Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 27 kembali berjalan


__ADS_3

Di rumah sakit ...


Arshila sudah sadar, pandangannya menyapu seisi ruangan. Ada tirai berwarna putih dan tiang infus menggantung.


Disisi ranjang pasien, seorang pria yang tampak asing tengah berbicara dengan seorang dokter.


Arshila, bangkit memegang kepalanya yang masih pusing.


"Hei, jangan banyak bergerak."


Pria itu, menangkap tubuhnya yang oleng.


"Terima kasih. Maaf, saya harus pulang."


"Anda tidak bisa pulang sekarang, keadaan Anda belum membaik. Tunggulah, sampai pagi datang."


Arshila kembali berbaring, kepalanya masih sangat pusing.


"Terima kasih, sudah menolong saya," ujarnya sambil memejamkan mata.


"Sama-sama. Nama saya Ellino, panggil saja El."


"Saya, Arshila."


"Istirahatlah, ini sudah sangat larut."


Arshila tidak menjawab, ia langsung tertidur, setelah Ellino menyelimuti tubuhnya.


Sementara, diparkiran rumah sakit, Dave menahan emosi yang bersarang diubun-ubunnya. Bagaimana tidak, ia melihat Arshila dibawa pergi oleh saingan bisnisnya. Wanita itu pingsan, di trotoar dan Ellino menolongnya.


"Wanita sialan! Kau memiliki keberuntungan yang sangat bagus." Dave memukul kursi pengemudi, tempat Tian duduk menemaninya.


"Sekarang, bagaimana Tuan?"


"Kita pulang."


Tian langsung menyalakan mesin mobil dan meninggalkan parkiran rumah sakit.


Pagi sudah tiba, sudah ada petugas kebersihan melakukan tugasnya. Ada juga perawat yang datang memeriksa cairan infus, sambil mengantarkan sarapan.


Arshila sudah siap meninggalkan rumah sakit, setelah menghabiskan sarapannya. Ia juga sudah menggunakan pakaian baru yang diberikan Ellino semalam.


Pagi sekali pria itu, berpamitan pulang dan memintanya untuk menunggu. Tapi, tentu saja Arshila tidak akan melakukannya. Ia selalu merasa tidak nyaman, saat seseorang terlalu baik padanya. Baginya, utang budi adalah suatu beban yang harus ia lunasi.

__ADS_1


Sepanjang koridor rumah sakit, Arshila bertanya-tanya dalam hati, tentang keberadaan Dave. Kenapa ia tidak datang menjemputku? Apa terjadi sesuatu? Tapi, pikiran itu menghilang, setelah tersadar akan sesuatu yang lebih penting.


Ah, sepertinya aku akan kembali berjalan kaki! Arshila bergumam frustasi. Karena jarak rumah sakit, terbilang lumayan jauh. Apa aku naik taksi saja, di rumah nanti aku membayarnya? Tapi, bagaimana jika dompetku tidak ketemu? Ia mengacak rambutnya, dengan kesal.


Kedua kakinya sudah berpijak diatas rerumputan. Belum melangkah, ia masih menatap jalan raya yang padat. Berpikir akan jalan yang akan dilaluinya kali ini. Pada akhirnya, ia tidak memiliki pilihan selain berjalan kaki. Mengulang kembali langkah yang dilaluinya semalam. Paling tidak, sekarang ini matahari sudah terbit dan cerah. Tidak ada kegelapan dan derasnya air hujan, seperti semalam.


Satu dua langkah, ia mulai berjalan keluar dari parkiran rumah sakit. Kesal tentu saja, tapi bukan pada orang lain. Ia hanya terus memaki dirinya sendiri.


"Aku haus," ujarnya, saat jarak yang ditempuhnya sudah cukup jauh dari rumah sakit.


Jika hujan dan udara dingin malam menusuk tulang. Terik matahari siang ini, terasa membakar kulit dan membuat tenggorokannya mengering.


Sumpah! Aku sangat bodoh. Seharusnya, aku tidak melupakan dompet dan ponselku.


Lagi-lagi, ia memarahi dirinya.


Tanpa terasa, matahari sudah berada diatas kepala. Sangat terik dan panas, seperti membakar kulit. Entah sudah berapa lama ia berjalan, tapi sepertinya sudah cukup lama. Terbukti, ia sudah tiba disebuah mini market yang kurang lebih berjarak sekitar lima kilometer dari rumah Dave.


"Hah, hah! Sedikit lagi!"


Arshila menarik napas, menyemangati dirinya. Meski, ia sudah merasa pusing dan sakit kepala. Kakinya terasa sangat berat dan pegal, apalagi baru semalam, ia berjalan dengan jarak yang lumayan jauh.


Aku tidak bisa berhenti sekarang! Ini sudah dekat. Ia memaksa kakinya untuk terus berjalan. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya, bahkan baju yang digunakannya pun sudah tampak basah.


"Pak, tolong buka."


Napas Arshila tersengal, kelelahan sudah sangat terlihat dari wajahnya, tanpa bertanya sekalipun.


Petugas keamanan, segera membuka pintu pagar rumah. Ia memperhatikan Arshila yang berjalan masuk dalam halaman. Wanita itu berkeringat banyak, bahkan melebihi keringat seseorang yang berolahraga dipagi hari.


Arshila langsung berlari menuju dapur, mengabaikan pelayan rumah yang memberi hormat. Bahkan, sang koki yang bertanya akan keperluannya, ia tidak menjawab. Ia langsung membuka kulkas dan meneguk air sebanyak-banyaknya.


Setelah, puas. Arshila menarik napas panjang, membuang rasa letih yang melilit di tubuhnya.


"Anda sudah datang, Nona?"


Pak yus menghampiri.


"Iya, Pak. Dave mana?"


"Tuan muda sedang berada di luar kota dari kemarin. Saya pikir Nona sudah mengetahuinya, karena semalam Anda tidak pulang."


"Maaf, Pak. Saya menjenguk teman saya di rumah sakit dan menginap disana."

__ADS_1


"Baiklah, Nona. Silahkan beristirahat, kami akan segera menyiapkan makan siang."


"Terima kasih, Pak. Maaf, merepotkan."


Arshila naik ke kamarnya, saat ini pikirannya tertuju pada ponsel dan dompetnya. Seingatnya, ponselnya berada diatas tempat tidur dan dompet berada didalam tas yang digunakannya beberapa hari yang lalu.


Arshila mencari tasnya terlebih dahulu, ternyata masih menggantung dlam lemari. Ia membuka dan menemukan dompetnya disana.


"Ah, syukurlah!"


Ia kembali mencari ponselnya, tidak ada! Ia mengangkat bantal dan selimut yang sudah diatur rapi. Kemana ponselku? Arshila mencari didalam nakas, membuka semua laci, masih tetap tidak ada.


Arshila beralih didalam lemari, mengangkat semua pakaian yang sudah dilipat. Ia mencari dengan hati-hati, agar tidak berantakan. Tidak ada! Gumamnya, lalu memilih duduk sembari memutar memorinya.


Tok...tok....tok...


"Masuk."


"Nona, makan siang sudah siap."


"Baiklah, terima kasih. Eh, tunggu. Apa kalian melihat ponselku?"


"Iya, Nona. Kami menemukannya diatas lantai. Sepertinya, terjatuh karena layarnya sudah pecah dan tidak menyala."


"Benarkah? Lalu, mana ponselku?"


"Saya menyimpannya, di laci meja rias Anda."


Arshila langsung bergerak membuka laci meja rias. Ia tampak murung, mendapati layar ponselnya yang sudah pecah dan tidak menyala.


Bagaimana ini? Bagaimana aku akan menghubungi tante Nessa dan yang lain. Arshila memilih berbaring meratapi ponselnya. Ini adalah satu-satunya harta yang dia miliki. Ia membeli ponsel itu, saat masih bekerja disebuah pusat perbelanjaan.


Bekerja sebagai kasir, ia mengumpulkan gajinya sedikit demi sedikit, hingga bisa membeli ponsel yang diinginkannya.


Arshila menitikkan air mata, kembali teringat akan sesuatu yang berharga dalam hpnya.


Foto Nadin, ada didalam. Foto putriku yang susah payah aku dapatkan. Arshila terisak, hingga membuat pelayan wanita itu kebingungan.


Pelayan itu pun, memilih pergi dengan diam-diam. Tidak ingin mengganggu majikannya, yang tengah menangisi sesuatu yang ia tidak mengerti.


Padahal, ia tinggal meminta pada tuan muda, pikir pelayan itu. Hanya sebuah ponsel, tuan muda pasti memberikannya yang lebih mahal. Pikirnya lagi.


Di tempat, berbeda. Dave yang sudah mengetahui kepulangan Arshila, mulai menyusun rencananya, setelah pernikahan yang akan diadakan esok hari.

__ADS_1


__ADS_2