
"Ada apa ya?"
Aluna memacu langkahnya untuk masuk ke kerumunan. Di sana ia langsung melihat seorang ibu yang menangis histeris seperti sedang menuntut dalam nada bicaranya. Sedangkan di depannya ada seorang dokter berkacamata yang tertunduk bersalah.
"Kembalikan anak saya! Bohong, dia bohong! Anak saya masih hidup. Dokter...!!" Ibu itu mencengkeram kerah Dokter di hadapannya. "Mana janjinya untuk menyelamatkan anak saya? Mana janji untuk membawa anak saya kembali pulih?!!"
"Astaghfirullahal adziim." Aluna melangkah mendekat. Dia turut membantu para orang orang yang berusaha menenangkan ibu paruh baya itu.
"Istighfar bu, istighfar.... Astaghfirullahal adziim." Bisik Aluna mengelus lengan ibu itu.
"Anakkuu!! Dok...Tolong periksa lagi anak saya, pasti belum meninggal...pasti masih hidup." Tangisnya semakin pecah. Dia menggenggam tangan Aluna erat erat, meminta permohonan agar memastikan anaknya kalau masih hidup.
Aluna menoleh, menatap dokter yang sedari tadi tertunduk. Dokter Firman langsung menggeleng pelan.
Tanpa aba aba, gadis itu memeluk ibu di hadapannya. Mengelus punggungnya dengan kelembutan. "Ibu harus tahu, bahwa sesungguhnya yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Jadi kapan pun Allah mengambilnya ibu harus siap."
Ibu itu menggeleng. "Anakku..." Rintihnya seolah belum menerima takdir yang baru saja terjadi.
"Ibu saya mohon ikhlaskan kepergian anaknya ya...biarkan anak ibu pergi dengan tenang. Ibu harus ikhlas, beri doa yang terbaik. Saya yakin anak ibu di sana In Syaa Allah sudah mendapatkan kebahagiaan yang lebih asalkan ibu ikhlas."
"Kami para dokter, hanya berusaha melakukan yang terbaik. Takdir bukan di tangan kami. Kami juga tidak bisa menentukan kehidupan dan kematian seorang pasien. Kami hanya manusia biasa bu, semua pasien tanggung jawab dan pasti kami akan melakukan yang terbaik. Tapi perlu ibu ketahui, takdir tetap milik yang Maha Kuasa." Lanjut Aluna. "Tolong ikhlaskan,,,," Bisiknya.
Detik selanjutnya Aluna melepaskan pelukan. Matanya menatap lekat wajah ibu yang sembab, terlihat jelas dalam matanya rasa kesedihan, ketidakpercayaan dan ketidak relaan bercampur satu. Aluna memapah pelan di bantu beberapa orang untuk membantu ibu itu duduk.
"Tolong yang punya air minum?!" Tanya Aluna dengan mengedarkan pandangan. Seorang wanita muda langsung mengeluarkan botol mineral kecil dalam tasnya, menyodorkan kepada Aluna.
Lantas Aluna menerima dan membuka tutup botolnya. "Minum dulu bu..."
Dengan lemas dan tangan gemetar ibu itu menerima dan meminumnya hanya seteguk. Lalu kembali menyerahkan kepada Aluna. "Saya mau ketemu anak saya." Gumamnya dengan bersiap berdiri.
Orang orang langsung membantu ibunya. Karena tahu tubuh sang ibu yang masih begitu lemas. Sedangkan Aluna kembali mengembalikan botol mineral sembari berterima kasih.
Tak lama, para orang orang bubar. Mata dokter muda itu melihat dokter Firman yang berjalan gontai mendekat. Matanya juga merah, namun ia memberikan sebuah senyuman.
"Terima kasih dok..." Ucapnya.
"Sama sama."
•••••
19.05
"Halo Assalamualaikum..." Sapa Aluna dengan memasuki kamar seorang pasien. Seorang anak kecil berusia 10 tahun tersenyum.
"Waalaikum salam." Jawabnya bersamaan dengan seorang wanita muda. Yang tadinya duduk di sofa, langsung berdiri mendekat.
Seorang suster yang ikut Aluna langsung mengecek lalu mengganti cairan infus.
Setelah mengecek keadaan dengan stetoskop, Aluna bertanya. "Rifky gimana keadaannya? Masih sering sakit?"
"Iya bu dokter. Sekarang malah gatal gatal terus."
Aluna memicingkan mata. "Coba lihat dulu lehernya." Gadis itu mulai memegang dan mengecek leher Rifky. Ada benjolan di lehernya.
"Ini benjolannya sakit ga?"
Rifky menggeleng sebagai jawaban.
Aluna menghela pelan. Dia melihat seorang wanita yang masih setia menunggu.
"Ini kakaknya ya?"
"Iya."
"Cantik. Mbak, bisa keluar untuk bisa bicara sebentar?"
"Baik dok."
Mereka berdua keluar.
"Jadi gimana dok?"
"Selama beberapa hari Rifky di rawat di sini, saya sudah memperhatikan gejala gejala yang dia alami. Dan saya sarankan untuk tes rontgen mbak. Untuk mengetahui lebih lanjut penyakit Rifky. Lebih cepat lebih baik, agar kami juga bisa segera mencegah sesuatu yang tidak di inginkan nanti." Jelas Aluna.
"Baik dok, lakukan apapun. Yang penting adik saya sembuh."
__ADS_1
Aluna tersenyum dengan mengangguk. Ia kembali masuk di ikuti kakak Rifky yang berjalan di belakang.
"Rifky, sudah dulu ya...dokter pamit. Kamu jangan lupa istirahat, sebelum itu nanti biar suster nganter makanan. Kamu makan ya, biar cepet sembuh."
Rifky mengangguk. "Dok." Panggilnya.
"Iya?!"
"Aku bosen di sini. Pengen pulang..." Rengeknya.
"Iya boleh pulang kok, tapi nunggu kalau sembuh. Makannya Rifky mulai sekarang harus bisa di atur ya? Kalau di suruh makan...ya makan jangan sampe telat, kalau di suruh tidur ya tidur. Kan pengen cepet pulang, iya kan?"
"Tapi makanan di sini ga enak." Adunya yang hanya di balas kekehan kecil dari Aluna.
"Ya udah gini, besok besok kalau dokter ke sini lagi, dokter bawain mainan ya? Biar Rifky ga bosen. Gimana?"
"Waah..." Mata anak kecil itu berbinar. "Boleh request dok??"
"Hsst Rifky.." Kakaknya menegur dengan memberikan tatapan seolah berkata "jangan". Hal itu membuat Rifky cemberut.
"Iya, mau request apa?"
"Eh ga usah dok." Sela kakaknya. "Nanti biar saya aja yang beliin. Ga usah repot-repot, terima kasih."
"Ya udah kalau gitu." Aluna kembali tersenyum. "Saya pamit ya... permisi."
"Iya dok, terima kasih."
Aluna mengangguk kecil lalu pergi bersama sang suster. Sayup sayup saat sampai di ambang pintu, dia mendengar Rifky merengek.
"Ah kak, aku pengen banget punya mainan robot yang bisa berubah jadi mobil!!"
"Oh ya sus, nanti langsung aja ya ke kamar Rifky antar makanan. Jangan sampe dia telat makan." Titah Aluna.
"Baik dok."
Aluna terus melangkah, hingga saat melewati taman langkahnya terhenti. Matanya menatap seorang laki laki yang duduk di bangku taman sendirian.
Aluna berjalan mendekat. "Assalamualaikum."
Dokter Firman menoleh, dia tersenyum kecil. "Waalaikum salam."
"Silahkan."
Aluna mendudukkan tubuhnya, dengan tetap memberi jarak. Keduanya terdiam satu sama lain, bola mata cokelat terang milik Aluna menangkap rasa bersalah yang masih terlukis pada wajah dokter di sampingnya. "Masih memikirkan soal kejadian tadi dok?"
Sekilas dokter Firman menoleh, lalu mendongak menatap langit malam. Kepalanya mengangguk kecil.
"Dokter sudah melakukan yang terbaik, ga ada yang perlu di sesali." Kata Aluna.
Dokter Firman menghela panjang, lalu berkata. "Ini kali pertamanya operasi yang saya lakukan gagal, dan berakibat nyawa pasien yang hilang."
Ia menjeda kalimatnya sejenak dengan memijat pelipis pelan. "Saya merasa gagal menjalankan tugas dan kewajiban saya hari ini." Lanjutnya.
Aluna manggut-manggut. Matanya melihat rumput hijau di bawah sana. "Iya, saya mengerti kekecewaan yang dokter rasakan. Karena prioritas kita adalah nyawa pasien yang paling utama. Tapi kita juga ga bisa melawan takdir dok."
"Saya juga amat sangat tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai." Lanjutnya dengan lirih.
Kini dokter Firman melihat Aluna lekat. "Oleh karena itu dok, saya juga bisa merasakan bagaimana perasaan seseorang kalau kehilangan orang yang mereka cintai. Saya seperti sudah merenggut dia dari keluarganya."
"Hsst...nggak. Bukan gitu, stop menyalahkan diri sendiri dok." Potong Aluna.
"Saya bukan menyalahkan diri sendiri, tapi rasa bersalah itu yang terus datang." Jawabnya dengan menggeleng kepala pelan.
Suasana kembali hening setelah itu. Keduanya kembali di buat berkutat oleh pikirannya masing-masing. "Oh iya.."
"Dok...tahu ga beli robot yang bagus di mana?" Tanya Aluna setelah hening beberapa saat.
Dokter Firman tersenyum lebar. "Memangnya mau di buat apa?"
"Ya mau beli. Robot yang bisa berubah jadi mobil. Belinya di mana ya?"
"Toko baharu toy's di sana ada banyak mainan. Coba deh cari di sana, pasti banyak mainan robot kayak gitu."
"Itu letaknya dimana dok?"
__ADS_1
"Oh ga jauh kok dari Grand City Mall, mau saya antar?"
"Eh nggak usah, terima kasih. Tapi nanti biar saya sendiri yang pergi sendiri." Jawab Aluna.
•••••
Kini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Aluna mematikan motornya usai sampai di garasi. Dia, berjalan ke arah rumah lalu membuka pintu.
"Assalamualaikum."
"WAALAIKUM SALAM."
Aluna sedikit terkejut kala salamnya di jawab secara bersamaan.
Ia terpaku beberapa detik, matanya masih mengarah kepada para lelaki yang duduk di karpet besar. Di perkirakan ada mungkin 7 orang di tambah lagi ayah dan adiknya yang ikut bergabung bersama.
Aluna menyengir, dia menganggukkan kepala. "Permisi..." Ujarnya dengan kembali berjalan sedikit membungkuk untuk menghormati. Terlebih di sana juga ada ayahnya.
Tidak langsung ke kamar, Aluna memilih untuk ke dapur. Biasa, perutnya selalu lapar usai pulang kerja. Di sana, ternyata ada bundanya yang sibuk membuatkan minuman.
"Assalamualaikum, lagi buat apa bun?" Tanya Aluna.
"Teh anget. Mau bunda buatin juga?"
"Nggak usah bun." Jawab Aluna dengan mengambil pisang yang ada di meja makan. Lalu melahapnya.
"Itu di luar tamu siapa bun?"
"Adik kamu."
"Oh,,, kok malem banget bertamunya?"
"Iya, malam ini mereka pada nginep di sini." Aluna mengarahkan pandangan sepenuhnya pada sang ibunda.
"Ada acara apa?"
"Besok adik kamu mau mendaki gunung, makannya temen-temennya pada ngumpul. Besok berangkat bareng."
"Bunda sama ayah kasih izin?"
"Iya."
"Yaaah..." Lirih Aluna.
"Kenapa kak?"
Dengan kecewa Aluna menjawab. "Pengen ikut bun...tapi ga bisa."
Wanita paruh baya itu tertawa kecil. "Kapan kapan aja kalau ada jadwal libur, lagi pula kalau ikut juga ga enak. Soalnya laki laki semua." Ucapnya. "Kak, bisa minta tolong anterin minumannya ke depan?"
Aluna mengangguk lalu berdiri. "Boleh." Tangannya terulur menerima nampan berisi minuman. Dengan pelan ia berjalan ke arah ruang tamu. Menyajikan teh hangat kepada mereka dengan tetap menundukkan pandangan dalam dalam.
"Makasih ya Lun.." Ujar Iqbal.
"Iya." Hanya itu jawaban yang keluar, saat banyak laki laki seperti ini Aluna tidak berani banyak ngomong. Langsung saja, dirinya kembali berdiri tegap dan berjalan.
Hampir sampai di dapur, sayup sayup ia mendengar ayahnya berkata dengan sedikit lantang. Dari nadanya ada keterkejutan dan rasa bahagia. "Waah! Abimu dulu itu temennya om!! Ya Allah, ternyata ketemu anaknya di sini."
Aluna memelankan langkah, dia menengok ke belakang. Terlihat ayahnya yang sedang merangkul pundak seseorang laki laki yang duduk membelakanginya. "Jadi kamu ini temennya Raka?"
"Iya om."
"Anaknya temennya ayah?" Gumam Aluna, beberapa detik terdiam dia memilih untuk acuh dengan semua itu dan melanjutkan langkahnya menuju dapur. Nampan tadi ia taruh di atas pantri dapur.
"Udah?" Tanya Bunda.
"Iya. Kalau gitu aku mau ke kamar ya bun."
"Hm, langsung tidur istirahat ya sayang."
"Iyaa..."
Aluna mengambil jas putih dan tas miliknya yang tadi di taruh di kursi meja makan. Setelahnya dia pergi ke lantai atas menuju kamar. Seperti biasa, Aluna langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ganti baju untuk tidur. Menetralkan tubuhnya yang pegal pegal.
Setelah itu, ia meraih tas. Mengambil ponsel hendak mencharge nya. Namun deringan ponsel membuat matanya menangkap nomor yang tidak kenal tertera di layar HP-nya.
__ADS_1
Tanpa ragu Aluna menjawab. "Halo, siapa?"
...*****...