Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Salah Paham


__ADS_3

"BAIK ANAK ANAK, KITA AKHIRI PELAJARAN PADA HARI INI DENGAN BACAAN HAMDALAH"


"ALHAMDULILLAHI RABBIL'ALAMIIN..." Ucap para murid serentak.


Mereka langsung berjalan keluar kelas. "Fa, kalau kamu mau pulang,,, pulang aja. Aku ada urusan" Ujar Aisyah.


"Oh iya iya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Syifa.


Aisyah langsung berlari keluar kelas, berusaha mengejar sheren. Setelah dekat, Aisyah memegang pergelangan tangan gadis itu. Sontak membuat sheren sedikit kaget. "Sheren ikut aku"


"Kemana?"


"Udah ikut aja"


"Nggak! Gue ga mau" Ketus sheren.


Aisyah langsung menarik paksa tangan gadis itu lalu menbawanya ke toilet. "Lepas!!" Sheren menepis kasar tangan Aisyah. "Ngapain sih Lo bawa gue ke sini? Udah gue bilang kan, gue ga mau ikut Lo!!" Ujarnya lalu berjalan pergi. Namun Aisyah menahan langkahnya.


"Sheren tolong dengerin aku,,"


"Emang siapa Lo?? Udah gue mau pergi!!"


Aisyah memegang erat pergelangan tangan sheren, lalu mendorong paksa tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam toilet lalu menguncinya dari luar.


"AISYAH!! KURANG AJAR BANGET YA LO!! KELUARIN GUE!" Teriak sheren dengan menggedor gedor pintu toilet.


"MAAF SHEREN!! AKU PERGI DULU!!" Jawab Aisyah lalu berlari pergi.


"Eh eh,,, AISYAH!! BUKAAAK...!!" Teriaknya lagi. "Heh,, kurang ajar tu anak. Awas aja, gue bales Lo!!" Geram sheren. "Eee terus gue harus ngapain di sini??"


Aisyah menghentikan langkahnya di belakang tubuh Kania yang terlihat sedang mengawasi. "Kania"


Kania menoleh. "Syah, gimana tadi sheren"


"Maaf, tadi aku terpaksa ngunci dia di toilet"


Kania terdiam. "Ya udah ga papa. Yang penting dia jangan sampe keluar dulu"


Beberapa menit mereka menunggu, bahkan sampai sekolah sepi. Hanya menyisakan beberapa guru saja yang masih sibuk di dalam kantor. Kania berdecih. "Mereka pantang menyerah banget. Dari tadi ga pergi pergi"


"Mereka ga bakalan pergi kalau belum ketemu sama sheren" Sahut Aisyah.


"Terus kita gimana? Sampai kapan kita nungguin mereka buat pergi?"


"Ah gimana kalau kamu lewat situ aja. Dan bilang kalau sheren udah pulang"


Kania mengangguk. "Iya ya...Oke kalau gitu. Aku kesana dulu"


"Hati hati"


"Iya"


Kania menegakkan tubuhnya. Menormalkan rasa sedikit takut di hatinya. Dia mulai melangkah berjalan keluar sekolah. Saat di depan gerbang, dia menghentikan langkahnya. Melirik dua orang dengan tampang preman tersebut. "Lagi ngapain pak?" Tanya Kania menaruh wajah curiga. Walaupun dia sudah tahu apa yang kedua orang itu cari.


"Lo kenal sheren?" Tanya salah satu yang botak.


"Sheren? Kenal lah. Dia temen sekelas gue. Kenapa?"


"Di mana dia"


"Ya udah pulang lah dari tadi"


"Lo yakin?"


"Sekolah udah sepi begini? Ngapain dia masih ada di sini?!"


"Terus ini Lo? Kenapa masih ada di sekolah??"


"Gue masih ada urusan sama guru tadi" Ujar Kania mencari alasan. Ia memicingkan matanya. "Kalian siapa cari cari sheren? Wah jangan jangan mau buat yang nggak-nggak ya?"


Sontak lelaki berambut gondrong langsung menggeleng kuat. "Nggak, kita om nya."


"Om?? Sheren kok punya modelan om kayak kalian! Ga mungkin,,,"


"Kok ga mungkin?"


"Ya jelas ga mungkin lah. Mana ada om sheren penampilan nya kayak gini? Sepatu kusut, celana robek, kaos lucek kayak gini. Tampang kayak preman. Ih..."


"Oh menghina Lo??" Tanya orang berambut gondrong.


"Ih siapa juga yang menghina??"


"Eh liat ya ni, nanti Lo bakal terpana lihatnya" Lelaki itu lalu mencopot kuncirnya lalu mengibas ngibaskan rambutnya yang panjang sebahu.


"Oh,,, bapak mau syuting iklan iya? Iklan sampo??" Tanya Kania.


"Heh lihat gue kelihatan lebih gagah kan kalau gini?" Tanya nya.


Laki laki yang botak langsung menjitak kepala temannya. "Heh, dari pada lo ladenin cewek ini. Mendingan pulang aja. Sheren juga ga ada di sini"


"Bentar bentar bro, gue lagi pengen ngomong." Jawabnya. "Heh gimana, kelihatan gagah kan?"


"Gagah gagah mbahmu. Rambut gue jauh lebih bagus dari Lo! Nih lihat!" Kini giliran Kania yang melepas ikat rambutnya. "Nih, gini rambut itu. Jauh kan sama punya nya bapak, udah kusut, bau, ga pernah di saampo ubanan pula"


"Enak aja Lo ngomong ga pernah di sampo. Rambut gini gue modalin pake Sunsilk hijab"


Kania langsung tertawa. "Ah, jadi orang ga modal banget. Masa sampo aja pinjem punya nya istri sih"


"Heh pulang atau gue botakin rambut Lo!!" Ancam orang botak itu. "Ya udah kalau gitu, kalau nanti ketemu sheren bilang kalau om nya Dateng nyariin dia." Lanjutnya lalu berjalan pergi.


Setelah keduanya memang benar benar menghilang dari penglihatan Kania, barulah dirinya langsung berlari menghampiri Aisyah lalu berjalan menuju toilet. Kania membuka pintu toiletnya. Seketika sheren yang terduduk di lantai langsung menoleh lega dan berdiri.


Sheren berjalan menghampiri Kania. Matanya langsung terarah pada Aisyah.


PRAAAK


Satu tamparan keras itu mendarat di pipi Aisyah. "KURANG AJAR LO!!"


"SHEREN!!" Bentak Kania membuat sheren terhenyak kaget. "Ngapain nampar Aisyah?"


"Ngapain? Ngapain Lo tanya? Dia udah ngunci gue di kamar mandi Kania. Mana bisa gue tinggal diem gitu aja!!"


"Tapi ga harus nampar bisa?"


"Lo kenapa sih selalu belain dia? Sahabat Lo itu gue apa Aisyah??" Sheren menghentakkan kakinya lalu pergi begitu saja dengan membawa kekesalannya.


"Syah, Lo ga papa?" Tanya Kania.

__ADS_1


Aisyah menggeleng.


"Maafin sheren ya"


"Iya. Aku tahu dia pasti marah banget"


"Aku juga minta maaf."


"Nggak, ga papa. Yang penting, jaga terus sheren"


"Iya. Kalau gitu gue pergi. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


•••••


Reyhan menghampiri Fariz yang baru saja dari masjid pesantren. "Riz,,,"


"Apa?"


Reyhan mengajak Fariz untuk keluar kamar. Berbicara dengannya sekaligus mencari udara segar. "Lo masih marah sama Aisyah?"


Fariz membuang muka. "Ga usah bahas dia"


"Lo masih cinta kan sama dia? Gue kasih tahu, Aisyah itu ga pernah salah. Jadi, ga ada salah dan ruginya kalau Lo minta penjelasan ke dia. Ini, permintaan gue yang terakhir. Terserah, Lo dengan bodohnya tetap diem atau ikut buat menyelidiki kasus ini"


Fariz menatap Reyhan.


"Sebelum Lo kehilangan semuanya. Kepedulian Aisyah saat ini, itu bisa hilang bahkan belum tentu bisa Lo dapetin hanya karena sikap Lo. Sebelum Aisyah menjauh dari Lo Riz. Sebelum Aisyah memutusakan buat ga lagi peduli sama Lo."


"Dan gue tekankan sekali lagi. Penyesalan itu di akhir, bukan di awal. Sebelum semuanya terlambat" Ujar Reyhan lalu menepuk pelan bahu Fariz.


•••••


06.47


"Fa, kamu duluan dulu ke kelas. Aku mau ke toilet" Ujar Aisyah.


"Oh. Oke kalau gitu. Gue pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah. Dirinya langsung berjalan ke arah yang berbeda dari Syifa. Ke arah menuju toilet. Aisyah langsung membuka pintu saat sudah sampai lalu memasukinya.


Beberapa menit berada di dalam, namun saat dirinya ingin keluar pintu toilet tersebut tidak dapat di buka. "Lhah,,, kok ga bisa??"


"AISYAH,, LO ADA DI DALEM YA?" Suara dari luar itu terdengar.


"Iya tolong... Siapapun itu, tolong bukain"


"ENAK AJA BUKAIN. LO KAN KEMARIN UDAH NGUNCI GUE, SEKARANG GANTIAN GUE YANG NGUNCI LO. SELAMAT BERSENANG SENANG DI SANA. GUE MAU PERGI DULU, BAY...."


"Sheren!! Sheren tolong bukain. Ya Allah sheren, kemarin aku terpaksa" Jawab Aisyah namun tidak mendapat jawaban. "Sheren!!"


Sementara itu sheren berjalan menuju kelas dengan puas. Padahal pada jam pertama pelajaran hari ini ada ulangan. Tentu saja itu akan di jadikan sebagai penambahan nilai rapot. Jadi bagi orang seperti Aisyah dan sheren yang selalu memperhatikan nilai, ulangan harian seperti itu penting. Beda lagi sama orang yang ngerjain PR aja ga pernah.


Sheren berjalan memasuki kelas lalu duduk di atas kursinya. "Dari mana Lo?" Tanya Kania.


"Dari toilet" Jawab sheren membuat Kania ber-oh kecil.


Tak lama bel masuk berbunyi. Syifa melihat ke arah pintu kelas. "Aduuh,, Aisyah lama banget ya"


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"


"WAALAIKUM SALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH" Jawab para murid serentak.


"BAIK PAK,"


"Hari ini ada yang ga masuk??"


Semuanya terdiam.


"Oh ini Aisyah kemana?" Tanya pak beni.


"Tadi ke toilet pak" Jawab Syifa.


"Kok belum masuk ke kelas? Harusnya beberapa menit sebelum bel, itu sudah standby di kelas"


"Baik hari ini ada ulangan harian ya anak anak. Jadi silahkan ambil satu lembar kertas untuk mengerjakan. Buku LKS sama buku tulis di kumpulkan di depan"


Syifa mengangkat tangan kanannya ke udara. "Aisyah pak, gimana?"


Pak beni terdiam lalu menghela pelan. "Ya sudah, kita tunggu aisyah beberapa menit lagi. Kalau belum masuk kelas, kita langsung saja mulai ulangannya"


Syifa mengangguk paham. Dia kembali menatap ke arah pintu. "Aduh Aisyah, ayo dong cepetan masuk" Gumam Syifa pelan.


Sepuluh menit kemudian...


"Aisyah belum datang, jadi kita langsung mulai ulangannya. Silahkan bukunya di kumpulkan di depan" Ujar pak beni.


Semuanya langsung berdiri dan berjalan ke arah meja guru. Mengumpulkan buku masing masing. "Pak, apa ga bisa di tunggu lagi?" Tanya Syifa saat dirinya ke depan mengumpulkan buku.


"Kita sudah menunggu sepuluh menit. Jadi, ga bisa di undur undur lagi" Jawab pak beni. "Sudah, mendingan kamu bersiap untuk ulangan"


Pak beni berdiri. "Oke anak anak, kerjakan soal yang bapak tuliskan di papan tulis"


Syifa menghela lesu. Dia berjalan ke arah mejanya. "Aduh,,, Aisyah sebenarnya kemana ya?"


Satu jam berlalu...


"Ayo yang sudah selesai silahkan di kumpulkan"


Ujar pak beni.


"BELUM PAK!!"


"Soal segitu kok lama banget ngerjainnya"


"Yang jadi pertanyaan kenapa kita orang Indonesia di suruh belajar bahasa Inggris pak?" Tanya Tio.


"Bahasa Inggris itu bahasa global, yang sangat umum di gunakan di berbagai negara. Nah, dengan menguasai bahasa inggris itu akan membuat kita merasa aman saat berlibur di negara orang. Selain itu, belajar bahasa Inggris akan membuat kalian lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan" Jelas pak beni.


"Jangankan libur di negeri orang, pengen ke kota sebelah aja ga pernah kesampean" Gumam Tio mengasihani dirinya sendiri.


"Ayo, saya tunggu sepuluh menit lagi. Dan semuanya harus sudah mengumpulkan"


Kania berdiri lalu melangkah ke arah pak beni. Menaruh lembaran kertas tersebut di atas meja guru. "Sudah selesai?" Tanya pak beni.


Kania mengangguk.


"Bagus"


"Pak, saya izin ke toilet"

__ADS_1


"Iya. Silahkan"


"Permisi" Kania membalikkan badan lalu berjalan keluar kelas. Dia mempercepat langkahnya menuju toilet.


Kania berhenti. "AISYAH!!" Panggilnya. "AISYAH LO ADA DIMANA?" Ujar Kania dengan melihat bingung ke arah empat toilet.


"Kaniaaa...." Suara gedoran pintu dan nama orang yang memanggilnya membuat Kania berjalan menuju toilet kedua. Kania menatap pintu yang terkunci dari luar, lantas langsung melepaskan kuncinya dan membuka pintu.


"Alhamdulillah, akhirnya..." Gumam Aisyah bernafas lega.


"Sheren kan yang ngunci Lo?" Tanya Kania. "Maafin sheren ya, sheren emang gitu. Suka bales hal yang sama."


Aisyah menghela pelan lalu mengangguk. "Iya ga papa"


"Ya udah Syah, langsung ke kelas ya. Sebelum ulangan nya selesai"


"Iya"


"Ayok"


Keduanya langsung berjalan cepat menuju kelas. "Assalamualaikum" Mereka berjalan beriringan memasuki kelas.


Pak beni menoleh ke arah mereka. "Waalaikum salam. Dari mana saja kamu?"


"Aisyah tadi ke kunci di toilet pak" Jawab Kania membuat Syifa yang mendengarnya langsung menganga kaget.


"Kok bisa?"


"Mungkin ada orang yang iseng."


"Jadi saya masih bisa ulangan pak?" Tanya Aisyah.


Pak beni terdiam. "Ya sudah, kamu boleh ulangan. Itu soalnya di papan tulis. Nanti saat istirahat kumpulkan di bapak. Cari di kantor guru. Bapak harus ngajar di kelas lain."


Aisyah mengangguk. "Iya pak, terima kasih"


"Syifa, kamu pastikan Aisyah ga nyontek buku"


Syifa mengangguk. "Iya pak, Aisyah itu orangnya jujur kok"


"Iya saya permisi. Jangan lupa buat belajar di rumah masing-masing. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab semuanya.


Aisyah langsung duduk di mejanya. Begitupun dengan Kania. "Aisyah, kok Lo bisa ke kunci di toilet sih? Gimana ceritanya?" Tanya Syifa.


•••••


Aisyah berjalan keluar dari kantor guru saat ulangannya sudah ia kumpulkan di pak beni.


"Aisyah" Panggil Ghea.


Aisyah menoleh melihat Ghea yang berjalan ke arahnya. "Assalamualaikum" Ujar Aisyah.


"Udah udah ga usah pake salam segala"


Aisyah menghela pelan. "Iya mbak. Ada apa?"


"Lo masih kasih makanan ke Fariz?"


"Iya. Kenapa mbak?"


"Heh Lo ngapain sih masih kasih makanan kayak gitu ke Fariz. Fariz juga mampu kali beli makanan kayak gitu. Jadi Lo mendingan berhenti deh" Ujar Ghea. "Buat apa Lo kayak gitu hm? Biar Fariz kayak dulu lagi? Deket sama Lo lagi?" Ghea menggeleng. "Nggak, Fariz itu udah benci sama Lo. Dan dia, susah buat balik lagi kayak dulu."


"Susah, bukan berarti ga bisa mbak," Balas Aisyah.


"Jadi Lo mau terus ngelakuin hal bodoh itu? Asal Lo tahu, makanan yang Lo kasih ke Fariz itu ga pernah sama sekali di sentuh. Kalau ga di kasih ke temennya, ya di buang"


"Di buang ataupun di kasih ke temennya itu tergantung dari kak Fariz. Aisyah ga mau tahu. Tapi mbak, ga selamanya kok kak Fariz bakal bersikap kayak gitu" Jawab Aisyah. "Kalau emang udah ketahuan siapa pelakunya, kak Fariz pasti ga bakalan lagi marah"


"Ketahuan siapa pelakunya? Kan emang udah ketahuan. Kalau Lo pelakunya" Balas Ghea.


"Aku bukan pelaku mbak. Tapi cuma korban. Dan aku ga pernah ngelakuin hal itu. Tapi, Lina lagi nyelidikin semuanya kok"


"Lina?"


"Iya"


"Denger ya Syah, sekuat apapun Lo berusaha buat Deket sama Fariz lagi sekuat itu gue bakal jauhin kalian berdua" Ujar Ghea lalu melangkah pergi begitu saja. Saat ini dirinya ingin pergi ke kantin, namun tak sengaja bertemu Lina. Kebetulan sekali.


"Heh Lo!!" Panggil Ghea.


Lina menghentikan langkahnya. "Ada apa?"


"Lo mau cari bukti penculikan itu. Iya?"


"Iya. Kenapa?"


"Hemh, percuma Lo ngelakuin itu. Sia sia"


"Sia sia? Di kamus gue sih ga ada ya kata itu. Kalau berusaha ga akan ada yang sia sia" Ujar Lina.


"Mendingan Lo mundur. Karena itu ga bakalan bisa buktiin kalau Aisyah ga bersalah"


Lina tersenyum menatap Ghea. Dia maju satu langkah dengan melipat tangannya di depan dada. "Kenapa? Lo takut? Hm?" Tanya Lina.


"Kenapa gue harus takut?" Tanya Ghea balik.


"Karena Lo bersalah!"


Ghea menarik sudut bibirnya. "Atas dasar apa Lo ngomong gitu ke gue?"


"Atas dasar bukti dan ketakutan di diri Lo,," Jawab Lina.


"Gue udah bilang, kalau gue ga takut" Ucap Ghea. "Dan Lo ga bisa sembarangan nuduh gue bersalah selama ga ada bukti!!"


"Iya, gue emang ga ada bukti. Makannya lagi gue cari." Lina menatap tajam Ghea. "Dan kalau sampe terbukti kalau Lo yang bersalah, lihat aja. Mungkin kalau Aisyah, dia bakalan maafin Lo. Tapi kalau gue, ga akan tinggal diem"


"Lo bisa licik? Gue juga bisa. Kalau Lo bisa buat keadaan Aisyah kayak gitu, gue juga bisa. Lebih dari Lo." Lanjut Lina.


Ghea terdiam. "Jadi orang bisanya jangan cuma ngancem!"


"Dan jadi orang bisanya jangan ngejebak orang lain, bahagia di atas penderitaan orang lain dan sembunyi atas kesalahan yang udah di lakuin." Ujar Lina menambahi.


Ghea mendorong tubuh Lina. "Jauhin tubuh Lo dari gue. Najis!!"


"Tenang aja gue udah mandi. In Syaa Allah najisnya juga udah ilang" Balas Lina.


Ghea membalikkan badan lalu berjalan pergi. "Dasar, masih ingusan gitu bisa bisanya ngancem gue."


"HEH SADAR DIRI! LO JUGA MASIH INGUSAN! MBELER KEMANA MANA INGUS LO!" Teriak Lina saat mendengar Ghea yang bergumam pelan.

__ADS_1


...******...


__ADS_2