Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Perubahan Sikap


__ADS_3

"SYIFA BURUAANN!!!"


"Iya Lin bentar..." Balas Syifa dengan mengobrak ngabrik tumpukan buku dan baju yang ada di dalam lemarinya. "Haduh di mana ya topi gue...."


"SYIFAAAA..." Teriak Lina lagi.


"Duh duh...gue taruh di mana ya..."


"Nah ketemu...." Pekiknya senang dengan langsung berlari keluar dan menutup pintu kamar.


"Lama banget sih Lo!!"


"Ya maaf..."


"Iya udah ayok, bisa telat kita gara gara Lo. Makannya apa apa itu di siapin dulu pas malem, jadinya pas pagi ga ribet kalau mau berangkat!" Omel Lina.


"Iya...."


Setelah sampai di kelas...


"Aaa kangen kelas!!!" Ujar Syifa.


"Udah fa, langsung aja ya kita ke lapangan" Ajak Aisyah dengan menaruh tasnya di kursi dan mengambil topi.


Mereka berdua berjalan ke arah lapangan, bergabung dengan barisan kelas mereka. Tak lama upacara pada hari Senin itu di laksanakan. Kali ini tidak seramai upacara pada hari biasanya yang saat beberapa menit di lapangan saja sudah seperti cacing kepanasan. Kali ini mereka lebih menahan, mungkin karena hari ini hari pertama masuk sekolah di semester dua. Atau mungkin mereka rindu dengan kegiatan rutin setiap hari Senin itu.


Setelah selesai, mereka berlari menghambur ke kelas masing masing. Menyalakan kipas sekaligus AC, ada juga yang langsung mengambil buku dan dikibaskan ke arah badannya.


Karena sudah dua Minggu lamanya kelas ini di tinggal, maka kondisi kelas menjadi agak kotor dan berantakan. Maka pada jam ini adalah waktu jamkos bagi mereka, atau malah seharian penuh mereka terbebas dalam pelajaran. Semua murid bersiap membersihkan kelas masing masing, saling membagi tugas antara satu sama lain. Yah,,, kecuali beberapa laki laki yang ogah dan memilih nongkrong di kelas ataupun kantin.


"TIOOOOOOO....." Teriak salah satu murid perempuan yang pasalnya saat ia sedang membersihkan meja, si Tio malah naik dan berjalan di atas meja para murid satu persatu. Membuat meja menjadi kotor kembali. Sedangkan si Tio malah tertawa renyah dengan melanjutkan aksinya.


Geram, akhirnya siswi tersebut mencubit kaki kanan Tio dengan kerasnya yang berakhir membuat mereka kejar kejaran. Tak hanya Tio saja, beberapa siswa lainnya juga turut mengganggu siswi yang sedang asik membersihkan kelas. Di sisi lain ada sheren yang sedang merobek kertas menjadi bagian bagian kecil. Di taburkannya kertas itu di lantai bawah mejanya.


"Aisyaaah...." Panggilnya membuat gadis pemilik nama itu menoleh. "Sini..."


Aisyah berjalan mendekati sheren. "Nih sapu bawah meja gue..." Ujar sheren.


Aisyah terdiam dengan mengulum senyum. "Iya" Balasnya dengan langsung membersihkan dan menyapu potongan kertas yang berserakan.


"HEH!!" Syifa menggebrak meja sheren.


"Kenapa Lo nyuruh Aisyah buat nyapu ini ha? Ini kan ulah Lo,, jadi Lo yang harus bersihin sendiri..." Ujar Syifa galak.


"Aisyah kan dari tadi emang nyapu, emang salah kalau sekalian gue suruh nyapu lantai ini?" Tanya sheren dengan melipat tangan di depan dada.


"Lo sengaja kan kotorin ni lantai pakai kertas kertas ini...."


"Fa udah,,," Sahut Aisyah.


"Syifa,, Aisyah ada apa?" Tanya Kania yang tiba tiba datang.


"Ni bilangin sama temen Lo, kalau ga mau bantuin jangan ganggu orang kerja." Ujar Syifa dengan menarik sapu yang ada di tangan Aisyah. "Gue ga mau tahu, ini lantai yang nyapu harus Lo!!" Lanjutnya dengan menggandeng Aisyah pergi menjauh dari sheren.


••••••


"Kak Fariz!! Kak..." Fariz menoleh ke belakang. Melihat Aisyah yang berjalan cepat mengejarnya.


Fariz kembali melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Aisyah yang terus memanggilnya. "Kak Fariz..."


"Kak!!!"


"Kak Fariz tolong berhenti sebentar,,,"


Fariz menghentikan langkahnya. Beberapa detik Aisyah sudah ada di hadapannya. Fariz langsung membuang muka ke arah lain, sedangkan Aisyah menatap Fariz bingung. Entah kenapa ia merasa ada yang berbeda dari lelaki itu.


Aisyah meremas jemarinya, ingin mengatakan niatnya atau tidak. Pasalnya entah kenapa suasana berubah menjadi tidak bersahabat untuk mereka saling bicara. Fariz menghela panjang. "Emm kak..."


"Cepetan lo mau ngomong apa??! Ga usah banyak basa basi Syah!!" Ujar Fariz dengan nada sedikit membentak. Ia mengalihkan matanya melihat Aisyah dengan tatapan tajam.


Aisyah meneguk salivanya. "Kak,, buku waktu kelas sebelas masih ada? Kalau masih Aisyah boleh pinjem?" Tanya Aisyah yang langsung ke poinnya.


Fariz melihat Aisyah sejenak lalu melangkah pergi. Aisyah terdiam dengan menatap punggung Fariz yang berjalan semakin menjauh darinya. Ia menghela pelan dengan membalikkan badan. Terhenyak kaget karena melihat Devan yang mendadak ada di belakangnya.


"Kak..."


"Lagi butuh buku?" Tanya Devan.


Aisyah mengangguk.


"Buku apa?"


"Matematika"


"Gue pinjemin"


Aisyah tersenyum senang. "Beneran?"


"Iya. Eh tapi buat apa?"


"Bukan apa apa. Cuma buat belajar aja..." Jawab Aisyah.


"Ya udah kalau gitu besok gue bawain ya..."


"Makasih banyak ya kak..."


"Iya. Kalau butuh sesuatu bilang gue aja. Oke?"


"In Syaa Allah" Jawab Aisyah.


"Mau ke kantin"


"Iya"


"Ya udah sama gue aja"


•••••


"Assalamualaikum" Ujar Sasa dengan duduk di samping Dinda.


"Waalaikum salam" Jawab Dinda dan Syifa.


"Berdua aja?"


"Nggak, Lina lagi pesen makanan" Jawab Syifa.


"Aisyah?"


"Tadi katanya mau pinjem buku. Tapi ga tau sekarang ada di mana"


"Gimana keadaan kamu sa?" Tanya Dinda.


"Alhamdulillah baik"


"Sa, ga mau pesen makanan juga?" Tanya Syifa.


Sasa menggeleng.


"Kenapa?"


"Udah kenyang"


"Udah kenyang apa ga punya uang?" Tebak Syifa membuat raut wajah Sasa berubah.

__ADS_1


"Syifa..." Tegur Dinda.


Sasa terdiam dengan menatap meja, perlahan pandangannya terarahkan oleh gelang milik Syifa. "Emmm, gelang kalian samaan ya?" Tanya Sasa.


"Iya.... gue couple an sama Aisyah, yang Dinda sama Lina. Bagus ga?"


"Iya" Balas Sasa.


Sasa menatap gelang itu lama. Dulu, waktu Rara dan Carin masih menjadi sahabatnya mereka sering membeli barang yang sama. Mulai dari gelang, jam, sepatu, baju dan lainnya.


"Ada yang kamu pikirin sa?" Tanya Dinda.


"Cuma,,, kepikiran sama Rara, Carin"


"Lo masih nganggap mereka sahabat?"


"Iya"


"Kenapa?"


"Kata Aisyah mungkin lawan bisa menjadi teman, tapi teman tidak bisa menjadi lawan" Jawab Sasa.


Syifa menghela pelan. "Iya gue tahu soal itu. Emang kita bisa temenan sama siapa aja. Tapi kalau untuk sahabat itu ga. Sahabat itu lebih dari teman dan kawan, ada tempat tersendiri buat sosok sahabat" Balas Syifa.


"Lo boleh menganggap mereka teman, tapi kalau sahabat kayaknya ga pantes deh buat mereka. Sahabat itu ga akan pernah ninggalin kita waktu susah. Kalau Rara Carin kan beda lagi. Lo seneng mereka deketin, Lo susah mereka jauhi. Iya kan?"


Sasa termenung. Memang benar itu faktanya. Namun bagaimana lagi, mereka sudah menjalin itu semua sejak masih berada di bangku SMP.


"Halo semuaaa...." Sapa Lina dengan membawakan nampan yang berisi makanan dan minuman.


"Eh ada Sasa..." Lina menaruh jus melon di depan Dinda.


"Lin, apa kabar?" Sapa Sasa.


"Baik. Lo?"


"Gue juga baik"


"Sa, mau pesen apa? Biar gue pesenin sekalian mau balikin nampan ke mbak Windi..."


"Nggak, makasih"


"Beneran? Padahal hari ini ada batagor yang harganya sama tapi porsinya melimpah banget. Ga kayak biasanya. Nih gue pesen" Ujar Lina dengan melihat batagor yang sudah di pindahkannya ke meja.


"Kok ga bilang?" Tanya Syifa nyolot.


"Ya mana gue tahu. Orang tadi pas gue pesen di kasih tahu mbak Windi"


"Ya udah tukeran ya Sama makanan gue..."


"Enak aja tuker tuker. Ga ada, ga boleh!!" Ketus Lina.


Syifa berdecih kecil, sedangkan Lina berjalan ke arah mbak Windi mengembalikan nampan. Tak lama ia kembali bergabung di meja dan menyantap makanan nya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikum salam" Jawab semuanya.


"Ih Sini sini duduk Syah..." Syifa menepuk nepuk kursi di sebelahnya


Aisyah mengangguk dan berjalan duduk di samping Syifa. "Dari mana?" Tanya Syifa.


"Bukan dari mana mana" Jawab Aisyah.


"Terus Lo pinjem buku ke siapa?"


"Ke kak fa..."


"Fariz?"


•••••


Malam itu Reyhan sibuk dengan semua persoalan matematika. Teman temannya saja sampai bingung, secinta itukah Reyhan dengan matematika? Pelajaran yang 95,5% orang hampir membencinya. Begitu juga Fariz, ia sibuk mengerjakan tugas yang ada. Sedangkan di pojokan, ada Ilham yang sedang menyendiri menderas bacaan Al Quran nya. Iqbal? Dia sibuk mengamati dan menatap Fariz.


Fariz melihat Iqbal. "Ngapain Lo lihatin gue?"


"Lo ngerasa?" Tanya Iqbal.


Fariz berdecih. Ia menutup buku dan membawanya keluar. Selang beberapa detik ia kembali lagi mengambil bolpoin miliknya. "Kenapa pindah sih Riz?" Tanya Iqbal namun hanya di balas lirikan oleh Fariz.


Iqbal turun dari kasurnya, ia berjalan keluar menghampiri Fariz. "Riz..."


"Lo ngapain di sini?"


"Yaelah...gue mau kemana aja juga bisa"


"Merusak suasana!!" Ketus Fariz.


"Siapa? Gue? Sekate-kate Lo kalau ngomong!! Bukan gue yang merusak suasana, tapi hati Lo aja yang suasananya rusak. Iya kan?"


Fariz terus mengabaikan Iqbal. "Riz,, ada yang Lo pikirin? Sini cerita sama gue..." Ucap Iqbal.


"Riz,, jangan kacangin gue dong!! Lo ada masalah kan? Kenapa ga cerita sama gue?? Gini gini gue juga tahu hati temen gue..."


"Tebak aja kalau bisa" Ucap Fariz dingin.


"Ga tau aja kalau gue cenayang" Balas Iqbal mengaku ngaku.


Iqbal memejamkan matanya. Menerawang bak paranormal. "Lo ada masalah keluarga? Atau Lo lagi mikirin Aisyah?"


Fariz menegakkan punggung nya. Ia menatap Iqbal. "Menurut Lo Aisyah orang baik?" Tanya Fariz.


"Ya iyalah..." Jawab Iqbal langsung.


"Tapi kalau itu semua ga sesuai apa yang Lo lihat dan ga sesuai apa yang Lo pikirin gimana?"


Iqbal mengerutkan keningnya. "Maksut Lo Aisyah ga sebaik apa yang gue pikirin selama ini gitu? Apa sih Riz,,, kenapa Lo tiba tiba bilang gitu?" Tanya iqbal bingung.


••••••


09.45


Aisyah berjalan melewati lorong sekolah. "Aisyah..."


"Assalamualaikum" Ujar Devan.


"Waalaikum salam"


"Gue udah bawain buku nya. Ini yang semester satu dan dua..." Devan menyodorkan dua buku LKS pada Aisyah.


Dengan tersenyum Aisyah menerima buku yang di sodorkan Devan. "Makasih banyak ya kak"


"Iya"


"Oi ya kakak biasanya lomba olimpiade kan sama kak Reyhan?"


"Kalau pembinaan emang sering bareng. Tapi kalau untuk lomba waktu pelaksanaan nya beda"


"Emang kakak lomba apa?"


"Gue lebih sering lomba biologi. Kalau Reyhan matematika" Jawab Reyhan. "Emang kenapa Syah?"


"Tadinya Aisyah mau minta soal soal latihan yang biasa di pake sebelum lomba... tapi yang matematika"

__ADS_1


"Buat?"


"Belajar"


Devan terdiam mencerna kalimat Aisyah. "Oh jadi Lo itu suka kayak mempelajari hal hal yang sulit gitu ya Syah?"


"Iya gitu lah kak. Ga tau kenapa Aisyah itu suka banget belajar dan mempelajari hal yang sulit. Tapi Aisyah udah biasa. Dari SD, SMP Aisyah sering pinjem buku ke kakak kelas buat Aisyah pelajari. Nah ini Aisyah mau coba ngerjain olimpiade yang lebih rumit,,,"


Devan tertawa kecil. "Lo malah suka ya pelajari hal hal yang lebih rumit di atas lo kayak gitu. Apalagi matematika,, gue aja ga suka sama pelajaran itu..."


"Bagi Aisyah matematika itu lebih menantang lebih seru kak... Ya intinya itu waktu mau jawab soalnya jangan di buat pusing, di nikmati aja pasti bisa kok."


Devan tersenyum. "Langka lhoh orang kayak lo Syah. Orang sekarang mana mau kayak gitu, baca buku pelajaran aja males. Oi ya, emang Lo suka banget ya sama matematika?"


"Fisika juga suka, tapi lebih tertarik sama matematika." Balas Aisyah.


"Iya,, jalani aja apa yang Lo suka. Kalau tentang soal olimpiade, Lo bisa langsung aja minta ke Reyhan. Mungkin dia punya banyak" Saran Devan.


"Iya kak. Sekali lagi terima kasih ya...Aisyah mau langsung ketemu kak Reyhan. Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam, hati hati!"


"Iya"


Aisyah berjalan cepat, ia mengarahkan badannya ke kanan menaiki satu persatu anak tangga. Selang beberapa kelas, ia menghentikan langkahnya tepat di kelas dengan tulisan Kelas XII MIPA 2.


Tok tok tok...


Semua orang yang ada di dalam kelas seketika menoleh ke arah pintu, kecuali reyhan yang tidak kepo dengan siapa yang datang. Iqbal tersenyum dengan berdiri dan berjalan menghampiri Aisyah. "Syah,, ada apa? Cari Fariz?" Tanya Iqbal.


Aisyah menggeleng. "Bukan, cari kak Reyhan"


"Reyhan? Tumben." Gumam Iqbal. "HAN!! REYHAN...DI CARI AISYAH!!" Teriak Iqbal.


Tak lama Reyhan sudah berdiri di samping Iqbal. Ia menatap Aisyah. "Ada apa?"


"Kak, boleh minta latihan soal yang biasa kakak pake buat Olimpiade?"


Reyhan mengangguk. Ia membalikkan badan dan kembali berjalan ke mejanya. "Buat apa Syah?" Tanya Iqbal.


"Belajar kak" Jawab Aisyah dengan mengukir senyum di wajahnya.


Reyhan mengambil dua lembar soal yang dijadikan satu di kolong mejanya. Melihatnya sekilas. Setelah itu ia berjalan santai ke arah mereka. Reyhan menyodorkan lembaran latihan soal olimpiade untuk kelas 11. Memang hari ini ia diberi amanah Bu Isma untuk mengajar beberapa anak kelas 11, maka dari itu ia di beri beberapa soal untuk latihan yang akan di kerjakan adik kelasnya nanti. Dan satunya lagi ia kasih ke Aisyah. Tidak mengapa lah kalau gadis itu menginginkannya. Bu Isma juga memberikan lembaran soal lebih.


"Terima kasih ya kak" Ucap aisyah.


Reyhan mengangguk.


"Kalau udah selesai, kasih tahu gue..." Ujar Reyhan.


Aisyah terdiam. Buat apa? Namun ia memilih untuk mengangguk.


"Ya udah Aisyah pergi dulu Kak. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab keduanya.


Aisyah berjalan pergi namun langkahnya memelan saat melihat Fariz yang berjalan dari arah berlawanan. Cowok itu berjalan dengan santainya melewati Aisyah. Mulut Aisyah sudah terbuka hendak menyapa, namun sepertinya Fariz tidak mempedulikan akan keberadaan nya. Aisyah menoleh ke belakang, melihat Fariz yang berjalan memasuki kelas.


Dengan sedikit kebingungan akan sikap Fariz Aisyah memilih untuk melanjutkan langkahnya. Dirinya mendekap buku dan lembaran soal yang sedari tadi ia bawa, pikirannya terus bertanya akan perubahan sikap Fariz. Tidak seperti Fariz yang ia kenal, orang yang selalu menyapanya jika bertemu. Tepat saat Aisyah menuruni anak tangga yang ke tiga belas, dari bawah Syifa berteriak memanggilnya.


Aisyah terdiam melihat Syifa yang berlari ke arahnya. "Syah,, kemana aja sih Lo? Gue cariin juga!" Ujar Syifa yang dibalas senyuman oleh Aisyah.


"Ada apa fa?"


"Ini lihat,, ada acara camping. Ikut ga?" Syifa menyodorkan kertas yang ia bawa dari papan pengumuman sekolah.


Aisyah melihat sekaligus membaca kertas tersebut. Acara tersebut akan di gelar di bumi perkemahan wana wisata penggaron di Semarang. Tertulis juga semua kelas 10 wajib mengikutinya, karena mungkin akan menjadi pengalaman baru bagi mereka.


"Ikut Syah?"


"Ini tulisannya wajib. Berarti harus ikut fa,,"


"Yes!! ga sabar banget...uhuy..." Syifa bersorak senang dengan mengangkat tangan kanannya yang terkepal.


••••••


Kring Kring Kring...


Bel sekolah berbunyi dengan nyaringnya, seketika semua murid langsung bersorak senang.


"Baik anak anak, kita sudahi dulu pelajaran pada siang hari ini. Baca hamdalah..."


"ALHAMDULILLAHI RABBIL 'ALAMIIN"


Satu persatu murid keluar dari kelas. "Kalian langsung pulang. Gue mau ke kantor guru dulu" Ujar Reyhan.


Mereka bertiga mengangguk. Fariz, Ilham dan Iqbal keluar dari kelas, menuruni anak tangga, dan berjalan melewati lapangan sekolah.


"Fariz!!" Dari arah samping seorang gadis dengan rambut tergerai sedang melambaikan tangan.


"Riz gue pulang dulu deh,,," Sahut Iqbal.


"Jangan elah!"


"Ogah banget gue nungguin Lo ngomong sama Ghea. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Fariz.


"Gue juga pulang. Assalamualaikum" Ujar Ilham.


"Waalaikum salam"


"Hai Riz..." Sapa Ghea yang datang bertepatan dengan Iqbal dan Ilham yang baru pergi.


"Hai"


"Riz udah tau belum bakalan ada camping. Kamu ikut ya..."


"Nggak!"


"Kenapa?"


"Gue gak mau..."


"Riz tapi kan wajib Lo sama gue."


"Maksutnya?"


"Lo kan selain kakak senior pelatih silat Lo juga pembina Pramuka kan? Senior pembina Pramuka juga harus ikut" Jelas ghea.


"Kan udah ada guru"


"Iya emang ada beberapa guru yang ikut. Tapi pembina Pramuka juga harus ikut, ikut jaga kalau ada apa apa nanti..."


Fariz menghela pelan. Apa iya gue harus ikut. Kalau gini caranya gimana bisa gue menghindar dari Aisyah...


•••••


فَاِنْ اٰمَنُوْا بِمِثْلِ مَآ اٰمَنْتُمْ بِهٖ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۚوَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍۚ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ۗ


Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu), maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui


(Al Baqarah : 137)

__ADS_1


...********...


__ADS_2