
"Makasih ya" Ujarnya dengan lembut dan tulus. Membuat Fariz kembali menatap Aisyah. Kata kata yang diucapkan Aisyah memang terdengar sangat tulus, hingga tak sadar membuat kedua sudut bibir Fariz terangkat. Membentuk sebuah senyuman indah, yang mungkin kalau senyuman itu di berikan gadis lain, akan membuat gadis itu seketika panas dingin. Namun, tidak dengan Aisyah.
"Iya, udah cepetan balik ke kelas" Perintah Fariz.
Aisyah mengangguk. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Aisyah membalikkan badannya, lalu berjalan cepat menuju kelas.
•••••
Bel istirahat berbunyi, membuat kantin yang awalnya sepi, menjadi ramai. Kali ini Aisyah sengaja tidak ke kantin bersama ketiga sahabatnya, pasalnya ia harus segera mengembalikan topi milik Fariz.
Aisyah berjalan cepat menuju meja Yang ada disalah satu kantin, langkahnya memelan saat melihat Ghea tengah ikut makan bersama mereka.
"Eh, Aisyah" Sapa Iqbal, yang langsung membuat pandangan mereka tertuju pada Aisyah.
Aisyah tersenyum kikuk. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab mereka serempak, kecuali Ghea.
"Kak, ini" Ujarnya dengan menyodorkan topi.
Fariz berdiri, lalu menerima topi tersebut dengan disertai senyuman. Membuat Ghea mengepalkan tangannya erat erat. Bahkan, fariz tidak pernah sekalipun tersenyum seperti itu padanya.
"Eh, Syah makan dulu bareng kita" Ajak Iqbal membuat Aisyah langsung menggeleng pelan. Iqbal melirik ke arah Ghea, yang kini menatap sinis Aisyah.
"Udah, ga papa. Ga tau kenapa ya kok panas banget gitu rasanya gue makan disini, padahal cuaca nya ga terlalu panas. Siapa tau dengan Lo ada disini, Susana nya jadi adem" Ujar Iqbal dengan tersenyum pada Aisyah. Lalu kembali melirik Ghea yang kini sepertinya ia sedang emosi. Namun ditahan.
"Emm,, ga usah kak. Aku duluan ya kak. Assalamualaikum" Kata Aisyah.
"Waalaikum salam" Jawab mereka bersamaan.
Aisyah membalikkan badannya, lalu segera melangkah pergi.
"Tunggu!!" Ucap Ghea, lalu ia berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Aisyah.
"Aisyah,. gue mau ngomong empat mata sama Lo. Bisa kan?" Tanya Ghea dengan lembut. Aisyah mengangguk.
"Aisyah, kalo ada yang macem macem sama Lo bilangin gue" Ujar Iqbal.
"Ayo Syah" Kata Ghea. Lalu mereka melangkah pergi keluar kantin.
Mereka berdua pergi ke belakang kantin. Ghea menatap tajam Aisyah, dengan langkah pelan, ia maju mendekati Aisyah.
Ghea mencengkeram erat lengan Aisyah. Membuat Aisyah meringis kesakitan.
"Gue udah bilang sama Lo, buat ngejauhin Fariz. Dan Lo juga bilang iya. Tapi mana buktinya" Bentak Ghea.
"Heh, gue gak suka ya liat Fariz dihukum itu bukan karena kesalahan dia. Harusnya yang dihukum tadi itu Lo bukan Fariz. Lo itu maunya apa sih hah? Lo maksa Fariz buat kasih topinya ke Lo gitu? Biar Lo ga dihukum?" Tanya Ghea, membuat Aisyah langsung menggeleng.
"Lo kasih apa sama Fariz, sampe dia segitunya sama Lo. Jampi jampi?Iya? Ga mungkin Fariz itu mau sama cewek kayak Lo. Ga level." Ucap ghea dengan angkuhnya. Lalu ia melepaskan cengkeramannya.
"Denger! mungkin yang Lo lihat gue cuma bisa ngelakuin ini. Tapi kalau nanti Lo masih aja deketin Fariz, lihat aja apa yang bisa gue lakuin" Ujarnya penuh ancaman. Ghea kembali menatap tajam Aisyah, lalu pergi begitu saja.
"Lo ngomong apa sama Aisyah" Tanya Iqbal saat ghea telah kembali bergabung dengan mereka.
"Enggak kok, ga apa apa. Ya cuma sekedar ngobrol doang"
"Kenapa ga disini aja?" Iqbal yang menatap ghea dengan pandangan curiga.
•••••
Fariz melangkah pelan keluar gerbang. Dengan tangan kiri memegang tas yang disampirkan dibahu kirinya dan tangan kanan yang dimasukkan disaku celananya. Ia melirik jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia tersenyum saat mendapati gadis tengah berjalan pulang sendirian.
"Assalamualaikum" Ujarnya.
Aisyah melirik Fariz. "Waalaikum salam" Jawabnya dingin.
"Kok Lo pulang sendirian?" Tanya Fariz.
"Kok kakak pulang sendirian?" Aisyah malah balik bertanya pada Fariz.
"Temen temen gue udah pulang duluan" Jawab Fariz.
"Temen temen aku udah pulang duluan" Ujar Aisyah membuat Fariz tertawa kecil.
"Lo udah makan siang?"
"Kakak udah makan siang?"
"Belom"
"Aku juga belom"
"Mau mampir makan dulu?"
"Nggak" Ketus Aisyah.
"Lo kenapa? Marah sama gue? Kok jawabnya gitu?"
"Nggak"
"Terus kenapa cuek gitu?"
"Nggak"
"Beneran Lo ga marah sama gue?"
"Nggak"
"Kok jawabnya nggak nggak terus?"
"Emang nggak" Jawab Aisyah acuh tak acuh.
Fariz menghadang jalan Aisyah, membuat langkah Aisyah terhenti.
"Ada apa?" Tanya fariz.
"Nggak papa"
"Gue punya salah sama Lo?"
"Nggak"
Fariz menghela pelan. "Terus kenapa Lo cuek gitu sama gue"
"Nggak papa" Ujar Aisyah lalu melanjutkan langkahnya.
"Lo kenapa sih Syah" Ucap Fariz sebal.
"Udah deh kak, gak usah deketin aku lagi" Jawab Aisyah membuat Fariz mengerutkan keningnya.
"Kenapa emangnya?"
Aisyah menghela pelan. Lalu menghentikan langkahnya. "Kakak itu udah punya pacar, jadi jaga perasaan pacar kakak" Jawab aisyah.
Fariz terdiam. Beberapa detik berlalu ia tertawa renyah, membuat kedua alis Aisyah saling bertautan. Kenapa malah ketawa. Batin aisyah.
"Ghea yang nyuruh Lo buat jauhin gue" Kata Fariz membuat Aisyah melotot kaget. Kenapa ia bisa tau? Fariz malah kembali tertawa saat melihat wajah Aisyah yang kaget sekaligus bingung.
"Gini ya, Ghea itu temen kecil gue. Bukan pacar. Karena dia merasa lebih Deket sama gue dari pada cewek lain, makannya dia ngaku ngaku jadi pacar gue. Tapi ya gue gak punya perasaan apa apa sama dia. Dia nya aja yang terlalu berharap sama gue" Jelas Fariz. Entah kenapa terselip rasa lega sekaligus senang saat mendengar penjelasan Fariz barusan.
Aisyah melanjutkan langkahnya. Tentu saja ia harus tetap menjauhi Fariz, atau kalau tidak Ghea akan terus mengancamnya seperti itu.
__ADS_1
"Gimana? Lo masih marah sama gue?"
"Iya"
"Tapi kan Lo udah tau kalau ghea itu cuma sebatas teman"
"Iya"
"Terus kenapa masih marah?"
"Iya ga papa. Suka suka aku dong" Jawab Aisyah yang membuat Fariz langsung tertawa kecil. Entah sejak kapan Fariz bisa tertawa seperti ini saat berada didekat perempuan. Dan, entah sejak kapan ia merasa nyaman saat berbicara bersama Aisyah. Padahal, kemarin rasa itu belum ada.
Mereka terus melangkah menuju pesantren. Saat tepat didepan gerbang mereka malah terdiam satu sama lain.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
"Pak bukain gerbangnya" Ujar Fariz dan Aisyah secara bersamaan.
"Eh iya tunggu bentar" Kata pak Maman sembari membuka gerbang.
Mereka kembali terdiam. Pasalnya gerbangnya hanya dibuka sedikit, sehingga harus satu persatu kalau ingin memasukinya. Memang itu sudah menjadi kebiasaan pak Maman. Entah kenapa tidak dibuka lebar saja agar bisa dimasuki bersama sama.
"Kenapa ga dibuka lebar sekalian sih pak" Tanya Fariz.
"Biar saya ga lelah buka tutup gerbang terus" Ucap pak Maman enteng. Membuat Fariz berdecak.
"Lo dulu yang masuk, kakak dulu yang masuk" Ujar mereka bersamaan.
"Kakak duluan aja yang masuk" Ujar Aisyah.Mengalah.
"Nggak, Lo aja"
"Kakak aja"
"Udah Lo aja yang masuk duluan"
"Kakak aja"
"Lo aja"
Aisyah menghela pelan. Karena tidak mau memperpanjang, akhirnya Aisyah yang masuk pesantren terlebih dahulu. Membuat fariz tersenyum riang.
•••••
Waktu berjalan dengan cepatnya, hingga tak terasa hari kemarin sudah terganti oleh hari ini. Matahari dengan cerianya bersinar pada pagi hari ini. Jalan yang awalnya sepi, menjadi mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan.
Lina berjalan cepat menuju sekolahan, dengan menahan rasa nyeri yang ada di pinggangnya. Sesekali ia melirik jam tangan berwarna cokelat muda yang melingkar ditangan mungilnya. Lina berdecak sebal, hari ini entah kenapa menjadi hari yang sangat menyebalkan baginya. Langkahnya memelan saat mendapati seorang lelaki yang berteriak untuk dibukakan gerbang.
"Pak, tolong bukain gerbangnya. Cepet pak. Kalau saya dihukum Bu Desi, bapak yang tanggung jawab" Ujar Iqbal sembari memukul mukul gerbang yang tak punya salah.
Pak Pur segera berjalan dengan santainya untuk membukakan gerbang.
"Lama banget sih pak" Omel Iqbal.
"Tadi saya harus ngopi dulu. Biar nikmat" Katanya santai, membuat Iqbal berdecak sebal.
"Jadi saya tadi teriak teriak sampai suara saya serak, bapak malah enak enak ngopi?"
"Iya, sambil makan pisang goreng" Ujarnya jujur membuat Iqbal menatapnya tajam. Andai saja dia tidak lebih tua darinya, pasti sudah dari tadi Iqbal menghajarnya sampai babak belur.
Pandangan Iqbal teralihkan saat melihat seorang gadis yang tengah berdiri disampingnya.
"Ayo silahkan masuk" Kata pak Pur.
Dengan langkah mengendap endap seperti maling Iqbal berjalan pelan memasuki sekolah, dengan Lina yang melakukan hal sama dibelakang Iqbal.
"Mau kemana?"
"Apaan sih Lo, orang dari tadi gue diem" Ujar Lina yang tak mau di salahkan.
"Kok jalannya gitu"
"Kalau ga gini kita bisa ketahuan sama Bu Desi" Jawab Iqbal.
"Kalau ketahuan sama Bu Desi kenapa?"
"Lo bisa ga sih diem! Kalau ketemu Bu Desi kita ya bisa dihukum lah. Gitu aja pake nanya" Ucap Iqbal kesal.
"Apaan sih Lo, yang dari tadi ngomong itu Lo" Jawab Lina.
"Tapi Bu Desi dari tadi ada disamping kalian lho"
Lina dan Iqbal melotot kaget. Secara refleks, mereka menoleh ke samping. Seorang wanita gendut sedang berdiri disamping mereka dengan membawa penggaris kayu panjang. Walaupun bibirnya membentuk senyuman, tapi beda lagi dengan matanya yang melotot tajam ke arah mereka.
"Kalian pikir saya ga tau kalau kalian terlambat" Tegas Bu Desi. Lina dan Iqbal, saat ini mereka tak bisa berkutik.
"Kenapa terlambat?" Bentak Bu Desi membuat mereka berdiri mematung.
"Ayo jawab!!"
Bu Desi menatap Lina dari atas sampai bawah.
"Kamu kenapa ga pakai seragam?"
"Emm,, ma-maaf Bu, tadi saya habis jatuh" Kata Lina. "Tadi saya mau berangkat sekolah, sebelum berangkat saya pergi cuci tangan dulu di luar kamar mandi. Karena tanahnya licin, saya jadi kepleset deh Bu. Saya terjatuh. Dan tak bisa bangkit lagi."
"Aku tenggelam dalam lautan luka dalam,, aku terse.." Lanjut Iqbal namun. "Diam kamu Iqbal" Bentak Bu Desi yang melihat iqbal malah menyanyi dihadapannya.
"Kenapa ga bisa bangkit lagi?" Tanya Bu Desi.
Lina tersenyum kikuk. "Karena pinggang saya kayak nya encok Bu" Ujar Lina dengan memegang pinggang nya.
"Terus seragamnya jadi kotor kena tanah, makannya saya hari ini ga Makai seragam. Untung aja saya punya baju putih, tapi yang roknya ga papa ya Bu saya pakai yang warna hitam" Ujar Lina dengan wajah memelas. Namun, Bu Desi malah menatapnya dengan tatapan curiga.
"Ni Bu kalau ga percaya, tas saya juga kotor Bu" Ucap lina sambil memperlihatkan bagian tasnya yang kotor. Bu Desi mengangguk.
"Kamu Iqbal, kenapa terlambat?" Sentak Bu Desi, membuat Iqbal berdecak sebal. Kalau sama Lina, nadanya biasa aja tanpa membentak, kalau sekali ngomong sama Iqbal langsung dapat paket. Dibentak plus dimarahi.
"Ya biasa Bu, bangun kesiangan" Jawab Iqbal jujur.
"Ya udah kalau gitu ibu hukum kal..."
"Tunggu tunggu Bu..." Potong Lina. Bu Desi menatap Lina dengan tatapan ada apa?
"Jangan hukum buat lari muterin lapangan ya Bu, pinggang saya encok. Jadi kayaknya saya ga kuat deh" Ujarnya. "Satu lagi Bu, jangan hukum buat jemur saya dilapangan Bu. Saya beneran ga kuat kalau harus panas panas" Tambahnya lagi.
Iqbal melirik Lina. "Lebay" Liriknya pelan, namun masih di dengar oleh Lina. Kalau saja bu Desi tidak ada dihadapannya mungkin Lina sudah memukuli Iqbal sampai merasa puas. Namun tidak untuk sekarang.
Bu Desi terdiam sejenak. "Baik kalau gitu, kalian ibu hukum buat membersihkan gudang. Sekarang!!" Tegas Bu Desi membuat mereka mengangguk paham. Lalu Bu Desi pergi ke lantai atas, sedangkan mereka menghampiri pak Pur. Karena pak Pur lah yang memegang semua kunci di sekolah ini.
Setelah mendapatkan kunci, mereka langsung bergegas pergi menuju gudang.
Uhuk uhuk
Baru saja pintunya dibuka, namun mereka langsung terbatuk karena saking banyaknya debu. Gelap. Itulah yang saat ini mereka lihat. Walaupun di luar cuaca sangat cerah, namun digudang terasa sangat sepi dan gelap.
Iqbal berdecak sebal "Ogah banget gue bersihin gudang sama Lo" Gumamnya
"Ya emang gue mau gitu bersihin gudang sama Lo" Ujar Lina nyolot. "Mendingan gue bersihin gudang sendiri dari pada sama Lo"
"Emang Lo berani bersihin gudang sendiri?"
__ADS_1
"Ya beranilah"
"Masa?" Kata Iqbal dengan mengangkat satu alisnya. "Kalau gitu gue mau ambil sapu dulu" Lanjutnya lagi.
"Hm"
Lantas, Iqbal pergi keluar gudang. Meninggalkan Lina seorang diri.
Beberapa menit berlalu, Iqbal masih belum kembali. Lina mengetuk ngetukkan jari telunjuknya di meja tua yang ada digudang. Lalu ia menyilangkan tangannya didepan dada.
"Ni orang mana sih, cuma ambil sapu lamanya minta ampun" Gumamnya.
Braak
Sebuah suara benturan membuat Lina terlonjak kaget. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Bulu kuduknya berdiri saat melihat jendela gudang yang bergerak sendiri.
"Siapa disana?" Teriak Lina dengan sikap was-was. Tidak ada jawaban.
Bruuk
Sebuah suara nyaring kembali berbunyi membuat lina meneguk ludahnya. Sedikit demi sedikit rasa takut itu datang menyelimuti dirinya. Matanya membelalak saat melihat sebuah putih putih yang berjalan dibalik jendela. Kalau dilihat dengan jelas, itu bukan sebuah kain. Lina melirik sebuat tongkat Pramuka yang tersandar dipojok gudang. Dengan langkah pelan, Lina mendekat lalu mengambil tongkat itu. Ia memegangnya dengan erat.
"Siapa disana?" Teriaknya lagi.
Dan lagi lagi, ia mendengar sebuah suara benturan. Tiga suara tersebut memiliki bunyi yang berbeda beda.
"Mau gue pukul pake tongkat ini Lo?" Teriaknya lagi namun tetap tidak ada jawaban.
Lina terdiam sejenak. Tunggu tunggu, kalau ternyata itu hantu, apa kalau Lina pukul hantunya akan merasa kesakitan?
Lina berjalan pelan menuju pintu dengan langkah kaki yang gemetar. Ingin mengetahui suara yang ada di balik jendela. Tepatnya di jendela luar gudang. Jujur saja dia sangat takut. Lina mengambil ancang-ancang untuk memukul, ia meneguk ludahnya kuat kuat. Sesampainya diambang pintu, Lina langsung memukul seseorang yang ada didepannya dengan sekuat tenaga. Sangat keras. Pukulan dari Lina tepat mendarat dipunggung orang itu. Karena posisinya membelakangi lina. Membuatnya sedikit berteriak meringis kesakitan.
Lina membuang tongkat Pramuka di atas lantai dengan begitu saja. Ia melihat orang yang kini duduk diatas lantai dengan memegangi punggungnya yang kesakitan. Terdapat plastik putih yang menutupi kepalanya, membuat Lina langsung membukanya. Bibirnya mengerucut, lalu secara refleks ia memukul lengan orang itu.
"Iqbaal" Teriaknya yang sudah terlanjur kesal. Sedangkan Iqbal terus meringis karena punggungnya yang terasa nyeri.
"Haduuh,, tolongin gue. Patah tulang ini ya punggung gue. Sakit banget sumpah" Lirihnya.
"Sukurin, siapa suruh buat nakutin gue" Ketus Lina.
"Jangan banyak ngomel ah, cepetan tolongin gue" Tegasnya membuat Lina berdecak kecil.
"Ogah,," Ucapnya lalu mengambil sapu yang tergeletak di lantai, lalu Lina masuk ke dalam untuk mulai melakukan hukumannya, membersihkan gudang.
Merasa iqbal yang tak kunjung masuk ke dalam gudang untuk membantunya, Lina memutuskan untuk berjalan keluar. Ingin Melihat apa yang saat ini sedang laki laki itu lakukan. Lina menyandarkan tubuhnya diambang pintu, dengan tangan yang menyilang di depan dada. Ia melihat Iqbal yang masih meringis kesakitan, dengan sesekali memijat punggungnya.
Terbesit rasa kasian dihati Lina. Ia mengambil tongkat yang masih tergeletak dilantai.
"Ayo,, gue bantuin" Ujarnya dengan menyodorkan tongkatnya.
"Kenapa pake tongkat?"
"Terus maunya gue nolongin Lo pake tangan? Gak inget apa kita bukan mahram" Katanya. Namun Iqbal malah menepis kasar tongkatnya membuat Lina berdecak sebal.
"Gue bisa sendiri" Ujar Iqbal lalu berusaha untuk berdiri secara perlahan.
Lina kembali masuk ke gudang tanpa memperdulikan Iqbal yang tengah meratapi sakit punggung nya, Ia menyandarkan tongkat Pramuka di tempat semula. Tak lama Iqbal juga berjalan pelan memasuki gudang, dengan sapu ditangan kanannya.
"Jangan berdiri doang dong, nyapu bersihin ni gudang" Tegas Lina membuat Iqbal memutar bola matanya. Lalu mereka mulai membersihkan barang barang yang ada di gudang, menyusunnya hingga rapi. Setelah itu mereka mulai menyapu bersama.
"Huuuaaaa..." Teriak Iqbal yang membuat Lina terkejut. Lina menatap Iqbal yang tengah berdiri di atas meja membuatnya melotot.
"Iqbaal, itu mejanya udah dibersihin. Ih nanti kotor lagi kalau kamu naik ke situ" Celoteh Lina namun tak digubris Iqbal. Ia malah terlihat ketakutan setengah mati dengan memeluk sapu yang ada ditangannya. Persis seperti anak kecil.
"Ada apa sih?" Ketus Lina.
Iqbal menunjuk nunjuk ke arah lantai. "Itu,, itu ada kecoa" Ujar Iqbal.
Lina melotot. Apa? Kecoa? Lalu tak lama ia tertawa keras, ya menertawakan Iqbal pastinya. Lina berjalan ke arah kecoa, yang dengan santainya berkeliaran didekat barang barang. Lalu mengambilnya.
"Ini? Lo takut?" Tanya Lina dengan mengarahkan tangan kanannya yang memegang kecoa ke arah Iqbal.
"Buang!!" Perintah Iqbal membuat Lina kembali tertawa.
"Apaan sih Lo, laki laki kok mental tempe sama kecoa aja takut" Ledeknya. "Kecoa ini lucu tau, tu tu lihat. iii gemess" Ujarnya dengan mengamati kecoa tersebut.
"Kalau gue pantes takut sama hantu, lah Lo takut sama kecoa? Apaan? Ga level Lo jadi laki" Katanya lagi lalu beranjak keluar untuk membuang kecoanya.
Lina memandang malas Iqbal. "Ngapain Lo masih disitu. Turun!!" Perintahnya. "Udah ga ada kecoa lagi. Udah gue buang. Cepetan turun"
Akhirnya Iqbal turun dengan sikapnya yang masih was was. Ia meneguk ludahnya. Lalu mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.
"Udah,, Lo sekarang bersihin semua barang yang ada disana" Kata Lina dengan menunjuk ke suatu arah. Tanpa mempermasalahkan hal itu, Iqbal langsung berjalan ke arah pojok gudang. Yang masih terdapat beberapa barang berdebu. Belum lagi genap satu menit Iqbal membersihkannya, ia kembali berlari dan naik ke atas meja.
"Ada apa lagi sih? Kecoanya udah ga ada" Ujar Lina yang mengetahui gelagat Iqbal.
"Bukan kecoa tapi ada tikus!!"
Lina menepuk jidat dengan keras. "Lo itu laki laki apa perempuan sih, sama kecoa tikus aja takut. Oh gue curiga jangan jangan Lo juga takut sama semut"
"Enak aja, dari pada lo ngoceh gitu lebih baik Lo lihatin tikusnya masih ada disitu apa ga" Perintah Iqbal. Dengan sisa kemalasan yang ada, Lina melangkah pelan menuju pojok gudang.
"Mana? Ga ada tikus disini" Ucapnya.
"Coba dicari lagi"
Lina kembali melihat dan mengecek namun hasilnya nihil.
"Ga ada marijaann!!! Udah cepetan turun"
"Beneran udah ga ada tikus" Tanya Iqbal memastikan.
"Gak ada, gak ada...ora Ono ngerti? Paham? Cepet turun!!" Ujar Lina dengan menggebrak meja karena terlanjur kesal. Dengan sikap waspada Iqbal turun dari meja.
"Heh, dasar cowok kok takut sama tikus" Gumam Lina.
"Gue itu geli" Ucap iqbal membenarkan.
"Udah, Lo pokoknya beresin ini. Gue mau ke kelas dulu" Kata Lina sambil berjalan menuju kursi. Dimana tasnya sedang berada diatas kursi itu. Ia menaruh tasnya dibahu kanannya.
"Mau kemana Lo" Tanya Iqbal.
"Kelas"
"Terus ini siapa yang bersihin"
Lina berdecak sebal. "Gue tadi kan udah bilang, itu Lo yang beresin. Stres ah gue lama lama ngomong sama Lo"
"Enak aja, punggung gue lagi sakit nih. Udah Lo aja yang bersihin" Ujarnya dengan melempar sapu ke arah Lina, membuat Lina refleks menangkapnya.
"Ooo gitu ya, ya udah ga papa tapi gue bakal bilang ke semua orang kalau Lo takut sama kecoa dan tikus"
Iqbal melotot. Mau ditaruh mana mukanya kalau berita itu sampai tersebar. "Jangan lah. Oke oke gue yang beresin ini" Katanya mengalah, membuat Lina tersenyum puas. Lalu melempar kembali sapu ke arah Iqbal.
"Tapi dengan satu syarat" Ucap Iqbal. Lina menaikkan kedua alisnya.
"Lo harus bawain makanan yang kayak kemarin. Setiap hari"
Lina tersenyum miring. "Oh itu,, oke ga masalah" Ucapnya.
"Bagus, tumben Lo baik"
"Gimana sih Lo gue baik salah, gue bawel salah, gue biasa biasa aja salah. Mau Lo apa?" Tanya Lina nyolot.
"Tau ah, ngomong sama Lo buat gue darah tinggi" Ujar Lina lalu keluar dari gudang.
__ADS_1
"Bodo amat, pokoknya besok jangan lupa bawain gue makanan. Telat satu menit gue hukum Lo buat push up tiga kali" Ucap Iqbal setengah berteriak.
...*******...