
09.55
"Lin,, kok belum di jemput ya?" Tanya Syifa. Hari ini,, dirinya akan pulang dari rumah sakit. Sudah empat hari lamanya Syifa ada di sini. Dan kondisinya saat ini memang sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Tungguin sebentar lagi. Nanti juga sampe" Jawab Lina.
Tok tok tok....
"Assalamualaikum"
Mereka menoleh ke arah pintu. "Waalaikum salam" Jawab mereka bersamaan.
Ustadz Rizwan dan ustadzah Rina berjalan beriringan mendekat, membuat Lina dan Syifa langsung menyalami tangan ustadzah Rina. "Kaifa haluk?"
Syifa mengernyitkan keningnya bingung. "Ha?"
Ustadzah Rina tersenyum. "Bagaimana kabarmu?"
Syifa menyengir. "Oh,, baik baik ustadzah"
"Oi ya kamu nanti kalau pulang sama Ilham saja ya. Ustadz harus menemani ustadzah Rina buat kontrol." Ujar ustadz rizwan.
"Assalamualaikum" Ujar Ilham. Dia berjalan ke arah mereka
"Nah, ini Ilham. Ham,, nanti tolong bantu mereka ya buat siap siap pulang. Ustadz mau nganter ustadzah Rina sebentar" Ucap ustazd Rizwan.
Ilham mengangguk dengan tersenyum. "Sami'na wa'athona ustadz"
"Iya udah kalau gitu. Ustadz dan ustadzah pergi. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Ilham.
"Assalamualaikum" Salam ustadzah Rina.
"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga.
Ustadz dan ustadzah, mereka berdua mulai beranjak pergi. Meninggalkan Ilham bersama dengan dua perempuan di hadapannya. "Ada yang bisa gue bantu?" Tanya Ilham.
"Oh ga ada kak" Jawab Lina.
"Oi ya bajunya Syifa biar gue bawa" Ucap Ilham.
Lina mengangguk. Dia memberikan tas besar yang berisi baju kepada ilham. Tidak hanya baju Syifa saja, di situ juga ada baju miliknya. Baju ganti selama dirinya menginap di rumah sakit menemani Syifa. Kalau tidak dirinya yang menemani memangnya siapa lagi?
"Ya udah kalau gitu, gue bawa ini ke mobil. Kalian gue tungguin di parkiran"
"Iya kak makasih" Ujar Lina.
"Makasih ya kak" Kini Syifa yang membuka suara.
"Iya sama sama. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Lina menoleh ke Syifa. "Sini gue bantuin" Ujar Lina dengan berusaha membantu Syifa turun dari ranjang.
"Lin,," Panggil Syifa.
"Hm"
"Ustadzah sakit apa? Kok kontrol?"
"Kontrol kandungan" Jawab Lina.
"Oh iya. Kan ustadzah hamil ya??"
"hm"
Dengan langkah pelan Syifa dan Lina berjalan keluar ruangan dan melangkah menuju tempat parkir. Setelah itu, mereka berdua menaiki mobil yang di dalamnya sudah ada Ilham yang menunggu mereka. Tak lama mobil mulai berjalan keluar dari parkiran hingga membelah jalanan kota. Sepanjang perjalanan Syifa hanya terdiam menikmati udara segar dari jendela mobil yang ia buka. Sekitar 15 menit perjalanan,, Ilham menghentikan laju mobilnya saat sudah sampai di depan gerbang. Menunggu pak Dadang untuk membukakan gerbangnya.
Setelah terbuka, Ilham kembali melajukan mobilnya pelan. Berhenti di halaman Pesantren.
"Fa..." Panggil Ilham.
Syifa melihat ke arah Ilham. "Iya kak?"
Ilham mengambil sebuah kotak kado lalu menyerahkannya pada Syifa. Syifa hanya melihatnya bingung. "Buat Syifa kak?"
Ilham mengangguk.
"Dari siapa?"
"Reyhan" Jawab Ilham. Seketika Syifa langsung tersenyum lebar dengan menerima kotak kadonya.
"Bilang makasih sama kak Reyhan ya kak" Ujar Syifa.
"Iya"
"Syifa pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Ilham.
"Makasih ya kak. Lina juga mau pergi. Assalamualaikum" Ujar Lina.
"Waalaikum salam"
Lina membuka pintu mobil. Membantu Syifa untuk turun. Mereka kembali berjalan menuju kamar lalu memasukinya.
"Lin, Aisyah sama Dinda belum pulang ya?" Tanya Syifa yang melihat kamar masih kosong.
"Kalau kamar sepi berarti ya belum pulang" Balas Lina.
Syifa menghela pelan dengan berjalan duduk di kasurnya. Dia tersenyum lebar dengan membuka kotak kadonya. "Padahal gue lagi ga ulang tahun. Tapi di kasih kado sama kak reyhan"
"Waaah,,, lin di kasih boneka kucing sama kak Reyhan" Pekiknya kesenangan. "Lucu ga? Lucu kan?!"
Lina mengangguk. "Iya"
Syifa mengambil secarik kertas yang ada di dalam kotaknya.
Cepat Sembuh
Hanya dua kata itu,, namun sudah membuat hati Syifa terbang melayang layang kesenangan. Dia kembali menatap boneka kucing yang ada di tangannya. "iiihh,, gendut banget sih. Enaknya di kasih nama siapa ya Lin?"
"Terserah"
"Em,,, gembul aja deh ya. Gembuuul..."
"Habis Momo terbit gembul ya fa?!" Ujar Lina.
"He'em, habis gembul terbitlah Popon" Sahut Syifa.
"Popon siapa lagi?"
"Calon anaknya Momo" Jawab Syifa. "Momo hamil tau Lin. Sayangnya gue ga ada di rumah. Lin,, nanti kalau suaminya Momo ga mau tanggung jawab gimana ya. Kan kasian Momo"
"Kucing kan playboy" Lanjut Syifa. "Untung hewan. Coba kalau manusia, udah gede banget ya dosanya. Sukanya selingkuh cari istri baru Mulu"
"Tau banget ya Lo tentang dunia perkucingan" Ucap Lina.
"Ya tau lah" Jawab Syifa.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Lina dan Syifa.
"Hah Aisyaaah...." Panggil Syifa heboh sendiri.
Aisyah langsung tersenyum dan berjalan mendekati Syifa. Membuat gadis itu menarik tubuh Aisyah lalu memeluknya. "Aaah gue kangen sama Lo tau" Ujarnya dengan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Sama. Aku juga. Oi ya fa, kok kamu udah pulang dari rumah sakit?" Tanya aisyah.
Syifa mengangguk. "Iya, soalnya aku udah lebih baik. Kok Lo baru pulang siih..."
"Syifa,, gimana keadaan kamu?" Tanya Dinda.
"Alhamdulillah baik."
"Oi ya cerita dong sama gue gimana campingnya. Yah sayang gue ga bisa ikut. Padahal pengen banget"
"Nggak gimana mana kok. Ya kayak camping pada umumnya" Jawab Aisyah.
"Wah, habis beli boneka ya fa?" Tanya Dinda.
Seketika Syifa langsung melirik ke arah gembul. "Oh ini,,, ini dari kak Reyhan. Lucu kan? Namanya gembul."
Ini Gembul...
•••••
Pukul 02.00 pagi.
Setelah selesai mandi wajib yang di lakukan untuk bersuci setelah haid, Aisyah langsung mengambil mukena dan berjalan pergi ke masjid. Jam seperti ini memang masih sepi, hanya beberapa yang sudah terbangun. Namun nanti saat jam tiga, suasana pesantren sudah mulai ramai.
Aisyah mulai mengenakan mukena lalu melaksanakan sholat tahajud. Setengah jam lebih dirinya sudah ada di dalam masjid. Sholat, ngaji memurajaah hafalannya, dzikir dan doa. Aisyah menutup ibadahnya. Dia berjalan keluar masjid untuk menuju ke kamar. Bertepatan dengan itu dirinya bertemu Dinda yang berjalan ke arah masjid. Mereka saling menyapa dan bertukar senyum lalu melanjutkan langkahnya menuju tempat yang mereka tuju masing-masing.
Sampai di dalam kamar Aisyah langsung membuka dua bungkus roti lalu memakannya sebagai menu sahur. Hari ini, dia akan berniat untuk mengerjakan puasa Rajab. Karena ini, sudah sampai pertengahan bulan Rajab. Jadi sayang sekali kalau bulan ini di lewatkan tanpa melakukan ibadah puasa. Selain itu, puasa juga bisa menghemat uang saku jajannya.
“Barangsiapa yang berpuasa 3 hari di bulan Rajab, maka ia bagaikan melaksanakan puasa setahun, bila ia berpuasa 7 hari, maka ditutuplah untuknya pintu pintu neraka jahannam, bila berpuasa 8 hari, maka dibukakan 8 pintu surga untuknya, dan bila ia berpuasa selama 10 hari, maka Allah SWT akan mengabulkan semua permintaannya."
•••••
06.45
"Fa, kita berangkat dulu. Lo mau titip apa?" Tanya Lina.
Syifa terdiam berpikir. "Eh gue pengen baso, mie ayam terus es buah, cimol, cilok, sekalian deh sama cilor" Jawab Syifa. "Titip juga Lin, martabak mini kalau ada. Terus pengen capcin juga sih, baso aci kalau ada jangan lupa kerupuknya. Pempek kayaknya juga enak ya lin. Jadi sekalian deh beliin."
Lina menatap datar Syifa. "Udah?"
"iya"
"Ya udah gue pergi"
"Eh Lin,, seblak nya ketinggalan. Gue juga pengen. Jangan lupa di beliin ya"
"Lo pengen apa ngidam?"
"Pengen lah. Kan gue belum hamil, jadi belum bisa ngidam" Balas syifa enteng.
Lina berdecih. "Ya udah kalau gitu, gue berangkat dulu"
"Syifa, kita berangkat dulu ya" Ujar Aisyah.
"Iya"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
•••••
Lina berjalan cepat menuju kantin. "Lin..."
Dia menghentikan langkah. Menatap Iqbal dengan sedikit kaget. "Bal?"
"Assalamualaikum" Ujar iqbal.
"Waalaikum salam"
"Lin, gue bisa minta tolong sama Lo?"
"Apa?"
"Bawain gue semur jengkol lagi. Ya?" Ucap Iqbal.
"Hah? Beneran?"
Iqbal mengangguk.
"Ta-tapi bal Lo kan tau ka..."
"Udah, Lo ga usah khawatir. Pokoknya besok gue tungguin Lo. Oke?"
Lina mengangguk kecil. "Iya"
"Oi ya ngomong ngomong gimana kondisinya Syifa?"
"Alhamdulillah udah lebih baik"
"Hari ini dia masuk sekolah?"
Lina menggeleng. "Belum, Harus istirahat dulu beberapa hari sampai kondisinya stabil"
"Ya udah gue titip salam aja buat dia. Semoga cepet sembuh"
"Iya. Ada lagi bal? Kalau ga ada gue mau pergi"
"Oh ya silahkan..."
"Assalamualaikum" Ujar Lina.
"Waalaikum salam"
Iqbal menarik sudut bibirnya dengan melihat Lina yang mulai melangkah pergi. "Sekarang kenapa Lina jadi kalem ya? Ga kayak dulu yang galak" Iqbal menghela pelan. "Haaah,,, sepertinya macam betina sudah berubah"
Iqbal tersenyum dengan geleng geleng kepala. Dia mulai melangkah menuju kelas. Terus berjalan hingga memasukinya. Langkahnya memelan saat melihat Ghea yang duduk di depan Fariz. Iqbal mendudukkan tubuhnya. Namun matanya terus melirik ke arah gadis itu.
"Riz, ayolah ke kantin sama gue..." Bujuk Ghea.
"Ghea gue udah bilang sama Lo, hari ini gue lagi pengen sendiri" Ketus Fariz.
"Masih marah ya sama gue? Soal camping kemarin?!"
Fariz hanya terdiam tak menanggapi.
"Ya udah gue minta maaf"
"Kalau minta maaf langsung sama Aisyah. Bukan sama gue" Balas Fariz.
Ghea memutar bola matanya. Minta maaf sama Aisyah? Ogah banget gue. Batinnya menggerutu tak terima.
"Iya udah nanti gue minta maaf sama Aisyah" Jawab Ghea. "Tapi dengan satu syarat, Lo ga usah lagi kasih perhatian sama dia. Dia ga pantas di baikin kayak gitu. Nanti malah tambah seenaknya"
Fariz bergumam. "Sekarang Lo bisa pergi?"
"Tapi Riz gue masih pengen Sama Lo"
"Heh,, kalau Fariz bilang pergi ya pergi. Ga paham banget ya sama bahasa manusia" Sahut Iqbal.
Ghea menoleh. "Lo kenapa sih? Ga suka banget sama gue"
"Apa? Ga suka? Oi ya jelas. Gue emang ga suka sama Lo" Balas Iqbal.
Ghea berdecih. "Riz..." Panggilnya.
"Ghea. Gue mohon, pergi"
__ADS_1
"Iya ya. Tapi besok Lo mau kan ke kantin sama gue ya?!"
"Centil banget deh ni cewek" Gumam Iqbal tak suka.
Ghea berdiri. "Ya udah gue pergi. Daah..." Ujarnya dengan melambaikan tangan dan tersenyum manis pada Fariz lalu berjalan pergi.
Iqbal langsung duduk di dekat Fariz. "Riz,, ga sumpek apa ya Lo Deket sama cewek kayak gitu? Dan satu lagi,, tadi Ghea minta maaf soal camping kemarin. Emang camping kemarin ada apa?" Tanya Iqbal kepo.
Fariz menghela pelan. "Ghea sengaja buat Aisyah tersesat di hutan"
Mata Iqbal membulat kaget. "Ghea ngelakuin itu??"
"Hm"
"Kan gue bilang apa, cewek itu emang ga bener!!"
"Riz..." Panggil Reyhan. "Lo ga kepikiran kalau Ghea yang udah ngejebak Aisyah?" Tanya Reyhan membuat perhatian Fariz dan Iqbal sepenuhnya teralihkan oleh kata kata Reyhan.
"Maksut Lo Han?" Tanya Iqbal.
"Seseorang kalau udah mau dapetin sesuatu dia bakal ngelakuin segala cara. Apapun itu. Termasuk yang jadi penghalangnya" Jelas Reyhan. Bukannya dia suudzon, namun memang di perlukan pikiran yang cerdas untuk mencerna semuanya. Akhir akhir ini,, Reyhan memang lebih sering mengamati gelagat Ghea dan Aisyah. Dan itu dilakukannya diam diam. Semuanya sudah jelas tersimpulkan di pikirannya sesuai apa yang dia lihat.
Iqbal dan Fariz terdiam mencerna. "Oh gue paham gue paham. Maksutnya, Ghea kan cinta sama Fariz. Saking cintanya dia rela ngelakuin apapun yang jadi penghalangnya. Dan bisa di simpulkan, kalau Aisyah yang jadi faktor utama penghalang Ghea. Kan udah terbukti, kalau Fariz emang waktu itu dia lebih Deket sama Aisyah dari pada Ghea. Gitu kan maksud Lo Han?" Tanya Iqbal. Reyhan mengangguk kecil.
Iqbal menoleh menatap fariz dengan wajah seriusnya. "Riz, apa Lo ga kepikiran sampe situ?"
Fariz terdiam. "Apa suudzon itu baik??" Tanyanya.
"Bukan suudzon, tapi ini pemikiran. Lo harus bener bener mikir untuk hal yang ga bisa Lo anggap sepele. Untuk ini, semuanya bisa aja jadi pelakunya. Bahkan tanpa kita duga. Jadi, bukan kita suudzon. Satu hal yang perlu lo tahu, curiga itu suatu yang lumrah bagi manusia. Dan ga semua kecurigaan bisa lo simpulin ke arah suudzon." Jawab Reyhan datar.
"Bener Riz. Lo ga bisa cuma anggap Aisyah aja yang salah. Bisa aja kan orang lain. Walaupun kita emang belum tahu siapa." Timpal Iqbal. "Ah Riz,, Riz. Harusnya Lo bersyukur punya temen kayak Reyhan. Itu bisa jadi solusi pemecah masalah Lo. Lo kayak baru kenal Reyhan. Dia itu pemikiran sama tebakannya sering bener. Jadi siapa tahu, untuk kali ini Reyhan juga bener. Iya kan?"
•••••
"Din, kalau kita mencintai seseorang. Kita itu harus apa? Maksutnya apa harus di ungkapin apa gimana?" Tanya Sasa.
"Mencintai seseorang itu ada tiga cara. Mencintai dalam diam, mengungkapkan atau mendoakan dan mendekatkan diri sama Allah. Di antara tiga cara itu kita boleh memilih. Tapi ya saran aku lebih baik di ungkapin" Jawab Dinda. "Kenapa kok tanya gitu? Lagi jatuh cinta ya sama seseorang?" Tanya Dinda membuat Sasa tersenyum malu.
"Assalamualaikum" Ujar Lina.
"Waalaikum salam" Jawab semuanya.
Lina duduk di samping Sasa. "Eh gimana camping kemarin?" Tanya Lina kepada ketiganya. Ingin mendengar cerita yang menarik saja.
"Oi ya,, gue mau cerita sedikit. Waktu kemarin itu kak Ghea sengaja bikin Aisyah kesasar di hutan"
Aisyah melotot ke arah Sasa. Kenapa harus di ceritakan? Apalagi kepada Lina. Pasti Lina tidak akan tinggal diam.
"Ghea??" Tanya Lina.
"Iya. Ga tau deh kenapa kak Ghea gitu" Jawab Sasa.
"Itu kenapa sih cewek, benci banget kayaknya sama Lo Syah" Ujar lina kesal sendiri. Aisyah hanya terdiam dengan membalas senyum.
"Tapi aku kok aku ga tahu ya?" Tanya dinda.
"Iya, waktu itu pas tengah malem banget. Palingan lo juga lagi tidur" Balas Sasa.
"Gue harus samperin Ghea"
"Eh jangan!!" Cegah Aisyah. "Jangan Lin..."
"Kenapa? Harus di kasih tahu itu cewek. Kalau di diemin dia bakal tambah semena mena Syah. Terutama sama Lo"
Aisyah menggeleng. "Lin ga usah. Nanti malah kalian ribut"
Lina terdiam. Benar juga. Kalau dirinya ke sana pasti Ghea hanya membuat emosinya naik turun. Ah, kalau sudah berhadapan dengan perempuan seperti itu memang susah. Di kasih tau ga mau, di nasehatin ga mempan, di marahin malah bikin emosi, di diemin tambah ngelunjak, di suruh jujur juga ga mau ngaku. Kalau sudah seperti itu, hanya tinggal urusan dirinya dan Allah. Hanya Allah yang bisa merubah semuanya. Terutama hati setiap manusia.
•••••
"Assalamualaikum" Ujar lina dengan membuka pintu kamar.
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
"Assalamualaikum" Salam Aisyah dan dinda.
"Waalaikum salam" Jawab Syifa lagi. "Kok baru pulang?"
"Lhah kan biasanya emang jam segini pulangnya" Jawab Lina.
"Syifa udah makan?" Tanya Dinda.
Syifa menggeleng.
"Kok belum? Ya udah aku ambilin makanan dulu ya. Habis itu minum obat"
"Iya makasih Din"
Dinda mengangguk. Dia meletakkan tas di atas kasurnya lalu beranjak pergi. Sedang Aisyah membuka lemarinya dan mengambil tunik cream, sarung beserta hijabnya. "Lin, fa. Aku mau ganti baju dulu ya"
"Iya Syah"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab keduanya.
Syifa beralih menatap Lina. "Lin,mana?"
"Apanya?"
"Makanan. Tadi kan gue titip sama Lo"
"Nih...gue beliin kelapa muda" Lina menaruh sekantong plastik berisi kelapa muda di pangkuan Syifa.
"Ini doang?"
Lina mengangguk.
"Terus yang es buah, cilor, cimol, cilok seblak kemana?" Ujar Syifa mempertanyakan.
"Udahlah itu aja. Lagian Lo jangan makan makanan itu dulu. Kelapa muda lebih sehat kan? Gue juga ga inget Lo titip apa aja,"
Syifa mengerucutkan bibirnya. "Oh ga mau??" Tanya Lina. "Kalau ga mau gue aja yang minum. Ini juga seger kok"
"Yah jangan dong!! Gue mau kok" Selak Syifa.
"Terus kenapa mukanya gitu??"
Syifa menghela pelan. "Lin, besok gue ke sekolah ya..."
"Nggak. Jangan dulu. Istirahat sampe bener bener sembuh"
"Gue udah sembuh kok. Lagian gue kesepian di sini"
Lina terdiam. "Kesepian? Kan di temenin sama gembul"
"Yah masalahnya gembul ga bisa di ajak ngomong. Ga asik dia" Jawab Syifa melirik Gembul.
"Hmm,,, Oh ya fa, dapat salam dari Iqbal" Ucap Lina.
"Waalaikum salam"
"Dan dia juga ngedoain biar Lo cepet sembuh"
Syifa tersenyum. "Aamiin. Bilang makasih sama kak Iqbal. Sebenarnya gue juga udah sembuh kok Lin. Beneran deh!! Pengen ke sekolah..." Rengeknya.
"Sabar,, emang mau ketemu siapa sih di sekolah? Kebelet amat!"
"Kak reyhan" Jawab syifa dengan menyengir lebar.
__ADS_1
...*******...