
"Ngapain kalian di sini?" Tanya Fariz membuat keduanya menjadi terkejut.
"Fariz?!" Ujar Ghea kaget. "E-elo,, Lo ngapain di sini?" Tanya Ghea.
"Gue tadi gak sengaja denger orang teriak dari arah toilet, kenapa?" Tanya Fariz.
"E,,emm oi ya tadi gue teriak karena Aisyah kepeleset di sini. Terus gue kaget gitu.. Makannya gue tadi sempet teriak teriak" Elak Ghea dengan mengalungkan tangannya dileher Aisyah dan mengusap bahu Aisyah dengan lembut.
"Bener Aisyah?" Tanya Fariz dengan menatap Aisyah.
Aisyah terdiam, samar samar ia mendengar bisikan dari Ghea. "Jangan pernah Lo bilang yang sebenarnya sama Fariz. Ngerti lo" Bisik Ghea.
"Syah?!"
"Eh iya?"
"Bener Lo tadi kepeleset?" Tanya Fariz memastikan. Melihat Aisyah yang diam saja, Ghea malah mencengkeram erat bahu Aisyah, sebagai isyarat agar Aisyah menjawab pertanyaan Fariz dan tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Eh i-iya kak" Jawab Aisyah dengan tersenyum kikuk.
Fariz melangkah maju mendekati mereka. "Tapi Lo ga papa kan? Mana yang sakit"
"Eng-nggak kok ga ada" Jawab Aisyah.
"Lain kali hati hati ya" Ucap Fariz.
"Iya Riz, tadi Aisyah udah gue suruh buat hati hati. Iya kan Syah?" Kata Ghea dengan menatap Aisyah, membuat Aisyah mengangguk pelan.
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu ya. Syah lain kalo hati hati ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab mereka berdua.
Mereka menetap kepergian Fariz. Setelah memastikan Fariz sudah benar benar menjauh, Ghea kembali menatap tajam Aisyah.
"Denger ya, Lo jangan anggap sepele omongan gue. Ngerti?" Ujarnya pelan namun penuh ancaman.
"i-iya" Jawab Aisyah pelan.
Ghea membalikan badannya lalu melangkah keluar, namun belum juga tiga langkah penuh ia kembali melangkah menuju Aisyah. Memandang aisyah dari bawah sampai atas, lalu tersenyum miring.
"Aaawww,,"Ringis Aisyah, karena kakinya di injak keras oleh Ghea. Dengan senyuman liciknya Ghea pergi keluar toilet.
•••••
"Jadi gitu ceritanya." Ujar Aisyah pada Dinda.
Saat ini jam 02.40 dini hari, dan mereka berada di luar kamar. Sembari menikmati semilir sejuknya angin, serta sinar bulan juga bintang.
"Din, aku harus gimana?" Tanya nya lagi.
Dinda terdiam. Hari ini Aisyah menceritakan kejadian kemarin yang sedang terjadi padanya.
"Kalau menurut aku,,, kamu itu har.."
"Aaaaaaa...."
Ucapannya terhenti saat mendengar suara teriakan seseorang dari dalam kamar, membuat mereka terkejut.
"Siapa yang teriak?" Tanya Dinda pelan. Aisyah mengangkat kedua bahunya.
Mereka berdua berdiri lalu berjalan cepat memasuki kamar. Di dekat pintu nampak seorang gadis sedang berjongkok sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Aisyah menyentuh pelan bahu Syifa. Hal yang membuat Aisyah dan Dinda kembali kaget karena malah Syifa kembali berteriak. Aisyah menepuk pelan bahu Syifa, namun sepertinya gadis itu malah menangis.
"Ampun jangan ganggu guueee pliiiss hhheeee" Ujar Syifa dengan menangis.
"Kenapa Syifa?" Lirih Dinda.
"Ga tau" Jawab Aisyah.
Aisyah berusaha melepaskan tangan Syifa agar dirinya tak lagi menutupi wajah dengan tangannya. Namun tangan Syifa sangat susah untuk dilepaskan dari wajahnya, seperti sudah diberi perekat olehnya. Tangannya juga berkeringat dan dingin. Bukannya lebih tenang, Syifa malah tambah meronta ronta agar Aisyah dan Dinda pergi.
"Pliiiss gue mohoonn hheee, jangan ganggu guee hiks. Gue takuut, Momo tolooooongg. Gue mohon kalian pergi. Jangan ganggu guueee." Kata Syifa lagi membuat Aisyah dan Dinda kembali terdiam. Mereka membiarkan syifa agar lebih tenang.
Merasa tidak ada yang menyentuhnya lagi, Syifa berusaha untuk melihat yang ada dihadapannya melalui sela sela dijarinya, kain putih, membuatnya kembali merinding dan menangis.
"Mbaaak gue mohoon jangan ganggu guueee, pergi ke alam Lo pliiisss,,, hiks" Ujarnya lagi.
"Syifa, Syifa..." Ujar Aisyah dengan sedikit mengguncang bahu Syifa.
"Mbak Kuntiiii huaaaa,,, jangan gangguu gueee hiks,, gue takuut. Pliiiss,, Disini bukan tempat lo. Tempat Lo itu sama om Wowo Huuuaa hhheee" Ucapnya. "Lo mendingan pulang aja deh hiks hiks, atau gue bacain ayat kursi nih. Kasian tuyul nungguin dari tadi, pengen di temenin tidur katanya" Tambahnya lagi membuat Aisyah dan Dinda kembali terlihat bingung.
"Kok tuyul pake dibawa bawa segala sih" Gumam Dinda.
"Eh Syifa,, ini aku Aisyah,,, fa ini kita Aisyah sama Dinda bukan kuntilanak" Ujar Aisyah dengan kembali mengguncang bahu Syifa.
"Jangan ngaku ngaku ya,,," Gumamnya.
"Heh fa ini beneran kita" Jawab Aisyah.
Syifa berhenti menangis. Secara perlahan ia membuka kedua tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya, lalu mendongakkan kepalanya. Ia melihat Aisyah dan Dinda yang menatapnya bingung. Setelah itu mereka berdua membantu Syifa untuk berdiri dan berjalan menuju tempat tidurnya.
"Kenapa kok kamu nangis?" Tanya Dinda.
"Gue tadi lihat kuntilanak" Jawab Syifa.
"Kuntilanak? Dari tadi kita diluar ga lihat apa apa" Kata Aisyah.
"Jadi yang diluar kalian?" Mereka berdua mengangguk. "Gue kira kuntilanak" Tambahnya lagi.
"Ya habis kalian ngapain jam segini di luar, mana pake mukena putih. Kan gue jadi takut"
"Orang jelas jelas kalau kuntilanak ada rambutnya kok sedangkan kita kan rambutnya ketutup sama mukena" Jawab Aisyah.
"Tapi tetep aja bikin gue takut!" Ucap Syifa dengan suara khas dari seorang yang selesai menangis sesenggukan sembari mengusap hidungnya yang tersumbat.
•••••
Istirahat pagi ini sangat ramai dipenuhi oleh suara dan teriakan para gadis sekolah yang sedang mensuport orang orang yang sedang bermain bola dilapangan. Memang tidak jarang saat istirahat para lelaki menggunakan waktunya untuk bermain bola, namun suasananya tak seriuh istirahat kali ini. Pasalnya Fariz juga Iqbal ikut andil dalam bermain bola saat jam istirahat pagi ini. Membuat para fans Fariz berkumpul untuk menyaksikan dan mensuportnya.
Dengan lincah Fariz menggiring dan menghindar dari serangan lawan untuk merebut bolanya. Keringat yang mengucur dari wajah dan leher malah membuat ketampanannya bertambah. Begitu pula dengan Iqbal yang juga tak kalah jago dalam hal sepak bola.
Kak Fariz semangat kak!!
Kak Fariz,, aaa ganteng banget
Semangat Riz...
Fariz ayo Riz,, jangan kasih kendor
Sumpah kak Fariz damage nya bukan main..
Fariz, Fariz, Fariz...
Semangat!!!
Begitulah mereka, berteriak histeris dengan sesekali bertepuk tangan. Pandangan Iqbal terhenti pada sosok gadis yang tengah berbicara dengan orang lain di tepi lapangan, membuat sebuah rencana jahil terlintas dalam pikirannya. Iqbal tersenyum miring.
Oke, Lo Minggu kemarin udah buat jidat gue benjol karena sepatu Lo. Dan hari ini gue juga akan melakukan hal yang sama, buat jidat Lo benjol dengan kena bola yang gue tendang. Batinnya.
Iqbal mengarahkan pandangan kepada Fariz yang sedang menggiring bola menghindari lawan.
"Riz, oper ke gue" Teriaknya pada Fariz. Seketika Fariz langsung menendang bola ke arah Iqbal, setelah mendapatkan bolanya Iqbal kembali menatap Lina. Tak butuh waktu lama untuk Iqbal mencari ancang ancang agar bolanya tepat sasaran. Dengan tendangan yang kuat, Iqbal menendang bola itu ke arah Lina.
Namun sayangnya, saat ini keberuntungan tak berpihak padanya. 5 detik sebelum bola itu mengenai kepala Lina, justru Lina malah berjalan melangkah pergi. Membuat Iqbal berdecak sebal. Kalau saja Lina tetap ditempatnya, sudah dipastikan saat ini bolanya tepat terkena kepala Lina.
Pyaaar
Suara yang sangat nyaring terdengar itu membuat suasana yang begitu riuh menjadi hening. Iqbal melotot sempurna, lalu ia menepuk jidatnya keras. Yang pertama rencananya tidak berhasil, yang kedua bolanya malah mengenai kaca jendela hingga pecah. Nasib oh nasib.
"IQBAAAAAAALLLL" Teriakan seseorang yang memekikkan telinga itu menggema nyaring dihalaman sekolah.
Haduh,,, mampus gue. Pake acara ketahuan Bu Desi lagi. Batinnya.
"Ini Bu, sebagai ganti rugi saya" Ujar Iqbal dengan menyodorkan sekumpulan uang merah di meja. Bu Desi menatap uang itu dengan tatapan bingung.
"Berapa ini?" Tanya Bu Desi.
"7 juta" Jawab Iqbal enteng. "Kalau kurang tinggal bilang ke saya bu. Nanti saya akan bayar" Lanjutnya.
Bu Desi terdiam. "Baik kalau gitu, kamu boleh keluar"
Iqbal berdiri, lalu keluar dari ruang guru.
"Anak sultan mah ya gitu" Ujar Gilang yang sedari tadi mengintip.
"Kenapa?" Ketus Iqbal. "Oi ya beliin gue minuman"
"Lo kan punya kaki" Ucap Gilang.
Iqbal merogoh saku celananya. Mengeluarkan selembar uang merah. "Ini, kembaliannya buat Lo" Ujar Iqbal dengan menyodorkan uangnya.
"Emm,,," Gilang memasang ekspresi antara mau dan tidak mau.
"Nih gue tambahin" Kata Iqbal lagi dengan menyodorkan uang lima puluh ribu.
__ADS_1
"Oke, gue beliin" Jawab Gilang dengan senyumnya yang sumringah.
"Dasar mata duitan Lo" Ketus Iqbal. "Gue tunggu dikelas" Tambahnya lagi.
"Oke" Jawab Gilang lalu segera bergegas menuju kantin.
•••••
Iqbal menutup kotak bekal yang diberikan Lina, tadi saat istirahat ia belum sempat memakannya karena keinginannya yang ingin bermain bola. Dan saat ini ia benar benar lapar, dalam sekejap kotak bekal yang penuh dengan nasi hangat dan semur jengkol tersebut sudah habis. Dan bertepatan dengan itu Gilang datang membawakan minuman.
"Ini" Ujarnya dengan menyodorkan minuman pada Iqbal.
"Thanks" kata Iqbal dengan membuka tutupnya dan meneguknya hingga hampir habis.
"Lama banget sih Lo, beliin minum gitu doang" Lanjutnya lagi.
"Ya kan sekalian gue beli jajan" Jawab Gilang.
"Minta" Ujar Iqbal dengan menyodorkan tangannya, membuat Gilang langsung menjauhkan jajannya.
"Beli aja sendiri" Ketus Gilang.
Iqbal mendengus kesal. "Itu Lo beli pake uang siapa ha? Uang gue ngab!!" Ujarnya dengan memajukan kepalanya beberapa centi ke arah Gilang.
"Gila Lo bal, udah berapa lama ga sikat gigi?" Tanya Gilang dengan menutupi hidungnya.
"Kenapa?"
"Bau"
"Salah kali penciuman Lo, orang tadi pagi gue sikat gigi kok" Elak Iqbal.
"Enak aja, gue juga bisa bedain kali mana yang bau mana yang wangi"
Iqbal berdiri lalu berjalan dan duduk disamping Gilang. "Lo siap?"
Gilang menaikkan sebelah alisnya "Siap apa?" Tanya nya yang masih belum mengerti.
"Oke siap ya" Kata Iqbal. Ia memejamkan matanya beberapa detik lalu kembali membuka matanya.
"Khaaaaahhh" Hal itu tepat dilakukan Iqbal di depan wajah Gilang, membuat Gilang terdiam mematung sembari menahan nafasnya.
Braak
Gilang menggebrak meja. "Sumpah bau banget baaaalll..." Geram Gilang.
"Lo habis makan apa sih ha?" Lanjutnya lagi.
"Ya makanan lah"
"Jengkol?"
"Bukan"
"Terus kenapa bau jengkol"
"Ga tau, gue tadi makan makanan"
"Iya makanan apa?" Geram Gilang.
"Makanan makanan" Jawab Iqbal.
"Sana sikat gigi!" Perintah Gilang.
"Ini sekolah lang, ya kali gue sekolah bawa sikat sama pasta gigi"
"Ya udah kalau gitu Lo jangan ngomong sampai pulang sekolah" Kata Gilang yang masih setia menutupi hidungnya. "Udah gue mau pergi aja, ga betah gue" Ucapnya lagi lalu segera berdiri dan pergi. Sedangkan Iqbal sibuk mengetes bau mulutnya. Apakah benar bau atau tidak.
•••••
Dibawah sinar rembulan, dibawah indahnya taburan bintang, dengan di Sinar lampu taman juga angin dingin malam itu. Aisyah duduk diatas kursi besi panjang dengan segenggam buku tebal yang dibacanya. Anggap sajalah Aisyah sebagai kutu buku.
"Assalamualaikum" Ujar Fariz yang tiba tiba datang dan duduk disebelah Aisyah. Tanpa menoleh pun Aisyah sudah mengetahui siapa yang datang. Aisyah menutup bukunya, dengan berusaha memasang wajah sedatar datarnya.
"Waalaikum salam" Jawabnya dingin.
"Lagi ngapain?" Tanya Fariz.
"Bukan ngapa-ngapain" Ujar Aisyah dingin. Ia lalu berdiri membuat Fariz juga ikut berdiri.
"Mau kemana?"
"Pergi"
"Baru juga gue Dateng, kenapa Lo pergi"
"Kenapa? Kok Lo jutek gitu"
"Ga kenapa napa" Jawab Aisyah.
"Ada masalah?" Tanya Fariz. Aisyah menghentikan langkahnya dengan tatapan yang masih menghadap depan.
"Aku boleh minta sesuatu ke kak Fariz?!" Tanya Aisyah.
"Ya boleh dong, mau minta apa?" Jawab Fariz dengan tersenyum.
Aisyah menghela pelan. "Bisa gak kak Fariz ga usah ganggu aku" Tegas Aisyah.
Fariz terdiam. Berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Aisyah.
"Jadi selama ini Lo merasa keganggu sama gue?" Lirih Fariz.
"Iya" Jawab Aisyah.
Hal yang justru membuat Aisyah kebingungan melihat Fariz yang tertawa. Diluar dugaannya.
"Ya bagus dong" Kata Fariz dengan sisa sisa tawanya.
Aisyah menatap bingung Fariz. "Kok Bagus?"
"Ya kan emang niat gue mau gangguin Lo, kalau Lo keganggu berarti niat gue tertunaikan" Jawab fariz enteng.
"Gangguin? Kenapa ga orang lain aja ha?"
"Seru aja, biar gue bisa lebih Deket sama Lo"
Biar lebih bisa Deket sama Lo? Maksutnya...
•••••
14.50
Drrtt drrt drrtt
"Halo, Assalamualaikum mbak" Ujar Aisyah.
"Alhamdulillah baik, mbak gimana kabarnya?"
"Ada apa mbak, tumben telpon"
"Apa?"
"Oh ya?! Alhamdulillah kalau gitu"
"Emmm,,, kayaknya ga bisa mbak, soalnya tanggal 23 Aisyah udah ada ulangan tengah semester"
"Iya. Maaf ya mbak"
"Kalau itu pasti dong mbak"
"Iya"
"Waalaikum salam"
Tuut tuut
Sambungan pun menjadi terputus. "Siapa Syah?" Tanya Dinda.
"Mbak hilya"
"Mbak hilya itu saudara?"
"Iya, saudara kandung"
"Oo jadi kamu punya kakak kandung?" Tanya Dinda.
"Iya"
"Kok gue baru tahu?" Sambung Lina.
"Kan soalnya ga pernah aku kasih tahu" Jawab Aisyah enteng.
"Kosong delapan tiga, kosong delapan tiga, kosong delapan tiga" Gumam Syifa. "Dua tuju, dua tuju. Kosong delapan tiga dua tuju" Lanjutnya lagi.
"Lagi ngehafal apa sih?" Tanya Lina.
__ADS_1
"Nomor wa" Jawab Syifa.
"Wa nya siapa?"
"Guelah"
"Nomor wa sendiri Lo ga hafal?" Tanya Lina nyolot. Syifa menggeleng. "Wah parah Lo, gue aja nomornya sekeluarga hafal. Seenggaknya nomor wa sendiri itu hafal"
"Gue hafal, tapi cuma ga inget Lin" Elak Syifa.
"Ngelak aja Lo" Ujar Lina lalu berdiri.
"Mau kemana Lin?" Tanya Syifa.
"Lo ga lihat lagi mendung, baju gue masih dijemur" Jawab Lina.
"Oi ya baju gue juga" Ucap Syifa.
"Ya udah ayok" Lina berjalan cepat menuju loteng atas dengan Syifa yang mengikutinya dari belakang.
"Lin Seger banget ya" Ucap Syifa setengah berteriak sembari merentangkan kedua tangannya, menikmati angin kencang siang itu.
"Duh,, ni angin kenceng banget sih" Ujar lina sembari berjongkok dan mengambil bajunya yang berjatuhan. Tidak hanya mereka berdua, para santriwati lain juga turut mengangkat jemurannya, sebelum hujan turun dan akan membasahi baju jemuran mereka.
"Sumpah seger bangeeettt" Teriak Syifa. "We Wewe we" Gumam Syifa dengan mundur beberapa langkah, karena anginnya yang kencang harus membuatnya mundur dan hampir terjatuh, namun malah membuat Syifa semakin bahagia dengan tersenyum dan tertawa kecil.
"Woy Lin kerudung Lo noh!!" Teriak Syifa membuat Lina yang sibuk mengambil bajunya yang berjatuhan mendongakkan kepalanya. Lina berdiri.
"Kenapa?" Tanya Lina berteriak.
"Kerudung Lo noh terbang!!" Teriak Syifa dengan menunjuk sebuah kerudung berwarna biru tua, ya mungkin saking kencangnya angin.
"Wah wah, kerudung gue!!" Teriak Lina sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Tak peduli dengan bajunya yang sekarang malah tak sengaja ia jatuhkan di bawah. "Duh duh gimana nih" Gumamnya lagi sembari memutar badannya. "Aahh, gue kok malah muter muter" Kesalnya sendiri dengan menghentakkan kakinya, lalu berlari kencang ke arah bawah.
"Linaa gue ikuut" Teriak Syifa dengan mengejar Lina.
"Haduuh gimana nih nasib kerudung gue" Ujar Lina dengan memijat pelipisnya.
"Woy Lin, tunggu ngapa" Kata Syifa dengan nafas ngos ngosan.
"Haduuh dimana nih kerudung gue" Gerutu Lina. "Waktu itu sepatu, ini gantian kerudung yang terbang. Haduuh,,"
Syifa menepuk pelan bahu Lina. "Itu, lihat kak Iqbal" Ujarnya dengan menunjuk Iqbal dan Ilham.
"Kenapa?"
"Kesana!"
"Ngapain, ogah banget"
"Kita tanya ke mereka siapa tahu mereka lihat kerudung Lo" Jawab Syifa.
"Ogah, gue ga mau"
"Ayolah Lin" Ujar Syifa dengan menarik paksa tangan Lina.
"ih tapi gue gak mau" Rengek Lina.
"Udah ayok!!" Ketus Syifa dengan terus menarik pergelangan tangan Lina.
"Assalamualaikum" Ujar Syifa dan lina saat mereka sudah ada dihadapan Ilham dan Iqbal.
"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.
"Kak lihat kerudung terbang ga?" Tanya Syifa tanpa basa basi.
"Warna biru tua?" Tanya Ilham.
"Yap! Kok kakak tahu?" Tanya Syifa.
"Ini?" Iqbal menyodorkan kerudung yang ada digenggamannya.
Lina mengamati kerudung itu baik baik. "Iya,, ini kerudung gue" Katanya bergairah, lalu mengambil kerudung itu dengan kasar membuat Iqbal melotot dan berdecak sebal.
"Kok ada di kakak?" Tanya Syifa. "Ooohh, apa jangan jangan..." Syifa menggantungkan kalimatnya.
"Jangan jangan apa?" Tanya Lina.
"Jangan jangan tu kerudung nyungsep di wajahnya kak Iqbal. Kayak film film India" Tebak Syifa.
Lina berdecih "Nyungsap nyungsep Mbahmu" Ketus Lina.
"Iya ga kak? Yang kayak di film India, yang kerudungnya nutupin wajah. Kalian paham ga sih yang aku maksut, yang kayak.... aduh,, gimana ya jelasinnya pokok nya yang kayak di film India lah" Jelas Syifa.
"Bukan! Itu tu tadi jatuh di depan gue" Jawab Iqbal.
Syifa terdiam, mencerna kalimat yang diucapkan Iqbal. Mulutnya terbuka setengah, tak lama ia menepuk kedua tangannya. "Fiks kalian berjodoh" Ucapnya dengan memandang Lina dan Iqbal secara bergantian.
"Enak aja" Ucap iqbal dan Lina bersamaan.
"Tuh kan, ngomong aja bareng" Goda Syifa.
"Amit amit gue sama dia" Kata mereka yang lagi lagi bersamaan.
"Heh fa sampai kapan pun gue gak pernah mau sama dia" Ujar Lina dengan menunjuk Iqbal.
"Heh konah, emang gue mau sama lo ha? Kagak! Sikap judes kayak gitu, mana ada yang mau" Ketus Iqbal.
"Masih mending gue judes, Lo laki mental tempe. Takut sama kecoa. Apaan?! Lebay." Kata Lina membuat Syifa membelalakkan matanya.
"Kak Iqbal takut sama kecoa?" Tanya Syifa nyolot.
"Bukan cuma kecoa,,, tikus juga dia takut" Tambah Lina.
"Wah ngajak perang nih anak. Pengen gue sumpel pake apa mulut Lo" Ujar Iqbal berkacak pinggang.
"Nyenyenye.."
Melihat Lina yang seperti itu Iqbal ingin sekali mencekik lehernya. Hah, menyebalkan sekali Pikirnya.
"Biar,, biar semua orang tahu, kalau Lo takut sama kecoa" Ujar Lina lalu tertawa. "Udah ah gue mau pergi dulu"
"Assalamualaikum" Kata Lina dengan tersenyum kepada Ilham lalu melotot kepada Iqbal.
"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.
"Eh kak, aku juga duluan ya. Assalamualaikum" Ucap syifa.
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal dan Ilham bersamaan.
"Heeh,, kalau tu bukan cewek udah gue habisin dia" Gumamnya.
"Udah biarin aja, ga usah diladenin" Ujar Ilham. "Ya udah, yok balik ke kamar" Lanjut Ilham. Dengan menyimpan kekesalan yang masih mendalam, Iqbal pun berjalan menuju kamarnya.
"Assalamualaikum" Ujar Iqbal dan Ilham saat memasuki kamar.
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan dan Fariz.
"Eh bal, tadi si Gilang telpon" Kata Fariz.
"Ada apa?"
"Mana gue tahu" Jawab Fariz.
Dengan segera Iqbal membuka ponselnya, benar saja lima menit yang lalu Gilang menelponnya.
Iqbal S: "Ada apa Lang? Kok telpon?"
M.Gilang: "Tertekan"
Iqbal S: "Ada masalah apa? Cerita sini sama
gue"
M.Gilang: "Tertekan bal."
Iqbal S: "Iya gue tahu Lo tertekan, makannya
cerita sama gue ada apa? Siapa tahu
gue bisa bantu"
M.Gilang: "Bukan gue yang tertekan tapi ponsel gue"
Iqbal S: "Mana ada ponsel tertekan. Udah kalau Lo ada masalah cerita aja gih. Ga usah malu malu."
M.Gilang: "TERTEKAN!! Jadi gue tadi mau tanya sesuatu sama Lo, taunya malah tertekan telpon"
Iqbal terdiam, mencerna setiap kata kata Gilang. Tak lama ia membuang nafas kasar.
Iqbal S: "ITU KETEKEN BUKAN TERTEKAN BEGO!!
M.Gilang: "Sama aja ngab"
Iqbal S: "Beda ogeb!!"
__ADS_1
...********...