Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Sebuah Surat


__ADS_3

tok tok tok


Tidak ada jawaban.


tok tok tok


"Iyaa" Suara orang bersuara berat dari dalam kamar. Tak lama pintu pun terbuka.


"Eh ada Syifa sama aisyah" Ujar Iqbal.


"Assalamualaikum" Ucap Syifa dan Aisyah bersamaan.


"Waalaikum salam, ada apa? Tumben kesini?" Tanya iqbal.


"Kita mau ngembaliin jaket" Jawab Syifa.


"Oh gitu bentar ya" Kata Iqbal. "Han, Riz ada Syifa sama Aisyah nih" Teriak iqbal. Seketika Fariz langsung keluar dari dalam kamar.


"Assalamualaikum" Ujarnya dengan tersenyum pada keduanya.


"Waalaikum salam" Jawab mereka bersamaan.


"Kak ini jaketnya" Aisyah menyodorkan jaket tersebut. "Makasih ya" Tambahnya lagi.


"Iya sama sama"


"Woy han, ini ada Syifa" Teriak iqbal namun Reyhan tetap fokus pada bukunya. "Han, Lo denger gue apa gak sih" Ucap Iqbal kesal.


"Kak Reyhan nya lagi ngapain?" Tanya Syifa.


"Biasa, sibuk sama bukunya" Jawab Iqbal. "Han woy,,, ini Syifa mau ngembaliin jaket Lo" Kata Iqbal. Mendengar apa yang dikatakan Iqbal barusan, Reyhan langsung menutup bukunya lalu berjalan keluar.


"Hai kak" Sapa Syifa. "Ini jaketnya, makasih udah dipinjemin. Kalau kakak ga minjemin aku ga tau lagi deh, pasti waktu itu aku udah bingung harus apa. Masak iya kalau aku jalan harus aku tutupin terus. Pasti kalau ketahuan, aku bakal dibully habis habisan sama orang orang. Sekali lagi makasih ya kak"


"Hm" Jawab Reyhan. Seketika Syifa mengerucutkan bibirnya.


"Cuma hm doang?" Tanya Syifa. "Kenapa sih kakak kalau jawab cuma hm, iya, nggak. Sekali kali kek kalau ngomong itu panjang lebar. Heran deh, hemat banget kalau ngomong. Nih ya, suara kakak itu gede, kalau gede kemungkinan banyak. Kalau banyak bakal lama habisnya, kalau habis nanti aku yang tanggung jawab. Aku isi suara kakak biar full lagi. Tapi kakak kalau ngomong jangan hemat. Ngebosenin, gak asik tau ga kalau di ajak ngobrol" Celoteh Syifa panjang lebar.


"Emang suara bisa di isi?" Tanya Aisyah pelan.


"Kalau ga bisa ya dibisa bisain" Jawab Syifa.


"Tuh fa omelin aja reyhannya, gue juga heran tiap hari diem Bae tu orang" Timpal Iqbal. "Ga bersyukur dianya. Udah bisa ngomong, ga dimanfaatin baik baik. Kalau beneran bisu baru tau rasa" Ujar Iqbal yang tak bisa mengontrol mulutnya. Reyhan melotot tajam ke Iqbal. "Tuh fa, dia melototin gue" Adunya pada Syifa.


"Kak Reyhan jangan melotot gitu. Serem tau" Kata Syifa.


"Bodo" Gumam Reyhan.


"Tapi tetep ganteng kok" Lanjut Syifa dengan cengirannya.


"Emang ya good looking selalu dibela" Gumam Iqbal.


"Kak Iqbal cemburu?"


"Cemburu apa?"


"Kak Iqbal pengen dibilang ganteng juga ya..." Goda Syifa. "Suruh bilang ke Lina aja kak"


"Lina? Yang ada belum apa apa dia udah maki gue habis habisan" Jawab Iqbal malas.


"Mulai sekarang Lo kalau ke sekolah pakai jaket ya, biar ga kedinginan" Ucap Fariz.


"Aku ga punya jaket. Eh maksudnya punya,,, tapi ga aku bawa ke pesantren" Jawab Aisyah.


"Ya udah ini pakai aja jaket gue. Kalau perlu ambil aja" Ujar Fariz dengan menyodorkan jaketnya.


"Nggak, nggak usah kak" Tolak Aisyah dengan menggelengkan kepalanya.


"Ga papa, ini itu udah mulai masuk musim penghujan. Kalau lo ga pake jaket lo bisa kedinginan. Kalau Lo kedinginan Lo bisa sakit"


"Aelah, sejak kapan Lo perhatian gitu sama cewek" Sindir Iqbal. "Si Ghea biasanya minta ini itu Lo cuek aja"


Fariz melotot pada Iqbal, membuatnya berdecak sebal. "Demi apa Lo semua melototin gue ha?!"


Fariz kembali menatap Aisyah. "Aisyah,,, ini" Kata Fariz masih setia menyodorkan jaketnya.


Aisyah menggeleng mantap. "Gak usah kak, gak usah"


"Udah Syah, terima aja. Kapan lagi kan dapat jaket gratis dari artis sekolah" Ujar Iqbal. "Itu kalau gue jual, udah jadi rebutan cewek cewek"


"Udah Syah ambil aja. Bener kata kak Iqbal" Timpal Syifa.


"Ga- Gak usah. Beneran gak usah. Ya udah kak aku pamit dulu ya. Sekali lagi makasih kak"


"Ya udah kak Reyhan, kak Iqbal, kak Fariz kita pamit dulu ya" Kata Syifa membuat ketiganya mengangguk.


"Assalamualaikum" Ujar mereka berdua.


"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.


Lantas Aisyah dan Syifa segera pergi menjauh dari mereka.


"Aisyah" Panggil Syifa dengan merentangkan tangan kanannya. Seketika Aisyah menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" Tanya Aisyah.


"Itu tu lihat" Kata Syifa dengan menunjuk sesuatu. Membuat Aisyah langsung melihat ke arah yang ditunjuk Syifa.


"Si Sasa ngapain beresin bajunya, kayak orang mau pindah"


"Ga tau" Jawab Aisyah dengan mengedikkan bahunya. "Ya udah kita ke kamar yuk"


"Bentar bentar Syah, gue masih penasaran nih.. si Sasa sebenarnya mau ngapain" Ucapnya yang masih teliti mengamati Sasa.


"Fa,,, kebiasaan deh ngintipin orang" Gumam Aisyah mengalihkan pandangan Syifa.


Syifa menghela pelan. "Kalau gue gak ngintip, gue gak bakal tahu sebenarnya Sasa mau ngapain"


"Tapi ngintip itu ga baik lho fa"


Syifa memegang kedua pundak Aisyah. "Emang Lo ga penasaran sasa ngapain beresin bajunya ke koper sama ke tas kayak gitu?!" Tanya Syifa. Aisyah terdiam sejenak. Ah, Syifa malah membuatnya menjadi penasaran sekaligus ingin tahu.


"Ya,, ya penasaran sih...Ta-Tapi kan.."


"Nah kalau gitu..."


"Ngapain kalian disini?" Bentak seorang gadis membuat keduanya terkejut, dan secara refleks mereka menoleh ke arah sumber suara.


"Ngagetin aja sih sa" Ujar Syifa dengan mengelus dadanya.


"Kalian berdua ngintipin gue, ha?!" Bentak Sasa.


"Iya kenapa?"


"Ngapain sih kalian ngintipin gue? Ga ada kerjaan aja Lo berdua" Kata Sasa.


"Namanya orang ngintip itu pasti penasaran, Kalau gue kepanasan gak bakalan gue ngintipin lo. Kalau gue kepanasan pasti gue udah cari kipas atau AC saat ini. Gimana sih"


"Udah udah sana sana kalian pergi aja. Gangguin gue aja" Usir Sasa.


"Udah ya sa gue kesini bukan mau cari masalah sama Lo. Gue mau tanya boleh?!" Ucap Syifa.


"Ga"


"Oke, kenapa bajunya semua Lo beresin? Mau pindah?" Tanya Syifa.


"Fa,, tadi kan ga boleh tanya" Bisik Aisyah.


"Apaan sih kepo banget jadi orang" Ujar Sasa.


"Denger ya kepo itu menambah informasi, pengetahuan dan wawasan. Jadi kepo itu penting!!" Jawab Syifa.


"Lo mendingan pergi deh dari sini. Pergi pergi!!" Usir Sasa dengan mendorong tubuh Syifa.


"Eeitss,, santai.... Santai aja. Ga usah dorong dorong. Gue gak akan pergi sebelum Lo jawab pertanyaan gue"


Sasa memutar bola matanya. "Gue mau keluar pesantren. Puas Lo?!" Bentak Sasa


"Beneran?!" Tanya Syifa yang tak percaya.


"Udah deh, dari pada Lo tanya hal kayak gini ke gue, mendingan Lo urusin temen temen Lo yang gak bener. Apalagi ini,,, temen yang malu maluin" Ujar Sasa dengan menunjuk Aisyah.


"Apa? Temen gue? Gak bener? Lo kali yang ga bener. Terus Lo bilang apa? Aisyah malu maluin? Yang ada Lo yang bikin malu. Tinggal di pesantren tapi ga punya akhlak" Kata Syifa.


"Diem Lo" Bentaknya lagi.


"Kenapa? Gak suka? Mulut mulut gue juga"


"Fa,, udah. Ayok pergi aja" Bisik Aisyah.


"Gak Syah, urusan gue belum kelar" Jawab Syifa.


"Heh sa, sebenarnya gue gak terlalu kaget denger Lo mau keluar pesantren.Karena apa? Karena gue yakin modelan orang kaya Lo ga akan betah tinggal di pesantren" Lanjut Syifa lalu berlari kencang menjauh dari mereka.


"Dasar berengsek Lo fa" Teriak Sasa.


"Heh Syah, bilangin sama temen temen Lo. Biar ga bikin masalah Mulu sama gue" Ujar sasa berkacak pinggang.


"Iya sa, maafin Syifa ya"

__ADS_1


"Ogah banget!!" Jawab Sasa. "Ya udah ngapain Lo masih di sini. Pergi!!" Bentaknya.


"Iya. Assalamualaikum" Ujar Aisyah lalu berjalan cepat menjauh dari Sasa.


"Dasar!!" Gumam sasa lalu kembali masuk ke kamarnya.


•••••


"SIAPA YANG UDAH BUAT TOILET LAKI LAKI BAU??!!" Teriak Bu Desi membuat seisi kantin terkejut.


"Et dah buset. Udah suara kayak toa mesjid pake teriak teriak lagi. Mau buat kuping gue budeg apa" Gumam Iqbal dengan menutupi kedua telinganya.


"Kalo ngomong dijaga" Tegur Reyhan.


"Iya bal. Gimanapun Bu Desi guru kita. Jadi kita harus hormati beliau" Timpal Ilham.


"Untung aja gue gak punya penyakit jantung, kalau punya udah loncat loncat ga karuan jantung gue" Gumamnya.


Bu Desi berjalan menuju tengah tengah kantin, membuat semua mata tertuju padanya. "Siapa yang udah buat toilet laki laki jadi bau" Tanya Bu Desi dengan memandang setiap orang yang ada dikantin.


"Kalau gak ada yang ngaku ibu akan hukum siapapun itu pelakunya untuk membersihkan toilet laki laki selama tiga hari" Tegasnya membuat semua orang tidak bisa berkutik. Bu Desi menatap santai Iqbal yang tengah asik menyantap sotonya. Dia berjalan ke arah Iqbal.


"IQBAL!!" Teriaknya membuat Iqbal terlonjak kaget dengan secara refleks ia mengelus dadanya.


"Atau jangan jangan kamu dalang dibalik ini semua" Ketus Bu Desi. Bukannya apa tapi entah kenapa Bu Desi mempunyai feeling bahwa Iqbal lah pelakunya.


Iqbal melotot tak terima. "Ibu jangan suudzon deh sama saya. Dosa Bu. Buat apa saya ngelakuin itu. Ga ada kerjaan lain" Jawab Iqbal.


Bu Desi kembali mengarahkan pandangan ke semua orang. "Kalau kalian ada yang tau siapa yang sudah membuat toilet sekolahan bau, segera lapor ibu" Tegas Bu desi lalu ia berjalan keluar kantin.


Tak lama dari kepergian Bu Desi, Fariz datang. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak.


"Habis dari mana riz? Aisyah?" Tanya Iqbal


"Ghea" Jawab Fariz.


"Di ajak ngapain lagi Lo sama Mak Lampir"


"Biasa, di ajak makan bareng"


"Eh Riz, tadi Bu Desi kesini. Ngamuk ga jelas, gara gara toilet bau. Lo tau siapa yang buat toilet jadi bau"


"Lo kali"


Iqbal berdecih. "Temen sama guru gak ada bedanya"


Fariz mengambil es teh milik Iqbal. Lalu menyeruputnya. "Itu minuman gue..." Ujar Iqbal berusaha merebut minumannya.


"Minta dikit. Pelit banget jadi temen" Ketus Fariz.


"Hampir habis gini Lo bilang dikit. Banyak ini ma.."


"Kalau habis ya tinggal beli lagi. Ribet amat jadi orang" Jawab Fariz. "Eh Han, nanti abis pulang sekolah anter gue ya" Lanjutnya lagi dengan menatap Reyhan.


Reyhan mengangguk. Ya, tidak seperti orang orang yang kalau diajak harus bertanya. Kemana? Mau ngapain? Beli apa? Dan lain sebagainya. Selama Reyhan tidak sibuk kenapa tidak.


"Mau kemana?" Tanya Iqbal.


"Kepo banget jadi orang" Jawab Fariz.


"Kenapa gak ngajak gue aja"


"Males"


Iqbal membuang nafas kasar. "Oi ya gue mau jualan cokelat dulu" Ujarnya.


"Dimana?!"


"Disini lah. Nih ya gue kasih trik and tips biar jualan jadi laris manis" Katanya. "COKELAT COKELAT...ABANG ABANG, MBAK MBAK, ADEK ADEK SEMUANYA AYO DIBELI COKELATNYA. COCOK BUAT NYEMIL ATAU DIKASIH KE ORANG TERCINTA. BIAR LEBIH SO SWEET. AYO AYO DIBELI" Teriak Iqbal namun tak ada yang membelinya. Mungkin sudah bosan karena hampir setiap hari mereka membeli cokelat di Iqbal.


"Mana?! Ga ada yang beli" Ucap Fariz dengan nada mengejek.


"Lo Liat aja ini..." Iqbal menarik nafas panjang, lalu secara perlahan membuangnya. "AYO DIBELI, KALAU BELI DAPET TANDA TANGAN FARIZ. KALIAN JUGA BISA FOTO NIH SAMA IDOLA SEKOLAH KITA... TAPI HARUS BELI COKELAT YA....AYO AYO" Teriaknya lagi. Dan benar saja, tak lama para cewek sekolahan mengerubungi Iqbal untuk membeli cokelatnya. Sedangkan Fariz melotot tak terima karena dirinya yang harus di jadikan korban.


"Kak beneran boleh Poto sama kak Fariz" Tanya seorang gadis.


"Iya boleh, sepuas kalian." Jawab Iqbal. "Semuanya tenang ya, pasti bakal kebagian cokelat kok" Tambahnya lagi menenangkan para cewek yang kini berdesak desakan.


Sedangkan Reyhan memilih untuk pergi dari sana. Merasa risih oleh para cewek yang juga ikut memintanya untuk berfoto.


"Kak boleh Poto sama kak Reyhan juga ga?" Kata seorang gadis.


"Iya boleh, sama si Ilham juga boleh. Atau mau sama gue juga boleh" Jawab Iqbal tenang sembari melayani para cewek yang tidak sabaran.


Kak Reyhan boleh minta Poto ga?


Reyhan minta tanda tangannya dong


Kak Reyhan Poto sama aku aja yuk


Ih Lo jangan dorong dorong gue


Kak Fariz, tanda tangan dong kak.


Fariz Poto sama aku aja


Ih yang sabar dong!! Gue juga mau Poto sama Fariz. Gak usah dorong dorong.


Kak Fariz boleh minta potonya ya


Seketika kantin menjadi sangat berisik. Reyhan terus membelah lautan manusia cantik yang mendadak terbentuk. Tak peduli entah berapa tangan yang mencegahnya agar tidak pergi. Setelah berhasil, Reyhan segera berlari. Atau kalau tidak cewek cewek itu akan mengejarnya. Ah, sial. Semua itu karena iqbal.


Reyhan berhenti berlari, ia berusaha menstabilkan nafasnya yang ngos ngosan. Lalu mengusap keringat di keningnya.


"Kak reyhaann!!" Teriak seorang gadis membuat Reyhan membalikkan badannya. Gadis itu lagi, mau apa dia? Reyhan kembali melangkah santai, tak mempedulikan gadis yang terus memanggil dan mengejarnya.


"Kak Reyhan!!" Cegah Syifa dengan merentangkan kedua tangannya. "Kenapa ga berhenti, aku kan udah capek capek ngejar kakak"


"Kalau capek ga usah dikejar" Jawab Reyhan.


Syifa mengerucutkan bibirnya, namun tak lama ia kembali tersenyum. "Oh ya ini aku bawain minum" Kata Syifa dengan menyodorkan air mineral di genggamannya.


Reyhan mengamati air itu lekat lekat. "Ga usah" Jawabnya.


"Ih kak, gak usah malu malu. Ambil aja" Jawab Syifa.


"Hai Han" Sapa Naira yang baru saja datang. Reyhan hanya tersenyum singkat.


"Ini gue beliin buat Lo" Ujarnya juga dengan menyodorkan sebotol air minum. Membuat Syifa yang melihatnya secara perlahan menurunkan tangannya.


Reyhan terdiam sejenak. Lalu ia mengambil botol milik Naira, membuat gadis itu tersenyum gembira. "Thanks" Ujar Reyhan.


"Oke"


Reyhan meneguk air itu hingga habis, sedangkan Syifa, tentu saja saat ini dia cemburu juga merasa sakit hati. Syifa menghela pelan dengan menundukkan kepalanya.


"Lo ngapain di sini?" Ketus Naira yang tak dijawab oleh Syifa. "Reyhan ga butuh perhatian Lo" Tambahnya lagi.


Syifa melirik Reyhan. Bahkan Reyhan pun sama sekali tak melihat apalagi memperhatikannya saat ini. Seperti hanya dianggap nyamuk olehnya.


"Han kita ke kantin yuk" Ajak Naira.


"Gue mau ke kelas" Jawab Reyhan.


"Ikut ya"


Reyhan mengangguk pelan. Lalu ia berjalan santai menuju kelasnya, dengan Naira yang berjalan di sampingnya. Syifa menatap kepergian mereka berdua. Andai Naira tidak kakak kelasnya, sudah ia marahi habis habisan tadi. Syifa menghela pasrah. Dia menatap air minum yang ada digenggamannya dengan tatapan kosong.


"Hei..."


Syifa mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum kecut.


"Kenapa mukanya sedih gitu" Tanya Adit.


Syifa menggeleng pelan.


"Dit,, ini buat Lo aja" Ujar Syifa dengan menyodorkan air mineral.


"Wah makasih banyak fa" Jawabnya. Syifa mengangguk pelan.


"Lo udah makan?"


Syifa menggeleng.


"Makan sama gue yuk. Gue yang traktir"


"Eh gak usah"


"Ga papa. Nanti kalau kamu sakit gimana?!"


"Ga usah dit. Makasih. Gue ke kelas dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Adit. Syifa melangkah pergi dengan pikiran yang masih tertuju pada Reyhan dan Naira.


•••••


21.05

__ADS_1


Dinda menutup bukunya. Semua tugas sudah ia kerjakan. Baiklah, sekarang tinggal memasukkan semua buku yang akan ia bawa besok. Dinda membuka tasnya, mengeluarkan buku pelajaran tadi pagi lalu menggantinya dengan buku yang sesuai dengan jadwal pelajaran besok.


Pandangan Dinda terhenti pada kertas hijau muda yang tak sengaja terjatuh dari bukunya. Lantas Dinda langsung mengambilnya, ia membolak balikkan kertas itu namun tidak ada tulisan yang tertera. Setelah itu ia membuka lipatan dari kertasnya. Di pojok kanan tertulis Untuk Dinda dengan tulisan kecil.


Surat dari siapa ini? Batinnya. Secara perlahan Dinda mulai membacanya dari awal hingga akhir.


***Dari Aku*** ***Yang Mengagumimu***


Teruntuk kamu yang terikat kuat dengan hatiku,


Aku tahu, aku bukanlah angin yang selalu berdesir membawa ketenangan untukmu,


Apalagi menjadi alasan di setiap kebahagiaanmu, tentu bukan aku,


Dan aku bukanlah obat yang menjadi penawar disetiap kesedihanmu,


Tetapi aku pastikan tentang kebaikan akan selalu melekat pada dirimu,


Karena hanya doa doa kecikulah berharap menjadi arti yang besar untukmu,


Dan menjadi makna yang sangat berarti, dariku yang mengagumi,


Dinda mengerutkan keningnya. Dari aku yang mengagumimu? Siap dia? Dan,,, Dinda benar benar tidak mengerti dari arti surat tersebut.


"Apa itu Din?" Tanya Syifa membuat Dinda secara refleks menyembunyikan surat dibalik badannya.


"Ng-Nggak apa apa kok"


"Coba lihat dong"


"Bukan apa apa kok fa"


"Sini lihat, ga usah pake disembunyiin gitu"


Dinda menggeleng. "Nggak fa"


"Kalau dindanya ga mau ya udah jangan dipaksa" Ketus Lina.


Syifa mengerucutkan bibirnya. "Yah gak asik" Katanya.


Dinda terdiam dengan wajah yang masih kebingungan. Benarkah surat itu ditujukan untuknya? Atau yang dimaksud Dinda dalam surat itu adalah Dinda orang lain, bukan Dinda dirinya?!


•••••


Sudah 5 menit bel berbunyi, namun Bu Ita masih sibuk menjelaskan dipapan tulis.


"Bu, belnya udah bunyi" Ujar Dava.


"Oh ya?!"


"Iyaa..." Jawab murid serempak.


"Kok ibu ga denger ya" Ucap Bu Ita.


"Makannya kuping harus rajin dibersihin Bu" Jawab salah satu murid laki laki. Tidak sopan.


"Baik kalau begitu kita akhiri pelajaran pagi ini dengan bacaan hamdalah"


"Alhamdulillahi robbil'alamiin" Ujar murid serempak. Seketika semua murid berhamburan pergi keluar kelas.


"Aisyah Lo puasa?" Tanya Syifa.


Aisyah mengangguk.


"Ya udah kalau gitu gue duluan ya"


"Iya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Aisyah kembali membuka bukunya, mengulang materi yang tadi diajarkan. Karena besok hari Senin sudah ada ujian tengah semester.


"Aisyah"


"Eh fa, kok balik lagi? Ga jadi ke kantin?" Tanya Aisyah.


Syifa mendekatkan wajahnya ke telinga Aisyah. "Ada kak Fariz" Bisiknya.


Aisyah mengerutkan keningnya. "Kak Fariz?!"


"Iya. Sana temuin"


Aisyah terdiam lalu mengangguk.


"Ya udah gue ke kantin ya"


"Iya"


Syifa tersenyum, lalu beranjak berdiri dan pergi, saat ia sampai di ambang pintu, Syifa tersenyum dan mengangguk pada seseorang. Mungkin Fariz.


Aisyah menghela pelan, lalu ia berdiri. Berjalan menuju pintu.


"Assalamualaikum" Ujar Fariz.


"Waalaikum salam. Udah lama kakak ada disini"


"Nggak juga"


"Ada apa kak?" Tanya Aisyah.


"Gue mau kasih sesuatu sama Lo"


Aisyah mengangkat kedua alisnya. "Se-Sesuatu?"


"Iya. Ikut gue yuk!"


"Kemana?!"


"Iku aja" Jawab Fariz yang langsung berjalan pergi dengan Aisyah yang mengikutinya dari belakang.


Hingga sampailah mereka di taman belakang. Tempat yang sepi, sunyi dan jauh dari keramaian. Namun justru memberikan kesan nyaman dan damai.


"Duduk" Perintah Fariz.


"Ada apa kak?!" Tanya Aisyah setelah duduk disamping Fariz.


"Nih..." Ujar Fariz dengan menyodorkan kotak biru tua.


"Aku lagi gak ulang tahun kak" Ucap Aisyah.


"Emang ulang tahun Lo kapan?"


"Masih lama"


"Iya kapan"


"15 April" Jawab Aisyah.


Fariz terdiam. Baiklah 15 April, akan Fariz ingat baik baik.


"Iya gue tahu"


"Tahu apa?" Tanya Aisyah.


"Tahu kalau ini bukan hari ini ulang tahun Lo"


"Terus ini apa?"


"Gue cuma pengen kasih ini aja ke Lo" Ujar Fariz. "Nih ambil"


Aisyah terdiam dengan menatap kotak biru tua dihadapannya. "Aisyah ambil aja"


"Eh iya..." Aisyah mengambil kotaknya.


"Nggak dibuka?" Tanya Fariz.


"Harus dibuka sekarang?"


"Iya biar gue tahu Lo suka apa nggak" Jawab Fariz.


Secara perlahan Aisyah membuka kotaknya. Alisnya saling bertautan saat mengetahui isinya.


"Jaket?" Tanya aisyah.


"Iya. Gimana Lo suka?" Tanya Fariz dengan menatap Aisyah.



"I iya suka kak,,, Ta-Tapi ini..."


"Ya udah kalau suka jangan lupa dipakai ya"


"Kak, kakak ga usah repot repot beliin aku jaket. Gini aja, kalau aku punya uang nanti aku ganti" Kata Aisyah.


"Ga usah. Gue emang sengaja beliin jaket buat Lo, jadi jangan lupa dipakai ya"


Aisyah terdiam, lalu tersenyum singkat. "I-Iya kak. Makasih ya" Ujarnya yang juga dibalas senyuman oleh Fariz.

__ADS_1


...******...


__ADS_2