
"Halo, Siapa?"
"Ehm, lagi ga kenal nih ceritanya."
Mengenal siapa suara di balik telepon membuat Aluna tersenyum. "Kan nomornya belum di save, jadi ga kenal."
"Iya juga."
"Assalamualaikum."
Kevin tersentak. "Eh mau kemana? Kok salam?"
"Bukan mau kemana-mana, tadi kan emang belum salam." Jawab Aluna.
"Oh..."
"Ga di jawab?"
Dari balik sana, Kevin terdiam. "Waalaikum salam." Jawabnya dengan ragu.
Setelah salamnya di jawab, Aluna kembali membuka suara. "Kamu di Surabaya tinggal di mana?"
"Kenapa? Mau main ke sini??"
"Em, mungkin. Kalau ada waktu."
"Btw, lo libur kapan lun?"
Aluna melangkah lalu duduk di atas kasur. Tangannya mengambil bantal lalu di taruh di atas pangkuannya. "Kenapa emangnya?"
"Yah pengen ketemu lah. Masih kangen."
"Dih, tadi pagi aja baru ketemu."
"Lo bayangin, ketemunya ga seberapa lun. Ga ada sepuluh menit. Padahalnya pisahnya bertahun tahun."
Aluna terdiam. Kalau boleh bilang, ia juga kangen. Ingin bermain, tertawa dan sedekat dulu. Namun semakin dewasa, ia juga harus membatasi diri sebagai seorang perempuan. Meskipun Kevin sahabatnya, namun ia harus benar benar menjaga dari lawan jenis.
"Besok kan bisa ke rumah sakit. Oh iya, vin bisa minta tolong?"
"Apa?"
"Aku bisa minta tolong beliin robot yang bisa berubah jadi mobil?"
Kevin tertawa. "Buat apa lun?"
"Mau aku kasih ke pasien. Tapi ga papa kalau kamu keberatan."
"Ya mana mungkin keberatan. Pertanyaan gue yang tadi belum di jawab, kapan lo libur?."
"Ahad."
"Beneran? Ya udah kalau gitu, besok Minggu gue ke rumah lo."
"Iya. Nanti aku kasih alamatnya."
"Gue telepon malam malam gini? Ganggu?"
"Nggak kok. Ini kebetulan aja aku baru sampe rumah."
"Mau tidur?"
"He'em."
"Ya udah kalau gitu, gue juga. Selamat tidur." Ujar Kevin dengan tersenyum di balik sana.
"Iya. Assala..."
Tut,, tut,, tut,,...
"Lhoh?"
Aluna menatap layar ponselnya. "Kenapa di matiin sih? Belum selesai salam juga. Bener bener si Kevin."
Gadis itu menghembuskan nafas kasar, namun tak lama rasa kesalnya berganti dengan seulas senyum. Senang rasanya bisa berbicara dan bertemu dengan teman kecilnya kembali.
•••••
Tok Tok Tok
Aluna yang baru saja keluar dari kamar mandi usai mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh langsung berjalan membuka pintu. Ia tersenyum kala melihat siapa yang datang. "Ada apa bun."
"Sholat bareng bunda. Soalnya ayah sama adek kamu lagi sholat bareng temen temennya di bawah."
"Oh iya, masuk bun..."
Wanita paruh baya itu masuk, setelahnya Aluna menutup pintu. Gadis itu segera mengambil mukena lalu memakainya. Menggelar sajadah di belakang bundanya.
Kedua perempuan itu mulai melaksanakan sholat wajib dua rakaat secara berjamaah. Beberapa menit setelah selesai, mereka menyibukkan diri hanya sekedar untuk berdzikir. Lalu berdoa.
Aluna merangkak mendekat, mencium punggung tangan bundanya. "Kalau gitu bunda pergi dulu ya..."
"Iya."
Sebelum berdiri, ibu dari dua anak itu mengelus kepala Aluna. Ia berjalan keluar dengan menyampirkan sajadah di tangan kanan.
Belum ada satu menit lamanya, Aluna mendengar suara panggilan yang mengisyaratkannya untuk keluar. "Ada apa bun?" Gadis itu bertanya saat dirinya sudah benar benar berada di luar kamar.
"Lihat itu, dengerin baik baik."
Lantas, kepala Aluna menoleh ke lantai bawah. Di mana di sana ternyata para lelaki masih melaksanakan sholat. Bukan ayahnya yang menjadi imam, melainkan teman adiknya. Beberapa menit Aluna terdiam menikmati lantunan surah Al Fatihah yang di rasanya begitu merdu.
"Kak, gimana kalau temen adek kamu itu jadi suami kamu?"
Celetukan dari sang ibunda membuat Aluna terhenyak. "Astaghfirullah,,, Aluna belum mikir nikah bun. Lagian juga ga kenal."
"Lhoh, kok Astaghfirullah. Ga papa sayang, bunda malah seneng kalau kamu dapet suami baik kayak dia. Suami yang bisa jadi Imam, dia itu ilmu agamanya In Syaa Allah tinggi."
"Bunda tau dari mana?" Tanya Aluna.
"Tadi malam ayah kamu yang cerita. Lagi pula umur kamu udah 25,,, udah sangat sangat cukup buat menikah."
__ADS_1
Aluna menghela panjang. Sebenarnya agak kurang suka kalau orang tuanya sudah mulai membahas tentang pernikahan. Jujur, ia belum siap meski usianya sudah di bilang sangat pas atau sudah matang dalam menempuh perjalanan rumah tangga.
"Iya." Akhirnya hanya jawaban itu yang keluar.
Bunda tersenyum. "Ya udah, bunda ke kamar ya..."
Di angguki oleh Aluna.
Netra gadis itu kembali tertuju ke lantai bawah. Di mana mereka sedang duduk tahiyat akhir. "Emangnya sekenal apa ayah sama dia? Sampe sampe bilang ilmu agamanya tinggi. Perasaan baru kenal tadi malem?!"
•••••
Pagi pagi sekali, Iqbal sudah buru buru pergi ke kantor. Tidak seperti biasanya yang nyantai. Kali ini ia harus meeting penting dengan beberapa klien. Mungkin bisa di bilang, jadwal hari ini akan lebih padat dari sebelumnya.
Di samping itu, anak perempuan mereka juga sedang di buru oleh waktu. Gadis yang berprofesi sebagai dokter itu menuruni tangga dengan cepat.
Selesai menyeruput kopi, Iqbal memakai jaketnya. "Lin, berangkat ya sayang.." Ucapnya.
Tangannya di sambut untuk di cium oleh sang istri. Sedangkan ia membalas ciuman hangat di kening. "Mas sarapan dulu..."
Iqbal tersenyum. "Nanti di kantin kantor...Ini ga sempet. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Jangan jajan mas, nanti tak bawain makanan ke kantor."
"Iya..."
"Eh yah!" Aluna menghentikan langkahnya. "Mah berangkat sekarang?"
"Iya."
Aluna mengambil tangan sang ayah untuk di cium. "Hati hati."
Hal yang sama pun di lakukan Iqbal, ia mencium hangat kening sang putri. "Iya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah melihat kepergian Iqbal dari rumah, Aluna duduk. Dia langsung memakan sereal yang di siapkan bundanya. "Maaf bun, ngerepotin terus."
"Ga ada yang di repotin. Ini bekalnya, jangan lupa di makan nanti..."
Aluna mengangguk patuh. "Raka udah pergi?"
"Udah, habis sholat shubuh tadi."
"Kok ga pamitan sama aku?"
"Oh iya?"
"Iya." Jawab Aluna.
"Mungkin dia lupa, soalnya tadi buru-buru katanya."
"Oh..."
Suasana kembali hening. Mereka sibuk dengan sarapannya masing-masing. Setelah selesai dan habis, Aluna pun ikutan pamit untuk bekerja. Dan di saat inilah, bunda mereka merasa kesepian. Setiap hari harus berada di rumah sendiri. Mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga, yang selalu mengurusi ini itu untuk keluarganya. Namun apapun itu, ia merasa bersyukur mempunyai keluarga yang harmonis.
•••••
Seorang laki laki berjalan tak sabaran menuju sebuah ruangan yang telah di tunjukkan suster yang ia tanya tadi. Sedari tadi ia muter muter mencari keberadaan di ruangan mana Aluna memeriksa saat ini, akhirnya ada juga suster yang mengetahui keberadaan temannya itu.
Sampai di ambang pintu, Kevin sengaja berhenti. Dia tersenyum lebar saat melihat Aluna ada di dalam, sedang mengobrol ramah dengan seorang laki laki kecil yang menjadi pasiennya.
Kevin mengamati gadis itu baik baik. Dari caranya berbicara terlihat begitu ramah dan menyenangkan. Ya,,, memang semua dokter harus bisa menyesuaikan diri dengan sikap pasien yang akan mereka temui.
"Ehm...selamat pagi menjelang siang..." Akhirnya Kevin melangkah masuk. Membuat semua orang yang ada di dalam menoleh.
Mata laki laki itu melihat Rifky. "Lihat, kakak bawa apa buat kamu??" Ujarnya dengan mengangkat sebuah tas belanjaan.
"Apa kak?" Tanya Rifky antusias. Tangannya sudah terangkat menerima tas itu, namun di tahan oleh sang kakak.
"Maaf mas..." Wanita muda itu menatap Kevin. Bukannya apa, dia tidak kenal dengan siapa laki laki ini. Namun tiba tiba saja, ia memberi adiknya sesuatu yang entah apa isinya.
"Adik saya tidak bisa menerimanya."
Mendengar itu Aluna bersuara. "Maaf mbak, ini temen saya Kevin. Tadi malam memang saya minta tolong buat di beliin mainan buat pasien saya. Jadi ga papa, terima aja. Ini dari saya." Ujar Aluna meyakinkan.
Kakak Rifky kembali menggeleng. "Nggak usah bu dokter, ngerepotin."
"Aaah kak! Terima aja,, aku bosen di sini. Jadi biar bisa main!!" Rengek Rifky.
"Ga papa mbak, ini biar buat adiknya. Nih..." Kevin menyerahkan tas belanja itu dan di sambut riang oleh Rifky. Senyum bocah lelaki itu semakin mengembang kala melihat dua robot yang ia inginkan.
"Waah, makasih kak! Makasih bu dokter. Kalian berdua baik, ga kayak kakak saya..." Ucapnya dengan menyindir, yang seketika langsung membuat wajah sang kakak masam.
Kevin mengusap puncak kepala Rifky dengan tertawa kecil, ikut senang. "Iya sama-sama."
"Makasih bu dokter." Kali ini kakaknya yang bersuara.
"Iya sama sama. Cepet sembuh ya..."
"Permisi..."
Keempatnya menoleh.
Seorang suster datang dengan membawakan makanan berserta obat. "Ini untuk makan siang. Jangan lupa untuk di minum obatnya." Ucapnya lembut.
"Terima kasih sus."
"Iya."
"Baik, kalau begitu kami permisi..." Setelah berpamitan, Aluna dan suster pergi dari ruangan. Di ikuti Kevin di belakangnya.
"Dok, saya duluan..."
"Iya." Jawab Aluna yang membuat suster tadi melangkah pergi. Perempuan itu kini melihat Kevin.
"Tadi mainannya habis berapa?"
Seperti tahu maksud pertanyaan Aluna, Kevin menjawab. "Udah ga usah di ganti..."
"Kok gitu? Ya jangan dong, udah habis berapa?"
__ADS_1
"Ga usah,, udah lah...sama sahabat sendiri ga usah di ganti."
"Vin..."
"Lun..."
Aluna menghela pelan. "Ih aku serius, ga enak kalau ga di ganti."
"Ga usah!" Kini Kevin berkata tegas.
Lagi lagi Aluna harus mengalah. "Iya udah makasih ya. Semoga di ganti dengan rezeki yang lebih baik."
"Amiin."
"Btw, Lun..."
Belum juga ia melontarkan pertanyaan, suara suster membuat keduanya terkejut.
"Dokter,,, darurat pasien kecelakaan!!!"
"Astaghfirullah." Tanpa berpamitan, Aluna dan suster tadi langsung berlari cepat menuju ruang IGD.
Sebelum masuk, ada seorang laki laki yang memanggilnya. "Dokter, tolong selamatkan istri saya..." Ujarnya memohon dengan panik bukan main.
Mata Aluna melihat seorang gadis kecil yang ada di gendongan lelaki tersebut. Dia menangis histeris, seakan tahu bahwa ibunya tidak baik baik saja.
Aluna mengangguk. Lalu masuk ke dalam dan menutup pintu. Di sana tiga suster sedang sibuk menghentikan darah yang terus keluar. Juga berusaha untuk mengobati agar mencegah terjadi infeksi yang tidak di inginkan.
Aluna memasang stetoskop, memastikan kondisi pasien. "Sus! Alat bantu pernafasan!"
Satu suster langsung berlari mengambil, dengan cepat ia memasangkan alat bantu pernafasan itu di bantu Aluna.
"Dok, pasien kehilangan banyak darah! Pendarahannya susah untuk di tekan."
"Panggil dokter Reza!" Titahnya. Sungguh, kali ini sepertinya ia harus membutuhkan bantuan dokter lain.
Suster langsung berlari tergesa keluar. Aluna menekan titik antara bahu dan siku-arteri brakealis dengan tetap menjaga posisi tubuh yang luka agar tetap lebih tinggi di atas jantung dan tetap menekan langsung pada lukanya. Dengan menekan pembuluh darah ini, aliran darah akan melambat, sehingga memungkinkan tekanan langsung untuk menghentikan perdarahan
"Tolong ambilkan tourniquet!"
Satu suster dengan segera mengambil benda yang di perintahkan.
Tourniquet adalah pita ketat yang digunakan untuk mengontrol pendarahan dengan menghentikan sepenuhnya aliran darah ke luka.
Keringat dingin semakin mengucur kala melihat kondisi pasien yang semakin memburuk. Wajahnya semakin pucat. Gadis itu kembali memasang stetoskop, memeriksa kondisi pasien.
Cepat cepat ia melakukan RJP (Resutasi Jantung Paru) dengan menekan pada dada hingga 5-6 cm ke bawah. Bertepatan dengan saat itu, Dokter Reza datang bersama seorang suster yang ia perintahkan.
"Bagaimana dok?" Tanyanya.
"Lukanya..."
Mendengar itu Dokter Reza langsung mengerti.
Deg!
"Pasien henti jantung!"
"Defibrilator!"
Dengan cepat para suster itu mempersiapkan alat yang di minta. Semua menghentikan pekerjaan untuk tidak menyentuh pasien saat akan di beri kejutan listrik. "Bismillah..."
"Satu dua..."
"Naikkan 500 joule!!"
"Defibrilator siap! Satu dua..."
Mereka menghela lega saat detak jantung pasien kembali. Aluna tersenyum. Seketika semua yang ada di dalam mengucap hamdalah dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dokter muda itu terdiam mematung, melihat kondisi wanita muda yang ia kira usianya berkisar tiga puluh tahunan dengan tubuh yang berbalut luka dan darah. Seketika ingatannya kembali.
Tubuhnya melemas, dadanya kini sesak.
"Dokter..."
Bahkan panggilan dari Dokter Reza tak ia gubris.
"Dok!!"
"Eh iya?"
"Biar luka pasien saya yang menangani. Juga dengan pemindahan ruangan kamar." Ujar Dokter Reza.
"Iya, Terima Kasih." Balas Aluna dengan tersenyum getir. Lagi, netranya melihat sendu wanita muda yang terbaring tak berdaya. Tanpa sadar air matanya keluar, namun dengan cepat ia hapus.
Aluna berjalan. Berusaha untuk tegar meski nyatanya hatinya masih amat terluka. Ia membuka pintu, dan memaksakan untuk tersenyum kepada seorang laki laki yang menunggu harap harap cemas.
"Bagaimana dok?"
"Alhamdulillah, istri bapak dapat kami selamatkan."
"Alhamdulillah..." Air mata bahagia sekaligus tegang itu meluncur dari suami pasien.
"Namun, istri bapak mengalami kritis. Jadi nanti akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan, dan untuk saat ini tidak bisa di jenguk oleh siapapun." Lanjutnya lagi.
"Baik dok, sekali lagi terima kasih..."
Aluna mengangguk.
Ia kembali melihat anak kecil yang tak henti hentinya memanggil sang ibu.
"Saya permisi..."
"Baik dok..."
Aluna berjalan cepat menuju ruangannya. Setelah sampai, di mendudukkan diri. Barulah setelah itu, air matanya luruh. Kenapa, sesuatu yang ia tangani seperti mengulang kembali memori yang membuat hatinya hingga saat ini masih belum rela. Sakit.
Aluna terisak. Nafasnya sudah tersengal. Hijabnya basah oleh luruhan tetes demi tetes air mata. "Bundaaa..." Lirihnya memanggil.
...*****...
__ADS_1