Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Dilema


__ADS_3

Lina dan Dinda berjalan bersama menuju perpustakaan. "Din, gue tungguin di luar ya..." Ujar Lina.


"Iya" Jawab Dinda dengan melangkah masuk ke dalam perpustakaan.


Dinda berjalan dengan matanya yang sibuk menelaah satu persatu buku yang tersusun rapi di rak buku. Ia terhenti di depan rak buku keagamaan. Tangannya mengulur ke atas mengambil sebuah buku bersampul hijau tua. Kurang tertarik, ia mengembalikan buku tersebut ke tempat semula.


"Cari buku apa?"


Dinda tersentak kaget. Refleks, ia menoleh ke samping. "Cerita keagamaan" Jawabnya.


Ilham mengangguk. "Sendirian?"


"Sama Lina" Dinda melangkah ke samping sedangkan Ilham mengambil sebuah buku.


"Mungkin ini bisa Lo baca." Ilham menyodorkan buku tersebut.


Dinda terdiam. Perlahan tangannya terulur mengambil buku tersebut. "Terima kasih"


"Sama sama" Jawab Ilham yang langsung beranjak pergi.


Dinda menatap buku Dengan sampul cokelat di dominasi dengan gambar orang berdoa yang di tangannya berkalungkan sebuah tasbih kecil. Di tambah dengan gambar Al Qur'an yang di ambil dengan pencahayaan yang pas. "Munajat Cinta Dalam Doa" Ucap Dinda pelan membaca tulisan besar sebagai judul dari buku tersebut.


•••••


Iqbal keluar dari perpustakaan. Ia memicingkan matanya. "Heh!!"


Lina menoleh ke belakang dengan mengelus dadanya. "Ngapain di sini?" Tanya Iqbal dengan duduk di samping Lina.


"Nungguin Dinda" Jawab Lina jutek. "Lo?"


"Gue ya ada urusan lah di sini"


"Oh. Sendiri?"


"Sama Ilham"


"Oh"


"Lin..." Panggil Iqbal.


"Hm"


"Aisyah ada masalah apa sama Fariz?"


Lina menoleh. "Nggak tau. Emang mereka lagi ada masalah?"


Iqbal terdiam. "Udahlah lupain aja. Gue sekali lagi mau ngucapin makasih sama Lo"


"Buat?"


"Lo tahu? Sekarang semuanya udah mulai membaik. Nyokap sama bokap gue juga udah jarang ada konflik" Jawab Iqbal dengan senang yang membuncah di hatinya.


Lina mengulum senyum dengan mengangguk. "Iya"


"LHO....LHO LHO..." Mereka terkejut. "LHO LHO LHO...."


Syifa menunjuk nunjuk mereka dengan tersenyum senang di ikuti Aisyah yang berjalan di sampingnya. "Cie cie.... Ah. Gue cariin ternyata lagi berduaan" Lanjut Syifa.


Lina memutar bola matanya. "Ini hari apa ya? Kok tumben akur? Biasanya juga marah marahan!!" Ujar Syifa dengan duduk dan merangkul Lina.


"Lin,, tadi gue ke kantin Lo sama Dinda ga ada. Gue ceriin di kelas Lo, juga ga ada. Taunya di sini sama kak Iqbal..."


"Kenapa sih Ya Allah ni bocah harus Dateng?!!" Gumam Lina pelan.


"Ngomong apa?" Tanya Syifa.


"Nggak!!"


"Bal!" Panggil Ilham.


Iqbal berdiri. "Udah?"


Ilham mengangguk. "Ke kelas"


"Iya"


"Fa, Lin, Syah. Gue duluan ke kelas" Pamit Iqbal.


Syifa mengacungkan jempol nya. "Oke kak. Banyak banyakin akur ya sama Lina...."


Iqbal hanya terdiam tanpa mengangguk ataupun menjawab. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga.


"Assalamualaikum" Salam Ilham.


"Waalaikum salam" Mereka bertiga kembali menjawab.


"Lin" Aisyah menatap Lina. "Dinda di dalam?"


"Iya"


"Ya udah kalau gitu aku ke dalam dulu ya.."


"Iya"


Aisyah berjalan memasuki perpustakaan sedangkan Syifa melanjutkan menggoda Lina dengan terus menyangkut pautkan atas hubungan nya dengan Iqbal.


Aisyah berjalan dengan memicingkan matanya saat melihat Dinda yang tertutupi oleh rak buku besar di baliknya. Aisyah melangkah pelan mendekati Dinda yang berdiri dengan bergumam pelan membaca buku yang ada di tangannya.


"Cinta terbaik adalah saat kau mencintai seseorang yang dapat membuat akhlakmu menjadi lebih baik, tindakanmu menjadi lebih bijak dan bertambah nya cinta pada Allah Yang Maha Esa. Bukan cinta yang hanya membuatmu bahagia semata. Dia jadi penegur saat taatmu luntur, jadi pelipur saat semangatmu lebur. Dialah cinta terbaik yang telah Allah siapkan untukmu, yang selalu kau pinta kepada Nya untuk menjadi pendampingmu"


Itu adalah halaman pembukaan pertama yang dinda baca pada buku tersebut. Aisyah tersenyum.


Tangan kanannya terangkat dan mendarat di bahu Dinda. "Din"


Dinda menoleh, menghela panjang saat melihat siapa yang datang. "Ya Allah, kaget aku. Kapan datang?"


"Baru aja datang. Itu yang kamu baca buku apa?"


"Oh ini. Judulnya Munajat Cinta Dalam Doa"


"Kayaknya bagus. Nanti kalau udah selesai, tolong kasih ke aku ya din. Aku juga mau baca"


"Iya. Kamu mau cari buku apa Syah?"


"Mau pinjem buku paket. Sebentar ya. Tunggu"


Dinda mengangguk. Aisyah kembali berjalan menuju rak paling belakang. Mencari sebuah buku paket kelas 11 lalu mengambilnya. Mereka berdua langsung datang ke meja penjaga perpustakaan dan mengeluarkan kartu yang biasa di pakai murid untuk meminjam ataupun mengembalikan buku. Setelah selesai, Aisyah dan Dinda keluar. Melihat Lina yang mengoceh sebal kepada Syifa.


"Lin..." Panggil Dinda.


Keduanya menoleh. "Udah Din?" Tanya Lina.


"Iya. Habis ini kamu mau ke kantin apa ke kelas?"


"Langsung ke kelas deh"


"Ya udah kalau gitu"


Lina berdiri di ikuti Syifa. "Cie...." Gumam Syifa yang sedari tadi masih menggodanya.


"Lama lama gue penyet Lo fa..." Ancam lina.


Syifa menyengir tanpa dosa. Ketiganya langsung berjalan beriringan, sedangkan Lina sengaja berjalan di belakang mereka. Ia menarik tangan Aisyah ke belakang, membuat posisi gadis itu sejajar dengan Lina. Aisyah menatap Lina bingung. "Ada apa Lin?"


"Lo ada masalah?"


Aisyah menggeleng. "Ga kok. Alhamdulillah semuanya baik baik aja."


"Yakin?"


"Iya"


"Kalau sama kak Fariz juga baik baik aja?" Tanya Lina lagi yang teringat akan pertanyaan Iqbal.


•••••


Syifa dan Aisyah berjalan memasuki kantin. Ya, hanya mereka berdua. Karena Lina dan dinda lebih memilih untuk masuk ke kelas masing-masing. Aisyah duduk di salah satu bangku kantin. Menunggu Syifa yang sedang memesan makanan. Sembari menunggu, Aisyah menaruh dan membuka buku yang baru saja ia ambil dari perpustakaan. Membaca dan memahaminya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dengan mendongakkan kepalanya.


"Lagi baca apa Syah?" Tanya Devan.


"Rumus."


"Oh gitu. Bisa?"


"Iya In Syaa Allah. Kak Devan mau kemana?"


"Gue mau ke ruang lab. Kesini cuma beli minuman doang. Ya udah kalau gitu gue duluan ya Syah"


"Iya kak"


"Bay" Devan terdiam. "Eh Assalamualaikum maksutnya"

__ADS_1


Aisyah tertawa kecil. "Iya. Waalaikum salam"


Devan tersenyum, ia mulai melangkah dan berlari kecil keluar kantin dengan membawa sebotol minuman kopi susu di tangannya. Aisyah menatap punggung Devan yang berlari semakin jauh dari pandangan mata. Ia mengarahkan kepalanya ke arah depan. Sedikit terkejut melihat ghea dan Fariz yang berjalan berdua keluar kantin. Dengan asiknya Ghea bercerita yang sama sekali tak di mengerti Aisyah tentang cerita apa yang sedang di perdengarkan nya kepada Fariz, namun Fariz hanya terdiam mendengar tanpa merespon.


Aisyah menunduk. Menghela nafas panjang. Apa sekalian ya aku tanya ke kak Fariz. Mungkin bener, dari sikap kak Fariz ke aku sepertinya menunjukkan kesalahpahaman. Batinnya.


Aisyah menutup buku menghentikan bacaannya. Ia berdiri dan berjalan pelan beberapa meter dari Fariz dan Ghea. Melangkah dengan masih ada keraguan. Aisyah menghela pelan, apapun keadaannya dia juga harus tahu mengapa sikap Fariz berubah. Kalaupun memang benar dirinya pernah membuat sebuah kesalahan entah sengaja ataupun tidak, dia harus secepatnya meminta maaf. Bukankah sesama muslim tidak boleh mendiamkan seperti ini lebih dari tiga hari?


Aisyah mempercepat langkahnya. "KAK!!"


Mereka berhenti dan menoleh ke belakang secara bersama. Ghea memutar bola matanya. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Fariz tanpa melihat wajah gadis di hadapannya.


"Mau ngapain lagi sih Syah? Ga puas Lo udah culik kaila demi dapet uangnya Fariz ha?" Tanya Ghea dengan nada tak bersahabat. "Licik banget ya Lo!!"


Aisyah menatap Ghea bingung, lalu beralih menatap Fariz. "Kak..."


"Aisyah boleh ngomong sama kakak?" Tanya nya. "Berdua"


"Ghea..." Panggil Fariz menatap Ghea. Mengisyaratkan agar dia pergi karena Aisyah yang ingin berbicara dengannya. Hanya berdua.


Ghea berdecih kesal. Lalu berjalan pergi begitu saja. "Kakak marah sama Aisyah?" Tanya Aisyah lembut saat Ghea sudah benar benar menjauh dari jarak mereka. Ia berusaha menemukan jawaban dari mimik muka Fariz.


"Kak, kalau Aisyah punya salah Aisyah minta maaf. Tapi boleh kasih tahu Aisyah salah apa sama kakak?"


Sudut kiri bibir Fariz terangkat, ia mulai mengarahkan matanya melihat Aisyah. "Hebat Syah...hebat banget!!" Ujarnya dengan tertawa kecil.


"Lo bahkan masih mau bersandiwara di depan gue. Tapi buat apa? Gue udah tau Lo yang sebenernya. Aisyah yang sebenarnya. Yang di lihat orang sebagai Aisyah yang polos dan baik"


"Maksutnya?"


"UDAH YA SYAH, GA USAH SANDIWARA KAYAK GINI LAGI. BASI TAU GA??! MUAK GUE"


Mendadak mata Aisyah menjadi memanas mendengar perkataan Fariz. "Sandiwara apa sih kak? Aisyah serius. Ga ada yang bersandiwara di sini"


"YA YA YA.... Terus aja kayak gitu. Terus aja sok Sok an baik di hadapan gue." Fariz menunjuk Aisyah dengan jari telunjuknya. "Tapi Lo inget satu hal!! Gue ga butuh kebaikan Lo itu. Palsu!" Lanjutnya dengan pergi begitu saja.


Aisyah terdiam memaku di tempat. "Sandiwara? Apa sih..." Gumamnya dengan menggelengkan kepala. Bahkan mendengar perkataan itu yang keluar langsung dari mulut Fariz sudah membuat hatinya sakit. Atas dasar apa Fariz berkata seperti itu? Dia bahkan belum memberitahukan letak kesalahannya di mana.


•••••


"Heh bal" Panggil Ojit saat Iqbal dan Ilham memasuki kelas. Ojit langsung berjalan dan duduk di samping Iqbal.


"Apa?" Tanya Iqbal judes.


"Gue mau cerita"


"Hm"


"Lo tau ga, tadi pagi Paijo udah jadi bapak dong!! Demi apa gue seneng banget...."


Iqbal berdecih. "Paijo lagi Paijo lagi. Ga ada yang Laen apa selain Paijo. Bosen gue dengernya"


"Heh bal, Lo itu jadi temen ga ada Baek baeknya ya sama gue. Gue lagi bahagia setidaknya Lo juga harus ikut bahagia kek, walaupun pura pura"


"Dih ogah" Jawab Iqbal santai.


"Eh ham" Ojit mengalihkan posisi duduknya menghadap Ilham.


Ilham menoleh. "Kenapa?"


"Tadi itu anaknya si Paijo ada sembilan. Yang tiga udah jadi ayam beneran. Sisanya masih jadi telor..."


"Terus kenapa ga Lo ceplok aja? Lumayan tuh" Sahut Iqbal.


"Enak aja. Ini istrinya Paijo udah susah susah lahirin malah anaknya di goreng. Pasti teriris banget tuh hati maknya. Ga tega lah gue"


"Nah itu. Sekalian hati si ayam istrinya Paijo Lo iris iris (Potong potong) terus masak. Kan lumayan bisa makan enak siang nanti. Iya ga jit?"


Ojit melotot antara marah dan kesal. "Gue jedotin pala Lo ke tembok lama lama bal"


"HEY HEY HEY....KALIAN!!" Ujar Gilang bernada. Lelaki itu tiba tiba datang dan ikut ikutan nimbrung bersama mereka. Tak lama Fariz pun masuk dan mendudukkan kasar tubuhnya.


"Hey hey tayo...." Sahut Ojit.


"DIA BUS KECIL RAMAH...." Lanjut mereka berdua.


Iqbal mengacak ngacak rambutnya. "HHSSS Kapan sih mereka warasnya?"


"MELAMBAT MELAJU TAYO SELALU SENANG"


"Eh tapi masak tayo selalu senang sih. Hidup kan ga selamanya berjalan mulus, jadi pasti ada sedihnya" Koreksi Gilang.


"Udahlah lanjut aja..." Jawab Ojit.


"HEY HEY HEY.....HEY TAYO"


BRAAAK


"Kalian bisa diem ga sih? Sehari aja!!" Bentak Fariz dengan menatap tajam mereka.


Iqbal tertawa puas. "Sukurin!!"


Gilang dan Ojit langsung terdiam seribu bahasa menutup mulut. Mereka menatap Iqbal yang menertawakannya, seolah olah telah menang atas mereka.


"Eh Abang jangan marah dong bang..." Bujuk Ojit mencairkan suasana. "Nanti Adek ajak Abang ketemu sama sahabatnya rembo dah"


Fariz melirik tajam Gilang. "Diem Lo jit. Atau tulang Lo di patahin sama Fariz" Bisik iqbal.


"Enak aja. Tulang gue mahal!"


"Makannya diem!!"


"Haah ya udah deh. Mendingan gue dengerin lagu nya si Jennie..." Timpal Gilang dengan membuka layar ponselnya.


••••••


Aisyah keluar kamar. Menatap bulan purnama yang bersinar terang malam ini. Inilah dirinya, yang tidak bisa melupakan kata kata orang dengan semudah itu dan mudah tersinggung. Walau kadang dirinya memilih untuk diam. Kalimat Fariz yang terlontar tadi pagi benar benar belum bisa ia lupakan. Tak lama Aisyah teringat akan ucapan Ghea yang menuduhnya menculik seorang anak yang aisyah lupa namanya.


"Apa yang di bilang mbak Ghea itu yang jadi kesalahpahaman?"


"Siapa?"


Aisyah terhenyak kaget. Ia menghela pelan. "Siapa yang salah paham Syah?" Tanya dinda.


Aisyah menggeleng. "Bukan Din, bukan siapa siapa"


"Kok di luar sendirian?"


"Pengen cari udara seger aja"


Dinda mengangguk.


"Kayaknya baca novel di sini enak ya Syah. Bentar" Dinda berlari kecil menuju kamar. Tak lama ia langsung keluar dengan membawa buku yang baru saja dirinya pinjam tadi pagi.


"Assalamualaikum" Ujar seorang gadis yang tinggal di kamar sebelah mereka.


"Waalaikum salam" Jawab keduanya.


"Ini setrika nya"


Aisyah mengambil setrika yang di sodorkan oleh gadis tersebut. "Ya sudah ana pamit dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Terima kasih ya"


"Afwan" Jawabnya.


"Eh eh ternyata ada di sini...kenapa ga di dalem?" Tanya Lina yang keluar dengan memakan cemilan.


"Eh ya udah aku kedalam dulu ya lin, Din. Mau nyetrika"


"Habis itu gue ya..." Sahut Lina.


Aisyah mengangguk.


Dirinya langsung pergi ke dalam. Melihat Syifa yang ternyata sudah tidur. Memang seperti itu, di pesantren ini selalu di jadwal bila ingin menyetrika. Aisyah langsung mengambil seragam sekaligus baju di lemarinya. Menata selimut di atas lantai untuk di jadikannya sebagai alas. Sedangkan Dinda dan lina masih sibuk mengobrol di luar.


"Eh bentar din, gue ambil cemilan dulu" Ujar Lina saat jajan di tangannya sudah habis termakan.


"Itu yang kamu makan cemilannya Syifa kan?" Tanya Dinda.


"Hehehe iya. Nanti gue bayar" Jawab Lina. Sudah biasa begitu ia selalu memakan cemilan Syifa hingga habis, namun ia juga selalu membayarnya dengan uang sesuai harga beli cemilan tersebut. "Salah sendiri Syifa selalu beli cemilan yang banyak, mana enak enak. Kan gue pengen" Lanjutnya lagi dengan berjalan masuk.


"YA ALLAH AISYAAAH!!" Pekik Lina membuat Aisyah terkejut dan tersadar. Sudah berapa lama ia melamun?


Aisyah mengangkat setrika yang masih bergesekan dengan hijabnya. Ia menatap hijabnya. Memang tidak bolong atau gosong, tetapi terlihat jelas postur setrika berada di hijabnya. "Ya Allah Syah,, mikirin apasih? Jangan melamun gitu dong" Ujar Lina dengan berjongkok di samping Aisyah.


"Ya Allah ada apa?" Tanya Dinda karena mendengar suara teriakan Lina.


Aisyah menghela pelan. "Astaghfirullah, Ya Allah..."


"Lo kenapa sih? Istirahat ya...biar gue yang setrika baju Lo ini" Tawar Lina.


Aisyah menggeleng. "Ga usah Lin ga usah. Aku ga papa. Cuma kepikiran rumah aja" Jawab Aisyah dengan alasannya.


••••••

__ADS_1


Syifa berlari menuju kelas Reyhan. Semenjak masuk sekolah dirinya belum sama sekali berkomunikasi dengan lelaki itu. Jadi ya kangen saja.


"Aduuuh..." Ringisnya pelan saat tubuhnya menghantam tubuh orang lain.


"Heh lo kalau jalan yang bener dong!!" Ujar Naira dengan nada tinggi. Menatap Syifa dengan kesal.


"Ya maaf kak. Ga sengaja Syifa"


"Ga sengaja ga sengaja. Makannya jalan itu yang dilihat depan bukan lantai"


"Siapa juga yang lihatin lantai?" Gerutu Syifa pelan dengan memanyunkan bibirnya ke depan.


"Oh berani jawab ya Lo sekarang!!" Naira melihat dari bawah hingga atas. "Lo jadi murid males banget ya. Lihat ni seragam,, kucel banget. Nyetrika gitu aja Lo males."


"Bukan males kak tap..."


"Mendingan ga usah sekolah deh kalau males. Sekolah itu bukan untuk orang yang males kayak Lo" Sahut Naira.


Syifa menghembuskan nafas kasar. "Ih kak, kalau bisa jangan ngomong doang. Kalau mau sekalian setrikain seragamnya Syifa. Nyinyir Mulu!!" Ujar Syifa yang sudah terlanjur kesal.


Naira melotot. "Udah berani yang ngebentak gue"


"Siapa yang ngebentak?"


Naira mendorong bahu kanan Syifa. "Ya Lo bego!!"


"NAIRA...!" Keduanya langsung teralihkan oleh Reyhan yang datang mendekati mereka. "Ngapain dorong dorong?" Ketus Reyhan.


"Em,,, ga sengaja Han"


"Jadi kakak kelas harus jadi contoh bagi adiknya. Apa ini contoh yang lo ajarin?"


Naira terdiam dengan masih mengumpat kekesalannya pada Syifa. Sedangkan syifa tentu saja senang merasa di bela.


"Iya han. Gue minta maaf." Ucap naira dengan tertunduk. "Gue pergi dulu" Lanjutnya dengan berjalan melangkah melewati mereka.


Syifa tersenyum menatap Reyhan. "Em kak..."


"Lo juga!"


Syifa terdiam. "Lo juga fa. Harus bisa jaga sikap, apalagi sama yang lebih tua" Lanjut Reyhan.


"Tapi kan..."


"Ga ada tapi tapi an. Naira itu lebih tua dari Lo, jadi gimana pun sikap dia ke Lo, Lo harus punya rasa hormat. Ngerti?!"


"Iya deh..."


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Syifa.


"Tapi kan kak...!!" Ujar Syifa setengah berteriak setelah Reyhan berjalan pergi.


Syifa menghela lesu. "Hih, gara gara kak Naira kan, jadi kena marah juga"


"Dasar mulut netizen. Sukanya ngomentari hidupnya orang, Heran!" Ujarnya dengan berjalan dan menghentakkan kaki di lantai. "Atau jangan jangan kak Naira ya yang sering nyinyir di sosmed?"


"Heh!! Sebel!!"


Setelah sampai di kantin, Syifa langsung mendudukkan tubuhnya di meja yang di kelilingi oleh sahabatnya. Ia langsung mengambil makanan yang tengah di makan oleh Aisyah. "Nanti gue ganti Syah..." Ujarnya lalu memakannya dengan lahap.


Aisyah hanya tersenyum melihat tingkah Syifa yang datang dengan muka cemberut. "Iya. Makan aja" Jawabnya.


"Syah, jangan dong. Nanti Lo makan apa?" Tanya Lina.


"Udah, ga papa. Biar di makan Syifa aja"


"Dasar Lo fa..."


"Kenapa tadi malam ga bangunin gue buat nyetrika? Kan jadi seragamnya lucek gini..." Omel Syifa


"Salah sendiri" Jawab Lina santai.


"Dwindwa mwanwa?" Tanya Syifa dengan masih mengunyah.


"Dia tadi di kelas. Katanya lagi males ke kantin" Jawab Lina.


"Oh" Dengan cepat Syifa menelan makanan yang telah di kunyah halus oleh giginya. "Jadi kapan kita bayar buat camping?"


"Emang Lo udah ada duit?" Tanya Lina.


"Oh ya udah dong"


"Besok kali ya" Usul Syifa.


"Besok libur" Ketus Lina.


"Oh ya? Emang besok hari apa?"


"Ya kalau libur namanya hari Minggu lah!!" Jawab Lina nyolot.


"Oh iya juga ya..." Syifa tertawa kecil. Ia melihat Sasa yang sedari tadi hanya terdiam. Melamun dengan senyam senyum. "Sa..."


"Sasa..." Panggil Aisyah dengan menepuk pelan lengan gadis itu.


"Hem?"


"Di panggil Syifa"


Sasa mengalihkan pandangannya ke arah Syifa. "Ada apa fa?"


"Lo ngapain bengong gitu? Senyam senyum pula. Mikirin siapa?"


"Haaa... cowok ya pasti??" Tebak Lina.


Senyum Sasa semakin melebar, perlahan kepalanya mengangguk mengiyakan. "Ih siapa? Kasih tau dong!!" Pinta Syifa kepo.


"Emmm...."


"Siapa cepet bilang!! Gue janji bakal support Lo biar Deket sama cowok yang Lo suka..." Ujar Syifa.


"Gue juga!!" Timpal Lina.


"Jadi siapa?"


"Emmm...." Sasa terdiam dengan menahan senyumannya. "Sebenarnya gue ga lama ini suka sama..."


"Iya. Sama siapa?" Tanya Syifa menggebu-gebu.


Lina mengambil es sirupnya dengan matanya yang masih fokus menatap Sasa. "Cowok yang gue suka itu...."


"He'em siapa?"


"Kak Iqbal" Jawab Sasa.


UHUK....


"UHUK uhuk ehm...." Lina memegang tenggorokannya. "Ehm..." meredakan sisa sisa tersedak beberapa detik lalu.


Sedangkan Syifa terdiam melotot dengan memandangi Sasa dan Lina secara bergantian. Syifa mencondongkan kepalanya "Beneran?"


Sasa mengangguk senang. "Jadi,, Lo mau kan support. Bantu gue buat Deket sama kak Iqbal. Ya...?"


Syifa melirik Lina yang hanya terdiam menunduk mengalihkan perhatiannya. "Eum..."


"Gini deh sa,, gue mau tanya. Kok Lo bisa suka sama kak Iqbal? Kenapa ga kak Fariz yang lebih ganteng? Atau kak Reyhan yang lebih pinter?"


Beberapa detik. "Eh jangan. Kak Fariz udah punya Aisyah, kak Reyhan juga jangan. Haaa, gimana kak Ilham aja? Sholeh dia. Beneran deh. Cakep juga iya..."


Sasa menggeleng. "Gue udah terlanjur suka kak Iqbal fa."


"Iya karena apa?" Tanya Syifa lagi.


"Lo tahu kan waktu ada kabar bokap gue korupsi. Semua pada ngejek dan ngehina gue iya kan? Ga ada yang mau temenan sama gue. Kecuali Aisyah" Jelasnya dengan tersenyum melirik Aisyah. Yang di lirik juga melontarkan senyum tulusnya. "Selain Aisyah, juga ada kak Iqbal"


Lina terdiam. Teringat akan kejadian saat dirinya dan Syifa yang datang menghampiri Sasa waktu itu. Bukan apa, dia hanya ingin Sasa berubah namun hanya saja hati gadis itu belum sepenuhnya sehat saat itu. Hingga Iqbal datang dan membela Sasa. Bahkan Sasa juga di Carikan angkot untuk pulang.


"Waktu itu,, semua murid pada pengen ngusir gue dari sekolah ini. Tapi untungnya ada kak Iqbal, dia satu satunya laki laki yang belain gue, ngelindungin gue. Semenjak itu gue berpikir masih ada orang yang mau ngelindungin gue. Dan orang itu yang saat ini gue butuhin. Waktu kejadian itu,, kak Iqbal juga pernah samperin gue,, kasih semangat ke gue,, kasih support biar jangan menyerah" Sasa menghela pelan. "Dan gue sadar, semenjak saat itu gue udah ada rasa sama kak Iqbal. Tapi gue belum sadar. Kalian tahu? Sejak saat itu setiap malam gue selalu cari apapun itu yang berhubungan tentang kak Iqbal"


Syifa terdiam meneguk salivanya. "Haduh,, riwel kalau begini masalahnya..."


"Apanya yang riwel fa?" Tanya Sasa.


"Oh nggak!! Ini matematika riwel, bikin pusing" Balas Syifa.


"Oh..." Sasa menatap mereka bertiga secara bergantian. "Jadi kalian beneran mau support gue buat kak Iqbal?"


"Gimana Lin?" Tanya Sasa. Lina menatap tepat di manik mata Sasa. Tercetak jelas di matanya ada permohonan besar.


"Lo beneran suka sama Iqbal?" Tanya Lina.


Sasa mengangguk pasti. "Iya. Udah dari waktu kejadian yang bokap gue itu....."


"Jadi mau kan Lin?" Tanya Sasa lagi.


Lina terdiam. Bingung ingin mengangguk atau menggeleng.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2