
"Fa, ga istirahat?" Tanya Aisyah.
"Ga Syah, Lo aja. Gue mau tidur. Ngantuk" Jawab Syifa dengan lesu.
Tadi malam ada sholawatan untuk para santriwati di aula pesantren. Membuat mereka harus tidur hampir larut malam. Tadi saja saat pelajaran berlangsung, Syifa berusaha mati Matian untuk menahan kantuknya. Meskipun ia sama sekali tidak mendengar penjelasan dari guru. Ya karena dia duduk di meja paling depan, kalau saja dia duduk di meja paling belakang pasti bisa tidur sepuasnya.
Aisyah mengangguk. "Ya udah, aku duluan ya. Assalamualaikum"
"Hmm,, waalaikum salam" Jawab Syifa dengan setengah tidur setengah sadar.
Aisyah langsung berjalan keluar kelas, dengan membawa buku novel dan sebungkus roti. Istirahat ini, ia akan pergi ke taman belakang untuk membaca buku. Dengan sesekali menyomot roti, itu akan lebih nikmat.
Aisyah menghentikan langkahnya saat melihat Sasa duduk di salah satu bangku taman. Tumben pikirnya. Gadis itu, dia menangis dan belum tersadar akan Aisyah yang melihatnya. Mungkin hari harinya akhir akhir ini terasa berat. Dia sendirian, mungkin tidak ada teman.
Aisyah kembali melangkah dan duduk di samping Sasa. "Ngapain Lo di sini?" Ketus Sasa setelah mengetahui Aisyah yang duduk di sampingnya.
"Aku sering kok datang ke sini. Kamu? Ngapain? Tumben?!" Tanya Aisyah.
"Bukan urusan Lo" Jawab sasa dengan menghapus air matanya.
Aisyah menatap Sasa. "Kamu laper? Mau roti ga?" Tawar Aisyah.
"Ini kalau mau..." Aisyah menyodorkan sebungkus roti miliknya.
Sasa melirik roti di tangan Aisyah, dengan tangan kanan yang memegangi perutnya. Dari kemarin malam ia belum makan. Semenjak ayahnya di penjara, dirinya harus hidup lebih hemat lagi. Walaupun itu sulit untuk di lakukannya karena memang ia sudah terbiasa dengan kehidupan mewahnya yang dulu.
Dengan kasar Sasa mengambil roti Aisyah. Lalu langsung membukanya, dan hendak melahapnya. "Baca bismillah dulu.." Ujar Aisyah mengingatkan.
Sasa melirik Aisyah sekilas. "Bismillah.." Gumam sasa membuat Aisyah tersenyum.
Dengan cepat dan lahap Sasa memakan roti tersebut. "Pelan pelan makannya" Ucap Aisyah.
"Dwiem Lwo..." Ujar Sasa dengan mulut penuh roti.
Selang beberapa detik saja, roti tersebut sudah habis dimakan Sasa. Sasa berdiri. "Lo ga usah Deket Deket gue lagi" Ujarnya.
Aisyah mendongakkan kepalanya menatap Sasa. Lalu dirinya pun ikut berdiri. "Kenapa?"
"Jangan Lo pikir karena Lo baik sama gue, gue mau temenan sama Lo!" Ujar Sasa lalu beranjak pergi.
•••••
Fariz berjalan dengan langkah cepat, ingin mencari Aisyah. Entahlah, saat ini dirinya merasa kangen saja dengan gadis itu. "Fariz...."
Fariz menghentikan langkahnya. Tampak Ghea sedang berlari ke arahnya. "Riz, mau kemana?" Tanya Ghea.
"Cari Aisyah. Kenapa?"
Ghea menghela pelan. Apa hati Fariz saat ini memang hanya ada Aisyah. Tapi kenapa harus gadis itu? Gadis yang saat bersanding dengan Fariz saja tidak pantas. "Riz, ini gue bawain salad buat Lo"
"Ga usah!"
"Riz, gue mohon. Terima ya" Ucap Ghea memohon. "Riz, apa Lo masih kecewa sama gue? Gue minta maaf, gue janji bakal belajar jadi orang yang lebih baik lagi. Gue juga janji ga bakalan sakitin Aisyah lagi"
"Jadi maafin gue ya... pliss"
Fariz mengangguk mengerti dengan tersenyum manis. Bagaimanapun Ghea tetap sahabat dan teman masa kecilnya. Fariz juga tidak bisa terlalu marah dengan gadis ini.
"Iya gue maafin. Tapi janji jangan bikin gue kecewa lagi ya"
"Iya, gue janji!" Ghea tersenyum riang menatap Fariz. Membuat kecantikan gadis itu menjadi bertambah apabila tersenyum. "Ya udah, makan ini ya.."
Fariz mengangguk. "Mau makan dimana?"
Ghea mengedarkan pandangannya. "Duduk di situ aja"
"Iya"
Keduanya langsung berjalan, dan duduk berdampingan.
Ghea membuka tutup kotak bekalnya. "Mau di suapin?" Tanya Ghea.
"Eh, emangnya gue anak kecil. Ga lah. Malu di lihatin orang"
Ghea tertawa kecil. "Dulu aja Lo manja banget sama gue. Apa apa minta di suapin. Inget banget deh masa kecil kita..."
"Ya itu karena Lo satu satunya temen cewek yang gue punya..." Jawab Fariz dengan melahap salad yang diberikan Ghea. "Heem,, ini Lo bikin sendiri?"
Ghea mengangguk. "Iya. Enak ga?"
"Enak kok. Gue pikir Lo ga bisa masak"
"Ya emang ga bisa. Tapi kan bikin ini gampang, ga pake ribet" Jawab Ghea.
Ghea terdiam, dengan tersenyum. "Kenapa Lo senyam senyum?" Tanya Fariz.
"Gue jadi inget masa kecil kita deh Riz. Dulu Deket banget ya..." Ujar Ghea.
Tapi sayangnya, sekarang udah ga. Kita udah ga sedeket dulu Riz. Batin Ghea.
"Dulu? Emang Lo rasa sekarang kita udah ga Deket?" Tanya Fariz.
Ghea hanya terdiam mendengar pertanyaan cowok yang duduk di sampingnya. "Denger ya Ghea, sampai kapan pun Lo akan terus jadi sahabat gue. Lo akan selalu ada di hidup gue, karena dari dulu sampe sekarang Lo yang selalu nemenin gue. Dan gue juga pasti ga bakalan lupa sama lo."
Sayangnya cuma sahabat Riz, bukan lebih. Batin Ghea.
"Lo aja ngikutin gue kemana mana, gimana ga Deket? Gue sekolah di sini, Lo juga ikut ikutan. Kalau seumpama habis ini gue mau lanjut ke luar negeri, Lo juga mau ikut?!"
"Ya habisnya gue pengen Deket terus sama Lo. Masa Deket sama temen sendiri ga boleh?!"
Mereka terus berbincang bincang, dengan Ghea yang selalu menceritakan masa kecil mereka. Membuat mereka sesekali tertawa mengingat masa kecil yang begitu indah. Tak sadar, bahwa sedari tadi Aisyah memperhatikan mereka. Tadinya Aisyah ingin kembali masuk ke kelas setelah dari taman belakang, namun tanpa sengaja melihat mereka yang saling berbincang seru. Apalagi? pastinya saat ini Aisyah cemburu melihat kedekatan mereka. Namun apa boleh buat, tapi memang mereka sangat cocok. Dan Aisyah, harus mengakuinya.
•••••
"Ehm ehm..." Sasa menoleh ke samping dengan memutar bola matanya malas.
Terlihat Lina dan Syifa yang berjalan mendekati Sasa. "Nungguin angkot?" Tanya Lina dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ngapain sih Lo ke sini?" Tanya Sasa nyolot.
"Mana mobil sultan Lo?"
"Pergi Lo berdua!" Usir Sasa.
"Udahlah Lin, pergi aja yuk. Ga usah di ladenin manusia kayak gini ma.." Kata Syifa
"Bentar fa, gue lagi pengen ngobrol sama anak sultan. Iya ga?" Lina tersenyum miris. "Gue mau tanya sama Lo? Gimana rasanya dihina? Ga enak kan? Sakit kan?"
"Makannya jadi orang itu jangan suka hina yang lainnya. Jangan suka sombong. Sebelum Lo ngomong yang nyakitin hatinya orang lain, ada baiknya lagi kalau mikir dulu. Jangan ceplas ceplos!!" Ketus Lina menatap tajam sasa.
"Lo diem ya! Gue di sini, bukan mau dengerin ceramah Lo. Lagian, gue mau naik angkot, jalan kaki, naik mobil. Itu bukan urusan Lo. Jadi tutup mulut Lo. Ngerti?!" Gertak Sasa.
"Gue ga ngerti lagi ya sama Lo. Kapan sih Lo sadar ha? Udah dibikin susah kayak gini, masih aja sombong!"
"Heh heh heh heh,, ngapain Lo di sini?!" Tanya Iqbal yang tiba tiba muncul.
"Lo? Ngapain sih di sini?!" Tanya Lina.
"Kalian ngapain di sini? Mau hina dia?" Tanya Iqbal dengan melihat sekilas Sasa lalu menatap Lina dan Syifa.
Dengan refleks Syifa langsung menunjuk Lina. "Lina nih kak..."
Iqbal mengayunkan tangannya ke depan. Membuat angkot berwarna biru menghentikan lajunya. "Naik gih..." Perintahnya pada Sasa.
"Iya. Makasih....kak" Ujar Sasa.
Iqbal mengangguk.
Sasa tersenyum dengan menatap Iqbal. Dirinya memang tidak tahu alasan lelaki itu membelanya di depan Lina dan Syifa, namun jujur saat ini dirinya senang masih ada yang peduli dengannya. Sasa menaiki dan masuk ke dalam angkot, tak lama angkot itu pun kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Sedangkan Lina menatap Iqbal kesal. Padahal ia masih ingin berbicara pada gadis itu. Ya dengan sesekali menyindirnya agar dia cepat cepat sadar. Namun,, haah si singa lebay itu merusak semuanya.
"Buat apa sih Lo mau hina dia?" Tanya iqbal.
"Siapa yang mau ngehina dia? Gue cuma mau kasih paham ke dia, biar dia bisa jaga mulut. Ga suka ngomong ini itu yang bisa buat hati orang lain sakit!" Jelas Lina nyolot.
"Nah bener tu.." Timpal Syifa.
"Dasar!!" Gumam Lina yang masih kesal dengan Iqbal. "Ayo fa, pulang!"
Syifa mengangguk. "Kak, Syifa pulang dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal.
Sedangkan Lina langsung membalikkan badannya, tanpa mengucapkan apapun pada iqbal. Dengan cepat Iqbal menarik belakang kerudung Lina, membuat gadis itu langsung menahan kerudungnya agar tidak tertarik ke belakang dan kelihatan rambutnya.
"IH....APAAN SIH LO..!!" Teriak Lina tepat di depan wajah Iqbal. Kali ini kekesalannya bertambah dua kali lipat. Sedangkan Iqbal menutupi kedua telinganya saat mendengar teriakan gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Gila Lo,, jangan teriak teriak. Bisa di kecilin dikit ga volumenya!"
"GAK!"
"Jangan galak galak Lin" Bisik Syifa.
"Ya habisnya ini nih. Nyebelin banget jadi orang!"
"Udah udah. Mana jaket gue?" Tanya Iqbal.
"Udah gue buang!!"
Iqbal melotot. "Gila Lo Lin. Kenapa Lo buang?!" Tanya Iqbal nyolot.
"Bego banget sih jadi orang. Heh, galak galak gini gue juga ga mungkin buang barang punya orang!"
Iqbal menghela lega dengan mengelus dadanya. Itu jaket, adalah jaket kesayangan nya. Ya walaupun sudah lama usianya, tapi justru baginya barang yang sudah lama di pakai itu kenyamanan nya akan bertambah kali lipat. Bagi Iqbal lhoh ya, ga tau kalau sama kalian.
Padahal kalau mau, dia juga bisa membeli jaket keluaran terbaru dengan harga termahal sekalipun. "Terus mana jaket gue?"
"Ya belum kering lah. Lo ga lihat, kemarin seharian hujan terus. Jadi belum kering lah!"
Iqbal manggut manggut paham. "Besok, harus Lo kembaliin ke gue!"
"Bodo amat"
Motor ninja berwarna hijau hitam tepat berhenti di samping mereka. Sedangkan pemiliknya melepaskan helmnya dengan masih naik di atas motor tersebut. Membuat Iqbal langsung terkejut dan menatapnya dengan tajam.
Verel melirik Iqbal sekilas, lalu kembali menatap Lina. Saat ini dirinya sedang tidak mau berdebat dengan siapapun. "Mau pulang Lin?" Tanya verel.
Lina mengangguk. "Iya"
"Mau gue anterin?"
"Ga usah ga usah. Gue pulang sama temen aja"
"Ga papa. Gue anterin. Lagi pula gue pulang juga lewat pesantren Lo"
"Gak gak gak. Apa apaan Lo!" Timpal Iqbal dengan menatap tidak suka verel. Bukan tidak suka karena dia mendekati Lina, karena dari dulu dia memang tidak suka dengan cowok itu.
"Gue bukan ngomong sama Lo!" Ketus verel.
"Heh, si macan ga mau pulang sama Lo. Dia pulang sama gue"
Lina langsung membelalakkan matanya. "Eh eh eh, apalagi sama Lo. Gue juga ga mau!" Ujar Lina nyolot.
"Siapa yang mau pulang sama Lo?!" Tanya Iqbal dengan santainya.
"Lo lah!"
"Kepedean! Mana ada gue bilang gitu"
"Wah kasian banget Lo. Kok udah pikun. Mana masih muda lagi.." ucap Lina.
"Jadi gimana Lin? Temen Lo biar pulang sama Iqbal." Tawar verel.
"Nggak! Gue ga mau"
"Yah, gue cuma jadi nyamuk di sini" Gumam Syifa malas.
"Mendingan Lo boncengin aja si Iqbal. Anterin sampe pesantren. Ayo Syifa..." Kata Lina.
"Eh apa?"
"Pulang!"
"Oh iya. Kapan?" Tanya Syifa.
"Ya sekarang lah? Kapan lagi. Ayok!"
"Eh iya ya. Ayok. Kakak semuanya duluan ya. Assalamualaikum" Ujar Syifa.
"Waalaikum salam" Jawab Iqbal.
Keduanya langsung pergi dengan Lina yang berjalan cepat. "Ah Lin jangan cepet cepet" Kata Syifa.
"Biar cepet sampe...!"
Syifa tersenyum melirik Lina. "Ciee, yang habis di rebutin dua pangeran kaya...!"
"Eh kok kayak kak Reyhan ya? Kak Reyhan juga biasanya bilang gitu. Bisa diem ga?"
Lina terdiam sejenak, mengingat akan sesuatu. "Oh ya, ngomong ngomong soal kak Reyhan nih. Emang bener ya kak Reyhan bakal lomba ke Jakarta?" Tanya Lina.
Syifa menghentikan langkahnya. "Apa?"
"Lo belum tahu?"
Syifa menggeleng pelan.
"Lo tahu dari mana Lin?!"
"Cuma denger dari orang lain sih. Ga tau juga itu bener apa nggak"
"Kok gue ga tahu ya?!" Gumam syifa.
"Lombanya sama cewek yang sering sama kak Reyhan itu. Siapa ya? Yang cantik"
"Kak Naira"
"Nah itu. Sama dua kelas sebelas lainnya. Mereka berempat yang katanya bakal lomba" Lanjut Lina.
"Lo denger dari siapa?"
"Denger dari cewek cewek yang suka ngerumpi in kak Reyhan. Nah makannya gue tanya sama Lo. Kan Lo lumayan Deket sama kak Reyhan?"
Syifa terdiam. "Pantes kak Reyhan kayaknya sibuk banget"
•••••
Seperti malam malam lainnya, mereka selalu menghabiskan waktunya untuk mengaji sisanya untuk mengerjakan tugas dari sekolah. "Syifa jangan bengong ae Lo" Ujar Lina.
Syifa menghela pelan. "Kalau kak Reyhan beneran lomba ke Jakarta berarti selama beberapa hari gue ga bakalan ketemu sama dia dong"
"Halah,, udah itu juga belum pasti" Kata Lina.
Syifa menutup bukunya, lalu memasukkan semua buku pelajaran untuk besok ke dalam tas. "Udah selesai ngerjain tugasnya fa?" Tanya Aisyah.
"Belum. Besok aja kalau sampe di sekolah gue kerjain. Gue mau tidur" Syifa membaringkan tubuhnya di kasur.
"Syifa, di bersihin dulu tempat tidurnya" Ujar Dinda.
"Udah bersih Din"
"Walaupun udah bersih, tetep harus di bersihin. Kalau kita langsung tidur gitu aja, itu salah satu hal yang di sukai setan"
Syifa langsung membangunkan tubuhnya. Melakukan apa yang dikatakan Dinda. "Baca bismillah dulu sebelum dibersihin" Lanjut Dinda.
"Iya. Bismillahirrahmanirrahim" Gumam syifa lalu membersihkan sekaligus merapikan kasurnya dengan kedua tangannya.
"Udah bersih Din. Boleh tidur kan?"
"Kebelet banget deh tidurnya. Baru jam segini juga" Ucap Lina.
"Biarin!" Kata Syifa acuh tak acuh.
"Syifa aku punya dzikir, coba deh baca dulu sebelum tidur!"
Syifa menghela pelan. Mungkin ini resiko mempunyai teman yang ilmu agamanya lebih banyak. Apa apa dinasehati, di ceramahi. Tapi tidak apalah, hitung hitung untuk menambah ilmu agama. "Dzikir apa?"
Dinda mengambil secarik kertas lalu menyodorkannya pada Syifa. "Baca..."
"Allahumma anta Rabbi La Ilaha Illa Anta Khalaqtanii, wa ana 'abduka wa 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu, A'udzubika min syarri ma shana'tu abu'u laka bini'matika 'Alayya, wa abu'u bidzambii faghfirli fa innahu La yaghfiru Adz dzunuba Illa Anta" Baca Syifa. "Itu dzikirnya?"
Dinda mengangguk. "Iya. Barang siapa yang membaca dzikir itu di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore maka ia termasuk penghuni syurga. Dan barang siapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi maka ia termasuk penghuni syurga"
Syifa manggut manggut. "Makasih ya din. Ya udah kalau gitu gue tidur duluan ya"
"Iya.."
Syifa membaringkan tubuhnya, lalu menarik selimut hingga dada. "Jangan lupa baca doa" Ucap Dinda.
"Iya dinda..."
•••••
Keesokan harinya saat istirahat pertama...
__ADS_1
"Assalamualaikum, kak Reyhannya mana?"
"Waalaikum salam, dia pembinaan" Jawab Iqbal. " Ada apa? Kangen ya sama Reyhan?"
"Oh gitu ya kak. Ya udah, Syifa balik lagi aja ke kelas"
"Ga mau ngobrol dulu sama kita?"
"Nggak kak makasih. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab iqbal dan ilham yang ada di sana.
Syifa langsung berjalan keluar dari kelas reyhan. Lebih baik dia pergi ke kantin bersama sahabatnya. "Syifa..."
Syifa menghentikan langkahnya. Dia mendongakkan kepalanya. Tak lama dirinya tersenyum lebar. "Kak Reyhan...ih kakak tadi aku cariin tau"
"Kok tiba tiba kakak ada di sini?"
"Tadi lewat, ga sengaja ketemu Lo. Kenapa mukanya lesu?"
"Ya tadi nyariin kak Reyhan, tapi ga ketemu" Jawab Syifa. "Katanya kakak pembinaan, kok di sini?"
"Udah selesai"
"Kak,,, Syifa mau tanya boleh?"
"Hm"
"Tapi jangan di sini deh. Dikantin mau ga? Syifa haus nih"
Reyhan mengangguk.
Mereka langsung berjalan menuju kantin. Syifa melirik beberapa buku tebal yang dibawa Reyhan dengan beberapa lembar soal yang diselipkan di dalamnya. "Itu buku,,, kakak pelajari semua?" Tanya Syifa.
"Hm"
Kok bisa ya ga pusing belajar buku setebel itu? Kalau gue yang belajar, udah stress mungkin ya. Belum lagi rumusnya. Batin syifa.
Mereka berdua langsung duduk di tempat duduk yang kosong. "Bi Yuni..." Panggil Syifa.
Tak lama bi Yuni langsung berjalan cepat ke arahnya. "Mau pesen apa neng?"
"Jus jambu aja deh bi"
Bi Yuni mengangguk.
"Mas nya mau pesen apa?"
"Ga usah bi. Makasih"
"Ya sudah kalau gitu" Ujarnya lalu berjalan pergi.
Syifa menatap reyhan sekilas, lalu menatap meja yang ada di depannya. "Kak Reyhan emang bener ya mau lomba ke Jakarta?"
Reyhan mengangguk. "Iya"
Syifa menghela pelan. "Kapan?"
"Tanggal 13 mungkin"
"Di Jakarta berapa hari?!"
"Belum tahu"
"Berarti selama beberapa hari kakak ga ada di sini dong? Yah berarti Syifa juga ga bisa ketemu kakak" Ujar Syifa.
Wah kak naira menang banyak nih. Makin lengket dong kalau di Jakarta nanti, apalagi ga ada gue. Batin syifa.
"Doain aja"
"Iya di doain biar kak Naira ga bisa Deket Deket sama kakak..." Ujar syifa. Beberapa detik, dirinya tersadar.
Syifa menatap Reyhan yang mengerutkan alisnya. "Eh maksutnya biar menang, terus selamat perjalanan nya gitu..."
Reyhan mengangguk. "Amiin"
"Kak.."
"Hm"
"Kenapa kakak lombanya sama kak Naira terus?"
"Bukan cuma Naira, tapi juga sama yang lain"
"Iya tahu, maksut Syifa itu.."
"Permisi, ini neng jusnya" Ujar bi Yuni yang baru saja datang.
"Iya Bi makasih"
"Sama sama"
Syifa menyeruput juz jambu yang terasa manis di lidahnya. "Mau kak?!"
"Nggak!"
Syifa mengangguk. Beberapa detik, ia mengucek matanya yang tiba tiba saja kemasukan debu. "Aduuh..."
Kalau yang Syifa sering nonton di sinetron televisi dulu. Dulu, sebelum masuk ke pesantren. Adegan seperti ini itu biasanya si cowok akan meniup mata yang cewek. Tapi mana mungkin Reyhan akan melakukan nya.
Reyhan menatap Syifa. "Kenapa mata Lo?"
Tuh kan, gitu aja ga peka.
Syifa terus mengucek matanya. "Sakit?" tanya Reyhan.
"Iya" Jawab Syifa.
"Sakit apa?"
Syifa mengedip ngedipkan mata kanannya yang kelilipan, berusaha untuk melihat jelas. Walau kini matanya menjadi memerah dan berair. "Kenapa kedip kedip matanya?" Tanya Reyhan lagi.
Syifa menghembuskan nafas kasar. Lihatlah, dia memang sama sekali tidak peka. Urusan pelajaran aja pinter, tapi giliran urusan kayak gini aja begonya minta ampun ya kak Reyhan. Batin Syifa kesal dengan cemberut menatap Reyhan.
"Sakit mata emang ada yang bikin kedip kedip?!" Tanya Reyhan lagi. Entah apa yang dipikiran cowok itu, kenapa dia mendadak bego seperti ini.
"Encok ni, mata Syifa encok!" Ujar Syifa sedikit nyolot dengan menunjuk mata kanannya.
Syifa berdiri dari tempat duduknya. Lalu berjalan pergi. Ayo kak Reyhan, panggil Syifa. Panggil Syifa...suruh Syifa balik duduk lagi. Batin Syifa gemas.
Syifa terus berjalan dengan langkahnya yang amat pelan. menunggu ada seseorang yang memanggilnya. Seperti adegan di film film itu.
1 detik
2 detik
3 detik
Masih belum ada yang memanggilnya. Membuat Syifa pupus harapan. Kayaknya emang ga mungkin. Batinnya lagi.
"Syifa..."
Syifa menghentikan langkahnya. Ia memejamkan matanya dengan tersenyum lebar. Iya,, dirinya tidak salah mendengar kan? Apa benar Reyhan memanggilnya. Kalau untuk suaranya, itu memang suara Reyhan. Mendadak jantung Syifa berpacu lebih cepat, kenapa ya? Tumben.
"Syifa..." Panggil Reyhan lagi.
Syifa membuka matanya. Lalu menghembuskan nya secara perlahan. Syifa membalikkan badannya, menyembunyikan senyuman dari wajahnya. Seperti ini saja sudah membuat Syifa senang.
Syifa menatap Reyhan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Iya tidak jauh, karena Syifa berjalan dengan langkah sangat pelan. Berharap sekali ya dia untuk di panggil oleh Reyhan. "Iya kak?!" Ujar syifa.
Ia berharap Reyhan akan memintanya untuk duduk kembali, atau meminta maaf karena tidak peka. Namun ternyata tidak, sama sekali tidak. "Lo belum bayar jus nya..." Ujar reyhan. Syifa yang sudah senyam senyum dalam hati, kini menjadi kembali cemberut.
Ternyata? Reyhan memanggilnya karena dirinya belum membayar jus? Jauh memang dari yang di harapkan. Syifa menatap Reyhan kesal. Ia berjalan melangkah dengan langkah kaki yang di hentak hentakkan.
"Ini bi..." Syifa menyodorkan uangnya.
"Iya neng makasih"
Syifa mengangguk.
Syifa kembali berjalan, dan berhenti di depan tempat duduk yang masih di duduki Reyhan. Ia menatap Reyhan kesal. "Sebel!" Ujarnya dengan menghentakkan kaki keras. Persis seperti anak kecil yang sedang marah.
Sedangkan Reyhan menatap bingung Syifa. Memang kesalahan apa yang ia perbuat pada gadis itu?
"Gak Peka!" Ucap Syifa lagi. Lalu dirinya berjalan pergi keluar kantin.
...******...
__ADS_1