
Mobil mewah milik Iqbal itu terparkir di halaman luas rumah Lina. Keduanya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Seharian ini, Lina mengajak iqbal untuk melakukan berbagai kegiatan di rumah neneknya. Terutama berkenalan dengan sepy. Sapi peliharaan kakek neneknya yang sangat ia sayang. Dan malam ini, mereka baru sempat pulang. Meski tadi Iqbal masih ingin menghabiskan waktu nya untuk tetap di sana.
"Assalamualaikum" Ujar Lina dengan membuka pintu rumahnya. Terlihat Gunawan yang terduduk di ruang tamu dengan matanya yang fokus pada laptop dengan secangkir kopi yang menemani malamnya setiap hari.
"Waalaikum salam" Jawab Gunawan dengan berdiri. Secara serentak, mereka berdua langsung menyalami tangan seorang lelaki yang lebih tua dari keduanya.
"Pa, tumben udah pulang?" Tanya Lina.
"Iya, papa sengaja pulang cepat dari kantor" Jawab Gunawan dengan senyumannya yang mengembang. "Gimana tadi? Habisin waktu berdua Hem?"
"Ga gimana gimana tuh pa" Jawab Lina.
"Papa itu seneng banget lihat kalian akur kayak gini. Dulu aja, kalian duduk satu ruangan aja ga mau... eh tau taunya hari ini malah pergi berdua" Lanjutnya lagi. "Oh atau jangan-jangan kalian udah ada rasa ya..." Tebak Gunawan.
"Papa..." Gumam Lina dengan melotot ke arah ayahnya.
Iqbal menatap Gunawan. "Om..."Panggilnya
"Iya?"
"Saya boleh minta sesuatu ke om?" Tanya Iqbal.
Gunawan mengangguk.
"Saya boleh..." Iqbal meneguk ludahnya dengan air mata yang mendadak terkumpul di matanya. "Saya boleh peluk om?"
Gunawan terdiam dengan menoleh ke arah Lina, sedangkan yang di toleh hanya tersenyum dan mengangguk membuat Gunawan kembali menatap Iqbal dengan merentangkan tangan ke depan. "Iya boleh. Ayo sini..."
Seketika senyuman bahagia terlukis di wajah Iqbal. Tanpa pikir panjang Iqbal langsung memeluk lelaki di hadapannya. Memeluknya dengan erat. Merasakan setiap kehangatan dan kenyamanan yang menelisik dalam dirinya. Jadi seperti ini rasanya di peluk? Lalu kenapa hanya sebuah pelukan kecil seperti ini tidak bisa ia dapatkan.
Beberapa saat, Iqbal melepaskan pelukannya. "Makasih ya om"
"Iya" Jawab Gunawan.
"Bal, malam ini nginep di sini lagi?" Tanya Lina.
Iqbal menggeleng.
"Nggak. Gue ga mau ngerepotin. Gue mau cari apartement aja untuk tinggal sementara"
"Lhoh, kok cari apartement? Ga pulang? Nanti orang tua kamu nyariin lho bal" Timpal Gunawan.
Iqbal terdiam. "Eeee om hary sengaja nyuruh iqbal buat nginep di sini kok pa. Iya kan bal?" Balas Lina dengan menoleh dan melotot ke arah Iqbal.
Iqbal menoleh dengan menaikkan kedua alisnya membuat Lina mengedipkan kedua matanya dengan mengangguk kecil. "Bener bal?" Tanya Gunawan.
"Eeee iya om" Jawab Iqbal dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Gunawan tersenyum senang. "Tumben lho Hary nyuruh kamu buat nginep di sini. Ya udah nanti kamu temenin om buat begadang ya. Soalnya nanti om ada jadwal buat nonton bola" Ujar Gunawan semangat.
"Iya om"
"Bal, kamu tahu? dari dulu om itu pengeeen banget punya anak laki laki. Biar kalau apa apa ada yang bantuin, ada yang nemenin"
Dan om tahu? Iqbal dari dulu juga pengen banget punya ayah kaya om. Ayah yang penuh kasih sayang. Batin Iqbal.
02.45
Lina berjalan menuruni satu persatu anak tangga, langkahnya memelan saat melihat ke arah ruang keluarga. Perlahan kedua bibirnya terangkat, melihat papanya dan Iqbal yang sedang tertidur pulas di sofa depan televisi. Lina berjalan mendekat. Tatapannya terlihkan oleh televisi yang masih hidup dengan menampilkan pertandingan sepek bola di layar nya membuat dirinya langsung melangkah dan mematikan televisi.
Lina membalikkan badan, hendak ke kamar untuk mengambil selimut. Namun suara ponsel yang tiba tiba berdering membuatnya kembali menoleh ke belakang.
"Hary..." Gumamnya membaca nama yang tertera di ponsel ayahnya.
"Om Hary? Ngapain dia telepon papa malem malem?"
Lina menjulurkan tangannya hendak mengambil ponsel ayahnya, namun Gunawan yang tiba tiba terbangun membuatnya kembali ke posisi semula. Dengan rasa kantuknya yang masih tersisa, Gunawan menatap Lina yang berdiri di dekat sofa. "Lin..."
"Iya pa?"
"Kamu ngapain di sini?"
"Em Lina mau ambil wudhu buat sholat tahajud" Jawab Lina.
Gunawan mengangguk. Perhatiannya teralihkan saat mendengar suara ponselnya yang berdering. "Ya udah pa Lina ke kamar mandi dulu"
"Iya" Jawab Gunawan dengan mengangkat teleponnya, sedangkan Lina berjalan cepat menuju kamar mandi.
Beberapa menit Lina kembali berjalan melewati ruang keluarga saat dirinya selesai mengambil wudhu. "Lin..." Panggil Gunawan.
Lina menghentikan langkahnya. "Iya pa?"
Gunawan berjalan mendekat dengan menatap putrinya. "Tadi om hary telpon papa. Dia cariin Iqbal"
Lina tersentak kaget. "Kata kamu om Hary yang suruh Iqbal nginep di sini. Tapi kalau om Hary yang nyuruh, dia ga mungkin nyariin Iqbal" Lanjut Gunawan. "Sebenarnya ada apa?"
•••••
Fariz mengerutkan alisnya saat mendapat kiriman foto dari nomor yang tak di kenal. Matanya molotot kaget saat melihat foto yang dikirimkan. Terlihat Aisyah yang sedang di pegang oleh seorang laki laki dengan latar belakang sebuah cafe. Namun, laki laki itu berbeda dengan lelaki yang ia lihat saat malam itu. Jarak antara mereka juga bisa di bilang cukup dekat. Siapa dia?
Dengan rasa cemburu yang kini ada dalam dirinya, Fariz tetap berfikir yang positif tentang Aisyah. Tidak,,,, dirinya tidak boleh bersuudzon tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
(Al Hujurat :12)
Tok tok tok
Fariz menoleh, dengan cepat ia berjalan dan membukakan pintu. "Riz..."
"Iya ma?"
"Besok mama akan pergi liburan kamu mau ikut?"
Fariz terdiam. "Ikut apa ga? Soalnya adik kamu itu rewel banget pangen ngajak jalan jalan. Karena waktu itu kamu ga jadi ajak dia jalan jalan" Lanjut mama Fariz.
Fariz menghela pelan. "Maaf ma, Fariz ga bisa ikut"
"Lhoh kenapa?"
Fariz menggeleng. "Fariz...Fariz ga bisa ikut ma. Kapan kapan aja ya, kan waktu liburan Fariz juga masih sekitar satu mingguan."
"Beneran kamu ga mau ikut?"
"Iya ma. Maaf ya"
__ADS_1
"Ya udah kalau ga mau" Ujar mama Fariz dengan membalikkan badan dan berjalan pergi.
Fariz kembali menutup pintu kamarnya, berjalan lalu duduk di atas kasur. Dengan hatinya yang tidak tenang Fariz mencari kontak Aisyah. Dengan antara ragu dan tidak Fariz memencet tombol telepon yang ada di layar ponselnya. Menunggu jawaban dengan hatinya yang tidak karuan.
"Halo..."
"Assalamualaikum Syah" Ujar Fariz.
"Waalaikum salam. Ada apa ya kak?" Tanya Aisyah dari balik telepon.
"Gue mau tanya sesuatu sama Lo"
"Tanya apa?"
Fariz terdiam sejenak. "Lo kemarin pergi ke cafe?" Tanya Fariz.
"Iya"
"Sama siapa?"
"Sama Rahma kak. Rahma itu temen Aisyah. Kenapa kak?"
Fariz mengepalkan tangannya. "Beneran? Lo ga bohong?"
"Iya"
Tapi kenapa di foto itu Lo lagi ada di cafe sama cowok Syah!! Batin Fariz.
"Syah,, waktu gue ngajak Lo jalan Lo nolak kan. Katanya ada urusan, urusan apa?" Tanya Fariz lagi.
"Oh yang itu,, waktu itu aisyah pergi ke rumah sakit"
"Sama siapa?"
"Sama keluarga nya aisyah. Emang ada apa sih kak?"
Dan untuk ini lo juga bohong syah? Batin Fariz dengan semakin mengeratkan kepalan tangannya.
"Assalamualaikum" Ujar Fariz dengan memutus sambungan telepon tanpa mau mendengar jawaban salam dari Aisyah.
Fariz menghembuskan nafas kasar. "Kenapa Lo bohong syah? Lo bilang pergi ke rumah sakit sama keluarga, tapi gue lihat sendiri sama mata kepala gue kalau Lo jalan sama laki laki lain!!" Gumam Fariz kesal. "Gue yang salah atau Lo yang bohong Syah?!!"
•••••
"Tapi fa ini udah jam setengah sepuluh lhoh..." Ujar anggun melarang.
"Udah ma, ga papa. Lagian jam setengah sepuluh di Jakarta itu juga masih rame banget" Balas Syifa.
"Tetep aja sayang!! Perempuan itu ga baik kalau keluar malem malem, gimana kalau kamu kenapa Napa?"
"Syifa ga bakalan kenapa Napa ma. Lagi pula nanti kalau ada yang jahatin Syifa,,, Syifa tinggal teriak minta tolong. Pasti ada yang nolongin" Jawab Syifa. "Kalau Syifa ga beli pembalut sekarang, nanti bisa tembus di kasur. Apalagi sprei di kamar Syifa putih warnanya, pasti bakal kelihatan banget ma. Ini lagi deres deresnya keluar."
"Ya udah mama temenin"
Syifa menghela pelan. "Ga usah ma. Syifa sendirian aja. Lagi pula minimarketnya Deket kok dari sini."
Anggun hanya bisa menghela berat menanggapi sikap putrinya yang dari dulu memang keras kepala. "Syifa pergi dulu ya ma. Assalamualaikum" Ujar Syifa dengan menyalami tangan ibunya.
"Waalaikum salam. Hati hati ya..."
Dengan langkah cepat Syifa berjalan keluar apartemen. Dirinya langsung berjalan ke arah minimarket yang masih buka pada jam seperti ini, juga sekalian untuk membeli cemilan dan kebutuhan yang ia butuhkan.
Setelah membeli semuanya, Syifa langsung keluar minimarket dan berjalan di tepi jalan. Saat dengan santainya ia menikmati lalu lalang kendaraan juga keindahan malam kota Jakarta, seorang pengemudi motor yang melaju di sampingnya langsung menarik paksa tas Syifa yang ia taruh di bahunya membuat Syifa kaget dan secara refleks memegang erat tasnya agar tidak di ambil oleh kedua pengemudi motor yang tak di kenalnya itu.
"LEPASIN GA!! Toloong!!" Teriak Syifa dengan mempertahankan tas Selempang nya.
Tak mau kalah, orang yang di bonceng dalam motor tersebut langsung mendorong Syifa hingga dirinya terjatuh. Dengan segera, motor itu kembali melaju cepat.
Syifa menghembuskan nafas kasar dengan menatap tajam motor yang belum melaju jauh. Dari belakang motor ninja merah melaju dengan kecepatan tinggi. Mata Syifa membulat sempurna. Dirinya langsung tercengang kaget saat melihat seorang yang mengendarai motor ninja tersebut tanpa pikir panjang langsung menendang orang yang di bonceng motor yang melaju tepat di sampingnya. Seketika seorang lelaki yang tadinya menjambret tas Syifa langsung tersungkur jatuh ke samping. Seseorang yang memboncengkan langsung menghentikan laju motornya dengan menoleh ke belakang, melihat temannya yang jatuh di tepi jalan. Karena geram, dengan cepat orang itu turun dari motor dan menghampiri seseorang yang juga menghentikan motor ninja tepat di hadapannya.
"LO MAU CARI MASALAH SAMA GUE HA?" Tanya copet itu dengan emosi.
Dengan cepat copet itu melakukan gerakan perlawanan terhadap lelaki di hadapannya. Namun nyatanya, lelaki di depannya lebih kuat hingga dalam beberapa detik saja dapat membuat sekujur tubuh si pencopet sakit.
Syifa berdiri dengan memandang jauh apa yang terjadi. Dirinya melangkah cepat, agar ia bisa lebih dekat mengetahui apa yang terjadi. Copet itu tersungkur jatuh, namun teman nya yang tadinya terjatuh dari motor kini kembali bangkit dan memberi perlawanan. Nasib yang di alaminya pun sama, harus meringis kesakitan karena perlawanan yang diberikan oleh lelaki itu. Terutama bagian kaki dan tangannya yang serasa ingin di patahkan oleh lelaki di hadapannya. Belum menyerah, mereka berdua kembali bangkit dan menyerang bersama sama. Dengan santai, lelaki yang masih setia untuk tidak menampakkan identitas nya itu pun kembali meladeni satu persatu serangan yang kedua copet itu berikan. Lagi dan lagi keduanya kembali tersungkur.
Lelaki itu mengambil paksa tas Syifa yang ada di genggaman salah satu copet. "Mau nambah atau udahan?" Tanya lelaki itu.
"Udah udah bang. Saya udah kapok" Jawab salah satunya dengan memegangi perut yang terasa nyeri.
"Di persilahkan untuk pergi!!" Balas lelaki itu membuat keduanya bangkit dan berjalan pelan dengan menahan sakit. Tak lama motor kedua copet itu melaju cepat.
Lelaki itu mengalihkan perhatiannya pada Syifa yang berlari ngos ngosan ke arahnya. Tepat di hadapannya Syifa berhenti. "Mana tas nya!!" Ujar Syifa dengan nada galak.
Lelaki itu menyodorkan tas Syifa, membuat Syifa langsung menariknya kasar. Ini orang ya,,, udah di tolongin bukannya ngucapin terima kasih tapi malah di galakin, kalau ga Syifa mana ada.
Syifa menatap lelaki itu dari bawah hingga atas. Sepatu hitam, celana hitam, jaket hitam, helm hitam, semua serba hitam.
"Makasih!!" Ujar Syifa dengan nada yang masih tidak bersahabat membuat lelaki itu hanya mengangguk kecil.
"Gue anterin"
Syifa melototkan matanya. "Enak aja....!" Sergah Syifa nyolot. "Siapa Lo seenak jidat mau nganterin gue. Jangan Lo pikir karena Lo udah nolongin gue Lo bisa cari cari kesempatan sama gue."
"Oh apa jangan jangan,, Lo mau culik gue ya...tapi alasannya mau nganterin" Lanjut Syifa lagi.
"Ga mau gue anterin?"
"Ya nggak lah!!"
"Nanti kalau ada sesuatu di jalan sama lo yang lebih buruk dari ini dan ga ada yang nolongin jangan salahin gue!"
Seketika Syifa langsung terdiam. Nyalinya menciut untuk pulang sendirian setelah mendengar kata kata lelaki tersebut. Padahal keadaan kota masih ramai.
Lelaki itu membalikkan badan, lalu menaiki Ninja merahnya. "Eh tunggu tunggu..."
Lelaki itu menoleh. "Gue ikut" Ujar Syifa pelan.
"Ya udah naik" Balasnya.
"Eh tapi jangan macem macem ya" Ucap Syifa memberi peringatan.
"Iya"
Syifa melangkah mendekat. "Ih kok tinggi benget sih!!" Omelnya saat melihat ke arah boncengan motor.
__ADS_1
"Kenapa harus pake motor beginian sih bang!! Motor yang suaranya edek edek aja lebih enak" Lanjutnya lagi. "Ini ketinggian ini!!"
"Udah naik aja" Ujar lelaki itu yang masih berusaha untuk sabar.
Dengan sedikit kesusahan Syifa menaiki motor tersebut, apalagi saat ini dirinya membawa barang. Ya, walaupun tidak banyak.
"Rumah lo dimana?"
"Di Jogja" Jawab Syifa.
"Maksutnya di Jakarta Lo tinggal di mana?"
"Di apartemen"
"Apartemen yang mana?"
Syifa menghela pelan. "Udah jalan aja. Nanti kalau mau sampe gue kasih tahu. Apartemen nya Deket kok dari sini"
Lelaki itu mengangguk dengan menyalakan motornya. Tak lama motor itu melaju pelan. "Heh Lo beneran mau nganterin gue kan?"
"Hm"
"Awas aja kalau bohong. Gue jedotin kepala Lo ke tiang listrik!!" Ujar Syifa. Sepertinya dirinya sudah mulai sebelas dua belas dengan Lina yang suka galak itu.
Syifa terdiam. "Bang!! Lain kali motornya ganti yang suaranya edek edek edek aja deh. Kasian kalau punya cewek harus susah payah pas naik ke boncengan" Lanjut Syifa. "Lo tau ga? Suara Lo itu kayak pernah gue denger..." Ucap Syifa dengan sedikit mengingat.
Beberapa detik...
"Itu itu itu....itu apartemennya" Ujar Syifa dengan menunjuk apartemen yang berdiri megah di seberang jalan. Dengan segera lelaki itu mengarahkan motornya memasuki kawasan apartemen.
Syifa turun dari motor yang bertepatan lelaki itu mematikan mesin motornya. Syifa menatap lelaki yang masih ada di atas motornya dengan heran. "Kenapa dari tadi helm nya ga mau di buka?" Tanya Syifa.
"Kenapa?"
"Nggak! Cuma tanya" Balas Syifa cuek. "Ya udah makasih. Gue masuk dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab lelaki itu.
Syifa membalikkan tubuhnya dan melangkah membuat lelaki itu membuka helm nya hingga wajahnya tak lagi tertutupi.
"Syifa..."
Syifa menghentikan langkahnya. Mengapa dia mengetahui namanya? Syifa membalikkan badan.
Seketika mulutnya langsung terbuka dengan matanya yang melotot tak percaya. Dengan cepat Syifa kembali melangkah mendekati lelaki itu.
"Kok..." Syifa menunjuk lelaki di hadapannya. "Kok bisa??"
"In-Ini kakak?" Tanya Syifa.
Reyhan mengangguk.
"Kok bisa ada di sini? Eh atau jangan jangan ini makhluk tiruan ya..." Ucap Syifa ngawur.
"Gue emang tinggal di Deket sini" Ujar Reyhan.
"Oi ya? Terus kakak tadi mau kemana?"
"Gue tadi mau pulang ke rumah" Jawabnya. "Perempuan jangan keluar malem malem sendirian"
Syifa cengengesan. "Iya, maaf. Eh tapi makasih ya kak udah nolongin Syifa"
Reyhan mengangguk.
Syifa tersenyum. "Pantes Syifa kayak kenal suaranya, ternyata..." Ia menggantung kan kalimatnya. "Kak, kapan kapan ajak Syifa ke rumah kakak ya..." Pinta Syifa.
"Hm"
"Eh kak...Tadi itu kalau kakak ga nolongin Syifa juga ga papa"
"Kenapa?" Tanya Reyhan heran.
Syifa membuka tas nya. "Soalnya di tas Syifa itu cuma ada tisu sama kembalian uang dua ribu doang" Ujar Syifa dengan menunjukkan barang di tangannya. "Ponsel Syifa juga ga aku bawa. Cuma ada ini doang. Jadi kalau kecopetan ya ga papa"
"Terus kenapa teriak minta tolong?"
"Ya kali Syifa harus teriak makasih ke Abang copetnya. Dimana mana kalau ada kejahatan pasti teriaknya tolong!!" Jawab Syifa membuat Reyhan mengangguk membenarkan.
"Ya udah kalau gitu, Gue balik dulu" Lanjut Reyhan. Syifa mengangguk.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Syifa.
Reyhan kembali memakai helm lalu menyalakan motornya. Perlahan motor besar itu berjalan keluar kawasan apartemen.
"Da-Dah....hati hati kak!!" Syifa melambaikan tangannya dengan tersenyum girang.
Setelah motor Reyhan mulai melaju menjauh, Syifa membalikkan badannya. Tak lama dirinya melompat kegirangan, setidaknya untuk akhir akhir liburnya ini dia tidak akan lagi rindu dengan laki laki itu.
"Nanananana....nanananana...Yeey yeyy...ehem ehemm" Gumamnya bersenandung riang dengan melangkah senang seperti anak kecil.
"Assalamualaikum" Ujar Syifa dengan membuka pintu apartemennya. Ia langsung melangkah ke ruang keluarga.
"Waalaikum salam. Baru datang fa..." Balas anggun.
Syifa tersenyum lebar. "Eh kenapa anak mama? Kelihatan bahagia banget!" Ujar anggun.
Syifa duduk di samping mama nya. "Tau ga ma, Syifa tadi habis kecopetan"
Anggun tersentak kaget. "Kecopetan? Terus gimana keadaan kamu? Aduh Syifa makannya kalau di bilangin jangan ngeyel. Mama kan tadi udah larang kamu..."
"Udah ma. Lagian Syifa ga papa. Lihat nih, ga ada yang luka kan?" Ujarnya dengan memperlihatkan kondisi tubuhnya yang baik baik saja.
"Tetep aja mama khawatir. Lagian kamu belanja Deket sini pake bawa tas segala." Ujar anggun.
"Ya soalnya nanti kalau Syifa ga bawa tas bawa uangnya gimana? Kan Syifa tadi bawa uang lebih, takut ada yang jatuh. Gamis Syifa juga ga ada saku bajunya. Yaudah mendingan Syifa bawa tas aja"
Anggun menghela berat. Ia menatap heran putrinya. "Terus habis kecopetan kenapa kamu malah senyam senyum kayak gitu??"
"Soalnya...."
"Soalnya Syifa lagi pengen senyum aja" Jawab Syifa dengan senyumannya yang semakin lebar.
...******...
__ADS_1
#savepalestine