Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Kebahagiaan Itu Sederhana


__ADS_3

Setelah menerima undangan pernikahan temannya itu, dengan segera iqbal menelepon ilham. "Halo, Assalamu'alaikum ham!!" Ujar iqbal dengan semangatnya.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa bal?"


"Ini, tadi ada paket dateng ke rumah gue. Itu lo yang kirim?"


"Iya kenapa?"


"Ya Allah, jadi beneran nih lo mau nikah? Sama dinda?"


"Iya. Minta doanya ya, semoga di lancarkan."


"Oh ya tentu, masa temen gue ga di doain. Lo kan best prend poreper..." Balas iqbal dengan tertawa. "Jadi itu kainnya buat apa?"


"Buat seragam satu rumah. Tapi nanti pas dateng jangan lupa di pakai."


"Ya iya dong, masa nggak. Ya udah kalau gitu, gue tahu lo pasti sibuk kan ngurusi pernikahan?"


"Nggak juga. Cuma agak deg-degan..."


"Udahlah jangan deg-degan gitu, itu aja ga seberapa di banding nanti kalau lo udah jabat tangan calon mertua lo itu buat Ijab Qabul Abah...weh Masya Allah,,,, yang dulu guru jadi calon mertua." Di balik telepon ilham terdiam, hanya terdengar helaan nafasnya yang panjang.


"Udah jangan nervous, biar lancar waktu ijab qabul. Udahan ya, pokoknya gue pasti bakal doain lo. Yang terbaik..."


"Hm, makasih..."


"Ya... Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Setelah ilham menjawab salamnya, iqbal langsung menutup telepon.


"Tadi telepon siapa?" Tanya lina.


"Ilham."


Lina manggut-manggut.


"Oh ya lin, besok itu kainnya langsung taruh ke penjahit ya..."


"Berarti besok kamu juga ikut dong,, kan di harus di ukur."


"Eemm,,, iya besok kita sama sama ke penjahit. Karena waktunya udah mepet banget."


"Oke."


•••••


08.47


"Bisa ga bu kalau jadi dua hari lagi? Saya ambil hari senin."


Ibu penjahit itu terdiam menimang-nimang mempertimbangkan. "Bisa mbak, tapi senin sore ya. Saya pastikan sudah bisa di ambil semuanya."


Lina mengangguk dengan menyunggingkan senyum. "Makasih ya bu. Kalau gitu saya pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Lina langsung berjalan keluar menuju mobil. Yang di sana sudah ada iqbal dan aluna yang menunggu. "Mau kamu ambil kapan?" Tanya Iqbal saat dirinya sudah memasuki mobil.


"Senin sore, kalau kita mau berangkat kapan mas?"


"Lihat nanti, kalau ga sibuk."


"Selasa bisa ga?" Tanya lina dengan memelas. "Biar punya waktu lebih lama lagi di sana mas,, karena ga mungkin kan cuma sehari dua hari, itu mana cukup buat melepas rindu. Lagi pula kan aku juga ga tahu kapan bisa kumpul kumpul lagi kayak nanti. Ya?!"


Iqbal terdiam dengan mengetukkan jari telunjuknya ke arah kemudi mobil. Berpikir.


"Iya coba aja nanti bisa ga hari selasa, kalau ga bisa hari Rabu. Ya?!"


Lina mengangguk. "Iya...Tapi di usahain ya bisa..."


"Iya saayaaang..." Jawab iqbal dengan tersenyum lalu mulai menyalakan mesin mobil. Kakinya mulai tencap gas secara perlahan.


"Nanti ke kantor?"


Iqbal melirik lina sekilas. "Jam sepuluh ada rapat penting."


"Em...gitu,,"


•••••


"Lin!! linaa....!"


"Ada Apa?"


"Tau berkas yang aku taruh di meja ga?"


"Berkas apa?" Tanya lina balik.


"Itu berkas penting banget lin, hubungan kerja sama dengan klien yang untung banget bagi perusahaan kita." Jelas iqbal.


"Kamu yakin taruh di atas meja sini?"


"Ya"


"Coba cari lagi deh, aku cari di tempat lain." Ujar lina yang langsung keluar dari kamarnya. Mencari berkas penting itu di ruang keluarga dan ruang tamu. Namun nyatanya, yang di cari tak kunjung ketemu.

__ADS_1


"Gimana lin? Ada?" Tanya iqbal menghampiri.


"Nggak..."


"Hh haduh..." Lirih iqbal dengan memijat keningnya. "Itu kalau sampe hilang bahaya,,, bisa bisa rugi perusahaan kita."


"Tanya aluna mas,,," Saran lina.


"Aluna mana paham berkas kaya gitu lin, dia masih kecil."


"Coba aja, siapa tahu dia lihat kertas di meja


kamu."


"Aluna mana?"


"Main di belakang rumah." Jawab lina membuat iqbal langsung bergegas ke sana. Sedangkan ia berjalan mengikuti dari belakang.


Dari jarak lima meter, langkah keduanya terhenti. Melihat aluna dan kevin yang tengah bermain kertas dan membentuknya menjadi berbagai macam bentuk. Jantung iqbal langsung menggebu, dia takut kalau kertas yang di gunakan kedua bocah itu adalah berkas penting miliknya. Langkahnya tergesa-gesa untuk menghampiri aluna dan kevin. Dan saat sudah sampai iqbal berjongkok di depan keduanya.


"Kalian lagi buat apa?" Tanya iqbal.


"Ini yah,,, aluna sedang membuat pesawat telbang. Bagus kan ayah??" Jawab aluna dengan menunjukkan hasil karyanya.


Iqbal mengulum senyum dengan mengambilnya. Kertas yang sudah membentuk pesawat terbang itu langsung iqbal rubah dan jabarkan hingga hanya tersisa lekukan lekukan di kertas tersebut. Matanya membulat sempurna saat melihat kertas itu. Benar saja ternyata, kertas itu berkas penting miliknya.


Dia langsung mengambil kertas bentuk lain yang sudah jadi, lalu melakukannya seperti tadi. Dan lagi, dia yakin sekarang, kalau semua kertas yang di gunakan aluna dan kevin untuk bermain adalah berkas penting miliknya.


Amarah iqbal langsung memuncak, bagaimanapun ini sangat penting. Matanya menatap tajam ke arah aluna. "Dari mana, aluna dapat kertas ini? Jawab yang jujur!!" Tanya iqbal pelan, namun tegas.


Aluna menatap ayahnya dengan bergidik ngeri. "Meja..." Ucapnya halus.


"Meja kerja ayah?"


Aluna mengangguk takut.


Mendengar jawaban itu membuat iqbal menarik nafas panjang dengan mengepalkan tangannya. Lina yang sejak tadi berdiri, kini di landa ketakutan. Bagaimana kalau iqbal marah dengan aluna? Bagaimana kalau suaminya itu berkata kasar terhadap putrinya? Ini memang masalah sepele, tapi justru hal itu menimbulkan masalah besar.


"Kenapa aluna ga bilang dulu??!"


Aluna menunduk.


"Bukan salah aluna om..." Tiba tiba kevin menyahuti. "Aku yang salah, tadi aku yang nyuruh aluna buat ambilin kertas biar kita bisa main bareng."


"Kevin! Diem dulu, Om ga tanya kamu,,,!" Balas iqbal dingin. Moodnya benar benar hancur kali ini. "Kenapa aluna?!" Tanya iqbal lagi dengan nada sedikit keras.


"Mas..." Panggil lina ingin menenangkan.


"Lo juga diem lin!!" Potong iqbal. "Ayo jawab ayah, kenapa ga bilang dulu? Kenapa ga minta izin? Apa ini yang ayah bunda ajarkan, mengambil barang orang tanpa izin boleh atau ga?!" Ujar iqbal yang amarah sudah menguasai tubuhnya. Dia memang tidak membentak, namun terdengar jelas sekali kalau iqbal marah, membuat aluna dalam diam menangis ketakutan.


"Maaf ayah..." Ucap aluna dengan gemetaran. Dia takut ayahnya akan melakukan hal yang tak biasa kepadanya.


"I-Iya...Ayah...." Panggil aluna. "Maaf..."


Iqbal menghembuskan nafas kasar. Marah, kesal benar benar semuanya membuat moodnya hancur berkeping-keping hari ini. Dia langsung memilih berdiri dan berjalan kembali ke dalam rumah.


"Mas Iqbal!!" Panggil lina namun tak di gubris oleh sang suami.


"Bunda..." Panggil aluna menatap bundanya dengan mata yang sudah di penuhi air mata. "Aluna minta maaf bunda..."


Lina menghela pelan. "Minta maaf sama ayah ya sayang,,, udah jangan nangis." Lina menghapus air mata putrinya. Dia menggandeng dan mengajaknya ke dalam rumah.


Sementara itu kevin hanya bisa terdiam. Rasa bersalah juga ada pada dirinya. "Maaf ya aluna, harusnya aku juga di marahin, bukan kamu doang. Kita kan sama sama salah..." Gumam kevin pelan.


Dari ruang keluarga, lina melihat iqbal yang berjalan cepat keluar dari rumah. Tangannya membawa jas hitam yang biasa di pakai saat ke kantor. "MAS...!!" Panggilnya. "Mas Iqbal!!"


Iqbal menghentikan langkahnya di dekat pintu. Tak lama, aluna dan lina ada di depannya. "Mas, mau kemana?"


"Ke kantor, ada rapat." Jawab iqbal seadanya lalu kembali berjalan, namun langkahnya di tahan oleh sang istri. "Mas, aluna mau..."


"Gue ga punya waktu lagi!" Potong iqbal. Tanpa mempedulikan keduanya, ia langsung pergi berjalan keluar rumah. Sikapnya kali ini begitu dingin.


Melihat sikap ayahnya yang tak seperti biasa, membuat aluna mencengkram erat jemari lina. "Bun..."


Lina menoleh. "Ayah malah ya sama aluna? Aluna minta maaf bun..." Ucapnya dengan muka sedih. "Aluna tidak mau kalau ayah jadi tidak menyayangi aluna."


"Nggak sayang. Ayah tetep sayang sama aluna, ayah cuma butuh waktu, ya...?!" Jawab lina menenangkan.


•••••


Siang berganti sore, dan sore berganti malam. Malam kini semakin larut, namun iqbal sama sekali belum pulang sejak pergi tadi. Lina menatap layar ponselnya. Di sana tertulis jam


21.18, kenapa lama sekali? Padahal sejak tadi aluna menunggunya untuk pulang, untuk meminta maaf.


Lina duduk di atas sofa ruang tamunya. Dia menghela berat. Termenung.


Suara pintu terbuka membuat nya terkejut bukan main. Menampakkan sesosok iqbal yang datang. "Mas kapan datang?" Tanya lina dengan berdiri. "Kok aku ga denger suara mobil kamu?" Lagi lagi dia bertanya. Padahal biasanya dia akan mendengar suara mobil iqbal saat datang, namun kenapa kali ini sama sekali tak terdengar?


Iqbal berjalan mendekat. "Buatin kopi."


"Iya." Jawab lina yang langsung menjalankan perintah suaminya.


Sedangkan iqbal terduduk di sofa, menaruh jasnya begitu saja di sembarang tempat. Tidak ada lima menit dari itu lina datang dengan menaruh secangkir kopi di depan suaminya. Dia kembali duduk di samping iqbal. Matanya menatap lama wajah letih laki laki yang ada di sampingnya.


"Mas..."


"Hm."

__ADS_1


"Kamu masih marah?" Tanya Lina. Namun iqbal memilih untuk terdiam dan menikmati secangkir kopi itu.


"Aluna tadi nunggu kamu lhoh,,, dia mau minta maaf. Tapi karena lama, sampai akhirnya dia ketiduran."


Iqbal menghela panjang mendengar itu. "Mas, kamu masih marah sama aluna?" Tanya lina lagi.


Dia menoleh, lalu menggeleng. Tersenyum menatap istrinya. "Aku ga bisa marah sama aluna." Jawabnya.


"Aku juga minta maaf. Karena kesalahan aluna, itu juga kesalahan aku." Ujar lina. "Apa mungkin aku gagal buat mendidik dia??"


"Hsssst...Aku ga suka kamu ngomong kayak gitu. Bukan gagal, tapi emang aluna yang masih terlalu kecil. Udah, jangan nyalahin siapapun. Apalagi diri kamu sendiri, ga ada yang salah..." Ucap iqbal.


"Tapi soal proyek kerjasama itu gimana?"


"Kamu juga ga usah mikirin itu. Urusan perusahaan, itu urusan aku. Nanti juga aku bakal mikirin solusinya, ya?! Udah kamu tenang aja..." Iqbal menghela berat dengan memijat keningnya. Lina hanya terdiam memperhatikan suaminya. Pasti dia sekarang kebingungan bagaimana mengatasi masalah ini.


"Apa aku tadi kelihatan kasar sama aluna lin?" Tanya iqbal.


Lina menggeleng. "Nggak, cuman sikap kamu yang dingin tadi, buat aluna takut."


Iqbal manggut-manggut. Iya karena tadi dia memang benar benar emosi. Dan bagaimanapun, dia sudah menahan emosinya mati matian untuk tidak kasar terhadap putrinya, walaupun memang tadi dia benar benar kesal.


Dalam islam, marah merupakan hal yang di larang karena memang merugikan diri sendiri dan orang lain. Banyak pula di dalam Al-Qur'an dan hadits yang menjelaskan bahwa kita haruslah menahan amarah. Karena marah sejatinya berasal dari bisikan setan. Begitupula saat kita berhadapan dengan anak, janganlah berteriak dan memarahinya. Menasihati dan menunjukkan bahwa yang di lakukan sang anak itu salah, mungkin akan lebih baik. Tahanlah emosimu dengan beristighfar sebanyak mungkin, atau dengan mengambil air wudhu. Dalam Quran Surah


Al A'raf ayat 200:


وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚإِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


"Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui."


Dan dari Abu Hurairah RA:


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ


Artinya: "Dari Abu Hurairah RA bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, "Berilah wasiat kepadaku." Sabda Nabi SAW: "Janganlah engkau mudah marah." Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, "Janganlah engkau mudah marah." (HR Bukhari)


•••••


Keesokan harinya saat aluna terbangun, gadis kecil itu langsung berjalan mencari bundanya. Namun langkahnya terhenti saat melihat iqbal dan lina yang tengah sarapan pagi berdua. Dia memandang ayahnya takut. Apa Ayah masih malah? Batinnya bertanya. Nanti kalau ayah tidak mau belbicala lagi dengan aluna bagaimana? Dia kembali bertanya dalam hati.


"Aluna..." Panggil lina yang melihat putrinya hanya terdiam melihat mereka berdua "Kenapa diam di situ sayang, ayo makan."


Iqbal langsung berdiri dan berjalan mendekati aluna, dan putrinya hanya menunduk pasrah bila akan di marahi lagi. Namun dugaannya salah, ayahnya malah menggendong dan mencium pipinya sebanyak dua kali. Memancarkan senyuman dan tatapan kasih sayang terhadapnya. "Kenapa diam hem?" Tanya iqbal.


"Ayah tidak malah?"


Iqbal menggeleng.


"Nggak." Jawabnya dengan duduk kembali dan memangku aluna di pahanya. Mata polos aluna menatap wajah iqbal.


"Yakin? Ayah sudah tidak malah lagi?! Ayah tidak akan cali anak lain kan?"


Iqbal mengerutkan keningnya. "Cari anak lain gimana?"


"Iya,, aluna tadi mimpi ayah cali anak lain. Telus anak itu jadi anak ayah. Telus ayah tidak sayang lagi sama aluna, kalena ayah malah. Aluna minta maaf ayah..." Ujarnya tulus. Namun iqbal malah tertawa lepas.


"Maksutnya ngadopsi anak gitu? Ya Allah aluna, kenapa harus ngadopsi anak...kan ayah udah punya anak sendiri. Kalau mau lagi..." Iqbal melirik lina. "Kalau mau lagi, nanti tinggal ayah bikinin sama bunda."


Mendengar itu langsung membuat lina melotot tajam.


"Ayah dan bunda bisa membuat anak??" Tanya aluna bingung.


"Sebenarnya yang buat anak itu Allah, tapi usahanya ada di ayah dan bunda. "Jawab iqbal.


"Calanya?"


"Caranya gampang kok, tinggal ke kamar ber..."


Lina menggebrak meja. Membuat keduanya terkejut "Mas!! Jangan ajari aluna macem macem lhoh!!" Kesal lina tak terima. Tapi lagi lagi iqbal malah tertawa.


"Kenapa sih lin? Orang gue cuma kasih tahu." Jawabnya santai. Lina hanya geleng geleng kepala mendengar itu, dia langsung berjalan dan menggendong aluna. Membawanya untuk duduk di pangkuannya.


"Sayang udah ya, kalau mau tanya sesuatu jangan sama ayah. Sama bunda aja..." Ujar lina memberitahu.


"Memangnya kenapa bunda?"


"Jawaban ayah itu salah semua, ga ada yang bener."


"Memangnya ayah dulu saat sekolah bodoh ya bunda?" Pertanyaan aluna membuat Iqbal tersedak.


"Nggak! Nggak! Ayah pinter... orang selalu masuk rangking lima belas besar kok!" Elaknya.


Lina tersenyum sinis. "Orang masuk lima belas besar di kelas aja bangga. Padahal dulu total muridnya juga ga ada tiga puluh dalam satu kelas. Iya kan?"


Mendengar itu iqbal langsung cemberut. "Iya tetep aja kan pinter. Tapi gue nya aja yang ga mau mengakui kalau gue itu pinter, makannya dulu itu pura pura goblok."


Lina berdecih. "Tau ah. Terserah ya mas...Kamu mah apa aja bebas." Ujarnya dengan menyuapi aluna roti yang sudah di olesi dengan selai cokelat.


•••••


"Karena kebahagiaan itu sederhana. Cukup berada di tengah orang orang yang benar-benar menyayangimu, menerimamu apa adanya, mengerti keadaanmu dan selalu melukiskan senyum di wajahmu. Karena hakikat kebahagiaan bukan di ukur dari seberapa banyak uangmu, seberapa banyak temanmu dan seberapa sukses dirimu saat ini."


- Iqbal -


"Jangan pernah mengukur kebahagiaan orang lain dengan kebahagiaanmu. Itu tidak akan pernah sama. Kalian mempunyai porsi yang berbeda. Cukup lihat apa yang sudah kamu miliki, lalu syukuri. Karena rasa syukur, akan mendatangkan kebahagiaan dengan membawa begitu banyak arti."


- Lina -

__ADS_1


...*******...


__ADS_2