
Dinda keluar kelas. Langkahnya terhenti saat di panggil oleh seseorang. "Dinda ya...?" Tanya nya.
"Iya. Ada apa?" Tanya Dinda.
"Ini buat Lo" Katanya dengan menyodorkan kertas hijau.
Dinda mengambilnya. Ia menatap lekat lekat kertas yang kini di genggamannya. "Dar..." Belum lagi ia menanyakan dari mana kertas itu, gadis yang memberinya surat tersebut sudah berjalan pergi.
Secara perlahan Dinda membuka kertasnya. Dan dia yakin sekali, surat ini di berikan oleh orang yang sama seperti surat surat yang sebelumnya.
Untuk raga yang tak bisa ku rengkuh
Tangan yang tak bisa ku sentuh
Dan,, senyum yang tak bisa ku tatap dan ku lihat,
Bersabarlah dalam sebuah pertemuan
Dinda menghela pelan. "Siapa sih yang udah kirim surat ini?!"
"Dapet surat lagi?"
Dinda menoleh dengan sedikit terkejut. "Astaghfirullah Lina,, kaget tau!"
"Iya... maaf. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Dinda. "Kenapa kesini?"
"ih,, emangnya gue ga boleh ya ke sini?"
"Ya boleh sih, tapi tumben aja"
"Ya gue mau ajak lo ke kantin lah. Oh ya,, lihat dong!!" Kata Lina.
"Lihat apa?"
"Suratnya!!" Jawab Lina dengan menatap surat tersebut.
Dinda menyodorkan kertas tersebut. Dengan segera Lina langsung mengambil dan membacanya. "Huwaa,, gue kok baper ya!!" Ujar Lina dengan senyuman menggoda.
"ih Lin,, jujur, aku justru malah keganggu sama surat itu!!" Ucap Dinda jujur.
"Denger ya Din,, orang itu punya cara tersendiri untuk mengungkapkan sesuatu. Salah satunya kayak gini." Ujar Lina. "Oh ya, gue kok baru sadar ya, surat yang Lo terima itu pakai kertas warna hijau semua. Iya kan?"
Dinda terdiam. "Iya juga ya" Gumam Dinda.
"Berarti kemungkinan orang yang kasih Lo surat, itu orang yang suka warna hijau" Kata Lina.
"Tapi kan banyak orang yang suka warna hijau. Aku aja suka banget sama hijau"
"Kenapa? Biasanya perempuan sukanya warna biru, terus pink, ungu ya pokoknya yang cerah cerah"
"Ya karena hijau itu warna Islam. Warna menyehatkan. Warna pakaian penduduk syurga dan warna yang disukai nabi Muhammad. Makannya aku suka warna hijau. Suka banget malah" Jawab Dinda
•••••
"Walaa yusyrik bi'ibaadati robbihiii Ahadaa. Shodaqollahul 'adziim" Tutup mereka dalam membaca surat Al Kahfi.
Abah kyai berjalan pelan menuju depan. Seperti biasa, akan berceramah sedikit setelah selesai sholat. Malam ini, adalah malam Jumat, kegiatan rutin yang dilakukan oleh santri Al Hidayah untuk membaca surah Al Kahfi bersama sama saat malam Jumat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab para santri.
"Pada kesempatan kali ini, Abah akan membahas sedikit tentang kehidupan akhirat. Kehidupan yang sesungguhnya. Jadi nanti saat di akhirat, pasti kita semua akan melewati yang namanya jembatan shiratal Mustaqim. Nah nantinya 1000 orang yang melewati jembatan shiratal Mustaqim, hanya ada satu orang yang akan lolos di syurga. Sisanya, sebanyak 999 akan jatuh di neraka" Ujar Abah kyai.
"Ya Allah, cuma satu yang lolos?" Gumam Syifa geleng geleng kepala. Secercah rasa takut menyelinap dalam dirinya.
"Fudhail bin Iyadh berkata perjalanan di sirath butuh waktu 15000 tahun. Bayangkan saja, selama 15000 tahun, kita berjalan diatas panasnya api neraka yang membara. 15000 tahun kaki kita berpijak pada jembatan yang tajam nya melebihi pedang. Belum lagi, dengan suasana saat itu yang menyeramkan. Teriakan para manusia yang menjerit dalam lubang neraka, lagi suasana disana yang gelap gulita. Kita akan diberi cahaya penerang, sesuai dengan amal kita di dunia." Kata Abah. "Ada makhluk yang berjalannya seperti kilat, ada yang menunggang hewan kurban dan berjalan kaki. Ada juga yang tidak bisa melewatinya, karena api neraka yang terus menarik kaki mereka, hingga mereka jatuh kedalamnya. Nauzubillah min dzalik"
"Makannya itu, berlomba lomba lah untuk memperbaiki diri bukan mempercantik diri. Berlomba lombalah, untuk memperbanyak amal Sholeh. Lihat diluar sana, para ulama yang sudah hafal Alquran, hafal kitab, hafal hadis, rajin tahajud, rajin sedekah, rajin berbuat kebaikan, ahli ibadah. Tapi bagi mereka,, semua itu tidak cukup untuk dijadikan bekal di akhirat. Lalu bagaimana dengan kita? Yang disuruh sholat lima waktu saja malas malasan, yang disuruh sedekah saja tidak mau. Kalian semua,, sibuk untuk mencari kenikmatan dunia. Kalian tahu bahwa dunia hanya sementara, lalu apa yang ingin kalian dapatkan di dunia ini?"
"Ingat!! Apabila kita berbuat dosa sebesar biji dzarrah pun, itu akan dibalas. Lalu bagaimana, dengan dosa kita yang sudah banyak nya Masyaa Allah. Sudah cukup, hentikan ini semua. Hentikan untuk berlomba lomba mencari kenikmatan dunia. Kita di ciptakan di dunia, bukan untuk bersenang-senang. Tapi untuk beribadah kepada Allah, dan mencari keridhoan-Nya."
"Ayolah, para santriwan santriwati ku untuk berlomba lomba mencari kebaikan. Kebaikan yang dilakukan karena Allah, bukan karena manusia. Tadi, kita baca surah Al Kahfi, itu juga salah satu bentuk kebaikan. Dan Abah harap, kalian bisa Istiqomah walaupun kalian sudah keluar pesantren ini, dan tetap Istiqomah dalam kebaikan lainnya. Cukup sekian yang ingin Abah sampaikan, semoga anak anakku sekalian. Kita semua dapat berkumpul bersama di jannah-Nya"
"Aamiin" Jawab para santri serentak.
"Semoga kita mendapatkan syafaat nabi Muhammad saat di akhirat nanti"
"Aamiin"
"Cukup sekian. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
•••••
Hari ini awan mendung, rintikan hujan pun mulai turun. Syifa melangkahkan kaki kanannya, memasuki kelas Reyhan. Dirinya tersenyum melihat ke empat sahabat yang sedang asik bercanda. "Assalamualaikum" Ujarnya dengan berjalan ke arah mereka.
"Waalaikum salam" Jawab semuanya.
"Kak, ini aku bawain salad" Ujar Syifa dengan menyodorkan sekotak salad buah. Syifa menatap Reyhan yang merasa tak peduli dengannya. Ah, baru saja rasanya kemarin ia terbang di atas awan, ditemani kupu kupu yang indah karena senyumannya. Dan sekarang, dia sudah bersikap dingin lagi.
Syifa menghela pelan, lalu duduk di depan Reyhan. "Kak Reyhan,,, kakak diajarin gak sih sama orang tua kakak, kalau di kasih sesuatu sama orang harus bilang makasih" Kata Syifa lembut.
Reyhan menatap Syifa sekilas. "Makasih" Ujarnya dingin.
__ADS_1
"Sama sama..." Jawab Syifa. "Oh ya kak maaf ya, Syifa bawain salad buah. Padahal kan hari ini hujan, harusnya aku bawain yang anget anget. Tapi Syifa udah terlanjur beli saladnya" Jelas Syifa.
"Santai aja fa" Jawab Iqbal.
Syifa tersenyum menatap Iqbal, lalu beralih menatap Reyhan yang sibuk dengan dunianya sendiri. "Kak..."
Reyhan terdiam. "Kak..." Panggil Syifa. Reyhan tetap terdiam. Syifa menghela panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan. "Kak Reyhan, kakak di ajarin ga sih? Kalau ada orang ngomong itu di dengerin jangan di cuekin" Kata Syifa namun tetap tak di gubris oleh Reyhan.
Syifa menatap iqbal, Ilham dan Fariz secara bergantian. "Kakak semua tahu ga, kalau kemarin kak Reyhan senyum sama aku" Kata Syifa dengan percaya dirinya.
"Wih,, Lo cepet juga ya Han. Di depan kita cuek, kalau cuma berdua romantis. Pake di kasih senyum segala lagi" Kata Iqbal. "Lo aja ga pernah senyum sama gue" Timpalnya lagi.
"Kak Reyhan,, kakak suka ya sama aku..." Ucap Syifa. Reyhan menghembuskan nafas kasar. Ternyata, senyumannya kemarin di salah artikan oleh gadis ini.
"Nggak!!" Ketus Reyhan.
"Terus apa kalau ga suka. Kenapa kemarin senyum kayak gitu!"
"Karena Lo bilang gue jelek" Ucap Reyhan membuat Iqbal secara refleks menoyor keras kepala Reyhan.
"Iqbal!!" Ketus Reyhan sedikit membentak dengan melotot kesal ke arah sahabatnya.
"Sorry sorry gue gak sengaja" Jawab Iqbal. "Ya Lo sih,, heh Han dimana-mana orang kalau dibilangin ganteng pasti bakal seneng, kalau dibilangin jelek bakal marah, sedih ga terima. Lah Lo,, dibilangin ganteng tetep aja cuek gantian dibilangin jelek malah senyam senyum!!"
"Iya tau tu kak Reyhan. Padahal senyumannya itu lebar lho kak" Tambah Syifa dengan mengerucutkan bibirnya.
"Han...han.. Lo itu manusia spesies apa sih ha?" Ujar Iqbal dengan gelemg geleng kepala.
"Positif thinking aja, mungkin Reyhan udah bosen dibilang ganteng terus. Makannya pas ada yang bilang jelek dia senyum" Kata Fariz.
"Jadi kak Reyhan nggak jadi suka nih sama aku?"
"Nggak!!"
Syifa menghela berat. Susah sekali untuk masuk ke dalam hati Reyhan. "Terus kapan dong kak Reyhan suka sama aku?" Kata Syifa merengek. "Kakak buat daftar deh, hari ini tugasnya berusaha membuka hati untuk syifa, besok tugasnya deketin Syifa, besoknya lagi gombalin Syifa. Harusnya buat daftar kayak gitu!!" Kata Syifa. "Eh, tapi emang kakak bisa gombal ya?"
Kayak ga ada kerjaan lain! Batin Reyhan.
"Kak, coba deh kak Reyhan itu sama kayak kak Fariz. Perhatian sama aisyah"
"Gue bukan Fariz" Jawab Reyhan.
"Tap.."
"Han.."Panggil Naira yang baru saja datang. Naira menatap Syifa tajam.
"Ngapain Lo di sini?" Tanya Naira dingin.
"Ya terserah dong, dia mau kesini kek mau kesana kek mau ke genteng kek mau ke kandang kek! Itu bukan urusan Lo" Timpal iqbal nyolot.
Syifa berdiri dari tempat duduknya. "Mau kemana Lo?" Tanya Iqbal.
"Emm,, mau ke kelas."
"Disini dulu lah, bel masih lama kok" Ujar Iqbal.
Syifa menggeleng pelan. "Nggak kak,, duluan ya kak. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab ke empatnya.
•••••
Lina berjalan melewati halaman sekolah dengan membawa sebuah buku yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan. Dan lagi lagi bukunya harus terjatuh karena terkena bola.
Iqbal setengah berlari menuju Lina. "Mana bolanya?!"
Lina tersenyum miring. "Hebat ya Lo, Dateng Dateng bukannya minta maaf tapi malah tanya dimana bolanya!"
"Udah deh, gue lagi ga mau debat sama Lo. Mana bolanya!"
"Dan siapa juga yang mau debat sama Lo ha!!"
"Cepet ambilin bolanya!!" Ketus Iqbal.
Lina membuang nafas kasar. Lalu berjalan menuju bola yang menggelinding beberapa meter darinya. "Nih" Ucap Lina dengan melempar bola kasar ke arah Iqbal.
Setelah mendapatkan bola, Iqbal membalikkan badan lalu kembali berjalan ke arah teman temannya yang sedari tadi menunggunya. "Dasar singa lebay dan nyebelin dan ga tau malu dan ga punya adab!!" Gumam Lina kesal.
Iqbal menghentikan langkahnya saat merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia kembali membalikkan badannya, matanya melotot saat melihat verel yang berjongkok untuk mengambilkan buku Lina yang terjatuh. Tak pikir panjang, Iqbal langsung membuang bola begitu saja, berjalan cepat ke arah mereka. Dengan kasar Iqbal mengambil buku yang ada pada verel, yang rencananya hendak verel berikan pada Lina.
"Pergi Lo!!" Bentak Iqbal dengan amarah yang mulai tersulut dalam dirinya.
Verel menatap santai Iqbal dengan sebelah alis yang terangkat. "Lo ngapain disini! Bukannya Lo ga peduli sama dia" Ujar verel dengan menatap Lina.
Menyadari sesuatu yang tak di inginkan akan terjadi, Lina langsung mengajak iqbal untuk pergi. "Bal,, kita pergi aja" Ajak Lina pelan.
"Lo jangan pernah ganggu dia!" Tegas Iqbal
"Ganggu? Bukannya Lo yang selalu ganggu dia,,"
Iqbal mengepalkan tangannya, lalu membuang kasar buku yang ada di tangannya. "Weh,, buku gue kenapa Lo buang!!" Teriak Lina tak terima. Namun nyatanya, Iqbal justru lebih memilih untuk meladeni lelaki di hadapannya. Iqbal menarik keras kerah seragam verel.
"Berengsek Lo!!" Teriaknya dengan amarah yang membara. Hendak saja ia ingin melayangkan bogem mentahnya, namun Lina menahan tangannya. "Udah, kalau berantem jangan di sini!" Bentak Lina.
Lina berusaha menjauhkan Iqbal dari verel, agar mereka tidak benar benar bertengkar. "Jangan berantem di sini. Dilihatin banyak orang!" Ketus Lina. Ia menatap tajam Iqbal dan verel secara bergantian.
Lina mengambil bukunya yang tergeletak jatuh. "Ayo pergi!" Ketus Lina. Namun Iqbal tetap menatap tajam verel.
__ADS_1
"Ayo pergi..." Lina menarik paksa tangan Iqbal. Mereka berjalan menuju tempat yang sepi,dan jauh dari keramaian.
"Lo kenapa sih berantem Mulu sama orang itu" Kata Lina kesal.
"Dan Lo,, bisa ga sih jangan ikut campur urusan gue!"
"Ya gimana gue ga ikut campur,, Lo itu selalu berantem sama dia. Lo mau kalau dihukum sama Bu Desi. Kalau emang mau berantem, jangan di sini! Ini sekolah, buat belajar bukan buat berantem" Tegas Lina.
Iqbal mendengus sebal. "Lo jangan Deket Deket sama dia!"
"Kenapa?"
"Gue tau siapa dia. Dia bukan orang baik baik. Gue ga mau Lo di ganggu sama dia" Ujar Iqbal, cukup membuat Lina terdiam.
"Tapi dia ga ganggu gue, dia tadi cuma mau ngambilin buku. Udah itu aja!" Jawab Lina.
"Gue gak mau Lo kenapa-napa gara gara dia"
Deg
Lina diam terpatung mendengar ucapan iqbal. Matanya tak berhenti untuk melotot kaget, hatinya tak berhenti untuk bertanya tanya. Jantungnya pun,, saat ini berdegup lebih kencang dari sebelumnya. "Kenapa Lo?" Tanya Iqbal yang melihat ekspresi lina yang berubah drastis.
"Eh..." Lina kembali pada kesadarannya. "Lo suka ya sama gue?" Tanya Lina hati hati.
"Jangan ge-er deh jadi orang. Ogah banget gue suka sama Lo."
"Terus?"
Iqbal memutar bola matanya. "Lupain aja. Yang penting Lo jangan terlalu Deket sama dia"
"Oke,, gue turutin permintaan lo. Tapi Lo harus kasih tau gue, Lo ada masalah apa sama dia? Sampe sebenci itu"
"Bukan urusan Lo!" Ketus Iqbal lalu berjalan pergi begitu saja.
"Iqbal!! Dasar cowok berengsek!!" Teriak Lina yang tak di gubris oleh iqbal.
Iqbal terus berjalan menyusuri lorong dengan langkah tegapnya. Samar samar, ia mendengar bisikan para gadis yang kurang kerjaan.
Eh, gue baru nyadar loh ternyata kak Iqbal ganteng juga ya
Iya, ternyata ganteng
Tadi itu pas berantem, damage nya aduh..
Tadi pas marah kelihatan ganteng banget ya
Iqbal terus melangkah, Tek mempedulikan para perempuan yang tengah bergosip asik. Kalau saja mood nya hari ini sedang baik baik saja, mungkin ia akan sedikit senang. Ya, hanya sedikit. Karena mereka baru menyadarinya saat ini, menyadari bahwa dirinya juga tak kalah ganteng.
Iqbal menjatuhkan tubuhnya dikursi. Dirinya mengibas ngibaskan kerah kemejanya. Gerah. "Wih wih,, baru Dateng kemana aja Lo?" Tanya Gilang dengan duduk di samping Iqbal.
"Nyalain AC nya"
"Lo kan punya tangan sama kakk"
"Nyalain!!" Perintah Iqbal dengan melotot pada Gilang.
"Iya ya, galak bener" Gumam Gilang dengan berdiri dari tempat duduknya.
"Santai dong bal, jangan marah marah gitu.." Kata fariz dengan menduduki kursi yang tadi sempat di duduki Gilang. "Heh, Lo ternyata suka ya sama Lina" Ujar Fariz dengan menaik nurunkan alisnya.
"Nggak! Mana mungkin gue suka sama cewek modelan kayak gitu"
"Halah,, ngaku aja!"
"Nggak!"
"Terus tadi apa, jangan ganggu dia, jangan ganggu dia,, hm?"
•••••
Mereka berempat berjalan beriringan. Pulang sekolah. Dari arah belakang terdapat mobil putih yang melaju dan melewati kubangan air. Membuat mereka terkena percikan air tersebut. Terutama Lina yang berada paling panggir. Mobil tersebut berhenti, perlahan kaca mobil bagian samping terbuka. Menampakkan gadis dengan kulit putihnya.
"Ups!! Maaf ya... Gak sengaja!!" Ujar Sasa setengah berteriak pada mereka yang tengah membersihkan seragamnya yang kotor terkena percikan air.
"Ooo jadi ini mobil punya Lo?!" Tanya Lina.
"Iya, Kenapa? Iri ya, gue punya mobil sebagus ini? Berangkat dan pulang selalu di jemput sama mobil. Ga kayak kalian jalan kaki. Kacian.." Kata sasa dengan memasang wajah kasian kepada mereka.
"Sombong banget ya Lo jadi orang!" Ketus Lina. Tanpa berpikir panjang, Lina langsung menempelkan alas kaki sepatunya di mobil Sasa berkali kali. Membuat mobil tersebut menjadi kotor.
"ih ih,, mobil gue jadi kotor.." Gumam Sasa kesal.
"Biarin,, mau gue tambahin?" Tanya Lina judes.
"Dasar Lo" Ucap Sasa. "Jalan pak!" Perlahan kaca mobil tersebut mulai tertutup kembali, dan mobilnya pun mulai berjalan menjauh.
"Sombong banget jadi orang!" Gumam Lina.
"Udah Lin, biarin aja. Mendingan kita pulang" Ajak Dinda. Lina mengangguk.
Ke empatnya langsung berjalan menuju pesantren. Sesampainya di sana, mereka langsung mengganti seragam dengan baju secara bergantian. Setelah itu, mereka pergi ke dapur untuk membantu acara persiapan shalawat yang rencananya akan di gelar malam Ahad.
Tidak hanya mereka, para santriwan dan santriwati lain pun ikut membantu. Tugas mereka pun berbeda beda. Dari membantu membuat Snack yang akan dibagikan oleh para tamu, hingga mengatur berjalannya shalawatan.
Pekerjaan terhenti saat adzan ashar mulai menggema merdu. Semua santri bergegas menuju mushola pesantren dan mulai melaksanakan sholat ashar berjamaah. Setelah selesai, mereka mengantri untuk mandi. Sedangkan orang yang sudah selesai mandi, kembali membantu semua persiapannya.
...*******...
__ADS_1