Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 20 Pengamatan Grace


__ADS_3

Di rumah sakit, Arshila merasa tidak enak hati dengan kehadiran Grace. Wanita yang lebih tua darinya, memperlakukannya seperti nona besar.


"Nyonya, silahkan duduk. Anda pasti lelah."


"Nona jangan memanggilku seperti itu. Saya bukan seorang nyonya, saya seorang pelayan untuk Anda."


"Maafkan saya, tapi sepertinya Anda tidak perlu melakukannya. Saya benar-benar tidak nyaman, saya hanya orang biasa dan tidak pantas mendapatkan pelayanan."


"Jangan merendah, Nona. Jika anda tidak nyaman, panggil saja manager Grace."


Arshila tidak bisa berkata lagi, wanita itu tidak bergeming, meski mulutnya sudah berbusa mengatakan alasan ini itu.


"Manager Grace, apa saya boleh bertanya tentang Dave?"


"Silahkan, Nona."


"Saya dan Dave tidak memiliki hubungan apapun, selain teman. Kami baru bertemu beberapa kali dan sebenarnya saya sama sekali tidak mengenal selain namanya."


"Kenapa Nona tidak bertanya padanya? Tuan muda pasti akan menjawabnya. Dan menurut saya, tuan muda tidak menganggap Anda sebagai teman."


"Maksud Anda?"


"Nona, tidak ada seorang pria yang memperlakukan wanita dengan istimewa, jika hanya seorang teman. Apa Anda tidak menyadarinya?"


Arshila berpikir, menatap Grace dengan perasaan bimbang. Ia memang merasa sikap Dave terlalu berlebihan dan tidak wajar bagi seseorang yang menganggapnya teman.


"Saya tidak ingin, memiliki hubungan seperti itu."


Grace menatap intens Arshila, mencari tahu lewat sorot matanya. Tugasnya hari ini, tidaklah mudah. Ia harus meyakinkan wanita didepannya, bahwa Dave pria baik-baik dan mau menerimanya. Ia juga harus mencari tahu, bagaimana wujud asli Arshila.


"Kenapa, Nona?"


"Saya tidak pantas." Arshila menunduk. "Dia terlalu baik dan sempurna untuk saya."


"Nona, pantas atau tidaknya, tuan muda yang menentukan. Lagi pula, untuk mendapatkan kebahagiaan, kita tidak membutuhkan pendapat orang lain."


"Anda salah, manager. Apa aku bisa bahagia jika orang-orang membicarakan keburukannku. Apa Anda bahagia, jika mereka membuka aib dan menertawakannya. Tidak, manager, terkadang pendapat orang diluar sana membuat sebuah hubungan menjadi renggang."


Wanita ini tidak seperti yang dikatakan tuan muda.


Grace memberikannya buah yang sudah dipotong diatas piring.


"Nona, apa Anda tidak memiliki perasaan tuan muda?"


Jika tentang perasaan, Arshila juga bingung harus menjawab apa. Ia tidak memiliki perasaan terhadap Dave, tapi entah mengapa jantungnya justru berdetak tidak karuan, saat pria itu bersamanya.


Ia bukanlah seorang gadis yang baru pertama kali jatuh cinta. Ia tahu perasaan apa itu, tapi menolak mengakuinya. Ia terus menolak, melawan pikiran dan hatinya. Bersandar pada kenyataan hidup yang mengingatkan tentang statusnya.


"Tidak, aku tidak memiliki perasaan itu," ujar Arshila tapi tidak ingin menatap mata Grace.


"Sebenarnya, tuan muda tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Ia terlalu sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu memikirkan seorang wanita. Hari ini dia meminta untuk menemani Anda, membuat saya sedikit penasaran."

__ADS_1


Arshila tertegun, dia masih mencerna ucapan Grace.


Drt ... Drt ...


"Hallo, tante."


"Kamu baik-baik saja? Yuri berkata kamu izin hari ini karena sakit."


"Aku baik-baik saja, tante. Aku hanya demam dan sekarang ada di rumah sakit."


"Benarkah? Apa aku perlu meminta bibi menemanimu?"


"Tidak perlu, tante. Aku sudah mau pulang besok."


"Syukurlah, kalau begitu. Aku sangat panik, karena kamu hanya seorang diri."


"Terima kasih, tante."


Sambungan terputus, Arshila menghela napas lalu meletakkan ponselnya.


"Kenapa Nona tidak jujur saja?"


"Aku tidak bisa, dia sudah terlalu baik padaku. Utang budi yang terlalu banyak, membuatku merasa tidak nyaman."


Obrolan mereka terus berlangsung, membicarakan hal yang ringan saja. Tak terasa, waktu makan siang sudah tiba.


Dave masuk dalam ruangan, tanpa mengetuk pintu.


Grace yang melihat itu, pamit undur diri. Sementara, Arshila hanya melongo menatap Dave, yang selalu menciumnya tanpa ragu. Bahkan, sudah menyematkan kata sayang, diakhir kalimatnya.


"Kamu sudah makan?" Kembali bertanya, karena belum mendapatkan jawaban.


"Belum, suster baru saja membawakanku makan siang." Arshila tidak berani menatap Dave sekarang.


Dave mendekat duduk didekat Arshila, yang pandangannya entah tertuju pada apa. Ia menyentuh wajah wanita itu, menarik perlahan agar tatapan mereka bertemu.


"Apa kamu tidak senang melihatku?"


Deg, deg.


Degup jantung Arshila semakin cepat, wajah tampan itu terkunci pada sorot matanya.


"Bu ... bukan itu, aku hanya ... hanya ...."


Cup!


"Aku merindukanmu."


Deg, deg, tidak bisa dilukiskan, perasaan Arshila saat ini. Jantungnya seperti akan melompat keluar.


Tutur kata yang begitu lembut, begitu juga dengan caranya ia memperlakukan Arshila, membuat wanita itu, akhirnya kehilangan kendali.

__ADS_1


Ia memeluk erat Dave, wajahnya bersadar di bahu. Menitikkan air mata, saat ia terpuruk ada seseorang yang masih peduli dan memperlakukannya dengan baik.


Pria itu membalas pelukannya, mengecup pipi sembari mengelus punggungnya.


"Aku mencintaimu," bisik Dave.


Arshila masih belum mengangkat wajahnya, ucapan Dave membuatnya bingung harus menjawab apa. Semua ini, terlalu cepat, mereka baru bertemu beberapa kali. Apa benar, ada cinta pandangan pertama?


"Dave, aku ..."


Arshila melepaskan pelukan, memberanikan diri menatap kedua mata Dave.


"Kamu tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku. Kita bisa saling mengenal, lagi pula kita masih punya banyak waktu."


Dave mengusap air mata arshila, tersenyum dengan hangat.


"Sekarang, kita makan siang."


Arshila mengangguk.


Di tempat lain, Grace menikmati makan siang bersama Tian.


"Apa ada yang menarik?" Tian meneguk air, memperhatikan Grace.


"Apa kamu mempercayai penilaianku?"


Tian meletakkan gelasnya, menautkan kedua jarinya.


"Aku akan mendengarkannya dulu."


"Dia berbeda dari yang aku dengar. Bahkan, aku sampai berpikir kalau kalian sepertinya salah menilai. Dia selalu merendah dan tidak percaya diri, entah dia berpura-pura atau tidak, tapi menurutku dia cukup jujur."


"Bukankah, setiap wanita selalu merendah pada awalnya. Merasa dikasihani untuk mendapatkan perhatian."


"Kamu benar, ada beberapa wanita melakukan trik seperti itu. Tapi, aku cukup yakin dengan pengamatanku."


"Baiklah, kita lihat saja nanti. Lakukan tugasmu dengan baik. Dia harus menjadi nyonya dalam waktu dekat."


"Aku mengerti. Tapi, kenapa menjadikannya nyonya jika hanya ingin balas dendam."


"Grace, tidak ada yang lebih menyakitkan dari mendapatkan kekecewaan dari orang yang kita sayangi."


"Aku tahu. Tapi, apa kamu tidak berpikir, jika suatu hari, ini menjadi bumerang bagi Dave."


"Tidak akan, aku tahu selera tuan muda. Hanya nona Clarissa yang dapat menarik perhatiannya."


Tian melanjutkan makan siangnya.


"Tian, untuk hari ini kamu dapat berpikir seperti sekarang. Tapi, kamu tidak tahu pasti, apa yang akan terjadi dengan dua orang yang berada dalam satu atap. Dendam bisa berubah menjadi iba dan iba bisa mengubah sebuah perasaan. Aku sarankan, kalian jangan bermain api."


Tian mencerna ucapan Grace, ada kebenaran didalamnya. Sebuah perasaan, bisa timbul seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


__ADS_2