
03.20
Bukan hanya suasana pesantren saja yang sudah ramai, hiruk pikuk di rumah tamu pun begitu. Para istri yang sibuk menyiapkan menu sahur untuk semuanya. Hari ini memanglah hari Senin, dan semuanya akan puasa sunah Senin-Kamis kecuali Syifa yang tengah mengandung.
Untungnya, rumah tamu ini mempunyai dapur kecil sebagai pelengkap. Walaupun di disediakannya dapur ini untuk membuat minuman hangat saja seperti kopi dan teh. Namun tadi malam, Syifa meminta izin untuk meminjam wajan milik ndalem. Ya, walaupun dirinya sendiri jujur tidak enak. Namun dengan senang hati Dinda dan Bu nyai meminjamkannya.
Kini, di dapur...beginilah akhirnya. Para istri istri yang sibuk berkutat dengan masakannya. Sembari mengobrol enteng satu sama lain. Tiba tiba di tengah kesibukan itu, Dinda masuk ke dalam dapur dengan membawakan nasi matang di baskom kecil.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab mereka bersamaan.
"Ini, tak bawain nasi buat sahur." Ujar Dinda. Dia tahu mereka semua akan berpuasa hari ini karena Syifa yang bilang sendiri tadi saat meminjam wajan.
"Wah makasih ya din." Ujar Aisyah.
Dinda mengangguk.
"Ada yang bisa aku bantu mungkin?"
"Oh ga usah, ga usah ini udah mau selesai." Sahut Lina.
"Oh ya udah kalau gitu, aku pamit dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aisyah melangkah menuju ruang tengah. Menggelar karpet kecil. Selepas itu, dia kembali menyiapkan mie rebus yang sudah jadi. Di tata rapi di atas karpet, di susul Syifa yang meletakkan dua piring yang berisi masing masing tiga telur ceplok buatannya dan Lina yang menyiapkan nasi sekaligus membawa beberapa piring kosong.
Mereka kembali memanggil suaminya masing masing. Iqbal yang keluar kamar duluan langsung duduk menempatkan diri asal, tanpa melihat siapa yang ada di sampingnya. Tangannya segera mengambil piring kosong, hendak mengambil nasi. Namun...
"Heh bal minggir! Jangan deket deket istri gue!" Titah Fariz yang baru saja keluar kamar.
Iqbal berdecih. Dia langsung berpindah tempat. "Kenapa sekarang jadi di samping istri gue?" Tanya Reyhan membuat Iqbal menoleh ke arah Syifa.
"Ya kenapa sih emang? Lo kan bisa duduk di sisi kanan istri lo!!" Jawab Iqbal.
"Nggak. Gue duduk di sebelah kanan Syifa, tapi yang duduk di sebelah kirinya itu Lina jangan lo." Jawab Reyhan.
Iqbal berdecak kesal. "Aelah gitu aja rempong lo semua! Sensi amat jadi suami. Ga akan gue embat istri lo pada! Gue udah punya istri sendiri." Lanjut Iqbal dengan nada kesal sembari menggeser tubuhnya.
Tak lama Lina datang dari dapur dan duduk di tempat yang kosong.
Satu persatu mulai mengambil makanan dan melahapnya. Tak terkecuali Syifa. Selesai sahur, Syifa dan Aisyah membereskan semuanya, sedangkan Lina membuatkan kopi untuk ketiga laki laki yang tengah mengobrol santai di ruang tamu. Masih ada waktu lima belas menit sebelum waktu sahur habis, kopi ini mungkin bisa menjadi teman ngobrol mereka.
"Ini kak...mas. Silahkan di minum." Oh ya Lina hanya membuatkan dua kopi untuk suaminya dan Fariz, kalau untuk Reyhan dia memilih untuk di buatkan teh.
•••••
07.20
Di teras rumah tamu itu, Lina sedang sibuk menyuapi Aluna.
"Eh,,, Aluna..." Sapa Syifa yang baru keluar.
"Hai tante..." Balas Aluna tak kalah ramah.
"Nih ayo, satu suapan lagi." Lina mengangkat tangannya dan kembali menyuapi Aluna. "Nah...kalau gitu Aluna di sini dulu ya, bunda mau buatin susu dulu."
"Baik bunda."
"Syifa, jaga aluna bentar ya?!"
"Oke, siap Lin!! itung itung lagi belajar jagain anak." Balas Syifa semangat.
Lina tersenyum. "Makasih, tumben baik."
"Yee...gue emang baik tau dari dulu!" Balas Syifa ngegas dan melotot.
Lina berdiri dengan cengengesan. "Iya iya cipaku sayang!!" Godanya lalu berlari kecil masuk.
"Cipaku sayang cipaku sayang..." Ulang Syifa dengan memajukan bibirnya kesal. Syifa kembali tersenyum. "Aluna,,, main yuk!!"
"Baiklah. Main apa tante cipa?"
"Iihh...jangan panggil cipa, panggil Tante Syifa."
"Iya. Tante Syifa." Ulang Aluna menurut.
"Terus kita main apa nih?"
"Emm..." Aluna mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke arah dagu. Berusaha berpikir. "Bagaimana kalau kita belmain tom and jely?"
"Oh...caranya?"
"Tante Syifa menjadi kucing, Aluna menjadi tikus. Jadi, tante Syifa mengejal aluna sampai dapat. Lalu di makan deh."
"Hih..." Syifa menggeleng kuat. "Nggak nggak... Tante syifa ga mau makan kamu, haram!! Emang tante Syifa kanibal makan daging orang? Nanti malah tante Syifa dimusuhin semua orang lagi, plus di anggap orang gila."
Aluna dengan cepat menepuk keningnya. Ah, apa begitu saja tante di depannya tidak paham? Itukan hanya perumpamaan seperti dunia nyata, di mana saat kucing mendapat mangsa tikus dia akan langsung memangsa dan menyantapnya.
"Tidak begitu Tante. Makannya tidak makan benelan, hanya pula pula saja." Jelas Aluna membuat Syifa ber-oh ria.
"Oke. Ayok...kamu lari duluan. Tenang, pasti ga bakalan ada semenit juga tante udah bisa tangkap kamu." Ujar Syifa dengan PD-nya.
Aluna langsung berlari bebas di halaman luas pesantren. Setelah lumayan jauh, Syifa langsung mengejarnya. Namun...larinya tidak sekencang biasanya, ya karena dirinya yang tengah mengandung.
Ah, namun itu tidak semudah perkirakannya. Aluna bahkan berlari begitu cepat dan lincah, dia seperti kalah cepat dengan anak kecil. "Aluna ih...larinya jangan kenceng kenceng!!" Keluh Syifa dengan berusaha mengejar.
Aluna berhenti. "Ayo tante kejal aluna sampai dapat!" Lanjut Aluna lalu kembali berlari lebih kencang. Dan itu juga membuat Syifa tak mau kalah, dia dengan sekuat tenaga berlari.
"Alu..." Lina terdiam saat tidak mendapati putrinya di teras, pandangannya menatap depan. Terlihat Aluna dan Syifa yang sedang kejar-kejaran di sana. "Ya Allah Syifaa!! STOP!!" Teriaknya. Bagaimana bisa ibu hamil berlari lari kejar kejaran seperti itu? Kalau sampe terjadi apa apa bagaimana?
Syifa menghentikan lajunya. "Ah,,, aduh perut gue!!" Ringisnya dengan memegang perutnya kesakitan.
__ADS_1
Dengan cepat Lina meletakkan susu di atas meja yang ada di teras rumah. Dia berlari terbirit menghampiri Syifa, memastikan semuanya baik baik saja. Lina mencubit pelan lengan Syifa.
"Aduuuh!! Lin...gue lagi sakit ini! Kok malah di cubit??" Tanya Syifa tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Ya lo sih!! Kok bisa bisanya sih lari kayak gitu?" Balas Lina dengan judes. Dia sungguh khawatir.
"Aduh aduh...apa gue mau lahiran ya ini??"
Lina berdecih. "Kandungan aja masih lima bulan gimana mau lahiran!" Lina semakin nyolot. Hanya Syifa satu-satunya teman yang membuatnya emosi. Sungguh! Padahal Aisyah sama Dinda anaknya baek baek, kalem kalem pula.
Aluna yang melihat itu menghentikan larinya. Dia terheran melihat Syifa yang meringis kesakitan. Tanpa basa basi, Aluna berlari menyusul bundanya yang tengah membantu Syifa berjalan ke arah rumah.
"Bunda,,, tante kenapa?"
"Sakit perut." Jawab Lina.
"Oh, pengen pup ya?" Tanya Aluna polos. "Kalau sepelti itu, mali Aluna antal ke kamal mandi tante."
"Aduuh...bukan...bukan mau pup Aluna,,," Balas Syifa yang masih sempat-sempatnya membalas di tengah perutnya yang sedang kesakitan.
Lina mendudukkan sahabatnya di atas kursi teras. Dia menyodorkan segelas susu yang di buatnya. "Ini...minum dulu."
"Susu apa?"
"Ini susunya Aluna."
"Ya kali Lin, gue lagi hamil masak di suruh minum susu anak anak?? Kan harusnya susu buat ibu hamil." Cerocos Syifa.
"Haduh...tapi masalahnya gue ga punya susu ibu hamil. Tapi gimana lo? Masih sakit."
"Udah mendingan ini."
"Syifa," Panggilan Reyhan membuat mereka terhenyak.
"Ya Allah mas salam dulu, Syifa kaget tau... hsss" Dia kembali menahan sakit, membuat Reyhan seketika cemas.
"Kamu kenapa?"
"Ini lhoh kak, masa Syifa main kejar-kejaran?! Lari lari lagi. Padahal itu perutnya udah gede lho karena bayinya kembar...gue aja perut segitu jalan kayak orang abis di sunat." Adu Lina.
Reyhan melihat istrinya dengan muka datar, walau hatinya begitu cemas dan gemas dengan tingkah laku istrinya. "Kenapa bisa lari lari fa? Kamu ga mikirin bayi kamu?" Tanya Reyhan membuat Syifa langsung menggeleng kuat.
"Nggaaak!! Ih mas...mana ada ibu ga mikirin bayinya??!! Mas kok ngomong gitu sih?!" Ucap Syifa tersinggung. Dia langsung berdiri dan berjalan menahan sakit yang masih terasa. Memasuki kamar dengan hati yang begitu dongkol.
"Lhoh lho kok ngamok?" Gumam Lina bingung.
Dengan cepat Reyhan langsung menyusul istrinya ke kamar. Dia menutup pintu, di lihatnya Syifa yang sedang duduk selonjoran di atas kasur. Bibirnya maju ke depan beberapa centi. Ngambek.
Reyhan langsung berjalan dan duduk di samping Syifa. "Kenapa?"
Syifa mendengus. "Syifa lagi bahagia." Ketusnya membuat kening Reyhan berkerut.
"Bahagia kok cemberut?! Ngomongnya juga ketus gitu. Kenapa?"
Reyhan menyungging senyum tipis. Hm, Syifa itu orangnya nggak bisa marah atau ngambek lama lama...lihat saja jurus pamungkasnya.
Reyhan tiba tiba mencair. Dia memegang lembut tangan Syifa lalu mengusapnya pelan. Menciumnya lama. Itu membuat Syifa sedikit luluh, namun dia tetap ingin mengambek.
"Syifa...kenapa kamu ngambek?" Pertanyaan Reyhan begitu lembut terdengar. Sungguh, tidak ada lagi nada dingin dan cuek.
Syifa masih terdiam dengan sesekali melirik suaminya yang tersenyum. Oh tidak!! Dia tidak tahan melihat Reyhan yang tersenyum hangat. Oh Syifa tetep ngambek! Pokoknya lo harus tetep kelihatan marah, biar mas Reyhan tetep cair kayak gini...nanti kalau lo senyum malah dianya beku lagi. Tahan dulu. Oh Ya Allah,,, Batinnya mencoba bertahan agar pertahanan muka murungnya tidak di robohkan oleh senyuman dari Reyhan.
Sungguh, Reyhan memang kadang-kadang terlihat tersenyum...tapi tipis. Syifa juga tidak tahu, kenapa suaminya itu pelit senyum? Padahal jelas jelas istrinya selalu tersenyum setiap saat. Langka lhoh Reyhan tersenyum lebar dengan begitu hangat.
Reyhan kembali mencium tangan Syifa. "Maaf kalau kata kata mas sakitin hati kamu." Lanjutnya dengan mengeratkan genggamannya pada tangan Syifa.
"Oh gapapa kok mas!!" Jawab Syifa dengan tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya. Dirinya baru tersadar ternyata...
"Tuh kan!! Pertahan Syifa jadi roboh deh..makannya mas jangan senyum senyum ah!" Syifa kembali kesal, tapi hal itu justru membuat Reyhan menambah kadar manis dalam senyumannya.
"Ngomong, kenapa tadi malah lari lari?" Tanya Reyhan yang masih menghangat.
Syifa menunduk. "Syifa lupa kalau hamil." Sontak jawaban itu membuat suaminya geleng geleng kepala. Lupa dia bilang? Bagaimana bisa? Perut besarnya sudah segitu di bilang lupa.
"Mas..." Syifa merengek. "Jangan dingin dulu ya?!"
Reyhan terkekeh kecil. "Kenapa?"
"Ya kalau mas dingin lagi itu ga enak aja,,," Jawab Syifa. Ingin rasanya dia terus memberi seonggok api agar seketika kalau Reyhan dingin, dia akan menghangat lagi.
"Mas mas, cium lagi dong." Syifa malah ngelunjak. Ya ga papa sih, sudah halal juga.
Reyhan menurut, bukan mencium tangannya kali ini... tapi pipi isterinya. Oh, Ya Allah
...kecupannya begitu hangat.
Syifa menyeringai puas. "Maaas...Syifa pengen makan ayam goreng nih. Beliin,,,"
"Hm, mas pergi dulu kalau begitu." Reyhan beranjak dari duduknya. Mengambil jaket hitam lalu memakainya.
"Em..mas. Syifa pengen makan yang bagian paha..."
"Ya."
"Eh mas mas...tapi pahanya yang bagian kanan ya? ya ya?"
Reyhan mengernyit. Sekarang katakan, bagaimana dia bisa membedakan antara paha kiri dan kanan?
"Oke." Itu yang keluar dari mulut Reyhan. Dia tidak mau membuang waktu untuk bertanya, Syifa juga pasti tidak akan memberi jawaban yang benar. Dirinya langsung melangkah keluar pergi dari kamar, membeli ayam goreng sesuai permintaan istrinya.
Hampir setengah jam, akhirnya Reyhan kembali, tentu saja membuat Syifa bersorak gembira menyambut kedatangan ayam gorengnya itu. "Yeey!! Mana mana mas.." Syifa merentangkan tangan kanannya meminta.
Reyhan memberi sesuai apa yang istrinya minta. "Ini ayam goreng paha kanan kan?" Tanya Syifa memastikan.
__ADS_1
"Ya."
"Kok mas bisa tahu kalau ini bagian kanan? Tanya penjualnya ya?"
"Hm."
Syifa berdecih. "Tuh kan, udah dingin lagi sikapnya. Jangan jangan api yang bikin mas menghangat itu padam ya gara gara kena angin di jalan?!"
Reyhan memijat keningnya. Dia membalikkan badan dan berjalan keluar.
"Eh mas mau kemana?"
"Ada yang ketinggalan di mobil." Balas Reyhan melanjutkan langkahnya.
"Oh." Itu saja tanggapan Syifa. Dia bodo amat dengan itu semua, dengan lahap lima paham ayam goreng yang di beli Reyhan habis
di sikatnya.
"Hm hm...enak."
"Nih..."
Syifa terlonjak.
"Ya Allah mas, kenapa sih ngagetin terus??" Tanya Syifa rada emosi...namun seketika luluh saat melihat apa yang di sodorkan Reyhan. Sebuket bunga.
Tentu, dengan riang Syifa menerima dengan senang hati. Dia mencium aroma wangi dari setiap bunga. "Mas, buat Syifa kan?"
"Iya"
"Tumben romantis??"
"Itu tadi ada anak kecil jualan bunga, kasihan lihatnya."
"IH! Jadi mas beli bunga ini karena kasihan sama anak itu? Bukan karena pengen romantis sama istrinya?"
Reyhan mengangguk enteng.
"SEBEL!"
Reyhan malah tertawa melihat istrinya itu.
"Ih jangan ketawa!"
"Kenapa?"
"Jelek! Mas Reyhan jelek!"
Reyhan kembali terkekeh karenanya. Orang ganteng seperti ini kok di bilang jelek.
"Ya udah, kalau gitu mas cari istri lain aja yang mau sama mas. Kamu kayaknya udah ga mau karena mas jelek. Hem??" Ujar Reyhan mengangkat kedua alisnya.
"IH MAS!!" Syifa melemparinya bantal. "Sungguh terlalu ya!! Masak mau di poligami sih Syifanya?! Gak Ridho mas! Gak akan pernah ridho!"
Lhah lhah ini kenapa si Syifa malah marah? Kan cuma bercanda, maklum saja karena hamil...ya emosinya tidak menentu.
Reyhan menghentikan tangan Syifa yang terus memukulnya dengan bantal. "Syifa...dengerin mas. Gimana mas mau poligami kalau kamu aja ga bisa mas lupain??!"
Seketika Syifa langsung menahan senyumannya. Ah, semudah itukah mas Reyhan menghentikan amarahnya?. "Mas cuma bercanda tadi." Balas Reyhan. Setelah itu ekspresinya kembali dingin dan datar lagi.
"Syifa."
"Iya?"
"Kamu tahukan kalau sebuah kepribadian sulit untuk di ubah? Kita sulit untuk menjadi orang lain, menjadi diri sendiri itu lebih baik. Sama kayak mas, ga bisa jadi pribadi seperti apa yang kamu inginkan."
"Mas Syifa itu___"
"Sebentar Syifa, mas belum selesai ngomong." Potong Reyhan. "Seperti kamu, orang yang cerewet, ceria dan ga bisa kalem...itu akan sulit di ubah jadi pribadi yang pendiem, dingin dan cuek. Kamu pasti bakal merasa ga nyaman."
Syifa sebenarnya tidak terima di bilang cerewet, tapi dia memilih untuk diam.
"Mas pun sama, ada rasa ga suka saat di paksa untuk berubah jadi orang lain. Yang romantis dan sebagainya."
Mendengar itu Syifa merasa menunduk.
"Tapi___" Reyhan menatap Syifa lekat. "Tapi di balik sikap mas itu, mas punya cara tersendiri buat bahagiain kamu."
Sebenarnya Syifa juga sudah senang melihat perubahan Reyhan dari memanggilnya lo-gue jadi aku kamu. Dia juga sekarang bilangnya "Mas" bukan "gue"
"Maaf kalau Syifa selama ini memaksa." Syifa menunduk dalam. Apa selama ini dia terlalu memikirkan kemauannya hingga tidak memperhatikan apa yang suka dan tidak di sukai suaminya?
"Mas juga minta maaf, belum bisa jadi seperti apa yang kamu mau. Mas paham, kamu saat ini lagi butuh perhatian yang besar." Reyhan menangkupkan kedua tangannya di pipi Syifa. "Satu hal yang perlu kamu garis bawahi dan ingat. Mas, akan selalu membahagiakan kamu dan anak anak kita nanti...dengan cara dan versi mas sendiri yang mungkin ga akan kamu tahu dan mengerti. Paham?"
Syifa mengangguk kalem. Kenapa rasa bersalah merasuk dan mengakar di hatinya seperti ini?
"Apa Syifa berlebihan mas??"
Reyhan menggeleng.
"Nggak. Kamu hanya butuh sesuatu yang di inginkan hatimu... dan buah hati kita."
Mereka terdiam saling menatap.
Tak lama Reyhan mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Syifa. Itu membuat Syifa merasa tenang. Kali ini, Reyhan berbicara bukan seperti sosok Reyhan yang dia kenal. Dari cara, nada dan penyampaian.
Dia...sungguh begitu hangat kali ini. Itu membuat hati Syifa senang, andaikan Reyhan bersikap seperti ini setiap hari, tapi...sangat sulit untuk berharap akan hal itu.
Tok tok tok...
"Syifa..."
...*******...
__ADS_1