
Tok tok tok...
"Verel. Ada apa?" Tanya Lina saat sudah membukakan pintu.
"Ikut gue"
"Kemana?"
"Ikut Lin. Ada yang penting" Balas verel.
"Ya udah gue mandi dulu"
"Ga usah! Langsung pergi"
"Tapi gue belum mandi...!"
Verel menggandeng tangan Lina lalu mengajaknya pergi. "Eh eh eh apa apaan ini..." Ujar Lina kaget. "Rel lepasin, ih!!" Lina menepis kasar tangan verel.
"Bukan muhrim!! Jadi jangan main pegang gitu aja..." Tegasnya.
Verel menghela pelan. "Iya maafin gue. Tapi kita harus cepet"
"Kemana sih?"
"Lin cepet masuk mobil apa gue gandeng lagi tangan Lo!!" Ujar verel.
Lina melotot. "Eh ya jangan! Iya, gue masuk mobil!" Balas nya dengan berjalan kesal membuka pintu mobil.
Verel berjalan mengitari mobil, lalu membuka pintu depan. Tak lama mobilnya berjalan keluar dari halaman rumah Lina. Sepanjang perjalan tidak ada yang membuka suara, Lina hanya fokus menatap jalan.
Tepat saat melewati sebuah jembatan, verel menghentikan mobilnya. Lina mencondongkan kepalanya dengan matanya yang menyipit. Di depan sana banyak orang yang berkerumun. Ada apa?
"Turun ya Lin" Pinta verel.
Lina menoleh sekilas, lalu mengangguk kikuk. Mereka turun dari mobil, Lina membiarkan verel berjalan mendahuluinya. Dengan melangkah pelan, Lina berjalan menatap kerumunan yang ada di depannya. Banyak motor dan mobil yang berhenti, membuat jalanan di jembatan itu menjadi sedikit macet. Tangannya sibuk menyibaki orang untuk memberi jalan padanya. Lina meneguk ludahnya, entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.
Saat sudah berada di tengah-tengah mereka, dengan jelas Lina melihat objek yang menjadi pusat perhatian mereka. Matanya membulat kaget, tangan kanannya menutup mulutnya yang terbuka kaget. Kepalanya menggeleng tak percaya, mendadak tubuhnya menjadi gemetaran melihat darah yang mengucur deras hingga ke aspal jalanan.
"Bal..."
Lina berjongkok, perlahan tangannya menyentuh lengan orang yang kini terkapar di jalan. Matanya berlinang hingga air matanya menetes. "BAL...!!!" Tangannya sibuk menepuk dan menggoyangkan tubuh di hadapannya. Berharap dia akan bangun.
"IQBAL BANGUN, IQBAL LO KENAPA!!" Tangisnya pecah begitu saja. "Iqbal bangun bal..." Suaranya sangat jelas terdengar bergetar dan khawatir.
Ya, melihat darah yang terlihat nyata mengalir dari dahi hingga ke pipi. Bahkan bajunya juga ikut berubah menjadi merah karena terkena darah, membuat rasa khawatir sekaligus panik beradu dalam diri Lina. Sekalipun mereka tidak pernah akur, tapi dirinya tetap tidak bisa melihat Iqbal dalam kondisi seperti ini.
"IQBAL BANGUN BAL..." Ujarnya lagi. Tak peduli sudah berapa pasang mata yang melihatnya menangisi lelaki di hadapannya ini. Lina mengalihkan perhatiannya ke orang yang mengelilingi mereka. "Kenapa diem aja?? CEPET TELEPON AMBULAN!!" Pekik Lina kepada mereka. Entah rasa apa ini, tapi lina begitu takut. Takut dia kenapa napa.
"Bal..." Lina menutup mulutnya dengan tangan yang kini juga sudah berlumur darah karenanya.
Tak lama dari itu, seorang pasangan suami istri juga ikut membelah kerumunan. Lina mendongakkan kepalanya, melihat kedua orang tua Iqbal yang datang. Ia menatap Mira, ibu iqbal yang berdiri shock terpaku di tempatnya. Air matanya langsung mengalir tak terbendung melihat anaknya yang kini menyita perhatian semua penghuni jalan. Mira berjongkok dan melihat anaknya dengan hatinya yang teriris. Setidak pedulinya ia dengan Iqbal, dia tetap putranya. Darah dagingnya.
Dengan lembut ia mengangkat kepala Iqbal dan menaruhnya di pangkuan. "Iqbal, sayang....bangun nak!!" Ujarnya memohon dengan membelai lembut kepala putranya.
Dengan tubuhnya yang bergetar hebat, ia mencium kening Iqbal hingga membuat pipi dan bibirnya juga ikut terkena darah.
"Sayang bangun!!" Gumamnya lagi.
"Udah. Mendingan kita langsung bawa ke rumah sakit!!" Sela Hary. "Tolong bantuin ngangkat pak!!" Pintanya pada seorang lelaki siapapun itu yang ada di sana.
Hary dan kedua orang lainnya langsung mengangkat iqbal dan memasukkannya ke dalam mobil. Dari tempat yang sama Lina melihat mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Ia hanya berdiri terpaku dengan pikirannya yang terpecah kemana mana.
"VEREL TURUN NAK!!"
"VEREL JANGAN NEKAT KAMU!! TURUN!!"
Lina terhenyak kaget. Ia langsung membalikkan badannya melihat ke belakang. Dirinya juga tak kalah di buat kaget dengan aksi verel yang menaiki jembatan layaknya seorang yang ingin bunuh diri. Lina berlari mendekat. Ia menatap verel ngeri. Melihat aliran air yang deras di bawah jembatan saja sudah membuatnya takut, apalagi nekat menaiki jembatannya. Entah sengaja ataupun tidak, itu bisa membahayakan nyawanya.
"VEREL GA MAU TURUN KALAU KALIAN MASIH TETEP MAU CERAI!!" Teriaknya.
"Verel, mama mohon turun nak... demi mama!!" Ujar seorang wanita dengan menangkupkan tangan, air matanya mengalir. Terlukis jelas di matanya, permohonan nya sangat besar.
"VEREL TURUN KAMU!!" Sahut lelaki yang berdiri di samping wanita tersebut. Dari nadanya terlihat sedikit membentak, namun Lina yakin bahwa bentakannya karena khawatir.
"VEREL GA MAU TURUN!!" Teriaknya lagi menggema dan membuat banyak pengendara lalu lalang memperhatikan nya. "KALAU MAMA SAMA PAPA TETEP MAU PISAH, VEREL LOMPAT SEKARANG DARI JEMBATAN INI!!" Lanjutnya lagi dengan penuh keyakinan.
"Rel turun! Jangan nekat Lo!!" Kini Lina yang meneriakinya. Namun tak di hiraukan oleh cowok tersebut.
"SEKARANG MAMA PAPA PUTUSIN DI SINI! TARIK KEPUTUSAN KALIAN BUAT CERAI, ATAU LIHAT VEREL MATI SEKARANG JUGA!" Hal yang sontak membuat semuanya terkejut.
"Mas, tolong penuhin permintaan nya verel. Tolong mas!! Dia itu anak kamu, apa kamu tega lihat verel ngelakuin hal kayak gitu mas? Aku mohon mas!!" Wanita itu terlihat memohon dengan air matanya yang terus mengalir. "Aku rela jadi apapun yang kamu mau. Jadi pelayan, pembantu yang bisa kamu suruh suruh aku mau mas. Tapi jangan biarin verel ngelakuin itu mas!! Dia satu satunya sumber kekuatan aku mas!!"
Verel terdiam menatap ibunya yang begitu tampak memohon kepada ayahnya. Air matanya pecah mendengar kalimat terakhirnya. Dia, satu satunya sumber kekuatan. Itulah kalimat atas air matanya.
Udahlah rujuk aja...
Udah turutin aja dari pada lompat dari jembatan ini...
Iya iya bener ...
Bener, rujuk ajalah. Jangan cerai
Itulah ucapan yang di lontarkan orang yang ada di sekelilingnya saat ini. Verel menatap ayahnya, apakah dia lebih mementingkan perempuan itu dibandingkan dirinya? Apakah cintanya begitu besar untuk perempuan itu hingga mata hatinya belum terbuka bahwa ada cinta yang lebih besar dari keluarga yang menantinya? Apakah kesabaran ibunya belum meluluhkan hatinya?
"Mas, aku mohon mas..." Suara ibunya terdengar begitu parau.
"Verel kamu turun! Oke, papa ga jadi cerai sama mama mu!!" Ujarnya dengan nada yang masih penuh dengan keraguan akan keputusan nya tersebut.
"PAPA YAKIN?" Tanya verel.
"Iya. Tapi kamu harus turun!!"
Seulum senyum lega terukir di wajah perempuan tersebut. "Sayang turun!!" Pintanya dengan lembut.
Perempuan itu mendekat, dengan lembut ia meraih tangan anaknya. "Turun verel. Jangan ngelakuin hal kayak gini. Yang jaga mama lagi siapa kalau kamu pergi?"
Verel meneguk kuat salivanya. Ia menghela pelan lalu turun dari jembatan. Pelukan hangat nan erat kini berada pada tubuhnya. Lina menatap keduanya dengan lega. Ia langsung keluar dari kerumunan, beruntungnya tepat saat itu sebuah taksi lewat. Dengan cepat Lina langsung menghentikan nya, dan memintanya untuk pergi ke rumah sakit terdekat dari sana. Kini pikirannya terus tertuju pada Iqbal.
Lina menundukkan kepalanya. Kedua tangannya sedikit terangkat, ia menatap darah yang mulai kering di telapak tangannya. "Gimana keadaan Lo sekarang bal?"
••••••
__ADS_1
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
Syifa terdiam. "Assalamualaikum..." Ucapnya setengah berteriak dengan kembali mengetuk pintu rumah Reyhan.
"Waalaikum salam" Jawab Reyhan dengan membukakan pintu. "Fa..."
Syifa tersenyum lebar. "Kak...Syifa tadi bawain makanan lhoh..." Ujarnya dengan memperlihatkan rantang yang di bawanya.
"Kakak udah makan?" Tanya Syifa.
"Udah"
"Hhmm udah ya. Ya udah kalau gitu ini buat makan siang aja"
"Yang masak Lo?"
"Bukan! Ini yang masak mama. Soalnya Syifa itu ga bisa masak. Bisa sih, tapi cuma dikiiit doang. Oh ya tapi ini tadi ada tempe sama tahu yang goreng Syifa. Yang lainnya buatan mama. Terus tadi Syifa juga bantu buat cuci beras, rebus air, potong kacang panjang, ambil cabe, ngupas barang merah sama bawang putih. Ah pokoknya banyak. Kakak harus coba deh masakan buatan mamanya Syifa, pasti suka." Jelasnya panjang lebar.
Reyhan hanya memberi anggukan kecil, lalu mempersilahkan Syifa untuk masuk. "Kak, pada kemana sih? Kok sepi." Tanya Syifa. "Oi ya, ini tadi makanannya. Jangan lupa di makan!"
Reyhan mengambil rantang yang di sodorkan Syifa. "Makasih"
"Sama sama" Jawab Syifa.
Reyhan melangkah pergi, meninggalkan Syifa sendiri di ruang tamu. "Ya Allah, ini rumah emang besar, tapi sayangnya kok sepi ya" Gumamnya dengan memandangi langit langit rumah Reyhan. Tatapannya teralihkan oleh camera yang tergeletak begitu saja di atas meja.
Syifa mengambil dan membolak-balik kan camera tersebut. Ia menoleh saat mengetahui Reyhan yang sudah datang dan menatapnya. "Ini punya kakak?" Tanya Syifa. Reyhan mengangguk.
"Kalau mau ambil aja"
"Heh? Terus kak Reyhan pake apa. Nanti ga punya camera lhoh"
"Masih punya banyak" Balas Reyhan dengan santai.
Syifa melotot. "Oi ya? Mana? Syifa pengen lihat!"
"Hm" Gumam reyhan dengan kembali berjalan pergi. Syifa juga berjalan mengikutinya. Sampai di depan kamar lantai atas Reyhan menghentikan langkahnya dan membuka pintu.
Syifa melongokkan kepalanya. Terlihat kamarnya yang begitu luas dengan jendela besar yang terpampang di sana, membuat siapapun yang memasukinya dapat melihat keindahan kota Jakarta. Di dekat jendela tersebut terdapat teleskop. Ada juga koleksi miniatur motor yang tertata rapi. Di atas dinding terpasang rak dengan buku yang tertata rapi di dalamnya. Dan yang membuat Syifa senang adalah saat melihat pesawat mainan yang ia berikan saat Reyhan ulang tahun terpajang di meja belajar milik lelaki tersebut. Bahkan Syifa dibuat takjub oleh koleksi camera yang dimiliki Reyhan. Ia tahu, itu pasti camera dengan merk yang berbeda. Ingin sekali Syifa memasuki kamarnya, namun tidak, dia tidak akan melakukannya. Melihatnya dari luar kamar saja sudah lebih dari cukup.
"Woah...ini kamar kakak?"
"Hm"
"Bagus banget Ya Allah!!"
"Mau ambil camera? Kala mau ambil aja"
Syifa menggeleng. "Nggak. Syifa sebenarnya punya sendiri. Tapi ketinggalan di rumah" Jawabnya. "Oi ya kebetulan ada camera. Fotoin Syifa dong kak!!"
Reyhan mengambil camera yang sedari tadi Syifa bawa, sedangkan gadis itu mundur beberapa langkah dan mengambil posisi yang pas untuk berpose. Syifa merapikan pakaiannya, lalu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Reyhan mengangkat camera, mengarahkannya ke wajah Syifa yang sudah tersenyum manis.
"Satu....dua...tiga..."
"AAAAAAA...."
Syifa berjalan mendekat. "Kenapa kak? Kok ketawa?"
Reyhan menyodorkan kameranya untuk memperlihatkan hasil jepretannya. Syifa membulatkan matanya, tak terima dengan hasil jepretan yang tertangkap di kamera Reyhan.
"Ih kak, kok jelek banget Syifa di sini?? Matanya melotot lagi, serem malah jadinya. Hapus kak!!" Pintanya.
"Jelek? Cantik kok" Balas Reyhan.
"Cantik dari mana? Coba lihat ini mukanya Syifa. Aaaa ga mau,, pokoknya hapus. Jelek ini!!" Rengeknya dengan menunjuk nunjuk wajah dirinya yang tak sesuai ekspetasi. "Lagian siapa sih yang teriak. Ngagetin aja!"
Reyhan tersadar. Dia langsung berjalan cepat menuju kamar Chaca. "Kak Reyhan mau kemana? Kak..! Tungguin ih" Teriak Syifa dengan berlari mengejar Reyhan.
Reyhan membuka pintu dan masuk ke kamar Chaca, Syifa hanya ikut ikutan saja. "Ada apa kak?" Tanya Syifa.
Reyhan terdiam, Syifa juga ikut ikutan diam. Samar samar mereka mendengar suara Isak tangis. Dengan langkah pelan mereka berjalan ke arah toilet. "Chaca..." Panggil Reyhan dengan mengetuk pintu.
"Chaca..."
"Cha,,, kakak buka pintunya ya..." Ucap Reyhan yang bersiap untuk membuka pintu.
Reyhan dibuat bingung oleh Chaca yang menangis bersidekap saat ia sudah membuka pintu toiletnya. Terlihat, kaki Chaca di selimuti dengan handuk. "Tutup mata kak tutup mata!!" Pekik Syifa heboh sendiri.
"Hm?"
"Haduh,, hush hush...kakak pergi dulu!!" Usir Syifa dengan mendorong paksa Reyhan. Syifa langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat rapat. Ia menatap Chaca yang masih menangis di tempatnya. Dengan kuat Syifa meneguk salivanya dan menatap ****** ***** yang ia duga milik Chaca dengan darah di atasnya.
Tadi kak Reyhan lihat ga ya? Batinnya bertanya tanya.
Syifa berjongkok. "Chaca dengerin kakak.."
Chaca mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia benamkan. "Kamu ga usah khawatir, ini itu udah biasa terjadi sama seorang perempuan. Ini hal yang wajar" Jelas Syifa.
"Tapi kak,, hiks...kenapa keluar darah? Chaca takut, nanti kalau ternyata ini penyakit gimana hiks hiks...Chaca ga mau sakit kak..."
"Ini bukan penyakit Chaca. Ini namanya menstruasi, biasa terjadi pada anak seusia kamu. Usia kamu berapa?"
"Dua belas"
"Dengerin kakak ya ca,, usia orang menstruasi itu beda beda. Ada yang sebelas tahun udah menstruasi, ada yang dua belas kayak kamu, ada juga yang lima belas. Itu paling lambat, jadi kamu ga usah khawatir ya"
"Tapi kak, temen temen Chaca belum ada yang kayak gini. Pokoknya Chaca ga mau keluar darah kayak gini hiks..." Ujarnya dengan masih terisak.
"Kan kakak udah bilang, usia orang menstruasi itu beda beda. Ini tandanya Chaca udah dewasa, udah besar. Kakak saat ini juga lagi haid kok. Sama kayak Chaca. Mau lihat?" Tanya syifa.
Chaca menatap Syifa dengan menggeleng pelan. "Ga mau ya. Sama. Kakak juga ga mau lihatin kok. Kan malu, hehehe" Ujar Syifa dengan tertawa. "Oi ya Ini nanti tolong di cuci ya sampe bersih. Eemm,, bentar kakak keluar dulu"
Syifa berdiri dan membuka pintu melihat Reyhan yang masih berdiri di depan toilet. "Eh jangan di intip!!" Sergah Syifa dengan langsung menutup pintu toilet saat Reyhan melongokkan kepala ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Chaca kenapa?" Tanya Reyhan.
"Ga kenapa napa, kakak ga usah khawatir. Itu udah hal yang wajar"
"Tapi kenapa nangis"
__ADS_1
Syifa tertawa kecil. "Dia masih belum ngerti. Masih polos. Oh ya kak, Syifa bisa minta tolong?"
"Apa?"
"Emmm...." Syifa terdiam menimang nimang. "Tolong beliin pembalut ya, soalnya Syifa bener bener ga tahu daerah sini. Jadi, Syifa minta tolong sama kakak. Bisa?"
Reyhan hanya mengangguk mengiyakan. Tanpa basa basi ia langsung keluar kamar dan berlalu pergi menggunakan motor menuju ke arah minimarket. Ia langsung mencari cari tempat pembalut itu di letakkan. Dirinya dibuat bingung harus memilih yang mana, pasalnya Syifa tidak memberitahu harus beli dengan merk apa. Reyhan kembali berjalan mengambil keranjang yang sudah di sediakan. Ia langsung mengambil semua pembalut. Dengan berbagai macam dan merk yang ada. Satu keranjang penuh namun masih ada tiga bungkus yang tersisa, jadilah Reyhan mengambil ketiganya dan membawanya di tangan.
Reyhan berjalan membawa semuanya ke meja kasir. Tanpa peduli dengan tatapan semua orang Yang ada di sana juga mbak kasir. Setelah semuanya di total, Reyhan langsung memberikan uang lebih dan berlalu pergi. Sempat ia dengar pertanyaan untuk siapa ia membeli pembalut sebanyak itu, namun semua itu tak dihiraukannya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam" Jawab Syifa. "Mana kak?"
"Ini..." Reyhan menyodorkan plastik ukuran besar yang penuh dengan apa yang ia beli. Syifa terhenyak kaget.
"Kok banyak banget kak? In-ini kakak beli semua yang ada di toko?"
"Hm"
"Hah? Terus reaksinya mereka gimana lihat kakak beli sebanyak ini?"
"Ga tau, ga lihat juga" Jawab Reyhan santai dengan mengedikkan bahunya. Biarkanlah mereka ingin berkata apa, dia sangat tidak peduli. Lagi pula dia membeli untuk seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Sedangkan Syifa? Ingin rasanya ia menepuk jidat sekeras kerasnya. Tapi yah, sudahlah. Mungkin saat ini Reyhan sedang menjadi bahan rumpian orang orang.
"Non..." Panggil bi Siti yang baru datang saat Reyhan pergi tadi.
Syifa mengambil satu pembalut, lalu memberikannya pada bi Siti. "Makasih non.."
"Iya" Balasnya. Syifa kembali menatap pembalut yang ada di Plastik. "Yah terus ini gimana kak? Ini kebanyakan loh!!" Ujar Syifa yang merasa mubazir.
Mendadak terlintas ide di pikirannya. "Aha...!!"
Syifa kembali mengambil dua bungkus pembalut. Ia langsung ngeloyor pergi keluar tanpa pamit terlebih dahulu.
Setelah hampir sepuluh menit menghilang, Syifa kembali ke rumah Reyhan. "Kemana aja?" Tanya Reyhan.
"Keluar. Ke rumah tetangganya kak Reyhan"
"Ngapain. Lo nggak takut kesasar?"
"Bagi bagi pembalut. Nggak. Kan cuma tetangga Deket sini doang kok."
Reyhan melotot. Apa? Apa yang dia bilang?
"Kakak tahu ga? Mereka tadi kelihatan seneng dapet pembalut gratis, katanya lumayan ga usah beli. Ada juga yang ibu ibu ngeselin. Udah di kasih tapi malah ngomel ngomel, katanya kalau mau bagi bagi sekalian sama sembakonya atau uangnya jangan pembalutnya doang. Terus Syifa ambil pembalutnya, eh malah tambah ngelunjak marah marah. Kesel!!" Cerita Syifa.
"Lo bilang pembalut itu dari gue?"
Syifa menggeleng. "Nggak! Nanti kalau Syifa bilang dari kak Reyhan, pasti kakak bakal jadi bahan rumpian emak emak kompleks. Jadi tadi pas ada yang tanya dari siapa, Syifa jawab kepo deh..."
Reyhan hanya bisa geleng gelang kepala. "Oi ya kak, Syifa minta satu ya. Ini tadi Syifa udah sisain dua, satu buat Syifa satunya lagi buat Chaca. Siapa tahu satu bungkus aja kurang" Ujar Syifa.
Reyhan hanya mengangguk tanpa memperpanjang. "Gue ke kamar dulu"
"Oke"
Reyhan langsung berjalan menaiki tangga. Sedangkan Syifa duduk di sofa ruang tamu.
"Non..."
"Iya bi?"
"Mau minum apa?"
"Oh ga usah bi..." Jawab Syifa. "Eh Bi, duduk dulu deh. Saya mau ngobrol sekalian tanya sama bibi"
Bi Siti mengangguk. "Ada apa non?"
"Em tadi gimana Chaca?"
"Alhamdulillah udah tenang non"
"Alhamdulillah kalau gitu. Oi ya, tadi bibi kemana? Kok Syifa ga lihat"
"Tadi saya ke pasar non. Beli sayur sekalian buah buahan, non mau minum? Ini lho kebetulan buahnya udah lengkap. Jadi mau minum jus apa?"
"Eeh ga usah bi. Makasih sebelumnya. Saya tadi ke sini niatnya cuma mau nganterin makanan sama mau tanya sesuatu sama bibi"
"Tanya apa non?"
"Soal kemarin malam. Yang soal orang tuanya kan Reyhan" Jawab Syifa.
"Aduh gimana ya non..."
"Kenapa bi? Kan saya cuma tanya, kemana orang tuanya kak Reyhan. Saya pengen ketemu mereka soalnya."
"Mereka itu sebenarnya...." Bi Siti menggantungkan kalimatnya. "Emm,,, Sudah pergi non"
"Kemana?"
"Ke...."
"Bi,,, kenapa kelihatannya tegang gitu sih? Jawab aja ga papa"
"Ke Syurga"
Deg
Syifa tersentak kaget mendengar jawaban bi Siti. Ke Syurga? Apa benar? Lalu apa pertanyaan nya kepada Reyhan tentang kemana orang tuanya membuat cowok itu sedih? Kalau ia tahu, pasti tidak akan bertanya tentang kemana orang tuanya saat ini.
"Ya Allah,," Gumam Syifa. "Kenapa bi kalau boleh tahu?"
"Kecelakaan non"
"Jadi kak Reyhan selama ini sendiri?" Tanya Syifa hati hati yang di angguki oleh Bi Siti.
"Bibi ga bisa cerita banyak non, tapi semenjak itu den Reyhan orangnya jadi pendiem dan cuek. Bibi udah lama tinggal di sini, sama anak sama suami. Bibi juga udah kenal den Reyhan itu gimana orangnya. Dulu, den Reyhan orangnya aktif suka ngikutin ekskul di sekolah, dia juga orangnya kreatif. Jadi anaknya suka buat sesuatu, pokoknya den Reyhan dulu suka kegiatan kegiatan yang bisa ngisi waktu luangnya. Tapi semenjak kejadian kecelakaan itu, dia jadi pendiem non. Kalau di tanya jawabnya singkat banget atau malah kadang ga mau jawab, terus lebih banyak habisin waktu di kamar..." Jelas bi Siti.
Syifa menghela panjang. Jadi ada cerita di balik sikap kak Reyhan. Gue kira, hidup kak Reyhan itu sempurna. Udah ganteng, dibela dan di sayang banyak orang, pinter, kaya, rajin. Tapi dari sini gue sadar, ga ada kehidupan yang sempurna. Semuanya punya kesan bahagia dan kesedihan yang sudah Allah takdir kan sesuai porsinya masing-masing untuk kita. Batin Syifa.
__ADS_1
...*******...