Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 11 Aku ibunya


__ADS_3

Di tempat berbeda, tapi masih hari yang sama.


Dave duduk menyilangkan kaki, dihadapannya Tian membaca hasil penyelidikan orang suruhannya.


"Jadi, siapa mereka?"


"Mereka teman-teman Arshila dalam penjara. Mereka bebas lebih dulu. Nona Yessi dan Jian adalah saudara sepupu. Yessi putri dari Robert dan Jian putri dari Juan Malvel."


"Maksudmu mereka adalah nona muda dari Marina Grup."


"Benar, Tuan. Mereka terlibat perkelahian diklub malam dan Orang tua mereka sengaja, tidak membantu membebaskan keduanya.


"Yang lain?"


"Nessa ayunda Arthur, istri dari pengusaha Arthur, tapi mereka dalam tahap perceraian. Sedangkan satunya, Tuan sudah mengenalnya."


"Siapa?"


"Dia nona Alexa Vander Santara, keponakan dari Tuan Bagas."


Dave sedikit terkejut, menatap Tian meminta penjelasan lebih.


"Dia nona muda yang sering memberontak. Tidak peduli, dengan nama keluarganya."


"Lalu?"


"Alasannya berada ditempat itu, tidak diketahui. Tapi, menurut informasi, ibu nona Clarissa sendiri yang menjobloskannya. Apa perlu saya menyelidikinya, Tuan?"


"Tidak, itu tidak ada hubungannya denganku," jawab Dave, kemudian Tian kembali melanjutkan.


"Saat ini, nona Arshila tinggal dikediaman Nyonya Arthur."


Dave tampak berpikir.


"Lakukan pertemuan dengan Marina Grup, minta mereka mengirim putrinya diluar negeri. Lakukan hal yang sama, pada Alexa. Untuk Nyonya Arthur, aku akan memikirkan cara. Wanita itu, bukan orang sembarang. Keluarga mafia berdiri tegak dibelakangnya."


"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan."


"Lakukan secepatnya. Aku tidak ingin, dia memiliki dewi penolong."


Tian mengangguk, lalu pamit keluar setelah menundukkan kepalanya.


"Kamu memiliki keberuntungan yang baik, karena orang-orang kaya mengelilingimu. Tapi, itu tidak akan berlangsung lama."


Dave menyeringai licik, menatap foto Arshila yang tengah berbelanja.


Esok hari,


Arshila terbangun sangat pagi, kebiasaan yang belum hilang, saat masih tinggal di rumah mertuanya. Sesaat ia melupakan keberadaannya, sampai akhirnya tersadar dengar keberadaan Alexa yang masih tidur memeluk guling.


Meregangkan tubuhnya sesaat, lalu bangkit menuju kamar mandi. Lalu, kembali duduk disebuah sofa.


"Kak, ambil ini." Alexa memberikan sebuah kunci rumah.


"Apa ini, Alex?"


"Itu kunci rumah."

__ADS_1


"Tidak perlu. Kakakmu ini sebentar lagi, akan bekerja dan menghasilkan uang."


Arshila mengembalikannya, tapi kembali ditolak.


"Kak, rumah ini untuk jaga-jaga, jika suatu hari kakak tidak memiliki tujuan. Rahasiakan, dari siapapun. Cukup, kita berdua saja yang tahu."


Arshila sedikit bingung dengan ucapan Alexa, tapi ia memilih untuk menerimanya.


Setelah, memikirkan ucapan Alexa semalam, Arshila masih sedikit bingung dan tidak mengerti. Diantara mereka berempat, Alexa cenderung tertutup, mengenai keluarganya. Berbeda dengan Yessi, Jian dan Tante Nessa yang sudah diketahuinya dari keluarga berada.


Membuang jauh pikirannya, Arshila kembali menata rencananya hari ini. Mengambil barang lamanya, dirumah sang mantan suami. Sebenarnya, ia sudah tidak peduli dengan pakaian atau barang pemberian Dimas. Ia lebih membutuhkan dokumen dan ijazahnya untuk mencari kerja, meski hanya lulusan SMA.


Bukan hanya itu, ia berharap dapat melihat putrinya, memeluk, melepaskan rindu. Sudah setahun, ia tidak pernah melihat wajah putrinya. Mungkin, saat ini dia sudah berjalan.


Arshila krluar dari kamar, menutup pintu perlahan. Dilantai bawah, para pelayan rumah sudah terbangun, melakukan tugas masing-masing.


"Non, Shila butuh sesuatu?" tanya seorang pelayan.


"Tidak, Bik. Terimakasih, saya hanya mau keluar melihat taman bunga."


Arshila kembali berjalan, duduk disebuah bangku kecil berwarna putih. Menatap sebuah taman, berbagai jenis bunga tumbuh disana. Ada bunga dengan kuntum besar dan kecil, beraneka warna, membuat mata tak bosan melihatnya.


"Sedang memikirkan apa, sayang?"


Arshila menoleh, Tante Nessa duduk disebelahnya.


"Tidak ada, Tante. Saya hanya sedang menunggu waktu, terlalu pagi jika harus pergi berkunjung di rumah mas Dimas."


"Kamu benar." Tente Nessa menggenggam tangan Arshila. "Tante akan menemanimu pergi, jangan takut. Kamu harus menemui putrimu. Meski, ia mungkin tidak mengenalmu, paling tidak kamu bisa memeluk dan menatap wajahnya."


Arshila mengangguk, air matanya menganak sungai. Menyandarkan kepalanya, dibahu tante Nessa.


"Semua ibu, memang menantikan hal itu. Kamu bersabarlah." Membelai rambut Arshila. "Sekarang, kita masuk sarapan dan bersiap."


Mereka kini duduk saling berhadapan di meja makan. Mengambil lauk dan sayuran yang sudah tersaji.


"Kak, kami minta maaf, tidak bisa menemani. Pagi, ini orang tua kami menelpon, mendadak menyuruh pulang," ujar Yessi, yang diiringi anggukan kepala dari Jian.


"Tidak apa, kalian memang harus pulang."


Usai sarapan, Arshila ditemani tante Nessa dan Alexa, berangkat menuju rumah Dimas. Sementara, Yessi dan Jian, pulang ke rumah setelah sebuah mobil, menjemput mereka.


"Itu, rumahnya."


Arshila menunjuk sebuah rumah bercat abu-abu.


Di teras rumah, tampak ibu dari sang mantan suami, menikmati secangkir teh.


"Assalamualaikum, bu," salam Arshila. Kakinya masih berpijak diatas rerumputan.


"Mau apa, kamu ke mari?"


Suara lantang, kasar dan penuh ketidaksukaan, keluar dari mulut ibu Dimas.


Tante Nessa mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak melangkah meremas mulut wanita itu.


"Shila, jadi ini mertuamu? Bukannya kamu mengatakan kalau dia lembut dan baik hati," sindir Tante Nessa.

__ADS_1


Tersinggung, itulah yang tampak dari wajah ibu Dimas. Ia menatap tajam tante Nessa.


"Bu, aku mau mengambil barang-barang milikku."


"Oh, yang itu. Aku menaruhnya di gudang. Tinggu, disini aku akan mengambilnya."


Tak lama, ibu Dimas kembali membawa sebuah tas dan gardus.


"Ambil dan pergilah," usirnya, bahkan tidak mempersilahkan mereka masuk.


"Aku tidak akan pergi, sebelum bertemu putriku."


"Jangan mimpi, kamu. Kamu tidak memiliki hak bertemu dengannya. Sekarang, pergi!"


usir ibu Dimas sambil menunjuk pintu pagar rumahnya.


Suara ribut mereka, terdengar sampai di dalam rumah. Dimas keluar, sambil menggendong putrinya.


"Ada apa, bu?"


"Usir, dia!"


Ibu menunjuk Arshila yang tengah memperhatikan wajah putrinya.


"Mas, tolong. Biarkan aku melihat anakku. Aku ibunya, tolong. Aku ingin memeluknya."


Arshila mengiba, air matanya mengalir membasahi kedua pipi.


"Kamu bukan ibunya. Cucuku hanya punya satu ibu dan dia adalah Nadia menantuku."


Ibu memantik kemarahan tante Nessa yang sudah dari tadi berusaha menahannya.


"Dia ibunya, dia yang melahirkan. Jika Anda ingin memiliki cucu dari menantu Anda, suruh dia melahirkan."


Ibu Dimas marah dan kesal, tidak terima dengan ucapan wanita yang tidak dikenalnya. Bangkit hendak menjambak rambut Arshila. Hal yang biasa ia lakukan dulu, saat menjadi menantunya.


"Anda, mau apa?" Alexa menahan tangan ibu Dimas, mencengkam dengan kuat.


"Lepas."


"Ibu, bawa Nadin masuk."


Dimas memberikan putrinya pada ibu.


"Pulanglah, aku akan mencari waktu untuk mempertemukan kalian. Jangan datang ke rumah, karena ibu tidak akan mengizinkan."


"Kenapa Arshila butuh izin bertemu anaknya. Dia ibu yang melahirkan anak kalian. Kami tidak akan membawanya pergi. Cukup berikan dia kesempatan untuk memeluk putrinya."


"Maaf, tolong Anda jangan ikut campur urusan kami."


Tante Nessa tidak terima, maju selangkah mendaratkan tamparan keras di wajah Dimas.


"Anda menamparku?" Dimas memegang pipinya. "Anda tidak takut, saya melapor polisi."


"Silahkan. Saya tidak takut. Seharusnya, Anda memperlakukan Arshila dengan baik. Bagaimana jika, ia sakit hati dan membuka mulut?" ancam Tante Nessa. "Jangan pikir, kasus yang sudah ditutup, tidak bisa dibuka kembali."


Deg.

__ADS_1


Jantung Dimas berdegup kencang, mengepalkan tangan dengan sorot mata tertuju pada wanita yang pernah menjadi istrinya.


Apa yang sudah kamu katakan pada mereka?


__ADS_2