Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 120. Kejutan untuk Arshila


__ADS_3

Cerah dengan awan putih menghiasi langit biru. Angin sepoi-sepoi bertiup, mengayunkan rumput dan dedaunan.


Kesibukan yang tampak berbeda, dari biasanya. Para pelayan yang jumlahnya, seperti bertambah hari ini. Mereka menggunakan atasan putih dan bawahan berwarna abu-abu.


Di depan halaman rumah, sudah berjejer mobil mewah yang terparkir rapi.


Acara penting, bagi keluarga Alehandra. Sebenarnya, tempat berlangsungnya acara adalah disebuah hotel mewah. Tapi, kesibukan sudah dimulai dari rumah.


Keluarga besar sedang berkumpul, dari kemarin. Mereka datang dari luar negeri hingga luar kota. Sanak keluarga, yang jarang bertemu, tapi hari ini mereka menyempatkan waktu untuk hadir.


Seminggu lalu, persiapan resepsi pernikahan Dave dan Arshila, sudah berjalan. Dan akhirnya, hari ini akan terlaksana.


Pasangan, yang akan menjadi raja dan ratu sehari ini, masih berada dalam kamar. Entah apa yang merka lakukan. Padahal, mempelai wanita harus pergi, lebih dulu. Sebab, memerlukan waktu lama untuk didandani.


Rachel dan Liam, masih berbincang-bincang, dengan keluarga besar mereka. Dengan, segelas minuman dingin, penyejuk kerongkongan.


"Mana mereka? Kita harus segera pergi. Mama mau mengecek persiapan disana."


"Sudah ada Tian dan ibu Lin disana. Mama jangan khawatir. Acara resepsi juga kan, nanti malam."


"Iya, iya. Mama panggil mereka dulu."


Padahal, semua persiapan sudah rampung. Rachel, bahkan mengeceknya semalam. Tapi. Entah mengapa, dia masih gelisah dan ingin melihatnya sekali lagi, sebelum acara dimulai.


Didepan pintu kamar, Dave dan Arshila, baru saka keluar. Senyum, bahagia terpancar dari wajah keduanya.


"Kenapa kalian lama sekali? Istrimu perlu didandani."


"Masih jam sepuluh, Ma. Masih lama." Dengan santainya, Dave menjawab.


"Sudah. Mama, tidak mau berdebat. Antar istrimu kesana. Kalian sudah sarapan, kan?"


"Sudah, Ma." Arshila menjawab.


Keduanya, menyapa keluarga yang sedang duduk bersama Liam, diruang tengah. Mengobrol sebentar dan mendengarkan beberapa wejangan.


"Kamu gugup?" Dave menyetir, dengan Arshila duduk dikursi sebelah.


"Sedikit."


"Tidak apa. Jika kamu lelah, cukup katakan padaku. Jangan memaksakan diri."


Arshila menganggukan kepala, dengan sorot mata memandang keluar. Sebentar, lagi semua orang akan tahu, siapa dirinya. Sebagian orang, mungkin berkomentar tentang status dan kepantasannya bersanding dengan Dave.


Ia merasa gugup, sekarang. Bukan karena, memikirkan acara yang akan berlangsung malam ini. Tapi, tentang penilaian orang-orang, tentangya. Dia yang bukan siapa-siapa, tapi bersanding dengan pria, yang banyak diinginkan para wanita diluar sana. Para wanita, yang memiliki status dan kehidupan yang lebih baik darinya.


"Kamu sudah minum vitaminnya?"


Lamunan Arshila buyar, seketika. Ia langsung menoleh dengan penuh senyuman, menutupi kegelisahan hatinya.

__ADS_1


"Sudah. Aku bahkan makan banyak tadi."


Dave terkekeh. Ia memang melihat bagaimana Arshila menghabiskan sepiring nasi dan beberapa roti tawar dengan selai.


"Hati-hati."


Dave membantu sang istri keluar dari mobil. Menggandeng tangannya, masuk dalam hotel. Keduanya, disambut sekretaris Tian dan ibu Lin yang sudah menunggu didepan.


"Bagaimana?"


"Semua sudah siap. Anda mau melihatnya?"


"Nanti. Aku akan mengantar istriku ke dalam."


Sektretaris Tian, menunggu dilobi. Sementara, ibu Lin, mengikuti langkah Dave dan Arshila masuk dalam lift.


"Aku akan kebawah, melihat persiapannya. Masuklah."


"Apa aku boleh tidur sebentar? Aku sangat mengantuk."


Arshila menguap, lalu menutup mulutnya. Ia memang selalu mengantuk, setiap menghabiskan makanannya.


"Tentu. Ibu Lin, akan menjagamu." Dave menoleh pada ibu Lin. "Biarkan, dia tidur sebentar."


"Baik, Tuan."


"Aku pergi, yah. Cup."


Dave kembali, masuk lift. Merogoh, ponselnya, menghubungi seseorang.


"Dimana?"


"Aku dilobi."


Sambungan terputus. Beberapa menit, pintu lift terbuka. Disana, sekretaris Tian masih menunggu, tapi tidak sendiri. Ia bersama Ellino dan empat orang wanita dibelakangnya.


"Mereka?" tanya Dave. Karena diantara mereka berempat, dia hanya mengenali dua wanita.


"Ini Jian dan Yessi." Alexa memperkenalkan.


"Oh. Arshila sudah diatas. Kalian pergilah!"


Para wanita itu, berterima kasih, sebelum akhirnya masuk dalam lift. Jian dan Yessi, tidak berhenti untuk tersenyum dan berbisik. Alexa dan tante Nessa, tampak biasa saja.


"Dia terlalu tampan. Jantungku, tidak kuat." Yessi sudah memekik.


"Benar. Ellino dan sekretaris itu, mereka bertiga seperti paket lengkap."


"Aku iri, pada kak Shi. Dia kelilingi, pria tampan."

__ADS_1


Alexa dan tante Nessa, hanya menggelengkan kepala.


Saat pintu lift terbuka. Mereka terdiam sesaat, karena banyaknya pria berseragam hitam yang berjaga. Mereka melangkah dengan perlahan, sambil mengedarkan pandangan.


"Kami mau bertemu, dengan Nona Arshila," ujar Alexa pada seorang bodyguard didepan pintu.


Ptia itu, tidak langsung menjawab. Ia menatap mereka dengan teliti, dari atas sampai ujung kaki. Seperti sedang menscan tubuh mereka.


"Silahkan," jawabnya kemudian.


Mereka segera masuk, dengan tidak sabar. Bahkan, yessi sudah mendorong tubuh sepupunya.


"Kak ...."


"Shuuuttt!" Baru jian berteriak. Ibu Lin sudah menaruh jarinya dibibir.


Mereka langsung terdiam.


"Nona, sedang tidur. Kalian bisa duduk menunggunya."


"Hah! Tidur. Dia, kan harus berdandan," protes Jian. Tapi, ia langsung mendaratkan bokongnya di sofa.


Dua orang pelayan, memberi mereka segelas teh dan cemilan. Keempatnya, duduk sambil melirik Arshila yang terlelap, dengan wajah yang sedang dibersihkan.


"Wah, dia benar-benar tidur!" Yessi mengabadikan momen ini, dengan mengambil gambar. "Padahal, aku tidak sabar ingin memeluknya."


Tante Nessa, menyesap tehnya yang masih panas. Masih memperhatikan Arshila, yang wajahnya, sedang dimasker.


Selamat berbahagia, sayangku. Aku tahu perjuanganmu tidak mudah. Tapi, Tuhan membalasnya dengan setimpal.


Hampir setengah jam mereka duduk menunggu, akhirnya Arshila bangun. Ia meregangkan persendiannya, mengerjap beberapa kali. Belum menyadari keberadaan empat sahabatnya.


"Ibu Lin, aku haus."


Segelas air putih, ada didepan wajahnya. Tanpa menoleh, ia langsung mengambil, setelah mengucapkan terimaksih.


Saat meletakkan gelasnya. Ia tersentak. Empat wanita sudah berdiri disamping tempat tidur, dengan wajah penuh senyuman.


"Kalian, Aaaaa." Arshila memekik kegirangan, bahkan matanya terasa panas.


Sejak dua minggu lalu, ia sudah memeras otak untuk mengudang sahabatnya. Ia sama sekali tidak tahu alamat tempat tinggal mereka. Nomor ponselnya pun, tidak ada. Arshila berpikir untuk meminta bantuan pada suaminya. Tapi, pada akhirnya ia mengurungkan niatnya.


Arshila merutuki kebodohannya, berhari-hari. Padahal, ia dan Alexa sudah bertemu di rumah sakit. Tapi, ia bahkan tidak meminta nomor ponsel, karena terlalu tenggelam pada kisah mereka.


Hari ini. Ia mendapatkan kejutan tak terduga. Padahal, ia sudah menyerah dan pasrah. Mungkin. Ia akan menjelaskannya lain waktu, jika mereka bertemu.


"Kak Shi, selamat, yah!" Yessi dan Jian, memberikan kecupan.


"Selamat sayang. Tante tidak menyangka, kamu akan menikah."

__ADS_1


"Terima kasih. Kalian sudah mau datang. Aku bahkan sudah bingung, untuk memberitahu kalian. Tapi, kalian ada didepanku. Terima kasih." Arshila mengusap air matanya.


__ADS_2