
Pagi menjelang, tapi matahari belum muncul. Suasana sedingin es, dengan kabut tebal menyelimuti diluar sana. Suara ayam berkokok, bersahut-sahutan, menjadi pertanda mereka berada ditempat berbeda.
Tidak seperti biasanya, Arshila yang sejak mengandung, malas untuk bangun pagi. Tapi, pagi ini, ia sudah bangun lebih awal, dengan tubuh tertutupi jaket tebal.
Ia ingin jalan pagi, menyusuri desa. Meski, ada yang berubah, tapi ia masih mengingat jalan dipedesaan ini.
Arshila juga ingin, sekedar mampir dirumah orang tuanya, meskipun ia hanya mampu memandangnya dari kejauhan. Banyak kenangan di rumah itu. Kenangan yang tidak bisa ia lupakan, seumur hidup.
Susu hangat dan roti dengan selai stroberi, menjadi sarapannya, pagi ini. Karena, jadwal sarapan di penginapan masih lama, yakni jam tujuh pagi.
Arshila tidak duduk sendiri, Dave yang perlahan mulai merubah sifatnya, mengikuti setiap gerakan sang istri. Ia tidak mengeluh atau protes. Wajahnya yang tanpa senyum, kini berubah seratus persen, meski hanya ditujukan ada sang istri saja.
Dave menyesap secangkir kopi panas, untuk menemani Arshila sarapan. Ia juga sudah menggunakan jaket tebal. Untuk mengikutinya, jalan pagi.
"Habiskan susumu! Dan sebentar, kamu hanya perlu berjalan pelan. Ingat, kedua kakimu masih lemah."
Sudah seperti kebanyakan suami, yang selalu memberi nasehat dan peringatan pada istrinya. Ia juga mulai, melakukan hal yang sama pada Arshila.
"Baiklah."
Dave kembali menyesap kopinya, menghabiskan roti tawarnya yang polos.
"Ini masih gelap dan dingin. Apa tidak menunggu matahari terbit dulu?" Ada perasaan khawatir, yang terselip di hati Dave. Bagaimana pun ia merasa asing, dengan lingkungan sekitar.
"Aku ingin melihat matahari terbit. Sudah lama, aku tidak menginjakkan kakiku, ditempat ini."
"Baiklah. Aku akan menemanimu."
Piring dan gelas, bekas sarapan, sudah kosong. Tian dan yang lainnya, juga sudah sarapan, meski hanya segelas kopi dan roti tawar.
Udara yang sangat dingin, membuat mereka menggunakan jaket tebal, hingga menutupi leher. Pak Yus mengikuti gerakan para pengawal, dengan berlari kecil dihalaman, untuk menghangatkan tubuh mereka.
Arshila tidak ingin ketinggalan. Ia berjalan sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya, seperti sedang berolahraga ringan.
Ia senyum-senyum, menerawang diatas langit, secercah cahaya matahari, mulai muncul. Burung-burung berterbangan meninggalkan sarang, untuk mencari makan.
Sudah begitu lama, Arsya?
Terdengar suara langkah kaki dan tawa dari jalanan, serta bunyi sepeda yang sedang dikayuh. Rombongan ibu-ibu, berjalan beriringan lengkap dengan keranjang dari anyaman bambu. Mereka tertawa, entah membicarakan hal apa.
Bapak-bapak, dengan cangkul dan parang ditangan mereka. Mengikuti langkah para wanita tangguh didepan mereka. Sesekali mereka, merespon dengan ikut tertawa. Hal sederhana, tapi menyentuh hati.
__ADS_1
Kita pernah seperti ini, Arsya. Kakak masih mengingatnya. Bangun pagi, kita harus bekerja memetik sayur, sebelum ke sekolah. Tapi, itu adalah hal yang membahagiakan untuk kita.
Adikku, kamu dimana? Aku tahu, kamu sudah pulang. Tapi, kamu berada dimana?
Arshila dan lainnya, membalas senyuman, ibu-ibu yang melewati mereka untuk menuju sawah. Ia berjalan keluar halaman, sambil memperhatikan mereka.
Langkah kecil Arshila, sudah sudah berada dijalan raya. Para pengawal, ikut menyusul dibelakang.
"Sejuknya." Membiarkan udara dingin menerpa wajahnya.
Dave diam-diam memperhatikan sang istri. Ada sesuatu yang terlintas dalam pikirannya. Sesuatu yang mungkin bisa membahagiakan Arshila.
Satu dua langkah, mereka berjalan. Pandangan mata, tidak lepas dari hamparan sawah dan hijaunya pepohonan. Kabut perlahan menipis, seiring munculnya matahari yang masih tampak malu-malu.
Jepret, jepret.
Dave mengeluarkan kamera dan mulai memotret Arshila. Dia ingin mengabadikan momen bahagia sang istri.
Arshila mematung dengan menghadap hamparan sawah. Ia menunggu matahari terbit, yang perlahan muncul. Dave dan Tian siaga dengan kamera. Pemandangan indah tidak boleh terlewatkan. Tapi, alasan Tian yang sebenarnya adalah sebagai bukti untuk dikirimkan kepada presdir.
Dave memeluk Arshila dari belakang. Ikut menyaksikan matahari terbit, yang perlahan sinarnya mulai menyentuh kulit. Dan hal ini, tertangkap kamera oleh Tian dan pak Yus, yang ternyata ikut mengabadikan.
"Aku ingin ke rumah orang tuaku."
"Aku ingin sekarang. Apa boleh?"
"Tentu saja, boleh. Tapi, kasihan dengan Tian dan pak Yus. Mereka belum sarapan, begitu juga dengan para pengawal." Dave sengaja mengiba dengan menggunakan bawahannya sebagai alasan. Ia tidak mau sang istri berjalan sejauh satu kilo, yang akan membuatnya kelelahan.
"Ah, benar. Mereka pasti kelaparan."
"Iya. Tunggulah, setelah sarapan."
Arshila mengangguk, dengan pandangan mata tak lepas dari pemandangan indah didepannya.
"Kamu menyukainya?"
"Disini sangat indah, sejuk dan dingin. Aku dulu, sering berjalan pagi hari menuju sawah."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Sebelum ke sekolah, aku membantu memetik sayur untuk dijual. Saat itu, udara sangat dingin. Kadang aku, mengigil ketika angin bertiup."
__ADS_1
Dave tertegun. Perjuangan hidup yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Ia dibesarkan dengan segala kemewahan. Ia hanya perlu belajar, untuk mendapatkan semua keinginannya. Tidak menyangka, jika yang dialami Arshila justru sebaliknya.
"Maaf." Dave mempererat pelukannya.
"Bukan salahmu. Aku memang hidup kekurangan, tapi aku bahagia. Orang-orang ditempat ini, sangat baik kepadaku."
Matahari sudah terbit, kabut pun mulai menghilang, hanya menyisakan embun yang masih menempel didedaunan.
"Apa aku boleh bertanya. Apa yang terjadi pada adikmu?"
"Aku tidak tahu. Ia menghilang saat aku pulang. Aku dibantu warga sudah mencarinya, kemana-mana. Tapi, tidak pernah menemukannya."
"Aku akan mencarinya, untukmu."
"Benarkah?" Arshila menoleh. "Apa kamu bisa menemukannya?"
"Aku akan berusaha."
Kesibukan para warga mulai terlihat. Ada yang sedang menyapu halaman. Ada juga yang menggiring ternak sapinya, menuju padang rumput.
"Tuan, waktunya sarapan." Pak Tus mengingatkan, karena waktu sudah hampir tiba.
"Kita masuk sekarang. Setelah itu, kita ke rumah orang tuammu."
Arshila mengangguk. Rencananya untuk berjalan kaki, gagal sudah. Karena terlena dengan pemandangan alam, yang membuatnya lupa akan tujuannya pagi ini.
"Silahkan, Tuan."
Mereka disambut oleh pelayan dipenginapan, yang mengarahkan menuju ruang makan.
Hidangan sudah tersaji diatas meja. Menu pedesaan yang terasa nikmat. Nasi goreng, ayam goreng, tempe tahu, telur balado, ikan bumbu dan lainnya.
Arshila memindahkan setiap lauk diatas piringnya. Sementara, Dave hanya mengambil nasi goreng dan ayam goreng. Tian dan pak Yus, serta para pengawal, melakukan yang sama.
"Tidak perlu mandi. Airnya sangat dingin. Aku mau berangkat sekarang," ujar Arshila.
Dave hanya mengangguk setuju, sembari meneguk air putihnya.
Duduk sebentar, mereka kembali keluar menuju mobil. Nona muda yang sudah tidak sabar, ingin segera pergi.
Perjalanan yang sangat singkat, mengingat jaraknya yang hanya satu kilo. Arshila tertegun, menatap rumah yang sudah lama, ia tinggalkan. Ada sedikit yang berubah, tapi ia dapat mengenalinya langsung. Dihalaman rumah, ada pohon rambutan. Biasanya, dihalaman rumah mereka dulu, banyak pohon buah-buahan.
__ADS_1
Dihalaman samping rumah, sebuah mobil mewah terparkir. Arshila menoleh, ketika pintu rumahnya dibuka seseorang.
"Ellino!!"