
"Fa, habis ini kamu siap siap ya" Ujar anggun dengan mengoleskan selai cokelat ke rotinya.
"Mau kemana ma?"
"Mau mama ajak jalan jalan."
Syifa tersenyum senang hingga menampakkan deretan gigi putihnya. "Kemana?"
"TMII. Mau kan?"
"Taman Mini Indonesia Indah?"
Anggun mengangguk.
"Mau mau mau ma..." Ujarnya penuh semangat.
Dengan cepat Syifa langsung mengunyah dan menghabiskan makanannya. "Syifa siap siap dulu ya ma..."
"Iya"
Ia langsung berlari ke kamar, memilih baju lalu masuk ke kamar mandi. Beberapa menit setelah mandi ia bersiap siap.
Tok tok tok
"Syifa udah siap belum..."
"Bentar ma..." Sahutnya dari dalam kamar. Dengan cepat Syifa langsung memakai sedikit liptint warna merah di bibirnya. Biar kayak orang Korea katanya.
Syifa membukakan pintu. "Ayo ma..."
Anggun tersenyum melihat putrinya yang menggunakan gamis ungu dan juga hijab ungu muda dengan motif bunga. "Wah, cantik anak mama... Ya udah pergi yuk"
Syifa mengangguk. Keduanya langsung berjalan keluar dan menaiki mobil menggunakan sopir pribadi. "Ma, TMII dari sini jauh?" Tanya Syifa.
"Nggak terlalu sayang" Jawabnya.
"Oh, oke"
Setelah melakukan perjalanan 22 menit lamanya, mereka sampai di TMII. Syifa langsung menyiapkan ponselnya untuk memotret atau sekedar Selfi dengan dirinya sendiri. Kalau saja camera miliknya ia bawa, pasti dirinya lebih puas untuk foto di sini. Namun sayangnya camera itu tertinggal di rumah. Mereka langsung berjalan keliling TMII dengan menikmati ramainya pengunjung dan pemandangan yang ada.
Anggun menghela pelan melihat Syifa yang sekali memotret langsung 10 sampai 20 jepretan. "Wih wih....ada keong emas raksasa..." Pekiknya melihat bangunan yang dibuat mirip keong itu. Syifa langsung mengarahkan camera ponselnya ke arah objek tersebut, lalu memotretnya hingga beberapa jepretan. Tak lupa dirinya juga Selfi di sana.
"Syifa..."
Syifa menoleh. "Iya ma?"
"Mau naik kereta gantung ga?"
Syifa mengangguk kuat. "Ya mau dong ma. Ayuk..."
Anggun tersenyum, ia langsung menggandeng tangan Syifa dan berjalan menuju tempat kereta gantung.
Saat mereka sudah naik, maka secara perlahan kereta gantung tersebut berjalan di ketinggian. Sebenarnya Syifa merasa sedikit takut, namun keindahan yang memanjakan matanya itu melenyapkan segala ketakutannya. Melihat perairan yang ada di bawah kereta gantung yang mereka lewati dengan rumput hijau yang membentuk pulau Indonesia itu benar benar membuat Syifa terpukau. Apalagi melihat sebuah istana dengan bentuk dan arsitekturnya mirip dengan dunia dongeng, sungguh membuatnya ingin berlama lama di sini.
Setelah selesai menaiki kereta gantung itu, mereka kembali berjalan keliling. Padahal Syifa belum sepenuhnya puas menaikinya. "Fa, mama mau beli minum dulu ya. Panas lama lama" Ujar anggun.
Syifa mengangguk. "Iya ma. Syifa tungguin di sini"
"Iya" Balas anggun dengan berjalan pergi mencari penjual air mineral. Syifa langsung melangkah ke dekat pohon besar, lalu duduk dibawahnya. Ia membuka galeri ponselnya, melihat satu persatu hasil jepretannya.
"Bagus bagus ya..." Gumamnya dengan tersenyum senang.
"Kak..."
Syifa menoleh.
Seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan boneka di pelukannya kini berdiri di hadapannya. "Iya, ada apa?" Tanya Syifa lembut.
"Lihat kakak aku ga?"
"Kakak kamu emang yang mana?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Syifa menghela pelan, ia menarik tangan anak itu pelan lalu memangkunya. "Nama kamu siapa?"
"Icha" Jawabnya.
"Emmm,, kamu lagi kepisah ya sama kakak kamu?" Tanya Syifa.
"Iya"
"Sebenarnya kakak mau bantuin kamu, tapi kak Syifa ga tau kakak kamu yang mana." Ujarnya.
Syifa terdiam dengan menatap Icha yang terduduk di pangkuannya. "Icha, gimana kalau kita selfie dulu. Oke?"
Icha hanya bisa mengangguk pasrah. Syifa kembali mengeluarkan kamera ponselnya. Dengan tersenyum syifa memotret dirinya. Sedangkan icha hanya bisa memasang wajah pasrah.
"Icha...." Panggilan itu membuat Icha mendongakkan kepalanya.
"Kakak!!" Pekiknya dengan berdiri dan memeluk kakaknya.
Syifa menatap keduanya dengan tersenyum, lalu perhatiannya ia alihkan ke ponselnya. "Yah, padahal baru satu jepretan" Gumamnya.
"Mbak, kenapa adik saya malah di ajak selfie di sini?" Suara berat yang terdengar mempertanyakan nya itu membuat Syifa setengah kesal. Dirinya langsung berdiri cepat.
"Heh, mas harusnya saya yang tanya. Kenap..."
Syifa membulatkan matanya.
Beberapa detik ia terpaku atas apa yang dilihatnya, Syifa mengalihkan pandangannya pada kedua gadis yang berdiri di dekat Reyhan membuat Syifa tersenyum lebar. "Kak, kita ketemu lagi..." Ujarnya senang. "Kata orang orang kalau sering ketemu gini katanya jodoh lho..." Lanjutnya dengan terkekeh.
Reyhan menggaruk tengkuknya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa bisa kebetulan bertemu seperti ini. Takdir kah? Atau hanya sebuah kebetulan yang di pertemukan oleh keadaan.
"Oiya ini anak anak kakak ya?" Tanya Syifa tanpa berpikir terlebih dahulu. Reyhan melototkan matanya, sejak kapan dia punya anak? Nikah saja belum.
Syifa pun begitu, matanya melotot setelah menyadari pertanyaan bodoh yang baru saja ia lontarkan. "Eh ga jadi ga jadi. Kan kakak belum nikah ya? Jadi belum punya anak. Terus ini anak siapa?"
"Anaknya pembantu di rumah gue. Tapi mereka udah gue anggap sebagai adik sendiri" Jelas Reyhan membuat Syifa ber-oh kecil.
"Ini yang besar siapa? Kakaknya Icha?" Tanya Syifa.
"Iya kak. Saya Acha kakaknya Icha" Jawabnya.
Syifa mengangguk.
"Icha Acha namanya hampir sama ya. Kalian kembar?" Tanya Syifa, keduanya mengangguk bersamaan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab semuanya dengan menoleh ke samping.
"Eh fa, ada temennya?" Tanya anggun.
"Oi ya ma. Ini kak Reyhan. Kak, ini mamanya Syifa" Ujar Syifa memperkenalkan.
Anggun menatap Reyhan dengan tersenyum. "Ternyata ini yang namanya Reyhan? Pantes aja kamu suka, ternyata ganteng!!" Ucapnya. "Eh tapi masih gantengan papa kamu waktu muda" Gumamnya lagi. Syifa terkekeh.
"Oi ya ini minumnya" Anggun menyodorkan sebotol air mineral yang dibelinya.
"Makasih ma"
"Iya"
"Kakak mau minum?" Tanya Syifa.
"Ga usah"
"Oi ya sayang. Habis ini kita langsung pulang ya. Soalnya udah siang"
"Yah ma... tapi Syifa masih pengen di sini..." Rengeknya. "Eh atau mama pulang aja ga papa. Nanti Syifa biar pulang sendiri aja. Syifa masih pengen di sini"
"Tapi..."
"Udah Tante ga papa. Syifa biar saya yang jaga" Sahut Reyhan membuat Syifa berusaha untuk menahan senyumnya mati matian. Reyhan bilang ingin menjaganya saja hatinya sudah ingin lepas untuk terbang menari nari.
"Bener?"
Reyhan mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu. Mama lega kalau ada yang jaga. Em, Reyhan...kamu jaga Syifa ya."
"Iya Tante"
"Syifa, kamu hati hati. Mama pulang dulu."
"Iya ma"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
__ADS_1
Anggun tersenyum dengan mengelus pelan lengan Syifa. Lalu ia beranjak pergi untuk pulang. Syifa menatap Acha dan Icha secara bergantian. "Beli ice cream yuk!!" Ajaknya membuat keduanya langsung mengangguk semangat.
"Ayo kak, ayo kak!!" Seru mereka berdua.
Syifa langsung menggandeng keduanya lalu mencari penjual ice cream. Sedangkan Reyhan hanya mengikuti kemana perginya mereka bertiga.
Syifa membeli ice cream cokelat, Acha rasa vanila dan Icha rasa strawberry. Mereka dengan nikmatnya menyomot ice cream tersebut dengan sesekali Syifa yang mengajak mereka berbicara dan cerita. Reyhan mengeluarkan camera miliknya. Ia menatap ketiga gadis di sampingnya yang asik pada dunia nya sendiri.
Reyhan berjalan beberapa meter dari mereka, mencari tempat yang pas untuk ia potret. Dirinya mulai mengangkat cameranya lalu memotretnya hingga beberapa kali. Setelah selesai, ia kembali melangkah mencari tempat yang kembali pas.
Hingga 15 menit sibuk dengan dunianya sendiri. Reyhan menoleh ke belakang. Dirinya terkejut tidak mendapati Syifa dan kedua gadis itu di belakang maupun di sampingnya. Pandangannya menyapu ke sekeliling yang ramai pengunjung. Reyhan menghela berat. Ia langsung membalikkan badan dan berlari kecil ke jalan yang ia lewati tadi.
"SYIFA.... ACHA...!!" Panggilnya.
"ICHA!!"
Reyhan menghela panjang. Bagaimana kalau mereka bingung dan tersesat. Reyhan kembali melangkah dengan mengedarkan pandangannya. Langkahnya terhenti. Dari kejauhan ia melihat Syifa yang berjongkok di tengah keramaian dengan mengusap keningnya yang berkeringat. Sedangkan Acha dan Icha juga ikut ikutan jongkok dengan masih asik menyomot ice cream nya. Dirinya sedang khawatir, namun mereka malah dengan santainya berjongkok di tengah jalan yang ramai.
Reyhan menggelengkan kepalanya. Ia melangkah dan berhenti di depan Syifa, membuat gadis itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lebar. Syifa berdiri, membuat Acha dan Icha juga ikut berdiri.
"Kakak kemana aja? Kok ngilang?" Tanya Syifa.
Reyhan menghela pelan. "Lo capek?"
Syifa mengangguk.
"Iya. Ya habis tadi kak Reyhan asik sendiri. Syifa nyariin sampe capek tau" Ucap Syifa kesal.
"Kalau capek istirahatnya jangan di tengah jalan. Cari tempat duduk!"
"Iya..." Syifa berjalan menepi lalu duduk begitu saja tanpa alas apapun, di ikuti juga dengan Acha dan Icha.
Syifa mengibas-ngibaskan tangannya dengan sesekali menghela panjang. Semakin lama matahari semakin naik ke atas, semakin terik pula cuacanya. Syifa menatap Reyhan yang masih sibuk dengan cameranya. Tak lama terdengar suara adzan Dzuhur yang berkumandang.
Reyhan berjalan mendekat. "Sholat?"
"Ayok" Jawab Syifa. "Acha Icha. Sholat dulu ya!"
"Iya kak" Jawab Acha.
Ketiganya langsung berdiri. Mereka berempat berjalan mencari mushola ataupun masjid terdekat. Syifa langsung berjamaah bersama kedua gadis kembar tersebut sedangkan Reyhan sholat sendiri di shaf laki laki.
Setelah selesai sholat Syifa lanjutkan dengan dzikir terlebih dahulu. Samar samar ia mendengar percakapan kedua kakak beradik itu yang duduk di belakangnya.
"Dek, kamu tadi kentut?" Tanya Acha.
"Iya kak. Kenapa?"
"Kalau kentut Berarti sholat kamu batal."
Syifa menoleh ke belakang. Menatap mereka. "Icha..." Panggil Syifa. "Kamu tadi kentut?"
"Iya kak."
"Pantesan tadi ada bau sang seng sang seng lewat" Gumam Syifa pelan. "Kamu ambil wudhu lagi, terus nanti sholat ya. Kakak tungguin" Lanjutnya.
Icha menggeleng. "Ga mau. Kan sholatnya Icha masih sah"
Syifa mengerutkan alisnya. "Maksutnya?"
"Icha tadi ambil wudhunya dua kali. Terus cuma kentut satu kali, berarti wudhu yang satunya lagi masih. Jadinya sholat Icha ga batal. Besok besok Icha ambil wudhunya tiga kali ah. Biar kalau kentut dua kali sholatnya masih sah" Jelasnya dengan begitu polosnya.
Syifa menganga. Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu? "Icha,, wudhu itu ga bisa di jadiin cadangan kayak gitu sayang" Ucap Syifa.
Tiba tiba suara kucing yang ia jadikan sebagai nada dering telepon itu terdengar nyaring. Syifa terhenyak kaget. Ia menatap seluruh orang yang asalnya khusyuk beribadah dan berdzikir menjadi terganggu. Dengan cepat Syifa mengambil tas, membuka dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengecilkan nada deringnya baru mengangkat telepon.
"Halo kak"
"Gue tunggu di luar"
Hanya itu yang Reyhan ucapkan, setelah itu sambungan terputus.
"Icha Acha. Kita keluar yuk. Kak Reyhan udah nungguin" Keduanya mengangguk.
Dengan cepat Syifa melipat mukenanya dan membenarkan posisi kerudungnya. Ketiganya langsung keluar dari masjid dan menghampiri Reyhan yang sedang duduk dan fokus dengan ponselnya.
Reyhan berdiri saat melihat ketiga gadis yang di tunggu telah berdiri di sampingnya. Tanpa mengatakan apapun Reyhan melangkah dan di ikuti oleh ketiganya. Reyhan membuka pintu mobil lalu memasukinya. Sedangkan Syifa masuk ke mobil bagian tengah di ikuti Icha dan Acha yang memilih untuk duduk bersama Syifa.
"Mau Langsung pulang?" Tanya Reyhan.
"Kak Reyhan tanya Syifa?"
Reyhan mengangguk.
Reyhan kembali mengangguk. Tak lama mobil melaju perlahan keluar dari kawasan TMII dan menuju jalanan kota. Reyhan melirik mereka yang asik mengobrol dan tertawa, membuatnya menghela panjang dan kembali fokus menyetir.
Selang beberapa menit mobil Reyhan menepi di depan toko buku Gramedia. Reyhan menoleh ke belakang, melihat Acha dan Icha yang tertidur pulas. Padahal tadi masih sibuk tertawa, tapi sekarang mereka sudah tertidur pulas.
"Kak, temenin Syifa ke dalem ya" Pinta Syifa.
"Iya"
Syifa tersenyum lebar. Mereka keluar dari mobil dan membiarkan keduanya pulas. "Kak..." Panggil Syifa.
"Hem"
"Kakak tahu ga? Waktu di mobil Syifa itu berasa kayak jadi ibu dari anak anak kakak"
"Hm?" Reyhan terhenyak kaget dan menoleh menatap Syifa.
Syifa tersenyum lebar. "Udahlah lupain aja. Syifa mau cari tempat bukunya dulu"
Syifa melangkah namun Reyhan berhenti. Ia menggaruk belakang kepalanya, padahal tidak gatal, menatap Syifa yang sibuk mencari tempat bukunya. Hingga syifa berhenti di depan rak buku besar. Matanya sibuk meneliti dan membaca tulisan besar di setiap buku.
Syifa berdecih. "Mana ya bukunya? Kemarin masih di sini!!" Gumamnya dengan terus mencari.
"Udah ketemu?" Tanya Reyhan yang baru datang.
Syifa menggeleng. "Belum. Kemana ya?"
"Yakin tempatnya di sini?"
"Yakin banget. Seratus persen yakin. Bener di sini kok tempatnya, tapi kok ga ada? Dimana ya? Kemarin itu Syifa masih lihat di sini, kemarin masih di sini bener kok di sini! Di sini ini!!!" Ujarnya ngotot dengan menunjuk tempat yang sekarang sudah diganti dengan buku lain.
"Kemarin?"
Syifa mendongakkan kepalanya menatap Reyhan. "Minggu lalu"
"Kemarin apa Minggu lalu?"
Syifa menyengir. "Hehehe Minggu lalu sih sebenarnya."
•••••
19.05
Bukan rasa khawatir, rindu, bukan pula rasa ingin bertemu. Namun sejak tadi pikiran Aisyah terus tertuju pada Fariz, tidak seperti biasanya. Aisyah mengambil ponsel dan langsung menghubungi lelaki yang tengah ada di pikirannya.
Fariz duduk bersidekap dengan menyandarkan tubuhnya di dinding. Kepalanya mendongak ke atas, matanya fokus menatap bulan purnama yang bersinar dengan terangnya.
Drrrtt Drrt Drrtt
Lamunannya buyar saat mendengar dering ponsel. Ia menoleh dan mengambil handphone yang ia geletakkan begitu saja di samping. Nama Aisyah terpampang nyata di matanya.
Fariz mengeratkan gerahamnya. Tanpa berpikir panjang ia memencet tombol merah. Namun selang beberapa detik ponselnya kembali berdering dengan penelepon yang sama. Fariz kembali memencet tombol merah. Ia langsung menon-aktifkan ponselnya.
Fariz berdiri dan masuk kedalam rumah. Menemui ayahnya yang sedang menonton televisi bersama neneknya. "Pa..."
Papa Fariz menoleh. "Ada apa?"
"Kita pulang besok"
"Apa? Besok? Kok mendadak Riz?"
"Kalau kita terus di sini, Fariz takut bakal terjadi kejadian yang kayak kemarin lagi" Balasnya. Padahal bukan itu yang ia takutkan. Dirinya hanya ingin pergi jauh dari Aisyah, jauh raga, pikiran, juga hati. Mungkin dengan kembalinya ia di Jakarta dapat membuat hatinya lebih tenang.
"Riz, tapi kita belum siap siap buat pulang!"
"Kenapa buru buru to Riz?" Tanya neneknya.
Faris tersenyum tulus. "Bukan apa apa nek. Kita cuma takut sama keselamatan keluarga terutama kaila. Nenek juga harus jaga diri ya disini" Jawabnya. "Pa, untuk persiapan biar Fariz yang menyiapkan semuanya. Papa ga usah khawatir"
"Riz,,,"
"Pa, keputusan Fariz udah bulat. Besok, kita pulang ke Jakarta"
•••••
Mobil Reyhan berhenti di depan gerbang besar. Tak lama seorang lelaki dengan pakaian satpam membukakan gerbang tersebut. Fariz kembali melajukan mobilnya pelan di halaman rumahnya. "Udah sampe kak?" Tanya Syifa.
__ADS_1
Syifa dari tadi memang mengoceh ingin ke rumah Reyhan, karena penasaran katanya. Reyhan turun, lalu membuka pintu mobil bagian tengah. Menggendong Icha yang tidur. Sedangkan Acha yang sudah terbangun kini turun bersama Syifa.
Syifa terdiam menganga melihat rumah yang dua kali lebih besar dari rumah nya. "Ini...Ini rumah kakak?" Tanya Syifa.
"Hm" Gumam Reyhan dengan berjalan ke dalam rumah.
Sedangkan Syifa masih terpaku di tempatnya. Kepalanya menggeleng beberapa kali. "Kak, ayo masuk!" Ajak Acha.
"Eh iya ya"
Mereka berdua berjalan memasuki rumah. Syifa kembali terdiam. Pandangannya menyapu ke sekeliling rumah yang begitu luas. Membuatnya hanya bisa menggeleng kagum. "Kak, masuk ke kamar aku yuk!!" Ajak Acha yang diangguki oleh Syifa.
Acha langsung menggandeng tangan Syifa, berjalan menunjukkan kamarnya. Dengan kakinya yang terus menaiki tangga, Syifa masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Acha membuka pintu kamarnya yang didominasi oleh warna pink. Di sana juga sudah ada Reyhan yang sibuk mengelus kepala Icha yang tertidur pulas.
Acha duduk di ranjang dan tidur di samping adiknya. Ia langsung menyodorkan sebuah buku ke arah Syifa. "Kak, dongengin aku ya..." Pintanya.
"Eh. Iya..." Syifa mengambil buku tersebut. Dirinya membuka halaman pertama lalu membacanya. "Pada suatu hari hiduplah seorang putri di kerajaan samurai. Putri Anne namanya. Dia adalah putri dengan sikapnya yang bijak dan ceria..." Ujarnya dengan membaca kalimat pertama di buku tersebut.
Reyhan duduk di seberang kasur dengan termangu menatap Syifa yang sibuk membaca dongeng perkalimat. Tangan kirinya memegang buku, sedang tangan kanannya mengelus lembut kepala Acha. Seulum senyum terukir di wajahnya.
Selang beberapa menit Syifa menghentikan ceritanya. Ia menatap Acha yang sudah tidur. Syifa menutup buku, lalu menatap Reyhan. "Kak..."
"Hm?"
"Mereka ini anak pembantunya kakak?"
Reyhan mengangguk.
Syifa tersenyum. "Baik banget ya kakak. Anaknya pembantu, tapi di kasih fasilitas seakan akan mereka ini keluarga yang mempunyai hubungan darah sama kakak"
"Mereka udah gue anggap sebagai adik sendiri" Ujar Reyhan dengan jawaban yang sama.
Syifa mengangguk. "Terus, ibunya ada di mana?"
"Mungkin lagi jemput anaknya"
Syifa mengerutkan keningnya. "Ini anaknya tidur"
"Yang satunya lagi udah gede. Biasanya jam segini pulang les"
"Oooo"
Reyhan berdiri lalu beranjak pergi, membuat Syifa juga melakukan hal yang sama. Reyhan melepaskan jaket hitam nya dan menaruh di bahu sofa ruang tamu. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa begitu saja dengan menghela panjang. Syifa berdiri dengan menatap Reyhan.
"Duduk!" Ujar Reyhan
"Iya" Jawab Syifa.
Bertepatan dengan itu pintu rumahnya terbuka. Seorang wanita separuh baya dengan pakaian sederhana masuk bersama seorang gadis berusia sekitar 11 tahun yang menggendong tas. Mungkin itu anak yang dimaksud Reyhan. Mereka berdua berjalan mendekati Syifa dan Reyhan. Gadis itu mencium punggung tangan mereka berdua.
"Siapa nama kamu?" Tanya Syifa berkenalan.
"Chaca" Jawabnya.
"Chaca, Acha, Icha..." Gumam Syifa dengan manggut manggut. "Chaca cantik banget!!" Tambah Syifa.
"Makasih Kak. Chaca ke kamar dulu ya."
"Iya sayang"
"Eh non mau minum apa?" Tanya bi Siti.
"Jangan panggil non. Panggil aja Syifa. Soal minuman, ambilin air putih aja bi"
"Beneran? Ga mau jus buah, atau es teh?"
Syifa terdiam menimang nimang. "Jusnya lengkap bi?"
"Nggak juga sih non. Eh maksudnya Syifa. Ah jangan deh. Manggilnya non aja ya..."
"Terserah bibi. Ada apa aja bi?"
"Ada jus jambu, jus melon, jus buah naga, jus anggur, jus jeruk, ada lagi tapi bibi lupa. Jadi mau minum apa non?"
"Emm,, air putih aja deh"
"Ya sudah kalau begitu" Ujar bi Siti lalu pergi ke dapur.
Syifa kembali menatap Reyhan yang juga ternyata menatapnya. "Kak..."
"Hm?"
"Orang tua kakak kemana? Kok dari tadi ga ada?" Tanya Syifa.
Reyhan menghela Berat. "Gue ke kamar dulu, mau ganti baju"
"Lhoh...eh iya..." Jawab Syifa linglung.
Syifa terdiam dengan menatap Reyhan yang berjalan menaiki anak tangga.
"Ini non minumnya" Ujar bi Siti dengan menaruh segelas air ke atas meja.
"Makasih bi"
"Iya sama sama"
"Eh Bi..."
Bi Siti yang hendak melangkah kini mengurungkan niatnya.
"Iya non?"
"Duduk sebentar bi. Ada yang mau saya tanyain ke bibi"
Bi Siti mengangguk. Ia langsung duduk di atas lantai dekat meja. "Lhoh bi kok di situ duduknya. Dia Atas kursi aja..." Pinta Syifa.
Bi Siti berdiri, lalu duduk di samping Syifa. "Tanya apa non?"
Syifa melihat ke lantai atas, lalu menatap bi Siti. "Saya mau tanya, sebenarnya orang tua kak Reyhan kemana?"
Bi Siti terdiam lama. "Bi...." Panggil Syifa.
"Aduh gimana ya non. Sebenarnya orang tuanya den Reyhan itu..."
Syifa terdiam menunggu. Tak lama suara kucing itu kembali muncul. Syifa mengambil ponselnya. "Halo ma..."
"Sayang kamu dimana? Udah malem lhoh ini. Kenapa ga pulang?"
"Iya ma. Sebentar lagi Syifa pulang"
"Ya udah cepet!! Mama tungguin. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawabnya dengan memutus sambungan.
"Non, suara kucing tadi ternyata dari ponselnya non Syifa?"
"Hehehe iya bi"
"Fa..."
Syifa terpelonjak kaget melihat Reyhan yang sudah ada di sampingnya. Kini Reyhan memakai kaos santai lengan pendek berwarna abu abu dan sarung berwarna cokelat. "Gue anterin pulang"
Syifa menggeleng kuat. "Ga usah kak. Syifa naik taksi aja deh"
"Yakin?"
"Iya. Syifa ga mau ngerepotin kakak"
Syifa meminum air yang sudah di ambilkan untuknya. Ia berdiri dan berjalan keluar, diikuti Reyhan yang melangkah membuntutinya. "Kak Syifa pulang dulu ya..."
"Hm"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Makasih"
"Buat?" Tanya Reyhan.
Syifa tersenyum. "Buat semuanya..." Jawabnya. Syifa membalikkan badan lalu melangkah pelan. "Fa..."
Syifa kembali menoleh ke belakang. "Iya?"
Reyhan terdiam dengan menatap gadis di depannya. "Kenapa kak?" Tanya Syifa menatap Reyhan yang tak kunjung bicara.
"Hati hati" Ucap Reyhan.
...*******...
__ADS_1