Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Baikan


__ADS_3

Suara nada dering itu terdengar pelan. Membuat Aisyah yang tengah terduduk di kasur langsung melihat siapa nama yang tertera di ponselnya. Tanpa ragu, dia mengangkat teleponnya. "Halo, Assalamualaikum umi"


"Waalaikum salam. Gimana kabarmu nduk?"


"Alhamdulillah, Aisyah di sini baik. Umi udah sehat sekarang?"


"Iya. Alhamdulillah, umi udah sehat. Cuma umi kepikiran sama awakmu terus nduk. Gimana disana? Lancar semua kan? Apa ada masalah?"


"Di sini lancar. Ga ada yang perlu di khawatirkan umi"


"Sekolahnya juga lancar to nduk"


"Iya umi"


"Alhamdulillah kalau gitu. Umi kepikiran kamu terus, umi kira kamu ada masalah di sana"


"Nggak umi. Di sini semuanya lancar"


"Lagi ngapain to nduk awakmu?"


"Aisyah lagi istirahat sebentar di kamar umi."


"Nggak ada kegiatan pondok to hari ini?"


"Kegiatannya nanti sore umi, ada sholawatan sama kajian sedikit dari Abah"


"Oalah, ya udah nduk. Bagus kalau begitu."


Mereka terus berbicara lewat sambungan telepon hingga beberapa menit lamanya. Setelah di rasa cukup, Aisyah menutup teleponnya.


"Assalamualaikum" Ujar Syifa dan Lina dengan masuk ke kamar.


"Waalaikum salam"


"Syah, baju Lo udah kita cuciin. Lagi di jemur sama Dinda" Ujar Syifa.


Aisyah menatap mereka dengan wajahnya yang tak enak karena takut merepotkan. Bukan dia yang meminta, tapi mereka yang memaksa. Dirinya di paksa untuk istirahat, sedangkan pekerjaan nya biar mereka yang mengerjakan. Pastilah Aisyah merasa beruntung. Ya beruntung, karena tidak semua orang bisa memiliki teman sebaik dan sepeduli mereka.


"Makasih ya. Jadi ngerepotin"


"Nggak kok. Santai aja" Sahut Lina.


Nada dering ponsel Aisyah kembali terdengar. Ia mengernyitkan dahinya saat tertulis nomor telepon yang tidak dia kenal. "Halo" Ujar Aisyah mengangkat telepon.


"Halo Syah, assalamualaikum. Ini gue Iqbal"


"Waalaikum salam. Ada apa kak?"


"Lo bisa ga ke rumah sakit sekarang?"


"Ke rumah sakit? Ngapain?"


"Fariz dari tadi rewel pengen ketemu Lo"


Aisyah terdiam.


"Halo, gimana Syah? Bisa??"


"Emm,,, maaf kak Aisyah ga bisa. Aisyah ga enak badan" Jawabnya berbohong. Padahal dirinya baik baik saja sekarang, hanya masih merasakan sakit di kepalanya. Selain itu, ia juga masih sangat ingat betul bagaimana Fariz memintanya untuk menjauh.


"Oh gitu. Ya udah, nanti biar gue bilang ke Fariz"


"Iya kak. Titip salam aja buat kak Fariz. Semoga cepet sembuh"


"Iya. Ya udah gue tutup dulu ya teleponnya"


"Iya"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


•••••


"Makasih ya mbak" Ujar Iqbal kepada suster yang telah berbaik hati meminjamkannya ponsel.


"Iya pak, sama sama"


Iqbal terdiam melotot. Apa tadi? Dirinya di panggil bapak?


"Panggil mas aja sus. Saya masih terlalu muda untuk di panggil bapak" Balas Iqbal.


"Oh iya mas. Kalau gitu saya pergi dulu. Permisi..."


Iqbal mengangguk. Dia menatap suster itu berjalan pergi. "Enak aja gue di panggil pak. Emang muka gue udah tua apa ya?" Gumamnya bertanya lalu kembali melangkah masuk ke ruangan Fariz.


"Gimana?" Tanya Fariz langsung.


"Aisyah ga bisa datang, katanya dia lagi ga enak badan. Tapi Lo dapat salam dari dia, cepet sembuh katanya"


Fariz menghela panjang dengan berdecih pelan. Aisyah sebenarnya emang lagi sakit, atau dia ga mau ketemu sama gue? Batinnya bertanya.


"Riz" Panggil Iqbal. "Gue mau pulang ke pondok. Lo di sini sendirian ga papa kan? Dari kemarin bayangin gue belum mandi,,,"


"Iya. Mandi yang bersih. Bau asem"


"Enak aja, belum mandi gini gue tetep wangi" Elak Iqbal dengan berdiri. "Cepet sembuh, jangan suka jadi beban orang" Lanjutnya.


"Lama lama gue bonyokin muka Lo!" Geram Fariz kesal.


"Bonyokin aja. Emang Lo bisa??" Tanya Iqbal dengan nada meledek lalu tertawa kecil. "Nggak nggak Riz, gue bercanda. Hidup itu jangan terlalu serius"


"Ya udah gue pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Fariz.


Sampai di depan pintu Iqbal menghentikan langkahnya saat tepat di depannya ada seorang lelaki separuh baya. "Om..." Panggilnya.


"Fariz ada di dalem?"


"Iya"


"Saya mau ketemu sama fariz"


Iqbal mengangguk kecil.


Dia langsung menepi memberi jalan masuk. Lelaki itu mengulum senyum. "Assalamualaikum" Ujarnya dengan memasuki ruangan.


Fariz yang mendengar salam itu langsung menoleh. Mata dan wajahnya sudah jelas jelas terlihat kaget. "Papa??"


"Fariz" Panggilnya. Dia langsung berjalan menghampiri Fariz. Dengan masih menyimpan rasa terkejutnya, Fariz menyalami tangan ayahnya. Sedangkan Iqbal, dia lebih memilih untuk pergi. Pulang ke pesantren.


"Papa kok bisa di sini?" Tanya Fariz.


"Papa tadi habis dari pesantren" Jawabnya.


"Di pesantren? Buat apa?"


Papa Fariz menarik kursi yang berada di samping ranjang lalu mendudukinya. "Papa mau jenguk kamu, tapi kata pak kyai kamu di rawat di rumah sakit."


"Papa sendirian ke sini?"

__ADS_1


"Di antar sama temanmu, Ilham"


"Terus Ilham kemana?"


"Dia duduk di luar"


"Lhoh kenapa ga di suruh masuk pa?"


"Lupain dulu tentang Ilham. Sebenarnya tujuan utama papa bukan buat jenguk kamu" Balasnya .


"Terus, buat apa?"


"Riz, awalnya papa berpikir akan melaporkan pelaku penculikan kaila ke polisi. Tapi setelah tahu siapa pelakunya, papa ga tega. Ternyata dia masih di bawah umur, dan papa juga masih memikirkan bagaimana perasaan keluarganya nanti. Tapi bukan berarti dia bisa bebas dari apa yang di lakukannya. Papa juga mau ketemu langsung sama orangnya. Sekalian, papa jengukin kamu di pesantren. Eh taunya, malah kamu di rawat di sini."


"Berarti papa udah tahu pelaku yang sebenarnya?"


"Iya. Aisyah kan namanya??"


"Aisyah?! Papa tau dari mana kalau Aisyah pelakunya."


"Ghea yang kasih tahu papa. Dia juga kasih foto wajah Aisyah ke papa"


"Tapi bukan Aisyah pelakunya pa. Tapi Ghea" Jawab Fariz.


Terlihat jelas wajah papa Fariz langsung terlihat kaget dan tak percaya. "Ghea?"


"Iya. Ghea. Dia udah jebak Aisyah. Aisyah ga salah apa apa, dia cuma korban"


"Ga mungkin Ghea ngelakuin itu Riz!" Ujar papanya tak percaya.


"Tapi memang kenyataannya itu pa"


"Kamu punya bukti?"


"Punya. Tapi di ponsel teman Fariz" Fariz menghela pelan. "Nanti, Fariz suruh Iqbal buat kirim bukti itu ke papa. Dan papa tahu? Kondisi Fariz saat ini juga karena Ghea. Papa ga percaya? Sama, awalnya Fariz juga. Tapi itu emang kenyataan yang sebenarnya."


Papa Fariz menganggukkan kepalanya. "Kalau emang Ghea pelakunya, kasih bukti ke papa"


"Kalau udah ada bukti. Apa yang bakal papa lakuin?"


"Udah kamu lupain masalah itu, jangan sampai hal itu membebani pikiranmu Riz. Sekarang masalah itu biar papa yang urus. Kamu cukup fokus untuk kesembuhan dirimu sendiri" Jawabnya.


•••••


"Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil alamin yang artinya sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam." Ucap Abah saat mengisi kajian sore. Setelah sholat ashar, mereka para santri memang masih di dalam masjid. Bersholawat dengan di iringi pukulan demi pukulan rebana yang di mainkan oleh santriwan. Di susul dengan kajian yang di isi Abah.


"Terkadang, ada manusia yang lupa akan tujuan hidupnya, ada juga yang masih bertanya tanya tentang apa sih tujuan kita hidup di dunia? Padahal hal itu sudah terjawab pada kalimat yang sering kita baca saat sholat di doa iftitah. Kita hidup karena Allah, kita hidup untuk Allah dan pastinya nanti kita juga akan kembali kepada Allah"


"Sering kita kesana kemari untuk mencari kebahagiaan. Lupa bahwa dari mana kebahagiaan itu berasal. Hidup, itu hanya terdiri dari dua unsur ujian berupa kebahagiaan dan ujian yang mendatangkan kesedihan bagi kita. Itu sudah pasti ada. Tidak ada manusia yang hidupnya bahagia terus, sebahagianya mereka pasti juga punya kesedihan. Sebaliknya, tidak ada juga manusia yang hidupnya sedih terus, susah terus itu ga ada. Pasti juga mereka pernah merasakan yang namanya bahagia, walaupun sederhana." Ujar Abah. "Sebenarnya ujian hidup itu tidak semuanya mencakup kesedihan yang di haruskan untuk bersabar. Ada lho, ujian yang berupa kebahagiaan. Contohnya kita di kasih Allah harta yang


Masya Allah berlimpah, kita di kasih jabatan yang tinggi sekali yang membuat kita di hormati sekaligus di segani oleh orang orang"


"Nah, di sini kita di uji apakah walaupun dengan semua itu, kita akan tetep ingat kepada Allah? Apakah kita tetap rendah hati untuk berbagi kepada orang orang yang kurang mampu di sekitar kita? Atau malah kita hanya sibuk untuk memamerkan semua apa yang kita miliki? Sibuk untuk sombong kesana kemari, sampai lupa akan bersyukur kepada Tuhannya. Itu juga termasuk contoh ujian. Satu lagi, ini yang paling sering terjadi pada anak seusia kalian. Yaitu cinta."


"Allah itu memberikan kita cinta kepada lawan jenis saat usia muda untuk menguji kita, apakah dengan cinta itu kita akan melakukan perbuatan maksiat? Perbuatan zina? Apakah dengan cinta itu kita akan semakin berlarut dalam kebahagiaan yang membuat kita lupa akan adanya dosa? Atau dengan cinta itu, kita malah lebih mendekatkan diri kepada Allah agar bisa segera mendapatkan hati orang yang kita cintai dengan cara yang di ridhoi Allah. Maka jangan salah bila kebanyakan dari kalian mengambil jalan pacaran, mengambil jalur maksiat, hanya sakit hati dan patah hati yang akan kalian dapatkan."


Aisyah menundukkan kepalanya, entah kenapa ia merasa perkataan Abah menjadi tamparan untuk dirinya. Ya, mungkin rasa sakit yang di berikan Allah kepadanya karena memang dirinya telah terlena dengan cinta itu tanpa di sadari. Astaghfirullah, kalau memang benar adanya begitu ampunilah aku Ya Allah,,,,


"Tuh lihat banyak di luar sana orang yang nangis, orang yang sampe ngurung diri bahasanya menyiksa diri sendiri ada juga yang sampe bunuh diri karena di selingkuhin sama pacarnya. Nauzubillah min dzalik. Itu adalah orang yang ilmu agamanya kurang. Jangan di tiru! Itu mengapa pentingnya akan ilmu. Terutama ilmu agama. Ilmu tanpa agama pincang, agama tanpa ilmu buta." Ceramah abah. "Maka para santiwan santriwati yang di rahmati Allah, jangan pernah kalian bosan untuk meununtut ilmu. Maka ada hadits yang artinya, barang siapa yang menempuh jalan untuk meununtut ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan ke syurga."


"Ingat! Tiada hari tanpa ilmu. Sekian dari Abah, kita lanjut di lain hari. Sebentar lagi akan memasuki waktu adzan Maghrib, jadi kalian bersiap siap untuk sholat. Sambil menunggu adzan, perbanyak dzikir dan sholawat, atau membaca Al Qur'an."


"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"


•••••


Papa Fariz merogoh saku ponselnya saat bunyi nada dering terdengar samar di telinganya. Melihat nama yang tertera, dia langsung berjalan keluar dari ruangan. "Ham" Panggil Fariz.


Ilham yang terduduk di sofa langsung menoleh. "Apa?"


"Gimana nasib penculiknya sekarang?"


"Empat dari mereka udah ketangkap. Kemarin, Reyhan juga udah buat laporan ke polisi"


"Bagus kalau gitu"


"Terus Ghea? Apa Lo juga bakal laporkan ke polisi? Secara dia inti utama dari semua kasus ini" Tanya Ilham.


"Gue ga tahu. Kali ini biar papa aja yang ngurus" Jawab Fariz. "Sekarang gue lagi fokus, buat gimana caranya biar gue bisa baikan lagi sama Aisyah"


"Lo mendingan minta maaf aja. Masalah Aisyah mau Deket lagi atau nggak sama Lo itu biar dia yang kasih keputusan. Lo nggak usah maksa buat Deket lagi sama dia"


"Ilham" Panggil papa Fariz yang datang setelah bertelepon dengan istrinya.


"Iya om?"


"Kamu pulang aja ya. Biar om yang temenin Fariz di sini"


"Iya om"


"Pulang sendiri ga papa?"


"Nggak papa om"


"Nggak di marahin pak kyai kan?"


"In Syaa Allah nggak om. Soalnya tadi Abah kira saya nginep di sini temenin Fariz"


"Ya sudah kalau begitu"


Ilham berdiri. "Saya pamit om, Riz. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Ilham menyalami tangan papa Fariz lalu berjalan melewatinya dengan sedikit membungkukkan badan. "Tadi siapa yang telpon pa?" Tanya Fariz.


"Mama. Tanya keadaan kamu"


"Terus, papa jawab apa?"


"Ya,,, papa jawab kamu sehat. Nanti kalau mama mu tau kamu di rawat di rumah sakit, dia juga bisa ikutan sakit karena stres mikiran kamu" Jawabnya. "Oiya papa mau ke bagian administrasi buat bayar biaya rumah sakit kamu"


"Udah di bayar sama Abah pa" Ujar Fariz.


"Kok kamu ga bilang? Papa jadi ga enak sama pak kyai."


•••••


Aisyah dan Syifa berjalan menyusuri lorong sekolah. Tak lama sheren datang menghampiri mereka. "Gue mau ngomong sama Lo Syah" Ujarnya.


"Ngomong apa?"


"Ikut gue"


"Kenapa ga di sini aja sih ngomongnya?" Sahut Syifa.


"Gue cuma mau ngomong berdua sama Aisyah"


"Ya udah. Mau ngomong di mana?" Tanya Aisyah.

__ADS_1


"Tapi Syah nanti kalau dia malah macem macem gimana?!"


"Hssstt,, ga boleh suudzon fa,,"


"Ga suudzon, tapi was-was syah" Elak Syifa.


"Ikut gue" Ujar sheren dengan berjalan pergi.


"Fa, duluan ya. Assalamualaikum" Ujar Aisyah.


"Waalaikum salam"


Aisyah langsung berjalan mengikuti sheren. "Ada apa?" Tanya Aisyah.


"Syah..." Sheren menghela pelan. "Gue minta maaf ya"


"Untuk?"


"Untuk semuanya. Gue kan selama ini nggak suka sama Lo. Dan sikap gue ke Lo, terbilang ga bersahabat. Jadi gue minta maaf kalau ada kata kata sama tingkah laku gue yang selama ini nyakitin hati Lo" Jelas sheren. "Kania udah ngomong semuanya ke gue. Selama ini, gue cuma salah paham sama Lo"


Aisyah tersenyum. "Jauh sebelum kamu minta maaf, aku udah maafin"


"Bener? Lo ga benci kan sama gue? Lo ga sakit hati lagi kan karena gue?"


"Aku itu ga pernah benci sama siapapun sheren, termasuk juga kamu"


"Aisyah....sheren..." Panggil Bu Isma kepada mereka. "Kalian ikut ibu ke kantor"


"Kita berdua Bu?" Tanya sheren.


"Iya. Ayo..." Ujar Bu Isma lalu kembali melangkah menuju kantor guru.


"Ada apa Syah? Apa kita pernah ngelakuin kesalahan?" Tanya sheren berbisik.


Aisyah menggeleng. "Nggak tahu."


Tanpa basa basi lagi, mereka berdua langsung berjalan di belakang Bu Isma. Mengikutinya hingga memasuki ruang guru. "Duduk" Perintah Bu Isma.


Guru itu menatap kedua muridnya yang tengah mengambil tempat duduk. "Ada apa ya Bu?" Tanya sheren.


"Begini, saya ingin menanyakan sesuatu sama kalian. Apa kalian mau ibu ikut sertakan dalam kelombaan olimpiade matematika?"


Mendengar itu sheren langsung menganga. Matanya berbinar tak percaya. "Kita Bu?"


"Iya kalian."


"Mau mau Bu,,, saya mau banget!!" Jawab sheren semangat.


Bu Isma tersenyum. "Kamu Aisyah?"


Aisyah mengangguk. "Saya juga mau Bu"


"Baik kalau begitu. Mulai Minggu depan kalian mulai melakukan pembinaan ya. Sehabis pulang sekolah setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu"


Mereka berdua mengangguk kompak. "Baik Bu"


"Itu saja yang ingin saya bicarakan. Kalau tidak ada yang ingin di tanyakan lagi, silahkan boleh keluar"


"Iya bu. Ayo Syah" Ajak sheren dengan berdiri. "Bu saya pamit. Permisi..."


"Iya"


Aisyah berdiri. "Saya juga Bu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Keluar dari ruang guru, sheren jingkrak jingkrak kesenangan. Ini adalah keinginannya dari dulu. Saking senangnya hingga tak sengaja memeluk gadis di sampingnya. Tersadar, sheren langsung melepaskan pelukannya. "Maaf Syah gue kelepasan." Ujar sheren dengan rasa canggung yang mendadak ada. Hal yang membuat Aisyah tidak bisa menahan senyumannya.


•••••


"Makasih ya dit" Ujar Syifa dengan tersenyum lebar.


"Iya. Jangan lupa di makan" Balas Adit.


"Pasti dong..."


"Gue pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Da-Dah..." Syifa melambaikan tangannya. "Uuuhhh,,, yes dapet brownis" Ujarnya dengan mencari tempat duduk.


Usai dirinya duduk, dia langsung membuka brownis. "Wih, ternyata kue balok isinya." Tanpa ragu Syifa langsung mengambil lalu memakannya dengan nikmat. "Gila gila enak banget"


"Beli??"


Uhuk uhuk...


Dirinya langsung tersedak saat mendengar pertanyaan yang nyata terdengar jelas di pendengaran nya. Dengan heran Syifa menatap Reyhan yang duduk di sampingnya. "Kakak kok kayak jin?? Kapan kakak di sini? Kok Syifa ga lihat. Ya Allah,,, kakak demen banget ya bikin Syifa kaget!" Ucap Syifa mengelus ngelus dadanya.


"Beli?" Tanya Reyhan mengulangi pertanyaannya.


"Oh ini?" Tanya Syifa menunjuk kardus berisi kue balok yang di pangkunya.


"Hm"


"Di kasih Adit kak. Kakak mau?"


Reyhan mengambil kue balok tersebut. "Nggak usah di makan lagi"


"Ih emang kenapa? Enak tau kak! Sayang kalau ga di makan"


"Biar gue aja yang makan"


"Semuanya?" Tanya Syifa.


Reyhan mengangguk.


"Yah jangan dong. Syifa lagi makan satu..." Balasnya dengan nada merengek.


"Nggak baik kebanyakan gula"


"Ini kan cokelat bukan gula" Jawab Syifa. "Sebenarnya kakak itu takut Syifa makan kebanyakan gula atau cemburu sih?" Tanya Syifa menginterogasi.


"Hmm,,, pasti cemburu. Iya kan?? Kak Rey sebenarnya ga mau kan Syifa makan pemberian dari Adit. Ga usah cemburu kak, tenang aja Syifa ga punya rasa apa apa ke Adit" Lanjutnya.


"Kalau dia punya?" Tanya Reyhan dingin.


"Kalau Adit punya,,,,, ya emang kenapa? Wajarlah. Bukan tentang aditnya, tapi tentang Syifa. Kalau Adit suka sama Syifa, tapi kalau Syifa nya suka sama kak Rey, Adit bisa apa?" Balas Syifa santai.


Reyhan terdiam. "Mau kue ini?"


Syifa mengangguk mantap. "Iya"


"Besok gue beliin. Yang ini biar gue yang makan"


"Aduh kak ga usah, nanti malah uang kakak jadi berkurang lhoh." Syifa menatap Reyhan yang terdiam. "Kakak ga usah cemburu, kan Syifa udah bilang. Syifa sukanya cuma sama kakak."


Reyhan mengembalikan kuenya. "Makan, tapi jangan kebanyakan nanti diabetes" Ucap Reyhan lalu berjalan pergi.


Syifa tertawa kecil. "Aduh, sekarang perhatian. Nanti diabetes!!" Dia kembali tertawa. "Esnya udah cair. Masih dingin sih, tapi sekalinya kasih perhatian kok berasa beda banget ya"


"Tau ah. Mau lanjut makan aja" Gumam Syifa tidak mau membebani dirinya dengan pikiran pikiran itu. Lebih baik dia makan kue balok yang nikmatnya Masya Allah ini. Cokelatnya lumer uh...

__ADS_1


...*******...


__ADS_2