
Setelah resmi bercerai, Arshila melanjutkan hidupnya dalam penjara. Meski, sering menangis dan meratapi nasibnya. Ia juga sering melamun dan menjadi pendiam, hanya menjawab seperlunya saja.
Teman-temanya pun, hanya bisa membiarkan, karena sudah terlau sering memberi nasehat.
Waktu terus berjalan, satu per satu, teman yang sudah seperti keluarga, mulai bebas dari penjara.
Yessi dan Jian, bebas bersama. Saling berpelukan, sebagai salam perpisahan. Tak lupa, mengucapkan janji akan datang mengunjungi mereka.
Minggu berikutnya, Tante Nessa dan Alexa menyusul. Mereka memeluk Arshila dengan erat, tak kuasa meninggalkan wanita itu seorang diri.
"Shila, kamu harus kuat. Tolong, jangan berpikiran sempit. Diluar sana, putrimu sedang menunggu."
Arshila hanya menangis sesegukan, mendengar ucapan Tante Nessa. Kali ini, ini ia benar-benar kesepian.
Alexa, ikut memeluk, mengusap punggung Arshila.
"Kami akan sering berkunjung, setelah bebas kami juga akan menjemputmu."
Arshila mengangguk dengan air mata yang mengalir. Bibirnya tak kuasa menjawab, ia hanya memikirkan hari-harinya nanti seorang diri dalam sel .
Akhirnya, Tante Nessa dan Alexa pun, pergi. Sesekali keduanya menoleh dan melambaikan tangan.
Ya, Allah. Kuatkan aku. Aku mohon, kuatkan hati dan pikiranku.
Satu tahun, kemudian.
Tanpa terasa perputaran waktu begitu cepat. Sudah setahun lamanya, ia mendekam dalam balik jeruji. Saatnya menikmati kebebasan diluar sana, meski wajah lesu Arshila tidak terlalu antuasias.
Biasanya, orang-orang akan menyambut bahagia, setelah bebas. Membuat banyak daftar, yang harus dilakukannya. Tapi tidak dengan Arshila. Wanita ini, melangkah dengan lemah, menengadahkan kepala ke atas langit, menatap matahari pagi, yang menerpa tubuhnya.
Mungkin jika ia masih berstatus istri, ia akan sangat bahagia akan datangnya hari ini. Tapi, semuanya sudah berbeda.
"Kakak,"
Dari kejauhan, tampak empat orang yang sering mengunjunginya, melambaikan tangan. Tersenyum, merentangkan tangan sambil berlari ke arahnya.
"Kami merindukanmu."
Mereka mengengelingi tubuhnya, memeluk dengan erat, sampai Arshila meneteskan air matanya. Paling tidak, ada mereka yang menjemput, paling tidak ia masih memiliki yang namanya teman.
"Aku juga, merindukan kalian."
Arshila menghapus air matanya.
"Sekarang, ayo kita pergi!"
Alexa mengambil tas, dari bahu yang dipanggilnya kakak. Memasukkannya dalam bagasi, lalu ikut duduk dibalik kemudi.
Dibelakangnya, Arshila duduk ditengah antara Yessi dan Jian. Kedua gadis itu, bersandar dibahu wanita itu. Sedangkan, disebelah Alexa, tante Nessa duduk, sambil terus menoleh kebelakang.
Mereka pun berangkat, menuju rumah tante Nessa.
"Apa kita perlu mengikutinya, Tuan?"
__ADS_1
"Tidak, perlu. Cukup beritahu anak buahmu."
Dave masih memandang mobil hitam yang ditumpangi Arshila. Ia sudah disana, menatap wanita itu keluar dari gerbang dan disambut oleh teman-temannya.
Dalam perjalanan, Yessi dan Jian begitu banyak bercerita, menyampaikan rencana mereka hari ini. Mulai dari makan, jalan-jalan, hingga berbelanja.
"Kak, mau makan apa? Hari ini, kita senang-senang dulu baru pulang."
"Pulang?"
Hatinya sedikit perih, pulang? Kemana? Ia tidak memiliki rumah atau keluarga untuk dia tuju. Ia juga tidak memiliki uang untuk sekedar mengontrak. Janji yang dikatakan mantan suaminya, belum juga diberikannya dengan alasan ia belum bebas.
"Jangan khawatir, Shila. Kamu bisa tinggal dirumah tante sementara waktu. Tante juga sudah mencarikan kerja untukmu."
"Terima kasih, Tante. Maaf, sudah merepotkan."
"Jangan bilang begitu, kita sekarang adalah keluarga. Bagaimana anak-anak?"
"Betul, Tante Nessa."
Arshila sedikit lega, meski ada rasa tidak enak mengganjal dalam hati.
Tibalah mereka disebuah restoran korea.
"Asyik, sudah lama aku tidak makan daging bakar, ramyun, sosis, huummm...." ujar Yessi yang menelan salivanya.
"Hei, bukankah minggu lalu kita baru memakannya."
"Itu berbeda sepupuku sayang. Hari ini, rame-rame, jadi porsinya juga harus rame."
Setelah memesan, mereka memilih tempat duduk yang berdekatan dengan jendela kaca. Kembali mengobrol tentang rencana mereka esok hari dan seterusnya. Seolah, waktu mereka hanya terisi dengan jalan-jalan dan makan.
"Kak, ayo makan."
Jian menaruh daging yang sudah dipanggang diatas piring Arshila.
"Oh, ya Shila. Apa rencanamu?"
Kunyah-kunyah, sambil menatap Arshila. Tante Nessa kembali menyambar daging yang baru matang.
"Belum tahu, Tante. aku hanya ingin mencoba bekerja. Setelah, punya cukup uang, aku berniat menemui putriku."
"Baguslah, aku senang melihatmu sudah bangkit dari keterpurukan. Kamu bisa bekerja besok ditempat teman Tante. Ia mempunyai butik, kamu bisa bantu-bantu disana."
"Terima kasih, Tante."
"Ayo, bersulang! Yessi mengangkat botol soda, mencairkan suasana yang mulai masuk dalam tahap kesedihan.
Keempatnya, meneguk soda bersamaan dan mendaratkannya diatas meja dengan sedikit berbunyi. Lalu, kembali tertawa.
Usai makan, mereka lanjut berbelanja, tapi bukan untuk mereka melainkan untuk Arshila. Keempatnya, sibuk memilih pakaian, tas, hingga sepatu. Tarik sana, tarik sini, tubuh Arshila bergerak mengikuti sambaran tangan mereka.
"Coba yang ini, Kak." Jian memberikan sebuah mini dress berwarna pastel. Belum sempat dicoba, sebuah tangan kembali menariknya.
__ADS_1
"Kak, bagaimana dengan baju tidur ini?"
"Shila, lihat ini!" Tante Nessa membawa tiga buah tas dengan warna berbeda.
"Tante, aku cuma butuh satu. Tidak usah banyak. Aku masih punya tas lain."
"Sudah tidak apa-apa. Barang yang diberikan mantan suamimu, sebaiknya jangan kamu ambil atau kamu bakar saja."
Tante Nessa pergi, setelah memberikan tiga buah tas pada Arshila.
Berbeda dengan ketiga wanita, yang sibuk memilih barang, Alexa sibuk memilih kosmetik. Meski, terlihat tomboi dengan rambut pendeknya. Alexa sepertinya tahu tentang kosmetik. Memilih lipstik dengan warna yang sesuai dengan bibir tipis Arshila, bedak dengan warna natural dan beberapa kosmetik lainnya seperti maskara, pensil alis dan blush on. Tak lupa juga, ia membeli beberapa krim wajah untuk perawatan rutin.
Setelah menghabiskan waktu yang begitu lama, keempatnya mulai meninggalkan pusat perbelanjaan.
"Ayo, bongkar-bongkar," ujar Yessi dengan semangat, saat baru saja masuk dalam rumah Tante Nessa.
Sementara, Arshila ternganga dengan banyaknya paper bag.
"Semua itu milikku?"
"Tentu saja. Sekarang, ayo kita bongkar."
Mereka sendiri yang memilih, membongkar sendiri, saling memperlihatkan dengan bangga.
"Ini, aku yang pilih. Cantik, kan."
Yessi memamerkan dua buah dress dengan warna berbeda.
Saat sibuk membongkar, pelayan rumah datang menghampiri.
"Nyonya, makan malamnya sudah siap."
"Baiklah, bik. Terima kasih. Tolong, beritahu yang lain untuk merapikan kamar tamu. Adik-adikku akan menginap malam ini."
"Baik, Nyonya."
Tante Nessa kembali memperhatikan mereka, lalu anak matanya tertuju pada dua paper bag yang belum dibuka.
"Ini apa?" Mengangkat tinggi paper bag itu.
Tidak ada yang menjawab, bahkan Alexa berpura-pura tidak tahu, dengan mengangkat bahunya.
"Ini kosmetik. Wah, sangat lengkap."
Tante Nessa membukanya, diikuti kerumunan dua orang gadis yang penasaran.
"Jadi, siapa yang membelinya?"
Masih penasaran, karena mereka tidak memikirkan tentang kosmetik. Tiga pasang mata, menatap Alexa yang tampak merona karena malu.
"Hahaha, kak Alexa yang beli."
Ketiganya mendekat, menjatuhkan Alexa diatas lantai memeluk, sambil menggelitik.
__ADS_1
Arshila ikut tertawa lepas, bergabung diatas karpet.