Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Merekatkan Hubungan


__ADS_3

Malam yang sama dengan kemarin. Hembusan angin dingin mengayun pelan, menyapa kulit yang sedang berdiri melamun. Hijab belakangnya ikut mengayun bergoyang di terpa angin. Suhu dingin mulai merambat di sepanjang tubuhnya. Ia menatap bulan purnama yang sinarnya indah tiada dua. Hal yang membuatnya ingin menceritakan segala keinginan pada ciptaan Tuhan yang kini jauh berjuta kilometer dari dirinya berdiri saat ini.


Malam begitu terasa sangat sunyi, mungkin hanya dirinya yang berdiri di luar saat ini. Sunyi nya malam membuatnya terdiam. Menatap pepohonan, langit, bulan, bintang, rumput, dan makhluk lainnya. Pasti sekarang mereka masih sibuk untuk berdzikir kepada penciptanya. Begitupun dengan dirinya, sedari tadi ia hanya termenung namun dengan mulutnya yang tak henti mengucapkan tasbih.


Dinda mendongakkan kepalanya menatap indahnya langit malam ini. Di antara itu ia melihat bintang yang paling besar dan paling bercahaya. Membayangkan bagaimanakah kehidupan di angkasa sana? Membayangkan bagaimanakah kehidupan di surga sana? Memang, sedang apa para bidadari surga saat ini? Apakah kedua orang tua kandungnya saat ini juga sedang baik baik saja?


"Ya Allah, andai saja Engkau mengizinkan. Pertemukan lah hamba dengan mereka..."


Saat malam sedang sunyi sunyinya. Terdengar lantunan ayat suci Al Quran yang mengalun. Dinda langsung menatap kubah masjid yang terlihat dari luar kamarnya. Siapa yang mengaji pada jam seperti ini? Biasanya juga tidak ada. Dinda membalikkan badan dan masuk ke kamar. Ia mengambil mukena yang sudah di persiapkan sebelumnya. Dirinya langsung bergegas menuju masjid pesantren, mengambil wudhu, mengenakan mukena dan melaksanakan sholat tahajud. Sedangkan bacaan itu terus mengalun merdu.


Setelah enam rakaat telah Dinda laksanakan. Kini tasbih yang ia ambil dan mulutnya kembali mengucapkan dzikir. Bertepatan selesai dzikir, pembacaan ayat suci Al Quran berpindah surah menjadi Ar Rahman. Dinda sempat mengintip sekilas ke arah depan. Melihat lelaki yang sedang duduk bersila membelakanginya. Namun ia langsung kembali duduk di tempat semula. Mengangkat kedua tangannya, mulai meramalkan doa doa nya. Doa untuk kebaikan semuanya, doa agar di beri kemudahan dan di ampuni dosanya, doa agar selalu dalam Ridho dan Rahmat Allah di setiap langkahnya. Saat di akhir doa, Dinda teringat akan seseorang. Ia kembali melanjutkan doanya, mendoakan seseorang itu, begitupun dengan dirinya. Bacaan Surah Ar Rahman yang terus mengalun beradu dengan doanya. Terkumpul dalam satu tempat yang suci. Udara dingin dan hembusan angin yang semakin kencang. Dinda rasakan itu di balik mukenanya. Entah apa yang sedang terjadi di langit sana. Gemericik air mulai terdengar di telinganya. Samar, pelan hingga benar benar turun dengan derasnya. Setelah sekian lama ini, akhirnya hujan kembali turun. Dinda menutup doanya.


"Allahhumma shoyyiban naafi'aan" Gumam Dinda pelan.


اللَّهُمَّصَيِّباًنَافِعاً


Artinya : Ya Allah, turunkan lah pada kami hujan yang bermanfaat.


••••••


Lina bersidekap. Berdiri terdiam menatap jalanan yang terlihat dari atas loteng pesantren. Lina menunduk menggelengkan kepalanya dengan matanya yang terpejam erat. Duh Lin, Lo kenapa sih sebenarnya? kalau emang Sasa suka sama Iqbal ya udah. Ga usah Lo pikiran kayak gini!! Batinnya.


Lina menoleh ke samping saat percikan air mengenai wajah dan tubuhnya. "Mikirin beban hidup ya Lin?" Tanya Syifa yang sedang menjemur baju. "Emang seberapa besar sih beban hidup Lo? gue lihatin kok pusing banget mikirnya"


Lina mengambil sisa baju yang masih ada di ember, lalu menjemurnya satu persatu. "Fa..." Panggil Lina.


"Iya?"


"Menurut Lo, gue ada yang berubah ga?"


Syifa menghentikan pekerjaannya. Ia memegang kedua bahu Lina dan mengarahkan ke arahnya hingga mereka saling berhadapan. Syifa memicingkan matanya. Mengamati Lina dengan seksama. "Mata masih dua. Hidung satu, lubangnya juga masih ada. Bibir Lo tetep, ga ada yang berubah. Alis warnanya masih hitam ga berubah jadi putih. Bola mata Lo, Alhamdulillah warnanya masih cokelat. Ga berubah jadi biru." Gumam Syifa. Dia mengambil tangan Lina. "Tangan Lo masih sehat kok. Jarinya juga masih ada sepuluh, masih ada kukunya malah. Nih kaki Lo juga ga berubah bentuk dan jumlahnya. Masih dua. Jadi aman kok. Ga ada yang berubah"


Lina berdecih kecil. "Bukan itu maksud gue!!"


"Terus apa dong?"


"Maksutnya sikap gue ada yang berubah ga?"


"Ga. Masih galak kayak dulu"


Lina menghembuskan nafas kasar. "Oke" Balasnya jutek dengan mengangkat ember dan membawanya turun dari loteng.


Syifa menatap Lina. "Emang gue salah ya? Nggak kan? Terus kenapa jutek gitu mukanya Lina?" Tanya nya entah kepada siapa.


Syifa menjemur baju terakhirnya. Setelah semuanya selesai, ia membalikkan badan dan berjalan turun, berpapasan dengan Aisyah dan Dinda yang berjalan naik ke atas.


"Aisyah Dinda" Sapa Syifa dengan tersenyum manis.


"Syifa" Balas Aisyah. Mereka bertiga saling melempar senyum sekilas lalu berjalan ke arah yang berbeda.


Aisyah dan Dinda berjalan mencari tempat yang masih kosong untuk menjemur baju baju mereka. Cuaca hari ini tidak sepanas kemarin kemarin. Mungkin karena tadi subuh sempat hujan. Bisa di bilang cuaca hari ini pas. Tidak panas tidak juga mendung apalagi hujan, tidak gerah, tidak juga dingin. "Din, kayaknya tadi pas sebelum subuh ada yang ngaji ya?" Tanya Aisyah.


"Iya"


"Siapa. Kok tumben ada orang ngaji. Biasanya ga ada"


"Ga tau siapa Syah. Tapi kata Abah mulai sekarang sekitar dua puluh atau lima belas menit sebelum shubuh harus ada yang ngaji. Biar suasananya lebih hidup. Kalau denger orang ngaji kan juga jadi lebih tenang kan Syah" Jelas Dinda.


Aisyah mengangguk. "Iya..."


Aisyah terdiam lama menatap Dinda. "Em Din"


"Iya?"


"Kalau seumpamanya lagi ada kesalahpahaman antara kamu sama seseorang yang bikin orang itu marah, tapi kamu ga tau sumber permasalahan nya karena apa. Apa yang bakal kamu lakuin?" Tanya Aisyah. Mungkin meminta pendapat Dinda adalah hal yang tepat.


"Pastinya bakal minta maaf. Walaupun emang kita ga salah, tapi minta maaf itu dapat mempengaruhi baik buruknya hubungan. Yang penting jangan biarkan hubungan persaudaraan itu retak gimanapun caranya. Ukhuwah Islamiyyah harus tetap di jaga"


Aisyah manggut manggut. "Emm ukhuwah Islamiyyah... oke kalau gitu. Makasih sarannya ya Din"


"Iya sama-sama"


Ukhuwah Islamiyyah harus tetap di jaga. Itu artinya.... Aisyah terdiam. Membiarkan pikirannya untuk berpikir. Itu artinya aku harus perbaiki dulu hubungan aku sama kak Fariz. Kalau udah membaik, mungkin aku baru tanya masalahnya apa dan jelasin yang sebenarnya. Iya mungkin gitu. Sambung batinnya.


••••••


Aisyah melihat kantong plastik yang berisi nasi bungkus di dalamnya. Mungkin hanya ini yang bisa ia berikan, karena uang jajannya juga ia batasi tidak sebanyak murid lainnya. Memang tidak seberapa tapi mungkin ini bisa kembali merekatkan hubungan mereka secara perlahan. Karena tidak ada jadwal sarapan pagi di pesantren, jadi mungkin ini bisa mengganjal rasa lapar Fariz.


Aisyah melangkah pergi ke warung bi Yuni, karena memang Fariz sering nongkrong di sana bersama teman temannya saat istirahat tiba. "Assalamualaikum" Ujar Aisyah dengan berdiri di samping mereka yang tengah terduduk di kursi kantin.


"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga. Fariz, Iqbal dan Ilham.


Iqbal langsung mengulum senyum. "Eh Syah. Ada apa ke sini? Tumben"


"Eemm..." Aisyah melirik Fariz yang tengah makan tanpa mempedulikan kedatangannya. "Kak,, Aisyah bawain nasi" Ujarnya dengan menyodorkan ragu nasi bungkusnya ke Fariz.


Fariz terdiam menatap apa yang di sodorkan Aisyah. Ia mengambilnya membuat gadis itu tersenyum. Namun hanya bertahan sekejap. Fariz malah memberikan nasi itu kepada Iqbal.


"Makan bal" Suruhnya.


"Kok gue? Orang Lo yang di kasih" Balas Iqbal kesal karena Fariz sama sekali tidak menghargai pemberian dari Aisyah, dan itu di lakukannya tepat di hadapan gadis itu.


"Lo ga mau?" Tanya Fariz dingin. "Ya udah" Ujarnya dengan berdiri membalikkan badan.


"Jit...!!" Panggilnya.


Orang yang merasa namanya di panggil langsung berjalan mendekat. "Apa?"


"Ambil!!"


Ojit langsung tersenyum senang. "Wih beneran buat gue nih Riz?"


Fariz bergumam dengan mengangguk. "Wuih Baek banget Lo. Makasih ya"


"Iya"


"Gue pergi dulu"


"Hm"


Ojit langsung berjalan pergi dengan hatinya yang teramat senang mendapat nasi bungkus gratis hari ini.

__ADS_1


Fariz kembali duduk di tempatnya. Menyeruput kuah mie hangat melalui sendoknya. Sedangkan Aisyah menatap Fariz bingung dan sedih. Bingung karena perubahan sikapnya dan sedih karena dia tidak mau menerima nasi pemberiannya. Fariz mendongakkan kepalanya, menatap Aisyah yang masih berdiri.


"Lo masih ada urusan sama gue?"


Aisyah menggeleng.


"Ya udah pergi" Usirnya.


"Iya...iya kak" Jawab Aisyah pelan. "Aisyah pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab mereka bertiga.


Setelah Aisyah benar benar pergi menjauh Iqbal langsung mencubit keras lengan Fariz. "Hhss apa sih bal?" Tanya Fariz kesal.


"Lo kenapa sih? Hargain dikit kek. Malah di kasih ke orang. Bener bener Lo Riz" Omel Iqbal.


"Lo tadi gue tawarin ga mau. Ya udah gue kasih ke Ojit. Salah?"


"Ya jelas salah. Harusnya Lo makan dikiiit kek, biar Aisyah merasa di hargai gitu"


"Lo ga lihat gue udah makan. Udah habis, udah kenyang. Masih mending gue kasih ke Ojit dari pada gue buang." Jawab Fariz.


Iqbal menggelengkan kepalanya. "Untung temen..." Gerutu Iqbal pelan.


"Riz, ga ada ruginya Lo ngehargai orang" Timpal Ilham.


"BENER TUH!!" Sahut Iqbal lantang.


"Lo tahu sakitnya gimana ga di hargain itu?" Tanya Ilham.


"Tau ham. Gue tahu banget. Rasanya itu aduhai sakiiit banget. Nyesek!!" Ujar Iqbal menyahuti.


"Kalau ga di tanya itu diem aja bal. Ada waktunya untuk gue tanya ke Lo. Sekarang gue tanya nya ke Fariz, jadi biar dia yang jawab." Ucap Ilham.


"Heemh, iya deh gue terus yang salah" Gumam Iqbal pelan.


•••••


Aisyah duduk bergabung dengan Syifa dan Lina. "Assalamualaikum" Salamnya.


"Waalaikum salam" Jawab keduanya.


"Dari mana sih Syah?" Tanya Syifa.


"Kantinnya bi Yuni"


"Mau apa di sana?"


Aisyah menggeleng. "Bukan apa apa"


"Dinda mana? Kok ga ada di sini" Tanya Aisyah.


"Dinda ada di kelasnya. Katanya lagi ga mau ke kantin, kan dia lagi puasa hari ini" Jawab Lina.


Aisyah manggut manggut. Sudah tau puasa apa yang di lakukan gadis itu. Harusnya hari ini dirinya juga mau puasa, tapi berhalangan oleh tamu merah yang datang. "Sasa? Juga ga kesini?"


"Nggak lihat tuh gue dari tadi"


"Iya gue juga sama." Timpal Syifa. "Oi ya, kapan nih bayar camping?"


"Syah, ga pesen makanan?" Tanya Lina.


Aisyah menggeleng.


"Emang Lo ga laper dari tadi pagi belum makan" Sahut Syifa.


"Belum, nanti aja pas istirahat kedua" Jawabnya. Aisyah mengeluarkan secarik kertas di saku seragamnya. Di atasnya tertulis beberapa rumus. Dari pada dirinya hanya terdiam melamun ataupun terdiam melihat kedua temannya makan, lebih baik mempelajari rumus rumus ini. Itu akan lebih bermanfaat bukan?


"AISYAH...!!"


Ketiganya sontak langsung menoleh kaget. "Assalamualaikum" Ujar Sasa.


"Waalaikum salam"


Dengan senyuman yang tak bisa di sembunyikan, Sasa langsung duduk di samping Aisyah dan memeluk erat gadis itu. Hal yang menjadi pusat perhatian Lina dan Syifa.


Aisyah memegang dan mengelus lembut lengan Sasa yang tengah memeluknya dari samping. Sasa melepaskan pelukannya. "Ada kabar baik apa sa? Kok bahagia banget"


"Lo tau ga Syah, tadi itu Carin udah mulai mau bicara sama gue" Cerita Sasa.


"Oi ya?"


Sasa mengangguk.


"Ya Allah Syah,, gue bener bener seneng banget. Tadi itu kita udah mulai cerita cerita. Walaupun Rara masih malu buat Deket dan ngomong sama gue. Tapi setidaknya udah ada perubahan di Carin" Lanjut Sasa. "Tadi itu Carin nanyain kabar gue, keadaan gue sekarang. Gue digituin aja udah seneng banget. Akhirnya, gue bisa ngobrol sama mereka Syah. Semoga setelah ini persahabatan gue jadi balik lagi kayak dulu"


"Aamiin. Semoga aja ya..." Balas Aisyah yang turut senang atas kebahagiaan yang di pancarkan Sasa.


"Syah..."


"Hm"


"Nanti Lo juga harus jadi sahabat gue ya"


Muka Syifa dan Lina seketika langsung berubah. "Pokoknya Rara dan Carin harus tau kalau Lo itu orangnya baik. Mereka juga pasti bakal betah sahabatan sama orang sebaik Lo. Ya..?!"


"Soalnya gue juga tadi udah cerita tentang Lo..." Lanjutnya lagi.


"Cerita tentang aku?"


"He'em"


"Apa aja?" Tanya Aisyah lagi.


Sasa mulai menceritakan semuanya. Saking begitu bahagianya, dia sampai lupa akan keberadaan Syifa dan Lina yang masih ada di sana. Duduk satu meja bersama mereka. "Lin..." Panggil Syifa.


"Hm?"


"Gue takut"


"Kenapa?" Tanya Lina.

__ADS_1


"Kalau aisyah beneran jadi sahabatnya Sasa dan ninggalin kita gimana?"


Sontak Lina langsung mencubit tangan Syifa. "Awww...Apa sih?"


"Jangan ngomong gitu. Aisyah itu tetep sahabat kita. Sampai kapan pun" Balas Lina dengan menekan kata katanya.


"Lihat aja itu,, mereka Deket banget Lin..." Syifa melirik mereka berdua yang tengah asik mengobrol. Dengan Sasa yang kadang tertawa dan Aisyah yang membalas senyuman sebagai responnya.


•••••


Keesokan harinya....


Fariz melihat kembali sebungkus nasi saat ia datang ke mejanya. Ia mengalihkan pandangannya menatap Ilham yang lebih dulu datang. "Ham, dari siapa ini?"


Ilham menoleh. "Aisyah"


Fariz menghela pelan dengan mengambil dan menyingkirkan nasi tersebut ke meja Iqbal. Baru setelah itu, dirinya duduk di kursi. "Ga Lo makan?" Tanya Ilham.


"Ga laper" Cetus Fariz.


"Simpen aja lah. Nanti kan bisa Lo makan waktu istirahat"


"Gue bisa beli sendiri"


Ilham hanya bisa geleng geleng kepala mendengar jawaban ketus dari Fariz. "Riz, harusnya Lo itu bersyukur masih ada yang peduli sama lo sampe di bawain nasi pas pagi kayak gini"


••••••


Jam Istirahat, semua orang keluar kelas untuk menyibukkan dirinya entah dengan bermain, mengobrol ataupun makan. Begitu pula dengan kelas XII MIPA 2. Hanya beberapa orang yang tersisa di dalamnya.


"Kak..."


Reyhan mendongakkan kepala. "Assalamualaikum" Ujar Aisyah.


"Waalaikum salam" Jawab reyhan dengan muka datarnya.


"Kak, ini udah selesai ngerjain" Aisyah menyodorkan dua lembar kertas latihan soal yang di jadikan satu.


Reyhan mengambil dan tampak menelitinya. Sontak, mereka menjadi pusat perhatian wanita wanita yang ada di kelas tersebut. Pasti ada yang iri karena Aisyah bisa dekat dengan Reyhan, atau malah ada yang berprasangka tidak tidak tentang dirinya. Reyhan langsung memberikan penjelasan pada soal soal yang salah. Wajar kalau salah. Bahkan menurut Reyhan Aisyah bisa di bilang hebat. Dia masih kelas sepuluh, dan mengerjakan latihan olimpiade kelas sebelas. Dimana soal olimpiade pastinya lebih sulit dari soal soal pelajaran biasa. Dan yang hebatnya lagi, dia mengerjakan dan mempelajari semuanya hanya dalam waktu satu Minggu.


Sedangkan dari sisi lain, Syifa yang mendapati informasi bahwa Reyhan ada di kelas langsung berjalan dengan semangat ke tempat yang di tuju. Saat sudah di depan pintu, Syifa menghentikan langkahnya. Melihat Aisyah dan Reyhan yang sedang berdua entah melakukan apa. Terlihat Aisyah sedikit mencondongkan badannya, melihat serius kertas yang ada di tengah tengah mereka. Sedangkan Reyhan menjelaskan dengan tangannya yang sibuk mencoretkan tinta ke atas kertasnya.


Syifa terus mengamati mereka. Hingga matanya menangkap Reyhan tengah menatap lama tepat di manik mata Aisyah. Sedangkan gadis yang di tatap, sepertinya tidak menyadari hal itu. Mungkin karena dirinya sedang serius. Bahkan Reyhan tidak pernah menatapnya seperti itu. Dan itu menyisakan cemburu di dalam dirinya.


Aisyah menganggukkan kepalanya setelah dirinya benar benar paham. "Terima kasih ya kak"


"Iya" Jawab Reyhan singkat. "Kalau mau lagi langsung bilang aja ke gue"


"Iya. Ya udah Aisyah pamit kak." Ujarnya dengan mengambil kembali kertas tersebut. "Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Aisyah langsung berjalan menuju pintu. Awalnya dia tidak menyadari kalau ada Syifa di sana karena matanya masih tertuju pada lembaran soal tersebut. Namun saat dirinya benar benar dekat dari pintu, maka hanya tatapan Syifa yang melihatnya.


"Syifa..." Panggil Aisyah tapi gadis itu malah beranjak pergi. Jangan jangan syifa malah berpikiran yang tidak tidak tentang dirinya dan reyhan. Cepat cepat Aisyah langsung berjalan menyusul Syifa.


"Fa..." Panggil Aisyah saat langkah mereka sudah sejajar.


Syifa hanya bergumam. Tak menanggapi apapun. "Fa,, kamu tadi ke kelas 12 mau ketemu siapa?"


"Kak Reyhan"


"Kok ga jadi?"


"Nggak! Takut ganggu Lo sama kak Reyhan" Ketusnya.


"Fa.....kamu marah ya??"


"Nggak"


"Fa,, tadi aku ga ngapa-ngapain kok. Jadi jangan marah gitu ya..." Bujuk Aisyah.


"Gue ga marah. Cuma cemburu doang. Masa iya gue harus seneng lihat cowok yang gue suka Deket sama cewek lain"


Aisyah langsung menghela pelan. Rasa bersalah mulai merasuki dirinya. "Maaf ya fa. Ga ada maksud buat bikin kamu cemburu kayak gitu" Balas Aisyah ingin meminta pengertian dari sahabatnya.


Syifa menghentikan langkahnya. Membalikkan badan 90° menatap Aisyah. "Gue emang cemburu. Tapi gue lebih cemburu kalau sahabat gue lebih Deket sama orang lain. Asik ketawa, ngobrol, cerita bareng orang lain" Tutur Syifa jujur.


"Kamu pernah cemburu sama aku?" Tanya Aisyah yang langsung menangkap apa yang di bicarakan Syifa.


Syifa mengangguk dengan kembali meneruskan langkahnya. Di ikuti dengan Aisyah. "Kapan?" Tanya Aisyah.


"Baru aja kemarin"


"Kemarin?" Gumam Aisyah pelan dengan berpikir. "Cemburunya karena apa?"


"Ya karena Lo lebih Deket sama orang lain"


"Emm..."


"Tadi ngapain ketemu kak Reyhan?" Tanya Syifa.


"Ini,,, aku kan pernah minta soal olimpiade. Terus kata kak Reyhan kalau udah selesai ngerjain, di suruh langsung temuin dia. Ternyata mau di cek jawabannya. Ini tadi cuma di kasih tau cara pengerjaan yang bener dan lebih cepet" Jelas Aisyah.


"Oh pantesan tadi malam kamu fokus ngerjain soal sampe larut malam. Padahal ga ada tugas" Ucap Syifa.


"Iya"


Syifa terdiam lama. Tunggu tunggu,,,, wah gue bisa juga itu jadiin cara buat Deket sama kak Reyhan. Batin Syifa. Dirinya langsung tersenyum lebar.


"Wah makasih ya idenya Syah"


Aisyah mengernyitkan dahinya. "Ide? Ide apa?"


"Ide ya ide. Pokoknya makasih ya"


"Tapi aku tadi kan sama sekali ga ngasih ide buat kamu" Balas Aisyah bingung.


"Udah pokoknya tinggal bilang iya gitu..."


"Oh" Aisyah termangu sebentar. Dia menganggukkan kepalanya pelan. "I-iiya"

__ADS_1


"Nah gitu..." Ujar Syifa senang.


...*******...


__ADS_2