
Makan siang tadi, semua disiapkan oleh pak Yus. Itupun bukan dimasak sendiri, melainkan dari penginapan. Bukan hanya Dave dan Arshila yang menikmatinya, melainkan mereka semua tanpa terkecuali.
Suasana senja yang sama seperti sebelumnya, saat dipenginapan. Arshila duduk diteras rumah. Memperhatikan lalu lalang, orang yang baru saja pulang dari sawah dan kebun. Ada yang membawa sayur dalam baki, ada juga pisang yang baru saja ditebang.
Para ternak juga mulai diarak pulang, oleh tuannya. Arshila tersenyum lebar, saat mereka melintas. Ada yang menyapa, sembari mampir memberi buah pisang dari kebun.
"Terima kasih, banyak, bu."
"Sama-sama."
Dave keluar menemui sang istri, karena mendengar suaranya.
"Siapa?"
"Mereka memberiku pisang."
Arshila membuka kulitnya, tidak sabar untuk mencicipi.
"Manis," ujarnya sambil menghabiskannya.
Dia bahkan tidak menawari suaminya. Arshila berlalu begitu saja, dengan membawa masuk buah pisang dalam rumah.
"Sya, kamu mau coba? Mereka memberiku tadi didepan rumah."
Dave merasa diabaikan, Arshila seperti tidak menganggapnya ada. Sang istri, bahkan tidak menawarinya, meski ia tidak menyukai pisang.
"Kak, duduklah. Aku akan menyiapkanmu makan malam."
"Tidak perlu, biar aku saja!" ujar Dave, yang tidak mau kalah.
"Biar aku. Lagi pula, kau pasti hanya akan menyuruh pelayanmu."
"Kau meremehkanku?"
Kembali bertengkar seperti biasa. Pak Yus dan Tian, turun tangan untuk melerai, sementara Arshila hanya membisu menatap mereka.
"Kenyataannya begitu, kan? Kau paling hanya bisa merebus air."
"Kau mau bukti?" Dave sudah tersulut emosi, karena tidak terima.
"Tuan, bagaimana jika kalian memasak berdua? Biar nona, yang menjadi jurinya," Saran pak Yus, yang mulai lelah dengan sikap kekanak-kanakkan mereka.
"Baiklah."
Bahan makanan yang dibeli Ellino, berserakan diatas meja. Keduanya, sepakat untuk memasak dengan menu berbeda. Pak Yus tidak diijinkan untuk membantu. Jadi, ia memilih untuk mengupas buah, untuk nona muda.
Suara pisau dan potongan diatas talenan, beradu. Sesekali keduanya, menghapus air mata, karena perihnya bawang-bawangan. Mereka tidak bicara satu sama lain, hanya sorot mata yang memancarkan kebencian.
"Aku dulu!" Dave memindahkan wadah Ellino, yang hendak mencuci sayuran.
__ADS_1
"Enak saja! Aku yang lebih dulu."
Arshila pergi menuju kamar, membiarkan mereka menyelesaikan permasalahan sendiri.
Diatas meja, ada sebuah foto saat ia masih kecil.
Dulu, aku tidak pernah memikirkan masa depan. Yang aku tahu, mencari uang adalah cara untuk bertahan. Saat dewasa, aku seperti sudah tidak memiliki tujuan.
Anakku!
Arshila mengelus perutnya yang masih rata. Berharap, masa depan anaknya lebih baik darinya.
Ia sudah datang jauh-jauh, menemui orang tuanya. Siang tadi, diperkuburan, ia mencurahkan segala keluh kesah, meski hanya didalam hati.
Yah, sampai detik ini, Arshila belum memahami perasaannya. Meski, Dave sidah berubah dan memperlakukannya dengan baik. Ia belum merasakan apa-apa. Tidak ada, debaran jantungnya yang tidak karuan. Ia juga tidak merona, karena merasa malu. Ia hanya ingin hidup sendiri.
Namun, semua sudah berbeda. Ini bukan persoalan hidupnya,.melainkan anak dalam kandungannya. Anak yang membutuhkan keluarga yang utuh. Meski, sudah menemukan sang adik, Tapi, Ellino tidak bisa menggantikan sosok ayah, untuk anaknya kelak.
Apakah lebih baik, menjalani takdir yang sudah digariskan? Seberapa keras pun, ia berpikir, ia tetap harus mengalah.
Arshila keluar kamar, suara perdebatan didapur, diabaikannya. Ia berjalan menuju teras rumah, angin malam, mungkin bisa menenangkan hatinya yang kalut.
Benar saja, semilir angin diluar sangat sejuk. Ia duduk memperhatikan, rumah-rumah tetangga.
"Nona." Tian menghampiri dengan piring diatas tangannya.
"Terima kasih."
"Kenapa?"
"Maaf, jika saya lancang. Saya ingin mengatakan beberapa hal."
"Silahkan duduk, jangan terlalu sungkan. Saya bukan nona besar, jadi perlakukan saya seperti orang biasa."
"Nona, maaf bukannya saya ingin ikut campur. Tapi, tolong maafkanlah tuan muda."
Arshila menoleh, dengan bingung. Sebenarnya, apa yang ingin dikatakan Tian? Selama ini, sekretaris suaminya tidak pernah, mengajaknya berbicara.
"Katakan saja langsung, Pak sekretaris!"
"Tuan muda, sangat menyesali perbuatannya. Ia terus menyalahkan dirinya, saat Anda koma. Ia tidak tidur dan hanya makan sedikit. Saya tahu, Anda sakit hati dan membencinya. Tapi, tolong beri dia kesempatan. Bukankah, Tuhan selalu memberi kesempatan pada seseorang untuk bertobat."
Arshila tertegun. Bahkan, sekretaris suaminya, memohon untuk memberi kesempatan pada atasannya. Arshila tahu bagaimana penyesalan suaminya, karena pak Yus dan ibu Lin, mengatakan hal yang sama padanya.
"Aku sudah memaafkannya, Tian. Tapi, untuk kembali, aku masih harus berpikir. Dari awal, hubungan kami sudah salah. Hanya aku yang jatuh cinta padanya saat itu. Sedangkan, dia hanya untuk balas dendam. Jujur saja, perasaanku sudah mati."
Deg.
Tian membeliak. Perasaan yang sudah mati, maka susah untuk dihidupkan kembali. Ia tahu bagaimana, penderitaan yang dijalan Arshila. Rasa cinta yang awalnya, semanis madu, perlahan berubah menjadi pahit.
__ADS_1
"Nona, tuan muda sedang berusaha, menebus kesalahannya. Dimas dan ibunya, bahkan sudah menerima hukumannya."
"Apa?" Arshila tersentak.
"Tuan sudah mengetahui semuanya. Ia sudah memberikan Dimas, hukuman yang pantas."
Jika Dave, membalas Dimas. Lalu, bagaimana dengan putriku?"
"Pak sekretaris. Jika Dave menghukum Dimas. Bagaimana nasib putriku? Bahkan, aku dengar Nadia akan menceraikannya."
"Benar, Nona. Tapi, Anda jangan khawatir, secara hukum, Nadia adalah ibu kandung, putri Anda. Jadi, hak asuh anak, akan jatuh ditangannya."
"Syukurlah. Terima kasih."
Saat mereka berbincang, pak Yus datang menghampiri.
"Nona, makan malam sudah siap."
"Benarkah? Apa benar mereka yang memasaknya?"
"Nona, silahkan lihat sendiri."
Arshila masuk, dengan Tiak dan Pak yus berjalan dibelakangnya.
"Ini apa?"
Dua porsi makanan, yang kondisinya sama-sama tragis. Bau hangus, coklat kehitam-hitaman, bahkan bentuk yang tidak jelas.
"Dua makanan ini, hasil buatan tuan muda dan tuan Ellino. Apa Anda mau mencicipinya?"
Arshila mengaduk dua makanan itu, secara bergantian.
"Sayang, jangan memakannya. Maaf, aku masih harus belajar."
"Kak, tidak perlu. Aku gagal, semuanya hangus."
Dua laki-laki yang dengan sombongnya, menunjukkan kemampuan. Kini tertunduk malu.
"Tidak, apa. Kita makan mie instan saja."
"Tidak perlu, Nona. Saya sudah memasak hidangan lain."
Yah, saat masakan, Dave dan Ellino hangus. Pak Yus segera bertindak cepat. Ia memasak dengan bantuan dua orang itu, yang memotong sayuran dan daging.
"Terima kasih, Pak Yus. Ayo, kita makan bersama. Mana yang lainnya? Panggil mereka!"
Mereka duduk dimeja makan yang sama, termaksud pak Yus dan Tian. Sementara, para pengawal duduk disofa, karena ukuran meja makan yang tidak muat.
Dave menyendok daging, meletakkan dipiring sang istri. Ellino juga tidak mau kalah, dengan melakukan hal yang sama. Arshila tersenyum menatap Dave dan adiknya, yang duduk mengapit dirinya.
__ADS_1
Apa aku harus memberimu kesempatan?