
"Selanjutnya Lina" Ujar ustadzah Rina.
Lina langsung menempatkan posisinya di depan keran untuk wudhu. Dia langsung membaca doa wudhu, lalu mulai membasuh telapak tangan.
"Jangan lupa Sela sela jari juga dibasuh" Kata ustadzah Rina yang terus mengamati Lina dalam melakukan gerakan wudhunya.
"Airnya jangan cuma di diemin di hidung, dihirup sampe kedalem" Ujar ustdazah. "Ga papa, biar terbiasa. Ayo" Kata ustdzah yang melihat Lina merasa ragu saat menghirup airnya sampai kedalam hidung.
"Mukanya dibasuh sampai batasan telinga, jangan cuma wajah depan doang yang dibasuh"
Setelah semuanya selesai, Lina membaca doa selesai wudhu. "Langsung ke mushola ya,, untuk praktek sholat Bu nyai yang akan menilai"
"Iya ustadzah" Jawab Lina.
•••••
Dinda duduk di kursi taman pesantren, dengan selembar kertas di tangannya. Dinda terus mengamati kertas itu dengan baik baik. Kertas yang entah dari siapa itu, kertas yang entah mempunyai tujuan apa ditujukan pada Dinda.
Pun sampai saat ini, Dinda masih belum mengetahui siapa yang memberinya surat tersebut. Dirinya terkejut saat mendapati sebuah pesawat kertas berwarna hijau tepat jatuh mengenai kakinya. Ia mengambilnya, lalu mengarahkan pandangan di sekelilingnya. Siapa yang bermain pesawat kertas saat yang lainnya sibuk menjalani ujian? Dinda terdiam. Lalu membuka pesawat kertas tersebut. Sebuah kalimat tertera didalamnya.
Biarkan saya diam dalam kata, namun riuh
dalam doa tentang apa itu cinta. Karena saya takut saat kalimat 'saya cinta kamu' terlantun tanpa ridho Allah, itu adalah langkah pertama
saya kehilangan kamu.
Dinda membolak-balik kertasnya, dan lagi lagi tidak tertulis nama penulisnya. Membuat rasa penasaran semakin membara dalam dirinya. Apakah yang menulis ini adalah orang yang sama yang memberinya surat beberapa hari lalu?!
"Dinda..." Panggil Lina yang berjalan mendekati Dinda. Seketika Dinda langsung menyembunyikan semuanya.
"Assalamualaikum" Ujar Lina dengan duduk di dekat Dinda.
"Waalaikum salam"
"Ngapain disini sendirian?" Tanya Lina.
"Bukan apa apa kok. Kamu ga ujian?"
"Udah, baru aja selesai."
"Itu apa yang Lo sembunyiin?!" Tanya Lina dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak apa apa. Ga penting juga" Ucap Dinda.
"Boleh gue lihat?"
"Eh,, jangan!!"
"Kenapa?" Tanya Lina dengan nada curiga.
Dinda hanya bisa menggeleng.
Dan tanpa aba aba Lina langsung mengambil kertas yang disembunyikan Dinda di balik tubuhnya.
"Eh Lin.." Dinda yang terkejut langsung mengambil kertasnya, namun Lina langsung berlari membuat Dinda merasa sedikit kesal.
"Ya Allah Lina..." Lirih Dinda yang terus mengejar Lina.
"Eh bentar bentar Din. Gue lelah" Ujar Lina menghentikan larinya.
"Lin,, sini kertasnya" Ucap Dinda yang masih berusaha merebut kertas dari genggaman Lina.
"Diem,, atau gue robek kertasnya" Kata Lina penuh ancaman. Membuat Dinda langsung terdiam.
Lina langsung membaca setiap kata yang tertera dalam kedua kertas di genggamannya.
Tak lama setelah itu ia tersenyum menggoda Dinda. "Ciee Dinda,, ternyata Lo demen juga ya jatuh cinta" Goda Lina dengan menaik nurunkan alisnya.
"Ih apaan sih Lin. Aku aja ga tau itu surat dari siapa"
Lina terdiam. "Maksut Lo ga tau?!"
"Iya aku ga tau,, itu surat yang kasih siapa. Aku bener bener ga tau. Dan,,, aku juga ga ngerti maksutnya apa kirim surat kayak gitu ke aku"
"Ga peka banget sih Lo Din. Ini itu pasti yang ngirim orang yang suka sama Lo. Cuma,, dia itu ga mau ngungkapin secara langsung" Kata Lina.
"Terus kamu tau siapa yang ngirim surat itu?"
"Ya mana gue tahu. Tapi kita bisa cari tahu melalui tulisannya"
"Maksutnya kita bakal tanya ke orang satu satu, itu tulisan siapa gitu?" Tanya Dinda.
"Iya"
"Orang yang punya tulisan kayak gitu, itu banyak Lin. Gak cuma dia doang"
"Iya ya,,," Lina terdiam. "Oke deh kalau gitu. Kalau Lo dapet surat lagi kasih tau gue ya. Ini.." Ujar Lina dengan mengembalikan surat milik Dinda. "Simpen baik baik, biar kalau Lo udah nikah Lo inget pernah dapet surat begituan pas waktu SMA" Ujar Lina disertai tawa kecilnya.
"Ih Lin,,," Lirih Dinda cemberut.
•••••
Seperti biasa, setelah sholat isya' biasanya abah akan menyampaikan informasi atau sedikit berceramah.
"Alhamdulillah, pada hari ini sudah ada beberapa anak yang sudah mengikuti ujian. Yang belum akan menyusul besok dan hari berikutnya. Nah ini akan Abah koreksi kesalahan yang dianggap sepele padahal sering dilakukan. Yang pertama wudhu. Disini Abah lihat,, khususnya para santriwan itu kalau membasuh tangan tidak sampai siku. Jadi hanya dibasuh saja, tanpa peduli siku tersebut sudah basah oleh air wudhu atau belum. Nah ini perlu diperhatikan, lalu saat membasuh kaki. Harus benar benar dibasuh,, di sela sela jarinya." Ujar Abah.
"Wudhu itu sangat penting. Kalau wudhu saja kita tidak benar,, apalagi sholat? Kalau kita wudhu saja tidak sah, apalagi sholat? Nah makannya kita harus sering sering belajar. Sekarang sudah ada internet, itu digunakan baik baik. Jangan yang tidak penting penting, internet itu digunakan untuk mencari informasi, untuk belajar, untuk berkarya,,, ya. Baik kita kembali lagi,, kalau seujung kuku kaki kita tidak terkena air wudhu maka wudhu kita tidak sah. Hanya seujung kuku kaki. Seujung? kuku kaki,, makannya kita harus lebih teliti lagi kalau berwudhu. Jangan terburu buru"
"Yang kedua adalah sholat. Nah ini yang diperhatikan banyak ya, mulai dari bacaan dan gerakan. Untuk bacaan sholat nanti akan di koreksi oleh ustadz dan ustadzah. Bagaimana membaca surat alfatihah dan bacaan sholat lainnya yang benar. Kali ini Abah, hanya akan membahas tentang gerakan sholat. Ini yang sering dilakukan kesalahan adalah saat ruku' dan sujud. Padahal,, kalau ruku' dan sujud kita tidak sempurna maka ibadah sholat kita tidak akan diterima selama 60 tahun. Kalau sudah begitu siapa yang rugi? Diri kita sendiri. Ada yang ruku' nya sudah sempurna tapi sujudnya belum,, ada juga yang sujudnya sudah sempurna tapi ruku' nya belum."
"Maka dari itu,, jangan pernah menganggap sepele hal tersebut. Disini banyak Abah jumpai kalau ruku' punggungnya banyak yang bungkuk, yang benar punggung saat ruku' harus lurus. Kalau itu, bisa kalian pelajari sendiri sendiri dengan bantuan teman atau kalian praktekan di depan cermin. Lihat,,, apa punggung saya sudah lurus ya? Jadi bisa dipraktekkan sendiri. Lalu untuk sujud. Kalau sujud jemari kaki kita harus menempel di sajadah. Dengan posisi jemari kaki menghadap kiblat. Banyak Abah temui, tidak semua jari kaki menempel pada sajadah. Biasanya yang ketinggalan itu jari kelingking kaki, itu yang tidak menempel pada sajadah. Lalu pada saat sujud diusahakan untuk menjauhkan posisi paha dari perut. Lalu saat sujud, punggung harus lurus. Dahi, hidung, kedua tangan, kedua lutut, jemari kaki semuanya harus menempel pada sajadah."
"Terus kalau sujud dan ruku' diusahakan jangan terburu buru. Karena apa? Karena saat sholat dosa kita akan didatangkan, dan ditaruh di kedua pundak dan kepala. Jadi, saat kita sujud dan ruku' dosa kita akan berjatuhan. Maka dari itu, jangan terburu buru saat melakukan sholat. Lakukan dengan khusyu', walaupun memang kalau sholat kita teringat dunia, teringat ini itulah. Menjadikan kita ingin cepat selesai atau malah menjadikan kita lupa rakaat dalam sholat. Itu pasti sering kan di alami saat sholat?"
"Iya..." Jawab semuanya.
"Iya,, Abah juga sering mengalami seperti itu. Maka dari itu, sebelum sholat di usahakan membaca surat an-nas, untuk mengusir setan setan yang akan menganggu kita. Terus saat kita sholat diusahakan baju kita rapi,, tempat yang kita gunakan bersih. Karena ternyata itu semua dapat memengaruhi kekhusyukan sholat kita. Baik, Untuk kali ini Abah rasa cukup sekian. Kita akan lanjut lain waktu. Assalamualaikum Warahmatullahi"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
•••••
"Assalamualaikum" Ujar Syifa dengan memasuki kelas Reyhan.
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan, Ilham dan Iqbal.
"Selamat pagi kakak semua..." Ujar Syifa semangat.
"Semangat banget fa" Kata Iqbal.
"Iya dong kak harus semangat! Pagi baru,, semangat baru,, ini mumpung pagi ini cerah banget. Kak Reyhan ga mau ngucapin selamat pagi?!"
"Selamat pagi Syifa..." Kata Iqbal. Syifa menoleh pada Iqbal.
"Selamat pagi juga kak Iqbal..."
"Tuh kak Rey,, kak iqbal aja udah ngucapin selamat pagi. Kakak ga mau niatan buat ngucapin juga gitu?"
"Han,, kalau di omongin jawab. Jangan diem Bae" Timpal Iqbal.
"Kak jangan perhatiannya sama buku doang dong. Emang ga bosen apa setiap hari buku, buku, buku. Buku terus!!"
Syifa terdiam, lalu menghela pasrah. Sekeras apapun dia berusaha membujuk Reyhan, sepertinya Reyhan tetap akan diam. "Nih kak, aku bawain brownis lagi. Ga papa ya?"
__ADS_1
"Hm" Jawab singkat Reyhan.
"Kakak ga bosen kan, makan brownis terus?"
"Nggak kok fa,, Reyhan ga pernah bosen makan brownis dari Lo. Apapun bekal yang Lo beri pasti di makan Reyhan" Jawab Iqbal.
"Beneran kak?" Tanya Syifa yang tak digubris oleh Reyhan.
"Kak..."
"Hm"
"Kak Rey ga mau ngucapin makasih sama aku?"
Reyhan terdiam. Lalu menghela nafas pelan. "Makasih" Ujar Reyhan.
Syifa tersenyum lebar. "Iya,, sama sama"
"Oh ya,, kak Fariz mana? Kok ga ada disini?" Tanya Syifa pada ketiganya.
"Tau tu Fariz,,, dari kemarin diem Mulu tu orang. Nggak kayak biasanya" Jawab Iqbal.
•••••
"Mbak es jeruk satu" Ujar Lina dan Iqbal secara bersamaan.
"Iya sebentar" Jawab mbak Windi.
Mereka berdua berdiri terdiam sembari menunggu es jeruknya jadi. Setelah beberapa menit. "Ini..." Mbak Windi menyodorkan es jeruk ke tengah tengah mereka.
"Ih,, gue dulu" Ujar Lina yang es jeruknya diambil paksa oleh Iqbal.
"Nggak, nggak bisa,, gue dulu" Kata Iqbal tak mau kalah.
"Gue dulu yang pesen"
"Kata siapa? Gue dulu"
"Ih,, ini punya gue" Kata Lina kesal.
"Lepasin ga..."
" Ga mau,,, ini itu gue duluan yang ambil" Ucap Lina. "Cowok itu ngalah!!" Tegas Lina.
"Nggak bisa, cewek yang harus ngalah"
"Mana ada istilah cewek ngalah"
Mbak Windi mengambil kembali gelas yang menjadi sumber perdebatan mereka. "Kertas batu gunting aja" Usul mbak Windi.
"Oke" Jawab mereka bersamaan. "Kertas batu gunting..."
"Yes menang!!" Ujar Iqbal.
"Nggak, nggak bisa. Gue yang menang" Kata Lina tak mau kalah.
"Gue yang menang!! Lo ga lihat tadi?" Tanya Iqbal dengan nada kesal.
"Dimana mana yang menang batu"
"Ngawur aja Lo, kertas sama batu itu menang kertas!!" Ketus Iqbal.
"Bodo,,, pokoknya ini es jeruk gue. Iya kan mbak" Kata Lina mencari pembelaan.
Mbak Windi menatap Iqbal. "Em mas,,, ini biar buat mbak Lina aja ya. Laki laki ngalah. Nanti saya buatin lagi ya" Ujar mbak Windi lalu memberikan es jeruknya pada Lina.
Iqbal menatap kesal Lina yang tersenyum penuh kemenangan. "Dasar macan betina!!"
"Bodo,,,"
"Dasar singa lebay"
"Mana ada singa lebay" Ketus Iqbal.
"Bodo,,," Lina berjalan ke arah mejanya tanpa mempedulikan Iqbal yang sekarang entah apa. Menggerutu, mengomel atau entahlah.
"Gara gara minuman gitu aja jadi rebutan" Kata Syifa saat Lina sudah sampai di meja.
"Ya iyalah, gue duluan"
"Kalian itu tadi bareng. Gue denger kok"
"Bodoh,, pokoknya intinya adalah cowok harus ngalah. Titik."
"Kamu sama kak Iqbal kok kayaknya berantem terus sih Lin?" Tanya Aisyah.
"Namanya juga cinta Syah,, mula mula benci terus kedepannya jadi cinta" Jelas Syifa.
"Enak aja,,, mana mau gue cinta sama orang begituan!!"
"Ya kali,, Lo besok besok jadi bucin sama kak Iqbal"
Lina memutar bola matanya. "Jangan bahas dia lagi deh. Ogah banget rasanya" Lina mengaduk es jeruk, lalu menyeruputnya.
"Syah,, nanti Lo mau nganter gue kan?"
"Kemana?!" Tanya aisyah.
"Ke toko yang jual baju itu,,," Ujar Syifa dengan memakan suapan terakhir nya.
"Toko baju kan banyak disini" Kata Dinda.
"Yang jual Karung,,,"
"Mana ada toko baju jual karung" Ujar Lina.
"Sarung maksutnya" Kata Syifa membenarkan perkataannya.
"Yang jual sarung juga banyak disini" Ucap Dinda.
"Ya pokonya nantilah muter muter buat beli sarung..." Syifa merogoh saku roknya,, ingin mencari uang untuk ia bayarkan.
"Yah,, gue lupa uang gue ketinggalan di tas" Gumamnya. "Gue mau kekelas dulu ya" Ucapnya.
"Iya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Syifa berjalan cepat menuju kelas dan langsung membawa beberapa lembar uang dari tasnya. Setelah itu ia kembali berjalan menuju kantin, namun bukannya ia ke kantin Syifa malah berlari mengikuti Reyhan.
"Kak Reyhan!!" Teriak nya dari arah belakang.
"Kak reyhaann,,,, Assalamualaikum" Kata Syifa.
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan yang menghentikan langkahnya.
"Kak mau kemana?"
"LAB" Jawab Reyhan singkat.
"Sendirian?"
__ADS_1
"Sama Naira dan Devan" Jawabnya.
Syifa mengangguk. "Kak aku boleh tanya ga?"
"Hm"
"Kakak kapan suka sama aku?"
"Nggak tahu"
"Ada rencana nggak buat suka sama aku"
"Nggak"
"Kenapa nggak?" Tanya Syifa. "Susah banget sih buat ngelunakin hatinya kakak. Hati kakak kayak batu tau ga,, susah banget buat di tembus" Ujar syifa.
"Kak,,, kenapa sih aku itu udah chat kakak, udah DM kakak. Tapi kakak ga pernah bales, cuma diread doang" Omel Syifa. "Susah emang," Gumamnya lagi.
"Kalau susah ya udah nyerah,," Kata Reyhan membuat Syifa sedikit tersentak.
"Maksutnya? Aku nyerah buat ngejar kakak gitu?!" Tanya Syifa.
"Iya... asal Lo tahu gue malah seneng kalau Lo nyerah. Jadi kalau Lo suatu hari udah nyerah, tolong bilang gue. Gue akan senang hati menerima kabar itu. Gue tunggu!!" Ujar Reyhan.
Syifa terdiam dengan menundukkan kepalanya. Entah kenapa lidahnya mendadak Kelu untuk berkata,,
"Assalamualaikum" Ucap Reyhan.
"Waalaikum salam" Jawab Syifa pelan.
•••••
"Assalamualaikum" Ujar Syifa dan Aisyah dengan membuka pintu kamar.
"Waalaikum salam" Jawab Dinda dan Lina.
"Lama banget,, beli apa aja?!" Tanya Lina.
"Nih,, gue beli sarung sama tunik" Jawab Syifa. "Tadi juga mampir buat beli jajan, nih" Kata Syifa dengan menunjukkan plastik hitam berisi beberapa jajan.
"Coba lihat sarungnya..."
Syifa menyodorkan plastik putih berisi 3 buah sarung perempuan kepada Lina.
Lina mengangguk. "Kirain Lo bakal beli sarung laki laki"
"Ya ngga lah..." Jawab Syifa. " Bentar,, gue mau ganti baju dulu ya"
"Iya"
Setelah beberapa menit Syifa kembali ke kamar dengan memakai baju dan celana panjang.
"Kok pakai celana fa?" Tanya Dinda.
"Iya,, kan mau gue pakai in sarung" Jawabnya. Lalu ia membuka satu bungkus jajan dan memakannya.
"Din ajarin gue buat pakai sarung dong"
Dinda mengangguk,, lalu membuka lemari bajunya. Mengeluarkan satu buah sarung berwarna hitam dengan di dominasi batik berwarna putih.
Secara langsung Dinda mencontohkan cara memakai sarung yang benar. "Ini disamakan dulu kiri kanan,, habis itu ini dilipat, diginiin biar kenceng.. terus satunya lagi...habis itu dilipat lagi gini.. dirapiin. Selesai deh. Gampang kan?"
Syifa mengamati nya dengan baik baik. "Iya ya gampang" Syifa langsung menaruh jajannya, lalu mengambil sarung untuk ia praktekan.
"Disamain dulu,,, terus yang ini dilipet gini?"
Dinda mengangguk. Lalu Syifa kembali melakukan step by step. Setelah selesai...
"Lah kok gini jadinya..." Kata Syifa yang melihat dirinya menggunakan sarung tidak pas.
"Yah kan,, lepas sarungnya!!"
"Itu kurang kenceng berarti, Coba ulang lagi" Kata Dinda.
Syifa mengangguk.
Syifa kembali memakai sarung dengan sedikit bantuan Dinda. Beberapa kali masih sama,, lepas dan hasilnya tidak rapi. Hingga percobaan ke 5 hasilnya cukup memuaskan bagi Syifa.
Syifa melompat beberapa kali, untuk mengecek bahwa sarungnya tidak akan lepas. Setelah yakin,, Syifa tersenyum lebar. Karena akhirnya ia dapat memakai sarung yang benar.
"Makasih ya Din" Ujar Syifa.
Dinda mengangguk.
Syifa kembali melakukan aktivitasnya yang sempat tertunda, memakan jajannya hingga habis. Lalu Syifa keluar untuk membuang sampahnya,, namun tepat saat Syifa memasuki kamar,, sarungnya kembali lepas.
"Eh,, sarung gue mbrojol..." Kata Syifa refleks setengah berteriak. Membuat Lina langsung menariknya ke dalam, lalu menutup pintu kamarnya.
"Jangan teriak!!" Ujar Lina.
"Iya maaf,, habisnya sarung gue mbrojol"
Lina tertawa kecil "Mbrojal mbrojol emang bayi mbrojol" Katanya.
Memang aneh kalau harus menggunakan kata mbrojol dalam kalimat itu.
"Yah gimana nih Din,, cara Lo ga manjur" Ucap Syifa.
"Bukan cara Dinda yang ga manjur,, Lo nya aja yang ga becus" Jawab Lina.
"Lin, fa, Din aku keluar dulu ya" Izin Aisyah.
"Mau kemana?" Tanya Dinda.
•••••
"Riz,, Lo kenapa dari kemarin diem Mulu?" Tanya Iqbal.
Fariz masih terdiam. "Gue,,, gue mau..."
Iqbal mengangkat kedua alisnya. "Mau apa"
Fariz menggeleng kan kepalanya. Lalu kembali terdiam. "Gimana menurut Lo kalau gue ngejauhin Aisyah?" Tanya fariz.
Iqbal terkejut. "Jangan!! Gue lebih suka Lo sama Aisyah,, kalau Lo jauhin Aisyah si Ghea bisa lebih leluasa deketin Lo"
Fariz menghela pelan. "Tapi gue juga ga bisa terus Deket Aisyah kayak gini"
"Emang kenapa ha? Aisyah punya salah apa sama Lo" Ketus Iqbal.
"Gue pergi dulu, Assalamualaikum"
"Lah Riz...Riz mau kemana?!" Tanya Iqbal yang melihat Fariz pergi entah kemana. "Waalaikum salam" Ujarnya pelan menjawab salam Fariz.
Fariz terus melangkah. Entahlah,, dia juga tak tahu harus melangkah kemana. Langkahnya terhenti saat melihat Aisyah yang duduk sendiri di taman pesantren. Fariz terus menatap Aisyah dari kejauhan. Saat ini fariz benar benar bingung harus berbuat apa. Beberapa menit Fariz masih terdiam dalam keterpakuannya...
Syah,, maafin gue ya. Gue harus menjauh dari Lo,, bukan karena gue benci atau pun ga suka sama Lo. Gue cuma pengen,, ngebuang perasaan ini jauh jauh. Gue harus ngilangin semua perasaan ini. Batinnya.
Tapi Lo tenang aja,, gue akan tetap ngebelain Lo. Gue gak tau gimana kita kedepannya,, sebenernya gue juga ragu untuk ngelakuin ini. Tapi gue harus bener bener ngilangin perasaan ini dari diri gue,,, perasaan yang entah kapan datangnya.
Fariz terus menatap aisyah yang terus terdiam entah memikirkan apa. Dengan ditemani semilir angin siang itu.
...******...
__ADS_1