Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Iya atau Tidak


__ADS_3

Di tengah malam yang sunyi, saat semua orang tertidur lelap. Namun tidak dengan Aisyah, gadis itu sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Semua kata kata Ghea, terus terngiang di memorinya. Lalu, harus berbuat apa dirinya sekarang? Menerimanya atau tidak? Bila pun dia menerima, belum tentu dengan keputusan umi dan Abinya.


Suara pintu terbuka membuat Aisyah menoleh. "Lhoh kok belum tidur Syah?" Tanya uminya. Aisyah mengulum senyum tipis.


"Iya umi. Sebentar lagi tidur."


"Iya langsung tidur. Ini udah tengah malam."


Aisyah mengangguk.


Uminya kembali menutup pintunya. Aisyah menghela pelan. "Ya Allah, hamba harus apa??"


•••••


Pagi itu, saat ia dan uminya tengah berbincang ringan di ruang tamu, seorang perempuan yang seumuran dengan uminya itu datang. Membuat Aisyah berjalan menghampirinya. "Kamu yang namanya Aisyah?" Tanya nya.


"Iya. Ada apa ya Bu?"


"Saya perlu berbicara dengan kamu."


Aisyah menoleh ke belakang, melihat uminya sekilas lalu kembali menatap perempuan itu. "Oh iya iya, silahkan duduk Bu..."


"Terima kasih." Jawabnya dengan berjalan masuk dan duduk.


"Syah, umi ke dalam dulu ya..." Ujar uminya.


"Iya umi." Jawabnya bersamaan dengan uminya berdiri dari kursi lalu berjalan pergi. Kini hanya tinggal mereka berdua. "Ada apa Bu?" Tanya Aisyah.


"Ini..." Ia menyodorkan kertas kepada Aisyah. "Ambil!"


Dengan ragu Aisyah mengambilnya. Melihat tulisan yang agak berantakan, namun masih bisa untuk ia baca. Ma, tolong restui hubungan Aisyah dan Fariz. Ghea mohon...


Aisyah terdiam memaku saat membacanya. Apa Ghea memang benar benar menginginkan hal itu?


"Tidak ada seorang ibu yang rela anaknya di duakan. Meski itu memang permintaan dari putrinya sendiri." Aisyah menoleh menatap ibu itu. Putri? Apa dia ibunya Ghea?


"Aisyah, saya tau kamu anak yang baik. Entah apa yang anak saya pikirkan, sehingga dia menginginkan hal semacam itu. Saya tidak tahu penyebabnya. Tapi, saya mohon jangan ambil permintaan itu. Saya tahu, putri saya memintanya. Tapi dia juga pasti akan sakit hati, walaupun tidak terlihat."


"Saya mohon ambil keputusan yang bijak. Kamu pasti memahami perasaan sesama perempuan. Dan kalau kamu mengambil keputusan itu, apakah ibu kamu juga bisa menerima nya? Menerima anaknya menjadi yang kedua?"


Entah kenapa saat kata kata "menjadi yang kedua" itu di ucapkan, cukup membuat hatinya sakit.


"Saya permisi dulu, mari..." Pamitnya lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruang tamu. Aisyah kembali menatap tulisan yang ada di kertas tersebut.


Hingga tak sadar, uminya datang menghampiri dan tak sengaja membaca tulisan tersebut. "Syah.."


Aisyah tersentak, dengan terkejut dia menoleh. Secara refleks, dirinya meremas kertas itu. "Umi udah baca."


Deg


Degup jantungnya berdetak cepat. Takut, khawatir. "Siapa Fariz?" Tanya nya.


Aisyah meneguk ludahnya. "Dan maksudnya menjadi yang kedua apa?"


Aisyah menundukkan kepalanya. Perasaan takut merambat dalam dirinya. Haruskah dia bercerita?


"Syah, jawab umi!!"


Entah mengapa, mata Aisyah kembali terasa panas. Menciptakan butiran air yang terkumpul dalam kelopak matanya. "Kamu ada masalah apa?" Tanya uminya lagi. Berharap anaknya akan menceritakan semua masalahnya. Namun, gadis itu hanya terdiam menunduk.


"Nduk, kalau punya masalah jangan di pendam sendirian. Cerita sama umi ada apa. Mumpung masih ada tempat untuk bercerita. Sebelum umi ga ada."


"Umi!" Sela Aisyah. Dia tidak suka kalau uminya berbicara seperti itu. "Jangan bicara kayak gitu."

__ADS_1


"Iya makannya kamu cerita nak. Mumpung masih ada yang mendengar kan. Kalau kamu pendam sendirian, saat kamu sedang ada di puncak masalah ga ada yang bisa bantu kamu."


"Ayo cerita, ada apa sebenarnya? Dan untuk apa perempuan tadi datang?"


Aisyah terdiam.


Perlukah dia memberitahukan semuanya? Iya, uminya memang berhak tahu. Namun, tidak semudah itu untuk memberitahunya. Mulutnya terasa Kelu untuk berkata, hatinya terasa gundah untuk berbicara yang sebenarnya.


"Ya udah kalau kamu ga mau cerita."


"Umi..." Panggil Aisyah. "Sebenarnya..."


"Sebenarnya...." Tenggorokan nya mendadak kering dan sempit. Untuk menelan ludah saja rasanya tidak nyaman. "Aisyah..." Ah, kenapa begitu sulit untuk berbicara?


"Umi...ada temen Aisyah, yang..." Aisyah kembali meneguk ludahnya kuat kuat. "Yang nyuruh Aisyah, untuk menikah sama suaminya." Jawabnya. Buliran air mata yang tertahan, langsung jatuh.


Dia tidak tahu bagaimana ekspresi uminya saat ini, karena sungguh dia tidak berani untuk menatap wajah uminya. Yang ia lakukan, hanya tertunduk dalam dalam. "Apa nduk? Kok bisa??" Dari nadanya, sudah jelas keterkejutan itu terdengar nyata.


"Dan kamu menjadi yang kedua dari pernikahan mereka? Gitu maksudnya??"


Aisyah semakin tertunduk, air matanya kembali menetes. "Umi ga akan beri izin." Ujar uminya lalu berjalan pergi masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Aisyah sendirian.


"Ya Allah, kenapa semuanya harus seperti ini? Kenapa harus hamba??" Tanya Aisyah dalam tangis kesendirian nya.


•••••


19.45


"Nduk, laki laki itu tidak bisa benar benar mencintai perempuan sebelum dia menikahinya." Ujar bibinya. Saat ini, mereka berdua dengan menikmati malam dengan berbicara di teras depan rumah. "Sebelum dia menikahi, maka cinta itu belum benar benar di katakan besar, apalagi tulus. Karena titik ketulusan atas pembuktian cinta ya menghalalkan."


Aisyah terdiam menatap bibinya. "Sebelum benar benar halal, jangan menjatuhkan hatimu untuk terlalu dalam mencintai. Kalau kamu tidak ingin terluka terlalu dalam dan sembuh terlalu lama. Paham kan maksud Bu Dhe?" Tanya Bibinya.


Aisyah mengangguk pelan. "Iya Bu Dhe."


"Aamiin..."


"Ya sudah Bu Dhe masuk ke dalam dulu."


Aisyah mengangguk.


Bibinya mengelus pundak Aisyah dengan tersenyum, lalu berdiri dan melangkah masuk ke dalam. Aisyah menyandarkan tubuhnya di kursi. Angin malam menyapa wajahnya, memberi kesejukan bagi kulitnya. Namun tidak dengan hatinya yang terasa begitu rumit. Entahlah, sudah berapa kali dirinya menghela panjang. Serumit inikah kisah cintanya? Memang seperti inikah takdir cinta yang tertulis untuknya? Lalu bagaimana hari hari selanjutnya? Apakah akan lebih rumit dari hari ini? Oh Ya Allah, berilah petunjuk Mu...


Aisyah berdiri dari tempat duduknya. Dia melangkah ke dalam. Akhir akhir ini bukan badannya yang lelah namun hatinya. Aisyah memelankan langkahnya saat melihat Okta yang entah sedang apa di depan pintu kamar yang di tempati umi Abinya.


"Okta..." Panggil Aisyah.


Okta menoleh. Dengan cepat dia menaruh jari telunjuknya di atas bibirnya. "Hssst...mbak sini" Ujarnya dengan berjalan dan menarik tangan Aisyah. Membawanya ke dalam kamar lalu menutup pintunya.


Mereka berdua duduk di atas kasur. "Mbak, mendingan jangan deh." Ucapnya dengan wajah yang tak rela.


Aisyah mengerutkan alisnya. "Jangan apa??"


"Nikah sama suami temen mbak!!" Jawab okta nyolot. "Mbak, tadi Okta nguping di....eh ralat, bukan nguping tapi ga sengaja denger. Karena ga sengaja denger, ya udah Okta lanjutin aja dengerinnya."


"Jadi mbak, Okta tadi ga sengaja denger umi sama Abi ngobrol tentang mbak. Emang mbak beneran mau menikah sama temen suami mbak?" Tanya nya. Dia menatap Aisyah yang hanya terdiam. "Mbak, Okta mohon jangan!!"


"Okta ga mau mbak jadi sakit hati. Jadi yang kedua itu ga mudah mbak. Bisa aja mbak di cap orang lain sebagai orang ketiga. Iya kan?? Mbak, Okta bukan mau mencampuri urusannya mbak. Tapi Okta sayang sama mbak, Okta ga mau mbak sakit hati. Emang mbak cinta sama suami temen mbak??"


Okta menghela pelan. Kakaknya hanya terdiam dengan raut wajahnya yang terlihat cukup bingung dengan situasi seperti ini. "Buat apa mbak menikah dengan orang yang mbak cinta, tapi pernikahan itu hanya membuat hati mbak tersiksa. Nggak ada wanita yang ingin kasih sayang dan perhatian dari suaminya itu di bagi dengan wanita lain. Aku tahu, mbak juga ga mau kayak gitu. Mbak,,,,, di luar sana masih ada yang sempurna, masih ada yang lebih baik. Mbak ini cantik, pinter, baik, pasti bisa dapat laki laki yang jauuh lebih baik dari suami temen mbak itu."


"Okta emang belum menikah mbak, tapi Okta tau kok rasanya gimana. Okta ga mau, mbak jadi yang ke dua. Tapi,,, Okta juga ga bisa memaksa mbak buat menjawab tidak!" Okta menggaruk keningnya. "Haduh mbak, rumit banget deh. Mbak pasti pernah terlibat cinta segitiga ya?? Makannya mbak, jangan pernah terlibat sama yang namanya cinta!"


Aisyah menghela berat. Siapa yang ingin terlibat dengan yang namanya cinta? Dirinya juga tidak mau. Namun cinta ini, begitu saja datang di dalam hatinya. Merambat sesukanya. Lalu dia bisa apa? Ingin menghilangkan, ingin membuang juga begitu sulit. Atau malah tidak bisa.

__ADS_1


"Mbak pikirin baik baik ya...Okta sayang sama mbak." Ujar Okta dengan tersenyum. Dia langsung pergi dari kamar.


"Ya Allah, kenapa jadi begini?"


Maka malam itu, Aisyah melaksanakan sholat istikharah.


"Ya Allah, Tuhan yang menggenggam takdir seluruh alam. Baik buruknya, rumit mudahnya, suatu keadaan hamba saat ini, hanya Engkau yang mengetahui bagaimana kelanjutannya. Hanya Engkau, yang mampu memberikan yang terbaik bagi makhluk Mu. Maka berilah hamba Mu ini petunjuk ya Rabb, berilah jalan terbaik.


اَللَّهُمَّ مُـصَـــرِّفَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَــا عَلَى طَاعَتِكَ


Ya Allah, yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk taat kepada-Mu. Aamiin."


Maka di malam ketiga sholat istikharah nya. Saat dzikir berulang kali ia ucapkan, dan doa telah dirinya panjatkan. Sebuah angin dingin mulai menyelimuti kamarnya, apakah besok akan hujan? Entahlah. Suatu hal yang pasti, Aisyah tiba tiba saja tertidur di atas sajadahnya. Membuat sebuah mimpi masuk dalam alam ketidaksadaran nya. Mimpi yang mungkin, itu adalah sebuah petunjuk. Untuk iya atau tidak.


•••••


Esok harinya, Aisyah mendapatkan telepon dari mamanya Ghea. Katanya, Ghea ingin bertemu dengan dirinya. Sudah pasti dia akan menanyakan tentang keputusan nya. Maka ia langsung bergegas menuju rumah sakit. Bersama uminya. Iya, uminya tadi meminta untuk ikut.


Mereka berdua berjalan ke arah ruangan di mana Ghea di rawat. Di sana ada mamanya, papanya dan Fariz yang sedang menunggu di luar ruangan. Wajah mereka terlihat begitu cemas. Memangnya apa yang terjadi?


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Jawab mereka.


"Bu, apa boleh saya masuk sekarang?" Tanya Aisyah.


Mama Ghea menggeleng. "Sekarang Ghea sedang di tangani sama dokter. Keadaan nya memburuk."


Aisyah mengangguk paham. Dia menoleh menatap uminya. "Umi duduk dulu." Ujarnya dengan suara pelan. Membawa uminya untuk duduk di kursi bersamanya.


Beberapa saat, seorang dokter laki laki yang menangani Ghea itu keluar dari ruangan. Aisyah berdiri, sedangkan mereka berjalan mendekati dokter itu. "Bagaimana dok kondisi nya?" Tanya mama Ghea.


"Sekarang, kondisi nya benar benar buruk Bu... Dia sedang kritis. Kita tunggu 24 jam, bagaimana nanti keadaan nya. Karena kanker yang ada, semakin mengganas dan sudah merambat ke semua bagian tubuhnya. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyelamatkan. Kesempatan untuk selamat, kecil. Jadi, kita hanya bisa berdoa, semoga putri ibu masih di berikan kesempatan. Kami sudah melakukan yang terbaik, kedepannya hanya Tuhan yang tahu. Permisi..."


Mendengar itu tangis mereka langsung pecah. Mama Ghea langsung memeluk suaminya, dia menangis tersedu sedu. Tentu saja karena takut kehilangan, karena Ghea adalah Putri satu satunya yang mereka miliki. Fariz hanya bisa terdiam, air matanya pun tak bisa ia tahan.


Aisyah, dia pun sama. Kakinya seketika pun lemas saat dokter memberitahukan akan keadaan Ghea. Seketika ia terduduk, dengan dirinya yang masih terpaku menatap depan. Air matanya luruh satu persatu.


Deg...


Dirinya tersentak kaget saat mama Ghea yang tiba tiba saja terduduk di bawahnya dengan memegang kedua kakinya. Dengan menangis pilu, dia menatap Aisyah. "Aisyah...saya mohon penuhi permintaan Ghea..."


Aisyah terdiam. Mengapa tiba tiba dia berkata seperti itu? Bukankah beberapa hari lalu, dia memintanya agar tidak mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Ghea. Lalu, ada apa hari ini?


"Saya mohon,,, penuhi permintaan anak saya. Cuma itu yang dia inginkan. Hanya itu. Tolong, buat anak saya pergi dengan ketenangan di sana. Biarkan anak saya bahagia nantinya." Pintanya memohon dengan terisak.


Aisyah meneguk ludahnya, air matanya semakin deras mengalir. Sungguh, dia benci situasi seperti ini. Situasi rumit, yang memaksanya untuk mengambil keputusan. Apalagi ini soal hati, juga masa depannya nanti.


"Saya paham, kamu pasti bingung. Saya hanya ingin Ghea bahagia di sana, walau jujur saya tetap tidak mau dia di duakan. Tapi, kebahagiaan Ghea entah di sini ataupun di sana nanti itu lebih penting dari apapun. Jadi saya mohon Aisyah...tolong ya, untuk satu kali ini saja." Ujarnya terus memohon. Air matanya tak henti hentinya untuk mengalir.


Aisyah menoleh menatap uminya. "Umi..."


Uminya mengangguk. "Ambil keputusan nduk. Iya atau tidak."


"Tapi umi..."


"Nduk, ini hidupmu. Yang menjalani kamu. Yang merasakan sakit atau tidaknya itu juga kamu. Yang menerima kebahagiaan itu kamu. Kalau kamu menjawab iya, umi hargai. Tapi kalau tidak, umi tidak memaksa."


Aisyah memejamkan matanya. Aliran air matanya terus keluar. "Saya mohon Aisyah,, hanya itu yang Ghea inginkan nak...tolong penuhi permintaan nya. Kamu jangan khawatir. Karena kamu akan jadi istri satu satunya kalau dia pergi. Jadi saya mohon..."


Aisyah menundukkan kepalanya.


Hanya Iya atau tidak, tapi begitu sulit untuk dia pilih. Ya Allah, dirinya harus memilih apa?

__ADS_1


...*******...


__ADS_2