Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 91. Diujung tanduk


__ADS_3

Sudah empat hari berlalu, sejak kedatangan pengacara di rumah Dimas. Pria itu, terlihat gusar dan berantakan. Ia belum berhasil menemui Nadia, ditambah sang ibu yang terus menangis dan uring-uringan di rumah, membuatnya frustasi.


Rumah yang mereka tinggali, sudah puluhan tahun, terancam disita. Itu yang membuat sang ibu menangis tanpa henti.


"Ibu, membuatku semakin pusing." Dimas mengacak rambutnya.


"Kita harus bagaimana, Dimas. Hiks, hiks, hiks."


Dimas tidak menjawab. Ia langsung masuk dalam kamar ibunya, membongkar lemari mencari sesuatu. Ia mengumpulkan beberapa kotak emas yang disembunyikan sang ibu dan beberapa tas mewah.


"Dimas." Ibu terperanjat, mencoba merebut barang-barang miliknya. "Ini harta ibu, satu-satunya."


"Ibu, masih memikirkan barang-barang mewah ini." bentak Dimas. "Ibu mau tetap menyimpan barang-barang ini dan menjadi gelandangan diluar sana?"


Ibu membeku, tangannya yang mengambil kotak perhiasannya, dilepas begitu saja. Ia menatap nanar barang-barang mewah, yang susah payah ia kumpulkan. Tentu saja, dari uang hadiah pemberian Dave.


"Dimas akan menjualnya, paling tidak kita bisa mengumpulkan uang, meski hanya setengah dari jumlahnya." Dimas memasukkan semua kotak perhiasan dan tas mewah ibunya, dalam kantong plastik.


Ibu hanya bisa menatap nanar, tanpa bisa melakukan apa-apa. Satu kata, pasrah.


Dimas sudah melajukan motornya, menuju toko emas. Dia melaju dengan kecepatan tinggi dan menyalip kendaraan didepannya. Semua harus terjual hari ini, gumam Dimas. Ia memprediksi harga perhiasan ibunya, bisa mencapai ratusan juta, begitu juga tas mewahnya.


20 menit perjalanan, ia memarkir motornya didepan toko emas. Ada banyak deretan toko, yang menjual perhiasan.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya penjaga toko.


Dimas tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan semua kotak perhiasan ibunya. Meletakkan diatas etalase.


"Berapa?" tanya Dimas, seolah sedang terburu-buru.


"Tunggu sebentar, Pak. Kami akan memeriksanya dulu."


Pegawai toko emas, mengambil kotak perhiasan. Menyerahkan, pada temannya untuk diperiksa.


Dimas menunggu dengan menghela napas panjang. Berulang kali, ia melirik pegawai toko yang masih sibuk, melayani pelanggan lain.


"Pak." Pegawai toko yag tadi kembali, dengan membawa kotak perhiasan milik Dimas.


"Bagaimana?"


"Maaf, Pak. Kami tidak bisa membeli. Ini barang palsu!"

__ADS_1


"Ap ... Apa?" Dimas terbata, jantungnya berdegup tidak beraturan.


"Perhiasan ini palsu," tegas pegawai toko tersebut.


"Tidak mungkin!" teriak Dimas. "Ini milik ibuku, dia membelinya dengan harga mahal."


"Maaf, Pak. Jika Anda tidak percaya, silahkan pergi di toko lain, untuk mengeceknya."


Tidak ingin berdebat, yang menghabiskan banyak waktu. Dimas mengambil kembali kotak perhiasan ibunya. Keluar, lalu berpindah toko emas yang berada disebelah.


Dan ternyata, hasilnya sama. Perhiasan sang ibu adalah palsu. Bahkan, Dimas sudah memastikannya dengan mengunjungi lima toko perhiasan.


Dimas frustasi, dia memaki dan mengumpat. Ia berteriak dipinggir jalan, menendang udara dengan penuh amarah. Tidak peduli, pandangan orang-orang. Ia hanya ingin mengeluarkan sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


Ia segera mengambil motornya, kembali melaju dengan kecepatan tinggi. Tujuannya, kali ini adalah mencari butik atau pusat perbelanjaan, dimana ia bisa menjual tas mewah ibunya. Harapannya, tinggal pada barang tersebut.


Sebuah gedung pusat perbelanjaan. Dimas berlari masuk. Setelah memarkir motornya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa, dengan kedua mata yang sibuk mendeteksi, tempat penjualan tas mewah.


Tempat ini sangat luas, membuat Dimas kewalahan. Ia naik dilantai dua, kembali mencari-cari dengan sorot mata yang liar.


"Ah, itu, dia!"


"Ada yang bisa, saya bantu, Pak?"


"Saya ingin menjual, tas-tas ini." Dimas mengeluarkan tas ibunya. Berjejer diatas meja, dengan model dan warna yang berbeda-beda. Total ada 12 tas mewah, yang dibawa Dimas.


"Maaf, Pak. Silahkan tunggu sebentar." Pegawai toko, mempersilahkan Dimas untuk duduk, sambil menunggu mereka melakukan pengecekkan.


Dimas memainkan ponselnya, mencoba menghubungi Nadia. Tapi, lagi-lagi, panggilannya tidak tersambung. Mungkin Nadia memblokir nomornya. Dimas tertawa hambar. Begitu cepat, sang istri berpaling darinya. Seharusnya, wanita itu mendengarkan penjelasannya, bukan langsung pergi begitu saja.


"Bagaimana?" Dimas segera bangkit, saat penjaga toko kembali dengan membawa tas-tas mewah itu.


"Maaf, Pak. Kami hanya bisa membeli dua tas yang Bapak, bawa."


"Kenapa? Aku ingin menjual semuanya."


"Maaf, Pak. Sisa tas yang Bapak, bawah adalah barang tiruan atau palsu."


"Apa?" Dimas tersentak. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia hanya bisa mengepalkan tangan, tanpa bisa meluapkannya.


"Ini, totalnya." Pegawai toko memberikan Dimas secarik kertas.

__ADS_1


"Baiklah," ujar Dimas yang terlihat pasrah.


Setelah melakukan transaksi. Dimas kembali ke rumah.


Brak. Pintu depan terbuka dengan keras. Dimas menendangnya dengan kuat. Sang ibu yang terkejut, langsung keluar dari kamar


"Dimas."


Dimas tidak menjawab. Ia membuang semua kotak perhiasan dan tas mewah, dibawah kaki ibunya.


"Berapa banyak uang, yang ibu habiskan untuk membeli barang-barang ini?"


Bibir ibu, kelu untuk menjawab. Tatapan mata dan wajah sang putra, menatapnya tajam. Dia marah, sangat marah, batin ibu.


"Jawab," teriak Dimas, karena ibunya hanya membisu dan menunduk.


"500 juta," cicit ibu, tapi masih bisa terdengar oleh Dimas.


Dimas melotot. Kedua matanya, seperti ingin melompat keluar. Darahnya pun, seakan mendidih. 500 juta, untuk barang palsu. Ibunya benar-benar tertipu. Malangnya, sang ibu menyembunyikan hal ini darinya.


"500 juta." Dimas menendang sebuah tas, yang berada dibawah kakinya. "Ibu tahu, semua barang-barang sialan ini, tidak bisa Dimas jual. Tidak satu pun, toko yang mau membeli barang palsu ini."


"Ti ... tidak, mungkin!" Ibu tersentak, ia menutup mulutnya tidak percaya. Barang-barang ini, ia beli dari temannya. Ia tidak tahu, jika mereka menipunya.


"Sekarang, kemasi barang-barang ibu. Dan tinggal, di kossan Maya."


"Ibu tidak mau pergi. Ini rumah kita, mereka tidak bisa mengambilnya dari ibu."


"Terserah. Seharusnya, ibu memikirkan kalau hari ini akan tiba."


Dimas berjalan melewati ibunya. Ia sudah pasrah, jika rumah ini disita. Ia tidak memiliki uang untuk mengembalikan, uang hadiah yang diterima sang ibu. Ia juga sudah tidak bekerja dan semua tabungannya, akan ia serahkan pada pengacara Dave.


Sementara, mereka akan tinggal dikos-kosan sang adik. Maya memutuskan untuk pindah, karena mulai tidak nyaman dengan keadaan Dimas tidak keberatan, meski ia bingung dari mana adiknya, mendapatkan uang untuk menyewa tempat tinggal.


Dimas duduk ditepi ranjang, tertunduk. Ia merasa hidupnya berada diujung tanduk. Masa depannya sudah hancur, ia bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai hidupnya dari awal.


Tidak memiliki pekerjaan, bagaimana ia akan melanjutkan hidup? Bagaimana dengan ibu dan kedua adiknya? Mereka hanya bersandar padanya.


Dimas menatap nanar, foto pernikahannya yang tergantung di dinding. Ia tersenyum getir.


"Kamu meminta perpisahan? Akan aku kabulkan, tapi tidak semudah itu, Nadia."

__ADS_1


__ADS_2