
Cinta Anak Pesantren(2)
......................
"Berhenti dulu mas!"
Mobil yang baru saja keluar dari pesantren langsung terhenti tak jauh dari gerbang ponpes.
"Ada apa?" Tanya Iqbal.
"Bentar, mau beli susu buat Aluna. Jaga jaga nanti kalau Aluna pengen minum susu di jalan"
Iqbal mengangguk.
"Eh mas, nanti mau ga habis ini jangan langsung pulang? Ziarah dulu ke sunan Kalijaga yuk."
"Demak?"
"Iya, mau ya. Mumpung ada di sini, ga lumayan jauh kan Semarang-Demak?!"
Lagi lagi Iqbal mengangguk mengiyakan. Senyum sumringah langsung terpatri di wajah Lina dia mengambil lalu mencium punggung tangan suaminya. "Ya udah bentar, mau ke Indomaret dulu."
"Bunda mau kemana?" Tanya Aluna.
"Beli susu sebentar sayang."
"Ikut bunda."
"Ga usah, bunda cuma sebentar kok. Tunggu di sini aja ya sama ayah." Lina mengelus kepala putrinya.
"Iya, tapi jangan lama-lama bunda pelginya."
"Iya."
Lantas Lina langsung membuka pintu mobil dan berjalan menyebrang jalanan. Karena memang Indomaret berada di sebrang jalan dari pondok pesantren.
Mata gadis kecil itu terus mengawasi keberadaan bundanya, terlihat atau tidak netranya terus melihat ke arah Indomaret. Hingga di lihatnya sang bunda keluar dari sana dengan sekantong plastik putih. Perempuan itu berhenti mengawasi jalanan, setelah di rasanya lengang barulah ia kembali melangkah menyebrang.
Bruuuk
•
•
•
__ADS_1
•
•
"BUNDAAA."
Nafasnya tersengal.
Wanita yang masih mengenakan mukena langsung terbangun dari tidurnya. Wajahnya di penuhi keringat dingin.
"Bunda, Astaghfirullah..." Lirihnya dengan memejamkan mata.
Matanya kembali terbuka, pandangannya menyapu seisi mushola yang sepi. Aluna langsung melihat jam tangan cokelat yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pukul 22.09
Cepat cepat gadis itu melepas dan melipat mukenanya. Ia melangkah dengan tergesa keluar dari mushola.
Langkah kakinya terhenti kala dia merasakan menginjak sesuatu di bawah sana. Kepalanya menoleh ke bawah, sebuah gantungan kunci boneka beruang mini yang memakai baju dengan inisial A tak sengaja terinjak oleh kakinya. Lantas Aluna langsung membungkuk dan mengambilnya. Mengamati gantungan kunci itu baik baik.
Setelah itu kedua bibir langsung terangkat. Entah mengapa dia malah teringat akan teman kecilnya.
Flashback On
"Aluna ini..." Lelaki yang kini sudah berusia sepuluh tahun itu menyodorkan kardus besar.
"Itu yang beli aku, pakai uangnya mama. Buat kamu. Eh bentar."
Kevin membuka kardus itu, semua barang yang tadinya ia sudah tata rapi menjadi kembali berantakan.
"Nah ini...gantungan ini aku bawa ya. Soalnya nanti kamu keenakan kalau aku kasih dua."
"Ih pelit itu namanya!!" Sarkas Aluna yang ikut mengambil satu gantungan yang tersisa. "Tumben kamu kasih aku ini semua, ada gantungan, baju...boneka, mainan..."
"Aku mau pulang." Jawab Kevin. "Aku mau pulang ke Jakarta lagi."
Gadis berusia delapan tahun itu terdiam. "Kapan?"
"Kata mama besok. Soalnya aku di sini udah ga punya siapa siapa, nenek udah meninggal. Jadi aku harus ikut sama mama papa pulang ke Jakarta." Kevin sedikit memanyunkan bibirnya, tak lama dia tersenyum dan memegang bahu Aluna.
"Tapi ga papa Aluna, aku janji bakal balik ke sini lagi biar kita bisa ketemu."
"Kapan?"
"Ya...nanti kalau aku udah gede, bisa pergi jauh sendirian. Nanti kita bisa main bareng lagi deh."
__ADS_1
Flashback Off
Aluna menghela pelan, dia menyimpan gantungan itu di dalam genggaman tangannya. Ia kembali berjalan dan masuk ke ruangan. Mengambil tas dan memasukkan mukena serta gantungan itu ke dalamnya. Tak lupa jas berwarna putih yang selalu ia pakai sehari hari, di sampirkan di tangan kanan, sedang tangan kiri membawa tas. Kakinya kembali melangkah keluar.
Netranya melihat rumah sakit yang masih ramai di jam seperti ini. "Dok..!!!"
Aluna menoleh. Seorang suster berjalan tergesa menghampirinya. "Ada apa?"
"Ada pasien kecelakaan, Dokter Reza..."
"Iya." Aluna memotong perkataan suster tersebut. Tanpa di beritahu pun ia sudah tahu niatan suster ini. "Memang Dokter Reza saat ini sibuk mengurusi pasien lain. Jadi di mana pasiennya?"
"Ada di ruang IGD."
Aluna mengangguk sembari tersenyum kecil.
Dia mulai berjalan cepat keruangan IGD di ikuti suster yang bernama Rani tadi. Saat sudah sampai, di lihatnya lelaki yang tengah berbaring di atas brankar, matanya terbuka itu artinya dia masih sadar. Sedangkan di sana, ada satu suster yang sibuk mengobati luka di bagian lengan.
Dengan cepat, Aluna langsung membantu mengobati bagian kepala yang terluka. Sedangkan suster Rani mengobati bagian kaki. Memang luka dan lecet lecetnya banyak terlihat di wajah, tangan dan kaki, tapi untungnya hanya luka kecil yang dalam beberapa hari mungkin akan sembuh.
"Pak ini..."
"Jangan panggil gue pak! Gue belum tua!" Potong si pasien laki laki tersebut.
Aluna menghela pelan, lalu kembali tersenyum. "Mas ini...lukanya tidak terlalu parah. Jadi untuk malam ini, saya sarankan mas menginap di rumah sakit dulu untuk istirahat. Besok baru bisa pulang."
Laki laki itu hanya bergeming kecil. Matanya tak mempedulikan dokter dan dua suster yang masih di ruangan, melainkan menatap langit langit rumah sakit dengan tatapan kosong. Ada rindu dari sorot matanya.
Sedangkan Aluna langsung pamit kepada kedua suster itu, untuk penanganan selanjutnya ia serahkan kepada keduanya. Karena hari ini, jadwal tugasnya sudah selesai.
Langkah kakinya membawa ke tempat parkir.
Di sana dia mulai menghidupkan motor dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Untunglah, jarak rumah sakit, tempatnya bekerja tak lagi jauh dari rumahnya yang sekarang.
Hanya menempuh waktu lima belas menit, gadis berusia 25 tahun itu sudah membawa motornya memasuki halaman rumah dan memasukkannya ke garasi. Cepat cepat ia berjalan masuk dan membuka pintu.
Dari tempatnya berdiri kini, dia dapat melihat dari jauh sepasang suami istri yang tengah duduk bersama menikmati acara televisi malam ini. Untuk apalagi kalau tidak menyambutnya pulang.
Aluna tersenyum sumringah, lelahnya hari ini seketika menguap hilang. Tangannya bergerak menutup pintu.
"Assalamualaikum, Ayah! Bunda!"
Keduanya menoleh, juga memberikan senyuman hangat kepada sang putri yang sudah pulang. "Waalaikum salam."
"Sayang!!"
__ADS_1
...*******...