
Aisyah menoleh menatap uminya. "Umi..."
Uminya mengangguk. "Ambil keputusan nduk. Iya atau tidak."
"Tapi umi..."
"Nduk, ini hidupmu. Yang menjalani kamu. Yang merasakan sakit atau tidaknya itu juga kamu. Yang menerima kebahagiaan itu kamu. Kalau kamu menjawab iya, umi hargai. Tapi kalau tidak, umi tidak memaksa."
Aisyah memejamkan matanya. Aliran air matanya terus keluar. "Saya mohon Aisyah,, hanya itu yang Ghea inginkan nak...tolong penuhi permintaan nya. Kamu jangan khawatir. Karena kamu akan jadi istri satu satunya kalau dia pergi. Jadi saya mohon..."
Aisyah menundukkan kepalanya.
Hanya Iya atau tidak, tapi begitu sulit untuk dia pilih. Ya Allah, dirinya harus memilih apa?
"Aisyah saya mohon..."
Aisyah meremas tangan nya sendiri. Dia memejamkan matanya. Bismillahirrahmanirrahim. Batinnya membaca basmalah, berharap apapun yang keluar dari mulutnya adalah jawaban yang terbaik.
Pejaman matanya semakin erat. "Iya..." Mereka semua terdiam menatap Aisyah. "Iya, saya terima." Ujar Aisyah lagi.
Fariz terdiam menatap gadis itu dari tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup cepat saat mengetahui jawaban itu. Yakin kah dia? Apakah itu benar-benar pilihan yang tepat untuknya?
Perlahan Aisyah membuka matanya. Entah mengapa jawaban Iya yang dirinya pilih. Padahal masih ada rasa ragu dan keberatan yang besar dalam hatinya.
•••••
Maka malam itu, di depan Ghea yang masih terbaring lemah di ranjangnya. Mereka melaksanakan ijab Qabul. Dengan para saksi dari beberapa pihak rumah sakit. Hanya pakaian sederhana yang mereka pakai. Sedari tadi, Aisyah tak henti hentinya menangis.
Fariz mulai menjabat tangan Abi Aisyah. "Bismillahirrahmanirrahim, Ananda Fariz Saya nikahkan engkau dengan putri saya Aisyah Annisatul Lutfiyah binti Agus Wijayanto dengan mas kawin berupa emas seberat 200 gr di bayar tunai..."
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Annisatul Lutfiyah binti Agus Wijayanto dengan mas kawin berupa emas seberat 200 gr di bayar tunai."
"SAH!" Mereka tersentak kaget. Dengan bersamaan mereka melirik kaila. Gadis itu membungkam mulutnya. "Maaf maaf..."
"Bagaimana para saksi?!"
"SAH...."
Tangis Aisyah kembali pecah. Ya Allah, jadikan lah ini menjadi yang terbaik.
"Alhamdulillahi rabbil Alamiin..." Mereka mengangkat kedua tangannya saat penghulu mengucapkan doa.
Mereka mulai memasangkan cincin satu sama lain. Aisyah mencium punggung tangan Fariz. Setelah itu, Fariz mulai mendaratkan ciumannya di kening Aisyah. Mereka saling bertatapan dari dekat. Ada secercah senyum tipis yang terukir di bibir Fariz.
Di lanjut dengan mereka menandatangani buku pernikahan yang sudah di siapkan. "Maka dengan ini, kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Semoga menjadi pasangan yang Sakinah, mawadah dan warahmah." Ujar pak penghulu.
"Aamiin..."
•••••
Setelah pernikahan itu di lakukan, mereka saling menunggu di luar. Dokter sedang memeriksa keadaan Ghea. "Adiknya mbak Aisyah ya?" Tanya kaila.
Okta menoleh. "Iya..."
Kaila tersenyum lalu duduk di samping Okta. "Kenalin, aku kaila mbak. Adiknya bang Fariz." Ujarnya. Namun Okta lebih memilih untuk terdiam. "Mbak seneng ga mereka menikah?"
"Nggak!!" Ketus Okta.
"Kenapa nggak?"
"Kenapa juga mbak Aisyah harus jadi yang kedua?"
"Mungkin takdir. Tapi mbak, mereka saling mencintai."
"Percuma kalau saling mencintai tapi pernikahan ini menyiksa hati." Jawab Okta dingin.
Kaila menghela pelan. "Percaya aja mbak. Di balik ini semua, udah ada kebahagiaan yang Allah siapkan untuk mbak Aisyah."
Di samping itu, Aisyah dan Fariz. Mereka berdua duduk berdampingan. Fariz menatap lama Aisyah, sungguh dia benar benar tidak tega melihat gadis itu yang terus mengeluarkan air mata. Memang benar, pernikahan ini tidak mudah. Dia juga tahu, ini bukan pernikahan yang di inginkan Aisyah. Pasti setiap orang mengimpi-impikan pernikahan yang normal. Dengan pesta pernikahan dan kebahagian. Bukan di rumah sakit, apa adanya dan dengan tangis air mata.
Perlahan Fariz mulai mengarahkan tangannya ke pipi Aisyah. Membuat Aisyah tersentak, menoleh menatap Fariz. Tangannya menghapus setiap air mata yang masih membasahi pipi gadis itu. Lalu beralih menggenggam tangannya. "Maafin gue ya.."
"Kenapa minta maaf?" Tanya Aisyah.
"Karena gue, Lo ada di posisi ini."
Aisyah menggeleng.
"Ini bukan salah siapapun. Mungkin ini memang takdir yang harus Aisyah jalani." Mendengar itu, Fariz semakin mengeratkan genggamannya.
•••••
22.53
"Tante mendingan pulang aja ya. Nanti mbak Ghea biar Aisyah yang jaga." Ujarnya.
Mama Ghea mengangguk. "Iya, makasih ya. Tente pulang dulu, kalau ada apa apa kabarin Tante."
"Pasti."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam"
Mama Ghea menatap putrinya dengan matanya yang berharap besar agar Ghea masih bisa membuka matanya nanti, setelah itu ia berjalan pergi. Aisyah menghela pelan. Matanya terarah pada Fariz yang tertidur di sofa. Mungkin kelelahan.
Aisyah menarik kursi lalu mendudukinya. Tangannya memegang tangan Ghea, lalu mengelusnya lembut. "Mbak,,,, Aisyah udah ngelakuin apa yang mbak minta. Sekarang mbak udah tenang kan? Mbak, buka mata mbak. Masih ada banyak orang yang sayang sama mbak di sini."
Aisyah terdiam. Matanya yang sudah tak tahan dengan rasa kantuknya langsung menyandarkan kepalanya di ranjang rumah sakit. Perlahan, matanya terpejam.
•••••
Entah jam berapa ini, namun rasa kantuk masih belum hilang juga rasanya. Aisyah memaksakan untuk membuka matanya. Ia melirik bahunya. Jaket hitam entah milik siapa menutupi punggungnya. Dengan tingkat kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Aisyah mengangkat kepalanya. Dia mengucek matanya, memperjelas apa yang di lihatnya saat ini.
__ADS_1
Fariz, dia sedang berdiri dengan tangannya yang sibuk menyuapi Ghea dengan perlahan. Tatapannya pun langsung terarah pada Ghea yang sudah tersadar. "Syah, udah bangun?" Tanya Fariz.
Aisyah tersenyum dengan mengangguk. "Alhamdulillah, mbak udah sadar."
Ghea tersenyum. "Kalian udah menikah?" Tanya nya. Aisyah terdiam mendengar itu.
"Gue tahu Lo Syah. Lo ga mungkin mau jagain gue bareng-bareng sama Fariz. Apalagi cuma berdua. Karena bukan mahram." Ujarnya. "Tadi gue mimpi indah..."
"Mimpi apa mbak?"
"Gue pergi saat melihat kalian bahagia. Kebahagiaan kalian, membuat kepergian gue lebih lepas tanpa menanggung sebuah kesalahan lagi. Kondisi gue, sekarang lebih membaik dari sebelumnya." Jawab Ghea dengan tersenyum.
Ghea memegang tangan Fariz dan Aisyah. Menyatukannya di depan dirinya. "Kalau mungkin gue dulu jadi penghancur hubungan kalian, sekarang gue pengen mempersatukan kalian lagi. Kalian saling mencintai kan? Nggak ada yang boleh memisahkan cinta kalian. Terus saling menggenggam untuk menguatkan ya..."
•••••
Pagi itu saat dokter memeriksa kembali keadaan Ghea, ada secercah senyum lega yang terukir di wajahnya. Pertanda baik. "Alhamdulillah, sekarang kondisinya sudah membaik. Saya tidak tahu apa yang terjadi, sehingga hari ini saya melihat dia mempunyai semangat baru. Ini mungkin perubahan, yang cukup besar. Apalagi saat seseorang baru keluar dari masa kritisnya. Semoga, hal ini pertanda baik ya pak buk...tetap saja kita harus berdoa yang terbaik. Kalau untuk kesembuhan, mungkin masih kecil kemungkinannya untuk sembuh. Namun, kita harus berusaha. Karena takdir Tuhan lah yang menentukan. Saya permisi..."
Mendengar itu, senyuman bahagia meski tidak sepenuhnya kembali terukir di wajah Mama dan Papa Ghea. Meski masih kecil kemungkinan untuk sembuh, tetap saja mereka bersyukur anaknya masih dapat membuka matanya. Melewati masa kritisnya. Setidaknya mereka masih bisa menghabiskan sisa sisa waktu yang ada dengan kebahagian sebelum dia memang benar benar pergi.
Mereka langsung berjalan masuk ke dalam. "Sayang..." Panggilnya pada Ghea yang sedang di suapi Aisyah. "Gimana kondisi kamu sekarang?"
Ghea mengangguk. "Ghea udah lebih baik ma..."
"Iya. Tadi kata dokter juga gitu, andai masih ada kemungkinan untuk kamu sembuh..." Dia menatap Aisyah. "Syah, sini biar saya aja yang nyuapin Ghea."
Aisyah mengangguk. "Iya.." Jawabnya dengan mengulurkan semangkuk bubur yang sudah di siapkan kepada mama Ghea. "Aisyah keluar dulu ya Tante...om..."
"Iya"
Aisyah berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan, duduk di kursi besi rumah sakit. "Syah..." Panggil Fariz dengan duduk di sampingnya. "Makan dulu..." Ujarnya menyodorkan makanan yang baru saja di belinya.
Aisyah tersenyum. "Makasih kak..."
Fariz menatap Aisyah. Dia masih memanggilnya kak?
"Mendingan Lo pulang aja ya. Jangan capek capek."
"Iya."
"Nanti gue anterin."
"Nggak usah. Aisyah bisa pulang sendiri kak."
"Sekarang Lo jadi tanggung jawab gue. Kalau ada apa apa di jalan, gue yang salah. Ya udah, habisin makanan nya. Nanti gue anterin pulang."
Maka setelah mereka menghabiskan makanannya masing masing, mereka pamit untuk pulang. Di dalam mobil tak ada yang membuka topik untuk pembicaraan. Keduanya sama sama diam, rasa canggung semakin terasa di antara mereka.
Tepat saat mereka sudah sampai, dering ponsel Fariz berbunyi. "Bentar Syah..."
Aisyah mengangguk.
"Halo...."
"Fariz, cepat ya jangan lama lama nganterin aisyahnya. Temenin Ghea di sini."
"Udah kak, kakak pergi aja. Mbak Ghea lebih butuh kakak." Sahut Aisyah lembut.
"Iya, nanti Fariz ke sana." Jawab Fariz lalu mematikan ponselnya.
"Syah, maafin gue ya..."
Aisyah menggeleng. "Nggak papa kak. Ya udah, Aisyah turun dulu ya. Hati hati. Assalamualaikum." Ujarnya lalu turun dari mobil.
"Waalaikum salam"
Fariz menghela pelan, dengan berat dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas menuju rumah sakit.
•••••
20.35
Aisyah terduduk, membaca pesan yang baru saja di kirim oleh cowok itu.
Assalamualaikum, Syah...besok gue jemput Lo ya buat ke rumah mama papa
Besok malam, mulai tidur di sana. Bisa kan?
Dan malam ini maaf ya gue belum bisa ke sana, gue harus temenin Ghea.
Aisyah menghela panjang. Dia berjalan keluar kamar, mencari keberadaan uminya. "Umi..." Panggilnya saat bertemu di dapur.
"Iya sayang?"
"Umi,,, besok malam Aisyah mulai tinggal di rumah orang tuanya kak Fariz. Boleh?"
Umi mengangguk. "Iya. Lagi pula, Fariz juga sudah jadi suami kamu." Jawabnya. "Nduk, kamu yakin ga papa saat ini?"
Aisyah terdiam. Meski dirinya terlihat tidak apa apa, namun hatinya masih belum bisa menerima pernikahan ini sepenuhnya. Itulah yang sejujurnya. "Nggak umi, Aisyah ga papa."
"Nduk, ini sudah menjadi keputusanmu. Jadi mau tidak mau kamu harus bisa menerima semuanya. Kamu harus siap menerima apa yang tidak di inginkan hatimu."
Aisyah mengangguk. "Iya umi..."
•••••
09.45
"Sini gue aja yang bawa. Lo masuk aja gih." Ujar Fariz dengan mengambil alih koper Aisyah.
Aisyah mengangguk. Kakinya mulai melangkah menapak rumah besar tersebut. Tangannya memencet tombol bel yang berada di samping pintu. Hingga tak lama, seorang wanita berpakaian layaknya seorang asisten rumah tangga keluar. "Cari siapa neng?" Tanya nya.
Aisyah terdiam. "Dia istri saya bi..." Jawab Fariz dengan melangkah melewati mereka dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Wajah perempuan itu langsung terkejut bukan main. "Ya Allah, mbak simpenannya?" Aisyah langsung melotot mendengar pertanyaan itu. Bagai suatu benda tajam, yang lewat tiba tiba menyapa hatinya. "Kok berani sih datang ke sini? Mbak tau belum kalau den Fariz udah punya istri??!!"
"BI..!!" Sentak Fariz yang tiba tiba berada di dekat mereka. "DIA ISTRI SAYA! JADI JANGAN PERNAH NGOMONG MACEM-MACEM. NGERTI!"
Bibi itu mengangguk dengan meneguk ludahnya. Fariz menatapnya dengan kesal, lalu menggandeng tangan Aisyah mengajaknya ke sebuah kamar kosong di lantai dua atas. "Aisyah, ini kamar Lo..."
Aisyah mengarahkan pandangannya. Menyapu setiap sudut kamar yang ada. Lumayan luas. "Syah, soal omongan bi Inah nggak usah di masukin hati. Dia emang belum tahu apa apa."
Aisyah mengangguk. "Iya kak, nggak papa."
"Ya udah kalau kamu mau beres beres silahkan, gue mau keluar dulu."
"Iya."
Fariz mengulum senyum, dirinya langsung berjalan keluar kamar. Saat ingin menuruni anak tangga, ia tak sengaja berpapasan dengan kaila. "Bang, mbak Aisyah mana??"
"Di kamar..."
"Kamar mana?"
"Samping kamar kamu."
"Oh." Balasnya lalu berlari menuju kamar yang di beri tahu oleh kakaknya.
Kaila membuka pintu, membuat Aisyah yang sedang merapikan pakaiannya di lemari menoleh dengan cepat saat mendengar suara pintu terbuka. "Mbak Aisyah." Panggilnya dengan nada semangat.
Gadis remaja itu langsung berlari mendekati Aisyah yang tengah tersenyum ke arahnya. "Mbak Aisyah baru datang ya?"
"Iya. Nama kamu siapa?"
"Kaila."
"Oh..."
"Padahal ya mbak, kaila udah nungguin dari tadi malam. Kirain setelah nikah, mbak langsung tidur di sini. Mbak, kita ngobrol di ruang tamu aja yuk..." Ujarnya dengan menarik Aisyah, membawanya turun ke arah ruang tamu.
"Sini mbak duduk." Kaila menyuruh Aisyah untuk duduk di sampingnya. "Adik mbak namanya siapa?"
"Okta."
"Oh iya, mbak Okta kapan kesini?"
"Kapan kapan In Syaa Allah pasti kesini kalau ada waktu. Kamu seumuran ya sama Okta?"
"Bukan, masih tua mbak Okta deh kayaknya. Eh itu mama mbak." Ucap kaila menunjuk seorang perempuan separuh baya yang baru keluar dari arah dapur.
Aisyah berdiri, menatap mama Fariz dari jauh. Perempuan itu, juga tengah melihatnya. Tanpa sedikitpun senyum yang terlihat dari wajahnya. Dia marahkah? Dia tidak suka kah dengan dirinya?
Aisyah meneguk ludahnya, meski ada secercah rasa takut saat melihat mama Fariz, namun dia memaksa untuk tetap tersenyum manis. Perempuan itu berjalan mendekat, hingga jarak antara mereka tak lagi jauh. Dia menatap Aisyah tajam.
"Tante!" Sapa Aisyah.
"Ma, kok cuek gitu sih??" Sahut kaila tak suka dengan sikap mamanya.
Aisyah menghela pelan. Dia mengulurkan tangan, berniat untuk salaman. Tak lama, mama Fariz langsung membalas uluran tangan itu, membuat Aisyah mencium punggung tangan perempuan paruh baya di hadapannya. Bertepatan dengan itu, dia merasakan sebuah tangan mengelus puncak kepalanya.
"Sayang..." Panggilan itu membuat Aisyah terdiam dengan posisinya. Pelan, dia mulai membangkitkan kepalanya. Matanya kembali menatap mama Fariz yang kini tersenyum. Hem ada apa? Tadi terlihat sangat cuek, sekarang tersenyum tulus menatapnya. Apakah ada malaikat yang lewat tadi? Memberikan sisi baik pada perempuan itu?
"Panggil mama aja. Sekarang kan Tante sudah menjadi mertua kamu." Ujarnya membuat Aisyah sedikit terkejut. Oi ya lupa, sekarang dirinya sudah berstatus sebagai seorang istri. Dia kembali mengelus puncak kepala Aisyah dengan lembut. Layaknya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
"Tante...maksudnya ma...mama..." Aisyah menghela pelan, rasa canggung tak bisa ia kendalikan. Bahkan dirinya lebih deg-deg an mengobrol dengan mama Fariz untuk pertama kalinya di banding presentasi di depan semua orang saat pertama kalinya. "Mama ga marah sama Aisyah?"
"Kenapa harus marah?"
"Soalnya kan, mama yang udah jodohin mbak Ghea sama bang Fariz. Dari dulu kan mama yang terus terus maksa mereka buat nikah, bilang cocok lah, bilang jodohlah bilang ini, itu. Dan sekarang, bang Fariz nikah lagi sama perempuan lain. Terus mama ga marah gitu?" Timpal kaila. "Maksutnya mbak Aisyah gitu kan?"
"Ya nggak dong sayang. Mama marah itu kalau niat kamu salah untuk merusak hubungan pernikahan keduanya. Tapi di sini kamu tidak punya niatan apa apa. Ini juga atas permintaan Ghea." Mama Fariz menghela berat. "Harusnya mama nggak terburu buru buat jodohin mereka berdua. Sampai mama lupa, bahwa Fariz pun punya pilihannya sendiri untuk menikah dengan wanita yang dia cintai. Yaitu kamu. Maafin mama ya nak, mungkin kalau mama nggak egois kamu ga akan ada di posisi ini. Mama tau ini berat dan ga mudah buat kamu."
"Kalau mama..."
"Ma..."
"Nak, kalau mama dengerin apa yang dikatakan Fariz, kamu pasti bisa bersatu dengan dia dengan cara yang baik baik. Tapi, sayangnya mama terlalu egois dan terburu-buru."
"Ma...ini bukan salah siapapun. Mama juga jangan salahin diri mama sendiri."
"Ma.." Panggil Fariz. "Fariz mau ke rumah sakit dulu, jemput Ghea."
"Jemput Ghea? Memangnya Ghea mau di bawa ke mana harus kamu jemput?"
"Hari ini Ghea pulang."
"Oh ya? Syukurlah kalau gitu, ya sudah cepat kamu ke rumah sakit. Mama akan siapkan semuanya."
Aisyah melirik mama Fariz, sepertinya dia memang sungguh menyayangi Ghea.
Fariz mengangguk. Dia menyalami tangan ibunya lalu berjalan keluar. "Syah, ga salaman?" Tanya mamanya.
"Hem? Salaman?"
"Kan dia suami kamu." Jawabnya pelan.
"Oh i-iya ya..." Balas Aisyah lalu berjalan cepat menyusul Fariz. "Kak!!"
Lelaki itu menghentikan langkahnya. Menunggu Aisyah untuk sampai di depannya. "Ada apa?"
Aisyah mengulurkan tangannya, membuat Fariz terdiam. Melihat tangan Aisyah agak lama, dia langsung membalasnya. Hingga sentuhan lembut dari bibir Aisyah mendarat di punggung tangan nya. Merasakan itu membuat Fariz tak bisa menahan senyumannya.
"Hati hati ya..." Ujar Aisyah.
Fariz mengangguk.
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikum salam."
...*******...