
Lina mengeluarkan semua buku pelajaran hari ini yang masih berada di tasnya. Hendak menggantinya dengan buku pelajaran besok. "Oi ya, gue tadi kan di kasih ini sama singa lebay" Gumam Lina.
"Ada yang mau ini?" Tanya Lina pada ketiga sahabatnya. Syifa memicingkan matanya, lalu berjalan mendekat pada Lina.
"Coba lihat" Ujarnya dengan mengambil toples berisi kue kering tersebut.
"Itu namanya kue kobred. Bisa tahan 4 abad. Dari luar negeri katanya" Ujar Lina.
"Lin, Lo dapat kue ini dari mana?" Tanya Syifa.
"Iqbal"
Syifa terdiam sejenak. "Lah kasian kuenya. Kenapa jadi di oper kayak bolaa" Ujar Syifa. "Ini kue tadi pagi gue kasih ke Bu Isma, kenapa bisa jadi di Lo sih Lin"
"Gue di kasih Iqbal. Mana dia ngasihnya maksa lagi. Ya udah gue terima aja" Jawab Lina. "Udah, makan aja kue kobred nya. Itu bisa tahan 4 abad"
Syifa mengerutkan keningnya. "Kok namanya jadi berubah ya. Ini namanya kue koubrin koubred. Bukan kobred"
"Bener kok, kue kobred. Iqbal tadi bilang gitu" Ucap lina.
"Terus ini itu cuma bisa tahan 4 Minggu nggak 4 abad" Ujar Syifa. "Mana ada makanan tahan 4000 tahun"
Lina tersenyum kikuk. "Bukan 4 abad sih, kata si Iqbal bisa tahan 4 tahun"
"Kok semakin di oper namanya semakin ga bener, terus juga semakin di oper awetnya tambah lama. Dari 4 Minggu sampe 4 abad" Gumam Syifa.
"Kue apa itu?" Tanya Aisyah.
"Kue putri salju alias koubrin koubred" Jawab Syifa membuat Aisyah mengerutkan alisnya bingung. "Eh Syah, kue putri salju emang dari luar negeri ya?"
Aisyah menggeleng. "Aku juga ga tahu"
"Ini makan kue nya syah" Ujar Lina. "Din, sini gabung sama kita. Sendirian mulu lo" Lanjutnya lagi.
"Dinda..." Panggil Aisyah dengan berjalan ke arah Dinda yang sibuk menulis sesuatu di buku diary nya. Aisyah menyipitkan matanya, membaca setiap kalimat yang di tulis dinda. Tak lama, seulas senyum terbentuk di bibirnya. Aisyah kembali berjalan ke arah Syifa dan Lina.
"Dinda ngapain sih? Serius banget kayaknya" Kata Lina.
"Ternyata satu hari lagi, Dinda ultah" Jawab aisyah.
•••••
Syifa berjalan menyusuri koridor sekolah. "Syifa.."
Syifa membalikkan badannya. "Iya?"
"Masih marah?" Tanya Reyhan.
Syifa terdiam dengan seulas senyum yang perlahan terbentuk. Ia menggeleng pelan. "Udah nggak"
"Lo udah maafin gue?"
Syifa mengangguk. "Iya"
Reyhan bernafas lega. "Ya udah kalau gitu gue pergi dulu. Assalamualaikum"
Syifa melototkan matanya. "Waalaikum salam" Jawabnya. Reyhan berjalan pergi. "Udah? Manggil gue cuma mau tanya itu?" Gumamnya kesal.
"Kak reyhan!!" Panggil Syifa dengan berlari menyusul Reyhan.
"Hm?"
"Syifa maafin kak reyhan, tapi kakak harus makan di kantin sama Syifa" Ujar Syifa. "Nanti Syifa yang traktir"
Reyhan terdiam, lalu mengangguk. "Ya udah ayok!" Ajak Syifa dengan semangat.
Mereka berdua langsung pergi menuju kantin. "Mau makan apa kak?"
Reyhan menggeleng. "Teh hangat aja"
Syifa mengangguk. Lalu memanggil mbak Windi. "Mbak pesen es jeruk satu, soto ayam satu sama teh hangat"
"Iya. Tunggu sebentar" Ucap mbak Windi lalu pergi. Syifa menopang dagu dengan tangannya. Lalu mengetuk meja beberapa kali dengan jari telunjuknya.
"Kak..."
"Hm"
"Ga jadi aku deh yang traktir, kakak aja ya..." Ujar Syifa. "Kan aku yang marah, masa iya aku yang traktir. Kebalik ga sih?"
Tanpa pikir panjang Reyhan langsung mengangguk. Bukan hal yang besar apalagi berat baginya untuk mentraktir seseorang.
Syifa tersenyum lebar. "Emmm kak..."
"Hm"
"Kakak kelihatannya Deket banget ya sama kak Naira"
"Hm"
Syifa menghela pelan. Sepertinya sifat asli Reyhan sudah muncul kembali. Jawaban yang diberikan hanya hm hm saja. "Kak..."
"Hm"
"Sebenarnya Syifa ga terlalu suka sama kak Naira. Kakak tahu kenapa?"
"Kenapa?"
Syifa memajukan kepalanya beberapa centi. "Dia judes. Syifa ga suka" Ujarnya.
Syifa kembali duduk di posisi awal. "Apa emang semua kakak kelas judes ya sama Adek kelasnya?" Gumam Syifa.
"Ngomongin gue Lo?"
Syifa mendongakkan kepalanya. Terlihat Naira sedang berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Menatap tajam Syifa.
Syifa melototkan matanya. Bagaimana bisa dia tiba tiba ada di sini. "Mau ngomong apa lagi? Sini di depan gue!" Ujar Naira.
Syifa menggeleng. "Nggak kak"
"Jangan coba coba ya Lo buat jelek jelekin gue di depan orang lain. Terutama Reyhan" Naira mengalihkan pandangannya. "Han, di suruh Bu Isma buat ke lab"
"Kita bertiga" Lanjut Naira. Reyhan mengangguk. Lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Gue pergi dulu ya. Assalamualaikum" Ujar Reyhan.
Syifa mengangguk. "Waalaikum salam"
Keduanya lalu pergi, membuat Syifa ikut berdiri dan berjalan menyusul mereka. Syifa berjalan di belakang mereka. Naira menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke belakang. "Lo ngapain ngikutin kita?!" Tanya Naira nyolot.
Syifa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tadi katanya bertiga. Sama aku kan?"
"Bertiganya bukan sama Lo, tapi sama Devan" Jawab Naira. "Ya udah sana Lo pergi"
"Ayo Han" Ajak Naira agar mereka segera pergi dari sana.
Syifa berdecih kecil. "Nyebelin banget sih tu kakak kelas" Gumam Syifa lalu membalikkan badan dan kembali ke mejanya.
"Permisi,, ini pesanan makanan nya" Ujar mbak Windi.
"Oh iya. Makasih ya mbak"
Mbak Windi mengangguk.
Syifa mendekatkan sotonya, lalu menyendok dan hendak menyantapnya, namun gerak tangannya terhenti saat ia ingat sesuatu. "Lhah ini yang bayar siapa?" Tanya Syifa pada dirinya sendiri.
Syifa menepuk jidatnya. "Tadi kan yang mau bayar kak Reyhan, sekarang kak Reyhannya pergi. Masa iya gue yang bayar. Terus ini juga teh nya, yang minum siapa?"
Syifa merogoh saku roknya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. "Yah, mana duit gue tinggal segini lagi"
Syifa memanyunkan bibirnya. "Mama papa belum kasih kiriman uang lagi buat gue"
"Eh hai fa..." Sapa Adit dengan langsung duduk di depan Syifa.
"Assalamualaikum" Ujar Syifa.
"Oh iya lupa. Waalaikum salam" Jawab Adit. "Kenapa cemberut gitu?"
"Gak kenapa Napa"
"Eh dit, kue koubrin koubred nya itu kue putri salju ya..." Ujar Syifa.
Adit mengerutkan keningnya. "Koubrin koubred yang mana?"
"Yang Lo kasih kemarin ke gue"
Adit terdiam sejenak. "Ooo itu...Itu namanya kue kourabiedes. Bukan koubrin koubred"
__ADS_1
"Ya sama ajalah. Iya kan? Itu kue putri salju kan?"
"Hehehe iya"
"Terus kenapa Lo bilang kue koubrin koubred?"
"Ya biar keren aja gitu, pake nama kue luar negeri"
"Lo kan bisa pake nama kue snow white" Ujar Syifa. "Eh tapi Lo bohong ya, katanya kue dari luar negeri tapi ternyata nggak"
"Beneran! Putri salju itu berasal dari luar negeri" Jawab Adit. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan ponselnya.
"Nih baca..." Ujarnya dengan menyodorkan ponsel ke syifa.
"Disana putri salju di sebut Vanillekeperfer" Gumam Syifa membaca tulisan yang ada di layar ponsel Adit.
"Salah itu bacanya.." Ucap Adit.
"Vanillekipferl" Baca Syifa lagi. "Ah, namanya sulit banget!"
"Bahkan ada yang menyebut juga bahwa negara asal kue putri salju yang kita kenal adalah dari Austria" Gumam Syifa melanjutkan bacaannya. "Iya juga. Kok di sini tulisannya dari Austria?!"
"Gimana? Gue gak bohong kan?!"
Syifa menggeleng pelan.
"Eh fa, kuenya udah Lo makan?" Tanya adit.
•••••
"Jadi mau di beliin kue ulang tahun? Apa kasih kado sendiri sendiri?" Tanya Syifa.
"Kasih kado sendiri sendiri aja lah. Nanti kalau kue, itu cuma di makan terus habis. Nah, kalau kasih barang kan bisa di pakai Dinda" Jawab Lina.
"Assalamualaikum" Ujar Dinda dengan bergabung duduk bersama mereka.
"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga.
"Lagi ngobrolin apa? asik banget!"
"Nggak, nggak ngobrolin apa apa kok Din" Jawab Syifa.
"Din, kita keluar pesantren dulu ya" Ujar Lina.
"Ikut ya. Aku juga mau beli barang" Kata Dinda.
"Eh jangan! Lo jangan ikut"
Dinda mengerutkan alisnya. "Emang kenapa kalau aku ikut?"
"Emm,, biar kita aja yang beliin barang Lo. Lo di sini aja" Jawab Lina.
"Jangan, nanti malah ngrepotin kalian" Ujar Dinda menolak.
"Nggak papa Din, kamu di sini aja ya" Ucap Aisyah.
Dinda menghela pelan. "Kok tumbenan kalian kayak gini?"
"Ya karena kan kita mau kasih keju..." Lina membekap mulut Syifa. Haaah,, kebiasaan deh Syifa. Suka ngomong keceplosan.
"Kasih keju?" Tanya Dinda.
"Iya keju, gue nanti bakal kasih Lo keju. Oke?!" Jawab Lina. "Ya udah din, lo tinggal bilang barang apa aja yang lo butuhin ke kita. Nanti kita yang beli" Lanjutnya.
"Beneran?"
"Iya beneran."
Dinda berjalan menuju lemari bajunya, mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang. Sementara itu Lina memelototi syifa. "Lo ngapain sih pake ngomong segala ke dinda. Kalau dia tahu, ga bakalan jadi kejutan dong!"
"Iya maaf. Keceplosan" Jawab syifa.
Dinda kembali duduk di samping Aisyah. "Beli detergent satu, sabun mandi dua, sikat gigi satu. Sama beli minuman satu, terserah kalian mau beliin aku apa. Ini uangnya."
Lina mengambil uang yang di sodorkan Dinda. "Udah itu doang?"
Dinda mengangguk. "Inget kan apa aja?"
"Iya inget kok. Kalau gitu gue, Syifa sama Aisyah pergi dulu ya" Ujar Lina.
"Makasih ya udah mau beliin"
"Ya udah kita pergi dulu ya Din. Assalamualaikum" Ujar Aisyah.
"Waalaikum salam" Jawab Dinda. "Hati hati dijalan"
Mereka bertiga langsung pergi keluar pesantren. Sesampainya di toko yang mereka tuju, mereka langsung berjalan memilih barang yang akan mereka jadikan hadiah. "Mau beli apa Lin?" Tanya Syifa.
"Baju" Jawab Lina.
"Kalau Lo Syah? Mau beli apa buat dinda?"
Aisyah menggeleng pelan. "Belum tau"
"Gue beli apa ya?" Gumam syifa.
Sudah 10 menit lebih mereka berjalan muter muter mengelilingi toko, mencari barang yang rencananya akan di berikan pada Dinda. Namun Aisyah dan Syifa masih juga bingung untuk memilihnya. "Lo berdua mau beli apa sih?" Tanya Lina.
"Masih bingung Lin" Jawab Aisyah.
"Apa gue beliin Dinda boneka ya?" Gumam Syifa.
"Buat apa Lo beliin Dinda boneka? Mana butuh dia begituan?" Ujar Lina nyolot.
"Yaa,,, kan siapa tau dinda suka boneka" Ujar Syifa.
"Fa, gimana kalau kita beli mukena aja?" Usul Aisyah.
"Mahal Syah, gue ini lagi menghemat duit. Belum di kirimin sama bokap" Ujar Syifa jujur. "Gini nih kalau tanggal tua, duit suka ngilang" Gumamnya.
"Kita bagi dua. Jadi beli mukena, tapi yang bayar kita berdua. Gimana? Jadi kan ga terlalu mahal"
Syifa manggut manggut. "Boleh deh. Ya udah ayok"
Mereka langsung berjalan menuju tempat berbagai alat sholat. Ada mukena, peci, sajadah dan yang lainnya. "Dinda sukanya warna apa ya?" Tanya Syifa pada Aisyah dan Lina.
"Ga tau" Jawab Aisyah.
"Gue juga ga tau" Jawab Lina.
"Sahabatan kok ga tau warna kesukaan sahabatnya" Gumam Syifa.
"Yeee,, emang Lo tau warna kesukaan Dinda?" Tanya Lina nyolot.
Syifa tersenyum kikuk. Lalu menggeleng pelan. "Nggak juga sih"
Lina terdiam sejenak. Berusaha mengingat ingat, sepertinya Dinda pernah memberi tahu warna kesukaannya. "Kenapa Lin? Kok Lo lihat ke atas? Ada apa di atas?" Tanya Syifa.
"Lagi nginget warna kesukaan Dinda"
"Kenapa ya kebanyakan orang kalau lagi mikir atau nginget sesuatu ngeliriknya ke atas? Kenapa ga fokus ke depan?"
"Ya pikir sendirilah" Ujar Lina. "Hhsss apa ya warnanya. Kayaknya Dinda pernah bilang deh ke gue" Gumam lina.
"Oi ya hijau. Dinda suka warna hijau" Ujar lina setelah berhasil mengingatnya.
"Beneran?"
"Iya. Dinda pernah bilang ke gue kalau dia suka warna hijau. Karena hijau itu warna Islam"
"Ya udah kalau gitu beli yang warna hijau"
"Tapi kan kalau sholat lebih baik kalau pakai yang warna putih" Ujar aisyah.
"Nah kalau gitu beli yang warna putih tapi motifnya warna hijau" Ujar Lina yang diberi anggukan oleh keduanya.
"Tumben pinter Lo lin" Ucap Syifa
"Yee,, dari dulu kali"
Mereka langsung mencari mukena yang di inginkan, setelah ketemu dengan harga yang pas juga seperti yang di inginkan mereka pergi ke kasir untuk membayar.
"Mbak, kira kira ini bisa dibungkus di sini pake kertas kado nggak ya? Soalnya buat hadiah seseorang" Kata Lina.
"Oh iya mbak bisa. Yang mana yang mau di bungkus?"
"Ini dua dua nya. Yang baju bungkus sendiri, yang mukena di bungkus sendiri. Pokoknya di bedain" Ujar Lina.
__ADS_1
"Iya mbak. Tunggu sebentar"
Lina mengangguk.
"Lin..." Panggil Syifa.
"Apa?"
"Kok tiba tiba gue pengen makan lolipop ya?!"
"Ya udah sana makan" Jawab Lina acuh tak acuh.
Syifa mengedarkan pandangannya. "Tapi ga ada yang jualan di sini" Pandangan Syifa terhenti pada dua orang yang tengah mengobrol serius. Dengan lelaki yang membawa sebuket bunga untuk perempuan yang duduk di hadapannya. "Itu kenapa pacarannya di sini sih?" Gumam Syifa dengan melihat mereka.
"Lin Lin.." Syifa menepuk pundak Lina.
"Apa lagi sih? Pengen makan permen?"
"Bukan, lihat itu. Mereka lagi mengumbar keuwuan di depan umum." Ucap Syifa.
Lina mengikuti arah pandang Syifa. "Ya udah, biarin aja kali. Urusan mereka juga"
"Ini mbak, semuanya sudah siap" Ujar mbak kasir.
"Oh iya mbak, jadinya berapa ya?"
"Dua ratus tiga puluh tujuh"
"Mana uang kalian?" Tanya Lina dengan nada berbisik.
"Ini..."Ujar Aisyah menyodorkan uang tujuh puluh lima ribu. Begitupun dengan Syifa.
Lina menghitung uang yang kini ada di tangannya, lalu membayarnya ke kasir.
"Ini mbak kembaliannya" Ujar mbak kasir dengan menyodorkan uang tiga ribu rupiah.
"Makasih mbak"
"Iya sama sama"
Mereka langsung berjalan cepat keluar toko tersebut. Pasalnya setelah ini mereka juga harus membeli barang yang dinda minta. Lina berhenti beberapa meter dibelakang orang yang dilihat Syifa beberapa menit lalu. "Kenapa berhenti?" Tanya Syifa.
"Hsstt, diem..." Ujar Lina dengan menaruh jari telunjuk di depan mulutnya.
"Jadi, lo mau ga jadi pacar gue?"
"Ehm ehm..." Keduanya menoleh pada Lina, Aisyah dan Syifa yang sudah berada di samping mereka. "Mbaknya tadi di baperin ya sama masnya?" Tanya Lina.
"Iya,emang kenapa?" Jawab gadis tersebut.
"Sering di beperin?"
"Iya"
Lina memajukan bibir bawahnya. "Baperin anak orang aja pinter, giliran di suruh baca surah Al Falaq muter muter" Ujar Lina tanpa dosa. "Jangan mau di baperin mbak!" Lanjutnya lalu berlalu begitu saja.
"Ganteng doang, tapi ga pernah jumatan" Timpal syifa yang ikut ikutan. Ia pun pergi begitu saja tanpa beban.
Sedangkan mereka berdua menatap syifa dan Lina yang berjalan menjauh, lalu beralih ke aisyah. Sedangkan aisyah merasa serba salah di hadapan mereka. "Bilangan sama temen lo, jangan ikut campur urusan orang!" Ujar lelaki tersebut.
"Iya, maafin temen saya ya mbak, mas" Kata aisyah. "Tapi Cuma mau ngingetin, jangan pacaran ya. Pacaran itu zina, zina itu dosa. Kalau dosa masuk neraka. Kasian juga ibu kalian, nanti di siksa gara gara ulah anaknya. Udah itu aja. Assalamualaikum" Ujar Aisyah.
"Lo juga sama! Ikut campur urusan orang aja" Ujar nya lagi.
"Beda, kalau saya menasehati. Maaf...permisi" Ujar Aisyah lalu berjalan cepat ke arah kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu berjalan pergi.
•••••
"Dinda....Selamat ulang tahun ya..." Ujar Syifa dengan memberikan kadonya.
Dinda yang melihatnya merasa sedikit terkejut. Padahal selama ini ia tidak memberitahukan hari ulang tahunnya kepada sahabatnya, dan juga tidak menyangka akan diberi kado.
"Selamat ulang tahun ya Din. Semoga tambah pinter, tambah Sholehah, tambah sabar, tambah cantik, tambah berbakti sama orang tua." Ujar Lina.
"Aamiin...".
"Barakallah fii umrik Dinda. Semoga kedepannya apa yang kamu cita citakan bisa terwujud. Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik, dilancarkan rezekinya, berkah ilmunya tambah berbakti sama orang tua ya. Semoga tetap menjadi Dinda yang kita kenal dan yang terpenting semoga kamu selalu hidup dalam keridhoan-Nya" Ucap Aisyah.
"Aamiin aamiin makasih ya doanya"
"Selamat ulang tahun dinda aaa..." Ucap Syifa dengan memeluk Dinda dari samping. "Tetep jadi sahabat kita ya....Doa gue kayak yang lainnya. Doa yang baik baik aja buat Lo. Semoga bisa tambah sukses kedepannya"
"Aamiin, semuanya makasih ya" Ujar Dinda dengan seulas senyumannya. "Aku ga nyangka lhoh bakal dikasih kado kayak gini. Oi ya, dari mana kalian tahu kalau hari ini aku ulang tahun?"
"Itu,, dari Aisyah" Jawab Lina.
"Coba dibuka Din, suka ga sama kadonya" Ujar Syifa.
Dinda tersenyum lebar. "Apapun yang kalian kasih, pasti aku suka kok. Makasih ya. Eh tapi, kalau aku ulang tahun ga usah kasih kado lagi ya, apalagi di suprise atau di rayain" Ujar Dinda. Seketika Syifa langsung cemberut.
"Kenapa? Lo nggak suka ya kita kasih kado kayak gini?" Tanya Syifa.
"Bukan, bukan masalah ga suka atau ga. Aku suka kok. Malah berterima kasih banyak sama kalian karena udah baik banget, udah kasih ini ke aku"
"Terus?" Tanya Aisyah.
Dinda menghela pelan. "Jadi gini, sebenarnya perayaan ulang tahun itu sama seperti kita merayakan tahun baru dan semacamnya. Makannya kita tidak diperbolehkan merayakan ulang tahun karena ini adalah perbuatan bid'ah. Selain itu, Rosulullah dengan para sahabatnya tidak pernah merayakan ulang tahun. Perayaan ulang tahun itu menyerupai aktivitas orang kafir. Sebagaimana tercantum dalam sebuah hadis bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari mereka. Karena pada hakikatnya perayaan orang Islam itu saat idul Fitri dan idul adha."
"Tapi Din, kita kan ga ngerayain ulang tahun kamu. Cuma kasih kado doang, emang ga boleh ya?" Ujar Syifa.
"Kalau perayaanya tidak di perbolehkan, maka bentuk dukungannya juga tidak di perbolehkan. Nah, bentuk dukungan itu adalah dengan memberikan seseorang kado atau hadiah. Kalau kita memberikan kado, berarti sama saja kita mendukung perayaan ulang tahun tersebut. Sedangkan, kita tidak boleh saling saling menolong dalam kemaksiatan."
"Jadi, Lo ga bakal nerima kadonya?" Tanya Lina.
"Yah din, padahal kita udah beliin kamu ini lhoh" Timpal syifa dengan nada kecewanya.
Dinda terdiam sejenak. Kalau dia menolak, pasti akan membuat ketiga sahabatnya kecewa. "Jadi, hadiah ini kalian berikan dalam rangka pemberian hadiah atau dalam rangka perayaan ulang tahun?"
"Dalam rangka pemberian hadiah" Jawab Aisyah langsung.
Dinda tersenyum kecil. "Ya udah hadiah ini aku terima karena pertemanan dan persaudaraan bukan karena bid'ah" Jawab Dinda.
Seketika semua yang tadinya cemberut menjadi kembali tersenyum. "Ah makasih Dinda..." Ujar Syifa. Dinda mengangguk.
"Oi ya ngomong ngomong usia Lo berapa sekarang?" Tanya Lina.
"17 tahun. Hari ini, hari pertama untuk 17 tahun"
•••••
Mereka berempat berjalan beriringan memasuki gerbang sekolah. Mereka saling mengedarkan pandangan, setiap orang yang mereka temui sibuk berbisik dengan menatap ponselnya masing masing yang entah ada berita apa di dalamnya. Tepat di depan Mading sekolah mereka berhenti.
"Ada apa sih? Kok rame?" Tanya Syifa dengan menatap para murid yang mengerumuni Mading sekolah.
"Ada apa sih?" Tanya Lina pada salah satu siswa.
"Lo lihat aja sendiri, ada berita penting hari ini." Jawabnya.
Saat itu juga umpil tak sengaja berjalan melewati mereka. "Umpil umpil..." Panggil Syifa.
Umpil menghentikan langkahnya. "Apa?"
"Ada apa sih? Kok rame, tumben?"
"Lo ga tahu berita hari ini?"
Syifa menggeleng.
"Aduh Syifa, hari ini itu ada berita yang mengagetkan seantero sekolah." Ujar umpil. "Nih ya..."
Umpil menjulurkan ponselnya, membuat Syifa langsung membaca apa yang tertera di layar ponsel umpil. "Kenapa emang?" Tanya Syifa.
"Haduh Syifa,, Lo ga tau ini bapaknya siapa?" Tanya umpil.
"Nggak"
"Udahlah, gue pergi dulu. Dari pada ngomong sama lo. Mau cari informasi hot hari ini. Bye" Ujar umpil lalu berjalan pergi.
"Eh kalian, sini deh.." Ujar Lina membuat ketiganya menoleh. Lalu berjalan ke arah Lina yang sudah ada di depan Mading yang kini sudah sepi.
"Orang orang pada kemana? Perasaan tadi masih rame" Ujar Syifa.
"Tadi baru aja bubar" Jawab Lina. "Lo lihat deh ini, bener ga sih beritanya?"
Syifa menatap berita yang kini tertempel di Mading. Tidak hanya satu yang tertempel, namun banyak.
"Ferdi Hendrawan" Gumam Syifa membaca tulisan tersebut.
__ADS_1
...******...