Cinta Anak Pesantren

Cinta Anak Pesantren
Gadis Itu


__ADS_3

Syifa dan Aisyah berjalan beriringan menuju kantin. "Kak Reyhan.." Gumam Syifa. "Eh Syah"


"Hm?


"Lo ke kantin duluan ya, gue nanti nyusul. Soalnya gue mau tanya sesuatu dulu sama kak Reyhan" Ujar Syifa.


"Lama?"


"Nggak kok. Yah ga papa ya,, Lo duluan aja"


Aisyah mengangguk.


"Ya udah gue samperin kak Reyhan dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam. Jangan lama lama" Kata Aisyah.


"Iya tenang aja"


Syifa pun langsung berjalan cepat menemui Reyhan yang tengah berjalan menuju kelasnya. "Kak reyhaaaan! " Sapa Syifa dengan semangatnya.


Reyhan menghembuskan nafas kasar. Ah, kapan gadis ini akan berhenti mengejarnya. "Kak Reyhan,, kakak belum jawab pertanyaan aku yang kemarin" Ujar Syifa.


"Pertanyaan apa?"


"Yang tentang ulang tahun. Jadi gimana dong,, kak Reyhan ulang tahunnya kapan?" Tanya Syifa. "Kak jawab dong, jangan diem aja. Aku kan pengen tahu!!"


"Kak..."


"Lo bisa ga, sekali aja ga ganggu gue?" Ketus Reyhan.


"Ga bisa" Jawab Syifa. "Kak, aku itu iri tau sama Mimi. Dia itu selalu di perhatiin sama pacarnya, di kasih bunga, di kasih makanan, di manja." Curhat Syifa. "Kakak itu ganteng, tapi sayang banget deh cuek."


"Oi ya jadi gimana? kakak udah suka sama aku belum? Jadi kapan bisa suka sama aku, kapan kakak nembak aku"


Reyhan tetap berjalan santai memasuki kelas. Tak menggubris omongan Syifa. "Kak, aku ga minta banyak. Aku cuma minta kakak suka sama aku. Udah itu doang. Aku juga ga maksa maksa kakak buat pacaran sama aku. Kan emang pacaran ga boleh. Boleh sih,, tapi kalau udah nikah. Kalau nikah kan udah halal jadi ga papa kalau pacaran"


Reyhan menghentikan langkahnya. Menatap Syifa dengan tatapan kesal. "Lo..."


"Lo bisa diem ga?!" Ujar Syifa memotong kalimat Reyhan dengan suara yang diberatkan seperti suara laki laki. "Iya kan? Pasti tadi kakak mau bilang itu"


Reyhan mengusap wajahnya kasar. Lalu ia melangkah menuju mejanya. "Jadi gimana tentang ulang tahun tadi kak?" Tanya Syifa.


"Lo pengen tahu ulang tahunnya Reyhan?" Tanya Iqbal. Syifa mengangguk.


"Dia ulang tahunnya tanggal 11 Desember. Iya kan Han?"


"Bukan, tapi tanggal 13" Timpal Ilham.


"Sebelas!" Ujar Iqbal.


"Tiga belas!"


"Jadi yang mana dong yang bener, 11 apa 13?" Tanya Syifa bingung.


"Tanya aja sama Reyhannya langsung" Saran Ilham.


"Kak, jadi yang man dong yang bener?" Tanya Syifa pada Reyhan. Reyhan menghela berat, kalaupun hari ini dia tidak memberitahu tanggal ultahnya, percayalah, pasti besok besok hidupnya akan semakin terganggu oleh gadis itu.


"Udah kasih tau ajalah Han" Ucap Iqbal.


"13" Jawab Reyhan.


"Tuh kan 13" Kata Ilham.


"Itu cuma kebetulan doang Lo bener"


"Oke. 13 Desember" Gumam Syifa. "Ya udah kak, aku ke kantin dulu ya. Soalnya Aisyah udah nungguin"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab ketiganya.


Syifa segera berjalan cepat menuju kantin. Dirinya langsung duduk di samping Aisyah. Lalu menatap sosok laki laki di hadapan mereka. "Dia siapa Syah?" Tanya Syifa.


Aisyah tersenyum. "Kak Devan"


"Oh, hai kak. Nama aku Syifa" Kata Syifa memperkenalkan diri.


"Gue Devan"


"Kakak temen satu kelas kak Reyhan?"


"Bukan" Jawab Devan.


"Kalian udah lama kenal?"


"Lumayan fa" Jawab Aisyah.


"Terus kak Devan udah lama ada di sini?"


"Belum. Tadi gue pas kesini tanpa sengaja lihat Aisyah sendirian, ya udah gue samperin aja" Jawab Devan.


"Oo gitu. Oh ya ngomong ngomong kakak ganteng juga ya." Kata Syifa. "Tapi masih gantengan kak Reyhan" Lanjutnya.


"Iyalah, Reyhan kan punya darah Amerika" Jawab Devan.


"Hah? amerika? Bukannya Malaysia.." Tanya Syifa memastikan. Devan mengangguk. "Tapi ibunya kak Reyhan itu dari Malaysia terus kalau bapaknya dari Indonesia" Ujar Syifa.


"Jadi kakeknya Reyhan itu asal Amerika, neneknya asal Malaysia. Dan ibunya Reyhan itu kayak blasteran. Cantik banget. Dia tinggal di Malaysia sampai dia dewasa. Pas dia udah nikah, ibunya Reyhan tinggal di Indonesia lebih tepatnya di Jakarta." Jelas Devan.


Syifa menggut manggut. "Pantes, ibunya cantik banget" Gumam Syifa. "Eh tapi kak Devan kok tahu semuanya?"


"Ini minumannya" Ujar mbak Windi yang baru saja datang.


"Makasih ya mbak, ini uangnya" Kata devan dengan menyodorkan selembar uang biru. "Kembaliannya ambil aja"


"Makasih" Ujar mbak Windi.


"Iya sama sama"


"Oh ya Syifa, Aisyah. Gue ke kelas dulu" Ujar Devan.


"Nggak diminum di sini aja kak?" Tanya Syifa.


"Nggak. Gue duluan ya"


"Iya"

__ADS_1


Devan berdiri, lalu melangkah pergi. "Kak.." Panggil Syifa.


Devan membalikkan badannya. "Iya, kenapa?"


"Kan kak Devan belum ngucap salam"


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah dan Syifa. Devan kembali melanjutkan langkahnya. "Kak Devan asik juga ya orangnya kalau di ajak ngobrol" Kata Syifa yang diberi anggukan kecil oleh Aisyah.


Syifa mengedarkan pandangannya. "Syah Syah..." Syifa menepuk lengan Aisyah beberapa kali. "Lihat tu,, kak Fariz sama cewek munafik itu!" Ujar Syifa dengan menunjuk ke arah mereka berdua. Aisyah mengikuti arah jari telunjuk Syifa. "Ngapain ya?"


"Syah, samperin sana. Masa Lo diem aja liat kak Fariz berduaan sama cewek munafik itu"


"Fa, ga boleh gitu"


"Ga boleh gitu apa?"


"Itu yang munafik"


"Oo,, ya emang dia munafik" Ketus Syifa. "Syah,, cepetan samperin. Jangan biarin kak Fariz di rebut sama cewek itu. Kalau gue jadi Lo nih, udah gue ajak gelud tu cewek" Lanjut Syifa.


Aisyah menghela pelan, melihat mereka berdua yang tengah asik mengobrol. Kak Fariz emang kelihatan serasi banget sama mbak Ghea. Batin Aisyah.


•••••


Pukul setengah tiga dini hari, kondisi saat itu lengang dan sunyi. Hanya pesantren Al Hidayah yang mulai berdenyut ramai. Sebagian santri telah bangun, ada yang lirih mengaji ada juga yang tengah sujud pada Illahi. Pukul setengah empat, para pengurus pesantren membangunkan seluruh santri untuk bersiap sholat shubuh. Usai dzikir shalat shubuh, para santri langsung ikut mengaji.


"Aisyah,, sini.." Panggil Bu nyai. Aisyah yang kala itu sedang membaca Alquran langsung mendongakkan kepalanya, lalu mengangguk kecil.


"Ada apa Bu nyai?" Tanya Aisyah sopan.


"Kamu kan sudah dapat 25 juz, jadi mulai hari ini kamu muroja'ah dari juz 1 ya. Biar di simak sama Dinda" Kata Bu nyai. "Kamu nanti murajaahnya di sini ya. Terserah kamu kapan, sehabis sekolah, sehabis isya' atau sehabis shubuh, tergantung waktu luang kamu. Sekali murajaah, nanti baca 3 juz"


"Iya"


"Ya sudah silahkan kembali" Ujar Bu nyai. Aisyah langsung kembali ke tempat duduknya. "Kenapa?" Tanya Dinda.


"Di suruh murajaah, di simak sama kamu" Jawab Aisyah. Dinda mengangguk.


•••••


Pagi itu, saat waktu istirahat pertama tiba. Para siswi berteriak histeris melihat Reyhan yang dengan lihainya menggiring bola dengan menghindari lawan. Lagi dan lagi, Reyhan berhasil mencetak angka untuk tim nya. Cowok itu, memang sangat ahli dalam bidang basket. Membuat para siswi untuk persekian kali bertepuk tangan keras untuk Reyhan. Lelaki yang menggunakan kaus hitam di atas lengan dengan jarsey basket berwarna merah nomor punggung 7 tersebut menenangkan nafasnya yang tidak beraturan. Keringatnya mengucur dari kening hingga lehernya.


"KAK REYHAAAAN" Reyhan yang kala itu sedang meneguk sebotol air minum pun langsung menoleh. Ia sama sekali tak paham, mengapa gadis itu selalu mengganggunya. Dimana mana, hanya suara lengkingan gadis itulah yang sering ia dengar.


"Lah,, udah minum ya, padahal aku bawain kakak minum loh" Ujar Syifa.


Seketika semua siswi langsung berkerumun mendatangi Reyhan dengan masing-masing menyodorkan air mineral. Berteriak tak jelas agar Reyhan menerima air minum yang mereka bawakan. Tanpa pikir panjang, Reyhan langsung mengambil air mineral yang ada ditangan syifa lalu meminumnya hingga habis. Seketika para siswi pun langsung terdiam, pupus sudah harapan mereka. Ya,, padahal kalau salah satu di antara mereka ada yang minumannya di terima, pasti akan menjadi kesempatan besar agar mereka bisa lebih dekat dengan reyhan.


"Kalian mendingan pergi!" Ujar Reyhan dingin. Tak ada yang berani membantah, seketika semua siswi bubar dengan sorot kecewanya.


Reyhan menatap Syifa. "Lo ga pergi?"


"Nggak, yang kakak suruh pergi kan mereka, bukan aku." Jawab Syifa enteng.


Reyhan mendudukkan dirinya di kursi. "Kak Reyhan, perut kakak ga kembung ya? Tadi habis minum sebotol air, terus minum lagi satu botol dari aku sampe habis. Apa ga kembung tu perut kak?" Tanya Syifa. "Eh, tapi makasih Loh kak udah mau minum air dari aku" Ujar Syifa dengan tersenyum.


"Hm...Lain kali ga usah bawa minuman lagi, gue udah bawa sendiri."


Syifa menatap Reyhan yang tengah mengelap wajahnya menggunakan handuk kecil. "Jangan natap kayak gitu!" Ketus Reyhan.


"Kenapa?"


"Zina" Ujar Reyhan singkat. Seketika Syifa langsung menundukkan kepalanya.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


"Kaki kak Reyhan kok berbulu?" Tanya Syifa polos yang tatapannya tak sengaja tertuju pada kaki Reyhan. Reyhan yang mendengar pertanyaan konyol itu menghembuskan nafas kasar. Reyhan berdiri, lalu pergi begitu saja.


"Loh kak, kak Reyhan mau kemana? Kak..." Teriak Syifa. "Kebiasaan deh kalau lagi ngomong selalu di tinggal" Gumam Syifa kesal.


••••••


Syifa, Aisyah, Dinda dan Lina berjalan bersama melewati halaman sekolah. Hendak kembali pulang ke pesantren, karena pembelajaran hari ini sudah selesai. Dari arah berlawanan terdapat tiga laki laki yang berjalan ke arah mereka. Tepat dihadapan mereka, lelaki bertiga itu berhenti. Yang pasti ketiganya tidak asing bagi Aisyah.


"Naufan..." Gumam Aisyah.


"Lo,,, Lo cewek yang sok mau jadi pahlawan itu kan?" Tanya naufan.


"Iya" Jawab Aisyah.


Naufan tersenyum miring. "Besar juga nyali Lo buat berurusan sama kita" Ujarnya.


Naufan melangkahkan kakinya dengan tampang menyeramkan. Ia mencengkram erat lengan Aisyah. Lina yang melihat hal itu langsung memukul keras lengan naufan. "Kalau Lo naksir sama temen gue, ga usah pegang pegang!!" Ketus Lina.


Naufan menatap kesal Lina. "Urusin cewek ini!" Perintahnya pada kedua temannya. Lantas kedua cowok itu langsung memegang kedua tangan Lina. "Weh Weh,, mau macem macem Lo sama gue!!" Ujar Lina sedikit berteriak.


"Heh heh Mau kalian apain temen gue ha?!!" Tanya Syifa antara kesal, tak terima dan takut.


"Lo diem!!" Bentak naufan pada Syifa.


Naufan kembali menatap Aisyah. Karena semua murid hampir semuanya sudah pulang, jadi saat itu suasananya agak sepi. Dengan lancangnya, naufan memegang pipi Aisyah lembut membuat gadis itu langsung menampar keras pipi lelaki di hadapannya. Naufan mengeratkan gigi gerahamnya. "Kurang ajar Lo!!" Bentaknya. Ia langsung mendorong keras Aisyah hingga tersungkur di tanah.


"Manusia iblis Lo!!" Ujar Syifa marah. Dengan sekuat tenaga, ia menendang keras kaki naufan. "Berengsek Lo semua jadi cewek!" Ujar naufan.


"Lo yang berengsek! Berani beraninya sama cewek!" Tegas Lina. Dinda segera membantu Aisyah untuk berdiri.


Lina menginjak keras kaki kedua lelaki yang ada di samping kanan kirinya, membuat cengkeraman mereka terlepas dari tangan Lina. Secara refleks Lina langsung menonjok keras wajah cowok yang berada di samping kirinya. Entahlah, sejak kapan ia bisa menonjok wajah seseorang seperti itu. Lina menatap tangannya. "Waw, mendadak banget ya gue punya kekuatan kayak gini" Gumamnya.


Dengan cepat, Lina membuka tasnya lalu mengeluarkan botol minum. Membukanya, dan menumpahkan nya pada wajah cowok di samping kanannya. "Dasar Lo semua!!" Umpat Lina.


Tadi Aisyah, sekarang giliran Syifa yang di dorong oleh naufan. Laki laki itu, memang tak punya hati. Naufan berjongkok, mendekatkan tubuhnya pada Syifa. "Cantik juga Lo" Gumamnya.


"Gue emang cantik" Jawab syifa. "Kenapa Lo? Terpesona?" Ujar Syifa lagi membuat naufan tertawa remeh.


"Kalau gitu, gue boleh dong nyentuh Lo..." Kata naufan. Syifa tersenyum miring. "Boleh dong,, kenapa nggak?!" Jawab Syifa lembut.


Belum sampai naufan menyentuh Syifa, Syifa sudah terlebih dahulu menjambak rambutnya keras. "Mana ada cewek yang mau di sentuh sama cowok iblis kayak Lo!!!" Teriak Syifa tepat di hadapan wajah naufan. Syifa semakin mengeratkan jambakannya. Tersulut amarah, naufan sekuat mungkin melepaskan tangan Syifa yang terus menjambak rambutnya. Lalu kembali mendorong Syifa, kali ini lebih keras. Hingga membuat tangan gadis itu sedikit terluka.


Namun saat itu pula, ia merasa punggungnya kesakitan. Naufan membalikkan badannya. Terlihat Aisyah membawa sapu dan terus memukuli tubuhnya. "Syifa,, ini sapunya.." Ujar Dinda dengan menyodorkan sapu. Syifa segera bangkit, lalu ikut memukuli naufan. Sedangkan Dinda membantu Lina untuk melawan dua lelaki lainnya.


"Din,, ambilin tempat sampah..." Perintah Lina.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Buat di lempar sama cowok berengsek ini!"


"Aku takut dosa" Jawab Dinda.


"Ga dosa kalau harus lawan penjahat! Cepetan!! Ini saatnya squad the power calon emak emak bersatu"


Dinda mengangguk. Ia langsung berlari mengambilkan tempat sampah. Salah dari lelaki tersebut memegangi sapu yang di pegang Lina. "Berani ya Lo sama kita" Ketusnya. Dia langsung menarik paksa sapu tersebut, membuat Lina juga ikut tertarik hingga jatuh. "AAAAHHH,,, Kalian bener bener ya. Kalian belum ngerasain gimana sakitnya cubitan cewek!" Ketus Lina. Ia langsung berdiri.


Lalu tanpa aba aba, ia langsung melayangkan tangannya. Tepat di bagian perut, Lina mencubit lelaki tersebut. Membuat cowok tersebut meringis kesakitan. Namun lelaki yang lainnya memegang lengan Lina, lalu mendorongnya.


"Bismillah ya Allah, ampuni hamba. Semoga dengan ini hamba tidak melakukan dosa" Gumam Dinda.


Dia langsung mendekat pada kedua lelaki yang tengah sibuk pada Lina, lalu melemparkan sampah tersebut tepat di wajah kedua lelaki itu. Melihat mereka yang sepertinya marah besar, lina langsung berdiri. "Kabur Din,, kabuur!!" Gumam Lina. Dinda mengangguk, sebelum hal yang tak di inginkan terjadi, mereka langsung berlari kencang.


"SYIFAAA,, AISYAAH... KABUUUR!!" Teriak Lina dari jauh. Syifa dan Aisyah yang sibuk memukuli naufan langsung terdiam melihat kedua sahabatnya yang berlari keluar sekolah.


Mereka berdua saling menatap. "BENER BENER LO BERDUA!!" Teriak naufan marah. Syifa dan Aisyah langsung membuang sapu ke sembarang tempat. "Aisyah kabur!!" Bisik Syifa.


"Iya ya.."


"Satu,,, dua,,," Ujar Syifa menghitung. "Tiga,, KABUUURRRRRR!!"


Mereka berdua berlari terbirit-birit. "MAU KEMANA KALIAN!!" Teriak naufan. "Kenapa diem aja! Kejar! Kasih pelajaran ke mereka."


Kedua lelaki tersebut mengangguk. Ketiganya langsung berlari keluar sekolah. "MAU KEMANA KALIAN!!" Langkah mereka terhenti.


Naufan, dan kedua temannya membalikkan badannya. Tampak Bu Desi dengan mebawa penggaris kayu panjang sedang menatap sinis mereka. "SINI KALIAN!"


Naufan menghembuskan nafas kasar. Mereka berdua dengan langkah malas berjalam ke arah Bu Desi. "APA APAAN KALIAN! BUANG SAMPAH SEMBARANGAN KAYAK GINI. CEPAT BERSIHKAN!" Gertak Bu Desi.


"Tapi ini bukan ulah kita bu" Ujar naufan.


"Bukan ulah kalian gimana,, yang ada di sini itu cuma kalian. Ini juga. Kenapa ada sapu di sini. Cepat bersihkan atau ibu kasih hukuman tambahan buat kalian!!"


"Cepat!!" Mereka langsung berjongkok dan membersihkan sampah sampah yang berserakan. "Sial, badan gue pegel semua" Gumam naufan.


"Iya, lihat badan gue. Hueekk,, bau semua gara gara di lempar sampah." Timpal salah satunya.


"Sialan mereka. Harus di kasih pelajaran" Gumam naufan.


•••••


"Haduuh,,, stop stop. Gue capek" Ujar Lina dengan nafas ngos ngosan.


"Iya,, capek banget" Timpal Syifa.


"Mereka udah ga ngejar kita kan?"


"Nggak" Jawab Aisyah.


"Ya udah kalau gitu masuk yuk" Ajak Syifa. Ke empatnya langsung memasuki pesantren dan masuk ke dalam kamar.


Lina dan Syifa langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan mengatur nafasnya yang masih tak beraturan, sedangkan Dinda dan Aisyah secara bergantian langsung mengganti seragamnya. Lalu berjalan menuju mushola, seperti apa yang di katakan bu nyai saat tadi shubuh. Dengan membaca basmalah Aisyah mengawali bacaannya. Membaca juz 1 hingga juz 3. Hingga mereka tak sadar, bahwa dari tadi ada seseorang yang berada di mushola.


"Assalamualaikum" Lelaki bersuara berat tersebut mendatangi Aisyah dan Dinda saat Aisyah baru saja mengucapkan tasdiq untuk mengakhiri bacaan Alquran nya. Mereka berdua mendongakkan kepalanya. Terlihat seorang lelaki dengan kulit putih bersih dengan memakai jubah biru dan peci putih.


"Waalaikum salam" Jawab mereka berdua.


Guz Fahmi duduk beberapa meter dari mereka. "Bacaanmu bagus" Ujarnya.


Aisyah menundukkan kepalanya. "Terima kasih Guz"


"Hanya saja di huruf ro' yang kurang jelas" Tambahnya lagi.


Aisyah menghela pelan, mendadak wajahnya menjadi kusut. Dinda yang mengetahui hal itu langsung menatap Guz Fahmi.


"Guz..." Panggilnya pelan. Guz Fahmi menoleh, Dinda menggeleng pelan.


Guz Fahmi terdiam, untuk apa Dinda menggelengkan kepalanya. Tak lama, ia tersenyum singkat. "Tapi saya suka sama irama kamu. Bener bener bagus." Katanya lagi.


"Saya hendak pergi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Jawab Dinda dan Aisyah.


Guz Fahmi berdiri. Membalikkan badan, dan berjalan keluar mushola. Sedangkan dari arah berlawanan Syifa datang memasuki mushola.


"Assalamualaikum Guz...." Ujar Syifa dengan tersenyum lebar saat mereka berpapasan.


"Waalaikum salam" Jawab Guz Fahmi dengan menundukkan kepalanya. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya. Syifa menoleh kebelakang, lalu kembali menatap Dinda dan Aisyah. Syifa mempercepat langkahnya.


"Assalamualaikum" Ujar Syifa dengan duduk dihadapan Aisyah.


"Waalaikum salam"


"Tadi,, Guz Fahmi ngapain"


"Bukan ngapa ngapain" Jawab Aisyah.


"Gimana? Udah selesai kan ngajinya?"


"Udah" Jawab Dinda. "Kamu ngapain di sini?"


"Gue lagi cari Lo. Gue mau tanya sesuatu. Tadi gue cariin Lo, eh ternyata ada di sini"


"Tanya apa?"


"Jadi,, gue tadi pas kak Reyhan habis main basket gue natap kak Reyhan. Eh dianya bilang zina, emang iya ya?" Tanya Syifa.


"Iya, itu emang termasuk zina"


"Kok bisa,,? kan gue gak nyentuh"


"Zina itu terbagi menjadi empat tingkatan. Yang pertama zina ain, yaitu memandang lawan jenis dengan perasaan senang" Jelas Dinda. "Kamu pasti pas natap kak Reyhan seneng kan?"


"Iya,, seneng banget. Soalnya ganteng" Jawab Syifa disertai tawa kecilnya.


"Nah itu termasuk zina"


"Terus apalagi tuh bentuk zina yang lainnya?" Tanya Aisyah.


"Yang kedua adalah zina qolbi. Memikirkan atau menghayalkan lawan jenis dengan perasaan senang kepadanya. Yang ketiga adalah zina lisan, yaitu membincang lawan jenis dengan perasaan senang. Nah ini biasanya sering dilakukan, dan ga ada bosannya buat ngebahas yang tentang pacaran atau lawan jenis lainnya. Hingga mereka ga sadar bahwa mereka sama saja menduakan Allah"


"Dan yang terakhir zina yadin. Memegang lawan jenis dengan perasaan senang. Dan ini juga yang sering dilakukan oleh orang orang, padahal orang tersebut tahu bahwa itu termasuk zina tapi mereka tetap melakukannya. Dan zina yadin inilah tingkatan yang paling menjerumuskan pelakunya terhadap zina yang sebenarnya."


...*******...

__ADS_1


__ADS_2