
Setelah melakukan semua pekerjaan nya, Aisyah berjalan menuju kamar. Ia langsung mengambil ponsel hanya sekedar melihat-lihat pesan yang masuk.
Kak Fariz : Lo ada di rumah?
Aisyah mulai mengetikkan jarinya di keyboard, menjawab pesan Fariz.
Aisyah A : Iya. kenapa kak?
Tak lama pesan dari Fariz kembali terkirim.
Kak Fariz : Gue ada di depan rumah Lo
Aisyah membulatkan matanya kaget. "Didepan rumah?" Gumamnya yang langsung berjalan cepat keluar untuk menuju ke depan rumah. Aisyah mengedarkan pandangannya, terlihat seorang lelaki dengan senyum manisnya tengah berjalan santai ke arah Aisyah.
"Assalamualaikum" Ujar Fariz.
"Waalaikum salam" Jawab Aisyah. Aisyah melototkan matanya, masih belum percaya Fariz ada di sini. Bahkan di hadapannya. "In-ini kakak?"
"Ya iya. Siapa lagi emang, Reyhan?"
"Ta-Tapi kenapa kakak bisa ada di sini?" Tanya Aisyah bingung.
"Kenapa ga bisa?"
"AISYAAAHH..." Suara teriakan dari dalam rumah membuat keduanya menoleh. Tak lama wanita dengan balutan hijab keluar dari dalam rumah.
"Lhoh ada temen kamu to? Kok ga di suruh masuk?" Tanya Vita, ibu Aisyah.
"Assalamualaikum Tante" Ujar Fariz.
"Waalaikum salam. Aisyah suruh masuk ya temen kamu"
"Iya umi..."
Vita hanya mengangguk dengan tersenyum, lalu kembali berjalan masuk ke dalam
"Kak, silahkan masuk" Ujar Aisyah yang di angguki oleh Fariz.
Keduanya langsung masuk dan duduk di kursi. "Mau minum apa kak?"
"Air putih aja"
Aisyah mengangguk.
"Ya udah Aisyah ambilin dulu ya"
"Iya"
Aisyah berjalan pergi ke dapur, menatap ibunya yang sedang mencuci piring. "Umi..."
Vita menoleh. "Iya?"
"Ada apa? Tadi kok manggil Aisyah?" Tanya Aisyah dengan menuangkan air ke gelas.
"Tadi umi pengen suruh kamu buat beli gula, soalnya gulanya tinggal sedikit. Tapi ada temen kamu"
Aisyah mengangguk paham. "Oh ya udah kalau gitu nanti Aisyah beliin, Aisyah kedepan dulu ya mi.."
Vita mengangguk. "Iya"
Aisyah berjalan ke arah ruang tamu, lalu meletakkan segelas air putih di meja dan duduk Beberapa centi dari Fariz. "Kak, kok kakak tahu rumah Aisyah di sini?" Tanya Aisyah.
Fariz tersenyum. "Gue tahu semuanya, apapun tentang Lo"
Aisyah terdiam. "Kak fariz ke sini cuma buat temuin Aisyah aja atau ada urusan lain. Maksutnya kan rumah kakak ada di Jakarta" Tanya aisyah penasaran.
"Iya gue ke sini lagi liburan ke rumah nenek sama keluarga gue juga."
"Oh jadi nenek kak Fariz ada di Demak juga?"
Fariz mengangguk.
"Iya itu makannya gue ada di sini"
"Terus ada perlu apa ke sini?"
"Nggak, gue cuma pengen ketemu sama lo. Sekalian mau ngajak Lo buat..."
Drrtt Drrttt Drrt
Suara dering ponsel dari saku celana Fariz membuat kalimatnya terpotong. Fariz berdecih kecil, siapa yang menelepon nya saat ini? Hah mengganggu saja. Fariz mengambil ponselnya, kekesalannya bertambah saat mengetahui iqbal yang menelponnya. Kenapa lelaki itu selalu datang di saat tidak tepat.
"Gue angkat telpon dulu Syah.."
Aisyah mengangguk. "Iya, silahkan kak"
•••••
"Sayang, ayo bangun nak!!" Ujar anggun dengan menarik selimut anaknya lalu menepuk pipi Syifa beberapa kali.
"Emmmmm,,,, masih ngantuk ma..." Gumam syifa lesu dengan kembali menarik selimutnya hingga menutupi kepala.
"Eh Syifa ayo bangun, dari tadi malam kamu belum makan" Anggun kembali menarik selimut Syifa.
"Kan Syifa udah makan ma semalem waktu di mobil"
"Cuma makan cemilan dikit, ayo Syifa. Makan!!" Bujuk anggun.
Syifa menghela berat, dengan sangat malas di tambah kengantukannya yang hebat itu Syifa mendudukkan tubuhnya namun dengan mata yang masih terpejam. "Ayo cuci muka dulu biar seger, nanti pergi ke meja makan. Mama tunggu di sana"
"Hmm"
Syifa berjalan ke arah kamar mandi dengan mengucek matanya, sedangkan anggun membereskan dan merapikan tempat tidur Syifa. Setelah selesai mencuci muka, dirinya langsung pergi ke meja makan.
Disana sudah ada Anggun, ia tersenyum melihat Syifa yang berjalan menghampirinya. "Ini mama masak nasi goreng buat kamu" Ujarnya dengan mengambilkan nasi goreng beserta telurnya lalu di taruh di depan Syifa.
"Makasih ma"
"Sama sama" Anggun terdiam dengan menatap putrinya. "Fa, apa kamu juga kalau di pesantren bangun jam segini?"
Syifa menggeleng. "Ya nggak lah ma, Syifa itu di pesantren bangun jam 3. Kan Syifa sekolah, jadi harus antri mandi"
"Ya baguslah kalau begitu"
"Papa mana ma?!"
"Papa kan kerja"
"Oi ya lupa" Gumam Syifa dengan menyantap makanan nya. "Ma..."
"Hm"
__ADS_1
Syifa menelan makanannya. "Mama kenapa ga bawa Momo sekalian?"
"Jogja Jakarta kan jauh, apalagi mama harus mampir dulu ke pesantren kamu. Jadi mama ga mungkin bawa Momo"
"Tapi kan Syifa kangen sama momo. Kasian di sana sendirian sama bibi" Ujar Syifa. "Gimana kalau mama beliin Syifa boneka kucing? Sebagai gantinya Momo"
"Besok ya sayang. Besok suruh papa kamu buat beliin boneka kucing"
Mendengar Jawaban ibunya Syifa langsung tersenyum senang. "Oh ya, kata papa kamu besok mau di ajak ke toko buku. Mau kan?" Tanya anggun.
"Iya mau dong ma..."
•••••
Iqbal menatap pintu kamarnya, suara dari luar membuatnya berdecak kesal. Ia membaringkan tubuhnya di kasur dengan menutupi mukanya dengan bantal. Muak sekali rasanya harus melihat keluarganya yang sudah berada di ujung tanduk.
Pyaaarr
Dengan cepat Iqbal terbangun dan berlari keluar kamar, dilihatnya ayah dan ibunya yang saling menatap dengan tatapan tajam.
"MA, PA...STOP!!" Teriak Iqbal membuat keduanya langsung menoleh ke atas.
"STOP!! IQBAL UDAH UDAH MUAK LIHAT KALIAN BERANTEM TERUS!!" Tambahnya lagi.
Dengan pikiran yang tidak karuan Iqbal berjalan keluar meraih kunci mobilnya lalu berjalan cepat menuruni anak tangga rumah nya. Tepat di depan orang tuanya Iqbal berhenti dengan menatap kecewa mereka, lalu kembali pergi dengan menaiki mobilnya. Dengan kecepatan sedang Iqbal melajukan mobilnya, entah mau kemana dirinya saat ini.
Namun saat ini hatinya memilih untuk menemui Lina, membuat dirinya seolah olah terarahkan oleh keinginan hati untuk membawa mobil juga dirinya ke rumah Lina.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tak lama pintu terbuka, terlihat wanita separuh baya sedang tersenyum ramah kepadanya. "Maaf mau cari siapa ya?"
"Lina" Jawab Iqbal singkat.
"Oh iya, sebentar ya. Saya panggilkan non Lina dulu. Silahkan duduk dulu mas"
"Makasih bi"
Dengan berjalan cepat wanita separuh baya itu kembali memasuki rumah. Beberapa detik, Lina keluar kamar untuk menemui iqbal.
"Bal?"
Iqbal menoleh. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam." Jawab Lina. "Ada apa? Tumben Lo ke sini?" Tanya Lina.
Iqbal menggeleng. "Gue gak tahu, pengen aja ke sini"
Lina mengerutkan keningnya. "Jadi Lo kesini ga ada urusan apa apa?"
"Nggak!" Ujar Iqbal yang membuat Lina menghembuskan nafas kesal. "Lo punya kolam ikan kan?"
"Iya, kenapa? Mau mancing di kolam ikan gue?"
"Siapa yang mau mancing? Gue Pengen kesana, mau lihat ikan ikan Lo"
Iqbal menatap Lina yang juga menatapnya dengan curiga. "Kenapa Lo lihatin gue kayak gitu? Emang dari muka gue, gue mau bertindak jahat ha?" Tanya iqbal.
Lina berdecih. "Ya udah ayok"
Lina langsung berjalan ke arah halaman belakang di ikuti Iqbal yang berjalan di belakangnya. Setelah sampai, Iqbal melihat beberapa ikan yang berenang dengan lincahnya. "Nih kalau mau kasih makan!" Ujar Lina dengan menyodorkan makanan ikan.
Lina menatap Iqbal kesal. "Ikan kalau di kasih makan juga gitu!!"
"Ikan gue nggak!" Balas iqbal.
"iiihh, emang Lo punya ikan?"
"Nggak juga sih!"
"Heh Dasar!!" Umpat Lina kesal.
Iqbal kembali menatap kolam ikan di hadapannya. Gemericik air yang terdengar, membuat suasana hatinya lebih tenang.
"Papa Lo udah pulang?" Tanya Iqbal.
"Belum, palingan juga nanti malam pulang nya." Jawab Lina jutek.
"LINA...." Lina menoleh ke arah sumber suara.
"Mama? Ada apa?" Tanya Lina.
"Lihat, siapa yang Dateng?!"
Lina melongokkan kepalanya ke samping. Seorang lelaki dengan senyuman mengembang itu, menaruh kedua tangannya kedepan. Mengisyaratkan agar Lina segera jatuh ke pelukannya. "Papa....!!!" Panggil Lina senang dengan berlari lalu memeluk papanya.
Sedangkan Gunawan membalas pelukan putrinya dengan sesekali mencium puncak kepalanya. "Lina kangen tau sama papa. Dateng ke rumah tapi papa ga ada" Ujar Lina dengan melepas pelukannya.
"Papa juga kangen sama kamu sayang"
"Baru aja tadi di tanyain Iqbal, eh udah sampe aja nih pa. Kirain nanti malem sampenya"
"Ada Iqbal juga di sini?" Tanya Gunawan, ia lalu berjalan ke arah Iqbal.
"Om" Sapa Iqbal dengan menyalami Gunawan.
"Gimana kabarmu bal?!"
"Alhamdulillah baik om. Om sendiri gimana kabarnya?"
"Ya...yang sekarang kamu lihat. Om juga baik.." Jawab Gunawan. "Kamu di sini, mau ketemu Lina?"
"Iya om" Jawab Iqbal membuat Gunawan tersenyum senang.
"Jadi sekarang kalian udah akur? Syukurlah kalau gitu, Om ikut seneng!!"
Lina menggelengkan kepalanya dengan berjalan ke arah mereka. "Nggak pa! Kita ga pernah akur!!" Bantahnya.
"Masa iya? Tadi kok mama lihat kalian bicara berdua aja di sini?" Tambah mama Lina.
Lina melotot. "Ma..."
"Pokoknya mau kalian udah akur atau belum, papa tetep seneng. Setidaknya ada perkembangan dalam hubungan kalian" Tambah Gunawan.
"Hubungan apa sih pa? Kita itu cuma temenan"
"Iya,, papa juga tau sayang. Tapi kalau berantem terus, bukan temen namanya."
"Pa, istirahat dulu ya. Pasti papa capek, nanti mama buatin kopi buat papa" Ucap mama Lina.
__ADS_1
Gunawan mengangguk. "Iqbal, lina. Kalian lanjutin ngobrolnya, saya pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab keduanya.
"Ayo ma" Ajak Gunawan kepada istrinya.
Keduanya langsung berjalan masuk kedalam rumah. "Semoga kalian berjodoh!" Gumam Gunawan namun masih di dengar oleh Iqbal dan Lina yang membuat keduanya melotot tak terima.
"PAPA!!"
"OM!" Ujar mereka serentak secara bersamaan setelah mendengar ucapan Gunawan.
Lina menatap Iqbal. Lalu mendongakkan kepalanya. "Ya Allah semoga ga berjodoh ya Allah..." Doa Lina berharap agar ucapan ayahnya tidak di catat oleh sang malaikat. Karena ucapan adalah doa, dan doa orang tua itu biasanya manjur. Iya bukan?
"Lo pikir gue mau punya jodoh kayak Lo?!!" Sahut Iqbal.
Lina berdecak kesal. "Bodo amat. Ih papa ada ada aja..."
Iqbal terdiam dengan menatap kedua orang tua Lina yang kini berjalan menjauh dari penglihatan nya, ada sorot kesedihan dalam wajahnya. "Beruntung Lo punya keluarga yang harmonis" Gumam Iqbal.
Lina menatap Iqbal yang masih terdiam. "Maksut nya, keluarga Lo ga harmonis gitu?" Tanya Lina.
Kini, gantian iqbal yang menatap Lina. Seulas senyum tipis terulum di wajahnya. "Keluarga Lo bisa kayak gini itu sebuah anugerah. Lo harus bersyukur. Bersyukur karena Lo hidup dengan kasih sayang dari orang tua Lo, Lo hidup dengan cinta. Lo hidup di tengah tengah keluarga yang bener bener peduli sama Lo. Dan itu, Lo harus jaga agar kekeluargaan antara kalian itu masih terhubung erat." Ujar Iqbal dengan penuh makna.
Lina terdiam mencerna setiap kata yang terucap dari mulut iqbal. "Apa Lo lagi ada masalah keluarga bal?" Tanya lina.
•••••
Keesokan harinya...
Fariz H. A : Syah, jadi gimana. Nanti malam Lo
bisa jalan sama gue?
Fariz menatap ponselnya, menunggu jawaban dari Aisyah. "Ayo Syah, jawab!!" Gumam Fariz gemas. Belum juga satu menit pesannya terkirim, namun sangat lama baginya untuk menunggu.
Aisyah A : Maaf kak, aku ga bisa. Soalnya
Aisyah ada urusan.
Fariz menghela pelan. Kandas sudah harapannya untuk pergi bersama Aisyah. Padahal, dirinya sudah sangat kangen untuk mengobrol berdua. Fariz menoleh saat pintu kamarnya terbuka, menampakkan sesosok gadis kecil dengan wajahnya yang sejak dini sudah memancar aura kecantikannya.
"Kak..." Panggil gadis itu dengan berjalan ke arahnya.
Fariz tersenyum lebar dengan mengangkat lalu memangku gadis itu di atas paha kanannya. "Ada apa sayang?"
"Fariz!!" Panggil mamanya.
"Iya Ma..."
"Riz, nanti malem kamu anterin Adek kamu buat beli boneka ya. Soalnya dia pengen banget, sekalian ajak jalan jalan"
Fariz mengangguk. "Iya ma..."
"Kamu pengen beli boneka?" Tanya Fariz.
Gadis itu mengangguk lincah.
Membuat Fariz tertawa kecil dengan mencubit pipi adiknya dengan gemas. "Ya udah, nanti kita beli boneka ya...."
"Yang gede gede..." Ujarnya.
"Pengennya boneka yang gede?"
"Iya ya...gede lucu." Lanjut adiknya lagi.
"Ya udah nanti kita beli boneka, sekalian jalan jalan. Oke?" Tanya Fariz yang kembali di angguki oleh adiknya.
Beberapa jam berlalu hingga menjelang waktu malam...
"Kak...ayo ayo!!"
Fariz menoleh. "Iya bentar, kakak siap siap dulu"
"iiiihh ayooo...!!"
"Iya sebentar." Balas fariz. "Nah udah siap, ayok! Kita beli boneka" Ujar Fariz dengan menggendong adiknya.
Fariz berjalan ke arah ruang tamu. "Ma, pa. Fariz berangkat dulu ya"
"Iya Riz. Hati hati, jangan pulang malem malem!"
"Iya ma. Assalamualaikum" Salam Fariz.
"Waalaikum salam"
Dengan langkah cepat Fariz berjalan menuju mobil, lalu memasukinya. Beberapa detik, mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah neneknya, mulai melaju membelah jalanan kota. Setelah beberapa menit perjalanan, tepat di toko boneka besar mobil Fariz berhenti. Dengan cepat, ia langsung membawa adiknya untuk masuk ke dalam.
Drrt Drrtt Drrtt
Fariz mengambil ponsel dari saku celananya. "Sayang!! Kamu, pilih pilih boneka dulu ya. Kakak mau angkat telepon"
"Iya"
Fariz tersenyum. Dirinya langsung memencet tombol hijau yang tertera di layar ponselnya. Sibuk berbicara dengan Ilham yang baru saja meneleponnya. Setelah beberapa menit...
"Kak,, pengen ini!!" Ujar adik Fariz dengan menyodorkan boneka beruang warna pink berukuran sedang tersebut.
"Eh udah dulu ya ham, nanti di sambung lagi" Ucap Fariz. "Assalamualaikum"
Tut Tut Tut...
Panggilan terputus.
Fariz menoleh, lalu mengambil boneka dan menggandeng tangan adiknya. Mereka berdua langsung berjalan ke tempat pembayaran. Setelah selesai membayar, Fariz langsung berjalan masuk ke mobil.
Dirinya langsung duduk di kursi tempatnya untuk menyetir dengan menempatkan adiknya di kursi sebelahnya. "Sekarang kita jalan jalan?" Tanya Fariz yang di angguki oleh adik perempuannya itu.
Tak lama mobil berwarna putih itu pun melaju ke tengah tengah lalu lalang kendaraan lain. Saat dirinya tengah menyetir, matanya menangkap seseorang yang tidak asing baginya. Fariz memicingkan matanya saat melihat sepeda motor yang tengah melaju di depan mobilnya. Mulutnya terbuka setengah saat mengetahui siapa orang tersebut.
"Aisyah?!" Gumam Fariz. "Pergi sama siapa malam malam kayak gini?"
Fariz terus melajukan mobilnya dengan terus mengikuti arah laju di hadapannya. Benar, wanita yang di boncengkan laki laki tak di kenalnya itu memang Aisyah. Dengan pikirannya yang sekarang tak karuan, Fariz berusaha untuk tidak berpikiran buruk terhadapnya. Berbagai pertanyaan dan kemungkinan yang kini ada di pikirannya.
Tepat di depan rumah makan di pinggir jalan, motor itu berhenti. Membuat Fariz juga menghentikan mobilnya. Dengan serius ia menatap Aisyah yang turun dari motor. Matanya membelalak kaget bertepatan dengan itu tangannya terkepal erat melihat Aisyah yang secara langsung di pegang oleh lelaki yang masih berada di atas motornya tersebut. Tak lama lelaki itu melepaskan pegangan tangannya dengan tersenyum lalu ia juga ikut turun dari motor. Dan terlihat keduanya langsung memasuki rumah makan tersebut.
Fariz mengeratkan gigi geraham nya melihat kejadian yang baru saja dilihat oleh mata kepalanya sendiri. "Jadi ini alasan Lo ga mau jalan sama gue, ada urusan. Urusan yang maksud Lo pergi sama cowok lain?!..." Gumam Fariz dengan nada kecewanya.
"Udah sampe kak?" Tanya adik Fariz.
Fariz menoleh dengan menggeleng kepalanya. "Jalan jalannya kapan kapan ya. Kita langsung pulang aja" Jawab fariz.
__ADS_1
...******...