Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Tujuh Belas


__ADS_3

"Sekalian beli yang banyak aja buat stok" Gumam Syifa dengan menggenggam jajan yang ada di depannya lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Tak peduli sudah seberapa banyak jajan yang sudah ia masukkan kedalam keranjang, yang terpenting kalau dirinya terbangun tengah malam karena lapar ia tidak akan kesulitan lagi untuk mencari makanan kesana kemari.


"Kok banyak banget fa?" Tanya Aisyah yang melihat Syifa membeli jajan satu keranjang penuh.


"Buat stok selama beberapa hari kedepan" Jawab Syifa enteng.


Setelah puas, Syifa langsung membawanya ke kasir dan melakukan pembayaran.


Karena hari ini hari Ahad, jadi para santri di perbolehkan berpergian keluar pesantren bila ada keperluan, dan batas keluar maksimal satu jam. Lebih dari satu jam akan di kenai denda atau hukuman. Tidak mau membuang waktu, keduanya langsung pulang ke pesantren.


Setelah sampai dan masuk ke kamar syifa langsung merebahkan tubuhnya di kasur begitu saja dengan mengambil ponsel sekedar melihat lihat chat atau pergi ke instagaram untuk mengusir kebosanan nya.


Syifa memicingkan matanya saat melihat sebuah pesan yang di kirim Reyhan kepadanya. "Tumben kak Reyhan kasih gue pesan. Biasanya gue dulu yang nge chat" Gumamnya terheran heran. Syifa membangunkan tubuhnya, lalu mengamati pesan yang dikirim Reyhan baik baik.


Kak Reyhan : Rumus Fisika. Berat + Gaya +


Jarak.


"Rumus fisika berat gaya jarak?" Gumam Syifa membacanya. "Maksutnya?"


"Syah!!" Panggil Syifa.


"Hm?!"


"Sini deh gue mau tanya"


Aisyah berjalan ke arah Syifa. "Apa?"


"Ini maksutnya apa? Gue ga paham" Ujar Syifa dengan menyodorkan ponselnya.


Aisyah terdiam."Ini jawabannya aku kirim ke kak Reyhan?" Tanya nya.


"Iya. Kirim aja"


Aisyah langsung mengetikkan jarinya di keyboard dengan latar belakang kucing imut milik Syifa. "Udah" Aisyah kembali menyodorkan ponsel pada Syifa.


"Ini kan berat, nah yang sering kita gunakan sebagai satuan berat itu kilogaram. Terus yang ini gaya, jadi berarti newton dan sering dilambangkan pake huruf N besar. Terus yang ini jarak, biasanya satuan jarak yang sering digunakan itu kilometer" Jelas aisyah.


Syifa manggut manggut. Tapi menurutnya itu bukan jawaban yang sebenarnya, ada maksud lain di Balik pertanyaan ini.


"Assalamualaikum" Ujar Lina dan Dinda yang baru saja masuk.


"Waalaikum salam"


"Dari mana lin?" tanya Syifa.


"Jalan jalan dong"


"Tadi gue ajak ga mau"


"Ya emang, tapi tadi pas Lo pergi gue di ajak Dinda buat nemenin dia. Ya udah, sekalian sama muter muter bentar mumpung boleh keluar" Jelas Lina.


"hmeh, Mau nya cuma di ajak sama dinda doang"


"Biarin. Lo juga, nurutnya Cuma sama aisyah doang. Wlek" Lina menjulurkan lidahnya ke arah syifa, membuat syifa merasa kesal dengan Lina.


Syifa kembali fokus menatap layar ponselnya. Menatap jawaban yang sudah di kirim Aisyah.


Syifa A : Kg + N + Km


"Maksutnya gimana sih kak Reyhan kirim pesan kayak gini?" Gumam Syifa. "Salah kirim kali ya"


"Lihatin Apa?" Tanya Lina yang tiba tiba sudah duduk di samping Syifa.


"Ini?!" Syifa menyodorkan ponselnya, memperlihatkan pesan yang menjadi pertanyaan nya.


Lina menyipitkan matanya. Setelah beberapa lama memahami, dirinya baru paham apa yang di maksudkan, membuat gadis itu senyam senyum tidak jelas.


"Kenapa senyam senyum gitu?" Tanya Syifa.


"Lo ga paham maksutnya kak Reyhan apa?"


Syifa menggeleng polos.


"Dia...." Lina menggantungkan kalimatnya.


"Dia kenapa?"


"Dia,, kak Reyhan..."


Syifa terdiam. "Iya kenapa kak Reyhan?"


"Kak Reyhan itu kangen lo Syifa..." Jawab Lina membuat Syifa terbengong.

__ADS_1


"Kangen?"


"Iya"


"Kok bisa"


"Nih ya. Ini kan tulisannya kg+N+km nah ini itu kg nya di gabung sama N. Jadi kgN km. Nah kgN km itu singkatan dari kangen kamu."


Syifa masih terdiam mencerna penjelasan dari Lina. "Jadi kgN km itu artinya kangen kamu"


Lina mengangguk. "Iya. Tapi di singkat jadi kgN km. Paham kan?" Ujar Lina lagi. Syifa mengangguk. "Gitu aja baru ngeh Lo" lanjutnya.


Senyum Lina semakin lebar saat melihat Syifa yang mendadak tersipu malu. "Caelah, pipi nya kayak kepiting rebus ni ye" Goda Lina.


"Ih Lin"


"Emang ya kalau gombalnya cowok pinter itu beda. Harus pake rumus dulu. Nggak kayak gombalan yang lain. Udah cuma omong kosong, playboy, mana pas gombalinnya garing lagi." Kata Lina.


"Kayak siapa Lin?" Tanya Syifa.


"Ya siapa aja" Jawab Lina ngawur.


•••••


Pada Ahad sore, para santri mengikuti kegiatan tambahan yang ada di pesantren. Seperti tilawah Al-Quran, kaligrafi, kursus bahasa Arab, latihan rebana ataupun latihan bahasa turki, karena setiap tahunnya ada satu atau dua orang santri yang akan di ajukan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke turki. Itu pun harus melaksanakan seleksi ketat lainnya yang harus di lakukan.


Untuk tilawah di adakan di mushola, santri laki laki dan perempuan di pisah layaknya saat sholat. Dan untuk guru yang mengajar, mereka akan datang setiap ahad sore ke pesantren karena rumah mereka yang jaraknya cukup dekat dengan pesantren. Yang mengajar tilawah bagi santriwati adalah Bu Zahra atau biasa di panggil oleh santriwati dengan ustadzah Zahra, sedangkan pengajar tilawah santriwan yaitu ustadz Irwan.


"Seperti yang ustadzah katakan kemarin nada dalam tilawah itu dibagi menjadi tujuh. Siapa yang ingat?" Tanya ustadzah Zahra.


Salah seorang santriwati mengangkat tangannya. "Bayati, hijaz"


"Iya. Ada yang ingat lagi?"


"Sika" Jawab yang lainnya.


"Lagi. Yang masih ingat?!" Tanya ustadzah.


Dinda mengangkat tangannya."Shoba, nihawand, rast dan jiharka"


"Iya benar. Jadi nada tilawah itu ada tujuh yaitu bayati, Shoba, Hijaz, nihawand, rast, sika dan jiharka. Nah untuk kali ini kita akan coba belajar menggunakan nada Hijaz." Ujar ustadzah. "Buka surah al isra juz awal 15. Dimulai dari taawudz dulu..."


Secara perlahan Ustadzah zahra mengajari santriwati untuk membaca Al Qur'an dengan nada Hijaz, membuat semuanya fokus akan pelajaran baru yang akan mereka terima, kecuali Dinda yang perhatiannya baru saja teralihkan pada suara yang melantun indah tidak asing baginya.


Tidak kalah indahnya, suara tilawatil Quran yang di dengarnya membuat senyuman itu kembali terukir di wajah Dinda. Suaranya yang merdu, makhraj yang sangat baik, nada yang indah juga ayat Al Qur'an yang sejuk bagi siapapun yang mendengarnya siapa yang tidak terlena. "DINDA..."


Dinda terdiam dengan meneguk kuat ludahnya. Bagaimana dia bisa membacanya kalau mendengar nadanya saja dia tidak tahu. "Ayo Dinda kenapa diem aja. Silahkan di baca" Ucap ustadazh Zahra.


"Maaf ustadzah saya tadi tidak memperhatikan" Jawab Dinda jujur.


"Kamu itu lagi mikirin apa? Tilawah itu harus fokus, cengkok cengkok nadanya, liak-liuk nya, turun naik nadanya itu harus benar benar di perhatikan. Kalau ada yang salah, ya bubar semua nadanya" Jelas ustadzah. "Sekarang kamu ambil wudhu agar bisa lebih fokus"


Dinda mengangguk. "Iya ustadzah. Saya permisi dulu..."


Dinda berdiri lalu berjalan cepat ke tempat wudhu wanita. Setelah selesai mengambil wudhu, dinda langsung bergegas kembali sebelum banyak pelajaran hari ini yang akan ia lewatkan. Langkahnya memelan, Dinda terus melangkah pelan namun dengan kepala yang tertoleh ke arah samping. Dari sela sela masjid Dinda memperjelas pandangannya. Terlihat beberapa santriwan yang tengah duduk dengan santri barisan paling depan yang tengah sibuk membaca Al Qur'an secara perlahan dan dengan nada yang sulit Dinda pahami. Mungkin ustadzah Zahra belum mengajarkannya tentang nada tersebut.


Suara yang sama, iya itu suara yang sama seperti yang Dinda dengar tadi. Dan dirinya juga yakin itu adalah orang yang sama. Dengan terus melangkah maju, namun pelan. Dan dengan pandangan yang terus tertuju pada sosok laki laki itu dalam hati pun Dinda terus bertanya tentang siapa dia?


Sungguh, kalau Allah mengizinkan, ia ingin bertemu langsung dengannya, bukan tanpa penghalang apapun. Dari lubuk hati yang teramat dalam, Dinda ingin lebih jauh mengenalnya. Mengenal orang yang selama ini ia kagumi dalam diam.


•••••


"Baru aja kemarin selesai ujian, eh hari ini ujian lagi" Gumam Syifa dengan berjalan sendirian menuju sekolah. "Ujian kalau boleh nyontek atau buka buku juga ga papa. Tapi kalau ujiannya semua materi harus di hafalin? Ga meledak apa pikiran gue..." Gerutunya lagi. Hari Senin ini memang akan di laksanakan ujian akhir semester di sekolah, jadi saat ujian hampir semua murid berangkat lebih awal dari biasanya.


Syifa menyipitkan matanya. "Itu kan kak Iqbal sama kak..."


Syifa terdiam dengan lebih memperjelas penglihatan nya terhadap seorang laki laki yang berjalan di samping Iqbal. Bibirnya yang mengatup kini terbuka setengah. "Ah masa iya"


Dengan tanpa pikir panjang Syifa langsung berlari mendekati keduanya yang berjalan beberapa meter di depannya. Syifa melongokkan kepalanya. "KAK REYHAAANN!!" Pekik Syifa keras membuat Reyhan dan Iqbal secara refleks menutup telinganya.


"Et dah ni bocah, pagi pagi udah bikin senam jantung aja, Dateng tiba tiba teriak" Gumam Iqbal dengan melirik Syifa yang tengah kegirangan.


"Ih kak Reyhan!! Kak Reyhan kapan Dateng, tiba tiba ada di sini. Ih kaaaak,, uuh Syifa seneng tau..." Ujar Syifa kegirangan. Kalaupun di tempat sepi ingin rasanya dia berloncat loncat tidak jelas dengan tepuk tangan, namun tidak. Di sini banyak para murid yang sedang berlalu lalang, gini gini Syifa masih punya malu loh ya.


"Lo ketemu Reyhan senengnya udah kayak ketiban duit semiliar aja fa" Sahut iqbal.


"Ih kak kalau ini lebih, coba kalau kak Reyhan Syifa jual, pasti bakal laku. Syifa jual lima miliar atau sepuluh miliar kayaknya juga bakalan ada yang beli kalau kak Reyhan yang dijual"


Reyhan melotot. "Lo mau jual gue?" Tanya nya pada Syifa.


"Ya nggak lah, punya hak apa Syifa jual kakak" Jawab Syifa enteng. "Eh kak, kak Rey kapan dateng? Syifa kok ga tau? Ih berangkat ga di kasih tau, pulang juga ga di kasih tau... sebel tau!"


"Reyhan sampe ke pesantren sekitar pukul sembilan atau setengah sepuluh maleman gitu" Balas Iqbal membuat Syifa ber-oh kecil.

__ADS_1


"Eh tapi kak Rey ga capek apa? Pasti capek lah ya...tapi kalau capek kenapa sekolah? Kakak ga sekolah juga ga papa kan?"


"Iya itu gue juga bingung. Padahal nih ya kalau Reyhan ga ikut ujian sama sekali juga ga papa, dia tetep bakalan di kasih nilai bagus sama guru. Kalau gue jadi dia sih mendingan tidur aja di kasur, ga usah ikut" Jawab Iqbal.


Syifa menghela pelan, lalu menatap Reyhan. "Kak, kakak kalau Syifa tanya jawab dong. Masa setiap Syifa tanya yang jawab kak Iqbal, kan Syifa tanya nya ke kakak" Ujar Syifa cemberut.


"Eeeh fa, asal Lo tau gue ini udah jadi pembicaranya Reyhan. Baru di Lantik tadi malem." Jawab iqbal. "Reyhan ini itu mudah capek suaranya dari pada capek badannya, makannya diem Bae dari tadi" Lanjutnya lagi asal asalan.


"Gitu ya kak. Aneh ya, ngomong aja gampang capek. Kalau Syifa sih nggak. Syifa kalau ngomong terus ga ada capek capeknya tuh!"


Syifa terdiam karena dirinya teringat akan sesuatu. "Oh ya kak, yang tentang rumus fisika itu gimana maksutnya?" Tanya Syifa lagi untuk memastikan apa yang dibilang Lina salah atau memang benar.


"Udah tau jawabannya?" Tanya Reyhan.


Syifa mengangguk. "Tapi Lina yang bilang. Jadi Syifa belum sepenuhnya tau yang dibilang Lina bener atau ga. Makannya Syifa tanya ke kakak"


Tanpa mau mendengar jawaban apa yang diutarakan Syifa tentang rumus fisikanya kemarin, Reyhan langsung mengangguk. "Ya itu jawabannya"


"Ya itu gimana sih? Kan kakak belum tau jawaban Syifa yang di kasih tau Lina apa"


"Gue tahu"


Syifa mengerutkan keningnya. "Tau? Kan Syifa belum kasih tau ke kakak, terus gimana kakak bisa tau kalau Syifa belum kasih tau"


"Oh apa jangan jangan kakak ini cenayang ya?!.." Tebak syifa.


Reyhan melangkah pergi dengan di ikuti Iqbal. Membuat Syifa berjalan cepat menyusul. "Jadi gimana kak? Yang di bilang Lina Bener?"


"Hm"


"Jadi maksutnya kakak itu beneran kang.."


"Iya" Jawab reyhan lagi memotong kalimat syifa.


•••••


Tepuk tangan yang meriah itu terdengar riuh mengisi keheningan di setiap sudut sekolah. Teriakan senang dan bangga yang di lontarkan bersahutan dari setiap murid yang ada. Bahkan ada juga yang mengaku ngaku bangga dengan sang calon suami yang lagi lagi mendapatkan medali emas dalam ajang olimpiade matematika di Jakarta tersebut. Ya para siswi yang pada halu ingin menjadi pacar atau bahkan istri dari Reyhan. Tapi cuma halu.


Sedangkan barisan paling depan di isi oleh 4 Murid yang berdiri menggunakan medali yang menggantung indah di leher dua orang murid. Reyhan mendapatkan medali emas, Naira perunggu dan siswa laki laki kelas 11 yang mendapat juara harapan 2, sedangkan yang satunya lagi belum bisa meraih juara, namun untuk perjuangannya patut di apresiasi dong ya...


Wih, aku bangga padamu sayang!!


Aaa calon suami gue tuh, udah ganteng pinter lagi.


Ah kak Reyhan, aku padamu


Ih kak, calon anak kita bangga banget pasti kalau tau ayahnya kayak gini.


Sedangkan Syifa yang mendengarnya hanya bisa berdecak kesal. "HALU AJA TEROOOS!!" Ujarnya dengan suara setengah berteriak di tengah ramainya tepuk tangan yang terdengar. Salah satu siswi yang mendengarnya pun langsung melirik tidak suka Syifa.


"Kenapa? Iri kan Lo?" Tanya nya pada Syifa.


"Ih ngapain iri. Kalian itu kalau halu jangan ketinggian, ntar jatoh lagi" Jawab Syifa.


"Ga papa halu. Lagian kalau beneran halu gue keturutan gimana? Kak Reyhan kan udah di depan mata, jadi tinggal gapai doang." Balasnya lagi. "Halu kak Reyhan itu ga sesulit haluin orang Korea, yang udah ga seiman dan seamin, terus jauh lagi rumahnya. Kalau kak Reyhan kan gampang, udah pinter, multitalenta, guantengnya juga minta ampun, dan yang penting gue bisa ketemu sama dia setiap hari, udah seiman semoga aja seamin. "


"Masalahnya,,,, lo bisa ga? Ga semudah itu taklukin hatinya kak reyhan!!" Ujar syifa.


"Ih bilang aja lo itu iri, lo juga kan sama sama halu biar bisa deket sama kak reyhan. Palingan juga halu lo ga keturutan!"


Syifa menghembuskan nafas kasar, sebaiknya dia tidak usah meladeni gadis itu lagi. Setelah beberapa menit berbaris di lapangan sekolah, semua murid di persilahkan untuk masuk ke kelas sesuai yang Sudah di tentukan untuk melaksanakan ujian.


"Pagi anak anak!!" Ujar bu Mila dengan memasuki kelas.


"Pagi Bu..."


"Bagaimana kabarnya hari ini?"


"Baik Bu..."


"Baik anak anak kerjakan soal ujiannya dengan baik, jangan ngawur!" Ujar bu Mila sebagai guru pengawas dengan membagikan soal pada setiap anak.


"Jaga ketenangan ya jangan berisik. Jangan menyontek, yang ketahuan menyontek atau yang memberi contekan ibu robek kertas ujiannya, biar tidak bisa mengerjakan dan tidak mendapat nilai"


"Sebelum mengerjakan, baca basmalah dulu" Lanjut Bu Mila membuat para murid secara serentak membaca basmalah kompak.


Seketika suasana menjadi hening, mereka semua terlelap pada soal soal yang diberikan. Syifa membolak-balik kan kertasnya, membaca soal dulu sebelum ia kerjakan. Setelah itu, ia mengisi kolom nama juga nomor ujian.


"Senin, 16 Desember mapel bahasa Indonesia" Gumamnya membaca tanggal dan mapel pada kertas bagian atas ujiannya.


Syifa terdiam. "16? Berarti besok 17. Tanggal 17 ada apa ya?" Tanya nya pada diri sendiri, merasa ada sesuatu berbeda pada tanggal 17, namun apa? Dirinya juga tidak ingat.


"Tujuh belas? Apa ya?..." Gumamnya lagi mengingat-ingat. Setelah seperkian detik mengingat...

__ADS_1


"Oh ya, gue baru inget!! Tanggal 17 Desember itu kan..." Syifa menggantungkan kalimatnya. Tak lama ia tersenyum lebar.


...******...


__ADS_2