Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Keadilan


__ADS_3

5 Hari berlalu, kini kondisi Fariz juga sudah mulai membaik. Lambat laun, energinya sudah mulai terkumpul kembali. Kata dokter juga luka di bagian perutnya sudah hampir mengering, dan mungkin juga beberapa hari kedepan dia akan pulang dari rumah sakit. Semoga saja. Fariz, dia sama sekali tidak terlalu memikirkan sakit di perutnya. Toh, dia juga bisa menahan rasa sakitnya. Namun tidak dengan pikirannya yang terus memikirkan Aisyah. Ya, dirinya tidak bisa menahan untuk memikirkannya. Demi Allah, dia pengen cepat cepat sekolah agar bisa bertemu dengan gadis itu.


"Ya udah kak, kita pergi dulu" Ujar seorang siswi yang menjenguknya. Fariz mengangguk.


"Jaga kesehatan ya. Bay kak..." Ucapnya melambaikan tangan. Fariz hanya membalasnya dengan seulum senyum tipis dan datar. Perempuan itu langsung berjalan keluar ruangan bersama seorang temannya.


Tak berselang lama, Iqbal pun datang. Dia masih mengenakan seragam sekolah lengkap dan tas gendongnya. Mungkin sehabis pulang sekolah, dia langsung ke sini. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Fariz. "Lo kenapa harus datang sih?"


"Oh, Lo ga suka gue Dateng ke sini?" Tanya Iqbal. "Jahat Lo Riz,,, sakit hati gue Lo gituin," Lanjutnya dengan nada orang yang tersakiti. "Padahal kan gue cuma mau lihat keadaan Lo, tapi Lo malah ga mengharapkan kedatangan gue. Tega....."


"Udah udah udah. Lama lama tingkah Lo makin mirip sama ojit dan gilang. Gini ya, kita kan udah tiga tahun berteman, harusnya Lo tahu dong kapan gue butuh waktu buat sendiri kapan juga gue butuh teman untuk menemani."


"Gini ya, orang kalau sedih itu ada dua jenisnya. Pertama orang yang pengen sendiri, kedua orang yang pengen di temani. Nah masalahnya gue ini ga bisa ngerti isi hati Lo, ga bisa ngerti isi pikiran Lo. Lhah kalau gitu mana gue tahu saat ini Lo lagi butuh sendiri" Balas Iqbal menatap Fariz yang terduduk di atas ranjang dengan kaki yang di luruskan.


"Iya iya, sekarang gue pengen sendirian. Lo keluar aja gih"


Iqbal berdecih. "Tau gini ga bakal ke sini gue" Ujarnya dengan membuka salah satu parcel buah yang ada di meja, lalu mengambil satu buah apel. "Gue minta buahnya. Butuh asupan gizi karena hati gue udah tersakiti"


"Ambil aja. Kalau perlu sekalian semuanya. Gue ga butuh buah itu..."


"Widih,,, tapi sayangnya gue ga mau." Ujar Iqbal.


"Fariz..." Mereka berdua terkejut akan kedatangan Ghea yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Fariz menatap tajam Ghea. Ia mengeratkan gigi gerahamnya.


"Ngapain Lo di sini?" Tanya Fariz dingin. "PERGI!!"


"Riz, gue cuma pengen jenguk Lo"


"Gue ga butuh Lo jengukin!! Sekarang gue minta Lo pergi!!"


"Ghea udah, mendingan Lo pergi aja" Timpal Iqbal.


"Riz, plislah izinin gue buat ketemu sama Lo. Sebentar aja"


"Heh, yang Lo lakuin ini kalau bukan ketemu apa??" Tanya Iqbal.


"PERGI GHEA! GUE GA MAU LIHAT LO ADA DI SINI!" Bentak Fariz.


Melihat Fariz yang benar benar marah, Iqbal langsung menarik paksa tangan Ghea. Membawanya keluar dari ruangan.


"Tutup pintunya..." Suruh Fariz.


Iqbal menutup pintu seperti apa yang di minta Fariz. Dia melepaskan tangan Ghea secara kasar. "Gue udah bilang kan sama Lo, jangan pernah berani datang ke sini!"


"Gue cuma mau jengukin apa salahnya?" Tanya Ghea nyolot tak terima di perlakukan seperti itu.


"Ya, emang ga ada yang salah kalau Lo jenguk orang yang sakit. Tapi sadar, kedatangan Lo itu malah buat orang itu tambah sakit. Kedatangan Lo itu malah membuat kerusuhan. Dan kedatangan Lo itu ga di inginkan sama Fariz! Ngerti!!" Ujar Iqbal. "Kenapa? Kenapa Lo tatap gue kayak gitu? Oh, terkagum kagum ya karena gue bisa ngeluarin kata kata pedas yang buat lo tersinggung?"


"Gue akan tetep datang buat jengukin Fariz" Balas Ghea.


"Pantesan Fariz lebih demen sama Aisyah dari pada sama Lo. Sikap Lo aja jauuh dari Aisyah. Coba Aisyah yang ada di posisi Lo, pasti dia bakal mengangguk jawab iya. Karena dia pinter. Bukan kayak Lo, keras kepala otak juga ga di pake. Kalau Lo tetep bersikeras Dateng ke sini, cuma emosi Fariz yang Lo dapet. Dan Lo tahu, emosi itu sangat berpengaruh buat kesehatan. Gimana Fariz mau cepet sembuh kalau dia terus terusan emosi karena Lo. Mikir ga sih Lo itu?? Makannya otak itu di pake dikit, bukan cuma ego aja yang Lo kedepanin!!"


Ghea menatap tidak suka Iqbal, dia berjalan ke arah pintu lalu mengetuknya. "Fariz, dengerin gue ya, gue bakal ke sini lagi kapan kapan" Ujarnya. Mendengar itu Iqbal langsung memutar bola matanya.


"Haduh ga kebayang yang jadi suaminya gimana? Kasian. Bisa stres mungkin" Gumam Iqbal.


"Siapa yang stres?" Ketus Ghea bertanya.


"Lo!!"


"Ga jelas" Balas Ghea lalu berjalan pergi.


"Dasar cewek stres!" Ujar Iqbal dengan duduk di kursi rumah sakit. "Hemh, gue mau makan apel aja ga tenang gara gara dia"


•••••


Fariz menghela pelan saat suara sunyi menyelimuti ruangan kamar inapnya. Hanya suara dari luar yang terdengar. Dia memejamkan matanya, namun belum sepenuhnya terpejam, suara ketokan pintu kembali terdengar membuatnya merasa sedikit kesal.


Tok tok tok...


Fariz menoleh menatap pintu yang tertutup.


Tok tok tok...


Fariz berdecih. Dia memijat keningnya berusaha untuk tidak menggubris siapa orang yang mengetuk pintu tersebut.


Samar, dia mendengar suara pintu terbuka secara perlahan. "Gue udah bilang, mendingan Lo pergi aja!!" Ucap Fariz yang enggan menatap siapa yang datang. Suara langkah kaki terdengar lebih jelas di telinganya.


"Lo ga paham apa..." Saat Fariz alihkan pandangan matanya dari depan menuju orang yang kini berdiri di tepi ranjangnya, hal yang membuatnya terkejut karena dirinya salah kira.


"Kak..." Panggil Aisyah dengan tersenyum.


Jantung Fariz berdegup lebih kencang, bagaimana kalau Aisyah mengira bahwa ia mengusirnya?


"Syah...Lo..."


Aisyah meletakkan kantong plastik hitam berisi buah buahan di atas meja. "Aisyah bawakan buah buahan kak, maaf cuma bisa bawain itu. Kalau ga mau..."


"Gue pasti mau" Potong Fariz.


"Kakak gimana keadaannya?"


"Gue udah membaik" Jawab Fariz. "Syah, akhirnya Lo datang, gue mau..."


"Aisyah langsung pergi aja kak"


"Jangan sekarang Syah" Pinta Fariz.


"Tadi kakak sendiri yang minta Aisyah buat pergi"


"Gue kira Lo tadi..." Fariz menghela pelan. "Syah, gue emang tadi lagi ga mau di ganggu karena gue lagi mikirin Lo. Gue kira tadi yang datang orang lain."


"Gue mau ngomong bentar sama Lo" Lanjut Fariz.


"Aisyah di sini cuma mau jengukin kakak, lihat kakak baik baik aja, Aisyah udah lega. Jadi Aisyah mau langsung pulang"


"Lo marah sama gue?" Tanya Fariz yang membuat Aisyah langsung terdiam.


"Semoga cepat sembuh. Assalamualaikum"

__ADS_1


"Syah, gue mohon jangan pulang dulu..." Ujar Fariz namun tak di gubris oleh gadis itu. "Aisyah...!"


Aisyah tetap berjalan keluar. "Kita pulang sekarang ya" Ujarnya kepada ketiga sahabatnya yang menunggu.


"Lhoh kok cepet banget Syah?" Tanya Lina.


"Kita kan belum izin sama Abah kalau kita ke sini" Jawab Aisyah. Ya, sehabis pulang sekolah mereka langsung ke sini untuk menjenguk Fariz.


"Iya juga" Gumam Syifa.


"Jadi, mau langsung pulang?" Tanya dinda.


"Iya. Ga papa kan?"


Mereka bertiga saling menatap.


"Oh ga papa, ga papa. Kalau emang mau pulang, ayo aja" Jawab Syifa.


"Kak, kita pulang dulu ya" Ucap Aisyah.


Iqbal mengangguk.


"Makasih ya udah Dateng"


"Iya sama sama. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


"Kak. Mari,,, Assalamualaikum" Ujar Dinda.


"Waalaikum salam"


"Bal gue juga pamit..." Ucap Lina.


"Lin, gue mau Lo ngelakuin sesuatu" Bisik Iqbal.


"Sesuatu apa?"


"Ghea"


Lina terdiam.


Setelah paham apa yang di katakan Iqbal, dirinya langsung tersenyum. "Tentu. Kenapa nggak?"


•••••


"JIYAAAH,,, Ciee Aisyah ga mau ngomong kan sama Lo? Pasti itu!" Ujar Iqbal dengan memasuki ruangan.


Fariz menatap datar temannya. "Semangat banget ya kalau ngeledekin gue. Kalau gue sembuh awas aja lo!"


"Ya habisnya Lo ngeselin. Orang Dateng ke sini buat nemenin, malah di usir" Jawab Iqbal. "Lo harusnya beruntung dong Riz punya temen kayak gue. Setia kawan."


Fariz memutar bola matanya. "Ambilin gue buah"


"Mau yang apa?"


"Terserah"


Fariz meliriknya. "Dari mana?"


"Apanya?"


"Buahnya."


"Dari sini..." Iqbal menunjuk parcel buah yang berada di atas meja.


"Gue maunya buah yang di plastik"


"Lhah apa bedanya sama yang ini?" Tanya Iqbal.


"Beda. Udah ambilin aja yang dari plastik"


Iqbal kembali meletakkan pisang tersebut di tempat asalnya, tangannya mulai terulur membuka plastik. "Mau apa? Ada anggur, pear sama jeruk"


"Anggur"


Iqbal mengambil setangkai anggur ungu lalu memberinya kepada Fariz. "Emang dapat dari mana sih buahnya?"


"Aisyah" Jawab Fariz.


"Hm, pantesan." Gumam Iqbal.


•••••


Keesokan harinya saat Ghea sampai di sekolah, di mading terpampang jelas fotonya dengan tulisan penjahat di bawahnya. "Nih, penjahat kayak begini fotonya harus lebih jelek dong" Ujar seorang gadis di sampingnya dengan menambah beberapa coretan jelek di wajahnya.


"HEH! Maksut Lo apa?" Tanya Ghea tak terima.


"Apaan sih, emang bener kan. Beritanya udah kesebar. Dan Fariz sakit juga karena Lo!" Jawabnya enteng lalu pergi begitu saja.


Dengan kesal Ghea menarik salah satu kertas yang tertempel di mading. "Heh,,, ulah siapa sih ini?? Kurang ajar banget!"


"Ghea!!" Seseorang memanggilnya dari belakang, membuat Ghea langsung membalikkan badan.


"Lo di panggil sama pak kepala sekolah."


Deg...


Jantung Ghea langsung berdetak tak karuan. Takut, khawatir semua terasa campur aduk dalam dirinya. Apa mungkin ini menyangkut semuanya? Lantas, apa yang akan ia terima nanti.


Dengan langkah risau Ghea berjalan ke ruang kepala sekolah. Pikirannya terus memikirkan hal hal negatif yang akan terjadi pada dirinya. Matanya membulat kaget saat melihat papa Fariz di sana. Di sampingnya, terduduk seorang lelaki separuh baya. Papanya.


"Papa,,, om..." Gumamnya menatap mereka dengan terpaku. Semua orang yang ada di sana langsung melihat ke arahnya.


"Ghea silahkan duduk!" Perintah pak kepala sekolah.


Ghea meneguk ludahnya kuat kuat, dia berjalan pelan. Duduk di kursi yang membawanya langsung untuk berhadapan tepat di depan kepala sekolah. "Assalamualaikum" Suara salam kembali memecah keheningan di ruangan itu.


"Silahkan duduk," Pinta pak kepala sekolah kepada orang yang baru saja datang. Seperti biasa, Aisyah memberikan senyuman ramah kepada semuanya. Dia langsung duduk di kursi kosong samping sofa yang di duduki oleh papa Fariz dan ayahnya Ghea.


Bu Desi yang ada di ruangan yang sama, langsung mengunci pintu rapat rapat. Di luar, beberapa murid ada yang mengintip lewat jendela.

__ADS_1


"Kami sudah mengetahui semuanya" Ucap pak kepala sekolah mengawali. "Dan ini, bukan masalah sepele."


"Langsung saja, kami memutuskan untuk mengeluarkan Ghea dari sekolah." Lanjutnya. "Yah, kami semua tahu sekarang Ghea sudah kelas tiga SMA. Dan dalam kurun waktu dekat ini, Ujian kelulusan akan di adakan. Jadi, tanggung memang bila kita harus mengeluarkan dari sekolah. Namun yang di lakukannya saat ini, memang fatal. Selain sudah melakukan tindakan kriminal, Ghea juga pastinya sudah menodai nama baik sekolah ini"


Ghea yang mendengarnya langsung terpejam menahan malu.


"Yang pasti, kami sangat merasa kecewa dan malu atas tindakan seperti ini. Entah itu kesalahan dari kami, pihak sekolah atau kesalahan orang tua dalam mendidik anaknya. Namun, di sini kami tidak pernah mengajarkan agar murid murid kami melakukan tindakan seperti itu. Apalagi di tambah dengan memfitnah orang. Itu bukan pelajaran yang kami ajarkan di sini."


"Jadi atas kesalahan dan kelalaian dari sekolah, kami meminta maaf yang sebesar-besarnya. Dan kami, terutama saya, pastikan kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi di sekolah kita" Ujar pak kepala sekolah. "Ghea, kerena kamu juga memfitnah orang lain, maka sekarang juga di hadapan kami semua silahkan meminta maaf langsung kepada orangnya."


Ghea menghembuskan nafas kasar tak terima. Rasanya tentu sangat malas bila harus meminta maaf kepada gadis itu. "Ayo silahkan" Ujar pak kepala sekolah.


Ghea berdiri dari tempat duduknya, setelah itu membalikkan badan. Melihat Aisyah yang juga menatapnya. Lalu beralih melihat ke arah papanya yang tertunduk menahan malu. Dengan langkah terpaksa Ghea berjalan pelan mendekati Aisyah. Menatap gadis itu dengan benci.


Ghea menjulurkan tangan, membuat Aisyah yang tengah terduduk langsung berdiri. "Gue minta maaf." Ujar Ghea. Tidak ikhlas.


Aisyah menjabat uluran tangan Ghea. "Aisyah maafin" Jawabnya dengan tersenyum.


Namun senyuman itulah yang membuat Ghea semakin benci dan kesal kepada Aisyah. Ia mengeratkan jabatan tangannya. Sebenarnya Lo seneng kan lihat gue kayak gini. Itulah yang di ucapkan batinnya. Dengan cepat Ghea langsung melepaskan tangannya.


"Dan, jangan lupa juga untuk meminta maaf kepada pak Aris." Mendengar itu Ghea langsung berjalan beberapa langkah ke kanan. Berhenti tepat di depan papa Fariz yang tengah terduduk.


"Om..." Panggilnya. "Saya minta maaf." Untuk kali ini dia tulus. Tulus ingin benar benar di maafkan oleh papa Fariz.


Ghea memandangi papa Fariz yang tak mau melihatnya, terlihat dia juga menghela panjang. "Jujur saya sangat kecewa sama kamu. Kepercayaan saya terhadapmu sudah terlalu besar, namun hancur. Susah untuk memaafkan kamu Ghea. Tapi saya akan berusaha untuk mengikhlaskan. Terlepas, apa yang kamu lakukan adalah membahayakan putri saya."


Ghea hanya terdiam mendengar jawaban itu.


"Baik sekali lagi saya pertegas bahwa Ghea sudah kami keluarkan dari sekolah. Hari ini juga, dia sudah tidak menjadi tanggung jawab kami, hari ini juga dia sudah lepas sebagai bagian dari sekolah ini, dan kami serahkan tanggung jawab ini kembali kepada orang tuanya. Kami rasa, ini adalah keputusan yang sebenar benarnya dari sebuah keadilan. Dan silahkan untuk keluar dari ruangan karena masalah sudah di bicarakan dan di selesaikan baik baik. Terima kasih atas kerja samanya."


Papa Ghea langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah putrinya. Memegang tangannya erat, erat sekali hingga membuat Ghea meringis kesakitan. "Kita pulang" Ujarnya pelan dengan masih menunduk menahan malu.


Dengan paksa, ia menarik tangan putrinya agar segera keluar dari ruang kepala sekolah. Saat membuka pintu, suara sorakan yang terdengar kompak itu membuatnya semakin menunduk malu. "HUUUUUUUUUUUUU......"


"Ga nyangka sejahat itu dia."


"Haduh, harusnya di penjara aja sih."


"Yah emang lebih baik di keluarin. Serem banget kalau di sini ada penjahat kayak gitu."


"Parahnya lagi dia nuduh Aisyah yang ngelakuin itu. Parah banget sih."


Berbagai bisikan itu menusuk telinga Ghea, membuat gadis itu ingin rasanya menyumpali mulut mereka satu persatu. Namun tangannya terus di tarik oleh sang ayah agar cepat cepat keluar dari sekolah.


"Ghea...!!"


Panggilan itu membuat Ghea menoleh ke belakang. "Pa, berhenti sebentar" Namun nyatanya, ucapannya sama sekali tak di gubris oleh papanya.


Ghea menahan langkahnya juga tangan papanya agar berhenti sebentar untuk menariknya. "Nai..."


Naira berhenti tepat di depan Ghea. "Lo beneran di keluarin dari sekolah?"


"Udah. Hari ini"


Raut wajah Naira langsung berubah sedih. Dia memeluk gadis yang berdiri di depannya. "Berarti besok Lo ga sekolah di sini lagi? Besok kita ga bisa ketemu lagi?" Tanya nya lalu melepaskan pelukan.


Ghea mengangguk. "Iya"


Naira menghela pelan. "Kenapa sih Lo harus ngelakuin hal kayak gitu? Gue pengen perpisahan kita baik baik, bukan malah kayak gini"


"Hhssstt,,, udah. Semuanya udah terjadi." Balas Ghea.


Papa Ghea langsung menarik kembali tangan anaknya, tak peduli lagi dengan apa yang akan mereka berdua katakan untuk perpisahannya. Ia, tidak mau terlalu lama menahan semua rasa malu yang sudah memuncak.


Aisyah hanya melihat semua itu dari kejauhan. Pikirannya malah memikirkan bagaimana nanti saat mereka berempat berpisah. Sebaik apapun perpisahan dilakukan, tentu saja akan tetap terasa menyakitkan.


"Aisyah"


Mereka bertiga datang dan berdiri di samping Aisyah. "Ghea beneran di keluarin dari sekolah?" Tanya Lina.


"Iya"


"Yess!! Baguslah kalau gitu"


Aisyah menoleh. "Kok kamu malah seneng Lin?"


"Ya kenapa nggak? Dari pada dia bikin ulah di sekolah ini? Terus buat masalah mulu sama lo. Lagian itu nggak seberapa sama yang udah dia lakuin."


"Kali ini gue setuju sama Lina" Sahut Syifa.


"Aku juga setuju sih Syah. Emang udah sepantasnya kak Ghea mendapatkan hal yang setimpal atas perbuatannya. Dia emang harus bisa ambil resiko." Timpal Dinda.


Aisyah terdiam. "Kalian ikut ngerasain ga sih, apa yang mereka berdua rasain saat ini?"


"Emang kenapa mereka berdua?" Tanya Syifa.


"Pisah"


"Kalau pisah pastinya bakal sedih sih."


"Kita juga pasti bakalan berpisah kayak mereka." Ujar Aisyah.


Mereka bertiga terdiam. "Udahlah Syah jangan ngomongin pisah dulu. Itu masih dua tahun lagi." Timpal Lina.


"He'em, nanti malah bawaannya sedih lagi gue" Balas Syifa.


"Tapi dua tahun itu pasti akan berlalu cepat tanpa kita sadari."


Yang terpenting adalah menikmati setiap momen yang ada. Kebersamaan, suka dan duka, kesulitan semuanya.


Jalani apa yang harus kita jalani, dan nikmati setiap tantangan yang menyapa dalam kehidupan kita. Karena apa yang kamu jalani hari ini, akan menjadi cerita sejarah tentang kehidupanmu esok...


Baik buruknya, manis pahitnya cerita itu, tergantung dengan apa yang kita coretkan pada hari ini...


...-Dinda-...


•••••


اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ


Artinya: "Takutlah kepada Allah dimana saja kamu berada." (H.R Tirmidzi)

__ADS_1


...*******...


__ADS_2