di sana. Pasir pantai putih yang halus dan terasa hangat menyapa kedatangan mereka.


Ternyata tidak hanya mereka saja, entah berapa orang namun hanya sedikit jumlahnya. Kurang dari sepuluh, juga ada di sana. Entah sejak kapan.


"Itu ada yang datang. Mungkin kalau pantai ini di buka buat wisata, bakal rame." Cetus Lina dengan mengedarkan pandangan. "Eh tapi Din, beneran boleh ke sini kan kita?"


"Iya boleh, kemarin mas Ilham udah minta izin sama warga sini."


"Oh, bagus lah kalau gitu."


Setidaknya walaupun pantai ini bisa di kunjungi siapa saja, tapi alangkah baiknya memang izin. Karena pantai ini juga milik warga sini, terlebih ini bukan pantai wisata, lebih tepatnya belum di jadikan saja.


Untungnya tadi siang Dinda sudah fit, tidak lagi pusing. Mereka terus berbincang, sementara itu Syifa sudah berjalan memisah. Menikmati keindahan. Coba kalau tidak hamil, di pastikan dirinya sudah berlarian dan loncat loncat.


"HEY!! Ayok potoo!!" Teriak Syifa dengan melambai semangat. Mengajak ketiga temannya. Tidak peduli dengan beberapa orang yang juga ada di sana, mumpung pantai kali ini bisa di bilang sepi.


"Aluna main sama ayah dulu ya." Ujar Lina, sang putri hanya ngangguk menurut.


Mereka bertiga berjalan menghampiri Syifa, yang sudah bermain main dengan ombak pantai.


"Ih fa, jangan main main air. Nanti baju kamu basah ih." Cerocos Lina.


"Ih ga papa, basah dikit." Jawab Syifa, "Mas Reyhan! MAS!!" Kini sang suami yang di panggil olehnya.


Reyhan berjalan mendekat. "Fotoin." Pinta Syifa.


Reyhan mengangguk "Hm."


Dia mulai mengangkat camera yang sudah terkalung di leher.


Sedangkan mereka berempat mulai berdiri rapi, berpose-pose ria dengan berbagai gaya. Ada yang menghadap camera, ada juga foto yang


di ambil saat mereka berpose membelakangi camera.


Setelah merasa puas, Syifa melirik Lina jahil. Dia mulai mengayunkan kaki, mengarahkan air itu ke arah Lina. Di mana Aisyah dan Dinda juga ikut kena imbasnya.


"Heh fa! Berhenti! Ih, lagi hamil masih aja nakal." Tak mau kalah, Lina juga melakukan hal yang sama. Mengarahkan gelombang air ke arah Syifa dengan kakinya.


"Nih nih rasain..."


Mereka saling membalas, tak sadar akan gamis bagian bawah sudah basah.

__ADS_1


...******...


__ADS_2