Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 76. Ada apa, dengan sekretaris Tian?


__ADS_3

Nadia masih berleha-leha diatas tempat tidur. Ia sebenarnya, masih sangat mengantuk. Tapi, putrinya yang selalu bangun pagi-pagi buta, membuatnya ikut terbangun.


Ia bangkit membuat susu untuk Nadin, sekalian membuat sarapan untuk putrinya. Di rumah ibunya, pembantu rumah sedang pulang kampung. Jadi, Nadia memasak sendiri.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu, terdengar cepat dan seolah menuntut si pemilik rumah, untuk segera membukanya.


"Pak sekretaris." Nadia mundur selangkah. "Ada apa, pagi-pagi begini?"


"Aku beri waktu sepuluh menit, untuk bersiap." Tian menjawab, dengan membuang muka.


"Tapi, kita mau kemana?"


"Aku akan menjelaskannya diperjalanan. Sebaiknya, kau membawa putrimu." Tian masih tidak menatapnya. Ia langsung membalikkan badan, masuk dalam mobil.


"Siapa, Nad?" Ibu terbangun, karena mendengar suara ketukan pintu.


"Pak sekretaris. Ia datang menjemputku."


"Sepagi ini?"


Nadia mengangguk. Lalu, berjalan masuk kamar. Sementara, ibu menyuapi cucunya dan membantunya bersiap.


"Tolong, bantu aku!" Nadia memberikan Tian, sebuah tas ransel berwarna pink dengan motif hello kity. Sementara, ia menggendong putrinya dan tas selempang dibahunya.


"Kau sudah seperti, emak-emak."


Tian membuka pintu mobil, untuk Nadia.


"Kita akan kemana, Pak?" tanya Nadia, dengan tidak sabar.


"Kita hanya berdua dan bukan di perusahaan. Panggil namaku."


"Baik," jawab Nadia.


"Presdir, memintaku untuk membawamu ke rumah sakit. Nona muda belum sadar. Ia ingin kamu membawa putrinya." Tian melanjutkan jawabannya.


"Apakah harus sepagi ini? Aku masih mengantuk," keluh Nadia.


"Tentu saja. Bukankah, karena itu, gajimu dua kali lipat."


Nadia hanya pasrah. Gaji dua kali lipat, membuat pekerjaannya menjadi berlipat ganda, bahkan menjadi mata-mata. Yah, dia memata-matai keluarga suaminya sendiri.


"Sudah tiga hari, nona belum sadar. Apa dia baik-baik saja?"


"Hmm. Kata dokter, tidak ada yang salah dari kondisinya. Tapi, sepertinya, tubuhnya menolak untuk bangun."


"Kasihan, dia. Aku pikir, dia dulu wanita jahat."


"Kau sudah sadar. Lalu, apa keputusanmu?" Tian tidak menoleh. Ia hanya fokus, pada jalanan dihadapannya.


"Aku masih berpikir."


Tian berhenti disebuah cafe, yang baru saja buka.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku belum sarapan," jawabnya, lalu keluar dari mobil.


Setelah memesan, mereka duduk saling berhadapan.


"Kenapa tidak sarapan di rumah, sebelum kamu menjemputku?"


"Aku tidak bisa memasak." Lagi-lagi, jawaban singkat yang terlontar dari bibir Tian.


"Kamu tidak punya pembantu?" tanya Nadia lagi. Ia seperti penasaran dengan kehidupan sekretaris Tian.


"Tidak. Aku tidak suka, ada orang asing di rumahku."


Pelayan datang mengantarkan makanan, meletakan diatas meja dengan hati-hati.


"Makanlah," ujar Tian. Rupanya, ia juga memesan untuk Nadia.


Nadia memang tidak sempat sarapan. Ia pun makan nasi goreng, yang masih panas.


Dingin dan tidak banyak bicara, tapi masih mengingat dirinya yang belum sarapan. Mungkin, pria ini masih memiliki sisi lembut yang terselubung.


"Apa aku boleh ke swalayan?" tanya Nadia, saat baru memeriksa tas putrinya.


"Kau mau membeli apa?"


"Aku lupa membawa diapers untuk putriku."


"Naiklah. Ada swalayan dekat sini."


"Aku akan cepat, tunggu aku!"


Nadia turun dari mobil, berlari masuk swalayan. Tidak menyadari, Tian mengikuti langkahnya yang terburu-buru.


"Aku hanya membeli diapers. Tidak perlu memakai troli," protes Nadia.


Sekretaris Tian, tidak menghiraukannya. Ia mengambil Nadin dan mendudukannya dalam troli.


"Temani, aku belanja sebentar. Kulkas ku kosong, aku ingin mengisinya dengan buah-buahan."


Nadia menurut saja. Ia mengambil buah, yang ditunjuk Tian dan menaruhnya dalam troli.


"Kita butuh, apa lagi?" tanya Nadia, karena troli hanya terisi dengan buah-buahan.


Sang sekretaris tidak menjawab. Ia meraih pinggang Nadia, untuk mendekat. Wanita itu, sedikit kaget. Tapi, tidak menolak saat tangan kekar itu, menempel dipinggangnya.


Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba? Nadia bergumam.


"Jangan bergerak. Biarkan, seperti ini!" bisik Tian.


Yah, sekretaris Tian tanpa sengaja melihat Dimas. Pria itu, memperhatikan mereka. Sepertinya, dia marah. Bagaimana jika aku membuatnya, meledak sekalian? Tian membatin, sambil menyeringai licik.


Ia berhenti sejenak, berdiri dihadapan Nadia dan mengalungkan tangannya disana. Wajahnya maju beberapa centi.


"Hari ini, jangan melawan Nadia. Biarkan aku melakukan yang menyenangkan. Ingat, jangan membantahku!" bisiknya dengan mengumbar ancaman.

__ADS_1


Nadia tidak menjawab, ia seperti menahan napas. Sekretaris Tian, yang tiba-tiba berubah, membuatnya bergidik ngeri. Ia seperti memiliki kepribadian ganda, gumam Nadia.


"Sepertinya, kamu perlu membeli baju baru. Karena, semalam bajumu, sudah aku robek. Hahahaha...." Tian tertawa lepas, membuat Nadia semakin merinding.


Apa dia sudah gila? Ada apa dengannya?


Mereka sudah dikasir. Tian meniptikan belajaan mereka dan mengajak Nadia, naik dilantai dua.


"Bagaimana dengan ini?" Tian menunjukkan sebuah baju tidur yang kekurangan bahan. "Sexy," ujarnya lagi, sambil mengedipkan mata.


Nadia seperti kehilangan akal, menatap sekretaris Tian yang seperti sedang menggodanya. Pria sialan ini, apa lupa meminum obat? Kenapa dia tiba-tiba berubah? Sepertinya, dugaanku benar. Ia memiliki kepribadian ganda. Nadia mengikuti langkah Tian, yang sudah kembali dilantai satu mengambi belanjaan mereka.


"Bapak baik-baik saja, kan?" tanya Nadia, saat sudah berada diparkiran.


Bukannya, menjawab. Tian menempelkan telujuknya dibibir Nadia. Ia kembali memajukan wajahnya, saat Dimas yang memerhatikan mereka sudah seperti kebakaran jenggot.


"Aku sangat baik, Nadia dan aku sedang bahagia. Rupanya, seperti ini rasanya membuat orang hipertensi." Tian kembali tertawa lepas.


Nadia hanya menggelengkan kepala, tidak mengerti. Tapi, biarlah, jarang-jarang melihat si sekretaris kaku, tersenyum dan tertawa sepuasnya.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tapi, Nadia menoleh menatap Tian yang tampak santai. Ini bukan arah menuju rumah sakit. Dia akan membawaku kemana? Nadia mulai dilanda kecemasan dan ketakutan yang datang bersamaan. Ia memeluk erat putrinya, yang sedang memakan potongan buah.


"Ini dimana?" tanya Nadia, saat mereka berhenti diparkiran basement.


"Apartemenku," jawab Tian singkat. Lalu, mengambil plastik belanjaan.


"Bukankah, kita mau ke rumah sakit?"


"Aku berubah pikiran." Tian menyeringai licik. Maju beberapa langkah, hingga Nadia membentur mobil. "Hari ini, ikuti saja aku dan jangan banyak bertany!" Tian melirik sebuah mobil, yang terpakir tidak jauh dari mereka.


Firasatku tidak enak, sepertinya sekretaris Tian, sedang merencanakan sesuatu. Nadia terus membatin. Ia ketakutan, tapi tidak bisa menolak. Mudah-mudahan hanya firasatnya saja. Sekretaris Tian, tidak mungkin melakukan hal buruk padanya.


Tiba didepan pintu apartemen, Nadia enggan masuk. Ia membiarkan si pemilik rumah masuk lebih dulu.


"Masuklah. Aku tidak akan memakanmu."


Nadia menyeret langkahnya, sambil memperhatikan ruangan. Wow, sangat bersih dan rapi, untuk pria yang tinggal sendiri tanpa pembantu.


"Kamu duduklah. Aku menyimpan ini dulu."


Tian berlalu menuju dapur, membawa plastik belanjaannya.


Nadia duduk di sofa dengan tenang, sembari kedua maniknya tidak berhenti memperhatikan ruangan ini. Cat yang didominasi warna putih dan coklat. Terkesan modern dan manly.


"Ayo," ajak Tian.


Mereka keluar apartemen, masuk dalam lift. Berhenti dilantai parkiran yang berbeda, dari sebelumnya.


"Ini, dimana lagi?"


"Kamu tidak lihat, ini parkiran."


"Aku tahu, tapi sepertinya berbeda dengan yang sebelumnya."


"Memang berbeda. Mobilku, kehabisan bensin. Jadi, kita gunakan mobil lain."

__ADS_1


Sementara, diparkiran basement. Dimas memukul kemudi berulang kali. Ia memaki dan mengumpat. Kesabarannya benar-benar sudah habis. Sekretaris sialan itu, benar-benar merayu istrinya.


__ADS_2