Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Kesabaran


__ADS_3

"Pendidikan paling utama yang mesti ditanamkan sejak masa anak-anak adalah cinta kepada Alqur’an, karena dengan mencintai Alqur’an anak-anak akan cinta kepada Tuhannya dan Rasul-Nya serta keluarga dan agamanya" Ujar Abah di depan semua para santri.


"Sebagai generasi muda yang taat, kita juga harus menumbuhkan rasa mencintai Al-Qur’an dalam diri sendiri. Karena generasi muda, baik laki-laki atau perempuan memiliki peran yang luar biasa dalam membangkitkan Islam dan kaum muslim. Allah berfirman:


نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى


Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka,dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Qur'an surah Al Kahfi ayat tiga belas"


Dari sekian banyak ummat islam, hanya sebagian yang mau membaca Qur’an …


Dari sebagian yang membaca Qur’an, hanya sedikit yang mau menghafalnya …


Dari sebagian yang menghafal Qur’an, hanya sedikit yang memahaminya …


Dari sebagian yang memahami Qur’an, hanya sedikit yang mengamalkannya …


Dan dari sebagian yang mengamalkannya, hanya sedikit yang istiqamah …


- Mutiara Islami -


•••••


Aisyah terdiam melihat sheren yang sibuk menggeledah tas nya, lalu beralih ke kolong mejanya. Benda yang di carinya memang benar benar tidak ia bawa. Sheren berjalan keluar kelas dengan kesal. Pasti hari ini juga dia akan di hukum panas panasan hormat bendera. Huufft....


"Aisyah, gue ikut upacara ya" Ujar syifa.


"Yakin?"


"Iya, kan sekalian berjemur dapet vitamin D"


Aisyah mengangguk.


"Ya udah kalau gitu"


Syifa berdiri dengan memakai topi upacara di kepalanya. Keduanya langsung berjalan pergi menuju lapangan sekolah. Mereka langsung bergabung di barisan kelas X MIPA 1. Aisyah melihat ke arah sheren, lalu berjalan ke arahnya.


"Sheren"


Sheren menoleh.


"Ngapain Lo?"


Aisyah mengulum senyum dengan menyodorkan topi miliknya. "Kamu pakai topi aku aja"


Sheren terdiam. "Ga usah sok baik ya sama gue"


"Kamu mau ga?" Tanya Aisyah. "Dari pada nanti di hukum"


Sheren kembali terdiam berpikir. "Makasih" Ujarnya jutek dengan mengambil topi Aisyah. "Ya udah, sana pergi!!"


Aisyah mengangguk. "Iya"


Dia kembali berjalan ke arah barisannya di samping Syifa. "Syah, kenapa malah di kasih ke sheren topinya?" Tanya Syifa.


"Udah ga papa"


"Ga papa? Terus Lo gimana? Emang Lo punya topi ganda?"


•••••


"Kok kita bisa barengan ya ga bawa topi" Ujar lina kepada gadis yang berdiri di sampingnya dengan melakukan gerakan yang sama olehnya. Mengangkat satu kaki, lalu membentuk sikap hormat. Aisyah hanya tersenyum dan mengangguk.


"AYO BERDIRI DI SANA!! LAKUKAN HAL YANG SAMA KAYAK MEREKA BERDUA" Ujar Bu Desi tegas.


Tiga orang lelaki langsung berbaris di samping Aisyah. Lina dan Aisyah melirik mereka. "KAKI JANGAN SAMPAI DI TURUNIN" Ujar bu Desi dengan menepuk nepukkan penggaris kayu panjang di telapak tangannya.


"IYAA BU..." Jawab mereka kompak.


"Lo sih jit, kita jadi telat kan" Ujar Gilang menyalahkan.


"Lhah kenapa jadi gue yang salah. Kenapa tadi Lo ga langsung berangkat. Malah main sama ayam gue" Balas Ojit. "Haaa pasti Lo terpana kan lihat chickenky gagah kayak gitu? Mahal itu harganya"


"Halah, itu juga beli pake uang Iqbal" Ujar Gilang. Mereka terus ribut beradu omongan. Hah, kalau saja itu tidak kakak kelas sudah Lina bentak suruh diam dari tadi.


Aisyah menghela panjang. Dia kembali memegang perutnya. Menahan rasa perih yang kembali terasa di lambungnya. Nafsu makannya juga beberapa hari ini menjadi berkurang. Tapi harus tetap di paksakan. Fariz yang juga tadi terlambat dan di hukum berdiri, melirik Aisyah. Menatapnya sekilas lalu kembali fokus dengan kepala sedikit menengadah ke atas. Berusaha untuk menepis rasa kepeduliannya terhadap gadis itu.


Aisyah menundukkan kepala, perlahan kaki kiri yang di angkatnya mulai turun menapak tanah. "KAKINYA DI ANGKAAT!!" Teriak Bu Desi.


Refleks Aisyah kembali mengembalikan posisi badannya. "Lo kenapa?" Tanya Lina pelan.


Aisyah menggeleng. "Nggak papa Lin"


•••••


Saat bel waktu istirahat berbunyi, semua murid langsung bersorak gembira. Sheren berjalan mendekati meja Aisyah. "Nih topi Lo." Ujarnya dengan menaruh topi di atas meja. "Sekali lagi gue ucapin terima kasih. Tapi ya Syah, kalau bisa jangan di depan banyak orang Lo baik sama gue. Lo cuma mau di puji kan??"


Aisyah terdiam enggan untuk menanggapi. Terserah sheren mau berkata apa. "Heh, Lo kalau di tolong ya udah. Jangan mikir yang aneh aneh ya. Pikiran Lo itu cuci biar bersih. Biar pikiran kotornya ilang!" Sahut Syifa. Sheren memutar bola matanya lalu berjalan pergi. "Issh,,, dasar" Desis Syifa.


Dirinya menatap Aisyah yang meringis kesakitan. "Syah, Lo kenapa?" Tanya Syifa.


"Fa, boleh titip makanan ga?"


Syifa mengangguk. "Iya gue beliin dulu. Laper ya Lo. Tungguin ya gue pergi. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Syifa langsung berdiri dan berlari cepat menuju kantin. Pikirnya Aisyah sedang kelaparan padahal tidak.


•••••


"Eh bal, ini lihat deh ayam baru gue" Ujar Ojit dengan menunjukkan foto ayam di layar ponselnya. "Gagah beut kan??"


Iqbal mengangguk kan kepalanya mengiyakan. "Lo kasih nama siapa itu?"


"Chickenky"


"Ha? Apa apa?"


"Chickenky"


Seketika Iqbal langsung tertawa. "Apa itu chickenky? Ayam gagah gitu namanya ga banget! Hahaha"


"Yaelah ini namanya udah jelas jelas bagus. Modern" Jawab Ojit. "Gue ga mau dong ayam bagus bagus kayak gini di kasih nama kayak orang desa. Biar modern dikit, ada Inggris Inggrisnya"


"Terserah Lo" Balas Iqbal tidak terlalu peduli dengan ayam baru Ojit.


Fariz terdiam dengan tangan yang terlipat di atas dada. Pikirannya tertuju saat tadi pagi melihat Aisyah. Apa dia sakit saat ini? Tapi sakit apa?

__ADS_1


"Riz, ke kantin??" Tanya Iqbal.


Fariz langsung menggeleng. "Nggak, gue pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Fariz berdiri lalu berjalan cepat keluar kelas. "Mau kemana ya? Khawatir bener" Gumam Iqbal heran.


Fariz terus berlari menuju kelas Aisyah. Sampai di depan pintu, dirinya menghentikan langkah. Matanya langsung terarah pada meja Aisyah. Yang membuat nya terdiam lama di tempat. Menatap tajam apa yang kini di lihatnya.


Aisyah menatap Devan yang duduk di hadapannya. "Syah, ayo makan. Kalau sakit Lo malah makin parah"


"Kak, tadi udah di beliin Syifa makanan" Jawab Aisyah menolak dengan halus.


Devan menghela pelan. "Syah, Syifa beli makanan belum tentu cepet. Di kantin itu rame, kemungkinan besar bakal antri buat beli. Dengerin gue, lebih cepet Lo makan lebih baik. Apa perlu gue beliin Lo obat?"


Aisyah menggeleng. "Nggak kak. Aisyah udah punya sendiri"


"Obatnya Lo bawa?"


"Nggak"


"Ya udah yang penting ini Lo makan dulu" Ujar Devan memajukan makanannya agar lebih dekat dengan Aisyah.


Aisyah terdiam. Matanya melihat Devan yang tersenyum meyakinkan, saat dirinya mengalihkan pandangan. Tak sengaja melihat Fariz yang berdiri di depan pintu. "Kak..." Fariz langsung berjalan pergi.


Devan mengerutkan kening. Menoleh ke arah yang Aisyah lihat. "Lo manggil siapa?" Tanya devan.


"Oh nggak. Ga ada kak"


Devan tersenyum. "Ya udah, ini makanannya, buruan di makan gih"


"Iya"


Aisyah langsung menyendok nasi lalu memakannya. Sebenarnya dirinya ingin mual. Bukan, bukan karena makanannya tidak enak. Tapi memang setiap mag inilah yang sering dirinya rasakan.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab keduanya.


"Lhoh udah makan Syah. Baru aja gue beliin" Ujar Syifa.


Aisyah langsung memasang wajah tidak enak.


"Terus ini nasinya buat siapa? Masa iya gue yang makan? Sebenarnya mau mau aja. Tapi nanti kalau berat badan gue nambah gimana? Lihat pipi gue udah gede gini" Lanjut Syifa.


"Oh iya fa, mana makanannya. Nanti biar aku makan"


"Tapi itu Lo udah makan"


"Iya nanti kalau laper lagi" Balas aisyah.


Syifa tersenyum. Lalu memberikan sebungkus nasi di atas meja Aisyah. "Makasih ya"


"Oke sama sama" Jawabnya. "Eh kakak ngapain di sini?" Tanya Syifa dengan melihat Devan.


"Cuma pengen ketemu sama Aisyah. Gue pergi dulu ya. Ai,,, itu jangan lupa di habisin. Terus jangan lupa minum obat. Kalau butuh apa apa bilang gue aja" Ujar Devan. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


"Obat? Lo sakit? Sakit apa?" Tanya Syifa sedikit cemas.


"Menurut kamus yang gue baca. Kalau cewek bilang ga papa, artinya ada apa apa. Iya kan Lo sakit?"


•••••


"Bal, di cariin orang" Ujar Gilang.


"Siapa?"


"Ayang beb dooong"


"Yang bener. Siapa?"


"Mendingan Lo temuin aja Langsung" Balas Gilang


Iqbal berdiri lalu berjalan keluar. "Lo? Ada apa?" Tanya Iqbal saat melihat siapa yang datang. "Oh gue tahu, mau bahas soal Fariz sama Aisyah?!"


Lina mengangguk. "Iya"


"Okey. Jadi gimana?"


"Bal, gue kemarin nemuin kontak yang Aisyah ga tau itu kontak siapa. Dan gue curiga itu kontak para penculiknya. Tapi anehnya, kontak itu blokir nomornya Aisyah."


Iqbal terdiam. "Tapi kok bisa ada di ponsel Aisyah. Gimana caranya?"


"Iya itu yang gue belum tahu. Satu lagi kemarin gue denger Ghea lagi teleponan sama orang. Dan gue sempet denger dia kayak bilang uang lima ratus juta. Menurut Lo apa itu ada sangkut pautnya sama kejadian penculikan itu?"


Iqbal kembali di buat diam untuk berpikir. "Ah iya gue baru inget. Fariz bilang orang yang culik adiknya itu minta uang tebusan lima ratus juta kalau mau adiknya selamat" Jawab Iqbal. "Tapi, Fariz bilang uang itu ga jadi di ambil. Soalnya dia udah hajar habis habisan preman preman itu"


"Apa iya gitu? Tapi gue rasa bukan itu. Duh gimana ya maksutnya,,"


Mereka saling terdiam. Di saat itulah Fariz tiba tiba datang dan menatap tajam mereka. Lina yang sedikit terkejut langsung mengulum senyum. Bagaimana kalau Fariz mendengar semuanya?


"Kak..." Sapa Lina.


Fariz menatap mereka secara bergantian. "Assalamualaikum" Ujarnya lalu beranjak masuk ke dalam kelas.


"Waalaikum salam"


Lina termangu. "Bal, tadi kak fariz denger ga ya?"


Iqbal menggeleng. "Nggak tahu gue"


"Bal, kalau soal Ghea mendingan Lo minta saran deh sama kak Reyhan. Biar gimana caranya biar bisa cepet cepet selesai masalahnya. Kepala gue lagi ruwet buat mikir" Ujar Lina.


"Iya"


"Ya udah itu aja. Gue pergi dulu deh, kalau dapet petunjuk lain, gue kasih tahu Lo"


"Iya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Iqbal. Dia menghela pelan lalu membalikkan badan. "Astaghfirullah,, et dah Lo Han. Semenjak kapan Lo ada di belakang gue?? Jin kali ya tiba tiba nongol!!" Ucap Iqbal nyolot.


Reyhan dengan santainya memasukkan tangan kanannya ke dalam saku. "Awasi terus Ghea. Jangan lupa buat ngajak Gilang atau Ojit"

__ADS_1


"Ngapain gue ngajak mereka? Yang ada bukannya gue nemuin bukti, malah ribut sama dua orang itu"


Reyhan hanya terdiam, lalu berjalan masuk ke dalam. "Yah bukannya di jawab malah pergi. Ga tau lagi deh jalan pikirannya Reyhan" Gumam Iqbal geleng geleng kepala.


•••••


22.03


Lina menutup buku tugasnya. Lalu mempersiapkan semua yang akan ia bawa besok. Setelah semuanya selesai ia siapkan, Lina menatap ke arah pintu yang terbuka lebar. Udara dingin terus masuk ke dalam kamar. Lina mulai berjalan melangkah. Saat di ambang pintu, dirinya menatap Aisyah yang sedang melamun bersandar di dinding. Dengan kepalanya yang mendongak ke atas menatap bulan yang perlahan hilang di telan awan hitam.


Lina menepuk bahu Aisyah, membuat gadis itu langsung menoleh. Lalu tersenyum. Bahkan dirinya sendiri tak tahu, mengapa di setiap saat Aisyah selalu memberikan senyumannya. Bersikap seolah baik baik saja. "Syah..." Panggil Lina.


"Iya. Ada apa Lin?"


"Gue udah tahu Syah"


"Tahu? Soal apa?"


"Masalah Lo sama kak Fariz"


Aisyah terdiam. "Lin, kalau gitu tolong ceritain ke aku tentang semuanya yang udah kamu tahu"


Lina mengangguk. Tanpa berbasa basi dirinya langsung menceritakan seperti apa yang sudah di jelaskan Iqbal. Tentu saja membuat Aisyah tercekat dan terkejut. Bagaimana bisa dirinya di tuduh atas kejahatan seperti itu?


•••••


Aisyah berjalan cepat mencari Fariz. Kalau biasanya dia hanya menaruh nasi di meja Fariz, kali ini dia akan memberinya secara langsung. Mengetahui tentang apa yang sudah di ceritakan Lina tadi malam. Aisyah berjalan cepat menaiki anak tangga. Setelah mendapatkan informasi Fariz ada di rooftop, jadilah dirinya langsung pergi ke atas.


"Kak..." Panggilnya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Fariz tanpa menoleh.


"Kak, ini..." Fariz melirik nasi yang biasanya Aisyah berikan padanya.


"Ga usah, mendingan Lo makan aja" Tolak Fariz.


"Aisyah udah tahu kenapa kakak bisa marah."


Fariz terdiam.


"Dan Aisyah ga pernah ngelakuin apa yang kakak tuduhin."


"Apa Lo berani membuktikan apa yang Lo omongin?" Tanya Fariz.


"Saat ini Aisyah emang ga punya bukti kak. Entah seberapa lama itu, tapi suatu saat juga kakak bakal nemuin titik terangnya. Ga akan ada ya,,, kebohongan yang abadi. Aisyah ga tau siapa yang udah ngelakuin itu"


"Gue percaya kalau Lo punya bukti. Satu hal yang harus Lo tahu, gue ga akan maafin orang yang berani menyakiti keluarga gue. Kalau andai bukan Lo, mungkin sekarang udah ada di penjara"


"Allah yang mengetahui semuanya" Balas Aisyah.


Fariz menghela pelan. "Nasi itu, Lo aja yang makan. Gue ga butuh."


"Aku taruh aja ya di meja kakak. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Aisyah berjalan pergi keluar rooftop. Melangkah menuju kelas Fariz dan menaruh nasi di atas mejanya. Matanya melihat Iqbal yang bergerombol di salah satu meja bersama temannya. Entah topik apa yang sedang di bicarakan olehnya.


Aisyah kembali berjalan keluar kelas menuju taman belakang. Saatnya untuk menyendiri di tempat sepi. Menenangkan diri.


Namun saat ini ternyata ada Kania yang terduduk di sana. Gadis itu terlihat cemas. Dan itu jelas terlukis di wajahnya.


"Assalamualaikum"


Kania menoleh. "Waalaikum salam"


"Kania. Kamu kenapa?"


•••••


"Terus kalau gue ga mau ngasih duit itu ke Lo gimana??"


"Heh, yakin? Kalau lo ngalekuin itu, Lo juga yang keseret. Jadi berani?"


"Terserah Lo mau bilang apa. Lagi pula urusan gue sama Lo udah selesai. Gue udah kasih duit sesuai kesepakatan, tapi Lo malah minta lagi. Sekarang bilang sama gue, siapa yang salah?"


"Dulu kan, sebelum kita bersepakat. Udahlah, lo ga usah gangguan gue!"


"Mau ke sini? Silakan aja. Gue ga takut!"


Reyhan menatap Iqbal setelah durasi video itu berakhir. Video yang di ambil Iqbal bersama Gilang. "Gue udah mata matain Ghea tadi. Terus Lo mau gimana?" Tanya Iqbal "Apa video ini gue kasih lihat ke Fariz?"


Reyhan menggeleng. "Jangan dulu, ini belum bisa bikin Fariz percaya. Ghea itu orangnya pinter ngelag. Dia bisa aja memutar balikkan fakta. Jadi kita harus kumpulin bukti sampe bikin Ghea bener bener ga bisa ngomong apa-apa." Jelas Reyhan.


"Pada ngomongin apa dah? Perasaan serius serius amat,," Sahut Gilang yang hanya menjadi nyamuk di antara mereka sedari tadi.


"Lang, video ini jangan sampe ke hapus"Ujar Reyhan


"Kenapa? Buat apa dah video begituan. Memori penyimpanan gue hampir penuh"


"Kalau penuh ya tinggal hapus semua itu game yang ada di hape Lo. Game se-play store Lo download in semua" Timpal Iqbal.


"Kalau sampe kehapus, Lo berurusan langsung sama gue!" Ujar reyhan datar namun dengan nada mengancam.


"Ya elah, jangan dong. Mau buat babak belur muka gue Lo? Udah jelek di tambah jelek. Tega Lo??"


"Lo bilang apa Lang?" Tanya Iqbal.


"Tega Lo?"


"Bukan,,, yang sebelumnya tega"


"Udah jelek malah makin jelek. Itu?"


Iqbal tertawa. "Lhah, udah sadar?? Sejak kapan sih lo sadar kalau jelek?"


Gilang langsung memasang wajah kesal.


"Pokoknya Lo harus terus awasin Ghea" Ucap Reyhan membuat Iqbal mengangguk.


•••••


وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ


Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.


(Q.S Al Ankabut : 3)

__ADS_1


...*******...


__ADS_2