
Di kediaman Santara.
Bagas masih merenung, saat pintu ruang kerjanya kembali terbuka.
"Apa yang kamu pikirkan?" Fira memijit bahu suaminya.
"Aku hanya bingung, cara membujuk Alexa."
"Bagaimana jika kita memberitahu keberadaan ibunya?" Fira beralih duduk dipangkuan sang suami. Hal yang sudah biasa dia lakukan, saat menjadi sekretaris pribadinya.
"Aku sebenarnya, tidak ingin dia pergi. Dia menjadi satu-satunya penerusku."
"Aku tahu. Tapi kita harus tetap membuatnya pergi. Kesepakatan dengan Dave, sangat menguntungkan perusahaan. Lagi pula tidak akan lama, cukup setahun."
"Fir." Bagas menarik napas, menatap sang istri. "Apa selama ini, kamu tidak pernah tulus kepada putriku?"
"Maksudmu?" Fira menatap tajam, tak terima dengan ucapan sang suami. "Jika aku tidak tulus, untuk apa aku membesarkannya selama ini. Aku bahkan menerima, dia tidak memanggilku ibu."
Fira bangkit, pergi meninggalkan sang suami dengan kesal.
Sialan! Aku tidak akan membiarkan putrimu menjadi pewaris. Akulah, satu-satunya yang akan mengambil semua milikmu.
Bagas menghela napas, mengancing kembali kemejanya, yang sempat terlepas karena ulah sang istri. Meraih ponselnya, menekan nomor kontak seseorang yang tidak pernah dihubunginya, selama sepuluh tahun terakhir. Entah nomor itu mash aktif atau tidak, ia hanya mencoba memastikan.
"Halo."
Suara wanita menjawab diseberang sana. Sudah dua puluh tahun, ternyata ia tidak pernah mengganti nomor ponselnya.
"Aku ...." Bagas merasa gugup, sudah lama ia tidak mendengar suara sang mantan istri. "Ini aku," ujarnya singkat.
"Ada apa?"
"Ini mengenai putri kita."
"Ada apa, dengannya? Apa dia sakit?"
Suara panik terdengar, saat mendengar ucapan Bagas.
"Dia baik-baik saja. Dia hanya merindukanmu."
"Hiks....hiks... Aku juga merindukannya. Aku ingin memeluk putriku. Selama ini, aku menahan diri untuk tidak menemuinya. Mungkin saat ini, dia membenciku."
"Maafkan aku, Tania. Aku menghancurkan keluarga kita," ujar Bagas yang penuh penyesalan. "Alex tidak membencimu, dia hanya membenci ayahnya. Sekarang, kami seperti orang asing. Apa kamu mau bicara dengannya?"
"Apa kamu yakin? Sudah sangat lama, aku tidak mendengar suaranya. Dia sudah dewasa, mungkin kami akan merasa canggung."
"Jangan matikan ponselmu. Aku akan memberikannya."
Bagas keluar ruangan, berjalan menuju kamar putrinya yang berada dilantai yang sama.
"Alex."
Pria itu, membuka kamar karena tidak ada sahutan. Dilihatnya, Alexa hanya berbaring tanpa melakukan apa-apa.
"Ada apa?" jawabnya dengan malas.
"Ibumu, ingin bicara."
Bagas memberikan ponselnya.
"Ibu?" Alexa bangkit, memandang sang ayah tanpa menerima ponsel itu. "Ibu yang mana?"
"Ibu kandungmu."
"Hahaha...." Alexa tertawa. "Ibu kandung? Hahaha... Apa aku sedang bermimpi? Sudah 20 tahun, kau tidak membiarkanku mendengar suaranya dan sekarang, kau bilang ibuku ingin bicara."
__ADS_1
"Alex, Papa serius, terima ini. Ibumu ingin bicara."
"Kenapa begitu tiba-tiba?" Alex masih belum mengambil ponsel ayahnya. "Hanya karena aku tidak ingin pergi, kalian menggunakan ibuku. Kalian pikir, aku tidak tahu."
Suara lantang kembali terdengar, bukannya bahagia, justru kabar sang ibu membuat emosinya kembali meledak.
"Ini, tidak ada hubungannya," teriak Bagas yang sudah lelah menghadapi amarah sang putri. "Dia hanya ingin bicara, karena merindukanmu."
"Oh, bukankah ini sangat kebetulan!" Alexa meraih ponsel itu. "Berusahalah terus, menyenangkan wanita itu. Sekalian, kalian buatlah lagi seorang bayi, pengganti kakakku yang malang."
Alexa mengibaskan tangannya, mengusir sang ayah tanpa suara. Sampai terdengar suara pintu tertutup. Alexa mematikan ponsel ayah, beralih menuju ponselnya. Menekan nomor yang sama.
"Ada apa, Bu. Bukankah kita baru mengobrol semalam?"
"Hahaha, kamu ini. Ibu hanya meladeni ayahmu. Kapan kamu akan datang?"
"Besok. Aku sudah menyiapkan semua."
"Bagus, kamu memang putriku. Jangan sisakan, untuk mereka."
"Aku mengerti."
Alexa kembali berbaring, menyenangkan bisa berperan seperti ini. Berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa. Ia hanya perlu mengambil, apa yang menjadi miliknya dan sang ibu.
Entah siapa yang meminta sang ayah, untuk mengirimnya keluar negeri. Tapi, ia dapat memanfaatkan situasi ini, untuk melancarkan rencananya selama ini.
Alexa mengambil obat tetes mata dalam nakas, meneteskan sedikit, membiarkannya mengalir jatuh. Lalu, pergi menemui ayahnya dengan air mata yang masih basah.
Di ruang kerja, Bagas masih menunggu ditemani sang istri, yang sudah mengetahui rencana sang suami.
Pintu terbuka, pasangan itu menatap Alexa yang berjalan masuk dengan lemah. Gurat-gurat kesedihan, tampak dari wajahnya yang masih berlinang air mata.
"Aku akan pergi, besok," ujarnya, sembari mengembalikan ponsel ayahnya.
"Secepat itu? Memangnya, apa yang dikatakan ibumu?"
Cih. Aku ingin sekali menghancurkan wajah itu!
"Baiklah, Papa akan mengaturnya untukmu. Kamu tinggallah bersamanya selama setahun."
Alexa menggangguk, tanpa membantah. Masih terisak, menunduk, seolah menyembunyikan wajahnya yang penuh kesedihan.
"Aku ke kamar, Pa. Aku akan menyiapkan barang-barangku."
Alexa keluar ruangan, menutup pintu perlahan. Lalu, kembali ke kamar. Mengunci kamar, lalu merebahkan tubuhnya.
"Lelahnya, jika aku harus menangis." Mengambil tissu, menghapus wajahnya yang basah.
"Hah, aku harus menyiapkan beberapa barang, untuk Arshila."
Alexa mengambil ponselnya. "Halo, pak pengacara."
"Iya, Nona."
"Apa pengalihan semua saham, sudah selesai?"
"Sudah, Nona. Semuanya sudah beres."
"Bagus. Bagaimana dengan sertifikat yang aku berikan?"
"Semua sudah berganti nama. Tuan juga sudah menandatanganinya, tanpa curiga."
"Baguslah, aku menyukai kerjamu. Besok di bandara, bawakan semua dokumen itu, tanpa terkecuali. Aku akan mentransfer uangnya besok."
"Baik, Nona. Terima kasih."
__ADS_1
Alexa menutup sambungan telepon, beralih menekan nomor kontak tante Nessa.
"Halo, Tante."
"Ada apa, sayang?"
"Aku akan pergi besok. Tentang anak buah Tante, apa masih bisa menahan informasi selama aku pergi."
"Tentu saja."
"Baiklah, Tan. Terima kasih."
Alexa kembali menutup ponselnya, berleha-leha diatas tempat tidur dengan malas.
***
Keesokan harinya.
Pukul delapan pagi, Alexa sudah siap. Tas besar dan kopernya sudah masuk dalam bagasi mobil. Ia memeluk sang ayah sebelum pergi. Lalu, beralih pada pelukan ibu tirinya.
"Kau pasti senangkan, aku pergi?" Alexa berbisik di telinga Fira.
"Tentu saja."
"Sebelum kita berpisah, bagaimana jika aku menemui Dave?"
Alexa melerai pelukannya, menatap sambil tersenyum, wajah sang ibu tiri yang matanya sedang menyala-nyala, menahan emosi.
"Aku pergi, ayah, Tante."
Kembali tersenyum mengejek pada Fira.
Dasar gadis sialan!
Akhirnya, mobil perlahan keluar dari gerbang rumah. Sepanjang jalan, Alexa hanya memainkan ponselnya. Menempuh perjalanan selama satu jam, Alexa tiba di bandara. Ia disambut dua orang pengacara, Tante Nessa dan Arshila.
"Kak, Shi, Tante."
Alexa memeluk mereka bergantian.
"Nona, ini dokumen yang Anda minta."
Dua orang pengacara menghampiri, lalu menyerahkan sebuah map besar.
"Terima kasih, Pak. Tapi, apa bisa menjaga rahasia ini, selama aku pergi."
"Tentu saja, Nona. Jangan khawatir, kami sudah mengatur semuanya."
"Baiklah, aku akan transfer uangnya dan tunggu kabar baik dariku."
Terima kasih, Nona. Kami permisi, sampaikan salam kami kepada Nyonya besar."
Mereka pergi, kini tinggallah Alexa, Arshila dan Tante Nessa. Ketiganya, berjalan masuk bandara, sambil mendorong koper.
"Kak Shi, aku pergi. Maaf, tidak bisa bersamamu. Terima ini." Alexa memberikan sebuah tas kecil.
"Apa ini, Lex?"
"Untuk jaga-jaga. Aku pergi lumayan lama. Tapi, jika ada sesuatu telpon aku."
"Tante, maaf aku meninggalkan kalian. Tolong, jaga Kak Shi."
Alexa memeluk tante Nessa, membisikkan sesuatu yang tidak terdengar oleh Arshila. Tante Nessa hanya mengangguk, sebelum melepaskan pelukannya.
"Bye, bye. Aku pergi!"
__ADS_1
Arshila bertahanlah, maaf jika aku melibatkanmu. Suatu hari, aku akan mengatakan semuanya.