Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Belakang Sekolah


__ADS_3

"Iya. Bukannya Lo suka ya sama Reyhan. Lo harus dapetin apa yang Lo suka, dan singkirin penghalangnya. Penghalang Lo Syifa kan? Yaudah kita buat kayak Aisyah. Gimana??" Tanya Ghea.


Naira menggeleng pelan. "Gue ga mau. Walaupun gue ga suka sama Syifa, tapi gue ga sampe hati buat jebak dia kayak gitu. Lagian, gue ga mau terima resikonya"


Ghea terdiam. "Aelah takut banget sih. Udah ga papa, masih ada gue kok"


"Bukan gitu Ghea, tapi sia sia aja gitu gue ngelakuin itu. Kan sebentar lagi kita mau lulus, pastinya Reyhan sama gue bakal tempuh pendidikan yang berbeda, perjalanan yang berbeda, dan tempat yang berbeda. Dan gue ga tahu, gue bakal ketemu sama dia lagi atau ga. Jadi ya,,, buat apa gitu? Lagian Reyhan cuma nganggap gue temen"


Ghea manggut-manggut. "Ya udah kalau gitu, gue ga akan maksa Lo"


Naira tersenyum tipis. "Ya udah gue pergi dulu sebelum Fariz datang"


"Oke"


"Eh lagian Lo ngapain suruh Fariz ketemuan di sini??"


"Gue cuma mau bicara serius sama dia. Tanpa ada yang ganggu. Dari hati ke hati"


"Ghea....di sekolah ini banyak tempat selain gudang. Di rooftop bisa, di taman belakang juga bisa. Kan sama sama sepi"


"Di rooftop, itu biasanya ada orang. Dan di taman belakang,,,, gue tahu Aisyah sering ke sana. Kalau di gudang? Siapa yang mau ke sini??"


"Ya udah deh terserah Lo. Gue pergi dulu"


"Oke"


Naira langsung berjalan keluar gudang. Dirinya terkejut saat mendapati Aisyah di sana. Pandangan mereka saling bertemu. "Aisyah??"


Sontak Ghea langsung melihat ke arah Naira. "Aisyah??" Gumamnya bertanya. Untuk memastikan, Ghea langsung berjalan mendekati Naira. Benar saja Aisyah memang ada di sana. "LO? Ngapain di sini?"


Aisyah menatap Ghea dengan tatapan tak percaya. "Mbak Jahat ya..." Gumamnya dengan mata memerah.


Ghea terdiam. Lalu menarik sudut bibirnya. "Oh,,, jadi Lo denger pembicaraan gue sama Naira?"


"Iya"


"Bagus! Bagus kalau gitu. Seenggaknya gue atau orang lain ga usah kasih tau yang sebenarnya sama Lo. Iya kan?" Ujar Ghea. "Kenapa? Lo ga suka? Ga terima? Mau kasih tahu apa yang Lo denger ke Fariz? Iya? Gue kasih tahu, percuma! Fariz lihat Lo aja ogah, apa lagi denger penjelasan Lo. Pasti udah di anggap omong kosong sama dia"


"Salah aku apa mbak? Sampe mbak tega kayak gitu"


"Masih aja di tanya salah Lo apa! Gue udah bilang sama Lo, jauhin Fariz. Dan gue udah peringatin Lo, kalau gue bisa aja berbuat sesuatu yang ga pernah Lo pikirin. Tapi sayangnya Lo ngeyel. Terus siapa yang salah? Gue? Ya kali, kan gue udah peringatin Lo. Berarti salah sendiri karena Lo ga dengerin apa yang gue omongin"


"Dan udah berapa kali Aisyah bilang, Aisyah itu ga ada hubungan apa apa sama kak Fariz. Kita Deket sekedar adik dan kakak kelas mbak. Dan apa yang mbak lakuin, itu ga bisa di terima alasannya!" Ujar Aisyah.


"Gue ga peduli, mau status Lo adik kakak, temen, sahabat, pacar ataupun apalah. Selama ada cewek yang bisa mengalihkan perhatian Fariz dari gue,,, gue bakal lakuin apa yang gue mau" Jawab Ghea. "Gue sama Fariz udah kenal dari dulu. Gue yang dulu selalu temenin Fariz, gue yang dulu selalu kasih dia semangat. Dan kita lalui semuanya sama sama. Dan tiba tiba Lo datang, dan mau rebut dia?"


"Bener ya kata orang. Cinta itu buta. Sampai buat mbak ga bisa bedain mana yang benar dan yang salah. Diri mbak, udah di kuasai hawa nafsu untuk bisa dapat kak Fariz. Padahal kita tahu, jodoh itu udah ada yang ngatur. Sejauh apapun mbak melangkah, sekuat apapun mbak berusaha selama kak Fariz bukan jodoh mbak,,,,, mbak Ghea ga akan pernah bisa dapetin itu" Balas Aisyah. "Dan apa yang mbak lakuin, itu udah keterlaluan. Sekarang ikut Aisyah, bilang semua ke kak Fariz yang sebenarnya"


"Lo bodoh ya. Mana ada maling ngaku. Lo paksa sekuat apapun, dia pasti akan berbohong"


Aisyah memegang erat tangan Ghea. "Ikut!!" Ujarnya lalu berjalan dengan memaksa Ghea agar mengikutinya.


"Ih jangan kurang ajar ya Lo!!" Berontak Ghea yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Aisyah. Namun sepertinya, terlalu susah untuk di lepaskan. Apa dia memang bener benar marah?


Aisyah terus menarik paksa Ghea. Tak peduli dengan gadis itu lagi. Dia, sudah melampaui batas. Selama ini dirinya sudah sabar dan diam. Kali ini tidak.


Saat Ghea sedang sibuk sibuknya berusaha memberontak agar di lepaskan, matanya tak sengaja melihat Fariz yang berjalan dari kejauhan dari arah berlawanan. Sontak ia dengan sengaja menjatuhkan dirinya di lantai. Membuat langkah Aisyah terhenti dan melihat ke arah Ghea.


"AAUU,,, Aduuuhh...."


Fariz yang mendengarnya langsung berlari menghampiri.


"Ya Allah mbak. Sini aku bantuin" Aisyah mengulurkan tangannya.


"Ga usah sok baik Lo sama gue!!"


"Ghea..." Panggil Fariz.


"Riz,,, aduh tolong kaki gue sakit" Ujar Ghea dengan memijat mata kakinya.


"Sini gue bantuin" Fariz membantu Ghea berdiri. "Lain kali hati hati"


"Bukannya gue ga hati hati Riz, tapi gue di seret sama Aisyah sampe jatuh!" Jawab ghea.


Fariz menatap Aisyah. "Lo? Bisa ga sopan dikit?"


"Kak, mbak Ghea yang udah culik kaila" Ujar Aisyah langsung mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi. Enggan untuk membahas hal lain.


"Bohong! Lo jahat banget Syah nuduh gue kayak gitu" Sahut Ghea.


"Mbak yang bohong!"


"Lihat Riz. Dia tadi nyeret gue karena dia maksa gue buat bilang sama Lo kalau gue pelakunya. Biar Lo bisa benci sama gue. Keterlaluan banget ga sih Riz? Dia yang udah ngelakuin, tapi sekarang malah gue yang di tuduh"


"Mbak mendingan jujur aja kalau mbak emang pelakunya. Kak, Aisyah tadi denger sendiri pembicaraan mbak Ghea. Mbak, tolong jangan bohong, jangan bikin sandiwara"

__ADS_1


"LO YANG HARUSNYA STOP BUAT SANDIWARA SYAH!" Gertak Fariz.


Aisyah tersentak kaget. "Lo ga seharusnya nuduh Ghea. Belum puas apa yang udah Lo lakuin sama gue? Ghea itu sahabat gue, buat apa dia ngelakuin kejahatan kayak gitu?" Lanjutnya.


"Seharusnya Lo bersyukur, demi Lo ga di penjara gue rela sampe buat papa gue kecewa. Lo bener bener ga tau malu ya Syah! Setelah apa yang Lo lakuin, bukannya memperbaiki kesalahan malah nuduh orang lain. Hebat sekarang Lo!"


"Kak, bukan nuduh. Tapi emang kenyataan"


"Kenyataan nya, bukan Ghea yang bohong, tapi Lo! Lo yang sering bersandiwara, bukan Ghea! Lo yang sering bikin drama, bukan Ghea! Jadi mulai sekarang, hentikan semua sandiwara Lo. Gue udah muak, paham? Apa susahnya sih, ngaku? Kebohongan Lo ga akan pernah merubah bukti yang ada"


"Kenapa sih kakak ga bisa percaya? Udah berapa kali Aisyah bilang, Aisyah ga pernah ngelakuin itu kak!! Gimana caranya Aisyah nyuruh orang itu buat culik adiknya kakak, sementara Aisyah aja ga pernah ketemu, ga tau wajah adik kakak gimana. Aisyah ga pernah tau wajah keluarga kakak gimana!"


"Ga pernah ketemu? Terus yang di pasar waktu kejadian itu gimana???" Tanya Fariz refleks. "Itu udah membuktikan kalau Lo udah ketemu sama adik gue, bahkan nyokap gue"


"Dan dari mana Aisyah tahu kalau itu adik dan ibunya Kakak? Kita ga kenalan dulu waktu itu! Ibu itu juga ga bilang kalau dia mamanya kak Fariz!"


Aisyah terdiam menunduk dengan menghela panjang. Mendengar kata kata Fariz, dia langsung teringat akan sesuatu. Aisyah kembali menegakkan kepalanya. "Kak, Aisyah mau tanya sama kakak" Ujar Aisyah pelan. Seperti tidak ada kekuatan untuk mengucapkan kalimatnya.


"Apa benar, selama ini kakak baik sama Aisyah karena kakak merasa berhutang Budi? Apa semua kepedulian kakak, juga dengan alasan yang sama?"


Fariz terdiam meneguk ludahnya. Mulutnya entah kenapa mendadak kelu. "Iya"


Aisyah menegapkan bahunya. Berusaha agar tidak terlihat lemah di depan mereka. "Kakak pernah bilang suka sama aku. Bohong kan?"


"Iya" Jawab Fariz. "Gue ga pernah suka sama Lo. Dan harusnya Lo sadar dari dulu"


"Apa Lo pikir gue emang suka sama Lo? Apa Lo pikir, setelah itu gue akan jadiin Lo ratu yang selalu gue layanin, gue lindungi, gue bela? Iya? Apa yang semua gue lakuin, itu semata mata karena gue mau balas budi. Dan kenapa dengan bodohnya Lo percaya?"


Aisyah menundukkan kepalanya dalam dalam. Jangan keluar sekarang, tahan dulu Syah. Batinnya berbicara untuk menahan air matanya.


Aisyah menghela pelan. Saat ini, ingin rasanya dia berteriak meluapkan emosinya, sakit hati atas perkataannya, ketidak adilan yang di terimanya. Namun nyatanya, gadis itu hanya memilih untuk mengulum senyum. Walaupun memang terlihat sangat memaksa. Dirinya tahu, sekeras apapun memberitahu Fariz tentang yang sebenarnya, dia tidak akan percaya.


Aisyah meneguk ludahnya kuat kuat. "Terus mau kakak apa?"


Fariz terdiam lama. "Gue minta sama Lo, pergi jauh dari gue. Pergi sejauh-jauhnya. Itu, akan lebih baik." Ujar Fariz. "Hidup gue, akan lebih tenang tanpa Lo" Entah mengapa kata kata itu yang keluar dari mulutnya. Tanpa berbicara panjang lebar lagi, Fariz langsung membalikkan badan dan melangkah pergi.


Beberapa detik, langkahnya sedikit memelan saat melihat Syifa di sana. Dia menatap Fariz dengan menggelengkan kepalanya tak percaya. Namun Fariz memilih untuk tetap melanjutkan langkahnya.


"Lo tahu, gue puas" Bisik Ghea lalu berjalan pergi. "Ayo nai..." Ajaknya kepada Naira yang sedari tadi hanya berdiri tak berkutik di tempat.


"Iya" Jawab Naira lalu berjalan pergi bersama Ghea.


Setelah Mereke bener bener berjalan jauh, barulah air mata yang sudah mati matian Aisyah tahan langsung pecah. "Aisyaaaahhh..." Panggil Syifa dengan berlari mendekati sahabat nya. Syifa mengelus pelan lengan Aisyah.


"Ai,,, tolong jangan nangis" Ujar Syifa. "Udah Syah, ga usah di pikirin omongannya kak Fariz. Plis jangan nangis, nanti gue ikutan nangis lho" Lanjutnya. Padahal satu Minggu ini, Aisyah sudah merasa lebih baik dan tenang, tapi malah hari ini dia kembali di buat menangis. "Dasar Kak Fariz!!" Ucap Syifa kesal.


•••••


"Riz, lihat ini..." Ujar iqbal menunjukkan video kepada Fariz lalu memutarnya. Video yang waktu itu dirinya ambil. "Lo lihat kan, di sini gelagat Ghea itu mencurigakan. Apalagi dari omongannya"


"Dan Lo tahu ga? Di ponselnya Aisyah ada kontak yang ga dia kenal, dan kontak itu yang di pake Ghea buat nge chat orang suruhannya" Lanjut Iqbal.


"Kenapa Lo nuduh Ghea??? Karena Lo ga suka sama dia?"


Iqbal berdecih kecil. "Gue emang ga suka sama dia, tapi gue ga akan ngomong kalau ga ada bukti"


"Riz, sama halnya dompet yang bisa di ambil secara diam diam sama copet, ga ada yang ga mungkin kalau ponsel juga bisa diam diam di ambil sama orang tanpa kita sadari" Sahut Reyhan. "Bisa jadi, ponsel Aisyah di ambil sama orang, dan orang itu yang nge-chat penculiknya melalui nomor aisyah" Sahut Reyhan.


"Paham ga Lo Riz, maksudnya Reyhan gimana?" Tanya Iqbal.


"Tapi kenapa harus mengarah ke Ghea? Banyak orang yang bisa kalian curigai" Balas Fariz.


"Ya soalnya dia yang paling benci Aisyah Deket sama Lo. Dan dia yang sikapnya paling mencurigakan. Riz, buka mata Lo!! Selama ini dia selalu menjelek-jelekkan Aisyah di depan Lo, karena dia pengen Lo semakin benci sama Aisyah. Dia juga bilang sia sia kan kalau Lo mau cari tahu siapa pelakunya, itu karena dia takut!" Jawab Iqbal. "Mau sampe kapan sih Lo bodoh kayak gini? Gue tahu Ghea itu sahabat Lo, Deket sama Lo. Bahkan dia lebih lama kenal Lo dari pada kita. Tapi Lo lupa, bahwa seringkali orang terdekatlah yang paling menyakiti. Jadi, Lo jangan terlalu percaya."


"Kalau Lo mau tahu jawaban yang sebenarnya, nanti kalau pulang, Lo datang ke belakang sekolah. Di situ In Syaa Allah Lo akan tahu semuanya" Ujar Iqbal memberi tahu.


•••••


Semua murid langsung berjalan keluar sesaat setelah bel tanda pulang berbunyi. "Syah, anterin gue yuk" Pinta Syifa dengan menggendong tasnya.


"Kemana?"


"Balikin bukunya putri"


"Putri siapa??"


"Itu yang rumahnya di belakang sekolah. Tapi harus jalan sekitar tiga puluh meter dulu dari sekolah." Ujar Syifa. "Tadi pas istirahat mau gue balikin, tapi putrinya malah ga masuk. Katanya sakit. Kebetulan bisa sekalian jengukin dia kan??"


Aisyah mengangguk. "Iya. Ya udah, yuk...."


Mereka berdua berdiri dan melangkah keluar kelas. Setiap perjalanan Syifa selalu membicarakan topik agar Aisyah tidak diam melamun mengingat kata kata Fariz tadi. Ya,,, walaupun topik yang di bicarakan nya terkesan nyeleneh.


•••••


Setelah pulang sekolah, seperti yang di ucapkan Iqbal tadi, fariz langsung berjalan melangkah menuju taman belakang. Di sana, matanya langsung melihat Ghea dan beberapa orang. Sekitar enam sampai tujuh lelaki.

__ADS_1


"Ternyata kalian beneran Dateng ya!" Ujar Ghea.


"Lo pikir kita main main? Sekarang cepat kasih uang seratus juta ke gue, sebelum gue kehabisan kesabaran"


"Gue bilang nggak ya nggak! Emang Lo pikir, uang seratus juta itu mudah di dapetnya??"


"Lo dulu bilang bakal kasih gue tambahan kalau rencananya berhasil. Sekarang Lo malah ga mau! Cepet kasih, atau gue bakal kasih tahu yang sebenarnya sama keluarganya dia kalau Lo yang sebenernya udah culik anak itu!"


"Oh silahkan aja! Gue ga takut! Emang Fariz bakal percaya sama Lo? Emang Lo punya bukti, ngga kan? Jadi gue ga takut!" Jawab ghea.


"Eeehhh,, KURANG AJAR LO!" Pekiknya dengan melayangkan pukulan. Kalau begini ceritanya, dia tidak peduli laki laki atau perempuan. Yang penting, dia dan anak-anak buahnya mendapatkan uang.


Namun sebelum pukulan itu mendarat di wajah ghea, fariz dengan cepat menahannya. "Ghea Lo pergi!" Perintahnya.


"Tapi Riz..."


"Pergi gue bilang!!"


Dengan ragu Ghea mengangguk dan berlari pergi. Bersembunyi di balik pohon. Fariz melepaskan tasnya. "Lo yang udah culik adik gue kan? Sekarang Lo harus berhadapan sama kakaknya"


"Oh Lo kakaknya? Asal Lo tahu, yang nyuruh gue itu Ghea bukan Aisyah"


"Sebelum gue kasih pelajaran ke Ghea, Lo dulu yang harus menanggung akibatnya" Balas Fariz lalu memukul telak wajah lelaki di hadapannya.


"AHH!! Kurang ajar. Kalian lawan dia sekarang!!" Perintahnya pada keenam anak buahnya. Sebenarnya Fariz sedikit kesal karena mereka keroyokan, baiklah tapi akan dia layani.


•••••


"Syah, tunggu di sini ya. Gue beli minuman dulu" Ujar Syifa.


"Iya"


"Mau beli juga ga?" Tawar Syifa.


"Ga usah"


"Ga papa, gue yang bayar"


"Makasih. Tapi beneran deh ga usah"


"Oh,, ya udah kalau gitu. Lo tunggu di sini ya"


"Iya"


Syifa langsung berjalan memasuki warung yang tak jauh berdiri dari belakang sekolah. Sedang Aisyah berdiri menunggunya di luar. Tentu saja, dari jarak beberapa meter dia bisa mendengar suara perkelahian di belakang sekolah. Dengan cepat Aisyah langsung pergi kesana. Menghentikan langkahnya dari kejauhan.


"Kak Fariz?" Gumamnya melihat ngeri fariz yang berlawanan dengan banyak orang. Sebenarnya, Aisyah ingin kesana. Tapi takut membuat lelaki itu kembali marah. Bukankah dia sudah memutuskan untuk dirinya sebisa mungkin menjauhi lelaki itu?!


"Ya Allah,,, ada apa ya?" Tanya Aisyah. Entah masalah apa yang Fariz alami hingga harus berkelahi seperti itu.


Aisyah menghela panjang. Lebih baik dia kembali lagi di depan warung tersebut dan memberi tahu Syifa untuk jangan lewat di belakang sekolah. Namun saat dirinya membalikkan badan, ada sesuatu aneh yang tertangkap oleh matanya.


Empat di antaranya, mereka terjatuh. Dua,,, sedang Fariz lawan. Sedang di belakang cowok itu, ada lelaki yang menatap penuh kemenangan pada Fariz. Aisyah memicingkan matanya. Sebilah pisau kecil keluar dari saku celana robeknya. Perlahan dia berjalan pelan mendekati Fariz yang masih sibuk melayani dua lelaki di hadapannya.


"Ya Allah Kak Fariz!!" Pekik Aisyah yang sudah gemetaran kalau apa yang ada di pikirannya benar benar di lakukan preman itu kepada Fariz.


"KAK FARIZ AWAS DI BELAKANG!!" Teriaknya sekencang mungkin agar bisa di dengar oleh fariz. Tanpa berpikir panjang, Aisyah langsung berlari menghampiri. Tanpa takut, apa yang akan terjadi nanti.


•••••


Berbicaralah yang baik,


Jika tidak bisa, diamlah.


Karena dalamnya hati manusia,


Tidak ada yang tahu,


Selain ia sendiri dan Tuhannya,


Ia mungkin tersenyum,


Tapi bila saja dalam doanya,


Ia mengadukanmu pada Tuhannya,


Untuk mengadukan rasa sakit hatinya,


Maka bisa saja kau dalam masalah besar,


Saat ini.....


•••••


اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏

__ADS_1


sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. (Al Insyirah : 6)


...******...


__ADS_2