
"Barang siapa yang membaca ayat kursi setelah selesai sholat maka tidak akan ada yang menghalanginya masuk kesurga kecuali kematian. Jadi diusahakan setelah sholat membaca ayat kursi, walaupun memang kita sibuk, kita terburu buru, dan lain sebagainya diusahakan ya agar kita bisa membaca ayat kursi setelah sholat. Paham semuanya?"
"Paham Abah kyai"
"Abah kira cukup sampai disini saja, besok In Syaa Allah kita lanjutkan lagi. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"
"Waalaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh" Jawab para santri secara bersamaan.
"Kalian silahkan kembali ke kamar masing masing" Lanjut pak kyai.
"Iya pak kyai" Jawab santri, aja juga yang menjawab dengan anggukan. Tak lama dari itu para santri pun berhamburan pergi menuju kamarnya masing-masing. Sesampainya di kamar Aisyah langsung me-murojaah hafalannya. Ya, karena memang Aisyah setiap selesai sholat isya' selalu mengulang hafalan, minimal setengah juz sedangkan Dinda membaca Alquran.
Syifa geleng geleng heran. "Aisyah" Panggilnya, membuat Aisyah menoleh cepat.
"Lo itu gak merasa sulit apa ngehafal Alquran. 20 juz itu udah banyak banget, gak lupa? Gak pusing apa tu kepala" Lanjutnya.
Aisyah menghela pelan, lalu tersenyum. "Kalau dilihat emang susah buat menghafal Alquran. Karena Alquran terdiri dari 114 surah dan lebih dari 6000 ayat. Dan itu pun banyak kesamaan didalamnya. Tapi kembali lagi kepada kita, kalau kita udah niat mengahafal Al-Qur'an karena mengharap ridoh-Nya In Syaa Allah, Allah akan memberi kemudahan dan kekuatan dalam mengahafal Alquran" Jelas Aisyah panjang lebar, membuat Syifa manggut manggut paham.
"Oke oke kalau gitu semangat deh hafalannya, biar cepet jadi khafidzah" Ujar nya lagi menyemangati, membuat Aisyah berterima kasih lewat senyumannya. Lalu Aisyah kembali fokus pada Al-Qur'an.
"Kalau pagi pagi ada toko kue yang udah buka ga ya?" Tanya Syifa.
"Oh ada fa, gak jauh kok dari sini. Sebelum kita berangkat sekolah biasanya udah buka" Jawab dinda
"Disana kue nya enak enak ga?"
"Enak kok"
"Ya udah Din, besok temenin gue kesana ya. Sebelum berangkat sekolah"
"Oke"
"Emang mau beli buat siapa?" Tanya Lina.
"Mau tahu?"
"Iya"
"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" Tanya Syifa, membuat Lina geram.
"Awww,,," Syifa meringis sembari mengelus-elus dahinya yang baru saja disentil Lina.
"Langsung aja, buat siapa itu kue"
"KEPO" Ujar Syifa tepat di depan wajah Lina, membuat Lina menjauhkan wajah Syifa dengan mendorong dahinya menggunakan jari telunjuknya.
"Dasar" Gumamnya, lalu pergi menghampiri Aisyah yang baru saja selesai mengaji.
"Aisyah, Lo tau ga fungsinya lambung? gue lupa nih"
"Cari dibacaannya pasti ada"
"Ga ada udah gue cari"
"Mana sini coba" Ujar Aisyah, lalu menyodorkan tangan kanannya dan meraih buku yang dipegang Lina. Aisyah tampak sibuk membaca bacaan, dan membolak balikkan kertas.
"Ini fungsinya" Jawab Aisyah dengan menunjuk ke salah satu kalimat. Dengan cepat Lina langsung menatap kalimat yang ditunjuk Aisyah, lalu membacanya.
"Oh iya,, gue dikecoh ni" Ujarnya lalu mengambil alih bukunya. Dan menulis jawabannya. Selang beberapa menit Lina kembali bertanya.
"Kalau fungsi hati?"
"Mana sini coba" Ucap Aisyah kembali mengambil alih buku Lina. Mencari jawaban yang tepat.
"Kok ga ada ya disini" Tambahnya lagi.
"Kalau aja gue ada dirumah pasti gue langsung tanya ke nenek gue" Ujar Lina.
"Emang nenek Lo bisa?" Tanya Syifa.
"Ya bisa lah, Dia itu pinter banget tau ga. Kecil soal beginian bagi nenek gue. Lo tanya pake bahasa Inggris juga nenek gue bakalan paham"
"Emang nenek Lo lulusan apa"
"Ga tau. Tapi nenek gue pinter banget lah pokoknya"
"Emang nenek kamu namanya siapa" Kali ini Dinda yang bertanya.
"Nenek gue namanya Mbah....." Lina menggantung ucapannya. "Nungguin ya" Ujarnya lagi sambil menunjuk ketiga sahabatnya.
"Ih cepetan dong lin, gue penasaran nih" Ujar Syifa tak sabar.
"Nenek gue namanya Mbah GOOGLE" Jawabnya tanpa dosa membuat ketiga sahabatnya melakukan aksi tepuk jidat.
"Ya elah itu juga nenek gue tau" Ucap Syifa tak terima. Membuat Lina cengengesan ditempatnya.
"Jadi gimana nih Syah, jawabannya apa?" Tanya Lina.
"Sini biar gue jawab" Ujar Syifa mengajukan diri.
"Emang Lo bisa?" Tanya Lina.
"Pertanyaannya apa?"
"Apa fungsi hati?"
"Gitu doang Lo ga bisa. Fungsi hati itu...?"
"Tunggu tunggu,"
"Kenapa?"
"Lo jawab ada sumbernya ga? Kalau ga ada mendingan ga usah jawab deh. Perasaan gue jadi ga enak"
"Tenang aja ada sumbernya kok"
"Bagus kalau gitu"
"Oke gue lanjut ya, Fungsi hati adalah untuk..." Syifa menggantung perkataanya. "Untuk menemukan cinta dan kasih sayang. Sumber dari Jungkook BTS" Jawab Syifa. Membuat Lina mendengus sebal.
•••••
Reyhan berjalan pelan menuju kelas, dengan tangan kiri yang dimasukkan di saku celananya, dan tangan kanan yang memegangi tas yang disampirkan dibahu kanannya. Membuat para wanita terhipnotis seketika. Ganteng dan gayanya yang cool, siapa yang bisa menolak?
Ia menjatuhkan tubuhnya dikursi, hari ini Reyhan berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat sebuah kotak kardus berada di mejanya. Tertulis sesuatu diatasnya. Untuk Kak Reyhan. Lalu Reyhan membuka kotaknya, nampak sebuah brownis berbentuk lingkaran dengan berbagai toping diatasnya. Ya, sekilas seperti bentuk pizza.
Reyhan terus mengamati brownis tersebut. Menggiurkan. Lalu ia mengambil sepotong dari brownis yang diberi toping Oreo. Dan Melahapnya.
satu detik
dua detik
tiga detik
Enak. Batinnya, sambil menikmati brownis lembut yang sedang dilahapnya. Tak cukup satu, Reyhan kembali memakan brownis tersebut. Ketagihan. Hingga saat Reyhan hendak memakan potongan yang keempat, suara teriakan menghentikan aktivitas nya.
__ADS_1
"Wah wah, makan makan ga bagi bagi. Parah Lo Han" Ujar Iqbal, berkacak pinggang tak terima. Tak lama kemudian Fariz dan ilham pun masuk kedalam kelas.
"Bagi dong" Ujar Iqbal memelas. Soal makanan apa yang tidak?
"Ambil" Jawab reyhan singkat, padat dan jelas. Dan tanpa basa basi lagi Iqbal langsung menyambar brownis tersebut, melahapnya dengan nikmat. Satu tidak cukup, Iqbal kembali mengambil dan melahap brownisnya. Dan merasa belum cukup, Iqbal hendak mengambilnya lagi namun segera ditahan oleh Reyhan. Karena brownisnya tinggal dua potong.
"Ini, buat Fariz sama Ilham" Ujarnya sambil menunjuk brownis Yang ada dihadapannya. Membuat Iqbal cengengesan.
"Lo beli dimana itu, sumpah enak banget" Tanya Iqbal.
"Gak tau, ini dikasih"
"Yang ngasih siapa?"
"Ya jelas fans nya dia lah" Ujar Fariz.
"Enak bener dah punya fans kayak gitu, udah setiap hari jadi perhatian, dikasih bunga, surat cinta, cokelat, jajan ah gue juga mau. Kurang apa gue ini coba. Ganteng iya, baik iya, pinter lumayan lah, waras juga iya. Nasib oh nasib" Ujarnya lalu membuka tasnya dan mengeluarkan plastik hitam berukuran sedang. Siap melakukan kegiatan rutinnya. Ia berjalan menuju meja Fariz, dan memunguti berbagai cokelat Yang ada dikolong meja. Sedangkan bunga dan surat cinta akan dibuang begitu saja.
Iqbal geleng geleng melihat kantong plastiknya yang sudah setengah terisi cokelat. Ini baru dikolong meja, belum diloker. Lalu ia berjalan menuju meja Reyhan, lalu kembali merogoh dikolong meja. Iqbal mengerutkan keningnya saat melihat kolong meja Reyhan yang kosong. Tumben. Batinnya.
"Han, kok tumben ga ada yang kasih Lo cokelat. Biasanya jam segini cokelat udah membludak dimeja Lo" Ujar Iqbal. Reyhan mengangkat kedua bahunya, acuh tak acuh.
"Ada yang ga beres nih" Ujar Iqbal sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Lalu ia memandang wajah Reyhan.
"Han, wajah Lo masih cakep kok. Masih kayak kemarin. Masa iya udah pada ga nge-fans sama Lo"
"Ya bagus" Jawab Reyhan.
"Bagi Lo bagus, gue rugi. Penghasilan cokelat gue jadi berkurang" Ujarnya lagi.
"Penghasilan penghasilan, itu cokelatnya Lo mungut dari meja gue." Jawab Fariz nyolot membuat Iqbal cengengesan.
•••••
"Assalamualaikum" Seorang pria bersuara berat menghampiri Aisyah yang tengah berada di perpustakaan.
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dengan menoleh sekilas, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah novel yang tengah dibacanya.
"Ini" Fariz menyodorkan kardus yang berisi berbagai bunga.
"Buat siapa?" Tanya Aisyah.
"Buat Lo"
"Kok banyak banget"
"Ya ini bunga dari fans gue, tapi dari pada kebuang gitu aja lebih baik gue kasih ke Lo"
"Kenapa ga dikasih ke perempuan yang biasanya Deket sama kamu aja"
"Maksud Lo Ghea?"
"Ga tau namanya"
"Yaelah ghea mana mau bunga kayak beginian" Ujarnya lagi lalu menaruh kardus tersebut tepat di depan kaki Aisyah. Sedangkan Aisyah terlihat acuh tak acuh terhadap Fariz.
"Kok masih disini?"
"Emang kenapa ga boleh?"
"Sebelumnya aku minta maaf kak, tapi kalau kakak ga ada kepentingan lagi sama aku lebih baik kakak pergi dari sini"
"Kalau ga mau?"
"Ya udah aku yang bakalan pergi" Ujar nya lalu beranjak pergi keluar perpustakaan.
Aisyah menghela pelan. "Kakak juga aneh, bukannya kakak bilang sama aku ga suka Deket Deket sama cewek. Kakak juga yang minta tolong sama aku biar aku ngejauhin kakak. Dan aku lagi berusaha untuk itu, tapi kenapa malah kakak akhir akhir ini nemuin aku terus" Jawab Aisyah membuat Fariz terdiam. Lalu Aisyah pergi keluar perpus
Saat hendak melewati lapangan, ada seseorang yang menarik paksa tangan Aisyah.
"Aww,," Aisyah meringis karena memar dikakinya masih saja terasa sakit. "Ada apa lagi sih kak" Tanya Aisyah sambil menatap Fariz. Sebal.
"Lo itu harusnya hati hati. Lo itu hampir aja kena bola" Ujar Fariz. Tak lama ada seorang lelaki yang berlari dan mengambil bola yang tak jauh dari mereka. "Maaf gue gak sengaja" Ujarnya lalu kembali berlari ke arah lapangan dan melanjutkan permainannya.
"Kalau Lo tadi kena bola gimana? Benjol tu kepala baru tahu rasa"
"Iya, maaf" Ucap Aisyah dengan menunduk. "Makasih" Tambahnya lagi.
"Ini bunga Lo, ambil" Ujar Fariz dengan menyerahkan kardus yang berisi berbagai bunga mawar. Dengan terpaksa Aisyah mengambil bunga bunga tersebut. Lalu Fariz pergi begitu saja. Ia menatap tubuh tegap Fariz yang dengan santainya melangkah melewati lapangan. Kalau dibilang Aisyah udah ga punya perasaan apapun sama Fariz itu salah. Perasan suka itu masih ada, hanya saja Aisyah sedang berusaha untuk memendam bahkan menghilangkan nya . Meski semua itu sulit baginya.
Seisi kelas menatap kedatangan Aisyah dengan berbagai ekspresi. Ya, mungkin karena gadis itu membawa berbagai macam bunga.
Braaakk
Syifa menggebrak meja, membuat seisi kelas terkejut.
"Habis ditembak siapa Lo Syah" Tanya Syifa dengan nada yang meninggi.
"Gak ditembak siapa siapa. Kalau ditembak aku udah pingsan dong" Jawab Aisyah, membuat Syifa menepuk dahi. Polos banget ya bund...
"Bukan itu maksud gue, Lo dapet bunga itu dari mana" Tanya Syifa sambil menunjuk bunga dalam kardus yang berada dikedua tangan Aisyah.
"Fans"
"FANS? Sejak kapan Lo punya fans Syah? Kok Lo ga kasih tau gue" Ujar Syifa sedikit berteriak.
"Fa volumenya dikecilin dikit kek"
"Ya gue kaget habisnya. Sejak kapan Lo punya fans?"
"Bukan fans aku, mana ada orang yang mau nge fans sama aku. Aku aja dihina terus. Ini itu dari fans nya kak Fariz"
"Kok bisa ada di Lo"
"Ya dikasih sama kak Fariz, dari pada dibuang lebih baik dikasih ke aku gitu katanya"
"Terus kenapa harus Lo? Kenapa ga gue? Syifa atau Dinda? Atau cewek lain"
"Ya ga tau" jawab Aisyah dengan mengangkat kedua bahunya.
"Ekhem ekhem, permisi permisi" Seorang gadis dengan dandanan menor itu datang dan duduk dihadapan Aisyah. Panggil saja dia umpil. Disusul juga dengan teman dekatnya, Inez.
"i'in are you ready?" Tanya nya kepada Inez yang berdiri dibelakang Aisyah dan Syifa dengan membawa ponsel ditangan kanannya. i'in adalah sebagai sebutan khas dari umpil untuk inez.
"Ready u'um" Jawabnya semangat dengan mengacungkan jempol kirinya. Begitu juga u'um sebutan khusus dari Inez untuk umpil.
"Kamera action" Ujar Inez sedikit berteriak, membuat Syifa dan Aisyah kebingungan.
"Baik selamat datang di selebsiswa ekspos, bertemu lagi dengan saya umi umil umpil. Baik, pagi ini ada berita menggemparkan pemirsa, yaitu salah satu siswi kita dari kelas 10 MIPA 1, setelah istirahat membawa banyak sekali bunga. Dan didepan saya sendiri sudah ada ananda Aisyah. Aisyah bisa dijelaskan bunga dari siapa ini dan kenapa bisa ada di kamu" Ujarnya lagi dengan mengarahkan botol minum ke arah Aisyah sebagai mikrofon nya. Sedangkan inez sibuk mondar mandir menyorotkan kamera ke arah umpil dan aisyah.
"Aisyah mohon jangan diam saja, pemirsa sudah pada nungguin ini" Ujarnya lagi membuat Aisyah merasa kebingungan. Syifa menggebrak meja, membuat kamera yang tadinya menyorot Aisyah menjadi terarah menuju Syifa. Dengan paksa, Syifa mengambil alih botol minuman dari genggaman umpil.
"Baik pemirsa, berita menggemparkan pagi ini adalah ada upil besar di hidung umpil" Ujar Syifa ngasal ke arah kamera, dengan botol minum sebagai mikrofon nya.
"Kalau tidak percaya, silahkan kamera mengarah pada hidung umpil" Ujar Syifa dengan mengarahkan tangannya kearah umpil. Membuat umpil melotot tajam padanya. Sedangkan inez hanya menganut apa yang dikatakan Syifa.
"Mana ga ada?" Ujar Inez, yang masih sibuk memperhatikan kamera ponselnya.
__ADS_1
"Oh, mohon didekatkan lagi ke arah lubang hidung umpil" Ujarnya lagi, membuat Inez mengarahkan kameranya kearah lubang hidung umpil. Sedangkan umpil berusah menjauhkan wajahnya dari kamera.
"U'um hidung Lo ada rambutnya" Ujar Inez sedikit berteriak, sedangkan Syifa berusaha mati Matian untuk menahan tawanya "Hiii,,, ada ingusnya juga." Tambah Inez, membuat Syifa tertawa keras. Puas sudah ia mengerjai umpil.
"Apa apaan sih Lo i'in, kok malah gue yang dijadiin berita kan harusnya si Aisyah" Ujarnya sebal sambil menjauhkan kamera dari wajahnya. "Matiin ga kameranya" Ujarnya lagi yang langsung dilaksanakan oleh Inez. Umpil menatap Syifa yang masih sibuk menertawakannya.
"Awas aja Lo ya" Ucap umpil dengan nada penuh mengancam. Ia menatap Syifa sinis.
"Awas apa?" Tanya Syifa dengan sisa sisa tawanya.
"Awas suatu hari nanti gue bakal jadiin Lo sebagai berita yang akan diperbincangkan oleh semua orang disekolah ini"
"Oh ya, Inez..."
"Iya fa"
"Jangan lupa ya tadi beritanya di unggah di media sosial biar viral. Gue yakin deh dalam waktu sekejap tu video banyak yang like and komen. Kalau perlu sekarang aja. Lebih cepat lebih baik"
"Ya udah bentar gue unggah dulu" Ujarnya lalu mulai melakukan apa yang dikatakan Syifa. Belum lagi Inez membuka sandi dalam layar ponselnya, ponsel tersebut sudah direbut oleh umpil.
"Lo beneran mau ngepost ni video?" Tanya umpil.
"Iya" Jawab Inez polos.
"Ya Allah, Lo itu jadi temen jangan oon benget lah. Kalau ni video Lo unggah, mau ditaruh mana muka gue?" Ujar umpil. Geram.
"Muka ya ditaruh di atas, masa di bawah. Kalau ditaruh dibawah kan jadinya aneh. Yang dibawah itu kaki." Ujar Inez yang kembali sukses membuat Syifa tertawa.
"Nah bener nez, kasih paham no si umpil" Ujarnya dengan menunjuk umpil.
"i'in bego banget sih Lo" Ujar umpil dengan menghentakkan kakinya. Lalu ia pergi begitu saja, membuat Inez menggaruk tengkuknya.
"Yang dimaksud umpil itu berita apa?" Tanya Aisyah masih tidak mengerti.
"Udahlah jangan dipikirin, Lo kan tau sendiri umpil hobi banget buat berita berita hoax and ga berguna kayak gitu. Kurang kerjaan aja. Eh Lo tau ga dia itu pernah ngepost berita judulnya HEBOH!!! Sosok penampakan hewan yang mirip harimau namun lebih kecil. Lo tau yang dimaksud siapa?"
"Siapa"
"Temannya si Momo!"
"Momo siapa?"
"Kucing gue"
"Temennya si Momo juga kucing" Tanya Aisyah.
"Ya iyalah, masa cacing" Jawab Syifa.
"Ya kan siapa tau momo temenan sama anjing atau monyet atau ayam kan bisa aja. Berarti yang dimaksud harimau kecil itu momo"
"Bukan Momo, Momo itu imut, lucu, gemesin, lah harimau? galak, ganas, nyeremin pokoknya beda jauh lah sama Momo. Yang mirip itu temennya Momo. Siapa sih namanya ya, si oyen kalau ga salah." Ujarnya membuat Aisyah manggut manggut. "Eh tunggu tunggu bukannya emang kucing itu masih kayak saudara gitu ya sama harimau" Ujar Aisyah.
"Iya. Ngomong ngomong soal Momo gue jadi kangen nih sama dia" Ujar Syifa sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya. "Si Momo biasanya jam segini tidur, nanti kalau gue udah pulang sekolah baru dia main sama gue. Momo udah makan belum ya, lagi ngapain dia" Gumamnya.
•••••
Bruuk
Semua kertas yang dipegang Lina jatuh dan berserakan dilantai. Itu adalah kertas hasil ulangan kemarin, dan akan dibagikan hari ini.
"Aduuuh, jadi berantakan semua kan" Gumamnya dengan berjongkok, lalu sibuk membereskan kertas kertas yang sudah berserakan dilantai. Orang yang tak sengaja menabrak Lina pun ikut membantu untuk mengumpulkan kertas menjadi satu.
"Maaf maaf gue gak sengaja" Ujar nya lalu berdiri. Sedangkan Lina berusaha merapikan kertas yang kini sedang berada ditangannya. Ia menatap seorang lelaki yang ada dihadapannya, matanya tiba tiba membelalak kaget.
"Lo?" Ujar Lina dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah lelaki tersebut.
"Lo" Ujarnya dengan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Lina.
"Ngapain Lo disini" Tanya Lina.
"Gue sekolah disini. Kalo Lo ngapain disini"
"Ya gue juga sekolah disini"
Lelaki tersebut adalah Iqbal. Mereka dulu bersekolah di SD dan SMP yang sama. Pada suatu waktu saat Lina kelas 2 SD ia berlari dan tanpa sengaja menabrak Iqbal, membuat es coklat yang ada digenggaman iqbal terjatuh dan mengenai seragamnya. Dan sialnya seragam yang ia kenakan waktu itu berwarna putih. Hal itu membuat Iqbal marah, Lina sudah berkali kali minta maaf dan memberitahu bahwa ia sedang terburu-buru, namun nyatanya Iqbal tak menghiraukan permintaan maaf gadis itu, membuat Lina juga ikut tersulut emosi. Keduanya menjadi bertengkar, dorong mendorong dan tidak ada yang mau mengalah. Hingga keduanya menjadi seperti seorang musuh, saling berdebat.Tak ada kata kakak atau adik kelas bagi merek. Mereka berdebat layaknya seorang teman sebaya. Namun nyatanya mereka malah kembali menuntut ilmu disekolah bahkan pesantren yang sama.
"Lo pasti sengaja ya sekolah disini soalnya Lo tahu kalau gue juga ada disini" Ujar Iqbal.
"Waah, sekate Kate Lo. Gue gak tau Lo sekolah disini. Kalaupun gue tau dari dulu gue bakal nolak disekolahin bokap gue disini. Ngerti lo" Ujar Lina lalu pergi begitu saja. Saat melewati Iqbal, Lina sengaja menabrak bahu kiri Iqbal.
"Bener bener ga ada sopan santunnya Lo sama yang lebih tua" Ujar Iqbal sedikit berteriak.
"Lah udah tau kalo Lo tua, tapi kerjaannya ngajak berantem Mulu. Tobat kek" Gumam Lina Namun masih didengar oleh Iqbal.
•••••
"Pak bukain gerbangnya" Ujar Lina saat sampai digerbang pesantren.
"Bentar neng" Ujar pak Maman satpam pesantren. "Kenapa neng kok mukanya kusut gitu" Tanya pak Maman.
"Saya capek pak, tadi kan abis ekskul futsal"
"Futsal tapi perempuan?"
"Iya pak, di sekolah saya ada ekskul futsal khusus putri, udah ya pak saya mau ke kamar." Memang dari dulu Lina sangat menyukai hal hal yang berhubungan dengan bola, salah satunya futsal. Dengan langkah lelah, Lina berjalan melewati halaman pesantren. Dan lagi lagi ia tanpa sengaja bertabrakan oleh seseorang membuatnya berdecak sebal. Lina menatap orang yang ada dihadapannya dengan pandangan tak percaya.
"Lah Lo ngapain ada disini lagi. Ngikutin gue ya" Ujar Lina, nadanya meninggi. Iqbal mampu membuat Lina kesal hanya dengan melihat wajahnya.
"Harusnya gue yang tanya ke Lo, ngapain Lo kesini?" Tanya iqbal dengan menunjuk Lina tepat dihadapan wajahnya.
"Ya gue mondok di pesantren ini, Lo ngapain disini ha?"
"Ya sama"
"Sama apa"
"Sama gue juga mondok disini" Jawab nya membuat mata Lina membelalak.
"Apa? Kok bisa sih. Aaaa,, mama papa Lina ga mau satu sekolahan apalagi satu pesantren sama si nyebelin ini" Rengeknya entah kepada siapa.
"Lah Lo pikir gue mau gitu satu pesantren sama satu sekolahan sama Lo. Gue juga ogah"
Lina mendengus sebal "Rasanya gue pengen tendang Lo dari sini tau ga?"
"Oh ya tendang aja, gue gak takut. Emang Lo bisa nendang gue?" Tanya Iqbal dengan nada meremehkan.
"Ooo ngremehin gue Lo ya, oke gue tendang Lo" Jawab Lina, ia mengambil ancang-ancang untuk melakukan aksinya. Satu tendangan ia akan luncurkan ke bagian kanan kaki Iqbal, namun sayangnya tidak berhasil. Dengan gesit Iqbal menghindar. Dan belum menyerah sampai situ, Lina ingin mendaratkan tendangan keduanya namun malah ia meringis kesakitan, pasalnya kaki kirinya ditendang Iqbal.
"Aww,,, Lo apa apaan sih. Kan gue yang mau nendang Lo, kenapa Lo malah nendang gue" Ujar Lina nyolot.
"Halah gitu aja sakit. Itu ga keras, lebay amat sih Lo. Makannya jangan sok jagoan, dasar" Ujar Iqbal lalu pergi begitu saja.
"IQBAALLL,,, SUATU HARI NANTI GUE BAKALAN BAWA SI SEPY KESINI, BIAR LO BISA DISERUDUK SAMA DIA, SAMPE NYANGKUT DI POHON. AWAS AJA, TUNGGU PEMBALASAN GUE. Ihh, sebel deh." Ujar lina tidak bisa menahan emosi dalam dirinya. SEPY adalah sapi milik kakek nya didesa. Lina bisa dibilang akrab dengan sepy, karena saat dirumah kakeknya tempat yang paling sering ia datangi adalah kandang sepy.
"Astaghfirullahaladziim, Sabar Lina sabar orang sabar disayang Allah, orang sabar rezekinya lebar"
"Ya Allah, kenapa harus ketemu dia lagi. Kenapa? Hufffftt,,, Udah pas SD satu sekolah, SMP satu sekolah, masa SMA harus satu sekolah sih, ogah banget dah rasanya. Gak tenang nih hidup gue kalau ada dia" Ujarnya. "Emang ya gak semua pertemuan itu indah" Tambahnya lagi.
__ADS_1
...*******...