Dendam Sang Presdir

Dendam Sang Presdir
Bab 16 Teman baru


__ADS_3

Disinilah, Arshila berada. Kontrakkan rumah. Tidak luas, hanya satu kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu tanpa sekat pemisah. Sehingga, dapur dapat terlihat dari ruang itu.


Perabotan dalam kontrakkan, sepertinya sudah disiapkan tante Nessa. Tempat tidur, lemari, kulkas, meja makan untuk dua orang dan kipas angin. Peralatan dapur dan pernak-perniknya sudah tersedia dengan lengkap.


Arshila membawa masuk kopernya dalam kamar dibantu Dave. Pria yang memaksa, untuk mengantarnya sampai ditempat ini.


"Terima kasih, Tuan. Sudah membantu."


"Apa kamu tidak bisa memanggil namaku?"


"Maaf, Tuan. Maksud saya, Dave. Saya belum terbiasa."


"Tidak apa, bereskan pakaianmu. Setelah itu, aku akan menemanimu membeli bahan makanan."


Dave keluar kamar, duduk disofa sambil memperhatikan setiap sudut rumah.


Terlalu nyaman. Tunggu, sampai aku membawamu masuk dalam istanaku.


Arshila keluar kamar, menatap pria yang membuatnya terganggu dengan kehadirannya. Baru dua kali mereka bertemu, tapi pria ini, selalu memaksakan kehendak dan mencoba mengakrabkan diri dengannya.


"Tuan."


"Kamu sudah selesai?"


Dave bangkit dari duduknya.


"Maaf, Tuan. Kita baru bertemu kemarin dan saya tidak ingin merepotkan. Maaf, jika saya lancang, tapi saya tidak ingin ...."


"Saya mengerti maksud kamu," sela Dave, "Saya tidak memiliki maksud apa-apa. Saya hanya ingin membantu, karena melihat keadaan kamu. Apa kita tidak bisa menjadi teman?"


"Jangan berteman dengan saya, Tuan. Saya mantan narapidana, tidak ada untungnya menjalin pertemanan dengan saya."


Munafik


"Saya mencari seorang teman, yang bisa diajak bicara, tanpa memandang status, tanpa memanfaatkan satu sama lain."


Arshila terdiam, berpikir tapi bukan perkataan Dave tapi pesan tante Nessa.


"Ingat, Shi. Jangan percaya, siapapun selain dirimu sendiri."


"Maaf, Tuan. Mungkin saya sudah salah paham."


"Tidak, apa-apa. Mungkin, karena kita baru bertemu kemarin dan aku terlalu mendadak menjalin pertemanan denganmu. Jika kamu merasa tidak nyaman, aku akan pergi."


Dave berjalan pergi, sampai akhirnya menghilang dari balik pintu. Sementara, Arshila hanya menatap tanpa ada niat untuk mencegahnya.


"Dasar wanita munafik."


Brak. Pintu mobil terbanting, saat Dave masuk didalamnya.


"Berpura-pura baik didepanku."


"Mungkin, Tuan terlalu terburu-buru."


"Lalu, aku harus bagaimana? Aku sudah menunggu selama setahun. Clarissa dan bayiku, belum tenang disana, karena wanita itu masih berkeliaran dengan bebas.


"Kita tetap ke rencana awal, Tuan."


Sebuah mobil menepi dibelakang, beberapa orang turun dengan membawa kantong belanjaan. Dave menurunkan kaca mobilnya.


"Antar di rumah itu. Ingat, letakkan saja didepan pintu."


"Baik, Tuan."


Mereka menundukkan kepala, lalu berjalan pergi. Hanya beberapa meter saja, jarak antara kontrakkan Arshila dengan tempat Dave menepikan mobilnya.


"Kita pergi," perintahnya.

__ADS_1


Di kontrakkan, Arshila sudah beres-beres. Pakaian dan barang-barangnya sudah diatur dengan rapi. Ia membuka kulkas yang masih kosong.


"Aku harus belanja."


Duduk diatas meja makan, membuat daftar belanja untuk sebulan, dan bahan makanan untuk seminggu. Karena hanya seorang diri, jadi tidak terlalu banyak.


"Baiklah." Menyambar tas yang berada dalam kamar. Pintu depan terbuka, langkahnya terhenti dengan mata yang membelalak.


"Apa ini?"


Meraih secarik kertas yang menempel pada sebuah tas belanjaan.


...Ini sebagai hadiah pindah rumah. Maaf, jika membuatmu tidak nyaman. Dave....


Arshila menatap barang-barang didepannya. Ingin membuangnya, tapi sayang. Ya, sudah, diambilnya juga.


Ia membawa masuk, meletakkan diatas lantai. Membuka satu per satu untuk memastikan isinya.


"Sebanyak ini?"


Ternganga dengan banyaknya botol minyak goreng, botol kecap dan saus tomat.


"Ini bukan untuk sebulan tapi setahun."


Arshila mengatur belanjaan dalam lemari kecil didapur. Bahan lainnya, dimasukkan dalam kulkas.


Tersenyum sesaat, lalu memikirkan pria yang mengajaknya berteman.


"Apa aku keterlaluan?"


Berbicara seorang diri, sambil menyiapkan bahan yang akan dimasaknya, untuk makan siang. Untung hari ini libur, jadi dia bisa beristirahat.


Drt ... Drt ...


Temui putrimu di restorant xx. Jangan terlambat!


Arshila, meneteskan air mata, bahagia karena dapat memeluk putrinya hari ini. Ia meletakkan ponselnya, berlari menuju kamar untuk bersiap.


Hanya sepuluh menit perjalanan, ia tiba di restoran. Masuk dengan mengedarkan pandangan.


Deg!


Kakinya membeku, disana tampak tawa bahagia dari sebuah keluarga. Bersenda gurau, tersenyum, dengan seorang anak kecil dalam pangkuan wanita yang diyakini, Arshila sebagai istri Dimas.


Ia hanya mengepalkan tangan dengan erat, menghapus air matanya yang jatuh tanpa permisi. Arshila tidak terima dengan pemandangan didepannya. Dia yang berkorban untuk pria yang dicintainya, tapi kebahagiaan yang dimintanya sebagai balasan, justru menjadi milik wanita lain.


Arshila mengubah arah, menuju toilet. Menangis di depan cermin, menumpahkan kesedihan dan kekecewaan.


"Kenapa bukan aku? Aku tidak meminta apa-apa, selain hidup bersamamu. Kenapa kau begitu tega?"


Ia membasuh wajahnya, kembali menatap cermin, memaksakan diri untuk mencoba tersenyum.


"Aku mohon, jangan menangis."


Arshila berjalan keluar, langkahnya menuju meja tempat putri kecilnya.


"Kamu sudah datang?" Dimas menatap mantan istrinya yang tampak berbeda. "Duduklah."


Arshila mengambil posisi duduk didepan mereka, sorot matanya hanya tertuju pada putri kecilnya.


"Kenalkan, dia Nadia, istriku."


Arshila tersenyum, mengulurkan tangan pada Nadia yang menerima uluran tangannya.


"Kamu mau makan apa? Pesanlah," tawar Dimas.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin melihat putriku." Arshila menatap Nadia. "Boleh aku memeluknya?"

__ADS_1


Wanita itu tidak menjawab, sebenarnya sejak kedatangan Arshila, ia terus memperhatikannya. Wanita seperti apa, yang telah menabrak tunangan presdir Deval Power. Meski, pria itu tidak mengemukakan alasannya, tapi ia tahu pasti dia ingin membalas dendam.


Nadia yang hanya melaksanakan perintah, merasa iba dengan wanita bernama Arshila. Ia tahu pasti, kecelakaan itu bukanlah sebuah kesengajaan. Rasa iba itu, kemudian menjadi sebuah kebencian, saat bertemu Dimas. Rencana awal yang hanya ingin mendekati, berubah menjadi ingin memiliki.


Kisah sang ibu mertua membuat tekadnya semakin kuat, wanita jahat, yang pantas menerima hukuman.


Saat itu.


"Mas Dimas, kan?" sapa Nadia. Pria itu, menautkan alisnya sesaat sebelum mengingatnya. "Aku Nadia."


"Oh, Nadia. Maaf, aku baru mengingatnya."


"Sedang apa, mas Dimas di kota ini?"


"Aku sedang tugas luar. Kamu sendiri?"


"Aku juga."


Keduanya larut dalam pembicaraan, bahkan sampai membicarakan masa lalu mereka, saat menjadi sepasang kekasih.


"Aku sudah menikah, Nad. Tapi, istriku dalam penjara."


Nadia tidak kaget, karena sudah mengetahuinya.


"Seharusnya, aku yang berada dalam penjara bukan dia."


"Maksud, mas Dimas?"


"Dia memintaku untuk menggantikannya, karena sedang mengandung anak kami. Aku menolak, karena aku juga memiliki tanggung jawab kepada ibu dan adik-adikku."


"Kenapa dia sejahat itu, Mas?"


"Entahlah, aku juga bingung. Apalagi, ibuku sering mengadu tentangnya."


Dimas terus memutar balikkan fakta, hingga gadis didepannya merasa iba, merangkul sebagai ungkapan kesedihan yang turut dirasakannya.


Arshila masih menunggu jawaban Nadia, yang masih menatapnya.


"Silahkan, mbak. Jika dia tidak menangis," jawaban ketus keluar dari bibirnya.


Arshila tidak peduli, ia hanya butuh putrinya bukan simpati dari orang-orang. Ia bangkit dari duduknya, mendekati Nadia yang masih memangku sang putri.


"Sayang, ini ibu." Air matanya meluncur begitu saja, putri yang dilahirkannya tidak mengenal dirinya sebagai ibu.


Arshila langsung memeluk, mencium wajahnya, meski mendapat penolakan, dari tangisan yang keluar dari bibir mungil Nadin.


"Maaf, Mbak."


Nadia bangkit, hendak mengambil sang putri dari ibu kandungnya.


"Dia anakku. Aku tidak akan memberikannya."


Memeluk erat, tidak peduli dengan tangisan Nadin.


"Shila."


"Aku yang melahirkannya. Bahkan, Mas tidak memberiku kesempatan untuk memeluknya. Kamu mengambilnya tanpa ijin dariku."


PLAK,


"Kamu yang melahirkannya, tapi secara hukum dia bukan putrimu." Dimas merebut anaknya. "Jika seperti ini, aku tidak akan mempertemukan kalian lagi."


"Mas, mas, kembalikan, dia anakku."


Arshila berteriak, saat Dimas pergi meninggalkan restoran. Ia berlari menyusul, tapi tubuhnya didorong kasar oleh sang mantan suami, hingga tersungkur diatas tanah.


"Hiks ... hiks .... Mas, aku mohon!"

__ADS_1


Ia terus menangis, bahkan Dimas sudah masuk dalam mobil, pergi meninggalkannya begitu saja.


"Kamu tidak apa-apa?"


__ADS_2