
Di kediaman Dave, para koki dan pelayan sedang sibuk. Ada dua wanita yang memberikan instruksi ini itu, kepada mereka. Malam ini, mereka akan mengadakan makan malam. Setelah, Arshila keluar rumah sakit sore ini.
Liam dan Malvin, duduk di ruang tengah, sambil bermain catur. Sudah lama, mereka tidak bersantai seperti ini. Kadang mereka mencari teman untuk diajak. Tapi, kedua putra mereka, memiliki kesibukan yang sama. Mengajak sang istri bermain catur, lebih baik tidak usah. Karena, mereka tidak akan menerima kekalahan, apalagi mau menerima perintah.
Rachel dan ibu Elinno, duduk dikursi meja makan. Keduanya, seperti pengawas, yang mengamati pekerjaan para bawahannya.
"Jeng, nanti kita berbelanja untuk cucu kita."
"Tentu saja. Kapan?" Ibu Elinno tampak antusias, bahkan sudah merapatkan kursinya.
"Minggu depan, kami akan ke rumah sakit untuk kontrol. Sekalian, mengecek jenis kelaminnya."
"Aku juga mau ikut. Sangat membosankan sendirian di rumah."
"Baiklah. Aku akan menjemputmu, nanti."
"Lalu, bagaimana dengan resepsi pernikahan? Kalian harus melibatkanku," ibu Elinno meraih tangan Rachel. Seperti. Seorang adik yang sedang memohon.
"Kau tenang saja. Kita berdua yang akan mengurusnya. Aku bahkan sudah, memiliki banyak contoh undangan."
"Aku ingin memberi putriku perhiasan dan gaun pengantin milikku."
"Kamu bicara apa? Menantuku akan menggunakan gaun pengantin milikku."
"Aduh, Kak. Jangan seperti itu!"
Keduanya berdebat kecil, seperti saudara. Apalagi, ibu Ellino memanggil Rachel dengan sebutan kakak. Ibu Lin dan Grace yang lewat, hanya senyum-senyum.
"Adik, sebaiknya minta putramu segera menikah. Agar, kau bisa memberi menantumu perhiasan dan gaun milikmu."
"Aku juga ingin, Kak. Tapi, putraku sangat keras kepala."
Keduanya, kembali berdebat dengan masalah yang sama.
"Nyonya," panggil pak Yus. "Tuan dan nona muda, sudah kembali."
Rachel dan ibu Elino segera bangkit. Berlari kecil, melewati suami mereka, yang menatap bingung.
"Sayangku, kamu sudah baikkan? Kenapa pulang begitu cepat? Seharusnya, kamu dirawat sampai pulih."
Rachel sudah mengomel lebih dulu, memegang salah tangan menantunya.
"Dia sudah baikkan, Ma."
"Iya, Ma. Aku sudah lebih baik. Membosankan tinggal dirumah sakit."
Mereka berjlan masuk dalam rumah. Arshila diapit dua wanita, yang menggandeng tangannya. Sementara, Dave dan Ellino berjalan menyusul.
"Kalian sudah pulang?" Liam menoleh, saat mengetahui siapa yang datang.
"Iya, Pa."
Dave dan Ellino mengambil posisi duduk, disamping ayah mereka. Ia membiarkan dua wanita yang dipanggilnya Mama, mengantar sang istri dalam kamar.
"Apa kata dokter? Kenapa kalian pulang secepat ini?"
__ADS_1
"Dia hanya kelelahan. Kondisinya sudah membaik dan Shila minta untuk pulang."
Didalam kamar, Arshila tidak ingin berbaring. Ia sudah seharian, berbaring dirumah sakit. Tubuhnya terasa pegal semua, karena tidak melakukan apa-apa.
"Aku mau mandi, Ma."
"Ya, sudah. Kami keluar dulu. Panggil jika butuh sesuatu."
Arshila mengangguk. Ia segera beranjak, ke kamar mandi, setelah ibu dan Rachel keluar dari kamarnya.
Ia sedang berendam sekarang, dengan aroma sabun yang begitu wangi.
"Kamu kemana saja, selama ini, Alex?"
"Aku bersama ibu kandungku."
Arshila kembali mengingat, percakapannya dengan Alexa siang tadi.
"Kak Shi, aku tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Tentang pertemuanmu dengan Dave hingga akhirnya kalian menikah. Tapi, apa kau mencintainya?"
Arshila merasa terganggu, dengan ucapan Alexa. Pertemuannya dengan Dave, bukanlah sebuah kebetulan. Ia tahu betul, Dave dari awal sengaja mendekatinya. Tapi, kembali mengungkit masa itu, sudah tidak berguna. Mereka sudah menikah dan ada buah cinta mereka dalam rahimnya.
Namun, tentang perasaannya, saat ini. Ia belum bisa menjawab. Entah dia sudah jatuh cinta atau hanya merasa nyaman. Entahlah.
Arshila menggosok tubuhnya dengan lembut, sambil menghirup aroma sabunnya.
Tok, tok, tok.
"Kau sedang mandi, sayang?" Suara Dave dari balik pintu, membuat Arshila sedikit terkejut.
Pintu terbuka.
Arshila mendongak. Dave sedang berjalan ke arahnya sembari tersenyum.
"Mau aku bantu?"
Arshila mengangguk. Membiarkan sang suami, menggosok punggungnya.
Lalu, Apa dia mencintaimu? Apa kamu yakin, dia sudah berubah?
Pertanyaan Alexa terus terngiang dikepalanya.
Aku tidak tahu, dia berubah karena mencintaiku. Atau, hanya karena aku, sedang mengandung anaknya.
Aku hanya ingin menikmati kebahagiaan ini, Alex. Jika ini mimpi, aku tidak mau terbangun lagi. Biar waktu yang menjawab semuanya.
"Terima kasih."
Dave mendaratkan kecupan, sebelum keluar. Ia meminta Arshila segera bergegas, sebelum ia kedinginan.
Sebuah foto USG, sedang dalam genggaman Dave. Ia mengelus dan menciummi foto itu. Janin yang masih bentuk gumpalan.
Anakku, maafkan ayahmu!
Yah, sebelum keluar rumah sakit. Ia meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan kehamilan pada istrinya.
__ADS_1
Saat layar menampilkan, buah hatinya. Ia terharu dan matanya terasa panas. Ia mengecup Arshila berulang kali. Mengucapkan kata maaf dan terima kasih, yang tidak ada habisnya.
Ceklek.
Dave menoleh. Arshila keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Ia segera berlari, menghampirinya. Takut, Arshila terjatuh.
"Duduk. Biar aku ambilkan baju."
"Aku bisa sendiri."
"Tidak. Biar aku!"
Dave segera menuju walk in closet. Mencari pakaian yang longgar dan tentu saja nyaman, untuk Arshila.
"Ini, pakailah."
Arshila mengangguk. Ia masih menggunakan krim wajah dan lotion pada tubuhnya. Sementara Dave, membuka handuk yang membungkus rambut sang istri. Membantu mengeringkannya.
"Kamu mau makan sesuatu, sayang?"
"Aku mau makan kebab. Aku sudah memberitahu, Mama, untuk meminta koki, menyiapkannya."
"Apa kamu tidak memintaku melakukan sesuatu?"
Arshila menoleh, bingung. Memangnya, apa yang harus dia minta? Semua sudah tersedia dalam rumah.
Dave meletakkan handuk, menyiair rambut Arshila. "Jika kamu ingin aku melakukan sesuatu, katakan saja! Aku suamimu dan aku akan berusaha mewujudkannya."
Arshila hanya mengangguk, lalu meraih pakaiannya. Dia sebenarnya, belum terbiasa dengan sikap sang suami yang sudah berubah. Meski, Dave sudah bertutur lembut. Arshila masih merasa waspada. Ia takut, amarah Dave kembali dan tangannya menyakiti tubuhnya lagi.
Ia trauma. Apalagi, bukan hanya tamparan dan cacian yang ia dapatkan, dulu. Bahkan, tubuhnya sudah pernah memar dan penuh luka. Helai demi helai rambutnya, jatuh berguguran karena sering ditarik.
Saat Arshila, masih duduk didepan cermin. Dave mendaratkan kedua lututnya dilantai. Arshila tersentak.
"Aku belum meminta maaf dengan benar, kan?" Dave meraih kedua tangan sang istri. "Maafkan aku, Shi. Tolong, maafkan aku!"
"Dave."
"Aku tahu, kamu masih takut dan ragu padaku. Tapi, aku berjanji akan menebus semua dosa-dosaku. Tolong, percaya padaku. Jika ucapanku masih membuatmu ragu, aku akan memberikan sesuatu yang akan menjadi jaminannya."
Arshila membisu. Ia masih bingung, dengan sikap Dave yang tiba-tiba. Pria ini, sudah berulangkali minta maaf dan sekarang, ia sedang berlutut. Apa dia menyadari pikirannku?
"Tidak, perlu. Aku percaya dan aku sudah memaafkanmu."
Dave segera bangkit. Mengambil sesuatu dalam laci.
"Tanda tangan, Shi."
"Untuk apa?"
"Ini jaminanmu."
Arshila membacanya dengan cermat, lalu membelalak menatap sang suami.
SURAT PENGALIHAN HARTA DAN SAHAM.
__ADS_1
.